NewsMusik

NewsMusik

Tuesday, 06 February 2018 01:52

Yockie Suryo Prayogo

Sosok yang Tak Lekang Oleh Waktu

Malang tak dapat ditolak, akhirnya kabar duka tersebut datang juga tatkala Yockie Suryo Prayogo dikabarkan telah tutup usia pada usia 63 tahun dan telah dimakamkan di peristirahatan terakhirnya sekitar pukul 15.35 WIB. Ia yang sebelumnya terbaring sakit akibat pendarahan pembuluh darah di otak akhirnya harus menuntaskan janjinya pada sang Khalik.

Masih hangat diingatan kita pada akhir Januari lalu, kawan-kawan musisinya secara bersama-sama membuat konser amal bertajuk Pagelaran Sang Bahaduri. Seluruh pendapatan konser malam itu akan digunakan untuk pengobatan Yockie.  Konser yang digagas oleh para sahabatnya tersebut menghadirkan banyak nama kondang di panggung musik tanah air, sebutlah Andy /rif, Ariyo Wahab, Aning Katamsi, Benny Soebardja, Berlian Hutauruk, Bonita, Che Cupumanik, D’Masiv, Debby Nasution, Dhenok Wahyudi, Dira Sugandi, Fadly, Fariz RM, Nicky Astria, Kadri Mohamad, Keenan Nasution, Louise Hutauruk, Mondo Gascaro, Once, Tika Bisono, God Bless dan lainnya.

Semua pendapatan konser tersebut langsung disumbangkan kepada keluarganya untuk biaya pengobatan Yockie. Walaupun menurut Erros Djarot, Yockie menolak diadakannya pertunjukan tersebut yang mengatasnamakan bantuan untuk dirinya.

Ia yang lahir di Demak, Jawa Tengah pada 14 September 1954 dikenal sebagai seorang musisi handal, pencipta lagu yang pernah tergabung dalam berbagai grup rock seperti Bigman Robinson, Double O, Giant Step, Contrapunk, dan Jaguar, meski pada akhirnya Jockie memang lebih dikenal khalayak ketika ikut bergabung dalam kelompok musik rock God Bless.

02 YSOP Istimewa

Yockie Suryo Prayogo (Istimewa)

Ia begitu piawai dan mampu berbaur dalam genre apapun karena Yockie paham hampir semua genre dari klasikal, rock, jazz, pop. Tapi yang hebatnya juga ia mampu mempertahankan jati dirinya sebagai musisi yang memiliki karakter. Seperti jargonnya yang cukup terkenal adalah “Musik Saya Adalah Saya”

Sejarah musikpun mencatat ketika ia bergabung membentuk God Bless pada tahun 1972.  Corak permainan kibornya dianggap mumpuni untuk  memberi nyawa di tubuh God Bless. Sedikit menyisipkan aksentuasi berbau klasik, terutama membaurkan bunyi-bunyian piano dan Hammond B-3, orang sudah bisa menebak karakter God Bless.

Posisinya di super group tersebut sempat digantikan Abadi Soesman (Cermin) dan bergabung kembali dalam penggarapan album Semut Hitam yang dilepas kepasaran pada tahun 1988.

Pada era 1977, Yockie sebenarnya juga tengah getol berada di jalur musik pop. Saat itu ia menjadi arranger album Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang diadakan Radio Prambors. Kiprahnya menata aransemen lagu seperti Lilin Lilin Kecil (James F. Sundah) dianggap sebagai nyawa baru, dimana saat itu sebenarnya musik pop tampil begitu-begitu saja.  

Pada tahun yang sama, Erros Djarot menggandeng Yockie Suryo Prayogo untuk menggarap album soundtrack film Badai Pasti Berlalu bersama dengan sederet musisi seperti Chrisye, Berlian Hutauruk, Debby Nasution, Keenan Nasution, dan Fariz RM. Album ini pun akhirnya lahir menjadi fenomenal lewat sisi tata musik  serta penulisan lirik yang lebih puitis.

Gayanya dalam mengaransir musik seperti yang diciptakannya tersebut terus saja berlanjut ketika ia menggarap album-album solo Chrisye seperti “Percik Pesona”, “Puspa Indah Taman Hati”, “Pantulan Cinta”, “Resesi”, “Metropolitan”, dan “Nona”. Semuanya menjadi album fenomenal dan susah dicari bandingannya. Masih tetap terasa menggugah walau kita dengarkan lagi pada waktu ini.

03 YSOP Istimewa

Yockie Suryo Prayogo (Istimewa)

Diluar kerjasamanya dengan Chrisye, ia juga cukup produktif merilis sederet album solo, masih tetap bermain di wilayah pop dengan menggarap album-album dari berbagai penyanyi, mulai dari Dian Pramana Poetra, Keenan, Vonny Sumlang, dan sederet nama penyanyi lainnya.

Di akhir 80-an Yockie tercatat melibatkan dirinya dalam proyek Kantata Takwa yang digagas oleh Setiawan Djody dan ia banyak berkolaborasi lewat dimensi musik yang berbeda, berbaur dengan sosok-sosok seniman layaknya WS Rendra, Iwan Fals hingga Sawung Jabo. Kolaborasi yang menghasilkan sesuatu yang baru dalam intuisi bermusik Jockie.

