NewsMusik

NewsMusik

Friday, 19 May 2017 16:27

Afgan

Mengajak Memahami Al Quran

Siapa yang tak kenal dengan Afgan Syahreza, penyanyi berdarah Minangkabau yang dilahirkan dari keluarga yang menyukai musik. Karyanya banyak  dipengaruhi oleh beragam genre, seperti pop, soul, R&B, dan jazz. Tentunya tidak ada yang ragu pada  kemampuan dan kedudukannya sebagai penyanyi papan atas pria di tanah air pada saat ini.

Nah, menyambut bulan Ramadhan kali ini, Afgan terlihat melibatkan diri dalam Qur’an Indonesia Project (QIP) sekaligus ingin mengajak generasi muda untuk lebih memahami isi Al-Qur’an. Walau sudah mengisi suaranya namun pada awalnya ia sempat merasa tidak puas dan sempat beberapa kali take. Namun belakangan ia lebih puas karena selama pengambilan vokal, selalu didamping oleh guru mengaji yaitu Drs. H. Uci Armisi.

Ada kebanggaan sendiri dalam dirinya menjadi yang pertama di project ini dan di rekam suaranya dengan membacakan surat Al-Fatihah. “Rasanya bangga karena saya termasuk yang paling pertama ikut dan mendapat surat Al-Fatihah. Dari awal saya percaya dengan visi dan misi dari Qur’an Indonesia Project. Baru dengar idenya saja saya sudah terinspirasi, dimana hal ini dapat mengajak generasi muda untuk lebih memahami isi Al-qur’an dengan platform yang unik dan dengan cara yang tidak biasa. Saya bangga banget”, ujar Afgan saat ditemui di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan.

QIP sendiri adalah sebuah project untuk menyambut bulan Ramadhan yang diluncurkan di tahun 2015  silam yang digagas oleh Archie Wirija. QIP ini bertujuan untuk berbagi nilai Al-Qur’an melalui rekaman audio dan disertakan arti secara Indonesia dan Inggris. Hasilnya adalah telah didengarkan sebanyak 1,5 juta kali di 50 negara sejak 2015. Selain Afgan, ada juga Raisa dan Andien yang mewakili 230 kontributor dari berbagai bidang.

02 Andien YDhewAndien (YDhew)

Afgan juga menambahkan bahwa lewat aplikasi ini, bisa lebih mendorong banyak orang untuk lebih memahami dan mempelajari isi Al-Qur’an. Apalagi sebentar lagi akan mulai memasuki bulan Ramadhan. "Ada moment merindingnya,  kita juga baca artinya. Enggak bisa datar saja, harus menghayati ayatnya  juga”, ujar pria usia 27 tahun tersebut.

Pada kesempatan ini QIP hadir lebih dekat kepada masyarakat produktif dengan mobilitas yang dinamis.  Audio rekaman Qur’an dan terjemahannya yang semula hanya bisa di unduh melalui QuranindonesiaProject.com, sekarang ini sudah dapat didengarkan langsung oleh pengguna iOS dan Android dengan mengunduhnya secara gratis./ YDhew

 

Friday, 19 May 2017 10:50

Gigi & Nidji

Konser Kolaborasi Band 2 Generasi

Dua grup band papan atas tanah air, Gigi dan Nidji akan menggelar konser di The Pallas, SCBD, Jakarta Pusat pada 24 Mei 2017 mendatang. Yang membuat semakin menarik, di konser bertajuk “Nightlife” itu Gigi dan Nidji juga akan tampil berkolaborasi.

Gigi telah dikenal oleh kalangan pecinta musik di tanah air sejak belasan tahun silam. Band yang dimotori Armand Maulana, Dewa Budjana, Thomas Ramdhan, dan Gusti Hendy ini, telah banyak menjadi inspirasi musisi di Indonesia.

Berbicara tentang konser mereka nanti, Armand Maulana mengatakan ini akan menjadi spesial, bukan hanya karena tampil bersama Nidji, namun menggelar konser di The Pallas mengingatkannya pada konser Gigi di era 90-an silam.

"Walaupun Gigi dan Nidji sudah sering satu backstage di berbagai show. Nidji juga belum pernah main di sini. Kalau Gigi dulu main di sini masih zaman bengkel era 90-an," kata Armand saat jumpa pers di The Pallas, SCBD, Jakarta Pusat, Rabu (17/5).

Ia juga mengakui bahwa kesempatan kolaborasi dua group band berbeda generasi ini merupakan hal yang langka. Karenanya, dirinya mengharapkan kolaborasi ini mampu membarikan warna bagi industri musik di tanah air.

02 Jumpers Kolaborasi Gigi & Nidji IstimewaJumpers Kolaborasi Gigi & Nidji (Istimewa)

Tanggapan yang tak jauh berbeda juga disampaikan oleh Nidji. Bisa konser bareng Gigi suatu hal sangat luar biasa. Pasalnya, hampir semua personel Nidji sangat mengidolakan Gigi sejak duduk di sekolah dasar.

