NewsMusik

NewsMusik

Tuesday, 28 November 2017 18:33

Konser Ayat Ayat Cinta

Menyajikan 4 Diva Kondang Indonesia

Kesuksesan film Ayat Ayat Cinta di tahun 2008 yang menceritakan tentang Kisah Fahri, Aisha, dan Maria yang penuh problematika dan perjuangan untuk mendapatkan cinta yang tulus seolah masih terus dalam ingatan pecinta film tanah air. Kesuksesan film ini juga tidak lepas dari vokal Rossa yang menyanyikan lagu soundtrack ‘Ayat-Ayat Cinta’ milik Melly Goeslaw di periode yang sama.

Jelang film Ayat Ayat Cinta 2 yang akan tayang 21 Desember 2017, MD Live Production mempersembahkan “Ayat Ayat Cinta in Concert with Live Orchestra – Colours of Love”. Konser ini akan di gelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center hari Rabu, 20 Desember 2017.

Konser ini akan menyuguhkan beberapa lagu dari 4 Diva kenamaan Indonesia, Rossa, Krisdayanti, Isyana Saravati dan Raisa dengan durasi sekitar dua jam. Manoj Punjabi selaku CEO dari MD Live Production menjanjikan show yang akan spektakuler dari 4 Diva tersebut. “Bukan perkara mudah menyatukan 4 Diva ini ke dalam satu panggung, mereka merupakan kombinasi yang luar biasa. Mereka siap ntuk tampil spektakuler,” ujar Manoj Punjabi sewaktu di temui dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (27/11).

Hal ini merupakan strategi yang sangat penting untuk film Ayat-Ayat Cinta 2 sebelum tayang. Band Payung Teduh pun turut menambah sederet musisi yang sudah mengisi lagu untuk film sekuel ini. Tak banyak informasi baik mengenai lagu ataupun kolaborasi dari artis yang akan tampil dan tentu saja masing-masing mempunyai basis penggemar di tanah air. “Yang jelas nanti ada kolaborasi dari salah satu Diva, cuma belum bisa saya kasih tau sekarang. Akan ada surprise tambahan," janji Manoj Punjabi.

02 Manoj Punjabi Rossa

Manoj Punjabi & Rossa (Foto: Tez)

Rossa, yang berhasil menghidupkan film Ayat Ayat Cinta, akan membawakan single terbaru berjudul ‘Bulan Dikekang Malam’. Sementara Isyana Sarasvati akan melantunkan sebuah lagu yang berjudul ‘Masih Berharap’ yang diciptakan Yovie Widianto dengan aransemen musik lagu oleh Ari Renaldi.  Terakhir Raisa akan membawakan lagu ciptakannya sendiri ‘Teduhnya Wanita’.

“Show ini akan menampilkan elemen-elemen di luar ekspektasi kita, untuk para fans akan mendapat sesuatu yang menarik di konser ini. Bukan hanya satu tetapi beberapa kombinasi,” janji Manoj Punjabi.

Ayat Ayat Cinta 2 kembali mengangkat kisah dari Novel karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul sama dan disutradarai oleh Guntur Soehardjanto. Menceritakan kerinduan seorang Fahri (Fedi Nuril) terhadap wanita yang dicintainya.

“It’s about love, temanya tentang cinta, cinta terhadap siapapun, baik terhadap isteri, tetangga, maupun negara, everything about love. Dan Colours of Love merupakan best tema untuk konser Ayat-Ayat Cinta,” tutup Manoj Punjabi./ Tez

Saturday, 25 November 2017 10:30

Konser In Memoriam, Perjalanan Sang Legenda

Menghadirkan Kembali karya Benny Panjaitan

Apa yang direncanakan akhirnya tuntaslah sudah, dimana sejumlah penyanyi dan pejabat tanah air akhirnya bisa bernafas lega dengan suksesnya mereka menghadirkan konser untuk mengenang mendiang Benny Panjaitan yang berpulang pada tanggal 23 Oktober lalu.

Mengukir kenangan manis lewat karya-karya sang frontman band Panbers, sedari awal perjalanan kariernya di kancah musik tanah air. Dikemas lewat konser bertajuk "In Memoriam, Perjalanan Sang Legenda", Kamis (23/11) malam, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Tak diragukan lagi, segelontoran tembang kenangan karya Benny dibawakan secara bergantian diatas panggung di antaranya oleh Nia Daniaty, Dian Piesesha, Panbers Junior, Saut Situmorang, Joy Tobing, Hendri Lamiri, dan Diah Permatasari. Alunan lagu-lagu yang seakan tak lekang oleh waktu tersebut mengalir indah mengikat kenangan dalam tiap individu yang hadir.

Tak ketinggalan pula beberapa pejabat negara seperti Menko PMK Puan Maharani, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Anggota Komisi III DPR Junimart Girsang tak ketinggalan ikut menyumbangkan suara mereka melantunkan lagu-lagu mendiang Benny. Diiringi oleh Amigos band, serta dipandu oleh Helmy Yahya dan Ratna Listy sebagai pembawa acara malam itu.