Di luar Kantata Jockie pun ikut mendukung kelompok Swami bahkan membentuk kelompok Suket pada tahun 1992 bersama sederet pemusik asal Surabaya seperti Didit Saksana, Rere, dan Naniel. Kelompok yang sedikit memiliki persamaan dengan Kantata Takwa yang mengangkat tema-tema sosial.

Yockie  oleh teman-temannya dianggap keras kepala, apalagi jika berurusan dengan musik. Namun hal tersebutlah yang menurut Erros Djarot menjaganya tetap memiliki karakter seorang Yockie. Anggapan keras kepala terhadapnya ternyata tidak menjadikannya menepis semua hal baru yang datang dan dianggapnya menjadi tantangan.

"Saya ini musisi yang terbuka bekerja sama dengan siapa saja, termasuk dengan band yang muda-muda. Biar bagaimana pun, generasi saya harus memberi masukan kepada generasi yang lebih muda. Jangan sampai ada gap, karena pengalaman tidak akan bohong," ungkap Yockie pada tahun 2012, ketika berkolaborasi dengan Pure Saturday, band asal Bandung.

Begitulah, tak habis menceritakan sepak terjang almarhum Yockie Suryo Prayogo semasa hidupnya. Tanah air ini kehilangan musisi yang fenomenal dan berkarakter, tak banyak ditemukan sosok seperti dirinya di republik ini. Derai air mata kehilangan tak lama lagi juga akan kering, tapi karya yang terpatri tetap akan diingat sampai kapanpun. Tinggal bagaimana generasi penerus bangsa ini menjaga dan merawat agar waktu tak mencabut kiprah mereka dari ingatan kita semua./ Ibonk (...dari berbagai sumber)

Thursday, 01 February 2018 01:28

Nagaswara

Bersama Warner Chappell Mengelola Musik Dunia

Salah satu label berskala internasional, Warner/ Chappel Music (WCM), kemarin secara resmi mengalihkan hak publikasi ribuan lagu milik mereka kepada perusahaan PT Nagaswara Publisherindo Musik. Hal ini ditandai dengan penandatanganan kerjasama dengan Warner/ Chappell Music (WCM) dan Nagaswara di di bilangan SCBD Jakarta Pusat, Rabu (31/1).

Dalam penandatanganan kerjasama tersebut, Nagaswara diwakili oleh CEO NMC Rahayu Kertawiguna  sedangkan WCM diwakili Ms. Jacqueline Chong sebagai Senior Licensing dan Marketing Manager ASEAN Licencing Dapartment Warner/ Chappell Music.

WCM sendiri dikenal sebagai publisher music global yang berada di bawah Warner Musik Group. Mereka mengelola jutaan lagu dari puluhan ribu pencipta lagu international. Perusahaan ini mempunyai sub-Publisher atau kamar perwakiian yang mengelola lagu-lagu mereka di berbagai negara di seluruh dunia.

Ini merupakan sejarah baru di dunia musik Indonesia dan bagi NMC hal ini merupakan komitmen guna dikenal lebih luas lewat motto "Nagaswara for The World”. Kesepakatan kerjasama antara NMC dengan WMC, sudah dijajaki bebarapa bulan yang lalu. “Akhir Desember 2017 lalu, terjadi kesepakatan bahwa kita memperoleh hak untuk mengelola lagu lagu yang berada di bawah bendera WCM!” ungkap Rahayu dalam temu media

Menurut Rahayu Kertawiguna perjalanan kerjasama ini tidak mudah, tetapi melalui proses panjang. “Dan akhirnya terjadi kecocokan, sepakat dan menjadi jodoh seperti sekarang!” kata Rahayu. Lebih lanjut Rahayu menyebut, “Kita tahu WCM adalah salah satu perusahaan musik publishing dunia. Jadi, kepercayaan yang diberikan kepada PT Nagaswara untuk mengelola lagu lagu mereka di Indonesia tentu sangat kami apresiasi!”

02 CEO Nagaswara Music Corp Rahayu Kertawiguna

CEO Nagaswara Music Corp. Rahayu Kertawiguna (Istimewa)

Sebagai Publisher, pekerjaan NMC adalah menjaga, mengelola, dan melestaraikan karya lagu. Tidak sekedar mengeksploitasi dan menjual, tapi juga melindungi karya. “Ini bisa menjadi kepercayaaan kuat dengan WCM. Ini lebih ke dedikasi, supaya orang di sini, juga tidak mudah membuat cover version tanpa ijin. Terlebih menjiplak dan sebagainya. Jadi kita berupaya untuk orang menghargai karya!” ungkap Eddy, salah seorang petinggi di NMC.
 
Namun, kerjasama NMC dan WMC ini baru terjadi sepihak saja. Artinya, karya lagu pencipta Indonesia yang berada di bawah NMC belum secara otimastis langsung dikelola WMC secara mendunia, kecuali untuk kawasan Malaysia. ”Ini sebetulnya semua sangat tergantung kepada keputusan Pak Rahayu. Karena ini menyangkut market, kami sangat bahagia jika itu terjadi!” tutur Jacqueline Chong.

