Labuan Hati Labuan Hati (Istimewa)

Labuan Hati

Cerita Hati Tiga Padusi

Mungkin ini menjadi film pertama dari seorang Lola Amaria untuk sedikit berkompromi dengan pasar film nasional. Hal ini juga menjawab sikapnya terhadap masukan-masukan yang diterimanya. Bahwa bolehlah sesekali membuat film yang gampang dicerna dan mampu memvisualkan framing-framing yang menarik.

Tapi terus terang saja, Lola yang dikenal selalu menampilkan sosok wanita sebagai tokoh utama tetap menampakkan keberpihakannya. Bisa kita telusuri lewat film-filmnya seperti  Betina, Tiga Titik, Minggu Pagi di Victoria Park, Sanubari Jakarta, ataupun Jingga.

Kini lewat film terbarunya “Labuhan Hati” ia sedikit berkompromi namun seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pemeran utama yang didominasi kaum hawa tersebut digambarkan membawa problem yang harus dihadapi. Disini ia sengaja mengaitkan wanita dengan cintanya yang dibungkus dengan keindahan alam Labuhan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Adalah dua wanita yang awalnya tak saling mengenal bernama Indi (Nadine Chandrawinata) dan Bia (Kelly Tandiono), akhirnya atas inisiatif Bia memutuskan untuk pergi liburan bersama ke Labuhan Bajo dan Taman Nasonal Komodo. Disana keduanya dipertemukan dengan seorang staf jasa wisata setempat bernama Maria (Ully Triani) dan pemandu selam bernama Mahesa (Ramon Y Tungka).

Rasa ceria dan rasa akrab yang dirasakan di awal perjalanan mereka akhirnya mulai berubah cepat seiring waktu, Bayangkan, ketiganya tertarik dengan Mahesa lewat masing-masing cara. Ada yang mengekspresikannya secara terbuka seperti Bia, atau terkesan cuek tapi mau seperti Indi dan diam-diam memendam rasa seperti Maria.

02 Labuan Hati IstimewaLabuan Hati (Istimewa)

Dimulai dari sentilan sentilun lewat kata-kata dan dan bahasa tubuh, serta sebuah momen pas namun salah Bia berhasil memerangkap Mahesa lewat trik-nya. Indi dan Maria yang mengetahui hal itu pun jadi cemburu. Berbeda dengan Maria yang lebih baik memendam perasaannya, Indi cukup ekspresif, hingga keduanya terlibat konflik yang cukup panas. Mahesa sendiri akhirnya menjadi serba salah, walau akhirnya dia bisa mengatasi keadaan.

Hampir sepanjang durasi tontonan, kita disuguhi keindahan alam Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo yang eksotik. Disela tampilan visual yang menawan tersebut, Lola cukup berhasil memunculkan konflik diantara mereka. Sebenarnya ketiga perempuan tersebut, tengah diliputi persoalan pribadi sendiri. Bia maupun Indi mencoba mendekati Mahesa sebagai pelarian dari persoalan dengan suami dan tunangannya. Sedangkan Maria terkungkung dengan masa lalunya dan tak bisa move on.

Cerita sederhana, namun tampak kuat dengan ekspresi ataupun blocking setting ala panggung teater yang diciptakan oleh Lola. Namun sedikit kecewa dengan dominasi keempat pemeran sepanjang durasi film. Juga jerih payah Lola menampilkan beragam sudut indah Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo dan beberapa pulau eksotis seperti Sebayur, Rinca, Padar atau pantai Pink pun agak kurang greget karena terkesan tampil ketat. Jarang sekali menampilkan sisi wide angle sehingga membuat mata dapat terbelalak kagum.

Lola dan Titien Wattimena sang penulis skenario, cukup habis-habisan memvisualisasikan keindahan tersebut baik dari daratan (land) ataupun bawah laut (under water) dengan segala habitatnya yang ada. Banyak juga pesan-pesan yang disampaikan terkait dengan segala isu mengenai perwajahan pariwisata ataupun fenomena pulau-pulau yang dimiliki oleh orang asing di negeri lucu ini.

Terlepas dari beberapa sudut lemah dalam film ini, kita patut mengapresiasi usaha sang sutradara wanita ini. Ia terhitung punya kelas , dan keberaniannya dalam menuangkan ide dan cinta tanah air  patutlah diacungi jempol./ Ibonk

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found