NewsMusik

NewsMusik

Friday, 10 February 2017 10:23

Wiro Sableng 212

Kerjasama Internasional Si Kapak Maut

 

Wiro Sableng adalah karakter fiksi dan tokoh utama cerita silat Indonesia yang diambil dari buku silat Wiro Sableng Kapak Maut Naga Geni 212 karya almarhum Bastian Tito. Ini adalah serial silat terpanjang dan terlama di Indonesia. Dibuat selama rentang waktu 39 tahun (1967 – 2006) yang terdiri dari 185 judul dan disetiap bukunya selalu berhasil terjual ratusan ribu cetak bahkan pernah sampai sejuta cetakan. Sehingga, tidak heran jika Wiro Sableng pun menjadi legenda Indonesia, dan sampai kini masih mempunyai basis penggemar yang kuat.

Berdasarkan hal tersebut Lifelike Picture dan Fox International Production berkolaborasi mengangkat serial legendaris ini ke layar lebar dengan memproduksi Wiro Sableng 212 (212 Warrior). Kedua perusahaan ini akan mengembangkan, dan mendistribusikan filmnya di seluruh Indonesia serta kemungkinannya di negara lain. Ini adalah kerjasama pertama kalinya FIP dengan rumah produksi asal Indonesia.

“Saya sangat senang dengan keterlibatan kami dalam film ini dan bangga dapat bekerja sama deng6an tim kreatif dari Lifelike Pictures. FIP merasa terhormat bisa menjadi studio Hollywood pertama yang melakukan co-production dengan rumah produksi Indonesia. Kami berharap akan lebih banyak lagi kolaborasi lainnya di masa mendatang”, ungkap Tomas Jegeus, President FIP dalam rilis yang diterima NewsMusik (9/2) lalu.

Film layar lebar kolosal dengan genre Action Comedy Fantasi ini akan diproduksi pada tahun 2017 dan direncanakan rilis di bioskop tahun 2018. Vino G. Bastian yang merupakan anak dari penulis novel almarhum Bastian Tito dipilih menjadi pemeran karakter Wiro Sableng. Vino sebagai pemeran dan wakil dari pihak keluarga mengatakan

02 Triawan Munaf Pendukung Film Wiro Sableng 212 IstimewaTriawan munaf & Para Pendukung Wiro Sableng 212 (Foto: Istimewa)

“Keluarga besar alm. Bastian Tito sudah lama ingin memperkenalkan kembali Wiro Sableng 212 kepada generasi millenial. Kami merasa beruntung sekali, Wiro Sableng 212 bukan hanya warisan keluarga, tapi telah menjadi warisan bagi bangsa Indonesia.”

Dalam jajaran pemain, Marsha Timothy dan Sherina Munaf akan ikut serta berperan dalam film ini. Beberapa nama pemainpun telah disiapkan dan akan diumumkan menjelang produksi film ini. Sebagai sutradara dipilih sutradara muda Angga D. Sasongko yang telah diakui prestasinya. “Bagi saya ini merupakan suatu kehormatan dengan WS212 yang begitu menarik dan legendaris, dan saya mendapat kesempatan untuk keluar dari zona nyaman saya dengan menjelajah suatu tema dan genre film yang baru. Ini juga sekaligus sebagai ajang reuni saya dengan Vino”, jelas Angga.

03 Marsha Timothy IstimewaMarsha Timothy (Foto: Istimewa)

Skenario film ini ditulis oleh Sheila Timothy, Tumpal Tampubolon dan Seno Gumira Ajidarma. Sedangkan yang akan bertanggung jawab dalam koreografi laga disebutlah nama Yayan Ruhiyan yang sudah mempunyai prestasi baik di dalam maupun luar negeri dengan karyanya di film The Raid, The Raid 2, Yakuza Apocalypse, dan Star Wars 7.

Tokoh dan cerita Wiro Sableng sebetulnya  sudah pernah diangkat beberapa kali ke layar lebar dan serial televisi. Wiro Sableng 212 versi baru ini adalah film Indonesia yang pertama kali diproduksi oleh Fox International yang merupakan salah satu rumah produksi terbesar di dunia 20th Century Fox Film Corporation. Seperti apa nanti filmnya kita tunggu saja edisi terbaru Wiro Sableng 212 dengan karakternya yang unik dan lucu serta mempunyai kekuatan yang maha dasyat ini./ YDhew

04 Yayan Ruhiyan IstimewaYayan Ruhiyan (Foto: Istimewa)

Thursday, 09 February 2017 19:18

Dr. Bramundito

Musik Adalah Penyeimbang

 

Jangan tanyakan soal musik padanya, karena itu merupakan dunia yang sangat dipahaminya. Tempat dimana dirinya mendapatkan sesuatu yang berbeda, yang menjadikannya mampu untuk menjalani rutinitas yang kerap bikin jemu. “Musik bagi saya adalah penyeimbang”, dan kalimat itulah yang menjadikan seorang dokter Bramundito Abdurrachim, Sp.Og dapat melakoni dua dunia sekaligus... dokter dan musisi.

Dr. Bram, itu sapaan akrab dirinya, sudah main musik sejak SMP bersama kawan-kawan seumurannya. Seperti diakuinya, beberapa musisi senior tanah air adalah temannya nge-band. Satu yang tak biasa memang profesinya sebagai dokter ahli kebidanan dan kandungan, cukup senior malah. Diluar rutinitasnya tersebut dirinya malah mampu menghasilkan album rekaman, sampai 3 album malah.

Kelahiran Jakarta, 6 Mei 1962 ini mengawali debut albumnya lewat karya perdananya bertajuk “Dunia Baru” pada 2008 silam. Album tersebut berisikan 12 lagu yang semuanya hasil karyanya. Berawal dari keisengannya untuk merangkum lagu-lagu ini sebagai koleksi pribadi. Namun kala itu, menurut Andy Bayou, yang juga sahabatnya menganggap bahwa lagu-lagu sang dokter sangat terasa komersil, sayang kalau cuma disimpan.

Nah, akhirnya dibuatlah album “beneran” dan menghasilkan beberapa hits seperti ‘Lama Kunanti’ yang disuarakan Matthew Sayersz. Lalu ada suara khas, Ivan Nestorman lewat judul  ‘Bersemi di Bali', dan ‘Jangan Harap’ yang dibawakan Tompi. Dalam album ini pula, ia menggandeng beberapa musisi berpengalaman selain Andy ada Yudhistira Arianto, almarhum Ade Hamzah dan Tohpati.