IMG 1942

Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Foto: Ridh)

Cukup berkesan ketika Kapolri Jenderal Tito Karnavian malam itu menyanyikan lagu berjudul ‘Musafir’ yang cukup hits dibawakan dulunya oleh Panbers, sedangkan penyanyi senior Nia Daniaty sengaja memilih lagu ‘Cinta Abadi’. Sementara Menko PMK, Puan Maharani ditemani Dian Piesesha berduet membawakan lagu ‘Akhir Cinta’. Konser malam itu pun semakin manis dengan penampilan Panbers Junior yang membawakan beberapa hits Panbers di masa jayanya silam.

Seperti yang disampaikan Gusti Randa, yang bertindak selaku sound director konser, total pengisi suara di konser teraebut ada sekitar 67 orang. "Sebetulnya banyak sekali yang ingin ikut terlibat, tapi kami terpaksa batasi karena durasi pemakaian gedung kan juga terbatas," pungkas Gusti Randa

Secara garis besar, konser yang diproduseri Trimedya Panjaitan ini cukup banyak mendapat antusias dari masyarakat pecinta musik dan kalangan artis. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak  karya-karya mendiang Benny Panjaitan semasa jayanya menjadi begitu akrab di telinga masyarakat./ Rz

Sunday, 26 November 2017 10:31

The Groove

Ogah Disebut Group Jazz

Sempat vakum selama 11 tahun, group musik beraliran acid musik atau pop jazz yang beranggotakan 7 orang yaitu Ali Akbar (Piano), Arie Arief (Gitar), Ari Firman (Bas), Deta Gunima (Drum), Rieka Roslan (Vocal), Reza Hernanza (Vocal), Rejoz (Perkusi), dan Tanto Putrandito (Keyboard), tidak membuat mereka kehilangan energinya untuk menghasilkan karya.

Ditemui NewsMusik sewaktu acara jumpa pers “The 90’s Festival”, The Groove yang hadir diwakili oleh Reza dan Rejoz selalu bersyukur masih diberikan kesempatan untuk selalu bertahan dan masih bisa eksis sampai sekarang. “Rumah kita itu adalah The Groove, jadi pada waktu bubar, memang kita main dengan orang lain dan pasti ada sesuatu yang kurang. Karena memang kita bisa dipakai oleh orang lain, karena basic-nya kita di The Groove. Jadi energi itu kita kumpulin lagi, sampai kita kumpul bareng dan akhirnya bisa seperti sekarang,” ungkap Rejos di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/11).

Bermula dari album perdana yang dirilis tahun 1999 “Kuingin”, membawa mereka menjadi salah satu band yang digandrungi kala itu. Setelah  merilis album ”Hati-hati” di tahun 2004,  Rieka keluar dari group musik ini dan meniti karirnya sebagai penyanyi solo. Setahun kemudian merekapun membubarkan diri setelah album “The Best” dirilis. Walau tak sepenuhnya hilang, namun sejak saat itu nama The Groove seakan pudar di peta musik Indonesia.

Seperti yang disampaikan diatas, lepas sebelas tahun berlalu, The Groove akhirnya bangkit lagi bersama Rieka di posisi vokal seperti sebelumnya. Kembalinya mereka ditandai dengan dirilisnya album “Forever U’ll Be Mine” di tahun 2016 lalu.

“Bagi saya The Groove merupakan band yang dari awal kita tahu susahnya, yang benar-benar susah.  Ngalamin sukses bareng, susahnya juga kita ngalamin bareng-bareng, up and down jadinya. Ya, mungkin itu yang bikin kangen kita ngalamin semuanya. Jadi karena sudah ngerasa senasib kali ya... Sudah jadi keluarga, kalau nggak ketemu salah satunya pasti kangen. Kangen bukan cuma senang-senangnya saja. Kadang-kadang kecerewetan Rieke yang kalau dia nggak ada kita cariin. Itu yang membuat kita jadi hidup” ujar Reza.

02 The Groove Ibonk

The Groove (Foto: Ibonk)

Saat ini, secara personil The Groove sedikit banyak terlihat berubah secara fisik, namun tidak dengan kualitas mereka. Mereka masih memiliki energi yang sama seperti pertama kali mereka muncul di industri musik tanah air. “Setiap kali manggung kita selalu berasa mendapat energi kembali, karena energi tersebut memang kita butuhkan untuk bisa eksis sampai sekarang. Oleh karena itu kita selalu ingin menampilkan sesuatu yang menarik bagi penggemar kita khususnya,” ujar Reza.

Menurut kedua sahabat ini, bahwa keseruan berkarir agak sedikit berbeda dibanding saat ini. Di era serba digital sekarang siapapun bisa menjadi artis sementara pada waktu silam, The Groove menjadi salah satu band yang ada unsur jazznya sementara yang lainnya bergenre pop atau rock. “Mungkin jadi kayak anak emas, karena pecinta jazz akhirnya punya satu media untuk mendengarkan musik kita. Beda atmosfirnya di kita dari pada sekarang” ujar Reza.

Group musik yang ogah dibilang bergenre jazz ini, mengaku puas dengan perjuangan mereka dahulu, yang berbeda genre dengan band-band lainnya. Mereka berhasil memperkenalkan jenis musik yang cukup sulit dipasaran, dimana respon penikmat musik di awal kemunculan mereka tidak langsung bagus. “Kalau memandang musik jazz, sebetulnya bisa dibilang The Groove itu bukan band jazz. Itu mungkin keinginan pasar, karena The Groove sendiri alirannya pop”, ungkap keduanya.

