NewsMusik

NewsMusik

Friday, 29 December 2017 15:18

C’Blues

Persiapan Matang Demi JKL 2018

Ditemui di sebuah tempat dibilangan Jakarta Selatan, C’Blues adalah sebuah super group yang berasal dari Bandung akhir tahun 60an. Setelah melalui bongkar pasang personil dan akhirnya menetap di Jakarta, group ini langsung mengalami masa keemasan di skena musik tanah air pada era 1971 – 1973.

Digawangi oleh Adjie Bandy, Achmad “Mamad” Luther, Idang, Nono dan Bambang Tedjo pada tahun 1971 mereka mengeluarkan album Volume 1 yang mencetak hits ‘Aryati’. Setahun berikutnya lewat personil Adjie Bandy, Achmad “Mamad” Luther, Noengkie Sardjan, Idang, Bambang Tedjo, dan Yoyong, mereka mengeluarkan album Volume 2 dan mencetak hits  ‘Ikhlas’ yang melegenda.

Begitulah, band yang sempat berkibar dibawah bendera Remaco ini seperti kembali tersengat setelah vakum sekian lama. “Kami siap untuk manggung lagi”, ungkap Nono yang menjadi juru bicara group ini. “C’Blues sudah rutin latihan lagi. Terus terang kami sangat termotivasi atas undangan acara Jumpa Kawan Lama di tahun depan nanti”.

“Ini sebuah moment terbaik, disaat sudah umur begini, bisa main bareng lagi. Apalagi di tahun 2016 silam kami tidak ikut terlibat karena belum siap”, sumringah Nono yang diamini oleh Bambang Tedjo.

02 CBlues RizalC'Blues (foto: Rizal)

Dalam keterangannya lebih lanjut, Nono mengatakan bahwa mereka telah menyiapkan materi lagu. Tinggal menentukan lagu-lagu apa saja yang akan disuguhkan. “Beberapa lagu ada kami rubah sedikit liriknya, yaaa... untuk mempermanis saja”’ ungkap Jelly Tobing yang nantinya akan bertindak sebagai vokalis utama.

Sebagai musisi lawas, mereka juga sangat antusias melihat perkembangan musik era sekarang. “Band-band sekarang sudah seharusnya sangat bersyukur. Perkembangan teknologi dan informasi sudah sangat membantu. Mengasah skill dan menjadi pemicu ketenaran. Juga menjadi musisi sudah dapat menopang hidup. Tidak seperti kami dahulu, semua dalam keadaan terbatas”, ungkap Nono.

“Keuntungannya era kami adalah tidak banyak terdapat komunitas satu band. Dahulu sangat biasa jika  fans Panbers juga merupakan fans nya God Bless. Juga sering diadakan duel meet antara dua band sejenis untuk menunjukkan siapa yang paling bertaji”, ungkap Jelly Tobing. “... dan itu adalah masa-masa terbaik saya kira”.

C’Blues saat ini digawangi oleh Achmad “Mamad” Luther (Vocal/ Gitar), Jelly Tobing (Vocal/ Gitar), Nono (Bass), Bambang Tedjo (Trompet/ Vocal) dan Noengkie Sardjan (Drum). Kelimanya tengah mempersiapkan diri mereka untuk kembali meramaikan panggung JKL yang sedianya akan dihadirkan pada bulan Maret 2018. Kita akan kembali mendengar tembang hits C’Blues akan berkumandang kembali dari band aslinya. Usia boleh saja bertambah, namun semangat tetap tinggi. / Ibonk

 

Friday, 29 December 2017 15:14

The Minstrels

Band Rock Paling Lasak dari Medan

Pada masanya, The Minstrels adalah salah satu band rock terpanas di Medan, Sumatera Utara pada awal era 70an. Ketenaran band ini saat itu di dukung penuh oleh dana kuat dan fasilitas dari perusahaan yang berkecimpung di dunia promotor dan event organizer yang dipimpin Ny. Sjahniar Sjahbudin itu.

Pada tahun 19723, perkembangan band ini semakin mentereng saja. Menurut pengakuan Jelly Tobing, The Minstrels yang saat memang sdh ada, tapi belum bisa berbicara banyak di Medan. Sejak kehadiran Jelly Tobing dan Achmad “Mamad” Matius yang menuruti ajakan Fadil Usman untuk bergabung di band merubah keadaan.

Sejak The Minstrels digawangi oleh Fadil Usman, Jelly Tobing, Achmad “Mamad” Matius Christ Hutabarat, Iqbal Thahir Mustafa dan Adi “Sibolangit” Haryadi peta musik Medanpun berubah.

“Nah... sejak kami berdua datang pada tahun 1973, kami benar-benar latihan secara spartan. Tujuannya hanya satu, untuk menjadikan The Minstrels menjadi band papan atas. Dalam waktu tak lama, akhirnya kami bisa mengangkat band ini menjadi 3 besar band papan atas di Medan, bersanding bersama Great Season, Rhythm King, dan The Minstrels sendiri”, ungkap Jelly Tobing.

02 The Minstrels IstimewaThe Minstrels (Istimewa)

Band ini dengan sekejap mendapat perhatian dari publik Medan. Mereka manggung dari panggung ke panggung lewat aksi yang dinamis. Secara personil, mereka juga menampakkan kepiawaian yang cukup baik. Selain Jelly, Mamad dan Fadil ada personil lain yang kerap disebut-sebut memiliki talenta luar biasa.

Menduduki posisi sebagai bassis, Adi Haryadi adalah pria yang berasal dari kawasan Sibolangit, Sumatera Utara. Hingga akhirnya, panggilan Adi Sibolangit melekat pada lelaki ini. Kiprahnya cukup mendapat sorotan, terlebih lagi ketika Adi hijrah ke Bandung dan bergabung dengan band Giant Step yang dikomandani Benny Soebardja.

