Lone Survivor

Taliban, NAVY Seal dan Darah

Inilah gambaran cukup lengkap dari pasukan khusus NAVY Seal, dari angkatan laut Amerika Serikat itu. SEAL, singkatan dari, Sea, Air and Land. Sebuah pasukan khusus andalan. Bagaimana para prajurit melakukan pelatihan komando, menjadi hidangan bagi mata penonton di awal film ini.

Berikutnya, masuk ke penugasan misi khusus. Digambarkan cukup detil mengenai tahapan yang harus dilalui para prajurit yang menjalani misi ini. Misi ini sendiri bertujuan menangkap atau menghabisi Achmad Shah, pemimpin Taliban. Operasi khusus ini diberi nama Operation Red Wings, dan didukung 4 orang prajurit.


Tim kecil ini terdiri dari Marcus Lattrel (Mark Wahlberg, yang juga bertindak sebagai co-producer), Michael “Murph” Murphy (Taylor Kitsch), Danny Dietz (Emile Hirsch) dan Matthew “Axe” Axelson (Ben Foster). Didukung oleh Letnan Kepala, Erick Kristensen (diperankan aktor Eric Bana).

Lone-Survivor-ss-33b

Lone-Survivor-ss-33bDan berikutnya, film menyajikan bagaimana keempat prajurit ini berjuang untuk dapat memenuhi target misi. Sebuah perjuangan yang luar biasa berat. Tak hanya bagaimana mengatasi serangan dari segala penjuru, dari ratusan prajurit Taliban. Tapi juga medan peperangan berbukit dan berbatu, di kawasan Afghanistan tersebut. Keempat prajurit dikepung dari segala penjuru. Makin berat karena, saluran komunikasi terputus dengan markas komando! Lengkap sudah!


Sebelum itu, keempat prajurit menangkap 3 orang gembala kambing Taliban. Dari seorang diantaranya, mereka sempat mengambil sebuah alat komunikasi. Ini merupakan salah satu part yang menarik dari film ini. Bagaimana mereka berempat bersilang pendapat menyangkut nasib ktiga gembala. Terus diikat, dilepaskan atau dibunuh saja.


Pertimbangan mengenai hal itu, menyangkut masalah hak asasi. Brutalisme. Dan sampai pada coverage media massa seluruh dunia terhadap mereka dan US Navy segala. Diingatkan bahwa, melepas mereka akan sangat berpotensi mereka mengabarkan pasukan Taliban tersebut. Alhasil, disepakati untuk melepas mereka, dan memang berikutnya persis seperti yang dikawatirkan.

lone-survivor-screen

Achmad Shah diburu karena seminggu sebelum operasi tersebut dilaksanakan, telah membantai 20 orang marinir Amerika Serikat. Mereka dihabisi secara keji. Antara lain dengan dipancung di muka umum. Maka misi operasi memang seperti membalas dendam. Tapi tidak frontal dan “membabi buta”. Tim kecil dengan para prajurit tangguhlah yang mendapat tugas tersebut.


Film ini dibesut oleh sutradara Peter Berg, yang dikenal lewat film Hancock (2008) dan Battleship (2011). Memakan biaya sekitar 40 milyar dollar. Dan syuting dilakukan di kawasan pegunungan berbatu di New Mexico, yang mirip dengan kondisi alam Afghanistan. Memakan waktu pengambilan gambar hingga 42 hari.


Cerita dari film ini based on true story dari buku yang ditulis langsung oleh Marcus Lattrel sendiri, Lone Survivor : The Eyewitness Account of Operation Red Wings and The Lost Heroes of SEAL’ Team 10. Lattrel menulis bukunya dibantu sepenuhnya oleh penulis, Patrick Robinson. Lattrel kemudian langsung menjadi supervisi atas film ini dan Berg sebagai sutradara, menyempatkan waktu sebulan tinggal di kediaman Lattrel untuk mendiskusikan buku ini. Berg bahkan sempat mengikuti pelatihan di Navy SEAL dan terjun langsung bersama Navy SEAL di Iraq selama sebulan.


Film yang mengangkat kisah heroik seorang prajurit andalan ini sebenarnya, banyak menyajikan adegan darah dimana-mana. Termasuk close-up dari jari, lalu bahu, paha prajurit yang tertembak. Atau kuping yang terserempet peluru. Sampai kaki yang terkena pecahan roket yang diluncurkan RPG dari prajurit Taliban.


Lone-Survivor-14Selain itu, memperlihatkan keempat prajurit bahkan dua kali harus menjatuhkan diri dengan menggelinding, untuk menghindar dari kepungan pasukan Taliban. Saat menggelinding, tubuh mereka harus menghantam bebatuan lereng bukit. Keras memang kesannya.


Apakah misi berhasil? Tertinggal hanya Lattrel, itupun karena ia ditemukan orang Afghanistan yang berlawanan dengan kaum Taliban. Ia diselamatkan dan dirawat di perkampungan orang Afghanistan, bernama Mohammad Gulab bersama putra kecilnya tersebut. Penduduk perkampungan itu memang tidak mendukung Taliban. Walau kesannya bukan berarti, mereka juga mendukung keterlibatan pasukan Amerika Serikat di sana.


Film ini lumayan bagus memperlihatkan longshot, wide angle dari pemandangan alam. Selain pemandangan dari basecamp tentara Amerika. Sementara shots adegan peperangan banyak menampilkan medium shot dan wide angle, mungkin karena digunakan kamera dengan handheld. Tebing bebatuan, menyulitkan pemakaian alat bantu kamera seperti dolly, jimmy-jip atau crane.


Director of Photography film ini ditangani oleh Tobias A. Schliessler. Ia dibantu tim camera operator yang menggunakan tiga unit kamera digital dengan cara handheld. Schliessler banyak mengambil gambar seperti dokumenter. Dan ia juga memilih memakai wide lens untuk dapat menggambarkan lebih jelas emosi dan kesulitan keempat prajurit dengan berbagai cedera parah mereka, di saat harus terus menghadapi serbuan pasukan Taliban.


Kesan heroik, lebih ditebalkan dengan lagu penutup film. ‘Heroes’-nya David Bowie, dibawakan oleh Peter Gabriel didukung oleh New Blood Orchestra. Lagu ini menjadi penutup yang cukup berhasil membangun suasana dramatis film.


Kabarnya, film ini mendapat pujian pada pemutarannya di beberapa festival, antara lain AFI Film Festival. Gala premiere dilakukan pada 3 Desember 2013 di Ziegfeld, New York. Dihadiri pula oleh Marcus Lattrel dan keluarganya, serta juga Mohamad Gulab. Gulab diundang secara khusus, dan saat itu merupakan pertama kalinya ia mengunjungi New York, dan pertama kali pula menyaksikan film di sebuah bioskop! / dM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found