Dulu zaman kita pertama kali muncul banyak sedihnya, kita jadi kayak nggak punya teman. Kadang kita tampil dalam satu panggung dengan band-band yang berbeda genre. Beda dengan sekarang, musik yang berunsur jazz itu banyak sekali, berbagai jenis. Saya senang sekali karena kita coba dari dulu sampai berdarah darah, cukup sulit mengenalkan musik yang kita punya ini,” ungkap Rejoz.

03 Maliq DEssential The Groove Istimewa

Maliq & D'Essentials & The Groove (Foto: Istimewa)

Seperti tahun lalu, mereka dipercayakan untuk tampil dengan Maliq & D’Essentials dan menjadikan sebuah kebanggaan buat mereka bisa bersinergi dengan band lebih muda. “Kita diberi kesempatan tampil dan bersinergi dengan Maliq & D’Essential. Ulang tahun kita bareng pada 15 Mei, dan cuma beda usia 5 tahun. Menariknya mereka adalah penonton setia The Groove. Mereka kumpul nge-band karena The Groove, dan ini juga merupakan ajang saling menguji,” tambab Rejoz.

Agak berbeda dengan Rejoz, Reza berasumsi bahwa jazz merupakan musik yang butuh intelegensia dalam artian harus teredukasi dahulu baru bisa menikmati jazz. “Jujur saya agak kurang paham jazz. Kita harus paham dulu genre ini, baru bisa menikmati musik jazz. Beda dengan pop, sangat easy listening, nyanyi-nyanyi selesai. Apalagi “pure jazz” nada bisa kemana saja. Jadi saya berfikir, jazz buat para musisi merupakan makanan tambahan, tapi so far buat kita jazz adalah salah satu genre yang kita suka,” tutup Reza./ Tez

Friday, 24 November 2017 15:09

Stone Temple Pilots

Vokalis dan Single Baru

Kelompok alternative rock kondang, Stone Temple Pilots kembali hadir dengan pentolan baru. Pemilihan lewat sebuah audisi ini bertujuan mendapatkan seorang vokalis dari 15.000 pelamar setelah dua vokalis mereka terdahulu meninggal. Band ini menjadi salah satu panutan dalam skena musik grunge era 1990-an.

Band yang awalnya digawangi suara Scott Weiland ini harus kehilangan vokalis utamanya tersebut akibat overdosis pada 2015 di dalam bus turnya. Selanjutnya Weiland digantikan oleh Chester Bennington, vokalis Linkin Park. Kemudian Bennington meninggalkan Stone Temple Pilots secara damai, dan bunuh diri pada tahun ini.

Penanda mereka kembali ke jalurnya ditandai dengan peluncuran lagu ‘Meadow’ pada Rabu lalu dan mengatakan akan menelurkan sebuah album pada 2018. Lagu baru tersebut diisi oleh suara Jeff Gutt, penyanyi 41 tahun dari band Nu-Metal California Dry Cell.

Track berdurasi tiga menit lebih itu jadi karya pertama sejak mereka merilis album mini bertajuk “High Rise” bersama mendiang Chester Bennington pada tahun 2013 lalu. Dalam prosesnya, Stone Temple Pilots yang terdiri dari Robert dan Dean DeLeo serta drummer Eric Kretz, memilih penyanyi 41 tahun asal Michigan tersebut minggu ini setelah melakukan beberapa tahap penyeleksian.

02 Stone Temple Pilots IstimewaStone Temple Pilots (Istimewa)

“Kami menginginkan seseorang yang tidak hanya bisa menyanyikan lagu kami sebelumnya, tapi juga akan menulis lagu baru dan mengukir jalan yang berbeda ke depan dengan kami,” kata mereka dilansir Sky News. “Butuh beberapa waktu, tapi kami menemukan orang kami,” tambahnya,

Sementara Gutt menyatakan bahwa ia menjadikan Weiland sebagai model sejak pertama kali mendengar album debut band ini. Terjawab sudah teka-teki siapa yang menduduki jabatan departemen vokal dari Stone Temple Pilots./ Ismed

 

Friday, 24 November 2017 15:03

Dadang Pranoto

Rilis Album Solo Perdana

Dadang Pranoto terbilang musisi yang cukup produktif. Tidak saja terlibat sebagai gitaris dari band rock Navicula, dia juga gitaris dan vokalis di band Dialog Dini Hari. Belum lama, pria produktif ini, telah merilis album solo perdananya yang diberi tajuk “Kubu Carik”. Album penuh ini berisikan 8 buah lagu yang dikreasikan bersama penulis Eko Prabowo.

Menariknya lagi, proyek ini sebenarnya dimulai sejak lama. Tepatnya sejak 2015 silam. Kebetulan ini merupakan dua cabang kreativitas yang terus berlanjut, menulis kisahnya masing-masing hingga kemudian idenya dikembangkan menjadi perilisan buku dan sebuah album musik.

“Awalnya, Eko membuat buku prosa tentang Pohon Tua. Saya iseng merespon dengan satu skesta lagu. Ternyata responnya menarik dan jadi keterusan. Akhirnya dari satu sketsa itu berkembanglah menjadi delapan materi”, ungkap Dadang lewat rilisnya.