Prestasi lainnya yang sempat di kecap oleh band ini adalah terpilihnya Jelly Tobing sebagai drummer terbaik versi majalah Aktuil. “Saat itu majalah Aktuil tengah bikin polling musisi terbaik dan terpopuler di Indonesia. Banyak yang terpilih dan hampir semuanya adalah pemain top dari Jakarta, seperti Donny Gagola. Namun, syukurnya yang menjadi drummer terbaik adalah saya, justru saya terpilih dari Medan (The Minstrels),” kenang Jelly lagi.

Begitulah, band yang hanya sempat merilis satu album saja yaitu sebuah album pop pada label Remaco Jakarta, lewat album bertajuk The Minstrels. Band yang memiliki banyak penggemar ini tanpa dinyana akhirnya harus tutup buku pada tahun 1975. Semuanya dipicu oleh kepergian Mamad dan Jelly kembali ke Jakarta.

Jelly Tobing bergabung dengan Superkid bersama Deddy Stanzah dan Deddy Dorres. Sedangkan beberapa personil yang tertinggal seperti Fadil Usman, Iqbal Mustafa tetap berkarier di Medan./ Ibonk

03 The Minstrels IstimewaThe Minstrels (Istimewa)

 

Friday, 29 December 2017 15:06

C’Blues

Supergroup dari Bandung

C’Blues ternyata bukan band yang memainkan blues. C’Blues sendiri bermuasal dari bahasa sunda seblu yang berarti lecek atau kumal, lalu diplesetkan seolah berbahasa Inggris. Pada dasarnya, cikal bakal C’Blues berlangsung pada paruh dasawarsa 60-an di Bandung. Dibangun oleh Soleh Soegiarto dan Uthe Tahir, namun keduanya mundur dan bergabung dalam Rhapsodia di awal 70-an.

Selanjutnya, band ini di bawah komando Sakti Siahaan, dan telah berkali-kali bongkar pasang formasi. Syukurnya ketika memasuki formasi yang ke-6 di Jakarta sekitar tahun 1971 C’Blues mengalami perubahan nasib. Digawangi oleh Adjie Bandy (Vokal, Biola, Saxophone, Piano dan Vibraphone), Achmad “Mamad” Luther  (Keyboards), Idang (Drums, Vokal), Nono (Bass, Vokal) dan Bambang (Gitar, Vokal), nama C’Blues mulai di kenal khalayak luas.

Hal ini bisa jadi karena mereka baru saja merilis album perdana di Remaco dengan sebuah hits keroncong bertajuk ‘Aryati’. Sebenarnya album pertama C’Blues ini tidak direncanakan sama sekali, muncul secara tak sengaja karena mengamini ajakan Yoyok yang juga manajernya Rollies pada saat itu.  

Saat itu, C’Blues menggagas untuk lebih memaksimalkan unsur brass section dalam arransemen musiknya. Lebih banyak memainkan musik pop, namun terkadang secara tak terduga menyelusup pula elemen rock, misalnya pada lagu “Nenek Jang Tua”, riffing gitar rock mencuat disini.

Tak lama berselang, C’Blues lalu meluncurkan album kedua dengan sampul album yang mengingatkan kita pada gerakan psychedelic. Di album ini mencuat sebuah hit yang dinyanyikan Adjie Bandy bertajuk ‘Ikhlas’. Lagu ini juga menjadi tonggak ketenaran perjalanan musik C’Blues di blantika musik nusantara.

02 CBlues IstimewaC'Blues (Istimewa)

Secara garis besar, C’Blues sebagai band cukup bersinar. Tak hanya menjadi macan panggung, tapi mereka cukup jumawa dengan 2 Volume album rekaman yang menghantarkan beberapa hits abadi.

Kenyataan lain, di akhir tahun 1972, sebenarnya mereka telah memiliki materi untuk album ketiga. Sayangnya sebelum masuk ke ruang rekaman oleh pihak Ramaco, C’Blues diminta untuk mempersiapkan album full lagu keroncong. Permintaan ini muncul karena pihak label melihat kesuksesan lagu ‘Keroncong Harapan’ di album sebelumnya. Hampir seluruh personil menolak rencana album keroncong tersebut,  hingga akhirnya band ini mandeg melanjutkan rekaman.

Pada tahun 1973, perlahan C’Blues mulai mengalami masa-masa akhir era keemasan. Sempat berkibar, tatkala mereka diminta untuk menjadi band pembuka show dunia Bee Gees yang tampil di Surabaya. Tampil mengesankan lewat lagu-lagu hits mereka yang dipadu dengan lagu-lagu lain yang tengah hits.

Pada tahun ini juga Jelly Tobing yang sempat bergabung, hengkang ke Medan dan bergabung bersama Minstrels. Kehilangan 2 personil yang cukup memberi warna bagus dalam tubuh band, akhirnya membuat C’Blues vakum. Satu demi satu para personilnyapun mencari jalan masing-masing./ Ibonk

 

Tuesday, 26 December 2017 14:23

Jazz on the Bridge - Bangka

Festival Jazz Penutup Tahun

Bangka Belitung lewat panorama pantai yang dihiasi bebatuan granitnya yang indah, keramahan penduduk, dan sajian kuliner menjadi alasan wisatawan untuk bertandang ke daerah ini. Namun itu saja ternyata tidak cukup. Daerah dengan sebutan Negeri Serumpun Sebalai ini bertekad untuk menjadi titik tujuan wisata event. diantaranya ingin menjadikan Bangka Belitung salah satu kiblat pagelaran musik jazz berkelas dunia.