"Nidji senang banget bisa ikut. Gigi udah idola kami dari jaman celana merah sampai sekarang bisa satu panggung. Apalagi besok event closing-an sebelum puasa. Mudah-mudahan besok kita bisa tampil  dengan full energy," ujar Rama.

Hal senada juga diungkapkan oleh Giring, sang vokalis, "Saya merasa beruntung bisa berkoolaborasi dengan mereka. Kesempatan ini juga menjadi hal yang menarik buat fans. Mereka bisa melihat kami berkolaborasi dengan group band legendaris seperti Gigi," kata Giring.

Konser ini nantinya akan berlangsung mulai pukul 21.00 WIB. Masing-masing band akan tampil selama satu jam. Kedua bang tersebut siap menyuguhkan penampilan yang spesial. / Ibonk

 

Thursday, 18 May 2017 16:01

Viral Fest Asia 2017

Festival Musik Digital Terbesar di Asia

Festival Musik Digital terbesar di Asia, Viral Fest Asia 2017 kembali lagi tahun ini di Bangkok, Thailand pada tanggal 2-3 Juni 2017. Acara ini diselenggarakan oleh grup media digital terdepan, WebTVAsia. Lebih dari 20 kreator Asia terkenal akan tampil, dengan bintang utama legenda K-POP Rain, boyband papan atas J-pop Exile The Second, dan grup idola JepangFlower.

Thailand sebagai negara penyelenggara sendiri menunjuk Burin Boonvisut, vokalis dari band ternama Groove Rider; Komedian Youtube no. 1 Bie The Ska; penyanyi dan penulis lagu Hugo; Girl Band idola Thailand BNK48, dan Somkiat dari “Harmones the Series” untuk mewakili festival ini.

Superstar Vietnam Son Tung M-Tp; Rapper sekaligus director berbakat dari Malaysia, Namewee, Duo komedian dari Taiwan Amogood dan Saint, serta Marmot Band dari Cina melengkapi cita rasa Asia. Indonesia sendiri akan mengirimkan grup superstar Weird Genius sebagai perwakilannya di panggung Viral Fest Asia 2017. Weird Genius adalah sebuah grup musik dengan genre elektronik yang terdiri dari Reza Oktovian, Eka Gustiwana, dan Billy Tanner.

Reza Oktovian dan Eka Gustiwana merupakan bagian dari top kreator kebanggaan Indonesia yang memiliki 1,2 juta (Reza Oktovian) subcribers dan 707 ribu (Eka Gustiwana) subscribers di channel pribadi masing-masing. Tidak hanya itu, Weird Genius juga selalu mengunggah karya-karya mereka di channel YouTubenya, yang hingga saat ini memiliki lebih dari 81 ribu subscribers.

02 PresCon Viral Fest Asia 2017 IstimewaPresCon Viral Fest Asia 2017 (Istimewa)

“Mengikuti kesuksesan Viral Fest Asia tahun lalu di Bali dengan dihadiri lebih dari 8000 penonton. Dengan bangga kita memenuhi keinginan penggemar, yaitu pengalaman unik merayakan keanekaragaman musik di Asia tahun ini’, ungkap Fred Chong selaku grup CEO webtvasia.

Tema Viral Fest Asia 2017: “Everybody’s Going Viral” berasal dari fenomena sosial media “Viral Video”, yang menekankan kekuatan komunitas global untuk menciptakan dan berbagi tren melalui medium kreatif seperti musik, film, dan multimedia. Selain itu, festival ini bertujuan untuk merayakan hiburan pertunjukan langsung di Show DC Bangkok, tempat konser terbaru di Bangkok seluas 1.9 juta meter persegi.

Tiketnya sendiri untuk pertunjukan tanggal 3 Juni sudah bisa dibeli secara eksklusif melalui http://www.thaiticketmajor.com dan untuk informasi lebih lengkap bisa di cek melalui www.viralfestasia.com. / YDhew

 

Monday, 15 May 2017 14:53

GIGI

Album Religi Sekaligus Reuni

Gigi yang sudah beberapa kali membuat album religi, kali ini kembali merilis album baru yang bertajuk “Setia Bersama Menyayangi”. Ini merupakan album yang pertama kalinya, semua lagu kecuali ‘Adu Domba’ adalah milik GIGI, termasuk publish dan sebagainya bahkan dalam album ini juga diisi oleh 3 drummer sekaligus.

Yang spesial di album ini adalah di boyongnya  mantan drummer Gigi (Ronald Fristianto, dan Budhy Haryono) dan juga mantan Gitaris (Aria Baron) serta mantan bassisnya (Opet Alatas) di lagu yang menjadi judul albumnya “Setia Bersama dan Menyayangi”.

