NewsMusik

NewsMusik

Wednesday, 07 June 2017 16:18

Mhyajo

Membawa Etnik Kedunia Pertunjukkan

Semangat dan tak harus puas dengan apa yang pernah dilakukannya, akhirnya bisa merubah segala sesuatu menjadi seperti yang diangankan, malah mungkin lebih tinggi dari itu. Inilah yang terjadi pada Maria Novita Johannes, atau lebih akrab di sapa Mhyajo. Selama ini berperan di dunia belakang layar sebagai sutradara seni pertunjukan.

Bukan sebuah pekerjaan mudah, apa yang menjadi tanggung jawab Mhyajo di setiap event yang ditanganinya. Tak hanya harus mampu untuk menyatukan keinginan institusi yang membutuhkan sentuhan tangan dinginnya lewat idenya, namun juga harus mampu mengorganisir tim kreatif dibawahnya.

“Saya menyukai pekerjaan ini karena tantangannya, bagaimana menyatukan ide saya dengan keinginan klien, juga mengorkestrasi tim saya yang berjumlah cukup banyak agar semuanya bisa berjalan baik sesuai rencana”, ujar Mhya pada sebuah perbincangan di temaram sore di bilangan Gandaria, Jakarta Senin lalu (5/6).

Mhya adalah peraih penghargaan Catha Mardhika dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, beberapa tahun lalu, atas hasil karya kreatifnya memadukan “kultur” Indonesia ke dalam karya seni pertunjukkan yang digarapnya. Diungkapkannya bahwa cukup banyak pelaku kreatif di Indonesia yang jauh lebih baik darinya. “Hal itu yang membuat saya bertekad untuk selalu mengasah kemampuan dengan belajar dari sekitar”.

02 Mhyajo IbonkMhyajo (foto: Ibonk)

Begitulah, pikat dunia pertunjukkan ini terus saja dilakoninya dengan penuh antusiasme. Karakternya sendiri sebagai “jendral” dilapangan semakin bertambah kuat dan menjadi keberkahan sendiri baginya. Beberapa waktu lalu, Mhya mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmu ke Amerika Serikat. Ia akan menjadi satu-satunya wanita asal Indonesia yang ambil bagian dalam pertunjukan kelas internasional di Lincoln Centre.

Seperti diketahui, Lincoln Centre yang berlokasi di New York adalah sebuah institu¬si seni internasional terpandang, yang an¬tara lain membentuk, memimpin, dan mengelola New York City Ballet, New York Philharmonic Orchestra, Jazz @ Lincoln Centre, Julliard School, Lincoln Theatre dan lainnya. “Sebuah kebanggaan bagi saya, setelah kerja keras saya selama ini membuat sebuah pertunjukan menjadi lebih berkelas. Saya akan maksimalkan kesempatan ini,” ungkapnya penuh semangat.

Semuanya diawali lewat pencarian selama beberapa waktu. Ketika itu ia mengetahui sebuah program khusus seni pertunjukkan internasional, yang menjadi program tahunan lembaga seni berkelas dunia tersebut. Ia ambil kesempatan dengan mengirimkan berkas berupa 20 halaman jawaban dari 7 pertanyaan yang menjadi persyaratan dan proses seleksi yang harus dapat dilaluinya. Mhya juga menambahkan sebuah naskah pertunjukan berbahasa Inggris setebal 80 halaman, serta video rekaman hasil karyanya selama ini.

Akhirnya pada Februari 2017, ia salah satu yang terpilih dari 70 pelaku seni pertunjukan dari 33 negara. Mhya juga merupakan 4 orang yang mendapatkan beasiswa penuh karena prestasinya tersebut. Ini adalah sebuah pengharagaan khusus yang belum pernah terjadi selama 11 kali penyelenggaraan program tersebut.

03 Mhyajo IbonkMhyajo (foto: Ibonk)

Mengenai keberadaannya di sana, ia belum berani mengatakan secara gamblang. Segala sesuatunya, akan ditentukan nanti, ketika ia mengikuti program tersebut. Tapi sesungguhnya, Mhya harus siap sejak dini untuk segala kemungkinan terbaik yang mungkin dihadapinya nanti di sana. “Mau tak mau, saya harus menyiapkan banyak materi dari tanah air. Seperti puzzle, saya sudah siapkan semua dan tinggal mencocokkan dengan kebutuhan disana”, akunya.