Menabalkan nama Jazz on the Bridge - Bangka (JoBB), event musik jazz dengan penampil para maestro jazz nasional, menjadi titik awal menuju cita-cita tersebut. Event ini akan berlangsung pada 29-30 Desember 2017 di Pantai Koala, kawasan Jembatan Emas, Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Di tahap awal penyelenggaraan, JOBB akan menghadirkan para maestro musik jazz papan atas tanah air. Menampilkan Idang Rasjidi Syndicates yang akan mengiringi para bintang tamu lainnya, diantaranya Fariz RM, Tompi, ataupun Mus Mujiono. Para bintang utama ini akan tampil di hari kedua, tanggal 30 Desember 2017, meneruskan kemeriahan hari pertama, panggung JOBB yang menghadirkan tujuh kelompok musik terseleksi dari lokal Bangka Belitung.

Sajian jazz unik dipastikan akan menyuguhkan tontonan menarik. Apa sebab? Karena menggabungkan antara suasana pantai dan pemandangan jembatan Emas yang menjadi latar belakang panggungnya. Semakin unik dengan terlihatnya lalu lintas kapal nelayan yang hilir mudik melewati bawah Jembatan Emas.

02 Idang Rasjidi Istimewa

Idang Rasjidi (Foto: Istimewa)

Nico Alpiandy selaku Ketua Panitia Pelaksana JoBB 2017, mengatakan untuk mengakomodasi keinginan penonton luar daerah yang ingin menonton jazz secara unik, panitia mengerahkan puluhan kapal nelayan yang akan melempar sauh di perairan. "Jadi, penonton bisa menyaksikan juga dari perahu-perahu nelayan. Nelayan juga menyediakan paket makanan yang bisa dinikmati penonton dari atas perahu mereka," kata Nico.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan menyambut antusias hadirnya JoBB 2017 ini. Terutama, event ini akan menjadi salah satu pendorong dan pemicu bagi Bangka Belitung untuk lebih terkenal. "Musik jazz ini adalah musik yang berkelas. Segmennya juga berbeda dengan musik-musik lainnya. Harapan kita dengan adanya event ini di Bangka Belitung, akan lebih menambah semarak dan menjadi salah satu strategi bagi kita untuk mengembangkan pariwisata Bangka Belitung ke depan," ujarnya.

Erzaldi juga berharap JoBB dapat berjalan lancar, sehingga cita-cita untuk menjadikannya sebagai agenda event reguler dan terus berkembang sebagai panggung jazz dunia, dapat tercapai. "Kita targetkan penampilan jazz di Bangka Belitung ini bisa kita laksanakan dalam satu tahun bisa dua kali," ujarnya.

Idang Rasjidi, yang juga seorang maestro jazz kelahiran Bangka, menyatakan dirinya sudah siap untuk turut memajukan pariwisata Bangka Belitung dengan musik jazz. “Cara memerdukan Bangka itu, memakai musik. Event JoBB tahun ini menjadi trigger dulu sebelum nantinya menjadi festival rutin, semacam Java Jazz Festival yang digelar tiap tahun,” tuturnya./ Ismed

Monday, 18 December 2017 17:42

Masqa

Topeng dan Album Perdana

Tampil beda atau malah nyentrik bisa saja dilakukan oleh setiap individu ataupun kelompok untuk mencuri perhatian. Apalagi di ranah industri musik, cukup terbilang nama-nama kelompok band/ musik yang menyembunyikan identitas mereka baik lewat topeng ataupun masker. Sebutlah supergroup rock dunia Kiss, atau yang lebih kekinian seperti Daft Punk, Marsmello, Slipknot, Deadmau5, ataupun dari dalam negeri seperti Kuburan dan lainnya.

Semuanya beramai-ramai menyembunyikan identitasnya, namun tidak dengan karyanya. Mereka terkenal moncer dan sebagian besar merupakan penampil yang memiliki banyak hits. Nah hal tersebutlah yang sedikit banyak menginspirasi sebuah pendatang baru yang beranggotakan 4 personil ini.

Band yang wajib mengenakan topeng ini, menyebut diri mereka dengan Masqa. Digawangi oleh Ebiet A. Prawira (Keyboard), Arluna (Vokal), Mimut (Vokal) dan Lukman (Drum). "Sesuai nama band, Masqa kami ambil dari kata Mask atau Topeng. Ini ibarat identitas dan fashion untuk keberadaan kami," ungkap Ebiet sekaligus pentolan band menjelaskan.

Dari segi jam terbang, sebenarnya band ini secara personil tidak bisa digolongkan sebagai pendatang baru. Masing-masing mereka memiliki latar belakang sebagai musisi yang sudah malang melintang di skena musik tanah air. “Tapi atas dasar kerahasiaan, kami tidak mau menbocorkan siapa kami di luar Masqa,” ungkap Luna menambahkan.

02 Mimut dan Luna Ibonk

Duo vokalis Masqa, Mimut & Arluna (Foto: Ibonk)

Grup yang terbentuk dari persamaan hobby ini, bermula dari Ebiet yang cukup gape bermain keyboard dan banyak menciptakan lagu-lagu bagus. Sayang jika tidak dipublikasikan, akhirnya ia menemukan anggota lainnya yang memiliki visi yang sam. Selanjutnya Masqa terbentuk pada awal tahun 2017.

NewsMusik yang ikut hadir pada pelepasan album perdana mereka pada Sabtu (16/12/2017) lalu dibilangan Blok M, Jakarta Selatan menangkap ritme 90-an di musik yang mereka usung. “Ini sebuah keuntungan,“ ungkap Oppie Andaresta yang ikut memberikan testimoni dalam peluncuran album ini. “Era digital saat ini, tanpa disadari kembali ke sound 90-an. Cukup familiar, apalagi bagi kita yang merasakan betul era tersebut,” tambah Oppie.