Sudah dapat dipastikan bahwa kerjasama ini akan semakin menegaskan lagi komitmen perusahaan yang berdiri sejak 1999 tersebut. Rahayu mengaku optimis bakal memberi nilai keuntungan dari komitmen kerjasama yang dijalin bersama WCM, selain  ingin belajar banyak lagi dari pengalaman dan nama besar Warner/Chappell Music.

Menurut Jacqueline Chong, WCM adalah publishing music company yang sudah berusia 200 tahun. “Kami menangani 75.000 song writer di seluruh dunia dan memiliki lebih dari 1.5 juta karya lagu. Kami sangat berbahagia karena bisa bekerja sama dengan salah satu perusahaan rekaman besar di Indonesia, seperti Nagaswara. Dan percaya meletakan catalog kami di Indonesia. Thank you Pak Rahayu,’ ungkap Jacquline.

Untuk diketahui katalog artis WCM adalah artis tenar dengan nama yang sudah mendunia, seperi: Barry Gibb, Led Zeppelin, Beyonce, Eric Clapton, Nate Rues, Jay Z, Katy Ferry, Lionsgate Film Madonna, Rihanna, Radio Head, Mouse, RHCP, Kendric Lamar, termasuk Bruno Mars yang baru saja menyapu bersih enam penghargaan musik utama dalam ajang Grammy Awards 2018.

Sementara. NAGASWARA Music Corp. atau NMC menuiu usia 19 tahun, membawahi PT.NAGA SWARASAKTI, NAGASWARA Publisherindo Musik, NAGASWARA Artist Management NAGASWARA Radiotaman dan NAGASWARA Video dan Film. Artis-artis di bawah  naungan NMC adalah; Wali, Zaskia Gotlk, Fitri Carilna, Siti Badriah, Delon, Firman, The Virgin Black Champagne dan lainnya.

Bagi Nagaswara sendiri, menjadi publisher dari lagu karya pencipta dunia, bukan hal yang pertama. Pada tahun 2005 mereka pernah menjadi publisher untuk musisi independen asal Jerman. Dari tahun 2005 hingga tahun 2011, NMC juga banyak mengambil lagu-lagu dance music dari Belanda, Jerman, Austria dan sebagainya./ Rizal

Thursday, 01 February 2018 06:37

Purwa Caraka Music Studio

30 Tahun Mencerdaskan Generasi Lewat Musik

Seperti yang kita ketahui, Purwa Caraka Music Studio (PCMS) adalah lembaga kursus musik yang dimotori sepenuhnya oleh Purwa Caraka. Lembaga ini telah sukses mencetak penyanyi-penyanyi maupun pemain musik handal di Indonesia. Siapa sangka jika PCMS sendiri sudah berkibar selama 30 tahun di tanah air, dan untuk hal tersebut kang Purwa tengah mempersiapkan kegiatan yang menandakan keberadaan mereka.

Menyikapi rencana ini, didampingi sang putra Aditya Purwa Putra sengaja mengadakan tatap muka dengan media perihal rencana mereka tersebut yang dikemas dalam tema “The Journey 30th Purwa Caraka” pada Rabu 31 Januari 2018 di bilangan Menteng, Jakarta.

Pada kesempatan tersebut kang Purwa menyampaikan kalau dirinya usai mengikuti Asia Pacific Art Festival di Kuala Lumpur, Malaysia. "Ya.. kita habis ikut Asia Pasific Arts Festival di Kuala Lumpur, nanti acara puncaknya bulan November di Taman Ismail Marzuki," kata Purwa Caraka.

Aditya Purwa Putra yang saat ini membantu kegiatan PCMS di seluruh Indonesia, menambahkan bahwa saat ini Purwa Caraka Musik Studio sudah mendapatkan 6 Distinction Gold Awards, 31 Gold Awards, 13 Silver Awards. "Juga menjadi 1st Runner Up in Music Category dalam ajang Asia Pacific Arts Festival di Kuala Lumpur, Malaysia," ucap Adit.

02 Purwa Caraka Adit dan Siswa Berprestasi Ibonk

Kang Purwa, Adit dan Dua Siswa Berprestasi (Foto: Ibonk)

Ini merupakan prestasi tersendiri dan sepatutnya dipertahankan dan dikembangkan untuk meningkatkan benchmark, standar kualitas dari PCMS. Untuk mewujudkan hal itu, kang Purwa mengatakan bahwa sudah mendirikan tiga Purwa Caraka Music School Education Center. "Kami mendirikan 3 PCMS Education Centre yang bobotnya sedikit di atas PCMS untuk mengangkat kualitas," ujarnya.

Selain itu, mereka juga membuka kelas baru untuk mengikuti perkembangan zaman. "Kita juga membuka kelas kelas baru untuk mengikuti perkembangan zaman. Karena lembaga pendidikan seharusnya semakin dewasa semakin matang," tuturnya.

Balik ketema besar “The Journey 30th Purwa Caraka” serangkaian kegiatan berkesinambungan akan dilakukan sejak 26 Januari sampai 3 November 2018 mendatang, seperti Asia Pasific Arts Festival di Kuala Lumpur, Final Festival Drum PCSM se Indonesia, Lomba Desain Logo PCMS, Konser PCMS Choir di GKJ, ataupun Konser 3 Dekade di Teater Jakarta. Tercatat ada sekitar 9 kegiatan besar dan kecil yang dilaksanakan.