Dadang menambahkan, bahwa tidak ada alasan khusus kenapa album solo ini dibuat. Diakuinya bahwa titik berat Kubu Carik lebih kepada kolaborasi dirinya dengan Eko Prabowo. “Lagu-lagunya harus menemukan jalannya sendiri kepada pendengar. Itu yang ingin dicapai oleh album ini," akunya.

02 Kubu Carik Album IstimewaKubu Carik Album (Istimewa)

Dalam album ini, Dadang tidak bekerja sendirian. Dia dibantu dua rekannya di Dialog Dini Hari, yakni Deny dan Brozio yang bertindak sebagai co-produser dan membantu melengkapi instrumen. "Ada hubungan juga dengan periode dua bulan lalu ketika Zio merilis album solonya. Itu jadi semacam pemicu untuk diselesaikannya proyek ini. Saya merilis Kubu Carik saat ini bersama Rain Dogs Records sekaligus supaya bisa konsentrasi ke proyek selanjutnya,” tutupnya./ Ibonk

 

Friday, 24 November 2017 14:46

5upergroup Live in Concert

Konser Meriah Lintas Generasi & Genre

Secara konsep dan tema sebuah konser,  apa yang yang ditampilkan pada perhelatan “5upergroup Live in Concert” Selasa malam (22/11) di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta merupakan hal yang sering dilakukan pada saat ini. Konser yang menawarkan sebuah rentang era eksistensi dari setiap band dan harus berbeda genre. Sedikit yang membedakan adalah ditampilkannya 5 super group yang ditempatkan diatas satu panggung.

Para super group tersebut God Bless, Krakatau, Gigi, Kahitna dan Sheila On 7 yang mempunyai gaya dan aksi panggung masing-masing. Mereka dipilih atas dasar polling dan kriteria yang ditawarkan dan salah satunya adalah jam terbangnya yang sudah diatas 20 tahun. Konser ini juga dimaksudkan untuk mengajak penonton bernostalgia ke tahun 70, 80, 90, sampai 2000-an. Konser ini sendiri merupakan charity dan hasilnya akan didedikasikan untuk para guru.

Antrian penonton yang mulai memasuki arena Plenary Hall terihat sejak pukul 19.00 WIB namun terlihat tidak sampai memenuhi semua lini kelas yang disiapkan. Hal ini terlihat dengan kosongnya beberapa bangku di arena VIP dan VVIP yang sampai dimulainya acara hanya setengahnya yang terisi. Mungkin karena diadakan pada saat hari kerja atau kapasitas gedung yang terlalu besar sehingga kekosongan tersebut cukup terlihat, namun secara keseluruhan acara berlangsung cukup meriah.

Kehadiran God Bless sebagai band pembuka, langsung disambut meriah penonton. Kemunculannya Iyek di tengah-tengah penonton dengan lagu ‘Panggung Sandiwara’ dirasa cukup pintar dalam menarik perhatian penonton untuk ikut bernyanyi. Ia mengungkapkan kegembiraannya bisa hadir sebagai pembuka di konser ini. "Selamat malam para pecinta musik Indonesia. Senang God Bless bisa main di Balai Sidang, jarang banget lho," teriaknya dari atas panggung.

Dedengkot band rock tanah air ini, meski tak lagi muda, namun masih bisa tampil enerjik sambil sesekali berlari kearah penonton. Ia terlihat tetap stabil menyanyikan lagu-lagu hits seperti ‘Musisi’, ‘Bla Bla Bla’, ‘Menjilat Matahari’, ‘Cermin’, ‘Bis Kota’, dan ‘Kehidupan’.

Di lagu ‘Menjilat Matahari’ penyanyi berambut kribo ini mempersembahkan lagu tersebut untuk sahabatnya Yockie Suryo Prayogo, mantan personil Gob Bless yang saat ini sedang sakit. “Kami selalu berdoa agar Yockie cepat sembuh dan sehat lagi, Mudah-mudahan yang hadir disini juga bisa mendoakan agar dia bisa tetap berkarya untuk musik Indonesia,” ucapnya.

02 GIGI IstimewaGIGI (Istimewa)

Di posisi ke dua 5upergroup menampilkan band GIGI membuat suasana panggung mulai hidup dengan aksi beberapa personilnya. Band yang mengusung genre alternative rock, pop sampai hip hop ini menampilkan aksi yang berbeda dari band senior yang tampil sebelumnya. Seperti biasa, Armand Maulana tetap maksimal menampilkan gaya panggung yang energik dan mampu berinteraksi dengan penonton. Ia terlihat tampil sporty dengan kaos lengan panjang perpaduan hitam dan putih.

Di awal pertunjukkan, mereka menghadirkan hits-nya ‘Terbang’. Gaya khas Armand yang memainkan tamborin di tangannya,  semakin memanas sewaktu lagu ‘Panas’ dibawakan, seluruh penonton yang ada di tribun maupun di VIP ikut bernyanyi bersama. Lalu berturut-turut lagu ‘Nirwana’, ‘Janji’, ‘Kuingin’, dan ‘11 Januari’ dibawakan hampir tanpa jeda oleh band yang berdiri sejak 1996 ini.

Aksi Armand dan kawan-kawan sanggup membuat panggung di acara ini semakin hidup. Interaksi dengan penonton cukup baik, sambil sesekali menyodorkan mikrofon ke arah penonton. Penampilan GIGI ditutup dengan permainan drum oleh Hendi dan Gilang Ramadhan.