Sekitar tiga tahun kemudian, Dr. Bram kembali meluncurkan album keduanya lewat tajuk “Perjalanan Panjang”. Memasukkan tak kurang dari 11 lagu, ia mengajak kembali Andy Bayou, almarhum Ade Hamzah, Yudhistira Arianto serta Rio Moreno, Barry Likumahuwa dan Harry Goro. Di garapan keduanya ini, Dr. Bram kembali mengajak Tohpati untuk didaulat sebagai produser maupun arranger. Lewat album ini beberapa lagu juga sempat menjadi  hits di beberapa stasiun radio tanah air seperti ‘Setahun Sudah’ yang dibawakan Soulmate, ‘Pasti Mampu’ oleh Chaseiro, dan ‘Lama Kunanti’ oleh Matthew Sayersz.

 

02 Dr. Bramundito IbonkDr. Bramundito (Foto: Ibonk)

 

Sehari lalu (8/2/17), NewsMusik sempat bertemu dan berbincang ringan dengan dokter sekaligus musisi ini terkait pelepasan album ketiga dirinya. “Dimanapun saya sempatkan menulis lagu. Nggak peduli tempat, bahkan ketika menunggu jadwal operasi saja saya bisa nulis (lagu)”, ungkapnya sambil tertawa ketika ditanyakan kapan dirinya menciptakan lagu.  

“Teknologi digital saat ini memungkinkan kita melakukan apapun bisa dimana saja. Makanya banyak anak-anak muda zaman sekarang karyanya cukup keren”, tambah suami dari dr. Wigati Purbarini ini. Menurut sang dokter, dirinya cukup banyak memiliki bank lagu yang diciptakannya, yang dengan mudah dapat ditemukan seandainya dirinya ingin menggubah atau merekamnya. “Biasanya ketika selesai bekerja dari rumah sakit. Sore kembali kerumah untuk istirahat, sambil tetap standby jika ada pasien yang memerlukan. Nah disitu waktunya,” jelasnya.

Ada sedikit kekaguman NewsMusik terhadap pola pikir yang dimiliki oleh sang dokter ini. “Diakuinya, sejak ia memilih untuk menjadi seorang dokter, ia berkomitmen untuk tidak harus didikte oleh waktu. “Saya sudah terapkan dari dulu, bahwa saya tidak mau buka praktek selepas tugas utama saya. Seperti saat ini, saya hanya ambil satu hari saja dalam seminggu. Dokter itu harus tetap fresh, karena banyak melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan keselamatan pasien. Jadi harus bebas tekanan, dan bisa mengerjakan hobby”, urainya.

Balik lagi ke album ketiganya ini, album yang telah selesai digarap dipenghujung 2016 ini diberi label “La Rambla”.  Berisikan 10 lagu ini dan memiliki 2 single jagoan yang sudah diputar dibeberapa radio yakni lagu yang menjadi judul album  ‘La Rambla’ yang disuarakan oleh Soulmate, serta alunan suara Latinka lewat ‘Takkan Nyata’.  Lagu lainnya diantaranya ‘Manusia dan Dosa’-Richard Chriss, ‘Akupun Cinta’ – Soulmate, ‘Jangan Tinggalkan Aku’ - Barry Likumahuwa and Friends, ‘Tak Perlu Bersatu’ - Tata  ataupun ‘Penari’ - Netta KD.

Di album ini dr. Bram hanya bertindak sebagai pencipta dan produser saja. Selain Ari Darmawan ia kembali melibatkan Andy Bayou, Yudhistira Arianto, Barry Likumahuwa, dan Tohpati. Kemasan musik secara keseluruhan ia serahkan kepada teman-temannya diatas. Ia hanya mencocokkan siapa penyanyi yang pantas untuk membawakan lagu-lagunya tersebut.

 

03 Dr. Bramundito IbonkDr. Bramundito (Foto: Ibonk)

 

Dalam album ini Dr. Bram sengaja lebih memfokuskan musiknya jauh lebih nge-pop dibandingkan dua album terdahulu. Alasannya agar lebih bisa bersaing saja. “Saya ingin lagu-lagu ini bisa diterima oleh siapapun yang mendengarnya. Ini lebih pop, tidak seperti yang sebelumnya yang lebih jazzy ya..

Album yang proses mixing dan mastering-nya dilakukukan di Amerika ini memang digarap lumayan lama, sekitar 2 tahun. Semuanya terkait dengan jadwal teman-teman musisi yang telah dipilihnya. Tapi dengan waktu yang panjang tersebut, dirinya malah bersyukur karena memiliki waktu untuk mempersiapkan segalanya secara matang.

Bicara soal keuntungan album, ayah dari 1 putri dan 2 putra ini blak-blakan mengatakan bahwa ia tidak melihat hal tersebut. “Ini murni untuk menyalurkan hobby saja. Tidak ada urusan komersil, dari awal saya sudah tau untuk produksi saja sebenarnya tidak akan kembali. Tapi saya bahagia, karena saya bisa memiliki karya untuk diingat dan berkontribusi bagi dunia musik tanah air”, tutup dr. Bramundito./ Ibonk

Wednesday, 08 February 2017 15:16

Kunto Aji

Mencoba Lebih Puitis

 

Kunto Aji Wibisono melejitkan karirnya lewat menjadi finalis ajang pencarian bakat Indonesia Idol di musim kelima. Selanjutnya kita boleh lihat, penyanyi kelahiran Yogyakarta ini sukses dengan single-single seperti ‘Terlalu Lama Sendiri’, ‘Pengingat’, ‘Ekspektasi’ dan ‘Akhir Bulan’. Nah, hal tersebut memang lantas tidak membuat Kunto Aji berdiam diri. Kunto Aji terus mencoba mengeluarkan karya yang terangkum dalam album Generation Y dan menyebarkan apa yang ia ingin sampaikan, baik  melalui lirik dan musiknya tersebut.  Kali ini ia datang kembali dengan menetapkan sebuah single bertajuk ‘Mercusuar’.

Ada banyak cara dalam membahas cinta, dan Kunto Aji adalah salah satu yang sukses membahas tema tersebut. Seperti di single sebelumnya yang berkisah tentang pasangan, juga kali ini, ia mencoba menyampaikan sebuah sekuel dari apa yang telah ia sajikan.   

“Mercusuar bercerita tentang akhir dari pencarian yang berdasar dengan pengalaman pribadi. Single ini seakan menjadi rekam jejak saya. Menjalani naik turun dalam sebuah hubungan percintaan jarak jauh selama 10 tahun. Bagaimana rasanya dipisahkan jarak, dan bagaimana kembali pulang ke seseorang yang membuat saya seperti di rumah. Sebuah materi yang paling personal dalam album dan usaha terjauh saya dalam menulis lagu puitis,” ujar Kunto Aji.

 

02 Kunto Aji Istimewa

Foto: Istimewa

 

Lirik paling puitis versi Kunto Aji ini tersaji dalam alunan lagu pop dengan selimut jazz yang lembut dan memadukan synth dan flute. Keduanya melebur menjadi sebuah lagu cinta yang memiliki makna tersendiri bagi Kunto Aji pribadi. Ia yang biasanya berkaca dari sudut pandang lain, kali ini mencoba berkaca dan membagikannya pengalaman cintanya kepada seluruh pendengarnya. Sebuah kesabaran untuk menunggu waktu yang tepat.