Tak hanya mengejar prestasi dan keuntungan semata, PCMS juga tengah menggiatkan kegiatan pentingnya pengetahuan musik bagi anak-anak di Indonesia. Dikatakannya bahwa mereka sudah melakukan CSR di beberapa Sekolah Dasar yang terfokus pada daerah asal berdirinya Purwa Caraka Musik Studio, yakni kota Bandung.

03 Puwa Caraka Ibonk

Purwa Caraka (Foto: Ibonk)

"Kita sudah melakukan CSR di beberapa Sekolah Dasar di daerah Bandung. Kita membantu sekolah-sekolah dasar yang berpotensi tapi kekurangan atau bahkan tidak mampu untuk mengadakan instrumen musik untuk siswanya”, ucapnya.  

Kini, dalam perjalanan menuju 30 tahun eksistensinya, PCSM telah memiliki 93 cabang di seluruh tanah air, 1600 orang pengajar dan 20.000 siswa yang sebagian besar adalah anak-anak usia sekolah. Lembaga ini meyakini bahwa musik bukan saja memberi kehidupan dan dinikmati, tetapi dapat meningkatkan kecerdasan seseorang, terutama anak-anak. / Ibonk

Tuesday, 30 January 2018 01:08

Mike Shinoda

Lewat EP Luapkan Rasa Kehilangan Terhadap Chester Bennington

Walau kepergian Chester Bennington akibat meninggal bunuh diri pada Juli 2017 lalu, ternyata masih saja meninggalkan rasa kehilangan yang teramat sangat. Seperti yang dirasakan dan dilakoni oleh rapper Linkin Park, Mike Shinoda, yang baru saja merilis EP terbarunya. Mini album bertajuk “Post Traumatic” ini terdiri dari dari 3 lagu dan menjadi karya musik pertama yang dirilis Mike Shinoda.

Seperti yang diakui oleh Mike, bahwa album ini adalah luapan perasaan akan apa yang terjadi dalam setengah tahun terakhir. “Album ini berisi tiga buah lagu ‘Place to Start’, ‘Over Again’, dan ‘Watching As I Fall’, dan kesemuanya untuk mengenang Chester Bennington”, akunya.

Mini album “Post Traumatic” EP mulai dirilis secara resmi sejak 25 Januari kemarin. Selain itu, Mike Shinoda juga meluncurkan 3 video berbeda untuk masing-masing track. Klip sederhana yang dirilis memperlihatkan Shinoda dalam berbagai scene berbeda, ketika membawakan track dari EP tersebut.

02 Mike Shinoda Istimewa

Mike Shinoda (Istimewa)

Lagu pertama yang diberi judul ‘Place to Start’, menampilkan voicemail yang tertinggal di ponselnya setelah kematian Bennington. Disusul dengan ‘Over Again’ dimana Mike mengungkap rasa kehilangan yang besar akan Chester Bennington. Sekaligus bagaimana perasannya harus tampil seorang diri di konser tribute untuk sang rekan.

Track terakhir yang bertajuk ‘Watching As I Fall’ masih menceritakan tentang rasa sedih dan juga kehilangan arah paska kehilangan Chester Bennington. Sebelumnya, Mike telah berdiskusi dengan para penggemar melalui twitter terkait lagu yang dirilis untuk mengenang Chester Bennington. ... dan inilah cerminan dari duka  Mike atas kehilangannya terhadap sahabatnya tersebut./ Dek

Tuesday, 30 January 2018 00:41

Sheila On 7

Film Favorit, Singel Terbaru di Awal 2018

Alkisah pada tahun lalu, Duta dan kawan-kawan yang tergabung dalam Sheila on 7 pernah berjanji aka nada sebuah single bertajuk Film Favorit akan dirilis mengawali 2018. Janji tersebut akhirnya dilaksanakan.  Melalui akun twitter mereka Sheila On 7 mengumumkan single tersebut telah dirilis pada Jumat, 26 Januari 2018 lalu.

Single ‘Film Favorit’ tersebut akhirnya serentak diperdengarkan di beberapa stasiun radio. Kemudian, mulai 29 Januari kemarin, tunggalan itu sudah mulai bisa diunduh dan dinikmati secara streaming di kanal-kanal musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan Deezer.

Duta sang vokalis, sebelumnya memang menjanjikan musik yang disajikan dalam single ini akan lebih segar. Tunggalan ini juga akan menjadi pembuka karya mereka yang dirilis dengan label milik sendiri, bernama 507 Records. Untuk pertama kali Sheila On 7 di penggarapan album baru ini melibatkan music director. Tomo Widayat dan Tama Wicitra, dua teman lama Sheila On 7 dari Yogyakarta dilibatkan di penggarapan materi baru mereka kali ini.

Dalam perjalanan mereka bermusik lebih dari dua dekade, Sheila On 7 telah melahirkan delapan album studio. Album terakhir yang mereka luncurkan berjudul “Musim Yang Baik” pada 2014 silam. Album yang berisi 10 lagu tersebut melejitkan satu single hitsnya berjudul  ‘Lapang Dada’.