Suasana berubah berbeda, ketika Krakatau Reunion muncul ke atas panggung lewat usungan musik bergenre Jazz-World Musicnya. Band yang diawaki oleh guru-guru musik dan juga guru bagi para musisi tanah air ini tetap tampil memukau pada malam ini. Kedigjayaan para personilnya seperti Indra Lesmana, Trie utami, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Dwiki Dharmawan, dan Pra Budi Dharma tak usah diragukan lagi.

03 Krakatau Reunion IstimewaKrakatau Reunion (Istimewa)

Band yang tahun ini memperoleh dua penghargaan dia ajang Ami Awards 2017 dengan kategori Album Jazz Terbaik dan Artis Jazz Vokal terbaik ini berupaya untuk tidak berhenti di dunia musik yang telah membesarkan namanya masing-masing.

“Kami berjanji untuk selalu bermain musik bersama-sama,” ucap penyanyi bertubuh mungil Trie Utami. Krakatau hadir dengan membawakan ‘La Samba Primadona’, ‘Cita Pasti’, dan ‘Kau Datang’. Tak banyak hits yang ditampilkan akhirnya mereka menutup dengan lagu ‘Gemilang’.

Di posisi ke empat hadir band pop asal Bandung, Kahitna yang ngehits dengan lagunya ‘Cerita Cinta’. Saat ini band ini diisi oleh 3 vokalis sekaligus yakni, Hedi Yunus, Carlo Saba dan Mario Ginanjar. Mereka mengawali karir sebagai musisi lewat panggung festival dan café yang dibentuk sejak tahun 1986.

Tetap dengan menghadirkan aransemen musik yang orisinil, mereka akhirnya mampu membawa penonton ke era tahun 90-an dengan lagu ‘Takkan Terganti’. Hampir seluruh penonton ikut bersenandung bersama dengan group band ini. Suasana panggung serta merta berubah menjadi melankolis, apalagi sejak lagu ‘Mantan Terindah’ dinyanyikan.

Tampil sebagai band primadona pada malam ini, Kahitna mengungkapkan rasa senangnya bisa tampil di acara ini. Apalagi yang hadir adalah band-band terbaik yang dipunyai Indonesia. “Kalian adalah pendukung sejati musik Indonesia,” ujar Hedi Yunus setalah menyanyikan lagu-lagu hitsnya. Total lagu yang dibawakan Kahitna ada 6 lagu, dan lagu ‘Cantik’ dijadikan sebagai lagu pamungkas mereka di malam itu.

04 Sheila On 7 IstimewaSheila On 7 (Istimewa)

Sebagai band termuda dan mewakili generasi 2000an, Sheila On 7 yang turut ambil bagian dalam konser ini merasa bangga dan sangat berterima kasih aksinya dalam satu panggung disandingkan dengan musisi-musisi idola mereka. Duta cs pada awal penampilan tanpa basa basi langsung menyanyikan lagu yang berjudul ‘J.A.P’ dan ‘Bila Kau’ secara medley, seketika penonton yang rindu dengan aksi mereka sontak ikut bernyanyi.

Berturut-turut mereka membawakan lagu ‘Seberapa’, ‘Kita’, ‘Radio’, ‘Dan’, ‘Itu Aku’ secara medley, tak lupa Duta menyapa penonton. “Selamat malam semuanya? Apa kabar om, pakde, budhe, terima kasih untuk semuanya di hari yang sama sekali bukan weekend ini," tandas Duta sang vokalis.

Sementara pada lagu sebelumnya Sheila on 7 juga sempat membawakan lagu yang berjudul ‘Melompat Lebih Tinggi’ serta ‘Lapang Dada’ dan sukses membawa penonton bernyanyi hingga melompat-lompat. Penonton makin terkesima dengan aksi Eros yang membawakan gitar di belakang kepalanya tanpa melihat snar gitar yang dipetik.

Sebagai penampilan penutup dari konser ini lagu ‘Rumah Kita’ milik God Bless dinyanyikan oleh all artis. Sayangnya sampai acara berakhir kolaborasi diantara mereka tidak terlihat, jadi yang terlihat terkesan hanya aksi unjuk gigi dari masing-masing band. Tetapi paling tidak konser ini sanggup membawa penonton bernostalgia dengan sajian lintas genre yang apik  dan lagu-lagu hits yang mereka bawakan. Acara yang akan menjadi agenda tahunan ini diharapkan menjadi salah satu acara ciamik sebagai penutup di tahun 2017 ini./ Tez

 

Wednesday, 22 November 2017 18:33

Stadhuis Schandaal

Bangun Set Khusus dan Turun Gunungnya Seorang Adisurya

14 tahun bukanlah waktu yang pendek bagi seorang sineas untuk kembali membuat film. Dalam tenggat waktu yang begitu lama, pasti dipenuhi deburan rindu dalam dirinya untuk menggarap sebuah film sebagai tanda kembali ke ranah produksi. Hal tersebutlah yang terjadi dalam diri Adisurya Abdy.

Ia merupakan tokoh penting dalam perfilman Indonesia, sebagai sutradara dan produser. Melalui perusahaannya PT Assabelina Film, Adi banyak memproduksi film dan sinetron,  Hingga kemudian ia meninggalkan urusan penyutradaraan dan produksi, 14 tahun silam.