Begitulah Mhya dengan dunia dibalik layarnya. Dunia yang memerlukan tenaga-tenaga trampil, dengan tak hanya kreatif dan berpengalaman saja, tetapi juga harus memiliki rasa dan kedisplinan. Dunia kreatif yang menjadi tonggak suksesnya sebuah bisnis pertunjukkan baik musik, teater, tari yang berskala lokal sampai internasional.

Semoga, pengalaman berharga yang akan dilakoni oleh wanita yang pernah unjuk gigi di ITB Berlin ataupun peramu pertunjukan Kecakestra ini dapat menjadi senjata baru untuk dunia pertunjukkan yang dicintainya. Kita nantikan saja karya-karya lain darinya. “Ini kemudahan bagi saya sebagai seorang Indonesia, karena mereka (Lincoln Centre) berkata bahwa saya hidup di negeri yang budayanya sangat seksi. Saya akan terus menga¬sah kemampuan dan bertekad untuk mengharumkan nama Indonesia lebih jauh secara in¬ternasional,” tutup Mhyajo./ Ibonk

04 Mhyajo IbonkMhyajo (foto: Ibonk)


Tuesday, 06 June 2017 13:37

Olly Oxen

Melepas Mantra dalam Bentuk EP

Musik kian berkembang sesuai masa yang dialaminya, seperti istilah Rock, Metal, dan lain lain yang hanya cendrung dipahami oleh manusia kebanyakan. Namun jika ditelisik lebih dalam, beberapa genre yang memang cukup dikenal oleh orang kebanyakan sebenarnya masih memiliki banyak sekali sub culture. Seperti Rock (Stoner Rock, Desert Rock, Rock N‘ Roll, Heavy Rock, Psychedelic Rock, dan lainnya) juga Metal (Doom Metal, Heavy Metal, Sludge Metal, Drone Metal) dan masih banyak sub culture yang lain.  

Lantunan vocal yang tinggi, tempo drum turun naik semaunya, cabikan bass berat ditelinga, dan lengkingan gitar beroktaf tinggi adalah salah satu ciri yang berkembang sejak era awal 90an, terlebih ketika Kyuss salah satu pelopor sub genre Stoner Rock  merilis album pada 1992 di Amerika Serikat.

Di tanah air, adalah Olly Oxen yang merupakan barikade pengusung Stoner Rock asal Semarang merupakan kelompok yang memang sangat menikmati sub genre ini. Dimotori oleh Gemby (Gitar), Mere (Vocal), Novelino (Bass), Gawang (Drum) yang tidak lain merupakan individu-individu yang telah malang melintang di kancah musik di Semarang.

Sedikit banyak mereka juga mengingatkan para pencinta alunan musik dari Kadavar, Rival Sons, Radio Moscow, Graveyard, Crobot, The Temperance Movement, karena Olly Oxen merupakan representasi dari musik tersebut.

02 Olly Oxen IstimewaOlly Oxen (foto: Istimewa)

Bermula terbentuk sebagai proyek Alter Ego, namun kian lama mulai direkatkan pada kesamaan visi untuk membuat komposisi lagu rock yang imajinatif juga variatif. Setelah sukses memboomingkan pecintanya melalui video lyric ‘Adult’s Dream Is a Violation’ beberapa waktu lalu yang dirilis via YouTube, Olly Oxen melanjutkan taring dengan menelurkan EP bertajuk Bad Mantra.

Jum’at, 12 Mei 2017 silam, Bad Mantra resmi dirilis melalui payung Peculiar Record. Berisikan 4 tracks lagu dengan judul ‘Bad Mantra’, ‘Adults Dream Is a Violation’, ‘Self Preaching (When Nobody Else Thinking The Way Up), serta ‘Mr Dunnowatudu’. Momentum ini juga menjadi kesempatan bagi Olly Oxen untuk memperkenalkan video clip lead single mereka yang kedua yakni ‘Bad Mantra‘ mendiri. Berisikan materi tentang kontrol media atas kehidupan manusia, bagaimana citra dan informasi dibingkai untuk melemahkan pemikiran dan memutar persepsi.

Bumbu vokal yang penuh petualangan, dengan didukung psychedelic riffs dan sound fuzz gitar yang padat cukup membuat kita mengerenyitkan dahi. Ditingkahi dengan bass yang tidak kalah berhasil membangun ketebalan diluar nalar tersaji ditrack ‘Mr Dunnowatudu’.

Sebaliknya ketika kita mendengar suguhan ‘Bad Mantra’ kita seperti dibawa melayang diketidaktahuan. Tempo drum yang cukup pelan diawal, sentuhan delay dari gitar membawa kita mengalun hingga ke titik tanya. Apa esensi musik mereka sebenarnya? Namun ketika menjelang diakhir track, kita akan dibawa berlari meninggalkan kenyataan. Drum yang berubah drastis ditambah sound tremolo dari gitar kian kelam mendominasi.