02 Film Favorit Istimewa

Single terbaru Sheila on 7 'Film Favorit' (Istimewa)

Lebih dalam menelusuri karya terbaru mereka ini adalah menceritakan tentang kisah seseorang yang berusaha menaklukan hati orang yang disukainya, dengan cara yang seperti di film favorit orang tersebut, bahkan jika bukan sebagai pemeran utamanya. Semuanya tersirat dipenggalan lirik lagunya... "Semua cara akan kucoba, walau peran yang kumainkan bukan pemeran utamanya...“.

Sejauh apa keberhasilan tunggalan ini membuka keberuntungan mereka di tahun 2018 ini? Mari kita tunggu saja..../ Ismed

Monday, 29 January 2018 01:25

The Lord

Bermula dari De-Kill

Sejarah dunia hiburan di Jakarta banyak menorehkan tinta emas dalam perkembangannya. Salah satu cerita adalah pada era generasi bunga yang merebak di awal tahun 1968. Sebuah era yang melahirkan banyak band-band baru dengan beraneka ragam nama seperti: Flower Potmen, Gipsy, BeatStone, The Hips, Spokesman, Free Love, Ireka, Coklat Madu, Thumpest & The Playboy, Bigman Robinson, Dayasi, dan termasuk didalamnya De-Kill yang terkesan sangar.

"Padahal namanya dicomot dari bahasa Betawi dekil alias jorok", tutur Firman Ichsan sang drummer. Bersama Yudi Yusuf, Doni & Dono, De-Kill merambah ke pesta-pesta anak muda Menteng dan Kebayoran Baru. "Setiap malam minggu De-Kill diundang main di pesta teman-teman dekat, tanpa dibayar sepeserpun. Tapi kita semua happy, karena tambah banyak teman yang mengundang main di pestanya".

Namun diperjalanan De-Kill hanya mampu bertahan selama 2 tahun, lantas bubar dikarenakan para personelnya pindah sekolah yang berjauhan. "Gua sama Adi Ichsan, Tammy Daud, Doni bikin grup baru dengan nama The Lord. Kami mainnya cuma di pesta-pesta anak Menteng dan Kebayoran Baru atau di rumah gua sendiri di Teuku Umar", aku Firman.

02 Firman Ichsan Istimewa

Firman Ichsan (Foto: Istimewa)

The Lord sempat tampil di pesta musik anak-anak Imada di TIM. "Seru juga bisa manggung disuasana yang berbeda. Shownya di siang hari bolong bareng sama Ireka, bandnya anak-anak kolong Bearland. Dari situ The Lord berteman baik dengan anak-anak Ireka. Ketika mereka bikin pesta ulang tahun, The Lord diundang. Sempat punya perasaan ngeri main dikompleks tentara, tapi Ucup pemain bass Ireka ngomong kalau dirinya yang jadi jaminannya”.

Begitulah akhirnya, The Lord selain main di pesta-pesta, juga pernah mengisi acara di Blow Up, yang pada waktu itu adalah sebuah club khusus anak muda yang terletak diatas Hotel Indonesia. Lagu-lagu yang dimainkan juga campur aduk, ada The Beatles, Bee Gees, John Mayall dan Peter Green.

"The Lords tidak terikat satu aliran, pokoknya lagunya enak, dikenal banyak orang .Terus kita latihan sampai hapal buat mengiringi para buaya pesta berdansa dansi disetiap malam Minggu", tutup Firman Ichsan ./ Buyunk

Friday, 26 January 2018 08:50

Konser Sang Bahaduri

Pagelaran Terbaik di Awal Tahun

Akhirnya, semua berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Walaupun ada kendala, tapi masih dalam batas wajar. Diakhir acara rasa syukur dan lega terpancar di wajah-wajah tim kreatif acara konser Pagelaran Konser Bahaduri dan mereka yang terlibat langsung mempersiapkan event ini. Konser yang sengaja dibuat untuk mengapresiasi karya-karya musik Jockie Suryoprayogo di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Rabu, 24/1 malam.

Konser ini sendiri juga diliputi kesedihan, karena Sys NS yang turut terlibat mempersiapkan keberhasilan acara ini harus berpulang sehari sebelum konser ini dilaksanakan. Akhirnya,  memang tidak hanya Jockie yang jadi tokoh sentral malam itu, tetapi juga almarhum Sys NS menjadi hal yang banyak dibicarakan.

Selain mempersiapkan God Bless sebagai penampil kejutan, Sys juga seharusnya menjadi salah satu pemberi testimoni tentang  hubungannya dengan Jockie.  Karena hubungan Jockie dan Sys NS terjalin sejak diadakannya Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors tahun 70 an.

Konser dibuka lewat kehadiran Aning Katamsi dan Che Cupumanik yang membawakan lagu yang diaransemen oleh Jockie dari lirik puisi WS Rendra berjudul ‘Kesaksian’. Lepas keduanya, muncul lady rocker yang lama menghilang, Nicky Astria lewat tunggalan ‘Biar Semua HIlang’. Nicky tak sendiri, tapi ditemani oleh pemain akordion wanita terbaik negeri ini, Windy Setiadi.

02 Sarah Ibonk

Sarah (Foto: Ibonk)

Kehadiran Nicky membuat sebagian penonton yang memadati venue berteriak histeris karena kerinduan mereka.  Mudah-mudahan lewat penampilannya di konser ini, Nicky bisa memotivasi dirinya untuk membuat konser tunggal atau minimal sering-sering mengisi panggung-panggung musik di dalam negeri. Karena suaranya nan khas, dan kemampuannya berolah vokal yang tak berubah membuat kerinduan penggemarnya tetap membuncah.