“Ada lirik yang bunyinya “nanti pasti ada waktunya”, dalam lagu ‘Terlalu Lama Sendiri’. Lagu Mercusuar ini menjadi bukti dari apa yang saya alami. Ketika waktu itu datang dan menemukanmu kepada seseorang yang tepat. Seperti yang saya alami, dan semoga menjadi semangat bagi pendengar-pendengar saya untuk terus berjalan bersama waktu. Untuk sampai ke seseorang yang tepat juga,” ujar Kunto Aji lagi. / YDhew

Thursday, 09 February 2017 12:25

Midnight Quickie dan Rocket Rockers

Kolaborasi Beda Genre

 

Musik terus saja berkembang dari semua genre, begitu juga yang terjadi di tanah air. Awal 2017 ini dua grup musik, Midnight Quickie dan Rocket Rockers diam-diam menyuguhkan karya kolaborasi untuk para pendengar mereka. Main bareng ini, mereka lakukan diantara jadwal manggung dan kesibukan kedua band tersebut.

Midnight Quickie adalah sebuah grup musik asal Jakarta yang dijuluki “Jawara Pensi”  karena seringnya diundang di berbagai sekolah dan pentas seni. Beranggotakan dua DJ, Irsan Ramadhan dan Jaya Aydra serta Charita Utamy yang berperan sebagai vokalis. Mereka menjadi unik karena kerap membawa konsep pertunjukan musik dengan vokal secara live dan diiringi musik dance mixpop dengan 2 DJ sekaligus.

Tahun 2012 silam,  mereka mengeluarkan album yang diberi judul “Being Bad Feels Good”, yang salah satu singlenya ‘City Lights’ masuk dalam chart #75 NME MaxxYou World Widechart. Mereka juga  menjadi salah satu group musik/ artis Indonesia yang mampu masuk dalam ajang tersebut. Selain itu single ‘Bebas Lepas’ juga masuk di 10 tangga lagu populer di beberapa radio diantaranya di Jakarta, Bali, ataupun Semarang.

Sedangkan Rocket Rockers adalah band pop punk yang lahir dari Bandung. Terbentuk pada tahun 1998, beranggotakan Firman (vocal/guitar), Aska (vocal/guitar), Bisma (bass), Doni (drums) adalah formasi awal dengan nama Immorality President. Setahun berikutnya berganti nama menjadi Rocket Rockers dengan masuknya Ucay sebagai vokalis menggantikan Firman. Lalu di akhir 2003 formasi berubah lagi dengan mundurnya Doni untuk menyelesaikan studi-nya. Posisi drum lalu di ganti oleh Ozom yang sempat juga aktif membantu di beberapa band seperti Killed By Butterfly, Authority, Marvel, LBL.

Band ini telah menelurkan beberapa album, diantaranya “Merekam Jejak”, “Tons Or Friends”, “Soundtrack for Your Life”, “Better Season” dan “Ras Bebas”. Lewat album Soundtrack for Your Life mereka dibawa merambah kota di luar pulau Jawa dan juga Singapore serta Malaysia. Sempat bergabung dengan salah satu major label selama 3 tahun dari 2004-2007. Namun akhirnya mereka bikin label sendiri yang diberi nama Reach & Rich Records. Sayangnya ditahun 2013, Ucay sang vokalis resmi mengundurkan diri dari band ini, dan sampai kini Rocket Rockers tetap berjalan dengan 4 personil terbaiknya.

02 Midnight Quickie Rocket Rockers IstimewaMidnight Quickie dan Rocket Rockers (Foto: Istimewa)

 

Di tahun 2006, Rocket Rockers tahun ini berhasil membuat sejarah baru sebagai satu-satunya band Indonesia yang masuk ke dalam sebuah film dokumenter punk se-dunia lewat “Pun’s Not Dead The Movie: A Revolution 30 Years In the Making”. Film yang disutradarai oleh Susan Dynner tersebut menelusuri perkembangan dan eksistensi punk rock selama 30 tahun. Film yang menggambarkan betapa besarnya kultur punk di dunia dan menuai pujian dari festival seperti The Copenhagen International Documentary Film Festival, Melbourne International Film Festival, Buenos Aires Film Festival, San Francisco International Film Festival hingga Cannes Film Festival.


Begitulah perjalanan kedua grup musik ini yang akhirnya mempertemukan mereka dalam sebuah pertemuan di belakang panggung sebuah acara di Jakarta yang menjadi cikal bakal kolaborasi ini. Akhirnya salah satu hits milik Rocket Rockers ‘Ingin Hilang Ingatan’ disepakati untuk menjadi materi  kolaborasi.

Balutan suara Charita Utami yang lembut berpadu dengan vokal Aska mengisi aransemen musik EDM gubahan Irsan Ramadhan membuat lagu rilisan tahun 2008 ini menjadi lebih baru. Kolaborasi ini praktis menjadi pengalaman pertama duo Irsan Ramadhan (produser) dan Charita Utami (vokal, synth) bekerja sama dengan musisi di luar EDM. Bukan perkara mudah menyatukan dua genre berbeda, terlebih gubahan awal lagu ini sangat melekat dengan nuansa akustik. Mereka membutuhkan beberapa kali pertemuan langsung, untuk latihan atau sekedar menjalin komunikasi.

Ini juga menjadi kehormatan bagi keduanya untuk dapat membangkitkan lagi hits milik dedengkot pop punk sekelas Rocket Rockers.“Kami melihat secara personal dan musikalitas, mereka itu seimbang banget. Musiknya keren, attitude-nya juga seperti musiknya. Bisa dibilang bandnya udah legend, tapi tetap rendah hati,” puji Tami.

Senada dengan Tami, Rocket Rockers pun tak segan melontarkan kekaguman mereka dapat bekerja sama dengan duo Midnight Quickie. “Perfeksionis dan salutnya lagi mereka sangat rajin bikin karya musik. Repertoir untuk manggungnyapun sebagian besar karya-karya mereka sendiri. Sadis!” puji Bisma, bassis Rocket Rockers mencoba menyandingkan Midnight Quickie dengan musisi-musisi EDM lainnya./ YDhew

Thursday, 09 February 2017 14:28

Stars and Rabbit x Bottlesmoker

Pentas Kolaborasi Versi 2

 

“Wuaduh, kalo udah ngadepin kayak gitu mending pura-pura mati aja deh kita,” ujar Andi Irfianto alias Babon, penabuh drum Stars and Rabbit. Dia mengucapkannya dengan menyertakan ekspresi wajah menyerah dan mengangkat kedua tangannya. Apa yang dimaksudkannya adalah menghadapi perempuan tengah mendapat tamu bulanan alias menstruasi. Karena sebagian perempuan yang tengah menstruasi kadang suka susah ditebak maunya. Perasaan lebih sensitif. Apa saja bisa menjadi kesalahan di matanya. Hal ini yang suka membuat lawan jenis bingung harus bersikap apa.