Menurut Ebiet lagi bahwa lagu-lagu yang terdapat dalam album “Persembahan Untuk Cinta” ini dibuat untuk membidik pasar dari beragam genre. Ada 7 buah single yang di kemas dalam balutan berbeda, untuk menjaring pendengar yang beragam.

Masqa menawarkan 3 lagu andalan yakni ‘Kenangan Abadi’, ‘Cewek I Love You’ dan ‘Asa’.  "Sejauh ini lagu ‘Asa’ kami anggap paling punya tingkat kesulitan, karena progressi chord-nya sedikit rumit dengan perpindahan mayor ke minor. Sedangkan pada lagu ‘Cewek, I Love You’ kami pilih sebagai wakil dari musik yang ringan,” sebutnya lagi

Tak jauh berbeda dengan Oppie Andaresta, Posan Tobing yang hadir juga memberikan testimoni menyebutkan bahwa dirinya sangat mendukung kehadiran Masqa di kancah musik nasional. Ia malah tanpa sungkan menyebutkan lagu ‘Cewek, I Love You’ sebagai single pilihannya.

03 Oppie Andaresta Posan Tobing diantara personil Masqa Ibonk

Oppie Andaresta & Posan Tobing diantara personil Masqa (Foto: Ibonk)

"Saya siap membantu distribusi digital Masqa. Menurut saya materi albumnya cukup beragam membidik segmen musik. Dalam waktu dekat saya akan mempromosikan Masqa ke Malaysia, negara penyerap pasar lagu-lagu pop karya musisi Indonesia," ungkap Posan Tobing pemilik bendera Aksen Record sebagai payung besar untuk band tersebut.

Mendapat dukungan dan nada optimis dari para seniornya di industri musik tanah air, keempat personil Masqa tersebut  semakin optimis untuk segera berkiprah. Tercatat, dalam beberapa minggu kedepan ini mereka akan disibukkan untuk mengadakan perjalanan promo album di beberapa kota besar di tanah air. Tahun 2018, sudah dipastikan mereka akan bertandang ke Malaysia dan kota-kota lainnya di luar Jawa.

Begitulah, kita tunggu saja kiprah keempatnya yang sudah berkomitmen untuk terus berkreasi dan tetap memakai topeng. “Supaya orang hanya mengenal kita dari musik, bukan penampilan saja. Kita tidak ingin terkenal secara pribadi, tapi kita ingin dikenal sebagai Masqa”, ungkap Ebiet yang diamini oleh ketiga personil lainnya.

Ok, bagi yang penasaran silakan cermati satu persatu foto yang ada, kira-kira ketebak nggak siapa mereka??/ Ibonk

Tuesday, 19 December 2017 14:33

Amelia Ong

Jazz dan Lagu untuk Ibunda

Dipenghujung tahun 2015 silam, dengan langkah tegap seorang Amelia Ong akhirnya mengikuti keinginan terbesarnya untuk mengisi skena musik jazz tanah air. Lewat album yang sama dengan namanya musisi jazz muda tersebut pede menceburkan dirinya dengan mengusung jazz sebagai sebuah benang merah karya-karya yang disuguhkannya.

Seperti informasi yang kerap dijumpai, bahwa padusi bernama asli R. Rr. Amelia Tri Wardani lahir di Purwekerto. Tumbuh besar dari keluarga pencinta musik. Kecintaan keluarga terhadap musik menjadi pemicu dirinya menyukai jazz, dan ayahnya pula pertama kali mengajarkannya bermain saxophone. Sedangkan guru piano di rumah adalah kakaknya sendiri. Semua dilakukannya pada usia 4 tahun., maka tak heran di usia dini Amel kecil sudah sering tampil di panggung-panggung lokal di kotanya.

Usia 11 tahun, Amelia pindah ke Jakarta dan tinggal bersama Bertha, penyanyi dan guru vokal. Selain menimba banyak ilmu olah vokal diakui oleh Amelia kalau sosok Bertha ini lebih mengarahkannya untuk tetap di jalur jazz. Selain guru, Bertha juga memperkenalkan Amelia dengan musisi-musisi jazz kenamaan seperti Idang Rasjidi dan Yance Manusama. Perkenalan itu membawa Amelia kepada kesempatan untuk tampil bersama musisi jazz di Jakarta pada beberapa festival jazz bergengsi antara lain Jazz Goes to Campus (JGTC) 2003 dan Java Jazz Festival pada tahun 2003 dan 2004.

Tahun 2006, Amelia pindah ke Perth, Australia dan menamatkan pendidikan SMA-nya disana. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Western Australian Academy of Performing Arts (WAAPA) dan menamatkan pendidikannya pada level Bachelor of Music, mayor pada Jazz Performance, pada tahun 2009. Direntang periode 2007 – 2009, selain kuliah, Amel juga tergabung dengan kelompok orkestra West Australian Youth Jazz Orchestra (WAYJO).

02 Amelia Ong Ibonk

Amelia Ong (Foto: Ibonk)

Bermukim selama 8 tahun di Australia, penyuka warna hijau ini telah ia membangun karir musik disana, tampil pada berbagai penampilan bersama musisi jazz Australia seperti Joe Chindamo, Daryl Somers, James Morrison, termasuk tampil pada festival jazz di negeri kangguru ini seperti Wangaratta Jazz Festival pada tahun 2009.