03 Olly Oxen Show Case IstimewaOlly Oxen Show Case (foto: Istimewa)

‘Bad Mantra’ berhasil membawa pendengar bertekuk lutut! Dan tidak kalah liarnya track ‘Adults Dream Is a Violation’ dan ‘Self Preaching (When Nobody Else Thinking The Way Up). EP ini adalah tentang mengingatkan diri untuk tidak berhenti berfikir dan mempertanyakan sistem disekitar kita. “Sebuah keberanian untuk menolak hidup dalam mimpi orang lain”, ujar Mere yang menjadi penulis konten ‘Bad Mantra’.

Untuk saat ini, EP Bad Mantra sudah dapat diakses dan dinikmati diplayer digital seperti iTunes, Spotify, Deezer, Olly Oxen akan melaju penuh energi untuk bersinergi meramaikan musik di Indonesia./ Fikar

 

Friday, 02 June 2017 14:30

Dwiki Dharmawan

Menggodok Dua Album Terbaru

Dwiki Dharmawan, pianis jazz penggagas banyak festival jazz di tanah air ini kembali membuat gebrakan baru lewat karyanya. Beberapa waktu silam, mendekati datangnya bulan Ramadhan, ia tengah berproses menuntaskan album rekamannya di studio rekaman La Casa Murada, Catalunya, Spanyol.

Tak mau tanggung, sebanyak 2 album sekaligus digarapnya bersama IGN Bagus Wijaya Santosa dan Indrawati Wijaya yang bersama-sama duduk sebagai Eksekutif Produser. Tak ketinggalan pula melibatkan orang yang tidak asing lagi di jalur jazz internasional, Leonardo Pavkovic (MoonJune Records) selaku Produser.

Seperti biasa, Dwiki banyak memasukkan unsur-unsur budaya etnik di banyak project-nya. Dalam garapan kali ini, ia juga membawa Dewi Gita yang berfungsi sebagai penyanyi sinden Sunda. Salah satu album terbaru Dwiki ini juga menghadirkan keindahan musik dan lirik lagu berbahasa daerah asal Kaili, Sulawesi Tengah.

Mendukung agar album ini bisa diproses dengan baik, Dwiki juga menlibatkan, Jesus Rivora sebagai sound engineer di recording studio milik pemusik Spanyol tersebut. Keseluruhan komposisi ini dikerjakan di studio ini,

Dalam project ini, Dwiki memainkan piano akustik, didampingi Carles Benavent (Spanyol) pada electric piccolo bass, Nguyen Lee yang dikenal sebagai gitaris jazz asal Perancis berdarah Vietnam. Ada juga Yaron Stavi pada acoustic/ upright bass, dan drummer perkusionis, Asaf Sirkis.
    
02 Dwiki Dharmawan dkk IstimewaDwiki Dharmawan dkk (Istimewa)

“Ini dibedakan dengan album lainnya yang dikerjakan di studio rekaman yang sama, karena kami disitu lebih banyak berimprovisasi, terbuka dan spontanitas. Tetapi tetap memasukkan seni musik tradisional nusantara, berupa alat musik Sasando dan instrumen Sampeq yang biasa dimainkan pemusik asal Dayak Borneo. Penyampaian lirik berbahasa Rote dan Dayak ikut melengkapi karya-karya komposisi musik saya,” jelas Dwiki.

Selepas merilis album-album karya musiknya pada “World Peace Orchestra”, “So Far So Close” dan “Pasar Klewer”, yang memperoleh Five Stars Reviews dari majalah musik Amerika Serikat, DownBeat dan sekaligus jadi The Best Albums 2016 versi DownBeat Magazine, Dwiki rutin meramu elemen-elemen jazz improvisasi yang diramu dengan kekayaan tradisi nusantara dan memadukan unsur elektronik musik didalamnya

Untuk album lainnya yang juga dikerjakan di Barcelona, Spanyol itu, Dwiki mengajak kerjasama gitaris asal Jerman, Marcus Reuter dan penyanyi jazz eksperimental, Boris Savoldelli. Ada harapan besar dalam dirinya untuk melanjutkan apa yang telah diraih oleh dua album sebelumnya “So Far So Close” dan “Pasar Klewer”./ Ibonk

03 Dwiki Dharmawan dkk IstimewaDwiki Dharmawan dkk (Istimewa)

 

Wednesday, 31 May 2017 10:40

Isaac

Merilis Single Perkenalan

Isaac, adalah kuartet bergenre alternatif asal Jakarta yang dimotori oleh Marhain Williams (gitar, vocal), Nyoman Agastyasana (gitar), Akbar Prihartama (bass), Reinardus Suryandaru (drum) bersiap-siap untuk merilis single perdana mereka berjudul ‘Sphere’. Tunggalan ini juga salah satu lagu yang turut mengisi EP yang rencananya akan dirilis dalam tahun ini.