Perempuan yang menjadi sasaran “tembak” ucapan Babon sedang duduk di sampingnya. Dia adalah Elda Suryani, vokalis Stars and Rabbit. Elda tertawa mendengar gurauan itu. Dia mengatakan mood-nya saat itu tidak bermasalah. Hanya merasa badannya tengah tidak karuan rasanya. Berkali-kali dia memijat bagian tubuh yang tidak nyaman.Mereka berdua tengah santai di luar Auditorium IFI Bandung.

Hari itu, Minggu (05/02), Stars and Rabbit akan pentas bersama Bottlesmoker. Sebuah pentas kolaborasi yang pada awalnya adalah sebuah proyek untuk tampil di sebuah malam penghargaan beberapa bulan silam di Jakarta. Stars and Rabbit sudah berada di Bandung sejak Jumat malam. Sabtu siang mereka tampil di pentas seni yang diselenggarakan SMAN 2 Bandung. Menariknya selama Februari Stars and Rabbit masih akan menjalani 2 panggung lagi di Bandung selama dua minggu ke depan.

Sementara Adi Widodo (gitaris) dan Vicky Unggul Bramantyo (keyboard, synthesizer) tengah soundcheck, Elda, Babon dan Alam Segara (bass) menyantap makan siang. Mereka melahap hidangan khas Sunda yang terdiri dari ayam goreng, tahu, tempe, lalapan serta beberapa lauk pauk lainnya. Mereka tampak menikmati sekali makanan yang dihidangkan. Alam dan Babon tak kuasa menahan pedasnya sambal yang, “pedesnya kayak mantan,” kata Babon. Adi yang menyusul belakangan awalnya biasa saja menyantap sambal. Setelah beberapa suapan baru dia mengakui pedasnya sambal.

 

02 Bottlesmoker Klandesti NBottlesmoker (Foto: Klandesti N)

Usai makan siang, Stars and Rabbit formasi lengkap melakukan soundcheck. Elda kerap kali terlihat meringis sambil memegang perutnya. Sesekali dia berbaring di panggung. Kedatangan “tamu” bulanan di hari pertama memang menyiksa. Untunglah Elda masih bisa bertahan untuk tidak menyerah. Soundcheck dijalankan dengan lancar. Bahkan dia masih bisa bercanda dengan rekan-rekannya. Panggung yang sempit sepertinya membatasi ruang gerak Elda. Sebagai informasi, di lagu terakhir, ‘Man Upon The Hill’, biasanya dia kerap “kesetanan”. Menari dengan semangat. Dia pun sempat khawatir nanti akan menyenggol peralatan Bottlesmoker.

NewsMusik sempat berbincang santai dengan Angkuy dari Bottlesmoker. Dia baru satu bulan ini resmi menjadi seorang bapak. Dengan diberi karunia seorang anak perempuan diberi nama Binar Lembayung. Ketika ditanya apakah sudah mendengarkan lagu sendiri untuk anaknya, Angkuy tersenyum. Dia mengatakan bahwa anaknya lebih menyukai alunan music box.

Sementara itu di luar auditorium tim dari Omuniuum dan Ruang Rupa tengah mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari meja untuk tempat penjualan merchandise, memajang poster, sampai menyalakan gerobak soundsystem yang dibawa langsung dari Jakarta. Pentas kolaborasi ini merupakan hasil kerjasama RURU Shop dengan Omuniuum dengan nama Syarikat Dagang. Merupakan sebuah laboratorium percobaan kolaboratif untuk mengembangkan model dan karakter kerja ekonomi masing-masing sebagai jalur distribusi alternatif bagi musisi dan seniman.

Stars and Rabbit hampir tiga setengah jam melakukan soundcheck. Dimana satu jam terakhir melakukannya bersama Bottlesmoker. Untung saja manajer mereka, Riva Pratama, mengingatkan. Alam, Elda, Adi dan Babon memutuskan ke hotel untuk salin. Sekitar 15 menit menjelang pukul delapan malam semuanya sudah berkumpul di ruang tunggu. Elda tampak berbincang dengan Angkuy dan Nobi perihal urutan lagu. Setelahnya Stars and Rabbit bersama Bottlesmoker membentuk lingkaran untuk berdoa. Pentas dimulai tepat pukul delapan dibuka oleh Bottlesmoker.

 

03 Stars And Rabbit x Bottlesmoker Klandesti NStar And Rabbit x Bottlesmoker (Foto: Klandesti N)

 

Ketika tampil bersama beberapa bulan lalu, Stars and Rabbit dan Bottlesmoker tampil dengan durasi singkat. Kali ini tentu saja tidak. Masing-masing lebih dahulu tampil membawakan 7 lagu. Diakhiri dengan kolaborasi membawakan empat lagu. Tiga milik Stars and Rabbit dan satu lagu Bottlesmoker.


Elda di atas panggung malam itu seolah lupa dengan “tamunya”. Dia tampil enerjik seperti biasanya. Lengkap dengan celotehan-celotehan yang mengundang senyum penonton. Tetap juga “kesetanan” di lagu penutup. “Ada sekitar 200 oranglah penontonnya. Emang sengaja segitu biar nyaman nontonnya,” terang Boit dari Omuniuum perihal jumlah penonton yang datang. Boit membandingkan dengan pentas lainnya yang dihadiri 300 penonton. Auditorium menjadi penuh sesak dan tidak nyaman.

Berbeda dengan pentas malam itu masih menyisakan ruang gerak bagi penonton dan pendingin ruangan juga masih terasa. Pentas usai, tiba waktunya untuk meladeni permintaan tanda tangan dan foto bareng. Salah satunya adalah Risa Saraswati, vokalis Sarasvati. Usai meladeni, Elda memanfaatkan untuk istirahat. Terlihat lemas perpaduan antara kelelahan dan juga kondisi badan yang tengah lemah. Menjelang tengah malam, rombongan Stars and Rabbit pun beranjak pulang menuju Jakarta.

Tak perlu waktu lama untuk sebagian dari rombongan terlelap. Sementara Adi dan Riva masih berkutat dengan urusan media sosial. Jalan menuju Jakarta masih dipenuhi oleh kendaraan. Singgah sejenak di rest area untuk buang hajat dan membeli minuman atau makanan ringan. Suasana di mobil sempat hidup lagi dengan canda sebelum akhirnya kembali sepi. Tidur.

