NewsMusik

NewsMusik

Tuesday, 10 October 2017 08:54

Indonesia Next Apps 4

Developer Indonesia Hasilkan Karya Aplikatif Untuk Negeri

Samsung mewujudkan komitmennya sebagai salah satu pemimpin pasar ponsel di Indonesia maupun dunia dengan membuat kompetisi bagi anak muda Indonesia dalam membuat lokal konten atau aplikasi yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan industri di Indonesia. Bertempat di Ayana Mid Plaza Hotel Ballroom, Senin (9/10) mengumumkan 16 pemenang Indonesia Next Apps 4.0 (INA 4.0) yang berhasil menjawab tantangan dari empat kategori yang dilombakan, yaitu Samsung SDK (Software Development Kit), Gear VR, Tizen untuk smartphone, dan Tizen untuk wearable, ditambah lagi tantangan yang diberikan partner INA sebagai pelaku industri perbankan, property, tata kota, dan jasa publik.

INA adalah kompetisi nasional tahunan yang diselenggarakan oleh Samsung Electronics Indonesia yang pada kali ini menginjak tahun keempat. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan inovasi dalam pemanfaatan teknologi melalui pembuatan aplikasi lokal dan  merangkul serta mewadahi para developer aplikasi di Indonesia agar dapat menjadi sumber daya industri ICT yang mumpuni dan bermanfaat untuk kebutuhan pasar dan industri lokal. INA 4.0 dibuka dengan serangkaian workshop sejak Juli 2017 yang diadakan 8 kota, seperti Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Jakarta, Bandung, Medan dan Makassar.

foto2Menteri Menteri Kominfo, Rudiantara

Selama kompetisi yang dibuka sejak 25 Juli sampai dengan 18 September acara ini berhasil menarik keikutsertaan  lebih dari 1.600 developer dari seluruh Indonesia. Dan dari jumlah tersebut kemudian disaring oleh Samsung dan mendapatkan 976 aplikasi yang tervalidasi. “Dari 1.600 developer yang telah mengirimkan proposal dan menjelaskan tentang aplikasinya, tersaring 20 finalis yang diuji oleh para juri di acara ini. Dan berharap kemenangan ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus menyempurnakan ilmu dan karyanya”, ujar KangHyun Lee, Corporate Affair Vice President Samsung Electronics Indonesia.

Proses penjuriannya ditentukan berdasarkan nilai bagi peserta berdasarkan beberapa kriteria umum, seperti kesiapgunaan aplikasi, masalah yang diselesaikan, fitur dan kegunaan aplikasi, konsep atau ide inovasi, serta kemudahan tampilan dan penggunaan, namun setip kategori maupun sub kategori juga memiliki syarat dan ketentuan berbeda sesuai dengan kebutuhan.

Berbeda dari tahun sebelumnya, Samsung menambah kategori baru, yakni Tantangan Industri. Untuk kategori ini, vendor asal Korea Selatan itu menggandeng BRI, Sinarmas Land, Jakarta Smart City, Angkasa Pura II dan IBM.

foto3Para juri INA 4.0

Acara hari ini juga di hadiri oleh Menteri Kominfo, Rudiantara  yang menjelaskan bagaimana Menteri Kominfo mengapresiasi acara INA 4.0, sementara untuk pengembangan ekosistem aplikasi secara khusus ia mengajak pabrikan gawai untuk mendorong lebih banyak lagi developer selaku suber daya industri untuk menghasilkan aplikasi-aplikasi yang bermanfaat. “Di Perpres permasalahan pertama dalam ekonomi digital adalah sumberdaya manusia”, jelasnya.

Para pemengan INA 4.0  akan dibina dan dibantu oleh Samsung untuk mempromosikan aplikasinya diperangkat mereka dan juga mendapatkan hadiah dengan total Rp. 600.000,-
Berikut nama-nama pemenang dalam lima kategori INA 4.0:

Kategori Samsung SDK Challage
Juara 1 : aplikasi Mona
Juara 2 : aplikasi Kato
Juara 3 : aplikasi Athlest

Kategori Gear VR Challenge
Juara 1 : aplikasi GoSimulator VR
Juara 2 : aplikasi Starship Infiltration VR
Juara 3 : aplikasi Sky Battle Arena

Tizen Smartphone Challenge
Juara 1 : aplikasi Crazy Cargo
Juara 2 : aplikasi Kitaria Heroes
Juara 3 : aplikasi Relaxio


Tizen Wearable Challenge
Juara 1 : aplikasi Fishing Go
Juara 2 : aplikasi Snipe n Watch
Juara 3 : aplikasi Mucha Gun

Juara Kategori Industry Challenge
Sub Kategori Perbankan dari BRI : aplikasi UKM Bersama BRI
Sub Kategori Pelayanan Publik dari PT Angkasa Pura II : aplikasi Skypass
Sub Kategori Tata Kota dari Jakarta Smart City : aplikasi Museum
Sub Kategori Properti dari PT Sinarmas Land : aplikasi City Point

Sunday, 08 October 2017 23:28

Shaggydog

Tampil Maksimal di Synchronize Fest 2017

“Mari kembali lagi ke lantai dansa, menyanyikan lagi-lagu yang sama, sudah kunantikan kau begitu lama dan kujaga api tetap menyala.” Inilah sepenggal lirik lagu Shaggydog yang bertempo cepat yang tanpa basa-basi mereka geber sejak awal. Terbukti akhirnya berhasil membuat para Doggies dan Honnies, sebutan fans band asal Jogjakarta itu, ’Kembali Berdansa’ di Dynamic Stage, Gambir Expo Kemayoran, Jakarta pada Sabtu (7/10) kemarin.

Untuk kedua kalinya, Shaggydog diundang menjadi penampil dalam event musik multi genre terbesar di Indonesia, Synchronize Festival. Lantaran banyak penonton yang mulai berteduh, dirundung cemas akan ancaman hujan, hal tersebut yang justru membuat Heru cs tak kompromi. Mereka semakin menggenjot beat musik dengan sajian ‘Rock Da Mic’, ‘Doggy Doggy’ serta memainkan ‘Ditato’. Pada sesi ini, menjadi ajang pengenalan nama-nama personel Shaggydog sekaligus sebagai ajang pertunjukan skill yang membuat penonton makin berdecak kagum melihat para idolanya tampil sangat maksimal pada malam itu.