Penggarapan EP ini sendiri direncanakan akan selesai dalam pertengahan tahun dan menceritakan tentang keresahan seseorang yang harus menghadapi pertempuran antara logika dan intuisinya.

Lagu ini sendiri bolehlah dikatakan mewakili kegelisahan dari orang-orang muda pada usia pertengahan 20-an, yang bimbang antara mendengar kata hati atau mengikuti dogma masyarakat pada umumnya.

02 Sphere Artwork IstimewaSphere Artwork (Istimewa)

Tunggalan ini juga menjadi ajang perkenalan dari keempatnya kepada pencinta musik dalam negeri setelah membentuk Isaac pada tahun 2015. Kabar lainnya adalah sebelum meluncurkan EP yang akan berisikan 5 lagu tersebut, singlenya sendiri dapat di unduh secara bebas di Soundcloud Isaac, atau juga dapat di dengar lewat YouTube dan bandcamp dari Isaac./ Ibonk

 


Saturday, 27 May 2017 10:26

Connie Nurlita

Come Back dengan Warna Berbeda

Bagi pecinta musik asoy geboy, pasti takkan lupa dengan nama penyanyi era 90an Connie Nurlita yang melejit namanya berkat lagu ‘Cinta Karet’.  Sebagai biduanita yang berkecimpung di dunia dangdut, keberaniannya untuk kembali kedunia rekaman bolehlah dikatakan berani.

Bayangkan, lepas melayangkan album ke-5 nya yang bertajuk ‘Gendang Joged’ pada tahun 1998 silam, Connie Nurlita mendadak menghilang dari dunia rekaman. Syukurnya, vakumnya Connie tidak berlanjut di kegiatan off air. Ia masih cukup sering tampil dipanggung-panggung akbar di dalam ataupun luar kota.

Begitulah, lepas 19 tahun, akhirnya Connie pun turun gunung dan come back lewat  kolaborasinya dengan Didi Kempot menggarap album kompilasi berjudul “Connie Nurlita”. Proses penggarapan albumnya sendiri hampir memakan waktu tiga bulan. Diakuinya bahwa ia mendapatkan sesuatu yang berbeda dengan kala mengawali karirnya di tahun 1991.

Album bergenre musik popdhut yang menjagokan single ‘Baru 6 Bulan’ ini, cukup banyak dijejali lagu recycle yang diaransemen ulang yang dipadukan dengan campursari, sehingga musiknya lebih semarak lagi. Ada sepuluh lagu yang dinyanyikan diantaranya ‘Anak Medan’, ‘Balada Pelaut’, ‘Cinta Karet’, ‘Polo Pakita’, ‘Stasiun Balapan’ dan 4 lagu yang dinyanyikan Didi Kempot sendiri.

02 Didi Kempot & Connie Nurlita IbonkConnie Nurlita (foto: Ibonk)

Conny memang sengaja mengandalkan lagu ciptaan Wahyu WHL tersebut sebagai lagu jagoan. Karena pada lagu  ‘Baru 6 Bulan’ tersebut Connie bisa bernyanyi dengan lugas, dan bisa menunjukkan kelebihannya dalam berolah vokal dan cengkok dangdut yang sangat pas.

Lahirnya album kompilasi dengan single perdana ini dipersembahkan Connie untuk para fansnya yang selama ini merindukan dan menantikan kehadiran dirinya.  Para penggemarnyapun kini bisa menyaksikan Connie tampil dengan warna musik yang berbeda dan jauh lebih fresh.

Sementara itu Didi Kempot juga merasa senang bisa terlibat dalam proyek kolaborasi dengan Connie Nurlita, "Saya merasa ada ketulusan ketika mendengar pinta Connie untuk menyanyikan lagu" Stasiun Balapan ", jelas Didi Kempot./ Ibonk

Thursday, 25 May 2017 13:49

Hybrid

Sambut Ramadhan Rilis Single Religi

Pada saat menjelang bulan Ramadhan 2017/1438H pekan lalu, Hybrid sebuah kelompok band muka baru yang mengusung genre alernatif pop rock telah merilis single religi berjudul ‘Kembali PadaNya’. Ini merupakan single yang menceritakan kisah seorang manusia yang tidak luput dari khilaf dan dosa sampai jatuh menerima keterpurukan, putus asa. Hingga akhirnya terketuk hatinya, dan mendapat petunjuk pintu hidayah, menyadari akan kebesaran kekuasaan pencipta.