Jarum jam tepat mendarat pada pukul tiga pagi ketika tiba di rumah kontrak yang sekaligus menjadi base camp Stars and Rabbit. Setelahnya masing-masing berpencar menuju rumah masing-masing. Ada yang di Depok, Pancoran, Kebayoran dan Pamulang. Sampai berjumpa lagi di pentas berikutnya. / Klandesti_N

 

Sunday, 05 February 2017 13:29

Konser Dongeng 2

Hasil Maksimal Naura dan Anak Indonesia

 

Nama lengkapnya Adyla Rafa Naura Ayu. Panggil saja Naura. Usianya baru akan genap 12 tahun di bulan Juni nanti. Sudah mengeluarkan dua album, Dongeng dan Langit Yang Sama. Dua penghargaan Anugerah Musik Indonesia juga sudah berhasil diraih. Prestasi lainnya? Sudah dua kali pula menggelar konser tunggal yang selalu penuh oleh penggemarnya.

Bandingkan dengan ibunya, Riafinola Ifani Sari atau Nola, yang merupakan salah satu anggota trio Be3. Butuh 20 tahun perjalanan Be3 baru dapat menggelar konser tunggal. Sedangkan Naura konser tunggal pertama yang bertajuk Konser Dongeng di tahun 2015 ketika dia berusia 10 tahun. Lalu Konser Dongeng 2 menyusul tahun ini, tepatnya 4-5 Februari, di Ciputra Artpreneur, Jakarta.

NewsMusik kembali mendapatkan kesempatan untuk melihat kegiatan persiapan Konser Dongeng 2. Semua pengisi acara berlatih selama berbulan-bulan. Bahkan beberapa hari usai tahun baru mereka yang rata-rata masih menempuh pendidikan SD dan SMP di karantina. Dapat dilihat di Youtube rekaman kegiatan yang penuh keceriaan dan juga air mata.Setelahnya proses latihan bertempat di Aula Nyi Ageng Serang di kawasan Kuningan selama dua hari. NewsMusik datang pada hari kedua, Rabu (01/02).

Semua berlatih dengan semangat sejak pulang sekolah sampai sekitar pukul 10 malam. Usia muda dengan energi berlebih sangat terlihat sekali. Seolah tidak pernah kehabisan energi untuk berlatih dan juga bermain. Nola, sebagai ibu dan juga dengan pengalaman dua dekade, tampak tak pernah berhenti memberi masukan untuk Naura. Baik dalam olah vokal maupun ketika blocking dan gerak tubuh. Bakat menyanyi sang ibu yang menurun pada anak tampaknya tak ingin disia-siakan begitu saja. Tentu saja dengan membimbing Naura sebaik-baiknya.

Keesokan harinya kegiatan sudah dilakukan di Ciputra Artpreneur. Di atas panggung Naura bersama teman-teman penarinya melakukan blocking dengan arahan Dudi dan timnya. Sementara di bagian depan bawah, Ava Victoria Orchestra pun tak kalah sibuknya. Singkatnya hari itu semua sibuk dengan bagian masing-masing.

 

02 Konser Dongeng Klandesti NKonser Dongeng 2 (Foto: Klandesti N)

 

Inet Leimena sebagai show director dengan penuh kesabaran mengarahkan anak-anak. Sebuah kesalahan membuat Inet harus dihukum melakukan squat. Naura juga sempat menjalani hukuman itu. Sebuah konsekuensi yang harus dijalani ketika melanggar sebuah aturan yang telah disepakati. Ketika mencoba jembatan yang melayang di atas panggung, Nola sempat ketakutan. Dia merasa tidak aman karena sedikit goyang ketika berada di atasnya. Tapi tak perlu lama, karena setelah diyakinkan cukup aman akhirnya Nola berhasil melawan ketakutannya.

Disela-sela menunggu waktu untuk melakukan latihan, Naura menyempatkan untuk memanaskan pita suaranya. Dengan bimbingan Yandi, Naura melatih pita suaranya. Sebagai seorang penyanyi, suara tentu menjadi modal utama yang harus dijaga dan dilatih agar tidak mengalami gangguan ketika pentas. Ketika jam istirahat, suasana di belakang panggung riuh sekali suasananya. Orang-orang dewasa yang ada hanya bisa geleng-geleng melihat semangat dan energi berlebih anak-anak. Berteriak, tertawa, sampai berlari ke sana kemari. Lalu saling menggoda satu sama lain.

Masalah godaan, Naura sempat mendapat godaan besar : coklat. Adalah Nola yang iseng menggoda Naura sambil makan coklat di depannya. Naura pun protes agar jangan makan coklat di depannya. Tapi dia tetap saja mengarahkan pandangannya ke orang-orang yang tengah menikmati coklat. Terlihat sekali di matanya dia sangat ingin coklat tapi harus sanggup menahan godaan. Sekitar pukul 19.30 latihan pertama di Ciputra Artpreneur digelar. Tentu saja belum sepenuhnya berjalan dengan mulus. Didu dan tim Inet Leimena beberapa kali memberi arahan. Berkaitan dengan blocking serta keluar masuk properti panggung.

Konser Dongeng seri 2 ini adik Naura, Neona, masih turut serta. Neona masih saja mengundang tawa di atas panggung dengan tingkah kenesnya. Bahkan kakaknya sendiri pun tak kuasa untuk menahan tawa melihat tingkah adiknya itu. Orang-orang pun gemas melihat tingkahnya. Setiap latihan yang digelar, Neona selalu ada saja ulahnya. Bahkan dengan lihai dia bisa berimprovisasi tanpa terlihat memaksa. Semua mengalir begitu saja. Tak jarang Inet harus mengingatkan agar tidak kebablasan. “Gila, gue dikerjain ama anak kecil,” ujar Inet menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. Siapa lagi yang dimaksud kalau bukan Neona. Nola saja pun kadang masih suka kewalahan menghadapi kekenesan anak ragilnya.

 

03 Konser Dongeng Klandesti NKonser Dongeng (Foto: Klandesti N)

 

Bevan, adik Naura dan kakak Neona, juga masih ikut serta. Bila di Konser Dongeng sebelumnya dia hanya tampil sebagai figuran, kali ini tidak. Bevan mendapatkan peran yang mengucapkan dialog. Tak ketinggalan pula ikut bernyanyi bersama Naura, Neona dan kedua orang tuanya. Konser Dongeng 2 ini adalah sebuah kejutan Naura tampil berlima dengan keluarganya. Mereka menyanyikan lagu ‘Selamat Pagi’ ciptaan Pak Kasur dan ‘Pergi Belajar’ karya Ibu Sud. Andi Rianto mengiringi dengan permainan pianonya.

Jumat (03/02) digelar kembali latihan Konser Dongeng 2. Kali ini tampil dengan kostum dan tata rias. Arshya yang bertanggung jawab mengurus kostum mengatakan ada sekitar 100 pakaian yang digunakan. Hingga harus ada kordinasi yang baik agar tidak terjadi salah kostum. Ribet memang tapi menyenangkan.Nola yang mengenakan mahkota dengan hiasan kerlap-kerlip lampu menjadi pusat perhatian di belakang panggung. Dilengkapi dengan gaun panjang menambah anggun. Dia bercanda bertingkah seolah Miss Universe.