“Kebetulan juga lagu ‘Setia Bersama dan Menyayangi’ tersebut adalah pertama kalinya kita buat sebuah recording dengan semua personil yang ada di Gigi sejak tahun 1993 sampai 2017. Kejadian ini adalah  sejarah juga buat kita selama 23 tahun ini berada di musik Indonesia. Baru kali ini kira rekaman dalam satu track lagu”, ujar Armand Maulana, saat jumpa pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (15/5).

Dipilihnya lagu “Setia Bersama dan Menyayangi”, “Distorsi Manusia”, “Munafik” dan juga “Adu Domba”,  dikarenakan situasi yang terjadi di Indonesia saat ini. Dimana akhir-akhir ini muncul kembali hal-hal yang menggoyahkan kokohnya diantara sesama saudara di Indonesia.

02 Gigi (YDhew)GIGI (YDew)

“Untuk lagu ‘Adu Domba’ merupakan lagu Rhoma Irama tahun 80an. Tepat banget liriknya sama dengan lagu ‘Perdamaian’, yang kala itu memang Indonesia lagi perlu banget damai. Maka dibawakanlah ‘Perdamaian’.  Sekarangpun lagu ‘Adu Domba’ dirasa tepat banget untuk di re-arrange melihat situasi saat ini”, tambah Armand.

9 tracks yang ada di dalam album ini sangat berbeda dengan aransemen album-album Gigi sebelumnya. Semuanya sudah disesuaikan dengan adanya energi baru, referensi dan gambaran baru terhadap update perkembangan musik di tanah air./ YDhew

 

Thursday, 18 May 2017 14:47

Bams

Rencana Membuat Album Baru

Bambang Reguna Bukit, atau yang kita kenal sebagai Bams ex vokalis group musik Samsons. Penyanyi keturunan Batak kelahiran Otawa, Kanada 34 tahun lalu lebih memilih fokus pada group musik rohani. “Gue  sekarang nyanyi cuma sekedar gue suka. Jadi bukan untuk cari duit, yang penting berkarya. Orang suka ya syukur, enggak juga gak apa-apa. Itu akan jadi masukan juga ke gue”, ujar Bams ditemui di kawasan Jakarta Selatan, The Westin Hotel Senin (15/5).

Sekilas tentang karir Bams di industri musik tanah air, diawali dengan menjadi vokalis, percussionist Infinity Band, namun group musik ini bubar sebelum sempat merilis album rekaman. Setelah lama berselang, kemudian Bams membentuk sebuah band baru yang diberi nama The Equal yang berformat 2 vokalis bersama Ucil (vokal), Irfan (gitar), Erik (gitar), Adjie (drum), Aldri (bass).

Namun group band ini lagi-lagi tidak dapat bertahan lama, Ucil dan Adjie mengundurkan diri dan posisi Adjie digantikan oleh Konde. Nama merekapun kemudian berubah menjadi Samsons. Group band ini yang kemudian membawa mereka ke dapur rekaman. Dibawah label Universal Music Indonesia debut album yang pertama “Naluri Lelaki” dirilis pada tahun 2006 dengan singlenya ‘Kenangan Terindah” yang sukses di pasaran.

Di tahun berikutnya album kedua Samsons yang bertajuk “Penantian Hidup” dirilis dengan single utamanya ‘Kisah Tak Sempurna’ dan yang kedua ‘Luluh’ yang menjadi andalan di album tersebut. Pada penghujung tahun 2007, album ketiga Samsons pun kembali dirilis yang berjudul “Penantian Hidup: Platinum Edition” dengan menambahkan 3 buah lagu dari album ke dua, dengan lagu “Hening” sebagai lagu utamanya.

02 Bams YDhewBams (YDhew)

Bams besama group band Samsons sempat mencapai masa kejayaannya pada dekade tahun 2000-an. Setelah bersama-sama selama 9 tahun di group band yang membesarkan namanya., pada tahun 2012 Bams pun secara resmi mengundurkan diri. Dan sayangnya para personilnya, baru diinfo oleh Bams pada bulan Juni 2013. Bams yang pada waktu itu menjadi vokalis di band rohaninya beralasan bahwa keluarnya adalah karena ingin fokus pada band rohaninya kala itu.

Setelah sekian lama tidak terdengar kabar tentangnya, baru-baru ini di acara pameran karya lukis sang bunda, Desiree Sitompul. Bams sempat bertutur akan kembali berkarya dengan mengeluarkan album solonya. Albumnya sendiri bergenre jauh berbeda dari sebelumnya, hal ini karena pengaruh influence yang sekarang didengarnya.

“Gue nulis sendiri, sama satu orang temen baik gue, Jauh banget sama lagu gue sebelumnya, beda banget, cuma ada sedikit popnya. Yang jelas musik gue yang baru bener-bener berubah banget, ada elektroniknya, karena gue suka dan lagi nyaman dengerin musik itu”, jelas Bams memberikan sedikit bocoran tentang albumnya nanti.