Pemilihan songlist yang tepat dari Shaggydog pun berbuah manis. Performa apik band yang mengusung genre reggae-ska ini bahkan membuat Presiden Joko Widodo atau Jokowi kepincut untuk menyambangi Dynamic Stage, meninggalkan Dead Squad yang pada saat bersamaan sedang tampil juga di Lake Stage.

Disana, Jokowi yang berdiri di tengah kerumunan massa yang berjoget kegirangan hanyut akan sihir reggae, disuguhi tembang ’Jalan-Jalan’, sebuah hits Shaggydog dari album Kembali Berdansa yang dirilis pada tahun 2006 silam. Mendengarkan ’Di Sayidan’ didendangkan, Presiden RI pun ikut mengayun-ayunkan kepala menikmati irama musi. Seraya menggerakkan bibir seperti ikut menyanyikan lagu yang terlahir pada album Hot Dogz (2003) itu. “Minta maaf Pak Jokowi kalau agak celele’an (bergaya asal-asalan),” ucap Heru Wahyono, vokalis  Shaggydog di sela penampilannya di atas panggung.

02 Shaggydog TezaShaggydog (Foto: Teza)

Malam itu Heru, Richard (gitar) dan Lilik (keyboard) terlihat paling aktif berupaya membakar atmosfer Dynamic Stage. Mereka kerap maju ke sudut terdepan panggung, mengajak para Doggies dan Honnies untuk tak henti-hentinya menyumbangkan suara-suara lantang, menghilangkan senyap malam. Salah satu upaya dari vokalis Shaggydog ke fans agar mereka tidak berpaling ke panggung lain ialah, dengan membagi-bagikan topi secara gratis kepada penonton.

Sebelum menutup acara, band yang sempat malang melintang manggung di Eropa dan Amerika itu juga mendendangkan single teranyarnya ’Ambilkan Gelas’ yang dirilis pada September, bulan lalu. Lagu yang diramu dengan nuansa dangdut reggae ini, terbukti ampuh kembali menggoyang crowd, dan menjadi kenangan manis tersendiri bagi Shaggydog yang mendapat tugas mulia untuk kali kedua didapuk sebagai penghibur pada ajang musik indie Synchronize Fest 2017./ Teza

03 Shaggydog TezaShaggydog (Foto: Teza)

 

 

Saturday, 07 October 2017 23:19

Efek Rumah Kaca

Tanpa Cholil dan Keluhungan Ade Paloh yang Bikin Terharu

Synchronize Fest hari pertama telah usai, kejutan demi kejutan lahir dalam festival musik multi genre itu. Ada penonton yang terkagum-kagum, bersuka ria, bahkan timbul rasa kecewa lantaran penampilan sang idola di atas panggung tak sesuai dengan ekspektasi dengan kedatangannya pada event tersebut. Namun pada sisi lain, kejutan yang hadir pada malam itu dapat membius massa seketika, dimana sosok pergantian peran menjadi aksi yang sangat klimaks merasuki hati penggemar yang lirih larut dalam nyanyian.

Salah satu yang cukup mengejutkan ialah absennya vokalis Efek Rumah Kaca (ERK) Cholil, pada event Synchronize II. Cholil mengucapkan permohonan maaf kepada para penggemar ERK melalui video berdurasi kurang lebih 1 menit yang ditayangkan pada layar District Stage. Seperti diketahui, ia berhalangan pulang ke Indonesia dari tempat ia bermukim saat ini di New York, Amerika Serikat.

Malam itu Cholil Mahmud mengumumkan, Ade Firza Paloh "Sore" didapuk menjadi vocalis utama, serta menunjuk Billy Saleh "Polka Wars" sebagai rhytm gitar sekaligus backing vocal ERK. Terbukti, keduanya mampu mengobati peluh kecewa para penggemar ERK, berkolaborasi apik dengan Akbar Bagus Sudibyo (drummer), Poppie Airil (bassist) dan additional player lainnya melalui ’Pasar Bisa Diciptakan’, ’Banyak Asap Disana’, ,Debu-Debu Beterbangan’, ’Balerina’ dan ’Kamar Gelap’.

Kala suara kompak ribuan penonton mengudara, justru mengalahkan besaran volume utama walaupun dengan bantuan microphone sekalipun. Terbukti, malam itu District Stage paling hingar bingar diantara 4 panggung lainnya. Padahal disaat yang bersamaan, D'Essentials Of Groove, Tipe X, Superman Is Dead dan Oomleo Berkaraoke sedang unjuk gigi. Jumat (6/10) malam menjadi bukti nyata bahwa Efek Rumah Kaca menjadi band yang paling menyedot massa musik multi genre yang menyambangi venue acara Synchronize Fest 2017 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Meski minus Cholil sebagai frontman, lirik puitis ERK tetap setia diteriakkan oleh penggemarnya.

02 Ade Paloh TezaEfek Rumah Kaca (Foto: Teza)

 

"Ini merupakan gagasan Cholil dan Akbar. Awalnya Cholil whatsapp dan gue tadinya terus terang sungkan. Karena, yah segen aja bawain lagu Efek Rumah Kaca, disamping range vocal yang tinggi, gue suka nggak pede-an kalo dipercayain membawakan karya orang, karena takut malah merusak," ucap Ade Paloh kepada NewsMusik.

Pada akhirnya vokalis "Sore" itu didaulat mengisi kekosongan figur vocal utama pada tubuh ERK. Dirinya merasa sangat terhormat bahkan terharu kala penonton ikut terbius dengan alunan nada yang terus berhembus mengawang di District Stage. "Terlebih pas di panggung, kebersamaan jiwa sama yang nonton menyatu padu bikin terharu," ungkapnya.

Dia menerangkan, "yang susah memang range vocal Cholil yang kira-kira 1 (satu) oktaf diatas gue. Tapi mereka (Efek Rumah Kaca) ngasih kebebasan buat gimana gue ngebawainnya, merunut dengan gaya vokal gue."

Dalam latihan studio selama 2x pertemuan, punggawa ERK memberi opsi ke Ade dan bersedia untuk menurunkan scale oktaf bila diperlukan. Dengan segala tantangannya, ia justru menyanyikan lagu-lagu ERK dengan chord yang sama dimana Cholil biasa bermain.