Gladi resik yang dilakukan kali ini dilakukan seperti selayaknya pentas sesungguhnya. Disaksikan oleh orang tua dan juga para rekan media. Lagi-lagi Neona membuat ulah. Tapi siapa yang bisa marah melihat tingkahnya yang menggemaskan. Semua yang menyaksikan tertawa terbahak-bahak. Bahkan ketika Neona baru muncul di atas panggung dan belum melakukan apa pun. Naura tidak dapat tampil maksimal. Dia mengalami gangguan suara. Akibatnya beberapa bagian Naura hanya tampil untuk menari tanpa menyanyi. Bahkan setelah usai gladi resik dan kembali ke hotel harus mendapatkan asupan vitamin yang disuntik.

Sabtu (04/02) adalah hari pertama Konser Dongeng 2. Beberapa jam sebelum pentas, semua berkumpul di sebuah ruangan. Ada beberapa orang yang menyampaikan keluhan atau kebingungannya. Didu dan Inet memberikan wejangan agar nantinya dapat tampil dengan baik. Gugup adalah hal wajar. Percaya diri itu perlu tapi terlalu percaya diri yang harus dihindari. Naura sudah kembali lagi suaranya. Demi menjaganya dia membawa sebotol teh ramuan untuk diminum.

Di luar auditorium Ciputra Artpreneur sudah banyak penonton yang datang. Bahkan sejak siang hari sudah ada yang tiba. Hal ini yang mendorong untuk menggelar Konser Dongeng 2 tepat waktu. Pukul enam sore pintu dibuka dan penonton masuk. Tepat pukul tujuh malam pentas pun dimulai.Di luar auditorium terlihat orang-orang tua yang menunggu anak-anaknya. Sementara di dalam sekitar 1200 penonton larut menikmati Konser Dongeng 2. Terpukau oleh visual yang membalut panggung. Tertawa melihat tingkah Neona. Terpesona melihat Naura dan Neona menyanyi di tempat tidur yang melayang. Ikut terharu ketika Nola terbawa emosi menyanyi bersama Naura.

 

04 Konser Dongeng Klandesti NKonser Dongeng (Foto: Klandesti N)

 

Konser Dongeng 2 berlangsung sekitar dua jam. Usai pentas semua saling berpelukan di belakang panggung. Lagi-lagi terlihat Nola tak kuasa menahan emosinya. Terlihat pula beberapa orang tua dengan anaknya ingin bertemu dan berfoto bersama Naura. Namun karena harus menjaga kondisi fisik Naura, permintaan mereka tak dapat dikabulkan.Sempat juga mendengar keluhan dan kekecewaan mereka yang tidak dapat bertemu Naura. Bahkan ketika akan pulang, terlihat kerumunan yang menunggu Naura keluar dari ruang belakang. Tapi tampaknya mereka harus bersiap kecewa.  Sayangnya, NewsMusik tidak hadir di pentas hari kedua. Sehingga terpaksa melewatkan momen mengharukan. Dimana Naura dan teman-teman saling berpelukan dan menangis. Wajar saja karena mereka telah bersama-sama selama beberapa bulan. Jatuh bangun berlatih agar dapat tampil sebaik-baiknya di Konser Dongeng 2. / Klandesti_N

Wednesday, 08 February 2017 14:32

90s Music Harmony

Ajang Reuni Band 90-an

 

Group musik yang berjaya di tahun 90an, Dewa 19 dan Java Jive feat. Nadila bakal meramaikan kembali panggung musik Tanah Air. Konser yang diselenggarakan pertama kalinya oleh Noble One Management ini bertajuk “90s Music Harmony”. Acaranya sendiri akan digelar tanggal 1 Maret 2017 di The Pallas, SCBD-Jakarta.
 
Dewa 19 adalah sebuah group musik yang dibentuk tahun 1986 di Surabaya, Nama Dewa merupakan akronim dari nama mereka berempat saat itu yakni: Dhani Ahmad (keyboard, vokal), Erwin Prasetya (bass), Wawan Juniarso (drum) dan Andra Junaidi (gitar). Awalnya muncul dengan musik yang lebih pop, kemudian berubah haluan menjadi jazz setelah Erwin memperkenalkan musik jazz ke grup ini. Wawan yang merupakan penggemar berat musik rock kemudian memutuskan keluar pada tahun 1988 dan bergabung dengan Outsider yang antara lain beranggotakan Ari Lasso.Ketika nama Slank berkibar, Wawan kembali dipanggil untuk menghidupkan Dewa, dengan mengajak pula Ari Lasso.

Nama Down Beat pun berubah menjadi Dewa 19, karena waktu itu rata-rata usia personelnya 19 tahun. Kali ini, Dewa 19 hadir dengan mencampuradukkan beragam musik jadi satu yakni pop, rock, bahkan jazz, sehingga melahirkan alternatif baru bagi khasanah musik Indonesia saat itu.Grup ini telah beberapa kali mengalami pergantian personel dan formasi terakhirnya sebelum dibubarkan pada tahun 2011 adalah Ahmad Dhani (kibor), Andra Junaidi (gitar), Once Mekel (vokal), Yuke Sampurna (bass) dan Agung Yudha (drum).

 

02 Dewa19 IstimewaDewa 19 (Foto: Istimewa)

 

Album yang mereka rilis nyaris selalu mendapat sambutan bagus di pasaran, bahkan album mereka yang dirilis tahun 2000 “Bintang Lima”, merupakan salah satu album terlaris di Indonesia dengan penjualan hampir 2 juta keping. Dalam Konser kali ini, Dewa 19 akan membawakan lagu-lagu hits-nya bersama vokalis Ari Lasso seperti, ‘Kangen’, ‘Aku Milikmu’, ‘Cinta Kan Membawamu’, serta segudang hits lainnya.

Sementara itu, Java Jive pun tak kalah seru. Mereka akan mengobati kerinduan para fans-nya yang akan bernyanyi bersama dengan sejumlah hits seperti ‘Gadis Malam’, ‘Permataku’, ‘Gerangan Cinta’ dan lainnya. Penampilan Nadilla yang akan menemani Java Jive nanti dipastikan juga semakin membuat para penontonnya bernostalgia bersama .Menoleh kebelakang, Java Jive adalah grup band Indonesia yang didirikan di Bandung, pada  tahun 1993. Digawangi oleh Capung, Noey, Tony, Edwin, Fatur, dan Danny.

Band ini memiliki embrio berawal pada tahun 1989. Dibentuk oleh  sekelompok anak muda SMA Negeri 2 Bandung. Edwin Saleh (drum) dan Noey (bas) sepakat membentuk grup band dengan nama Java Jive yang diambil dari salah satu judul lagu kelompok vokal Manhattan Transfer.