Tidak pula sepenuhnya vakum, selama beberapa tahun ini ia sibuk menangani Sinematek Indonesia (SI), pusat dokumentasi dan arsip film Indonesia yang terletak di Pusat Perfilman Indonesia. Ia juga pernah bertugas di Yayasan Pusat Perfilman H. Umar Ismail (YPPHUI), Pengurus Persatuan Produser Film Indonesia, Pengurus Karyawan Film dan Televisi (KFT) dan menjadi pendiri Usmar Ismail Award (UIA).

Kesempatan itu hadir tatkala Xela Film merealisasikan cerita dan skenario yang ditulisnya bersama Penulis Irfan Wijaya, berjudul “Stadhuis Schandaal”. Ini adalah sebuah film dengan setting dua kurun waktu, zaman kolonial dan modern. Setting seperti itu membutuhkan konsep artistik yang menggambarkan situasi dan kondisi saat peristiwa terjadi.

Disini perlu perwujudaan fisik yang dibuat sesuai dengan konteks cerita. Jika kebutuhan artistik tidak dapat dipenuhi dengan barang-barang, bangunan, lingkungan yang ada, pembuat film harus membuat tiruannya.

Atas pertimbangan sutradara dan produser film, Adi bersama timnya saat ini tengah membangun sebuah set berupa tangsi dan benteng Belanda untuk mendukung film ini. Set khusus itu dibangun di atas tanah seluas 1.500 m2 di atas tanah milik PT. Inter Studio, di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Kita sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kita lakukan, jadi lebih baik membamgun set sendiri, supaya kerjanya lebih bebas,” kata Adi yang akan mulai melakukan pengambilan gambar pada kawartal ketiga November 2017 ini.

02 Tara Adia pemeran Sarah Istimewa

Tara Adia pemeran Sarah (Foto: Istimewa)

Mengisahkan tentang Fei, seorang mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia bersama teman kuliah yang lainnya. Saat ia mencari bahan dan riset tentang itu di kota tua, ia diperhatiin oleh seorang gadis cantik turunan Belanda – Jepang, yang kemudian kita kenal dengan nama Saartje Spech dipanggil Sarah. Sosok Sarah ini ini tiba-tiba saja menghilang dari pandangan Fei.

Pertemuannya dengan Sarah membuat Fei tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam fikirannya akan apa dan siapa sosok perempuan muda cantik yang memperhatikannya di Gedung Fatahillah yang dahulu bernama Stadhuis itu.

Kepekatan konflik mulai dibangun dengan hubungan Fei dan pacarnya Chiko yang mulai renggang. Chiko yang posesif dan ingin menguasai Fei menjadikan dirinya terganggu. Lalu perjalanannya saat menemani sang ayah membuatnya dekat dengan Daniel Wong, partner bisnis ayahnya. Kedekatan tersebut nantinya menimbulkan amarah Chiko yang ternyata adalah anggota sindikat.

Cerita semakin dalam setelah sekembalinya ke Jakarta dan harus melanjutkan tugas kampusnya mengkaji sejarah Batavia yang tertunda Fei kembali bertemu Sarah. Disana Sarah kembali muncul memandang Fei dengan senyum memikat dan seperti ada kekuatan  memintanya untuk mendekati Sarah.

Dengan senyum yang lembut tulus memikat, Sarah lalu menyentuh Fei dan seketika itu Fei dibawa oleh Sarah menembus lorong waktu menuju Batavia pada tahun 1628. Disana akhirnya terbuka cerita siapa Sarah. Ia adalah putri hasil hubungan gelap dari seorang Perwira Tinggi VOC bersama wanita Jepang saat Perwira Tinggi VOC itu bertugas disana. SARAH dibawa oleh ayahnya ke Batavia dan tinggal di rumah Jan Pieterzoon Coen sang Gubernur Jenderal.

Di Batavia Sarah yang tumbuh remaja dan cantik membuat beberapa Perwira VOC baik muda maupun tua tergila-gila, namun dalam perjalanannya hati Sarah hanya tertambat kepada seorang Perwira muda VOC, salah seorang pengawal J.P. Coen yang bernama Pieter C. Pada masa – masa itu, hubungan beda ras dan beda strata tanpa ikatan perkawinan adalah sesuatu yang tabu dan hukumannya adalah mati.

Cerita dan skenario ditulis sendiri oleh Adisurya Abdy. Film ini diproduksi oleh PT. Xela Film, dengan produser Omar Jusma dengan melibatkan pemain diantaranya Tara Adia (Saartje Spech/ Sarah), Michale Lee (Pieter Cortenhoff), Amanda Rigbi (Fei), Rensi Millano (Samina), Volland Humonggo (Danny Wong), George M Taka (JP Coen), Septian Dwicahyo (Hans), Lady Salsabila (Mila), Kiki Amalia (Via), serta Anwar Fuadi (Abimanyu)/ Ibonk

Wednesday, 22 November 2017 17:27

Areng Widodo dan Tya Subiyakto

Berkolaborasi dalam Film “Stadhuis Schandaal”

Musik dan film adalah sebuah kesatuan yang berjalan beriringan. Suka ataupun tidak, ilustrasi musik adalah sebuah elemen penting dalam sebuah film. Sulit membayangkan sebuah film tanpa ilustrasi musik. Banyak bukti yang kita dapatkan, betapa sebuah film makin terasa berbobot seandainya musiknya sendiri digarap dengan cukup serius.