Album ini akan sangat special, karena melibatkan ibunya yang akan melukis kostumnya di setiap shownya nanti. Untuk judulnya Bams masih merahasiakan, hanya semua materi yang ada di albumnya nanti adalah karya dan ciptaan Bams sendiri.

Penyanyi yang sempat digosipkan akan menggantikan posisi Giring di group band Nidji ini lebih memilih untuk bersolo karir. Ada plus minusnya yang dia rasakan selama berkarir solo, “Kalau sendiri lagi nulis lagu dan stuck ya nggak bisa diterusin. Tapi kalau group, ada beberapa kepala yang bantuin. Minusnya karena banyak kepala agak sulit untuk mengambil keputusan”, tutup Bams.

 

Thursday, 18 May 2017 14:04

Desiree Sitompul

Gelar Karya Seni

Tak banyak yang tahu bahwa di balik jiwa seni yang mengalir pada tubuh Bams ex vokalis band Samsons mengalir dari ibunya. Desiree Sitompul yang berasal dari Medan, 55 tahun lalu, selain ibu dari musisi Bams, beliau juga adalah seorang pelukis yang juga kolektor cangkir teh lebih dari 10 tahun. Mencintai seni lukis membuatnya kagum pada detail lukisan pada permukaan cangkir kuno.

Selama 10 tahun belakangan ini, Desiree yang belajar melukis secara otodidak dan karena hobby mencoba melukis dengan berbagai macam gaya. Berbekal dukungan keluarga dan juga teman-temannya, terutama anaknya Bams yang selalu mendorong ibunya untuk tampil memamerkan karyanya. Namun ibunya yang tidak terbiasa dan tidak suka di ekspose membuat Bams terus menyemangati ibunya untuk tampil.

Waktu itu pernah lagi launching mobil ternama, terus tawaran untuk kolaborasi sama lukisan mami, tapi mami malah enggak mau. Heran juga, Jadi kita selalu push terus," tutur penyanyi yang bernama Bambang Reguna Bukit.

Bertempat di The Westin Hotel, Jakarta (15/5) lalu, Desiree akhirnya memberanikan diri menampilkan karya istimewanya Desiree Sitompul berkolaborasi dengan anaknya Bams. Lukisan yang ditampilkan bukan hanya sekedar gambar bunga, tetapi ada lukisan wajah mulai dari teman-temannya sampai sosok yang saat ini sedang ramai di perbincangkan yaitu Basuki Cahya Purnama (Ahok).

02 Desiree Sitompul & Bams YDhewDesiree Sitompul & Bams (YDhew)

Istri dari seorang pengacara ternama Hotma Sitompul ini juga memamerkan lukisan dari berbagai media, seperti koleksi pribadi dari barang-barang milik Bams mulai baju, jacket, sepatu, kaos dan gitar. Bams juga berencana akan memakai kostum yang dilukis oleh ibunya pada setiap aksi panggungnya nanti.

Selain lukisan dan teh, Desiree juga meluncurkan buku bertajuk "Sophisteacation: An Antology of Porcelain Teacup Collecting”, yang sempat diluncurkan di London Book Fair, tahun 2015. Dia juga meluncurkan buku kedua bertajuk "101 Painting" berkolaborasi dengan Tamara Geraldine sebagai penulis. Buku ini terbagi dalam tiga tema Iukisan utama yang terdiri dari Faith, Hope and Love./ YDhew

Thursday, 18 May 2017 12:51

100 Hari Al Jarreau, Reinterpretasi

Tawarkan Suguhan Berbeda

Siapa yang tak mengenal Alwin Lopez Jarreau, yang dapat disebut salah satu penyanyi yang paling berpengaruh ke semua penyanyi di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, tentunya. Nama Al Jarreau, adalah sosok penyanyi yang mungkin paling menginspirasi banyak penyanyi di sini. Boleh dikata, Al meraja dengan karyanya terisitimewa di era 1980 hingga 1990an.

Keperkasaan Al Jarreau sepeninggalannya pada 12 Februari 2017 silam, menginspirasi sebagian kecil penggemarnya di Jakarta untuk membuat sebuah event musik khusus. Lewat dukungan para penyanyi dan musisi yang sama-sama memberi respek dan apresiasi yang tinggi kepada mendiang Al Jarreau.

Tak pelak sebuah “komunitas” yang belum resmi bernama Al is for Lover pun bertekad untuk membuat sebuah event sebagai bentuk penghormatan kepada Al. Komunitas ini sebenarnya dibentuk oleh para pendukung acara ini dan juga sebagai penyelenggara. Dipimpin seorang jazz-lover, penggemar fanatik Al Jarreau, Hendra Sinadia beserta seorang penyanyi yang juga guru vokal, Restu Fortuna.