 

03 Java Jive IstimewaJava Jive (Foto: (Istimewa)


Setelah beberapa lama mencoba, Java Jive pun membentuk formasi lengkap dengan masuknya Micko (gitar), Tony (kibor), Fatur (perkusi/ vokal), Danny (vokal) dan Neta (vokal). Sayang, pada tahun 1991, Neta, satu-satunya perempuan dalam Java Jive keluar, diikuti oleh Micko yang akhirnya bergabung dengan Protonema. Posisi Micko pun diganti oleh Capung.Formasi inilah yang akhirnya membawa Java Jive mendapat kontrak pertama dari Musica Studio's pada tahun 1993, dan solid hingga sekarang.Lagu ‘Kau Yang Terindah’ merupakan  album pertama mereka yang langsung melejitkan nama Java Jive.

Konser yang akan dikemas apik dengan kualitas sound system, lighting dan mapping concept terbaik ini akan dipandu oleh duo MC kocak legendaris era ‘90an yaitu Edwin & Jhody ‘Super Bejo’. Tiket mulai dijual pada Rabu, 1 Februari 2017 melalui Ibu Dibyo, Raja Karcis, Indomaret, Tiket.com,Go-Tix, dan Karcis.co.id. Ticket pre-sale pun telah dibuka sejak tanggal 1 Februari 2017 lalu dan akan berakhir 28 Februari 2017 dengan harga Rp. 300 ribu. Selanjutnya per 1 Maret 2017, ticket dijual dengan harga normal yaitu Rp. 400 ribu./ YDhew

Wednesday, 08 February 2017 14:23

Slank

Rilis Album Bertensi Tinggi

 

Ditengah situasi politik tanah air yang makin tidak menentu saat ini, Slank ternyata punya kiat sendiri untuk menunjukkan kepeduliannya. Band yang juga dikenal sebagai pendukung petahana calon Gubernur di Jakarta ini, menunjukkan perlawanannya terhadap berita-berita hoax dan ungkapan kebencian yang tidak rasional. Sebagai seniman mereka melawan dengan lagu.

"Kita punya panggilan untuk orang yang suka mengadu domba, suka mengumbar dengan kata-lata kebencian. Kita enggak usah terpancing emosi. Santai saja nanggapinnya, kita bilang aja ‘Palalopeyank’," ungkap Bimbim dalam peluncuan album yang diberi tajuk “Palalopeyank “di markas Slank, jalan Plotot Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (7/2) siang.

Yup, istilah dan judul lagu tersebut kini menjadi jargon baru dari Slank untuk melawan para penghujat yang menurut mereka sering menyebarkan berita bohong/ hoax. Dalam album terbarunya ini, Slank meletakkan 12 lagu didalamnya. Lewat balutan lirik yang terasa tajam dan pelukan irama Rock N’ Roll, bisa dipastikan album ini bakal memompa semangat Slankers kembali.

"Energinya, anger, ada kemarahan dalam album ini. Seperti rasa marah di album “Kampungan”, lanjut Bimbim. Ditimpali oleh Kaka, bahwa album ini juga disebutnya sebagai sarana untuk mendongrak musik rock agar kembali berjaya seperti era 80 dan 90-an. "Album ini untuk manas-manasin band lain supaya bikin album rock lagi," akunya.

 

02 Slank HWSlank (Foto: HW)

 

Selain lagu ‘Palelopeyank’ beberapa lagu lain diantaranya ‘NgeRock’, ‘Rock N’ Roll Terus’, ‘Orang Merdeka’, ‘Hutan Karma’, ‘Party di Bali’, ‘Slanky Honey’ ataupun ‘Menolak Tua’. Dengan dirilisnya album yang ke 22 ini, menjadi penanda juga bahwa usia Slank sudah berjalan  selama 33 tahun.

Namun yang disayangkan adalah, ketidakterlibatan sang gitaris, Abdy Negara karena masih dalam masa pemulihan. “Kita memang sedih, karena ini pertama kalinya Abdy tidak terlibat dalam album yang kita buat. Tetapi Abdy tetap menjadi bagian kami. Dia ada di dalam hati kita,” ungkap Ridho./ Ibonk

Tuesday, 07 February 2017 20:12

Boven Digoel

Perjuangan Seorang Dokter di Belantara Papua

 

Diadaptasi dari sebuah buku berjudul “Catatan Seorang Dokter dari Belantara Boven Digoel” karya John Manangsang. Ini memang sebuah kisah nyata. film Boven Digoel ini berkisah tentang John Manangsang yang diperankan Joshua “J-Flow” Matulessy, lelaki kelahiran Jayapura, yang berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu puskesmas di pedalaman di wilayah Tanah Merah, Boven Digoel, Papua.

Kalau boleh kita kupas sedikit, film hasil produksi Foromoko Matoa Indah Film ini memang menceritakan sebuah cerita epic. Bagaimana perjuangan berat John dalam menunaikan tugasnya sebagai dokter. John sangat berdedikasi, dan selalu mengutamakan kepentingan orang banyak. Sampai dirinya sendiri seolah-olah melupakan isterinya, Ivonne (Ira Dimara) yang nota bene selalu setia menantinya di rumah.

Untungnya John, memiiki seorang ibu (Christine Hakim) sebagai sosok yang bijaksana. Ibu yang cukup keras hati sebagai orang tua tunggal dan menularkan semangat kepada John beserta adik-adiknya untuk tabah menjalani hidup lewat bekerja, belajar dan berani meraih mimpi. Nah, peran sang ibu ini jugalah yang menjadi benang merah kesuksesan John dan adik-adiknya. Juga menjadi sosok penting menjaga keutuhan rumah tangga, John dan Ivonne, selama John menjalankan tugasnya sebagai dokter.

Tapi, begitu dominannya keberadaan sang ibu ternyata tidak menjadi porsi utama cerita ini. Film ini lebih berkisah tentang bagaimana sepak terjang John sebagai dokter di daerah terpencil. Selain harus berjuang mendatangi pasiennya yang duduk jauh dipelosok belantara. Tidak dalam hitungan jam, tapi perjalanan ke kampung-kampung yang menjadi target pengobatannya malah harus ditempuh dalam hitungan hari. Melalui sungai ataupun keluar masuk hutan.

 

02 Boven Digoel IstimewaFoto: Istimewa

 

Belum lagi berbicara mengenai keselamatan sang dokter muda dan timnya, juga menjadi hal penting. Bukan tidak mungkin, bahaya diperjalanan selalu mengintai. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan tradisi lokal yang masih cukup kuat dan pasti bergesekan dengan pengobatan modern, yang pasti anak panah atau parang tajam akan berbicara.  