Ditemui oleh NewsMusik pada saat pelepasan single terbarunya ‘Ibu’ akhir pekan silam di sebuah café dibilangan Jakarta Selatan, Amelia membuka cerita “Saya kembali ke tanah air karena melihat perkembangan musik jazz disini begitu pesat. Saya punya banyak stock lagu hasil ciptaan sendiri. Semuanya memiliki benang merah yang kuat terhadap musik jazz. Karena jazz adalah jiwa saya”, ungkapnya.

“Namun saat ini penyajiannya sedikit berbeda, tidak seperti ketika melepas album perdana. Album tersebut purely jazz, dan melibatkan beberapa musisi jazz tanah air, seperti Sri Hanuraga – keyboards, Kevin Yosua – akustik bass, Rafi – drums dan Dennis Juno – tenor sax. Untuk saat ini disajikan lebih light dan berwujud single. Hasil kerjasama saya dengan Andre Dinuth. Lagunya sendiri bernuansa folk country, tapi tanpa menghilangkan karakter dan warna vokal saya. Masih tetap ada jazz nya tentu”, terangnya

Lagu ini menceritakan tentang kasih ibu dan janji seorang anak atas cinta yang telah diberikan oleh sang ibu. Paduan vokal merdu Amelia dengan petikan gitar Andre Dinuth membuat lagu ini penuh warna. Apalagi ditambah dengan alunan alat musik flute dan accordion.

Proses pembuatan lagunya terbilang cukup singkat, hanya sekitar 10 menit. “Lagu ini terinspirasi dari ibu saya, dimana seorang ibu cintanya teramat besar sampai dia rela mencurahkan cinta terbesarnya untuk anaknya. Lagu yang juga saya persembahkan untuk ibu dimanapun berada,” tambahnya.

03 Amelia Ong diantara Moses dan Glenn Fredly dari Bumi Entertainment Ibonk

Amelia Ong diantara Moses dan Glenn Fredly dari Bumi Entertainment (Foto: Ibonk)

Pendapat sejenis juga disampaikan oleh Glenn Fredly selaku perwakilan dari Bumi Entertainment yang menaungi Amelia saat ini. Glenn mengatakan bahwa Amelia Ong adalah seorang yang sangat berbakat. Karakter yang kuat, kualitas dan pilihan musiknya adalah sebuah paduan yang tepat. “Apalagi jazz, menurut saya jazz itu bukan genre dalam musik, tapi lebih dari itu. Sehingga jazz bisa dimasukkan ke jenis musik apapun, seperti yang dilakukan Amel dalam single ini,” ujar Glenn.

Perjalanan karir Amelia Ong sebagai musisi jazz telah dibuktikannya  dengan masuk nominasi AMI Award untuk Album Jazz Terbaik dan Nominasi AMI Award untuk kategori Artis Jazz Vokal Terbaik. Bahkan di tahun 2017 lalu ia berhasil mendapatkan penghargaan AMI Award untuk Karya Produksi Lagu Berlirik Spriritual Nasrani Terbaik, sebuah katagori yang baru diadakan pada tahun ini.

Kini, selain bermusik, setahun belakangan ini ia tengah mendalami seni bela diri campuran Mix Martial Arts (MMA). “Ini tak sekedar beladiri saja, tapi juga menjadikan saya lebih bugar dan bagus untuk pernafasan. Cuma porsinya sedikit dikurangi kalau misalnya saya harus tampil. Namanya juga beladiri dan ada fight-nya. Takut kalau tiba-tiba ada lebam dan terlihat”, ujarnya sambil tertawa./ Ibonk

Tuesday, 12 December 2017 10:56

Go Ahead Challenge

Munculkan Penggiat Seni Berbakat

Go Ahead Challenge 2017 kembali hadir tahun ini untuk memilih insan kreatif di ranah seni visual dan musik. Dari 16.315 orang yang mendaftar ke kompetisi sejak Februari 2017, Go Ahead Challenge (GAC) telah menetapkan 12 finalis pilihan untuk bersaing menjadi pemenang. Kesemuanya  berhasil terseleksi dari empat kota yakni Samarinda, Yogyakarta, Bandung, dan Lampung.

Sore hari sebelum diumumkannya pemenang GAC ini, NewsMusik sempat berbincang hangat dengan Saleh ‘Ale’ Husein, musisi maupun visual artist yang juga merupakan finalis GAC 2013 menyampaikan, “Ini semua berkat dukungan dari Sampoerna A, GAC Artwarding Night kali ini menjadi lebih menantang untuk para finalis yang bersaing,” ungkap Ale.

Ditambahkannya lagi bahwa para finalis dipacu untuk dapat mengeksplorasi perkembangan karya mereka dengan beragam medium untuk dapat dipresentasikan secara visual. Karya tersebut harus berfokus pada diri dan ide mereka sendiri.

“Yang melegakan lainnya adalah tidak terdapat gap antara karya anak Jakarta ataupun di daerah. Semuanya sama, memunculkan ide yang setara. Kami hanya tinggal memberikan masukan dan memaksa mereka untuk lebih bisa keluar dari keterbatasan ide,” ungkap salah satu personil The Adams tersebut di venue acara di Gudang Sarinah Ekosistem (GSE), Jakarta Selatan 10/12/17.

02 Saleh Ale Husein musisi dan visual artist Ibonk

Saleh ‘Ale’ Husein, musisi dan visual artist (Foto: Ibonk)

 

Usaha yang dilakukan untuk menginspirasi para emerging artist maupun pengunjung yang hadir di GAC Artwarding Night tersebut.  Sengaja di dalam A Space di pajang ragam karya tidak hanya seni visual namun juga seni fotografi, style, dan musik. Ragam karya yang bertemakan “Major Scale”, mengambil salah satu istilah dalam seni musik, merupakan karya dari Ade Darmawan, Anton Ismael, Ajeng Svastiari, dan Iga Massardi.