03 Efek Rumah Kaca TezaAde Paloh (Foto: Teza)

"Ada 1 (satu) lagu yang emang gue minta secara pribadi untuk dibawain, yaitu ’Kamar Gelap’, Ade Paloh melanjutkan, dia memiliki personal attachment terhadap lagu tersebut. Lagu itu adalah lagu ERK paling kena buat gue, sampai saat ini. Karena bercerita soal keluhungan masa yang tertangkap kamera, ujarnya."

Melihat dan mendengar kabar jika Cholil tak bisa merapat ke venue, segenap nama-nama beken di scene musik indie Indonesia turut menyumbangkan suara untuk ERK secara on the spot alias tanpa latihan studio. Mereka adalah Arina "Mocca" yang dengan sendu melantunkan "Desember", Robi Navicula dengan kritis menyuarakan "Di Udara", serta Iga Massardi "Barasuara" yang membakar atmosfer pada tembang "Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa". /Teza

Sunday, 08 October 2017 16:58

Ebiet G. Ade

Dari Muda-Mudi Hingga Presiden RI

Pukul 18.00, depan District Stage mulai ramai didatangi kumpulan muda-mudi yang terlihat enjoy duduk berbincang, sembari menunggu idolanya tampil menghiasi panggung. Menit ke menit berjalan, semakin crowded saja massa mengerumpun di salah satu panggung Synchronize Fest itu. Sudah terjadwalkan pada Sabtu, 7 Oktober 2017, penyanyi sekaligus penyair Ebiet G. Ade akan perform di venue Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, pukul 18.30 Wib.

Menepati rundown pertunjukan, Ebiet G. Ade berjalan sendiri di atas panggung sambil menenteng "senjata", acoustic guitar Cole Clark. Kedatangannya pun disambut riuh teriakan histeris penggemar.  Tanpa seucap katapun kepada penonton, ia fokus memetik gitarnya, yang dilanjutkan dengan nyanyian "Jakarta I", sebuah lagu yang ditulisnya pada album debut Camelia I yang dirilis tahun 1979.  Pria bernama lengkap Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far itu, kembali melanjutkan syair puisinya dalam "Mimpi di Parang Tritis" dan "Cerita Cinta Suminah dan Tukang Sapu"

Ebiet G. Ade pun tak menyangka, jika aksi tunggalnya malam itu di apresiasi luar biasa oleh sekerumunan massa. "Ditonton dari kalangan anak muda adalah anugerah yang sangat didambakan oleh para orang-orang tua. Adek-adek semua Insya Allah akan mendapat hadiah dari Tuhan, karena sudah membahagiakan orang tua" ucap Ebiet dengan senyum sumringah.

Teriakan "lolong" dari seorang penonton, ia tanggapi dengan penghayatan mendalam kala menyuarakan syair indahnya, yang membuat para penggemar terbius seketika meresapi guratan lirik sendu pada tembang tersebut. "Lagu selanjutnya adalah Camelia," kata Ebiet, lalu disambut candaaan oleh sejumlah penonton yang menutur, "Camelia I, Camelia II atau Camelia III nih. Ada banyak soalnya lagu Camelia." Menanggapi hal tersebut, Ebiet membalasnya dengan senyuman. Baru setelah itu mulai ia suarakan tembang hits ’Camelia III’, ’Titip Rindu Buat Ayah’, serta ’Cintaku Kandas di Rerumputan’.

02 Ebiet G. Ade TezaEbiet G. Ade (Foto: Teza)

"Ada kabar gembira, entah berada dimana, dan yang jelas malam ini hadir di tengah-tengah kita seorang tamu spesial. Selamat datang bapak Presiden Joko Widodo, terima kasih sudah menonton saya," kata Ebie. Pada waktu yang bersamaan, akun Instagram milik Presiden RI itu live memperlihatkan kepadatan crowd penonton di District Stage kala Bapak dari musisi Adera itu kembali mempuitiskan hari dengan ’Elegi Esok Pagi’.

Pada kesempatan akhir perform, Ebiet G Ade membawakan ’Berita Kepada Kawan’, sebuah lagu yang ditulisnya untuk mengenang tragedi Sinila di Dataran Tinggi Dieng yang menewaskan 149 orang yang ditemukan bergelimpangan tak bernyawa di jalan-jalan sekitar pemukiman penduduk, karena menghirup udara beracun. "Jadi artinya, apa yang saya rasakan sekitar 40 tahun lalu, ternyata masih bisa saya rasakan hari ini. Itu menjadi sesuatu yang luar biasa bagi saya, terima kasih," ucap Ebiet.

Seperti diketahui, pada hari yang sama sedang terjadi musibah banjir dan tanah longsor di Kabupaten Pangandaran yang merenggut sedikitnya 4 nyawa. Konteks lagu ,Berita Kepada Kawan' yang dituliskan oleh Ebiet G. Ade cukup akrab bagi telinga pendengar, karena dapat merepresentasikan suratan kabar duka yang terjadi di wilayah Indonesia./ Teza

03 Ebiet G. Ade TezaEbiet g. Ade (Foto: Teza)

Wednesday, 11 October 2017 16:09

Audy

Luncurkan Album The Best Of 17

Paula Allodya Item atau yang di kenal dengan Audy,  sudah 17 tahun berkarya di industri musik tanah air dan pernah berjaya di tahun 2003 dengan mendapatkan 3 penghargaan sekaligus dari Anugerah Musik Indonesia sebagai Solo Wanita Rock Terbaik, Solo Wanita Terbaik, dan Album Pop Terbaik.

Sejak menikah dengan Iko Uwais pada tahun 2012 lalu, Audy memutuskan untuk berhenti bernyanyi dan lebih memilh menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak semata wayangnya Atreya Syahla Putri Uwais. Merayakan 17 tahun berkarirnya, Audy kembali menunjukkan eksistensinya di dunia musik. Menandai hal tersebut Audy meluncurkan album yang bertajuk "The Best  Of Audy 17".

Audy dan angka adalah bagian yang tidak terpisahkan. Yup, semua album Audy selalu ditandai dengan angka. Album pertamanya berjudul "18", yang artinya dirilisnya album itu pas penyanyi bersuara khas ini berusia delapan belas tahun. Adapun album keduanya berjudul "20-20", hal ini karena tanggal 20 bulan 2 adalah tanggal rilis albumnya, dan 20 tahun adalah tepat usia Audy saat albumnya beredar. Banyak sudah hits yang telah dihasilkannya.