Komposisi musik di lagu ini dibuat dengan komposisi yang minimal lewat nuansa petikan gitar akustik berbalut dengan iringan simponi orkestra dan beat looping yang ringan. Sementara  kekuatan lagu ini disuguhkan lewat tema, syair lagu dan karakter vokalis yang dibuat matang dalam menghayati lagu tersebut.

Single religi ini sendiri diproduksi secara digital dibawah payung Cadazz Pustaka Musik yang akan menjadi jembatan Hybrid untuk segera melepas full album mereka yang sudah di persiapkan sejak lama.

02 Hybrid IstimewaHybrid (foto: Istimewa)

Nama Hybrid sendiri diambil dari arti Kombinasi yang menyatukan beberapa jenis genre musik yang berbeda dari setiap player sehingga menjadi ciri khas band Hybrid. Didirikan pada tanggal 11 November 2011 dengan formasi :  Kahfi (Vokal),  Smith (Guitar),  Dry (Guitars) dan Awink (Drum) ini berharap  single ‘Kembali PadaNya’ ini dapat diterima oleh masyarakat pecinta musik Indonesia.

Mereka juga berharap tunggalan ini menjadi salah satu alternatif lagu religi pilihan umat muslim untuk menemani aktifitas puasa di builan Ramadhan tahun ini./ Ibonk

 

Friday, 26 May 2017 13:42

Album Philosophy Gang

Resmi Dirilis Dalam Format Cakram Padat

Setelah dirilis ulang pada tanggal 17 Maret lalu oleh La Munai Records, album dari grup band legendaris asal Bandung, The Gang of Harry Roesli yang bertajuk Philosophy Gang yang dicetak dalam bentuk piringan hitam atau vinyl sejumlah 500 keping kini telah habis terjual. Antusiasme para penggemar Harry Roesli masih sangat besar walaupun beliau telah meninggalkan para penggemarnya di tahun 2004 silam.

"Bukan semata-mata untuk memenuhi demand saja, dirilisnya piringan hitam ini juga bertujuan untuk memperluas informasi bahwa Indonesia punya musisi jenius seperti Harry Roesli dan album ini.” ungkap  Rendi Pratama, Lamunai Records.

Karena pentingnya album ini untuk diapresiasi secara luas, maka terhitung tanggal 25 Mei 2017, album Philosophy Gang milik The Gang of Harry Roesli secara resmi dirilis dalam format cakram padat/ Compact Disc (CD) untuk diedarkan di pasar Indonesia.

Kabar baiknya, selain di Indonesia cakram padat dari album ini juga akan dicetak dan diedarkan versi Jepang. Demi mengenalkan sosok Harry Roesli dan musiknya yang khas lewat album ini, maka akan juga secara resmi tersedia dalam format digital lewat layanan musik streaming. Fungsinya adalah, agar penikmat musik, terutama generasi muda tetap tahu akan keberadaan album-album Indonesia di masa lalu, termasuk album Philosophy Gang ini.

02 Philosophy Gang IstimewaPhilosophy Gang (foto: Istimewa)

Dan tentu saja, tak hanya berhenti di sini saja, dalam rangka program reissue atau rilis ulang album The Gang of Harry Roesli - Philosophy Gang ini, La Munai juga berkoordinasi dengan Irama Nusantara, sebuah yayasan pengarsipan musik populer Indonesia, telah mempersiapkan sebuah film dokumenter tentang perjalanan atau proses di balik album tersebut dengan tajuk Your Fantasy Right Here, yang di jadwalkan akan dirilis di akhir tahun ini.

Album Philosophy Gang milik The Gang of Harry Roesli adalah salah satu bukti sejarah musik rock kontemporer tanah air. Albumnya, ‘Malaria’ salah satu single dalam album ini, dan Harry Roesli sebagai musisi legendaris pernah terpilih menjadi yang terbaik versi sebuah majalah musik populer di tanah air.

Album ini pertama kali dirilis oleh Lion Records, sebuah label dari Singapura pada tahun 1973, tapi ternyata tidak dijual secara umum, Baru pada 44 tahun kemudian, tapatnya pada 17 Maret 2017, album ini secara resmi dirilis dan diedarkan secara luas kepada publik musik di Indonesia dalam format piringan hitam, menyusul CD dan versi digitalnya.