Para alumni GAC terdahulu juga turut dilibatkan seperti Rony Rahardian ‘Rebellionik’, finalis GAC 2014 bidang visual art menghadirkan “Interactive Space”, ruang untuk para pengunjung mengekspresikan ide atau semangat mereka menikmati GAC Artwarding Night. Lalu Yogi Kusuma, pemenang GAC 2015 bidang fotografi, mengisi ruang arsip di dalam A Space dengan dokumentasi perjalanan GAC mulai tahun 2013 hingga 2016.
 
Pada malam penganugerahan, pengunjung selain disuguhkan pameran karya seni dari 12 finalis, juga dimanjakan dengan tampilan seperti Nick, Makmur Sejahtera, Yuka Tamada, Sisitipsi, The Adams dan Stars and Rabbit. Lepas itu Ade Darmawan selaku juri akhirnya menyampaikan 4 pemenang terpilih dari kategori musik dan visual art.

03 Sisitipsi Ibonk

Sisitipsi (Foto: Ibonk)

Terpilih empat nama sebagai pemenang GAC tahun 2017 ini antara lain: Gilang Anom Manapu Manik asal Bandung di bidang Visual Art, Vania Marisca Wibisono asal Malang di bidang Musik, Yahya Dwi Kurniawan asal Yogyakarta dalam bidang Visual Art, dan Riri Ferdiansyah asal Jambi di bidang Musik.

"Keempat emerging artist yang terpilih benar-benar suara dari industri kreatif kita. Tahun ini yang mengirim pendaftaran mediumnya semakin kreatif. Kedepannya, saya cuma berharap di luar ini mereka bisa bikin showcasing yang nantinya jadi pengalaman penting. Dan mereka akan terus berlatih dan berkreasi," pungkasnya," ungkap Ade Darmawan menunjukkan harapannya./ Ibonk

Friday, 15 December 2017 22:51

Calvin Dores

Tidak Mau Mendompleng Nama Besar Ayah

Jalan kehidupan memang penuh misteri, ada kalanya kita diuji dengan kesenangan ada kalanya kita diberikan kesusahan. Hal inilah yang dialami oleh anak dari mendiang musisi legendaries Deddy Dores, Calvin Dores.  Siapa yang tak kenal Deddy Dores, yang semasa hidupnya dikenal luas sebagai musisi dan pencipta lagu. Kepopulerannya bukan hanya di tanah air saja namun namanya juga cukup populer di luar negeri.   

Sebetulnya mudah saja bagi seorang Calvin Dores untuk meneruskan jejak sang ayah sebagai musisi. Namun sebagai anak yang dilahirkan dari isteri ketiga Deddy Dores, Dagmar yang juga penyanyi Twin Sisters era 80an berdarah Jerman dan Rusia, Calvin yang sejak kecil diajarkan kemandirian oleh ayahnya tidak pernah memanfaatkan nama besar ayahnya.

Pria yang berusia genap 26 tahun ini menuturkan sebagai anak yang paling dekat dengan sang ayah, dirinya tidak pernah memanfaatkan keadaan hal tersebut. “Papa selalu yakin kalau suatu saat nanti saya akan jadi musisi juga. Tapi saya tidak pernah menyodorkan, minta tolong papa, tidak mau saya. Saya pikir kalau gitu saya orangnya maksa dong. Ini takdir yang dibuat-buat,” ujar Calvin ditemui Senin (11/12) di studio bilangan Jakarta Selatan.

Begitulah Calvin dalam memaknai kehidupannya sebagai seorang anak musisi. Calvin yang merupakan sosok sederhana, rendah hati dan simple dalam menjalani hidupnya tidak pernah menggunakan nama ayahnya untuk memuluskan karirnya sebagai musisi. Bahkan sepeninggal ayahnya, Calvin yang tidak tertarik dengan pendidikan akademis sempat menjalani hidup susah.

Pribadinya yang tidak pernah ingin menyusahkan orang lain membawanya menjadi pekerja serabutan, bahkan menjadi kuli dan driver ojek online pun pernah ia lakoni. Calvin yang merasa karir bermusiknya mentok sepeninggal ayahnya memilih pekerjaan tersebut untuk bertahan hidup. Kalau dipikir mustahil bagi seorang anak Deddy Dores yang kita ketahui memiliki banyak kekayaan bukan hanya dari penghasilannya sebagai musisi tetapi juga semasa hidupnya mendiang memiliki sejumlah bisnis yang dijalaninya.

02 Calvin Dores

Calvin Dores (Foto: Istimewa)

“Saya sadar roda kehidupan pasti berputar, jadi seorang pekerja kasar, kuli, bukanlah aib bagi saya karena itu merupakan pekerjaan yang halal. Saya memilih pekerjaan tersebut karena memang pada saat itu saya benar-benar butuh uang. Bukan hanya nguli saja, bahkan cuci steam motor juga sudah pernah saya jalani. Jadi driver ojek online pun pernah, bahkan sampai sekarang accountnya masih aktif. Saya nggak pernah malu melakukan itu,” tutur Calvin.

Calvin yang belajar bermusik secara otodidak ini, sejak SMP mulai tertarik untuk menyanyi dan bermain musik. Namun tidak seperti kebanyakan anak musisi lainnya, Calvin belajar musik justru dari seorang pengamen jalanan. Menurutnya sebagai vokalis selain belajar mandiri, ia juga harus belajar mempelajari keadaan dan juga ingin berinteraksi dengan audiens secara langsung.

