Suami Untuk Mak Suami Untuk Mak (Foto: Istimewa)

Suami Untuk Mak

Sarat Pesan Keberagaman

Alkisah hidup seorang ibu yang biasa dipanggil Mak (Lidya Kandou), Mak telah 5 kali menikah dengan tentu saja 5 orang lelaki yang berbeda. Yang uniknya suami dari Mak ini terdiri dari berbagai etnis dan suku, Tionghoa, Jawa, Sunda, Betawi dan sampai suku Bajo, sehingga bisa dibayangkan anak-anak yang lahir dari rahim Mak memiliki ciri sesuai dengan etnis dari suku ayahnya. Sayangnya setiap kali menikah, setiap kali pula sang suami meninggal sehingga Mak sangat protektif terhadap anak-anaknya.

Mak yang bernama Sarah, bersama anak-anaknya Adul, Bontot, Gilbert, Koko, dan Billy harus berjuang sendiri bersama anak-anaknya yang mempunyai fisik dan sifat yang berbeda-beda. Anak pertama lahir dari ayah yang berasal dari suku Bajo bernama Gilbert (Raim Laode), dengan penampilan fisik berambut keriting, berkulit gelap, dan bertubuh ceking yang kerap kali menjadi bulan-bulanan adiknya.

Anak kedua Kokoh (Edric Tjandra) lahir dari ayah keturuan Tionghoa yang bermata sipit dan berkulit putih. Anak Ketiga Adul (Cemen) berasal dari ayah yang bersuku Sunda, kalau bicara nyablak. Anak keempat bernama Bontot, karena Mak mengira tidak akan melahirkan lagi. Si Bontot ini dilahirkan dari ayah yang bersuku Jawa, diperankan oleh Taufiq Saini berpenampilan cupu, badan tinggi dan berkacamata.

Nah anak terakhir yang berasal dari ayah asal Betawi bernama Billy (Billy Syahputra) sifatnya jahil dan lebih nekad dibanding saudara-saudaranya yang lain. Kebayang, bagaimana si Mak membesarkan seorang diri kelima anaknya yang mempunyai sifat dan juga berasal dari agama yang berbeda? Meskipun sering berbeda pendapat, namun mereka saling menjaga dan tetap kompak dalam persaudaraan.  Ide cerita film ini diangkat dari idenya Mak Vera dengan bendera CMI Production dan disutradarai oleh Yoshua Rocky.

02 Rano Karno Lidya Kandou IstimewaRano Karno & Lidya Kandou (Foto: Istimewa)

Mereka yang beranjak besar dan tumbuh menjadi remaja merasa gerah dengan sifat over protektif sang ibu terhadap mereka. Akhirnya merekapun berembug untuk mencarikan sosok pendamping untuk Mak. Disinilah klimaks film yang bergenre drama komedi ini bermain. Dengan sifat yang berbeda dalam menjalankan misi mencarikan pendamping untuk Mak, adegan peradegan siap mengocok perut penonton. Celetukan dan adegan konyol banyak dihadirkan pada beberapa scene di film ini.

Usaha mereka dalam mencari suami untuk Mak seringkali mendapat kegagalan. Ada saja yang dirasakan tidak cocok dengan kriteria yang mereka cari. Anak-anak Mak yang memang berasal dari latar belakang aktor komedi  cukup berhasil membawa penonton untuk tertawa. Meskipun hanya sekedar nyengir kuda film ini cukup menghibur dengan alur cerita yang tidak terlalu rumit.

Cerita menjadi berubah ketika Mak terlibat dalam usaha peredaran narkoba, apa yang terjadi selanjutnya, apakah kelima anaknya berhasil mendapatkan pendamping untuk Mak?

Film ini selain diramaikan oleh akting segar dari beberapa aktor komedi dan wajah-wajah yang tak asing di dunia hiburan ibu kota. Billy Saputra, Chika Waode, Naomi Papilaya, Edric Tjandra, Taufiq Sani, Asha Syara, Ari Wibowo, Cut Memey dan alumni stand up comedy   Cemen, Arafah dan Raim Laode. Bagi penggemar pasangan lawas Rano Karno dan Lidya Kandou film ini bisa menjadi penawar rindu. Chemistry dan romantisme keduanya masih enak dilihat dan turut menghidupkan suasana di film ini. Rano yang sudah lama tidak kelihatan aktingnya di dunia peran masih apik memerankan tokoh pengacara yang menjadi tambatan hatinya si Mak.

03 Suami Untuk Mak IstimewaFoto: Istimewa

Adegan-adengan konyol yang berlatang belakang dari keragaman para pemain membuat film ini sarat dengan beberapa pesan yang memang diperlukan saat ini. Dalam film ini diingatkan kembali bahwa perbedaan etnis, agama, suku, budaya dan latar belakang status sosial serta rupa yang memiliki aturan main yang berbeda adalah hal yang wajar dalam kehidupan kita.

Setiap suku dan etnis yang berbeda dimana masing-masing mempunyai cara  dan aturan main dalam kehidupan nyata, sehingga toleransi  sangat dirasakan di film ini. Bisa dibilang film ini merupakan potret dari kehidupan negara Indonesia dalam skala kecil, dengan tema yang ringan dan cara penyampaiannya yang segar./ YDhew

 

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found