Selain Indonesia ataupun Jepang, album ini juga dicetak dan disebarluaskan untuk pasar penggemar musik di beberapa negara di benua Eropa dan Amerika Serikat./ Ibonk

 

Friday, 26 May 2017 13:58

Perfilman Nasional

Mengangkat Gengsi Lewat Kearifan Lokal

Ada sebuah hal menarik yang bisa diambil dari hasil dialog perfilman yang mengangkat tema  kearifan lokal. Begitu pentingnya hal tersebut ditonjolkan di setiap kelok karya film anak bangsa untuk menghadapi budaya asing. Hal tersebutlah yang dibeberkan secara panjang lebar oleh Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Maman Wijaya di Jakarta, Rabu lalu (24/5).

Disamping itu Maman menjelaskan pula bahwa pemerintah saat ini tengah berupaya mendukung perkembangan film Indonesia dengan berbagai cara seperti bentuk apresiasi film dengan mengadakan festival film. Lainnya dengan peningkatan kompetensi bagi insan perfilman lewat workshop, dan loka karya, juga pemberian bantuan beasiswa bagi para sineas yang ingin melanjutkan pendidikan sarjana satu dan dua ke luar negeri.

Diharapkan tradisi mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dalam perfilman Indonesia akan terus menuai hasil positif di ajang internasional, seperti yang diraih oleh film Ziarah lewat  penghargaan Best Screenplay & Special Jury Award - ASEAN International Film Festival & Awards (AIFFA).

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Tino Saroengallo, yang lebih dahulu memaparkan materi dialognya terhadap tema yang ditetapkan. Ia menyampaikan bahwa salah satu nilai kearifan lokal yang dapat dimasukkan dalam film-film Indonesia adalah nilai bahasa daerah. Salah satu contoh film yang menggunakan bahasa daerah, lanjut Tino, adalah film Turah. "Film itu di dalamnya secara menyeluruh memakai bahasa Jawa Ngapak (Tegal)," ungkapnya.

02 Tino Saroengallo IbonkTino Saroengallo (foto: Ibonk)

Ia mengatakan bahwa penggunaan bahasa daerah dalam film nasional adalah salah satu upaya pelestarian bahasa daerah. Karena ditengarai juga, bahwa saat ini kondisi bahasa daerah juga sudah semakin mengkhawatirkan.

Tino juga memaparkan film lainnya yang pada saat kemarin tengah diperkenalkan dan diputar di Cannes Film Festival karya Mouly Surya. Film berjudul Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini secara gamblang  memperkenalkan unsur kebudayaan lokal. Film ini mengangkat budaya kekerasan di Sumba Barat yang patut diacungi jempol.  "Jangankan di luar negeri, masyarakat Indonesia sendiri tidak banyak yang tahu bahwa budaya kekerasan ala parang sebagai senjata yang dibawa sehari-hari masih berlaku di Sumba Barat," katanya.

Diskusi yang dilakukan dalam 2 sesi tersebut, menyampaikan juga opini lain dari penggiat perfilman seperti produser, Ichwan Persada. Dalam pemaparannya ia bersiasat lewat  keragaman dan kekayaan budaya yang kita miliki. "Perfilman nasional hanya butuh strategi, kemauan, dan dukungan kebijakan yang berpihak kepada satu tujuan, yakni bersama-sama menyebarluaskan (kekayaan dan keragaman budaya) secara tepat dan cerdas lewat film nasional".

Secara garis besar, Kepala Bidang Perizinan dan Pengendalian Perfilman Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud, Kholid Fathoni sebagai penyelenggara dialog ini berharap agar pelaku perfilman terus memasukkan nilai-nilai kearifan lokal di dalam film-film nasional.

03 Maman Wijaya Ibonk Maman Wijaya (foto: Ibonk)

Beberapa jenis kearifan lokal yang bisa dimasukkan ke cerita film bisa apa saja seperti  bahasa, dialek, makanan, busana, kesenian (baik itu seni pahat, seni kerajinan tangan, seni suara, seni tari) ataupun pola berpikir masyarakat.