“Lucu,  waktu itu saya ngamen di metro mini 609. Papa masih ada, teman-teman saya heran saya pengamen tapi bawa gitar bagus,” kata Calvin sambil tertawa.

Kini sepeninggal papanya sejak 18 Mei 2016, Calvin mencoba bangkit dengan mencoba terjun kembali ke dunia musik tanah air. Calvin yang pernah membentuk sebuah band yang bernama The Time dan pernah mengeluarkan album di tahun 2009 yang bertajuk ‘Aku Sayang Kamu’ ciptaan Charlie ST 12 di bawah label musik Universal Musik Studio.

Nasib baik mempertemukannya dengan manajemen dari artis Anggia Chan. Dari pertemuan tersebut membawa anak Deddy Dores ini bertemu dengan petinggi LeMoesik Revole, Ci Sunny Lee yang tak lain adalah kawan dekat ayahnya.
 
Lagu mereka yang bertajuk ‘Jalan di Tempat’ adalah ciptaan Ade “Govinda” dan diproduseri oleh Sunny Lee dari label Lemoesik Revole yang juga menaungi Maia Estianti. Lagu ini menceritakan hubungan pasangan kekasih yang jalan ditempat, going nowhere. Tidak ada kemajuan dan makin tak menarik.

Dikelola lewat corak musik pop alternative, lirik cintanya terbilang universal dan mampu menyentuh permasalahan cinta anak muda yang pastinya punya permasalahan yang sama. “Ini merupakan kesempatan buat saya untuk membuktikan bahwa sebenarnya saya gak mau dibilang mendompleng nama besar papa saya. Karena biar bagaimanapun itu papa saya,  nggak bisa dihindari dan ini bukan menjadikan saya beban tetapi motivasi. Syukur-syukur bisa lebih dari papa. Wallahualam, saya nggak pernah berharap terlalu tinggi yang penting saya melakukannya dengan benar,” ujar Calvin.

Lewat karakter vokal yang kuat bersama dengan Anggia Chan, Calvin merasa optimis dirinya mampu untuk terjun ke industri musik saat ini. Ia berusaha semaksimal mungkin mewujudkan cita-cita sang ayah untuk menjadi musisi.

03 Calvin Dores Anggia Chan

Bersama Anggia Chan mereka meluncurkan single berjudul 'Jalan di Tempat' (Foto: Istimewa)

Dilain hal, Calvin menganggap langkah yang dilakukannya saat ini belumlah cukup untuk membuat ayahnya bangga. Apalagi jika dibandingkan dengan posisi mendiang ayahnya yang sangat melegenda. Sebagai pendatang baru yang mulai terjun kembali ke dunia musik, dirinya belum bisa disejajarkan dengan nama papanya dan tidak bisa juga menggantikan sang papa.

“Papa itu legenda,  semua alat musik papa bisa mainkan. Makanya, kalau saya bisa lebih dari papa kayaknya nggak mungkin. Saya bangga punya seorang papa musisi besar, dia nggak pernah marah, boro-boro main tangan, ngomong kasar aja nggak pernah ke saya. Dan jujur saya menciptakan 4 buah lagu semuanya tentang papa.

Bisa jadi bakat saya ini dari papa. Ia tidak  memberikan warisan harta ke saya, tapi ilmu dan kelebihan papa yang menitis ke saya dan itu yang paling berharga buat saya, lebih mahal dari harta apapun,” papar Calvin.

Mengalami titik terendah dalam hidupnya karena meninggalnya sang ayah, tidak membuat musisi muda yang menyukai musik jazz, R&B ini putus asa. Mendekatkan diri ke arah yang positif dan kepada orang-orang terdekat yang mensupportnya, Calvin benar-benar menjadi pribadi yang mandiri tanpa malu untuk mengerjakan pekerjaan apapun.

“Pasti orang kaget mengenal hal ini tetapi saya memang dari dulu apa adanya. Terserah orang mau bilang apa, tapi inilah saya. Papa saya memang seorang legenda dalam dunia musik tetapi itu bukan saya. Papa ya papa bukan saya dan saya tidak pernah kecil hati,” ujarnya.

Ke depannya ia ingin menjadi musisi dan pencipta lagu kurang lebih seperti almarhum papanya, dan juga keinginannya untuk membuat solo album. Keberuntungan lainnya, Calvin telah ditawari untuk memerankan sang ayah dalam film Nike Ardilla yang direncanakan rilis pada 2018 mendatang./ Nad

Thursday, 14 December 2017 22:45

OM Pengantar Minum Racun

Menatap Segar Lewat Manajemen Modern

Siapa yang tak kenal kumpulan pemusik satu ini, Orkes Moral Pengantar Minum Racun yang sudah berdiri sejak tahun 1977 silam. Siapa sangka orkes humor yang diisi oleh Jhonny Iskandar (Johnny Madu Mati Kutu), Boedi Padukone, Yuri Mahippal, Imma Maranaan, Ajie Cetti Bahadur Syah, dan Harri Muke Kapur masih terus tetap eksis sampai saat ini.

Orkes yang menolak tua tersebut, dipenghujung tahun 2017 ini mengadakan syukuran 40 tahun eksistensi mereka di dunia hiburan tanah air, tepatnya pada  28 Oktober 2017 silam. Walaupun tidak muda lagi, OM PMR memiliki niat untuk kembali berkarya di tahun depan dengan mengeluarkan beberapa single dan mengisi tournya di beberapa kota. Terlebih lagi mereka mengusung tema kampanye anti hoak dan lingkungan hidup.

Disamping itu, selain memang mengabarkan keinginan mereka untuk kembali berkarya secara serius, OM PMR juga mengabarkan bahwa mereka sudah beralih manajemen. Apa pasal? Diakui oleh Johhny Iskandar bahwa selama 4 tahun belakangan mereka hampir dipastikan tidak dikelola dengan baik. Baik dalam hal pengaturan acara maupun keuangan yang tidak transparan.