Acara ini diberi tajuk 100 Hari Al Jarreau, Reinterpretasi, akan diselenggarakan pada malam ini  Kamis, 18 Mei 2017 di Lefty’s Suites, Foodism Kemang. Tanggal yang dipilih hanya beberapa hari saja sebelum pas 100 hari kepergian sang maestro tersebut. Menurut Gideon Momongan, yang merupakan salah satu pribadi yang paling sibuk menggaungkan acara ini mengatakan bahwa, sepanjang perjalanan hidup Al Jarreau adalah penyanyi dalam berbagai aliran musik. Maka pendukung acara nanti, memang berasal dari berbagai aliran musik.

02 100 Hari Al Jarreau Reinterpretasi Poster Istimewa100 Hari Al Jarreau, Reinterpretasi Poster (foto: Istimewa)

Mereka masing-masing, para penyanyi didukung para musisi, akan melakukan upaya reinterpretasi atas karya-karya lagu yang dipopulerkan Al Jarreau. Tentu saja, hal itu memberi tawaran suguhan musik yang unik dan berbeda.

Terlihat dari komposisi para vokalis seperti Restu Fortuna, Doddy Katamsi, Hans Marcus Bartels, Ivan Nestorman, Dika Aleandra, Kadri Mohamad dan cewek satu-satunya, Netta Kusuma Dewi. Lalu didukung para musisi berpengalaman seperti Canga Anton (drummer), Djoko “SOG” Sirat (bass), Dandy Lasahido (kibor), Andy Gomez Setiawan (piano/ kibor), Zulkarnain Joel (bass), Devian Zikri (saxophone) dan Diddi Agephe (kibor/synthesizer/soundscaping).

Mengenang Al Jarreau, semasa hidupnya telah menyinggahi Jakarta untuk melakukan konser sekitar tahun 1992. Hadir lagi sepuluh tahun kemudian di Balai Sidang Senayan dan selepas album duetnya dengan George Benson, Givin’ It Up, Al dan George Benson menggelar konser di Jakarta pada tahun 2008. Terakhir, dirinya sempat tampil bersama George Duke di  Java Jazz Festival di tahun 2012.

Lewat perhelatan ini diharapkan para penggemar Al Jarreau, akan dapat terpuaskan kerinduannya terhadap lagu-lagu hits Al Jarreau. 100 Hari Al Jarreau, Reinterprteasi, akan disemarakkan oleh tata lampu yang didukung LemmonID dan ditutup oleh penampilan disc-jockey yang khusus memainkan lagu-lagu hits Al Jarreau dan lagu-lagu hits lain di era 1980-an, dalam bentuk dance remix.

So... tunggu apalagi? Lets go scatting together!!!/ Ibonk

 

Tuesday, 16 May 2017 15:40

Mondo Gascaro

Video Klip Untuk Jakarta

Pada hari Minggu (14/5) lalu, bertempat di RPTRA Kalijodo, Jakarta Utara diadakan satu acara yang bertajuk Music For Public Vol.1. Acara musik yang digagas oleh Ivy League Music yang merupakan satu bentuk apresiasi untuk ruang publik terbuka di kota-kota besar dengan melakukan kegiatan bermusik yang menghibur, mendidik serta ramah lingkungan.

Tanpa memungut biaya dan open for "public", acara ini memang bertujuan hanya ingin berbagi dan berinteraksi secara musikal dengan semua kalangan dari berbagai usia. Sebagai edisi pertama Musik for Public menampilkan salah satu artistnya, Mondo Gascaro.

Mondo yang bermain dengan set akustik, tidak tampil sendiri, tapi diselingi juga dengan penampilan dari DJ Davkillz dan DJ Udasjam. Acara yang berlangsung meriah dan natural ini juga dinikmati oleh puluhan orang yang sengaja datang untuk menonton dan para pengunjung lain yang kebetulan sedang mengunjungi Kalijodo.

02 Mondo Gascaro IstimewaMondo Gascaro (Istimewa)

Music For Public Vol. 1 tersebut sekaligus merayakan perilisan single dan video clip terbaru Mondo Gascaro yang berjudul ‘Dan Bila...’. Pemilihan RPTRA Kalijodo sebagai venue karena video clip yang digarap oleh Aco Tenriyagelli ini mengambil lokasi syuting di beberapa tempat di Jakarta seperti Tugu Tani, Taman Ismail Marzuki, Kalijodo, dan banyak ruang publik lain. Video clip ini juga merupakan tribute untuk Jakarta dengan segala dinamikanya.

Untuk edisi-edisi selanjut nya Music for Public akan diadakan di Taman Kota, RPTRA dan ruang publik lain dengan menampilkan musisi-musisi bertalenta negeri ini. Siap-siap rekreasi ke Kalijodo yaa, sekaligus bisa dengar musik yang asyik punya.. / YDhew

 

Sunday, 14 May 2017 16:52

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Siap Bersaing di Cannes

Satu lagi film karya anak bangsa akan unjuk gigi di Festival Film Cannes tahun ini. Film Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak (MPDEB) karya sutradara Mouly Surya akan mengikuti jejak film “Prenjak“ yang sempat mengharumkan nama Indonesia pada tahun 2016 lalu.