Ia juga menyampaikan keluhan terkait dengan minimnya dukungan pemerintah, termasuk regulasi dan biaya. Sangat dibutuhkan keberpihakan pemerintah secara total untuk membantu menyebarluaskan kearifan lokal tersebut lewat alokasi dana untuk membantu upaya perekaman event kebudayaan di masyarakat. Sehingga film benar-benar dapat dipergunakan sebagai alat penetrasi budaya dan alat menyebarkan budaya nasional kepada dunia luar./ Ibonk

 

Monday, 22 May 2017 11:41

Boyzlife

Tak Kesal Dengan Insiden Mikrofon

 Konser Boyzlife yang berlangsung pada Minggu (21/5) di Lagoon Garden The Sultan Hotel & Residence, Senayan, Jakarta kemarin meraih sambutan meriah dari penggemarnya. Keith Duffy salah satu personil Boyzone dan Brian McFadden yang merupakan mantan personil Westlife akhirnya mampu mengembalikan memory era keemasan 2 boyband era 90an tersebut diatas panggung.

Panggung yang awalnya menghadirkan Delon sebagai local hero mampu membuka kemeriahan malam itu. Ia sadar betul sepertinya sebagai bridging kesuksesan malam itu, dan mengalirlah dari tenggorokannya lagu-lagu yang cukup dikenal diantaranya ‘You Raise Me Up’, ‘Karena Cinta’, ataupun  ‘Indah Pada Waktunya’.

Sekitar pukul 20.00 WIB, Brian dan Keith pun naik ke atas panggung. Lagu ‘World of Your Own’, langsung saja berkumandang. Lagu yang dipopulerkan Westlife tersebut, dipilih mereka sebagai pembuka. Keith memang agak terlihat sedikit “terganggu” akan insiden tidak berfungsinya beberapa saat mikrofon yang digunakannya. Namun secara cepat ia mampu menemukan ritmenya  kembali.

Di lagu kedua ‘Picture Of You’, Keith tiba-tiba berlari ke tengah-tengah penonton dan meminta untuk membuka pembatas yang membatasi penonton yang berada di belakang untuk maju ke depan panggung. Keruan saja semua berebut mengambil posisi dekat panggung, suasana sempat panas karena penonton yang berada di kursi VVIP terhalangi oleh orang yang berdiri memadati arena depan panggung.

02 Kayla YDhewBoyzlife dengan Kayla (Foto: YDhew)

“Semua yang hadir disini harus bersenang-senang, jadi kita bisa membuat memori malam ini”, ujar Keith disambut dengan teriakan penonton. Di lagu ketiga ‘Words’, Brian sempat melihat seorang anak kecil yang terhimpit di kerumunan penonton, sambil menangis bocah kecil bernama Kayla kemudian menyanyikan lagu Words bersama-sama dengan disambut teriakan penonton. Kayla yang hafal lirik lagu ‘Mandy’ pun kemudian kembali diajak bernyanyi bersama Boyzlife.

Tidak begitu banyak yang dikatakan Brian dan Keith pada malam itu. Sekitar 14 lagu yang dibawakan keduanya terlihat mulus dan bisa melemparkan penonton untuk bernostalgia kembali ke era silam ketika Boyzone dan Westlife merajai anak tangga lagu terpopuler di dunia.

Berturut-turut kemudian mereka membawakan lagu ‘ I Love The Way Love Me’, ‘Queen Of My Heart’, ‘You Needed Me’, ‘No Mater What’, ‘Swear It Again’, ‘Love Me For A Reason’, ‘Flying Without Wings’, ‘Father and Son’, ‘Going Gets Tough’, dan ditutup dengan lagu “Uptown Girl”.

Setelah selesai lagu ‘Uptown Girl’ mereka pun pamit. Ada kesan bahwa lagu tersebut adalah lagu terakhir yang mereka nyanyikan. Seperti biasa di setiap pertunjukkan, penonton pun enggan meninggalkan area panggung karena durasi yang mereka tampilkan hanya sebentar. Ketika penonton sebagian akan beranjak dari venue, mendadak Brian dan Keith muncul kembali diatas panggung dan menyanyikan beberapa lagu hits dari Boyzone dan Westlife secara medley seperti ‘If I Let You Go’ dan ‘Season in the Sun’.

03 Boyzlife YDhewBoyzlife (Foto: YDhew)

Namun kembali disayangkan, penampilan terakhir mereka diwarnai oleh kembali matinya mikrofon dan lagu yang tersendat-sendat. Keith yang dari awal agak kelihatan kesal, kemudian mensiasati dengan tiba-tiba kembali berlari kearah penonton, dan disusul oleh Brian secara bergantian. Sontak penonton yang memadati area konser pun berteriak histeris.