Lepas Nicky, hadir  turut hadir juga salah seorang pentolan Pegangsaan, Keenan Nasution yang hadir membawakan tembang masterpiecenya ‘Nuansa Bening’. Bak menyihir semua yang hadir hingga semua ikut bernyanyi bersamanya. Setelah Keenan, hadir pula Dhenok Wahyudi dengan lagu ‘Dalam Cita dan Cinta’, dilanjutkan Fryda Luciana menyanyikan lagu ‘Dalam Kelembutan Pagi’.

Selanjutnya hadir God Bless yang memang menjadi sessi kejutan. Singa tua dalam industri musik rock tanah air ini, memang tidak disiapkan buat manggung di Konser Sang Bahaduri. Ini semua memang ide Sys, yang disampaikannya kepada Seno M Hardjo serta Donny Hardono punggawa DSS.

Dalam perjalanan karirnya, Yockie memang pernah bergabung dalam formasi God Bless tahun 1972. Lewat formasi Yockie (keyboards), Achmad Albar (vocal), Donny Fattah (bas), Ian Antono (gitar) dan Teddy Sujaya (drums). Formasi yang terpilih buat mendampingi Konser Deep Purple tahun 1975 di Stadion Utama Senayan Jakarta.

03 Berlian Hutauruk Ibonk

Berlian Hutauruk (Foto: Ibonk)

Usai Godbless, sederetan penyanyi seperti Benny Soebardja, Glenn Fredly, Gilang Samsoe, Louise Hutauruk, Andi /rif, Fadli Padi, Mondo Gascaro, Tika Bisono, Fariz RM yang berduet dengan Sarah putri Yockie Suryo Prayogo, Dira Sugandi, Bonita dan Once tampil berkesinambungan.

Ujung konser ini menampilkan kuncian yang selalu ditunggu di konser-konser sejenis. Vokal Berlian Hutauruk tampil membawakan lagu ‘Matahari’ dan berlanjut dengan ‘Badai Pasti Berlalu’ seakan menjadi puncak adrenalin dari konser ini. Penampilan kemudian ditutup dengan alunan vokal Ario Wahab menyanyikan tunggalan ‘Juwita’ bersama-sama pendukung lainnya dipanggung.

“Kita harus akui Yockie adalah aset bangsa yang tidak ternilai.  Sama dengan para artis lainnya yang tengah menderita sakit. Kita tengah membangun ekosistem agar mereka lebih terlindungi baik kala sehat maupun sakit. Saya bersama Bekraf terus berjuang untuk itu,”  ungkap Triawan Munaf selaku Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).

04 Ario Wahab Ibonk

Ario Wahab dan Artis Pendukung (Foto: Ibonk)

Ia yang menyaksikan acara ini mengaku amat bangga melihat karya-karya Yockie dihadirkan oleh para musisi lintas usia. Sementara Erros Djarot selaku sahabat Yockie dengan sedikit  emosional memberikan kritik kepada pemerintah dengan harus memberikan perhatian lebih  terhadap para musisi seperti Yockie yang kini tengah sakit.

Memang sepatutnya pemerintah memberikan perhatian khusus bagi para musisi yang telah banyak menunjukkan karya dan mengharumkan nama bangsa. Nama Yockie, bisa jadi jaminan mutu, sehingga mendapat dukungan penuh dari sahabat-sahabat musisi dan mampu mengumpulkan dana sebesar Rp. 514 juta dalam semalam.

Bagaimana dengan musisi lainnya? Seperti Oding Nasution yang tengah terbaring sakit dan memerlukan cuci darah. Juga musisi-musisi lain yang kemampuan ekonominya jauh di bawah standar. Agar tak terkesan negeri ini kerap melupakan mereka para musisi yang telah menorehkan karya-karya terbaiknya./ Ibonk
  

Thursday, 25 January 2018 06:37

Sys NS

Kreatif dan Guru Bagi Banyak Orang

Umur manusia adalah rahasia Ilahi, sebuah misteri yang hanya diketahui oleh sang Khalik. Seperti beberapa hari lalu ketika Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns. Soerio Soebagio atau lebih dikenal dengan nama Sys NS harus meninggalkan kita semua, menyongsong janjinya dengan sang pencipta. Semua terkesiap, dan hanya bisa membisikkan doa, agar diberikan tempat terbaik disisiNya.

Sys NS lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 18 Juli 1956, dan merupakan salah satu individu yang cukup di kenal di negeri ini. Ia adalah penyiar, seniman, aktor, sutradara, politisi dan beberapa profesi lainnya. Walau terlahir di Semarang, orang tua Sys sebenarnya tinggal di Jakarta. Cuma kebiasaan sang bunda (Siti Suciati), ketika kandungan sudah sampai di bulan ke tujuh, ia sengaja pulang ke rumah ibunya (nenek Sys) di Semarang untuk melahirkan disana.

Ia menikah dengan Shanty Widhiyanti, SE, dan dikaruniai 3 orang anak, Syanindita Trasysty, Sabdayagra Ahessa, dan Sadhenna Sayanda. Sejak muda, Sys banyak bergaul dengan para selebriti/ musisi di negeri ini.  Semuanya dimulai saat Sys duduk di bangku SMU, orang tuanya yang pindah ke Semarang. Namun Sys memilih tetap tinggal di Jakarta meneruskan sekolahnya.