Awalnya mereka tidak memikirkan hal tersebut, apalagi kalau ditilik lagi kebelakang, background mereka yang murni musisi/ seniman. Masih berkesempatan menghibur dan berkarya saja sudah menjadi obat mujarab untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun belakangan kisruh tersebut makin menjadi, dan memicu mereka hengkang mencari manajemen lain.

02 Johnny Madu Mati Kutu Ibonk

Jhonny Iskandar alias Johnny Madu Mati Kutu (Foto: Ibonk)

Akhirnya, seperti jodoh, OM PMR berlabuh ke dalam sebuah manajemen asuhan Glenn Fredly. "Kami hanya ingin lebih baik lagi ke depannya dan juga mencari suasana baru, " ungkap Boedi Padukoene di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Kamis (14/12).

Glenn sendiri tertarik untuk mengambil alih manajemen mereka karena menganggap bahwa PMR masih sangat berpotensi. Di usianya saat ini orkes ini masih mampu berkarya dan lagu-lagunya  masih mampu memikat hati anak muda zaman sekarang. Bolehlah diperhatikan, tak ada gigs mereka yang pernah sepi. Selalu ramai dipadati oleh anak-anak generasi sekarang dari berbagai macam genre, dari melayu, dangdut sampai anak rock semua berkumpul.

Lagu-lagu humor mereka seakan tak termakan oleh zaman. Semua cukup hapal single-single mereka seperti ‘Judul-judulan’, ‘Bintangku Bintangmu’, ataupun ‘Antara Cinta dan Dusta’ dan lain-lain. Belum lagi lagu-lagu terbaru ketika mereka kembali lagi setelah berhibernasi cukup lama dengan meng-cover lagu ‘Posesif’ milik Naif, ‘Topan’ dan selanjutnya lagu milik Kunto Aji ‘Terlalu Lama Sendiri’ yang diganti judul ‘Too Long To Be Alone’.
 
"Saya ingin membantu mereka dalam hal manajemennya yang dikemas secara modern dan terbuka dari sisi finance sehingga dapat terkelola dengan baik," papar Glenn. Sejumlah rencana sudah disiapkan Glenn untuk OM PMR. Mulai dari album, tur hingga buku tentang perjalanan OM PMR. / Ibonk

Sunday, 10 December 2017 22:31

Imaculata Autism Boarding School

Pentas Seni dan Pertunjukan Musik Anak Berkebutuhan Khusus

Imaculata Autism Boarding School bekerjasama dengan Tata Production menggelar acara Seminar, Pentas Seni dan Teater Kisah Nyata Keluarga Penyandang Autis dengan tema "Kirim Aku Malaikat-Mu Tuhan...". Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk mendidik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) supaya hidup mandiri di masa depan sesuai dengan kelebihan yang di milikinya dan mengajak para pendidik dan orang tua untuk menterapkan program tepat guna dan tepat sasaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Pentas seni yang diadakan di Aruba Room, The Kasablanka - Mall Kota Kasablanka ini di selenggarakan hari Sabtu (9/12) lalu. Acara ini dimeriahkan oleh penampilan musik kolaborasi antara orang tua dan murid, tarian, theatrikal dan fashion show yang pesertanya adalah anak-anak berkebutuhan khusus. “Melalui pentas seni ini kami akan ‘tular’ kan pola didik yang bisa di adopsi oleh semua keluarga yang di anugerahi anak berkebutuhan khusus,” ujar Pimpinan Imaculata Autism Boarding School Dr. Imaculata Umiyati, S.Pd, M.Si.

Stigma negatif yang berkembang di masyarakat mengenai anak autis tidak sepenuhnya benar. Dr. Imaculata yang akrab dipanggil dengan bunda Ima ini mengatakan bahwa dengan pola pendidikan yang benar dan orang tua mengerti apa yang dibutuhkannya, anak berkebutuhan khusus ini mempunyai kemampuan yang tak kalah dengan anak lainnya.

Ini dibuktikan dengan adanya acara ini membuka mata kita semua bahwa sebenarnya mereka mampu mengerjakan apa yang bisa dikerjakan anak normal lainnya. Seperti kemunculan Senior Band Imaculata yang digawangi oleh anak penyandang autis, Adhit (Gitar), Alan (Drum), Mario (Keyboard) dan Ozzy (Vokalis), mereka membawakan tiga buah lagu yang dibawakan dengan cukup baik.

02 Pentas Seni

Penampilan dalam acara Pentas Seni dan Pertunjukan Musik Anak Berkebutuhan Khusus (Foto: Nad)

Lagu pertama ‘Bangun Pemudi Pemuda’, ‘Oh Tak Mungkin’, dan ‘Hidup Adalah Kesempatan’ (Kolaborasi antara Senior Band dan para orang tua murid) disambut dengan tepukan tangan penonton yang ikut bernyanyi bersama-sama.

Selain pentas seni acara ini juga diadakan pemberian penghargaan kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, DIP. APLING, MA., atas dedikasi serta perhatiannya terhadap Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Penghargaan juga diberikan kepada Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, atas dedikasi serta kepeduliannya terhadap anak-anak.

Selain kepada mereka, penghargaan juga diberikan kepada aktris senior Christine Hakim sebagai pemerhati anak-anak berkebutuhan khusus serta kepada Sarwendah, artis yang juga mantan personel Cherrybelle. Istri Ruben Onsu itu dianugerahi penghargaan sebagai sosok Ibu Sejati./ Nad

Page 2 of 127