Namun yang jelas insiden tehadap mikrofon bermasalah tersebut tidak ditanggapi penonton sebagai  persoalan besar. Apalagi keduanya mampu menutupi dengan candaan. Seperti Brian yang tiba-tiba berjoget menggoyangkan pinggulnya sewaktu mikrofon mati mendadak di tengah-tengah lagu. Keprofesionalan mereka dengan tidak menunjukkan rasa kesal dan tetap meneruskan show patutlah diapresiasi. “It’s nothing to do, everything gonna happen in life, It’s call live”, jelas keduanya sewaktu di konfirmasi NewsMusik setelah selesai konser

Konser Boyzlife kali ini memang di setting secara intimate, dimana penggemar dapat berinteraksi langsung dengan keduanya. Sedikit kaget sewaktu mereka meminta membuka pembatas antara penonton yang sudah dibagi beberapa kelas tersebut. Walau agak menuai protes dari pembeli tiket premium, namun menjadi keuntungan bagi media yang meliput. Biasanya media peliput hanya diberikan tempat nun jauh dibelakang atau para fotografer liputan yang dijatah 3 lagu awal dimana sang musisi belum sampai dalam performa terbaiknya, terutama artis atau musisi dari luar negeri.

“Sangat senang bisa kembali kesini, dimana animo penonton cukup bagus ke kami. Setiap lagu yang kami nyanyikan, semua dapat diterima dan semua senang bisa menikmati konser kami”, tutup Brian./ YDhew

Thursday, 18 May 2017 12:20

Soundsations Arena Rock 2017

Konser di 10 Daerah

Rangkaian tour dengan tajuk “Arena Rock” resmi dimulai, digagas oleh Go Ahead People, salah satu penyelenggara yang memang cukup sering mengadakan event musik pada saat ini. Dengan slogan “10 Daerah 10 Kali Bersenang-Senang“ dalam kurun waktu Mei – September 2017.

Kota Depok adalah menjadi tempat pertama sebagai pembuka konser berkesinambungan ini, yang mengambil lokasi di rooftop ITC Depok dibilangan Margonda Raya. Ini adalah salah satu tempat yang cukup sering dipakai untuk gelaran gigs dikawasan Depok. Antusiasme sudah terlihat ketika acara belum dimulai. Penonton yang didominasi oleh anak muda serta remaja tanggung ini tampak sabar dalam menunggu.

Tercatat pada hari Rabu 17/5/ 2017, sekitar pukul 17.00 WIB band pertama pun naik panggung, Jimmy The Bandit yang digawangi 5 pemuda ini menggebrak panggung Arena Rock. Mengusung garage rock penampilan mereka begitu ciamik. Disusul dengan band yang sudah lama berkecimpung di industri tanah air, Monkey To Millionaire.

Kemudian disusul dengan hadirnya empat lelaki gondrong asal Bandung dan menggempur Arena Rock, The SIgit. Tak lama berselang, setelah The Sigit turun terlihat Bagus menaiki panggung, tepat dibelakangnya Coki dan Eno. NTRL kamuflase dari Netral ini meneruskan menggebrak panggung. Disaat lagu ketiga, ada sedikit kegaduhan terjadi di moshpit area, saling pukul antar penonton terjadi.

“Woy.. Woy udah lah ini lagunya emang begitu. Kena tampol sedikit ngga apa apalah. Namanya juga laki”, himbau Bagus dari atas panggung. Begitu kericuhan usai, lagu selanjutnya pun dimulai dan suasana kembali kondusif.

02 Sounsations Arena Rock 2017 FikarSounsations Arena Rock 2017 (foto: Fikar)

Ada sebuah hal yang jarang terjadi muncul di acara ini. Kemunculan Kelompok Penerbang Roket feat. Rekti Yoewono yang dikenal juga sebagai front man dari The Sigit. Mereka berkolaborasi dengan saling membawakan lagu dari keduanya, cukup enak dan mudah di dengar.

Selepas pesta rock di Depok ini, selanjutnya Soundsations Arena Rock 2017, akan berlangsung pada hari Kamis, bertempat dikawasan Pulo Gadung Jakarta Timur, “Ya... kita akan terus membuat acara-acara lanjutan yang seperti ini. Memang kelihatan kok, anak muda itu sebenernya haus akan suguhan yang bertemakan musik. Untuk itu, kita akan tetap mengusakan terus menghibur mereka” ucap salah satu panitia.

Semoga apa yang dilakukan oleh para penyelenggara event musik di tanah air, bisa selalu menyuguhkan acara sejenis. Tidak pernah capek untuk membangkitkan semangat anak muda yang memang haus akan musik./ Fikar

03 NTRL FikarNTRL (foto: Fikar)

Page 6 of 116