Sebagai salah seorang sutradara yang sudah malang melintang di dunia perfilman nasional, Adisurya Abdi sangat memahami tentang pentingnya peranan musik dalam film. “Ilustrasi musik sangat berperan untuk memperkuat suasana, terutama untuk adegan-adegan yang tidak menggunakan dialog,” ungkap Adi serius baru-baru ini.
 
Kenapa seorang Adi kembali melontarkan hal baku ini? Tak lain terkait dengan kembali terjunnya ia dalam penggarapan film terbarunya “Stadhuis Schandal”. Begitu pahamnya dia dengan hal ini, sehingga ia merasa perlu untuk tidak tanggung-tanggung memakai jasa orang-orang terbaik dalam pembuatan musik film.

Adi percaya bahwa unsur musik dalam filmnya, kelak memiliki kekuatan yang dapat memberi nilai lebih. Untuk mendulang hasil terbaik, maka ia sengaja meminang Areng Widodo dan Tya Subiyakto.

Areng dikenal sebagai seorang pemusik dan telah menangani belasan ilustrasi musik untuk film dan sinetron. Lelaki kelahiran Salatiga ini pernah bergabung di Bengkel Teater WS Rendra. Ilustrasi musik yang digarapnya kerap membawanya masuk nominasi Penata Musik Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) dan meraih 2 Piala Citra sebagai Penata Musik Terbaik FFI, masing-masing melalui film “Malioboro” (1989) dan “Jangan Renggut Cintaku” (1990).

02 Areng Widodo Tya Subiakto Herman

Areng Widodo & Tya Subiyakto (Foto: Istimewa)

Tidak hanya menjadi Penata Musik, lagu karya Areng yang berjudul ‘Syair Kehidupan’, dipilih  menjadi theme song dalam film ini.  “Cuma untuk film Stadhuis Schandal ini, saya aransir ulang disesuaikan dengan tema film. Agak sedikit bernuansa mistis, dan dinyanyikan oleh perempuan,” jelas Areng. Seperti yang kita ketahui bahwa lagu ‘Syair Kehidupan’ ini dulunya pernah menjadi hits di bawakan oleh Ahmad Albar dan dirilis pada tahun 1980.

Penata Musik kedua adalah Tya Subiyakto yang juga memiliki prestasi tak kalah mengkilap. Tya adalah Penata Musik Terbaik Festival Film Asia Pasifik (FFAP) ke-57 di Pnom Penh, akhir Juli 2017 lalu, melalui filmnya “Rudy Habibie”.  

Diluar itu, ia juga menjadi pemenang pada Festival Film Bandung ke-21 tahun 2008, dan Penata Musik Terpuji untuk film "Ayat-Ayat Cinta". Penata Musik Terpuji untuk film "Sang Pencerah"pada Festival Film Bandung ke-24 tahun 2011.

Dan ketika disinggung bisakah diantara keduanya bekerjasama dan mengesampingkan ego masing-masing? “Tidak ada masalah ya, setting film inikan menggambarkan dua masa yang berbeda, yakni masa kolonial dan era sekarang. Kami berbagi tugas. Saya mengerjakan bagian masa lalu, dan Tya untuk era sekarang. Kami bekerja sendiri-sendiri, tetapi tetap berkolaborasi, ” ucap Areng di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, belum lama ini.

“Stadhuis Schandaal” adalah sebuah film yang menggambarkan konflik yang kuat, baik di masa lalu hingga saat ini. Mengisahkan tentang seorang mahasiswi yang bertemu dengan sosok wanita cantik, ketika melakukan penelitian untuk skripsinya. Ternyata wanita cantik misterius berwujud noni Belanda adalah leluhurnya sendiri.

Tinggal kita nantikan saja, mampukah kedua maestro ini menggandengkan alur cerita dengan ilustrasi musik yang mereka garap. Sehingga menjadi sebuah sajian tontonan yang sempurna./ Ibonk

Monday, 20 November 2017 07:51

Anggun

Raih Penghargaan Ganda di Jerman

Ikon Indonesia, Goodwill Ambassador United Nations, serta artis Asia terlaris di luar Asia, Anggun kembali mendapatkan penghargaan pada ajang "Bama Music Awards" di Hamburg Jerman di penghujung pekan kemarin. Dalam penghargaan tersebut, Anggun berhasil menyabet dua penghargaan sekaligus yakni Best International Asian Act dan Best Female Act.

Anggun terpilih setelah single terbarunya ‘What We Remember’ memasuki Top 15 di tangga lagu terlaris di Asia (Asia Pop 40). Single terbaru ini merupakan pergerakan awal dari album barunya yang telah ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya dan akan diluncurkan pada tanggal 8 Desember 2017 mendatang.

“Saya merasa terhormat dengan dua penghargaan internasional yang saya dapatkan di Jerman, sebuah negara yang kerap saya kunjungi dan melakukan touring dalam beberapa tahun terakhir ini”, jelas Anggun.

Dalam keterangan lanjutannya, iapun menambahkan jika dirinya saat ini tengah bertolak ke Eropa Timur, pada sebuah lokasi yang luar biasa untuk syuting video. Dirinya memiliki empat hari syuting yang sangat padat disana. “Saya sudah tidak sabar untuk menunjukkan video ini ke penggemar saya. Ini akan sangat berbeda dari video yang sebelumnya,” kata Anggun.