Sejak itu, dia pun sekolah sambil mencari uang sendiri sebagai disc jockey. Pernah mengecap status sebagai mahasiswa di IKJ, namun akhirnya Sys lebih memilih melakoni profesinya tersebut ketimbang kuliah. Ketika menggeluti disc jockey, ia pernah memperoleh penghargaan sebagai The Best of Disc Jockey of Indonesia pada tahun 1975.

02 Sys NS Istimewa

Sys NS (Foto: Istimewa)

Setelah tidak kuliah lagi, hampir semua profesi pernah dia lakukan khususnya yang berhubungan dengan dunia seni hiburan. Jadi penulis skenario, sutradara, pemain film bahkan bergabung bersama Muklis Gumilang, Pepeng, Krisna dan Nana Krip dalam kelompok humor Sersan Prambors. .  

Memang karirnya sebagai penyiar radio di Radio Audio pada 1972. Kemudian pindah menjadi penyiar di radio Prambors pada 1975 hingga 1987 membuat namanya melambung tinggi dan dikenal kemana-mana, menjadikannya manusia super kreatif. Memiliki pemikiran yang out of the box di zamannya, tak heran gawe apapun yang dilakoninya menambah tonggak keberhasilan dirinya.

Keberhasilannya di lingkungan pekerjaan diikuti juga dengan kiprahnya di bidang organisasi, seperti menjadi Ketua Kasta (Kekerabatan Antar Siswa se Jakarta) Prambors, Ketua Laboratorium Seni Prambors, juga pernah menjadi Ketua Gabungan Artis Nusantara, ataupun Ketua Umum PB PARFI periode 1998-2002.

Dalam dunia politik ia pernah duduk menjadi Anggota Badan Pekerja (PAH II) MPR-RI periode 1999-2000, Anggota MPR-RI, Utusan Golongan periode 1999-2004. Pada tahun 2001, Sys menjadi salah satu pendiri Partai Demokrat dan Partai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang akhirnya namanya diubah menjadi Partai Nusantara Kedaulatan Rakyat Indonesia.

Sys adalah sahabat semua, dan dunia hiburan menjadi benang merah yang begitu kuat dan nyata membawanya kekalangan manapun. Kepergiannya untuk selamanya pada  23 Januari 2018 silam di usia 61 tahun meninggalkan banyak kesan di hati setiap sahabatnya. Sepertinya, tak ada acara yang sepi kalau dirinya terlibat. Sys cukup piawai mengemas acara apapun.

03 Sys NS Jelly Tobing JKL 2016 Ibonk

Sys NS & Jelly Tobing di JKL 2016 (Foto: Ibonk)

NewsMusik juga merasakan langsung, tatkala menggelar event Jumpa Kawan Lama (JKL) 2016 yang ke 4 kalinya. Sys sebagai seksi repot dan juga bertindak sebagai MC di acara ini mengatakan, bahwa event ini akan menjadi kenangan para sobat-sobatnya sebagai pesta generasi bunga. Kenyataannya sesuai dengan prediksinya, JKL yang diadakan di bilangan Kemang tersebutpun akhirnya menjadi pesta nostalgia yang meledak.

JKL 2018, yang akan direncanakan di tengah tahun ini, juga sangat kehilangan. Bersama Maxi Gunawan selaku penggagas, NewsMusik dan tim inti, Sys sudah beberapa kali mengadakan meeting untuk persiapan acara ini. Kepergiannya yang terasa mendadak, membuat sementara persiapan acara tersebut seolah tertatih.

Begitulah, seorang Sys NS adalah jiwa yang tak pernah mati, bagi keluarga dan seluruh penggemarnya. Kehidupan adalah perjalanan teramat singkat, namun bisa menjadi berarti ketika seseorang mampu berkarya dan menjadi kebahagiaan bagi sesama..... dan Sys telah membuktikan hal tersebut.

Selamat jalan, kami selalu mengenangmu....../ Ibonk

Tuesday, 23 January 2018 00:54

Nada Kita

Menghubungkan Millenials dengan Brand Lewat Musik

Berada di era globalisasi seperti sekarang ini, masyarakat semakin dimanjakan dengan kemajuan teknologi. Salah satu yang paling diuntungkan adalah para pencinta musik. Tidak ada lagi batasan yang menjadi penghalang. Siapapun bisa dengan mudah mendengarkan musik melalui aplikasi yang tersedia di smartphone mereka, salah satunya yang terbaru adalah lewat aplikasi berngaran Nada Kita.

Merilis fitur baru, Brand Chanel, aplikasi ini bermaksud ingin memudahkan sebuah merk untuk mengintegritas musik dengan mudah ke pelanggan-pelanggan mereka. Apalagi seperti kita ketahui bahwa mendengarkan musik adalah aktivitas yang paling sering dilakukan oleh pengguna smartphone.

Con Raso, Direktur Pelaksana Tuned Global dan Pemilik Bersama Nada Kita menjelaskan, bahwa Brand Channel merupakan halaman khusus di halaman Nada Kita, yang memungkinkan brand berkomunikasi lebih dalam, dan langsung dengan penikmat musik. “Untuk saat, Nada Kita untuk Brand telah tersedia di beberapa brand yaitu, SPC Mobile, Evercoss, Lazada, dan Smartfren,”tutur  Con Raso di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (22/1/2018).