MPDEB rencananya akan diputar pada tanggal 24 Mei 2107 perdana di Quinzaine des realisateurs (Director Fortnight), yang paralel dengan Cannes Film Festival 2017. “Ini suatu kehormatan besar bagi saya bisa berada di Directors Fortnight yang telah banyak menemukan Ateurs dunia dan terkenal dengan karya-karya yang lebih edgy (memiliki kepribadian kuat),” ungkap Maouly dalam jumpa pers yang berlangsung di Plaza Indonesia Jakarta, Jum’at (12/5/2017) siang.

Sebelumnya film ini juga ikut terseleksi pada Asian Project Market di Busan International Film Festival 2015, dan Cinefondation L’Atelier Cannes Film Festival 2016. Film ini menerima dukungan pembiayaan Talent Tokyo Next Masters Support Programme dan subsidi Cineas du Monde dari Kementerian Luar Negeri Perancis.

Patut diketahui juga bahwa MPDEB merupakan film produksi bersama Cinesurya dengan Kaninga Pictures, Sasha & Co Production (Perancis), Astro Shaw (Malaysia), HOOQ Originals (Singapuara), dan Purin Pictures (Thailand).

Film ini sendiri menceritakan tentang seorang janda yang tengah mencari keadilan, setelah rumahnya diserang oleh segerombolan perampok. Ceritanya sendiri ditulis oleh Mouly Surya dan Rama Adi, berdasarkan cerita dari Garin Nugroho. Mouly sendiri mempercayakan ceritanya tersebut kepada  Marsha Timothy yang berperan menjadi Marlina, lalu ada Dea Panendra, Yoga Pratama dan Egy Fadly.

02 Mouly Surya IbonkMouly Surya (foto: Ibonk)

Mengambil setting di Sumba (NTT), sedikit banyak mengingatkan tentang film karya Garin Nugroho terdahulu yang berjudul “Surat Untuk Bidadari”.  Ketika ditanyakan tentang kemiripan tersebut, Mouly tidak menyangkal, apalagi ide cerita film ini juga berasal dari Garin. “Waktu itu Mas Garin memberikan semacam treatment, lima lembar dan menyerahkan kepada saya untuk dibuat film-nya. Padahal saya sendiri waktu itu tidak kebayang Sumba seperti apa. Saya ini orang yang tidak suka travelling, jadi tidak tahu kalau itu banyak kemiripan,” elak Mouly.

Mengenai judulnya sendiri, karena kurang sreg dengan judul yang diberikan Garin untuk film ini, Mouly pun coba mencari-cari di Google mengenai nama perempuan di Sumba. “Nama Marlina itu muncul setelah saya browsing tentang Sumba. Lalu ada di YouTube rekaman seorang guru yang diprotes karena menari-nari di sekolah. Guru itu sendiri melawan karena dia merasa tidak merugikan siapa-siapa, karena di luar jam pelajaran. Nama guru tersebut Marlina, saya tertarik, lalu memakainya untuk judul film saya ini,” tutur Mouly.

Tentang kata Empat Babak, Mouly sengaja mengambil dari treatmen yang diberikan Garin Nugroho kepadanya. Semuanya ada empat babak, dan akhirnya dipakai menjadi judul film secara keseluruhan. Dalam sejarahnya, “Marlina” merupakan film panjang keempat Indonesia yang terseleksi dalam rangkaian Festival Film Cannes. Sebelumnya ada  “Tjoet Nya’ Dhien” (1988) di Semaine de La Critique, “Daun di Atas Bantal” (1998), di Un Certain Regard dan “Serambi” (2006) di Un Certain Regard./ Ibonk

03 Marsha Timothy IbonkMarsha Timothy(foto: Ibonk)

Monday, 15 May 2017 13:44

Heavy Metal

Sejarah dan Perkembangannya di Tanah Air

Ajang festival metal terbesar di tanah air, Hammersonic Festival 2017 usai sudah. Festival ini setiap tahunnya selalu sukses untuk menjaring penonton lewat musik cadas, kostum serba hitam terlihat memadati hampir seluruh area panggung. Sangar dan garang, meski terkesan warna hitam adalah warna negatif tetapi hampir seluruh penyanyi yang beraliran rock, metal, underground menggunakannya.

Tidak diketahui, kenapa para metalheads tampil dengan berbaju hitam? Itu biasa dan agak aneh kalau menonton pertunjukan metal menggunakan baju yang berwarna warni. Musik cadas yang dianggap marginal terkadang melambangkan minoritas kaum mereka yang ingin menunjukkan perlawanan, juga cara mereka bertahan dan tentu saja melambangkan kelompok tertentu.