02 Anggun Istimewa

Anggun (Foto: Istimewa)

Dengan diraihnya dua penghargaan tersebut, Anggun, yang baru saja menyelesaikan tour 30 di negara-negara Eropa berbahasa Perancis ini semakin menegaskan statusnya sebagai artis Indonesia yang paling banyak mendapat penghargaan dunia

Wanita kelahiran Jakarta 43 tahun silam ini berjanji akan segera kembali ke Indonesia. “Saya telah melakukan perjalanan yang sangat jauh untuk waktu yang cukup lama, tetapi antara karir Internasional saya dan rekaman Asia’s Got Talent, saya masih memiliki sedikit waktu untuk kembali ke Jakarta,” janji, Anggun./ Fikar

Monday, 20 November 2017 07:25

Artika Sari Devi

Dukungan Untuk Keluarga

Mendung tebal dan hujan yang mulai membasahi bumi mengiringi langkah kaki NewsMusik kesebuah tempat yang cukup akrab di bilangan Kemang, Jakarta. Niat utama adalah untuk mengikuti peluncuran album terbaru Ibrahim Imran atau Baim lewat tajuk “Wasowekete Is A Waluwa”. Siapa sangka kalau disana ternyata hadir juga Artika Sari Devi, sang istri dan kedua anak pasangan tersebut Sarah Ebiela Ibrahim dan Dayana Zoelie Ibrahim.

Seperti yang diketahui banyak pihak, Artika Sari Devi Kusmayadi merupakan kelahiran Pangkal Pinang adalah Puteri Indonesia ke-9 mewakili Bangka Belitung pada tahun 2004 silam. Ia berhasil menjadi Puteri Indonesia pada usianya yang ke-25, dan masuk dalam 15 Besar Miss Universe 2005. Selepas menyelesaikan tugasnya sebagai Puteri Indonesia, Artika masuk ke dunia hiburan dalam negeri menjadi model iklan, presenter, maupun main film.
 
Ditemui disela-sela peluncuran album ke 6 sang suami, Artika terlihat sumringah walau kerap disibukkan oleh kedua buah hatinya dijajaran sofa pada sisi kiri spot jumpa pers sang suami. Apalagi pada saat itu, anak tertuanya Abbey, tengah dalam mood yang kurang baik. Padahal ada sessi khusus ia harus bernyanyi di panggung dengan sang Ayah.

Sementara Zoe tetap tampil seperti biasa, dan tanpa sungkan mau duduk anteng disamping Ayahnya yang tengah sibuk melayani pertanyaan dari para wartawan. Keberadaan Zoe, akhirnya membuat mood sang kakak membaik dan akhirnya bersedia untuk naik kepanggung menyanyikan lagu ‘Pelangi Usai Hujan’, sebuah single yang termasuk dalam album Wasowekete Is A Waluwa.

03 Baim Abbey Zoe Artika Sari Devi Ibonk

Artika & Keluarga (Foto: Ibonk)

Ada cerita yang sangat kuat yang disampaikan oleh Artika terhadap celoteh Zoe tentang Wasowekete Is A Waluwa, serta arti Pelangi Usai Hujan. “Ada hari dimana saya dalam keadaan yang cukup tertekan. Saya baru saja kembali dari sekolah Zoe, karena memenuhi panggilan dari gurunya. Zoe memiliki problem dengan pembicaraan, saya sedih dengan keadaan Zoe yang berbeda dari anak seusianya. Saya resah dan lagi berpikir, apa saya harus menemui psikolog anak terhadap masalah Zoe ini?”, ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Ditengah kesedihan tersebut, tba-tiba Zoe mendatangi saya dan berkata Wasowekete Is A Waluwa.. dan celoteh itu memberikan kekuatan kepada saya untuk tak harus bersedih lagi,” ungkap Artika. “Begitulah sampai akhirnya pada waktu habis hujan, dan Zoe menunjuk kea rah pelangi yang sangat indah sambil berkata Wasowekete Is A Waluwa... dan itu kami artikan sebagai Pelangi Usai Hujan”.

Artika sendiri merasa sangat bahagia, sewaktu diminta oleh suaminya untuk membuat lirik lagu ‘Pelangi Usai Hujan’. Latar belakang cerita itupun akhirnya ditumpahkannya secara baik dalam single ini. “Dalam album ini, Baim melibatkan saya dan anak-anak untuk ikut serta, saya berterima kasih untuk itu”, ucapnya lagi.

02 Zoe Artika Sari Devi Ibonk

Zoe & Artika (Foto: Ibonk)

Keceriaan keluarga kecil mereka, kerap bisa disaksikan di akun instagram kedua pasangan ini. Bagaimana anak-anak sangat mewarnai kehidupan keluarga ini. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia akan mendukung terus perkembangan anak-anak dan karir suaminya. Khususnya anak-anak, meski bakat seni ayahnya tampak kuat turun pada kedua putrinya, namun ia ingin semua berjalan alami.

"Jadi memang saya membiarkan mereka tumbuh seperti anak normal lainnya, belajar, sekolah, bermain. Tanpa ada paksaan ”, tutupnya./ Ibonk

Page 4 of 127