RUSH

Nostalgia F-1 tahun 1970-an

Pada era 1970-an, balapan jet darat, Formula-One (F-1) mulai mencuri perhatian. Di saat itulah muncul beberapa pembalap fenomenal. Di antaranya ada Jody Scheckter, Jackie Icxs, Emerson Fittipaldi, Clay Regazzoni, Carlos Reutemann sampai Mario Andretti. Tapi adalah 2 nama yang paling unggul, baik dalam prestasi maupun sensasi, James Hunt (Inggris) dan Niki Lauda (Austria).

Rivalitas keduanya berpuncak pada tahun 1976. Lauda, adalah juara bertahan musim kompetisi jet darat itu, ia juara pada musim 1975. James Hunt adalah rival paling serius Lauda. Memang rivalitas keduanya, sama-sama fenomenal persis sosok kedua pembalap itu sendiri.

Sutradara beken, Ron Howard. Dengan penulis, Peter Morgan. Ini nama-nama “jaminan mutu”, seperti Howard adalah peraih Oscar lewat film A Beautiful Mind dan Frost/Nixon. Morgan adalah nominator Oscar lewat Frost/Nixon dan The Queen. Keduanya lalu “menangkap” dan “merangkum” rivalitas fenomenal kedua superracer di atas itu ke dalam film, Rush.

rush

Dalam Rush ini, memang digambarkan betapa serunya rivalitas keduanya. Lauda, ditampilkan sosok yang extra-disiplin dalam karir pembalapnya. Seorang pembalap yang juga paham akan konstruksi mobil balap, bahkan hingga mesin. Hunt, ditampilkan sebagai seorang pembalap yang badboy, playboy kelas tinggi.

Walau slengean, Hunt juga ternyata keras hatinya, dalam mengejar posisi sebagai pembalap nomer wahid. Yang tak terkalahkan, apalagi kalah oleh seorang Niki Lauda. Lauda sendiri adalah pembalap yang lebih teliti dan cermat, terbiasa mempersiapkan segala sesuatunya dengan “sempurna” jelang turun balapan.

Lauda ditampilkan pembalap, yang terbiasa peduli banget dengan kesiapan mesin, sampai tubuhnya atau staminanya. Ia misalnya, selalu mengingatkan Hunt, tidur cukuplah supaya bisa berkonsentrasi pada balapan. Karena Hunt terbiasa, asyik pesta pora, mabuk-mabukkan, selain main perempuan. So, Hunt adalah party animal. Lauda, people who goes sleep early!

Buat Lauda, seorang pembalap itu 20% hidupnya adalah kepasrahan untuk kematian. Karena resiko tinggi, dalam menunggangi “kuda pacu” ekstra cepatnya bernama F-1 itu. Hunt, lebih terlihat emosional dalam mengejar ambisinya. Terlihat, tanpa perhitungan. Nafsunya kelewat besar sebenarnya.

Film mengenai kecepatan ini memang disuguhkan, dengan menonjolkan bagaimana serunya intrik-intrik di balik “pergelaran” balap F-1. Dimulai dari awal rivalitas Lauda dan Hunt lewat balap Formula-3. Dalam waktu cepat, tiba-tiba Lauda bisa menembus arena paling bergengsi, F-1. Ia bahkan berhasil terpilih menjadi pembalap utama dari tim paling bergengsi, Ferrari.

rush

Sementara Hunt, juga langsung bertekad harus mampu menembus F-1. Setelah berjuang sekian waktu, iapun akhirnya menjadi pembalap utama tim rival abadi Ferrari, Mc Laren. Ia meyakinkan para petinggi Mc Laren, hanya dirinyalah yang akan mampu mengatasi Ferrari dengan Niki Lauda-nya!

Cutting editing cepat, menggambarkan dokumenter balapan F-1 dari satu sirkuit ke sirkuit lainnya, menyelip beberapa kali. Menambah kesan, “kecepatan” yang ditampilkan oleh sisi cerita film ini. Setting 1975-1976, digambarkan secara cukup pas. Terutama lihat pada kostum, kendaraan-kendaraan yang dipakai (BMW, Morris sampai Peugeot) dan tentu saja pada lantunan soundtracknya.

Pada sisi soundtrack, bisa didengar banyak karya Hanz Simmer, selain ‘Dyna-Mite’ oleh Mud, ‘The Rocker’ salah satu lagu hits dari Thin Lizzy selain ‘Fame’ dari David Bowie.

Suasana pitstop F-1 merangkai cerita film ini, dengan titik fokus memang pada Niki Lauda, yang diperankan apik oleh Daniel Bruhl (dikenal lewat Inglorious Bastards, The Bourne Ultimatum). Bersama James Hunt, yang diperankan tak kalah apik dan pas oleh Chris Hemsworth (The Avengers dan Thor). Didukung pula oleh, Olivia Wilde yang memerankan Suzy Miller, istri Hunt. Serta Alexandra Maria Lara yang menjadi Marlene Lauda, istri dari Niki Lauda.

rush

Masuk pula scene dramatis, ketika crash dialami Niki Lauda pada Grand Prix Jerman di sirkuit Nurburgring. Ferrari-nya lepas kontrol karena ada crack pada suspensinya. Ia terjebak di cockpit tunggangannya, walau berhasil diselamatkan. Namun ia mengalami cedera serius karena terbakar. Ia terbakar serius terutama di muka, kepala dan dadanya. Membuat ia harus dirawat intensif di Rumah Sakit. Tapi dalam waktu relatif cepat, hanya 6 minggu, ia telah kembali membalap.

Ia tampil heroik melahap areal sirkuit Monza dalam Grand Prix Italia, dan menduduki peringkat ke-4. Hunt sendiri mundur karena masalah pada mesin mobilnya. Film ini berakhir di sirkuit terakhir musim Grand Prix F-1 1976, Grand Prix Jepang. Hunt berlomba dengan penuh nafus, karena hanya tertinggal 3 point di belakang Lauda, untuk menjadi Juara Dunia. Sirkuit sangat basah dan beresiko tinggi. Lauda, mengundurkan diri karena dianggapnya cuaca tak memungkinkan.

Hunt memang lantas menjadi juara dunia kali itu. Dan film ditutup ketika kedua “seteru” bertemu di suatu hangar pesawat. Bagaimana mereka berdua bersaing, namun ternyata di balik persaingan itu, mereka saling melecut satu sama lain, memberikan motivasi dan semangat ekstra. Ini mungkin, “sisi positif” dari rivalitas sangat rapat begitu. Di balik “permusuhan” ternyata ada juga hal baik / dionM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found