Dirinya mencoba membandingkan dengan studi Nielsen yang menunjukan bahwa iklan audio mendorong peningkatan daya ingat sebesar 24%, dibandingkan dengan iklan display biasa. “Menggunakan musik dalam strategi pemasaran biasanya selalu rumit, mahal dan sulit diukur, oleh karena itu kami menciptakan Nada Kita Brand Channels,” tutur Con Raso.

02 Con Raso Direktur Pelaksana Tuned Global Ibonk

Con Raso, Direktur Pelaksana Tuned Global (Foto: Ibonk)

Selanjutnya Con Raso menjelaskan, bahwa Brand Channel melengkapi penawaran awal Nada kita untuk brand yang sudah mencakup Branded mix musik untuk menyasar khalayak tertentu sesuai aliran musik, suasana hati dan momen tertentu.

Nada Kita menyasar penikmat musik sehari-hari, secara luas yang biasanya mendengarkan siaran radio lokal. Disebutkan Con Raso, mereka mendengarkan lagu hits, lokal dan musik yang akrab di telinga setiap hari. Namun pada dasarnya, menurut Con Raso, mereka mencari rekomendasi dan daftar putar yang siap digunakan.

“Nada Kita menggabungkan apa yang terbaik dari radio, yaitu kemudahan, dan yang terbaik dari digital yaitu interaktif dan personal. Kami bangga dengan apa yang telah kami capai. Dalam waktu kurang dari satu tahun tanpa anggaran sebesar pesaing multinasional kami, “ sebut Con Raso.

Menurut data yang ada, mendengarkan musik adalah salah satu dari tiga aktifitas yang paling dilakukan di smartphone dan Nada Kita berhasil mengambil celah tersebut. Terbukti  kurang dari setahun ini, Nada kita kini telah digunakan 2 juta orang di Indonesia per Desember 2017. Nada Kita menyasar penikmat musik lewat siaran radio lokal, dan mencari rekomendasi serta daftar lagu yang siap diputar.

03 Drian Nugroho Musica Raymond Tedjokusumo CEO SPC Mobile Con Raso Co founder Nada Kita Tuned Global Ibonk

Drian Nugroho (Musica), Raymond Tedjokusumo (CEO SPC Mobile), Con Raso (Co-founder Nada Kita - Tuned Global) (Foto: Ibonk)

Aplikasi ini disuguhkan dengan menggabungkan musik terbaik dari siaran radio dan musik digital sehingga pendengar bisa dengan mudah mendengarkan musik hanya lewat satu aplikasi.

Sejauh ini, Nada Kita telah melakukan kerjasama dengan label musik di Indonesia diantaranya Aquarius Musikindo, Musica Studio’s, MyMusic, Nagaswara, Trinity, dan VMC. Untuk label lainnya, akan segera ikut dirangkul dalam waktu dekat./ Ibonk

Monday, 22 January 2018 03:05

Whatever Band

Rilis Single Kedua Semesta Bersama

Divertune, yang merupakan label distribusi dari Divertone.com kembali melepas single berjudul ‘Semesta Bersama’. Tunggalan ini merupakan karya kedua yang dibesut oleh Whatever Band di bawah naungan Divertune.

Indra Batubara sebagai leader band dan pencipta lagu ini menuturkan bahwa ‘Semesta Bersama’ merupakan cerita tentang cara mensyukuri hidup serta siap menjalani keadaan apapun karena akan selalu ada harapan. “Menurut gue hidup ini harus disyukuri ya, dan yakin aja harapan selalu ada, tinggal gimana kita yang kejar dan raih,” urainya.

Group yang kini digawangi oleh Bara (Gitar & Vokal), Bowo (Gitar), Dema (Vokal), Tito (Bass), serta Oza (Drum) ini menganggap bahwa tunggalan ini merupakan kado khusus untuk para fans mereka yang telah menunggu rilisnya diawal tahun 2018.

Patut diketahui bahwa Whatever Band sendiri sudah cukup lama berkiprah di kancah musik-musik beraliran britpop. Semuanya diawali dari kegilaan mereka terhadap band asal Inggris, Oasis. Sejak mereka berdiri hingga akhirnya dikenal di pangggung-panggung pensi dan memiliki penggemar yang cukup loyal.

02 Whatever Band Istimewa

 Whatever Band (Foto: Istimewa)

Debut single band ini sebelumnya bercerita tentang kekaguman mereka terhadap John Lennon dan dibungkus lewat judul ‘Song For Lennon’. Lagu yang dieksplor atas penglihatan mereka terhadap sosok Lennon yang dikenal sangat kritis dan romantis di setiap lirik-lirik yang diciptakannya. Tak hanya itu tetapi juga gaya hidupnya yang dinilai identik dengan british musik.

Seperti karya sebelumnya, untuk lagu ‘Semesta Bersama’ versi digitalnya sendiri sudah dapat diunduh di iTunes, Spotify, Deezer dan Shazam. Sudah 2 tunggalan, dan mari kita nantikan debut album mereka./ Deks

Page 8 of 135