Negeri Tanpa Telinga Foto-foto Istimewa

Negeri Tanpa Telinga

Akrobat Para Koruptor Di Negeri Antah Berantah

Di sebuah negeri tengah berlangsung hiruk pikuk kampanye pemilihan umum. Para pengurus partai politik terlihat sibuk melakukan pencitraan. Serta tak lupa tentunya melakukan lobi sana sini untuk memenangkan pemilu juga berbagai proyek yang menguntungkan pribadi.

Piton Wangsalaba (Ray Sahetapy), Ketua Partai MARTOBAT, dibujuk oleh rekan satu partai, Joki Ringkik (Rukman Rosadi) dan Mr Marmood (Tanta Ginting) untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Untuk urusan melobi dan membujuk mereka yang berlawanan pendapat dari partai lain, ada perempuan cantik Tikis Queenta (Kelly Tandiono) sebagai pelobi ulung yang tak segan “menawarkan” tubuh untuk transaksi sebuah kesepakatan.

Sementara di Partai Amal Syurga, ada Ustad Etawa (Lukman Sardi) sebagai ketua partai. Momon (Eko Supriyanto) menjadi orang kepercayaannya untuk melobi. Sedangkan Kobir (Pasha Van Krab) setia menjadi sekretarisnya. Segala tindakan dan ucapan selalu disertai dengan kalimat religi. Meski hanya sebagai kedok untuk menutupi tindakan kotor mereka. Mulai dari korupsi sampai urusan syahwat.

Chika Cemani (Jenny Zhang) adalah seorang reporter yang berhasrat membongkar segala tindakan korupsi yang dilakukan oleh para petinggi partai tersebut. Meski terlihat profesionalisme dengan mengatasnamakan kebenaran harus diungkap, ternyata ada hal pribadi pula yang terselip. Terutama berkaitan dengan Piton Wangsalaba.

Ada satu nama yang bersinggungan dengan semua tokoh tersebut. Dialah Naga (Teuku Rifnu Wikana). Seorang tukang pijat keliling yang laris manis. Ketika memijat itulah, dia banyak mendengar berbagai cerita dari para tokoh itu. Mulai dari lobi-lobi politik, permainan anggaran, sampai curahan hati pribadi.

Semua pengurus partai mendadak kalang kabut ketika tindakan korupsi yang mereka lakukan mulai terendus oleh lembaga pemberantasan korupsi KAPAK. Naga kemudian terancam nyawanya karena dianggap sebagai pihak yang membocorkan rencana licik para koruptor. Tersiksa dengan berbagai suara yang menyakitkan hati dan menyiksanya, dia memutuskan untuk merusak gendang telinganya. Tujuannya agar dia terhindar dari suara-suara tersebut.

Politik, seks dan kekuasaan. Inilah inti dari film Negeri Tanpa Telinga yang dengan sutradara Lola Amaria. Hiruk pikuk kampanye, lobi tingkat tinggi, sampai siasat untuk meraih kekuasaan digambarkan dengan gamblang dengan skenario bernas dari Indra Tranggono.

Dalam film berdurasi sekitar 109 menit ini, Indra memasukkan peristiwa-peristiwa politik mutakhir Indonesia. Memang meski dalam film tidak disebutkan secara khusus negaranya, namun bagi yang menonton tentu mafhum kemana cerita diarahkan.

Cuplikan adegan lobi import daging domba, rencana pembangunan rumah di Bukit Kahyangan, mau pun pembuatan video anti korupsi oleh partai yang kemudian terlibat korupsi. Anda yang mengikuti berbagai pemberitaan tentang kasus korupsi tentu akan tahu bahwa adegan tersebut tak jauh beda dengan yang terjadi di negara ini.

Negeri Tanpa Telinga adalah film ketiga yang diproduksi oleh Lola Amaria Production. Dibandingkan dengan dua film sebelumnya, Kisah 3 Titik dan Inerie, film ini lebih “berwarna” sajiannya. Dengan suguhan black comedy dan satire, sehingga lepas dari kesan “suram” seperti Kisah 3 Titik dan Inerie.

Ray Sahetapy dengan sangat baik memerankan Piton Wangsalaba. Sebagai tokoh yang disegani oleh partai namun selalu “kalah” dan tunduk dengan kemauan istrinya. Namun tiba-tiba semua kelemahan tersebut malih rupa menjadi sosok yang sangar ketika terancam masalah pribadi dan kepentingannya.

Nama lain yang mencuri perhatian adalah Tanta Ginting. Sulit untuk menahan tawa ketika mendengar tokoh Marmood yang diperankannya berbicara. Nada bicaranya out of tune alias sangat mengganggu di telinga.

Sebagai film bertema “berat” tentang pemberantasan korupsi, Negeri Tanpa Telinga cukup baik menyampaikan pesan dengan balutan satirenya. Menertawakan tingkah polah para politikus licik yang tak ubahnya diumpamakan di awal film ini lewat sebuah papan bertuliskan ‘Indonesian All Star Circus’. Ya mereka yang merugikan rakyat itu tak ubahnya tengah melakukan akrobat dalam sirkus. Siapa yang tak mampu berakrobat dengan baik dalam melakukan kejahatan, maka akan tergelincir jatuh ke ranah hukuman. /yoseR

2

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found