Album yang bertajuk The Best of Audy 17" ini sudah bisa ditebak artinya. Ya.. Album ini berisikan 17 lagu terbaik dari Audy selama masa berkarya di industri musik Indonesia. Ada 15 hits terpopulernya dan menambahkan 2 lagu baru sebagai pemanis.

Beberapa hit yang dimasukan kedalam ”The Best Of Audy 17” diantaranya adalah ’Satu Jam Saja’, ’Lama-lama Aku Bosan’, ’Pencuri Hati’, ’Pergi Cinta’, ’Untuk Sahabat’, Menangis Semalam’, ’Bila Saja’  hingga ’Janji Di Atas Ingkar’, sedangkan 2 lagu baru berjudul ’Tapi Aku’ dan ’Lelaki Sempurna’.

02 Audy Item IsmedAudy Item (Foto: Ismed)

“Perasaan terhadap begitu banyaknya karya-karya saya yang diterima banyak orang? Jujur, saya tidak percaya. Karena pada dasarnya saya bukan tipikel penyanyi yang skill full seperti Beyonce atau Mariah Carey. Mungkin kekuatan dari lagunya juga. Bagi saya menyanyi juga bukan hanya punya suara yang merdu, tapi juga bagaimana caranya supaya antara suara, musik dan lagunya menyatu. Alhamdulillah,  lagu-lagu saya bisa diterima baik dan digemari oleh masyarakat Indonesia”, jelas Audy.

Album ini secara khusus juga menampilkan hit single terbaru Audy berjudul ’Tapi Aku’, lagu yang ditulis oleh Pia Utopia ini yang bercerita tentang seseorang yang telah give up dengan hubungannya dan akhirnya dia berpaling ke orang lain. Sedangkan untuk musiknya sendiri, di arrange oleh Tohpati.

Video musik untuk lagu yang terbaru single ini sudah dibuat. Hasil karya Jody Okto, seorang fotografer, sekaligus videografer handal. Selain itu, Audy juga dibantu oleh Miller Khan sebagai model di dalam video musik ini. Proses penggarapannya dikemas cukup singkat, hanya diambil dalam waktu 1 hari. Semoga album Audy terbaru ini dapat mengobati kekangenan para penggemarnya diseluruh Indonesia./ Rizal

Saturday, 07 October 2017 08:41

Rossa

Mengulang Konser Tunggalnya di Singapore

Salah satu diva tanah air, Rossa yang tidak hanya laris di Indonesia tetapi juga memiliki penggemar di Asia Tenggara ini kembali mengulang kesuksesan  konser tunggalnya di Jakarta April lalu. Konser yang bertajuk “The Journey of 21 Dazzling Years Concert” yang di gelar Rossa dengan apik akan digelar kembali di Singapura pada 4 November 2017.

Konser kali ini bukan konser kali pertama yang di adakan Rossa di luar negeri, di tahun 2010 Rossa pernah menggelar konser yang bertajuk “Melodi Cinta Rossa” yang digelar di bukit Jalil, Malaysia yang dihadiri oleh 13.000 penonton kala itu. Setahun kemudian di tahun 2011, konser “Harmoni Cinta” yang diadakan di Esplanade Singapore juga menuai sukses.

Penyanyi yang baru saja meluncurkan album teranyarnya yang bertajuk “New Chapter” ini akan mempersembahkan konser ini bagi penggemarnya “Pecinta Rossa”. Seperti konser sebelumnya Rossa akan membawakan sedikitnya 23 lagu terbaiknya yang diambil dari album-albumnya. Mulai dari “Tegar”, “Pudar”, “Hati Yang Tersakiti” sampai lagu teranyarnya “Body Speak”.

pic2

Berbeda dengan konsernya di Jakarta, kali ini Rossa tidak memboyong sahabat-sahabat baiknya ke atas panggung, menurut Rossa pihak Esplanade selaku pemilik venue dan promotor konser itu sudah mengatur segala hal yang berkaitan dengan atraksi panggung ataupun konsep lainnya.

"Kalau (konser) yang di Jakarta itu ada (kolaborasi dengan) Tohpati dan Jay Subiakto (untuk set panggung), tapi kalau di Singapura, karena tempatnya tidak diizinkan membuat stage selain yang mereka miliki, maka mungkin kita akan main di lighting dan suasana aja yang akan kita mainkan di sana," ujarnya.

Untuk konser di Esplanade Singapura, pihak promotor membanderol tiket seharga 58-158 dolar Singapura. "Harga tiketnya 58-158 dolar Singapura. Kalau dirupiahkan sekitar Rp 575 ribuan," ucap Rossa.

 

Friday, 06 October 2017 11:21

Neona

Hadir di Tengah Minimnya Lagu Anak

Anodya Shula Neona Ayu, yang akrab di sapa Neona  tampil untuk meramaikan pentas musik lagu anak di tanah air. Kehadiran lagu anak-anak di industri musik nasional kini perlahan bangkit kembali. Kerinduan dan kebutuhan akan musik anak yang berkualitas menginspirasi sebagian anak Indonesia, khususnya di bidang menyanyi menginspirasi beberapa penyanyi cilik untuk tampil di tengah masyarakat.

Kehadiran Naura sedikit banyak juga memberikan contoh bagi sebagian penyanyi cilik untuk unjuk gigi mengulang kesuksesannya. Neona yang merupakan adik dari Naura sudah berani tampil dengan sangat percaya diri di depan publik. Hal inilah yang membuat Trinity Optima Production mengajak Neona untuk meramaikan industri musik anak. Kesuksesan album sang kakak, Naura yang bertajuk “Langit Yang Sama” membuat Naura yang sejak berusia satu setengah tahun ini sudah suka menyanyi membuatnya sangat terinspirasi dengan sang kakak.

Anak ketiga dari Riafinola Ifani Sari (Nola Be3) dan Baldy ini mermiliki karakter yang berbeda dengan Naura. Diusianya yang sangat belia, Neona sudah berani tampil dengan sangat percaya diri di hadapan publik. "Neona itu anaknya lucu, periang, percaya diri, beda banget sama kakaknya yang kalem dan manis. Kadang dia tidak mau kalah dari kakaknya. Kalau dengar musik pasti langsung joget-joget sendiri. Bisa joget dimana saja dan kapan saja. Biasanya dia belajar sendiri, liat video di youtube dan dia olah sendiri," ungkap Nola sesuai dengan rilis yang diterima NewsMusik Rabu (4/10).