Begitulah, alur cerita terkesan sangat cepat, menuntaskan masa kecil John Menangsang dan adik-adiknya,. Lalu John remaja yang ingin menjadi seorang pilot. Belum lagi perjuangannya hidup sebatang kara di Jakarta dan akhirnya banting stir mengganti cita-citanya untuk kuliah Kedokteran dan diterima di Universitas Indonesia.

Diceritakan secara lisan, lewat perjuangan penuh air mata akhirnya ia mampu lulus dan memilih untuk mengabdi dan kembali ke tanah kelahirannya di ujung timur Nusantara. Bukankah ini semua bisa menjadi cerita epic, yang sanggup menjadi inspirasi bagi siapapun yang mendengar dan menyaksikan kisahnya. Cerita yang bisa dipilah dengan menambah durasi atau dijadikan sequel? Apalagi ternyata, John dan adik-adiknya sanggup menuntaskan jenjang kuliah bahkan sampai S2. Sayangnya... semua kekuatan cerita tersebut hanya menjadi angin lalu belaka.

Cerita tiba-tiba menjadi begitu lambat tatkala semua harus berfokus pada perjuangan John dan staff-nya untuk menyelamatkan hidup mati seorang ibu dan bayinya.  Sebuah pertaruhan yang luar biasa, dikarenakan puskesmas ditempatnya bertugas tidak memiliki alat medis yang memadai untuk melakukan operasi. Segala upaya dilakukan sampai-sampai ketiadaan pisau operasi harus digantikan dengan pisau silet, demi menyelamatkan ibu dan bayinya.

 

03 Boven Digoel IstimewaFoto: Istimewa

 Film ini merupakan fakta cerita 25 tahun lalu dari seorang John Manangsang, sebuah pesan kepada pemerintah bagaimana sampai saat inipun  kematian ibu dan bayi masih sangat tinggi di Papua. Sebuah pesan moral, bagaimana pemerintah masih lupa-lupa ingat untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan. Juga enggannya dokter-dokter muda untuk terjun berjuang atas nama kemanusiaan di pelosok-pelosok negeri.Foromoko Matoa Indah Film adalah PH asli asal Papua yang memproduksi film ini. Mengangkat cerita drama nyata lewat latar belakang budaya dan keindahan alam Papua. Digarap oleh sutradara FX Purnomo, film ini juga melibatkan selain yang telah disebut diatas, juga  pemain-pemain berdarah Papua seperti Edo Kondologit, Maria Fransisca, Lala Suwages, Ellen Aragay, Juliana Rumbarar dan lainnya. Film Boven Digoel ini sendiri akan segera rilis pada 9 Februari 2017 diseluruh bioskop di Tanah Air./ Ibonk

 

Sunday, 05 February 2017 10:46

BlackInnovation 2016

Merealisasikan ide dan Inovasi Kreatif

 

BlackInnovation 2016 yang dibuka pada 25 Agustus 2016 lalu di Jakarta, merupakan suatu  kompetisi ide dan design terbaik untuk generasi muda Tanah Air untuk menunjukkan kreativitasnya dan membuat ide mereka jadi kenyataan. Acara tahunan ini mengajak kreator dan inovator Tanah Air untuk merealisasikan ide inovasi yang bernilai bagi kehidupan masyarakat sehari-hari. Tidak hanya produk yang bersifat nyata dan bisa disentuh wujudnya, para inovator kini juga bisa menciptakan karya digital. Acara tahunan yang digelar Blackexperience.com sampai pada puncak perhelatannya, Sabtu (4/2) di Senayan, Jakarta sekaligus mengumumkan 3 inovator terbaik BlackInnovation 2016 dari 15 finalis yang telah di saring akhir tahun lalu.

Konsep yang mengambil tema “Convert your ideas into Values” ini membuka ruang apresiasi terhadap kreasi inovatif di bidang desain produk dan Internet of Things (IoT). Hasil karya yang dinilai dibagi dalam dua kategori yaitu,  kategori design produk; yang menjadi penilaian adalah karya yang diharapkan dapat mengembangkan suatu benda yang dapat bernilai lebih untuk kegiatan sehari-hari, baik itu pengembangan yang autentik yang belum pernah dibuat sebelumnya maupun karya modifikasi. Sedangkan untuk bidang IoT, inovasi yang diinginkan adalah pengembangan yang memanfaatkan konektivitas internet untuk memudahkan kehidupan manusia.

“Tidak hanya sekedar pemikiran tetapi juga mempunyai wadah bagaimana pemikiran itu mengalami suatu proses yang nantinya dpt dikenal oleh orang banyak, orang banyak atau masyarakat luas bisa merasakan manfaat dari ide kreatifitas dari dan inovasi yang mereka miliki. Kami juga meyakini bahwa manfaat itu tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia, tetapi masyarakat dunia. Itu salah satu tujuan yang dijalankan program yang dinamakan BlackInnovation 2016”, jelas Gege Dirgantara.

 

02 Gege Dirgantara YDhew

Gege Dirgantara (Foto: YDhew)

 

Animo yang cukup besar dengan acara ini dilihat dari jumlah peserta yang mendaftar mencapai ribuan peserta yang melebihi ekspektasi yang diharapkan dan ini membuktikan bahwa ide, pemikiran dan kreatifitas anak bangsa sangat menakjubkan. BlackXperience.com selaku penyelenggara juga telah sukses menggelar kegiatan diskusi BlackInnovation Roadshow di berbagai kampus dari 5 kota di Indonesia dengan menghadirkan juri yang professional.  Untuk mengetahui apa yang sangat diperlukan peserta, program ini mengambil konsep jemput bola, karena bisa menginspirasi secara langsung dan berdiskusi. Harapannya dapat terjadi bonding bahwa talenta pemikiran yang mereka miliki bisa direalisasikan, paling tidak dalam bentuk konsep.

Dari 15 finalis BlackInnovation 2016 yang terpilih dilakukan penyeleksian selanjutnya dengan melakukan mentoring bersama juri profesional, proses mentoring yang bernama Concept Board System dimana para peserta dapat berkomunikasi dengan para mentor dan juri untuk berdiskusi melalui karyanya.

Akhirnya, terpilihlah ketiga inovator terbaik  yaitu; dr. Ketut Gede Budhi Riyanta dengan karyanya “Fungiplast”, lalu ada Ignatius Ario Noegroho dengan inovasinya bertajuk “Ranginas”, serta inovator ketiga yakni Ratu Aghnia Fadillah & Rogers Dwiputra Setiady dengan inovasinya berupa “Lemuria”.  Ketiganya masing-masing berhak mendapatkan total hadiah uang tunai Rp 30 juta ditambah Innovation Journey ke Jepang untuk melihat tempat-tempat inovatif yang menarik untuk dipelajari. Selain tiga pemenang, terpilih juga tiga favorit pilihan pembaca yang dipilih  karya dan idenya melalui voting online./ YDhew

Page 14 of 114