Bicara band rock dan band beraliran metal, sebut saja Megadeth, Black Sabbath, Deep Purple, Metalica atau bahkan God Bless, dalam setiap aksi panggungnya hampir dipastikan selalu menggunakan warna hitam. Memang musik cadas yang anti-mainstream ini memang cocok menggunakan warna hitam walau terkadang ada juga yang menggunakan warna selain hitam, tetapi tetap saja terdapat unsur warna hitam ada di setiap aksi panggungnya. Sudahlah, apapun yang mereka gunakan untuk kostum memberi kesan garang sesuai dengan musiknya yang garang, kita bicarakan mengenai musiknya saja.

Heavy Metal mulai berkembang di tahun 1970-an yaitu sebuah aliran musik rock dengan akar blues rock yang pertama kali dipopulerkan di Amerika. Dengan akar dari psychedelic rock yang merupakan salah satu jenis rock yang mencoba menggambarkan orang yang sedang kecanduan. Aliran musik ini ditandai lewat raungan distorsi gitar yang sangat kuat, ketukan cepat dan solo gitar panjang, baik di semua instrument alat musiknya.  Liriknya pun terkadang menggambarkan dan selalu berkaitan dengan kejantanan dan maskulinitas. Nah disini terjawab kenapa kostum yang mereka gunakan selalu ada nuansa hitam.

Perkembangan musik metal dan nama heavy metal itu sendiri sebetulnya di gagas oleh band hard rock di tahun 1960-an. Kala itu Steppenwolf menyanyikan lagu mereka yang berjudul Born To Be Wild (terdapat di baris kedua bait kedua). "I like smoke and lightning heavy metal thunder racin' with the wind and the feelin' that I'm under". Nah di baris kedua itulah terdapat kata heavy metal, namun istilah tersebut belum di gunakan secara tepat sampai pada tahun 70-an heavy metal di pelopori oleh Black Sabbath, Led Zepplin dan Deep Purple. Pada masa itu era tersebut masih dipengaruhi oleh elemen blues yang kental. Judas Priest kemudian mengembangkannya dengan lebih mengandalkan unsur distori dan menghilangkan unsur blues.

02 Heavy Metal Bands IstimewaHeavy Metal Bands (foto: Istimewa)

Waktupun berlalu sangat cepat, dan heavy metal akhirnya dikembangkan lagi. Lewat tempo lagu sangat cepat yang di usung oleh gitaris yang memainkan gitar rhytm downstroke muncullah turunan baru yang disebut Thrash Metal. Dimainkan oleh band-band  yang dijuluki Big Four Of Trash seperti Metallica, Megadeth, Slayer dan Anthrax.

Band sejenis yang memainkan aliran ini di daerah San Fransisco diantaranya adalah Testament dan Exodus. Di New Jersey terdapat band bernama Overkill, dan dari Brasil terdapat Sepultura. Sedangkan Speed Metal dimainkan dengan lebih cepat dan bertenaga seperti Motorhead, Iron Angel, dan Anthrax. Band yang berasal dari Eropa dan beraliran Thrash Metal seperti Kreator dan Destruction yang berasal dari Jerman.

Di Indonesia pun juga demam dengan jenis musik evolusi dari Heavy Metal ini. Kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, Jogja, Bali, dan lainnya mulai bermunculan scene underground dari jenis musik tersebut. Berkembang lewat hasil evolusi dari para rocker pioneer era tahun 70-an, diantaranya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy, Giant Step, Super Kid, Rawe Rontek, Terncem, AKA/ SAS dan lain-lain. Pada masa itu musik metal di pakai dengan menggunakan istilah Underground yang dibuat untuk menggambarkan pentas yang liar dan ekstrem di jamannya.

Lagu yang mereka mainkan pun sebenarnya bukan lagu hasil dari karya mereka sendiri, band-band dari luar negeri seperti Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP kerap mereka bawakan. Sebut saja ada beberapa band seperti El Pamas, Grass Rock, Roxx, Val Halla, Power Metal, Kaisar, dan lain-lain yang tumbuh antara tahun 70 – 80an.

Log Zhelebour kemudian muncul menjadi sosok yang berusaha menaungi dan memberikan wadah terhadap musik rock kala itu. Dengan kenekatannya, kemudian membuat terobosan baru yang membuat musik rock di Indonesia mulai mengarah ke arah industri dan rekaman. Log Zhelebour menggebrak musik genre ini dengan membuat festival rock terbesar di Surabaya.

Semenjak itu Surabaya menjadi barometer musik rock di Indonesia. Dari sinilah kemudian muncul band rock Indonesia Elpamas, Power Metal, dan lainnya. Log kemudian membuat label bernama Logiss Record dan ini membuatkan album ketiga God Bless “Semut Hitam” di tahun 1998. Album ini ludes dipasaran,dan menjadi produk pertama dari label tersebut.

