Cahaya Dari Timur: Beta Maluku Foto Istimewa

Cahaya Dari Timur: Beta Maluku

Motivasi Kecil dari Timur Indonesia

Sebuah cerita yang menginspirasi bisa hadir dari mana saja. Dari sebuah produk urban ataupun dari dusun terpencil yang jauh dari keramaian. Dari sebuah daerah yang aman tentram ataupun medan perang. Semangat yang terkandung dari cerita-cerita tersebut selalu diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain yang melihat, membaca ataupun mengetahui.

Adalah seorang Sani Tawainella yang harus kembali kekampung halamannya setelah gagal merintis karir sebagai seorang pesepakbola profesional. Menjadi tukang ojek adalah pilihan yang paling memungkinkan baginya untuk menghidupi keluarganya.

Diwaktu itu, Maluku tengah dilanda konflik yang melibatkan agama. Hampir semua orang terlibat pertumpahan darah baik tua ataupun muda.

Melihat situasi yang tidak kondusif tersebut, Sani tergerak untuk menyelamatkan anak-anak di kampungnya melalui sepakbola. Tidak ada kata-kata yang mudah untuk menggambarkan perjuangan seorang Sani. Hidupnya dihadapkan kepada 2 pilihan yang sangat sukar, menghidupi keluarga atau sepakbola. Belum lagi pada suatu saat dirinya ditugaskan untuk membawa timnya mewakili Maluku dikejuaraan nasional. Keputusannya membaurkan anak anak yang berbeda agama dalam satu tim menyebabkan perpecahan. Sani benar-benar dihadapkan akan trauma masa lalu dan kesempatan untuk membawa cerita baik bagi Maluku.

Cahaya Dari Timur: Beta Maluku diangkat dari sebuah kisah nyata yang menggambarkan kondisi sebenarnya di tanah Maluku ketika terjadi konflik antar agama. Film ini dikemas dalam tema sepakbola, tetapi pendekatan film ini mengambil pendekatan sosial budaya dan mengangkat akurasi fakta sebagai elemen penting dari seluruh alur cerita. Proses syutingpun dilakukan dilokasi asli cerita dan menggunakan bahasa lokal.

Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara sengaja mengajak seorang Glenn Fredly untuk terjun sebagai produser dalam film ini. Glenn yang dalam tubuhnya mengalir darah Maluku, sedikit banyak pasti cukup paham bagaimana dirinya dapat memberikan pengaruh dalam film ini. Skenario yang ditulis oleh Swastika Nohara dan Irfan Ramly ini sungguh sangat menyentuh. Karakter Sani Tawainella yang menjadi inspirasi film inipun diperankan dengan baik oleh Chicco Jericho dan didukung oleh aktor aktris lainnya seperti Jajang C. Noer, Shafira Uum, Abdurrahman Arif, Aufa Assegaf dan Bebeto Leutually.

Soundtrack film ini sendiri ditulis oleh Glenn Fredly lewat sebuah lagu yang berjudul ‘Tinggikan’. Lagu yang terinspirasi dari Sani yang selalu meneriakkan semangat ‘Motivasi Tinggi’ dan dibalas oleh anak-anak asuhnya ‘Tinggikan!!’..

Film yang diproduksi oleh Visinema Pictures ini dijadwalkan akan tayang pada tanggal 19 Juni 2014 di seluruh bioskop di Indonesia.

Mudah-mudahan film ini menjadi tontonan yang menginspirasi, membakar semangat persatuan bangsa. Film yang hadir tepat ditengah pesta demokrasi yang akan berlangsung di Indonesia dan pesta Piala Dunia 2014 di Brazil. / Ibonk

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found