"Dan aku menarinya yang gaya banget gitu loh, powerful gitu. Aku ingin jadi seorang penyanyi anak Indonesia yang terkenal", tutur Neona polos.

Sebelumnya, Neona pernah mencuri perhatian banyak orang dengan tingkahnya yang lucu di konser musikal tunggal Naura, “Dongeng” pada tanggal 24-25 Oktober 2015 lalu. Sejak itu, Neona mulai dikenal banyak orang dan memiliki banyak penggemar. Neona pun mulai serius memasuki dunia tarik suara.

Sama dengan sang kakak, Neona pun masih dalam pengawasan sang bunda. Nola tidak berperan sebagai ibu tapi juga sebagai producer untuk debut single perdananya yang berjudul “Aduh Neik” dan kini ia pun siap meluncurkan lagu keduanya yang berjudul “Ada Deh”.
 
“Lagu ‘Ada Deh’ ini sebenarnya ciptaan saya dan kakak saya Tantra. Saya melihat Neona ini anaknya sangat spontan dan lucu. Saya ingat waktu saya tanya Neona mau bikin lagu tentang apa, dia jawab ‘ada deh’. Saya tahu maksudnya Neona waktu itu mau bercanda dengan saya, tapi setelah dipikir-pikir lucu juga ya kalau kata-kata ‘ada deh’ jadi judul lagu,” ungkap Mhala selaku pencipta lagu ini.
 
Adapun lagu “Ada Deh” ini menceritakan tentang kebiasan cyberbullying di social media. Karena, walaupun Neona masih berusia belia tapi anak bungsu dari Nola dan Baldy ini sudah sangat aktif di social media. Ia memiliki akun instagram pribadi @neo_1306 dengan jumlah pengikuti 139.000 followers dan ia juga memiliki akun Youtube dengan nama “Diary Neo” dengan lebih dari 98.000 subscriber.
 
“Dari lagu ini, kita ingin mengedukasi para pendengar tentang cyberbullying. Moral lagu ini jangan suka namecalling atau komentar jahat di social media. Haters mungkin bikin situasi seru, tapi sebenarnya social media itu sendiri ada aturannya lho! Dan dari lagu ini kita ingin ngajak kalau suka bully itu enggak keren!” tambah Mhala.
 
Untuk konsep video klipnya sendiri Ganda Hartadi selaku sutradara untuk video klip Neona “Ada Deh” ini menggunakan permainan warna merah muda yang seru. “Awalnya konsepnya mau ngambil seperti dunia Barbie, dengan permainan warna merah muda dan warna lain yang mencolok. Terus, wrardrobe-nya juga menggunakan busana yang full color lengkap dengan rambut palsunya yang atraktif. Dari konsep ini, saya hanya ingin menggambarkan kecerian anak-anak seumuran Neona,” ungkap Ganda.
 
Selain melibatkan dancer, kakak dan kedua orang tua Neona turut meramaikan keseruan yang ada di video klip ini. “Karena Neona dan dancer-nya ini sudah sangat enerjik. Jadi, saya juga mengajak The Baldys untuk ikut dalam video klip ini agar bisa menyeimbangkannya,” tambah Ganda. Sebagai Ayah, Baldy rela menggunakan wig warna pirang untuk tampil di video klip Neona ini. “Video klip ini seru banget, beda dari biasanya. Saya sampai pakai wig warna pirang, kakak Naura juga pakai wig warna ungu, Bevan pakai aksesoris ala Mickey mouse, dan mama juga jadi serba biru, pokoknya seru banget lah!” tutur Baldy. Penasaran seperti apa? Langsung dengar saja tonton video klip terbaru dari Neona “Ada Deh”, di sini!... /Yulia

 

Wednesday, 04 October 2017 12:37

Air Supply

Ajak Fans Bernostalgia di Surabaya

Air Supply yang terkenal dengan lagu hits-nya berjudul ‘Making Love Out of Nothing At All’ kembali menyambangi Indonesia. Tingginya antusiasme penggemar pada duo Russell Hitchcock dan Graham Russell ini membuat Full Color Entertainment kembali mengusung duo legendaries ini  ke Indonesia. Kali ini kota Surabaya yang dipilihnya untuk menggelar konser yang kesekian kalinya di Indonesia. Mengulang kesuksesan konser sebelumnya di Jakarta Maret 2017 silam, duo yang mengusung genre soft rock ini mengajak para fansnya di Indonesia kembali bernostalgia dengan lagu-lagu mereka yang tak lekang oleh zaman.

Konser yang bertajuk  ‘Air Supply THE CELEBRATION OF LOVE - Live In Surabaya’ ini akan di gelar 06 Desember 2017 mendatang di Grand City Surabaya, Jawa Timur.
Lagu-lagunya seperti  ‘The Power of Love (You Are My Lady)’ yang menjadi hits di tahun 1985, ‘Without You’, ‘Every Woman in the World’, ‘Lost in Love’ yang berhasil menduduki posisi 3 pada billboard chart di tahun 1980, ‘All Out of Love’ single ini menduduki peringkat 2 billboard chart di tahun 1980, ‘The One That You Love’ single ini melejit di seluruh dua pada saat duduk di posisi 1 billboard chart tahun 1981, ‘Even the Nights Are Better’, ‘Two Less Lonely People in the World’ dan masih banyak lagi akan dibawakan oleh duo ini nantinya.

David Ananda, Managing Director Full Color Entertainment mengungkapkan, selain inisiatif tadi, tujuan pihaknya mengusung Air Supply ke Surabaya adalah dalam rangka memenuhi janji pribadi sang promotor (David Ananda-red) kepada Graham Russell dan Russell Hitchcock untuk membuat konser yang megah di seantero Indonesia dan pada kesempatan kali ini akan digelar di Surabaya, 06 Desember 2017.

“Suksesnya konser Air Supply di Jakarta pada 03 Maret 2017 lalu, menunjukkan bahwa fans Air Supply di Indonesia sangat banyak. Bahkan tidak sedikit dari para penggemar yang tidak kebagian tiket. Untuk itulah, Full Color Entertainment ingin mengakomodir para penggemar Air Supply khususnya yang berdomisili di Surabaya, yang belum sempat menyaksikan aksi panggung Air Supply secara langsung di Jakarta, Maret lalu,” ujar David Ananda, Managing Director Full Color, sesuai dengan rilis yang diterima Newsmusik Senin (2/10).