03 Metallica IstimewaMetallica (foto: Istimewa)

Di awal tahun 80-an di Indonesia demam jenis musik evolusi dan heavy metal ini, yang dipengaruhi oleh band-band seperti Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Bukan hanya di Indonesia band-band ini sempat membat dunia terguncang karena kemunculannya.

Hampir di seluruh dunia waktu itu, anak-anak mudanya sedang mengalami demam musik Thrash Metal. Sebuah style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan Heavy Metal. Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan yang memang diisi oleh band-band beraliran rock dan metal.

Perkembangan band-band metal di Indonesia di era tahun 90-an kebanyakan dipengaruhi oleh kedatangan band Sepultura dan Metallica di Indonesia. Konser Sepultura di tahun 1992 di Jakarta dan Surabaya, telah sukses membakar semangat penikmat musik metal di kedua kota tersebut. Di tahun berikutnya 1993, Metallica yang selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Jakarta menjadikan group band ini salah satu konser band yang paling fenomenal kala itu.

Ini juga berdampak pada group band metal gaek Rotor yang kala itu sebagai band pembuka di konser Metallica. Dua kali membuka konser, Rotor merilis album Thrash Metal dengan Aquarius Musikindo  sebagai labelnya lewat album “Behind The 8th Ball” yang pertama di Indonesia.

Di awal tahun 1995, muncul band bernama Sucker Head yang sebetulnya seangkatan dengan Rotor. Namun karena lambat dalam membuat dan merilis album pertamanya, melalui label Aquarius Musikindo dengan judul “The Sucker Head”. Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.

Komunitas metal/ underground mulai berkembang terutama di Jakarta, Blok M yang menjadi pusat komunitas tersebut menjadi tempat hang out sekaligus menjadi tempat saling bertukar informasi, jual-beli t-shirt metal, sampai merencanakan konser. Beberapa band yang muncul di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghh, Tengkorak, Adaptor, Godzilla dan masih banyak lagi. Jenis musik metal yang di bawakan dan digrandrungi mereka adalah subgenre yang semakin ekstream seperti,  death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/ doom metal.

Perkembangan musik metal di Indonesia mencetak sejarah baru pada tanggal 29 September 1996, dimana muncul pagelaran musik Indie untuk pertama kalinya di Poster Cafe. Acara ini dinamakan “Underground Session” yang digelar setiap dua minggu sekali. Cafe legendaris sendiri merupakan milik rocker gaek Achmad Albar dan banyak melahirkan scene musik indie baru yang bermain dengan genre musik berbeda dan lebih variatif.

Di tempat ini Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang manggung di sana.

10 Maret 1999 adalah hari scene Poster Cafe tutup untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik, “Subnormal Revolution” yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Namun, bubarnya Poster Cafe diluar dugaan malah banyak melahirkan venue-venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie.

Cafe Kupu-Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik Ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 Cafe dan Cafe Gueni di Cikini untuk scene Brit / indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk / hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super sempit di Menteng sering disewa untuk acara Garage Rock-New Wave-Mellow Punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut,Devotion dan banyak lagi.

04 Koil IstimewaKoil (foto: Istimewa)

Selain di Jakarta, Bandung juga menjadi tempat untuk perkembangan musik ekstrem ini dan juga menjadi barometer rock underground di tanah air. Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air.

Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum manggung di sini belum afdhol rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.

Band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T, yang berasal dari Bandung. Salah satu band hardcore Indonesia Burger Kill juga  dibesarkan di kota ini.

Isu agama dan rasisme di kancah metal Indonesia sempat terdengar dan masuk ke ranah metal di Indonesia di awal tahun 2010. Saat itu ada gerakan yang disebut Metal 1 Jari, alias One Finger Movement. Metal 1 jari adalah sebutan untuk musik metal yang membawa isu agama dan tauhid dalam musiknya. Salah satu pelopornya adalah Hariadi Nasution, alias Ombat, vokalis Tengkorak. Satu jari merujuk pada salam satu jari telunjuk, yang menunjukkan ke Esaan Allah SWT. Mereka enggan memakai meloik, salam universal metal yang dianggap sebagai simbol setan.

Hal ini muncul disebabkan kondisi politik di tanah air kala itu. Penyebaran kampanye rasisme dan juga radikalisme amat sangat mungkin dilakukan di kancah musik dan dunia populer. Penyebarnya berupaya mencari medium yang dekat dengan dunia anak muda. Tujuannya tentu untuk mencari basis massa anak-anak muda.

Alangkah baiknya hal seperti itu tidak terjadi lagi di tanah air, musik apapun genrenya sebaiknya tidak membawa isu radikal dan rasis. Musik itu universal, bisa dinikmati oleh kalangan manapun juga. Jadi,  bagi para penikmat musik apapun jaga persatuan dengan melek dari hal-hal rasis dan radikalisme.  Salam Metal./ YDhew

 

Page 10 of 119