Air Supply 2016 approved photoAirSupply (Istimewa)

“Selain itu, ini adalah janji pribadi saya kepada Graham Russell dan Russell Hitchcock untuk membuat konser yang megah di seantero Indonesia dan pada kesempatan kali ini akan digelar di Surabaya, 06 Desember 2017 dan juga akan digelar di Bandung, 07 Desember 2017 ,” tambah David.

Tak hanya itu, tambah David, para fans Air Supply selalu merindukan aksi panggung Air Supply karena Russell Hitchcock dan Graham Russell yang selalu tampil ramah dan akrab saat manggung. “Air Supply selalu tampil ramah dan akrab tanpa jarak dengan para fans-nya saat manggung. Tahun 2005 lalu, tepat pada 30 tahun mereka berkarya, konser Air Supply di Kuba dipadati sebanyak 175.000 penonton. Bahkan pada tahun 2011, Air Supply adalah salah satu grup band dengan jumlah show paling aktif sebanyak hampir 150 konser dalam satu tahun termasuk di Inggris, Irlandia, Israel, Filipina Korea, Jepang, Kanada, Amerika dan lainnya,” jelas David, lagi.

Bagi penggemar Air Supply ticket dapat dibeli secara online di Book My Show (http://id.bookmyshow.com) dan secara offline di seluruh gerai Indomaret dengan harga presale untuk Silver (Standing) IDR 450.000,- dan presale Gold (seating) IDR 850.000,-. Untuk harga normalnya kemudian di patok mulai harga  IDR 625.000 untuk Silver (standing), Gold IDR 1.250.000 (seating) dan Diamond VVIP IDR 1.750.000,-

seatplan RGB (1)Seat Plan

Tahun 2017 ini bisa dibilang sebagai tahun yang istimewa bagi Air Supply. Konser kali ini dengan tema ‘The Celebration of Love – Live In Surabaya’ adalah bukti kecintaan Air Supply kepada fans mereka di Surabaya dan ingin mengajak fans Air Supply ikut merayakan kiprah Air Supply di belantika musik dunia serta bernostalgia dengan lagu-lagu cinta mereka. “Konser kali ini akan menjadi konser yang hangat dan akrab bagi para fans Air Supply di Surabaya dan target pribadi saya adalah membuat konser yang megah di seantero Indonesia untuk duo Russell Hitchcock dan Graham Russell sebelum mereka pensiun,” ujar David.

 

Sunday, 01 October 2017 11:56

Glenn Fredly

Konser Komplit Versi Glenn

Ratusan orang terlihat memadati Gandaria City Hall, Mall Gandaria City, Jakarta pada Sabtu (30/9) malam untuk menyaksikan konser Tanda Mata (#TNDMT) Glenn Fredly untuk Slank. Antusiasme penggemar Glenn kali ini adalah dikarenakan sebagian besar keingintahuan mereka bagaimana suguhan Glenn dalam menyanyikan lagu-lagu Slank. Bagaimana sentuhan Glenn yang selama ini mengusung genre Pop dan R&B, menyanyikan lagu Slank yang kental dengan nuansa Rock & Bluesnya.

Di sebelah kanan sebelum pintu masuk ke venue penonton disuguhi beberapa foto dari 30 orang fotografer yang dipilih Glenn sebagai foto terbaik di setiap konser yang nantinya akan di lelang untuk disumbangkan kepada korban bencana alam Gunung Gede, Bali. Tepat pukul 20.00 WIB lagu Indonesia Raya pun berkumandang sebagai tanda dimulainya konser #TNDMT Glenn Fredly untuk Slank.

Tak lama Glenn pun muncul dengan mengenakan kacamata dan topi hitam, berjaket jeans menyapa penggemarnya yang kebetulan pada hari ini merupakan hari ulang tahunnya di tanggal 30 September yang identik dengan pengkhianatan G 30 S/PKI. "Kita enggak nonton film bersama, kita bukan merayakan pengkhianatan, tapi kita merayakan kemerdekaan dalam bermusik," kata Glenn di atas panggung.

Tepuk tangan penonton bergemuruh, seakan tak sabar untuk segera menyaksikan aksi Glenn di atas panggung. Lagu pertama ‘Symphaty Blues’ bergulir dengan komposisi blues dan jazz. Dilaluinya dengan mulus dan dilanjutkan dengan lagu ‘Pulau Biru’, kedua lagu ini didominasi permainan lampu serba biru.

Kemampuan dan skill Glenn memang luar biasa, penonton seakan di bawa menyaksikan tampilan lagu Slank dengan komposisi yang berbeda. Suguhan lagu-lagu yang dibawakan juga sedikit banyak membawa penonton yang sebagian besar juga penggemar Slank sepakat bahwa konser Glenn kali ini terasa berbeda.

02 Glenn Fredly YDhewGlenn Fredly (YDhew)

Hampir selama tiga jam persis, Glenn menyuguhkan tontonan yang apik dengan olahan lagu Slank menjadi Jazz bahkan R&B atau Reggae dengan durasi masing-masing lagu 5-6 menit dengan total 20 lagu. Disela-sela jeda lagu, tak lupa Glenn menyisipkan pesan mulai dari konten sosmed sampai dengan seruan anti korupsi.

Lagu lainnya yang tak kalah berkesan ketika ia membawakan lagu ‘Kirim Aku Bunga’ yang diperuntukkannya untuk para wanita yang hadir  malam itu. Dengan latar belakang gambar bunga lagu ini dibawakan dengan komposisi Blues yang dipadukan dengan suara falsetto Glenn ditambah melodi yang berasal dari cabikan gitar Andree Dinuth. Beberapa lagu berikutnya dibawakan secara medley ditambah alunan suara terompet membuat lagu ‘Foto Dalam Dompet’, ‘Fullmoon Blues’ berubah menjadi lebih jazzy.

Tak hanya disitu, pada konser penyanyi kelahiran Ambon ini mengajak sederet musisi dengan warna dan gaya bermusik yang berbeda sehingga menambah interpretasi lagu-lagu karya Slank menjadi semakin berwarna. Berikutnya muncul sosok gitaris asal Bali, Dewa Budjana yang menemani Glenn menyanyikan lagu ‘Terbunuh Sepi’ lagu ini dibawakan nuansa syahdu. Kemudian dilanjutkan dengan lagu ‘Virus’, Glenn pun mencoba berinteraksi dengan penonton dan meminta lampu untuk tidak dinyalakan.

“Biarin aja tak usah dinyalakan, buat yang berduaan suasana begini enak sambil nyanyi peluk yang disebelah”, seloroh Glenn dengan disambut tertawa penonton. Lagu inipun dibawakan kembali dengan suasana akustikan, benar-benar berbeda dalam setiap komposisi lagu yang dibawakan.

Glenn juga menampilkan ‘Generasi Biru’ dinyanyikan oleh anak-anak  kelahiran Ambon yang berusia mulai kelas 4 sampai kelas 6 SD dalam bentuk video. Mereka menampilkan lagu-lagu Slank juga secara medley dengan nuansa  rap.

Di segmen ke dua, ia menampilkan dua musisi kakak beradik Rena Reno. Masih lewat sentuhan akustik, dilanjutkan dengan lagu ‘Ku Tak Bisa’ yang dibawakan Glenn diiringi dengan organ yang dimainkannya sendiri. Kolaborasi selanjutnya disuguhkan oleh Ifa, Bonita, Yacko dan Young Lex yang membawakan lagu ‘Jeri Preman Urban – Jakarta Pagi Ini’ dengan komposisi yang naik turun karena perbedaan genre yang dipadukan menjadi satu.

03 Glenn dan Mondo Gascaro YDhewGlenn dan Mondo Gascaro (YDhew)

Dilanjutkan secara berturut-turut dengan alunan harmonika Harry Pochang menghiasi lagu ‘Mawar Merah’ dan ‘Koepoe Liar’ oleh Mondo Gascaro. Seketika panggung diisi dengan suasana memerah dengan irama menghentak,  grup rock Kelompok Penerbang Roket pun tak ketinggalan memanaskan panggung dengan lagu ‘Bang Bang Tut’. Disusul oleh kolaborasi antara Tompi, Bertha dan Idang Rasjidi saling mengadu teknik scat singing di sela lagu ‘Balikin’ yang tertampil tak biasa.

Secara konsep konser Glenn kali ini cukup memuaskan para penonton yang notabene para penggemar Slank dan juga Glenn. Para bintang tamu yang hadir pun rata-rata masih eksis di dunia panggung hiburan. Disela-sela pertunjukkan, Glenn tidak hanya membawa teman-teman musisi tetapi menghadirkan juga komedian jebolan Stand Up Comedy, Sakdiyah Ma’ruf yang memaparkan bagaimana rasanya menjadi perempuan Arab dengan joke-joke nya yang selalu disambut dengan gelak tawa penonton.

Pentaspun kemudian dilanjutkan dengan menampilkan ‘Gadis Sexy’ oleh Simon, Beboy “Laid This Nite”, ‘Gara-gara Kamu’ oleh Saxx in The City, dan makin meriah dengan kemunculan Yopie Latul, Trie Utami, Bismo, Liquid Silva, Saxx in The City secara bergantian menyanyikan lagu “ I Miss U But I Hate U”.

Panggungpun kemudian diisi oleh genre musik reggae ‘Lembah Baliem’ (Papua Original)’ yang dibawakan oleh Glenn bersama dengan Good Morning Papua ditambah dengan lagu daerah ‘Yamko Rambe Yamko’.

Di sesi ketiga penonton dibuat terkejut dengan munculnya sosok yang tidak ditemui lagi memandu acara Mata Najwa, “Saya lagi jobless, kakak Glenn berbaik hati mengisi acara dengan sebuah catatan Najwa”, ujar Najwa Shihab di atas panggung. Kali ini Najwa membacakan sebuah catatan mengenai isu yang sedang ramai saat ini, mengenai korupsi tentunya. Celotehan Najwa kemudian dilanjutkan dengan bergulirnya lagu ‘Tong Kosong’ dan berlanjut dengan ‘Mars Slank’ dan ‘Terlalu Manis’.

Penonton yang masih belum mau beranjak akhirnya disuguhkan penampilan terakhir Glenn bersama-sama dengan pengisi acara lainnya dengan diiringi lagu ‘Kamu Harus Pulang’ dimana jarum jam sudah menunjukkan ke angka 23.00 WIB.

04 Budjana & Glenn YDhewBudjana & Glenn (YDhew)

Konser Glenn kali ini ibarat paket komplit, penonton bukan hanya disuguhkan oleh berbagai macam musik dari berbeda genre yang terdengar harmonis karena balutan lagu-lagu Slank yang memang sudah tidak asing lagi ditelinga, konser kali ini juga memberi rasa yang semakin berbeda kala ditampilkan komedi dan pesan mengenai anti korupsi oleh Najwa Shihab.

Paket komplit di tengah hausnya huiuran akan acara seperti ini, dimana musisi dan penyanyi bukan hanya bisa menyanyikan lagu sendiri tetapi menjadikan konser ini sejarah baru dalam industri musik tanah air dimana genre apapun bisa menyatukan suatu suguhan musik yang menarik dan juga berkelas.

Slank pun sebagai band yang kali ini mendapatkan apresiasi dari Glenn, mengakui bahwa melalui konser ini karya dari Slank dapat diinterpretasikan oleh Glenn dengan baik. Bimbim pun mengungkapkan rasa harunya   dan sangat terhibur dengan sajian yang dibawakan. “Kali ini gue benar-benar merasa terharu, bukan hanya terhibur tetapi alurnya benar-benar bikin kita menikmati setiap sajiannya dan gue merasa tersanjung”, ungkap Bimbim.  

Dan Ridho sebagai gitaris dari Slank juga menambahkan bahwa pesan yang disampaikan pun mengenai anti korupsi, alam, dan lain-lain yang biasa dibawakan Slank, semua ada di konser ini. Benar-benar paket komplit!/ YDhew

05 Andre Dinuth YDhewAndre Dinuth (YDhew)

 

Tuesday, 03 October 2017 15:02

Dewa Budjana

Tour Keliling Eropa di Bulan Oktober 2017

 Dewa Budjana adalah seorang musisi kelahiran Nusa Tenggara Timur 54 tahun yang lalu. Perjalanan bermusiknya secara profesional dimulai sejak tergabung dengan “Java Jazz” bersama dengan Indra Lesmana. Biasa disapa Budjana, sebenarnya diawali karirnya dengan genre rock dan pop. Namun sejak bergabung dengan Java Jazz gaya bermusiknya kemudian berubah dan beralih ke genre jazz. 

Dengan mengusung genre jazz, sedikit progressive dan sentuhan musik new age, bersama Java Jazz akhirnya membawa Budjana sering ikut berpartisipasi dalam banyak festival jazz baik di dalam negeri maupun diluar negeri. Seperti North Sea Jazz Festival, World Jazz Convention di Den Haag, Belanda dan banyak festival-festival Jazz lainnya.

Permainan gitarnya pun semakin matang dan lebih inovatif hingga di tahun 1994 Budjana mulai bergabung bersama dengan group band GIGI sampai sekarang. Banyak perubahan dalam bermusik dan komposisi gitar yang dimainkan, namun jazz tetap dibawakannya sampai akhirnya Budjana mengeluarkan tiga album solonya dan yang terakhir bertajuk “Zentuary” dibawah naungan label Favored Nations milik Steve Vai.

Kekuatannya dengan mengkomposisi sebuah lagu dan meniupkan roh yang kuat dalam pola permainan gitarnya, Budjana juga selalu membawa tema tertentu dalam setiap aksi panggungnya. Hal inilah yang membuatnya sering diminta untuk perform di berbagai kesempatan, baik di dalam maupun di luar negeri.

WhatsApp Image 2017 10 03 at 15.18.321Dewa Budjana & Saat Syah (Foto: Yulia)

Kiprahnya sekian lama di industri musik tanah air yang akhirnya menjadikan dirinya ikon gitaris Indonesia yang mempertemukannya dengan berbagai musisi dari Eropa dan negeri lainnya. Di tahun 2017 ini Budjana kembali menunjukkan eksistensinya. Bersama dengan Nicolas Meier seorang musisi kelahiran Swiss yang bermukim di Inggris ia kemudian membentuk sebuah band yang diberi nama Meier-Budjana Band. Keduanya dipertemukan dalam naungan label yang sama, dan Budjana merupakan satu-satunya musisi Asia yang berada di label tersebut.

Nicolas Meier merasa tertarik dengan musikalitas  yang tinggi dari Budjana dan mengajaknya untuk keliling Eropa bersamanya. Selama bulan Oktober 2017 keduanya akan menggelar tour keliling Eropa sejak tanggal 5 hingga 21 Oktober mendatang yang tergabung dalam Meier-Budjana Band (MBB).

“Kebetulan memang ada undangan dan kesempatan bermain yang mungkin merupakan lebih kepada apresiasi terhadap karya-karya saya. Karena memang hal ini merupakan pengaruh dari hasil rekaman dan komposisi-komposisi saya dalam memainkan nada gitar. Ini pengalaman baru bagi saya karena benar-benar tur yang berjalan setiap hari non-stop tidak seperti di Indonesia”, ujar Budjana Minggu (1/10) di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta di sela keberangkatannya menuju Eropa.

Keduanya merupakan gitaris yang unggul dan berkemampuan dalam menciptakan musik yang melampaui  batas gaya dan budaya. Mereka berbaur dalam paduan jazz progresif dengan campuran etnik Timur Tengah dan Asia Tenggara dengan gaya mereka sendiri tentunya menampilkan juga dialek musik tradisional dalam penampilannya.

Nicolas Meier sendiri merupakan  salah satu musisi dunia yang mampu menghasilkan karya yang inovatif melalui instrumennya. Tercatat Meier pernah bermain dan membuat album dengan bebagai musisi seperti Jeff Beck, Gilad Atzmon, John Etheridge, Jimmy Haslip, Vinnie Colaluita, Pete Oxley, Harry Beckett, Jonathan Joseph dan masih banyak lagi.

WhatsApp Image 2017 10 03 at 15.18.33Saat Syah bersama dengan koleksi seruling buatannya sendiri (Foto: Yulia)

Mulai tanggal 1 Oktober 2017, Budjana akan bertolak  menuju kota pertama Inggris dan akan menggelar sesi latihan selama dua hari sebelum tampil di Inggris pada 5 Oktober nanti.  Penampilannya di Inggris sampai tanggal 13 Oktober, setelah itu di tanggal 15 Oktober bermain di Negeri Kincir Angin, Budjana akan menyambangi Jerman pada 17 Oktober dan Swiss pada 20 Oktober. Budjana akan kembali tampil di Jerman sekaligus menutup tur Eropa pada 21 Oktober dan akan kembali ke Indonesia pada 24 Oktober.

Dalam Meier-Budjana Band ini didalamnya ada beberapa musisi serta legenda musik yang turut mendukung band ini, seperti Jimmy Haslip (pemain Bass) dan Asaf Sirkif (Dummer). Selain itu Budjana juga membawa musisi asal Indonesia kelahiran Kalimantan yang menjadi ikon beberapa alat musik, khususnya alat musik tiup, Mohamad Saat Syah.

Kehadiran Saat disini sebagai pelengkap dan pendukung di setiap musik yang dibawakan Budjana. Eksplorasinya terhadap suling yang dibuatnya khusus sangat tajam dan tegas, Saat juga selalu dilibatkan dalam album  Budjana sejak tahun 2000 yang memberikan warna dalam setiap lagu dan melodi yang dihasilkan Budjana.

“Saat sebagai pemain suling yang dibuatnya sendiri dari paralon, buat saya sangat layak di bawa keluar karena bisa sebagai sesuatu yang dilirik disana bahwa musik ini adalah Indonesia, bunyinya juga bunyi Indonesia”, jelas Budjana.

Tema yang akan dibawakan Meier – Budjana dalam tour ini adalah, Meier tampil dengan musik sentuhan Timur Tengah, sementara Budjana akan membawa khazanah musik Asia Tenggara yang ada di album Zeantury dengan sentuhan Indonesia.

“Ini merupakan impian saya dari kecil dimana karya saya bisa didengar orang secara langsung dengan adanya  tour yang mungkin tidak terulang lagi. Hidup itu dalam bermain gitar harus serius dan dengan serius tentu saja akan membuahkan hasil yang kita mau”, ujar Budjana./ YDhew

 

Page 4 of 123