NewsMusik

NewsMusik

Tuesday, 31 October 2017 15:42

Elephant Kind

Suguhan Musik Lewat Konsep Visual

Suguhan musik apik dengan sentuhan nutrisi pop dikemas secara berbeda oleh Elephant Kind. Sekilas bila menyimak lagu-lagunya band ini seperti bukan asal dari Indonesia, selain lirik yang berbahasa Inggris, instrument merekapun terdengar modern dengan sentuhan barat. Cerita band  yang di awaki oleh Bam Mastro (vokal/gitar), Dewa Pratama (multi instrumentalist/guitar/backing vocal) dan Bayu Adisapoetra (drum) berawal sejak sang vokalis membuat tugas akhirnya.

Bam yang menempuh pendidikan musik di Western Australian Academy of Performing Arts (WAAPA), dengan membuat sebuah proyek musik untuk tugas akhirnya tersebut. Bam yang merasa kesulitan dengan skripsinya akhirnya pulang ke Jakarta dan membuat project sendiri yang akhirnya diberi nama Elephant Kind yang sampai sekarang menjadi suatu brand baru di bidang musik.

Di Jakarta, Bam mewujudkan Elephant Kind dengan Bayu Adisapoetra, John 'Choky' Patton dan Dewa Pratama yang memilih hijrah kembali berkarier dengan band asalnya, Kelompok Penerbang Roket. Biasanya group band dibentuk berasal dari pertemanan ataupun teman sekolah, tidak demikian halnya dengan band ini. Para personilnya masing-masing belum pernah mengenal satu sama lain. Mereka disatukan dengan adanya proyek musik dengan kesukaan yang berbeda-beda.

Nama Elephant Kind sendiri di dapat Bam dari salah satu kicauan di twitter yang berbunyi "An elephant can die from a broken heart”, gajah ini membuat mereka kagum dengan kekuatannya yang masih sanggup berdiri meski menjelang ajalnya. Elephant Kind mengembangkan bermusiknya dari filosofi tersebut. Musik yang seolah menjadi penghibur bagi mereka yang merasakan patah hati dan tersakiti, bukan hanya oleh cinta tetapi juga hal-hal lainnnya.

02 Elephant Kind True Love Launching IstimewaElephant Kind - True Love Launching (Istimewa)

Dengan influence setiap personilnya yang berbeda-beda terciptalah suatu karya musik yang nge-pop namun melankolis tapi menghibur. Campuran musik lintas genre yang berbaur menjadi satu ini terbukti setahun sejak mereka berdiri mampu memenangkan suatu penghargaan Favorite Newscomers 2014 dari ICEMA. Penghargaan tersebut diterima mereka dari dua mini albumnya yang bertajuk "Scenarios: A Short Film by Elephant Kind" dan  “Promenades, A Short Film by Elephant Kind” dan menghasilkan single–single yang sukses seperti ‘We All Lose (Holy Sh*t)’, ‘Oh Well, ‘Why Did You HaveTo Go’, dan ‘With Grace’ yang membuat mereka melesat tajam dan menyebarkan virus Julian Day-tokoh fiksi dalam Elephant Kind.

Bam yang gemar hiphop, sementara Bayu beraliran punk, dan Dewa dengan EDMnya kemunculan mereka di panggung industri musik tanah air sanggup disandingkan dengan band-band indie seperti Sore, Efek Rumah Kaca hingga Pure Saturday sebagai band kesohor.

Elephant Kind pun mengukir prestasi dengan salah satu pentas seni yang diadakan di salah satu SMA di Medan, sebanyak 2000 ticket ludes terjual dalam usianya yang baru menginjak satu tahun. Hal ini merupakan salah satu prestasi dalam perjalanan karir mereka yang sulit dilakukan oleh band manapun.

Gaya bermusik  mereka yang terpengaruh karya musisi dari luar dan juga bermacam genre, seperti Michael Jackson, Kings of Leon, Kanye West, Sigur Ros, David Bowie, Bon Iver hingga Queen sehingga tercipta karya musik dengan lirik  yang emosional. Semua lagu-lagu mereka yang berbahasa Inggris Bam mengaku merasa kesulitan dalam menciptakan lirik Bahasa Inggris, Bam yang sedari kecil sudah tinggal di luar negeri merasa tidak pernah berhasil menciptakan lirik dalam bahasa Indonesia.

“Kita sebetulnya sudah menciptakan lagu dengan standard berbahasa Indonesia, tetapi tidak pernah berhasil. Keadaan sekarang ini dengan secara nyaman biar bagaimanapun kita melakukan ini untuk para fans yang suka dengan karya sebelumnya, tetapi kita juga tetap harus menjaga kualitas ini. Misalkan berbahasa Indonesia kualitas kita harus sama dengan lagu yang kita ciptakan dalam bahasa Inggris. Dan menurut gue, kita lacking dalam berbahasa Indonesia cara pembuatan lirik berbahasa Indonesia susah sekali. Apalagi kayak gue dari kecil gak disini. Karena bahasa Indonesia gue adalah bahasa Indonesia yang kaku dan orang tua, dimana tidak bisa diterapkan untuk anak-anak di zaman sekarang. Tidak menutup kemungkinan kita juga akan menciptakan lirik berbahasa Indonesia,” tutur Bam.

Di awal September lalu, Elephant Kind kembali mengeluarkan karya mereka yang semua lagunya dalam  berbahasa Inggris. Debut album yang bertajuk “City-J” berisi 12 lagu mereka dengan ciri khas pop visioner dengan lirik dan musik yang masih tetap di jalur emosional.

03 Elephant Kind YDhewElephant Kind (foto: YDew)

Album ini berangkat dari pengalaman dan kehidupan mereka di Ibu Kota Jakarta yang dijuluki mereka dengan sebutan City-J yang mengangkat kehidupan masyarakat Jakarta yang modern dan hidup  komersial. Selain mereka sendiri, album ini juga ditangani oleh Lee Buddle, ahli musik dari Australia yang pernah menggarap musik untuk penyanyi Justin bieber dan Kelly Clarkson. Buddle merupakan guru Bam di Western Australian Academy of Performing Arts.

Sebagai band indie, Elephant Kind mempunyai situs tersendiri yang dibuat mereka untuk memasarkan karyanya. Ciri khas mereka dalam setiap perilisan albumnya adalah dengan disertai film pendek. Seperti ke dua album mini yang telah mereka keluarkan sebelumnya. Scenarios: A Short Film by Elephant Kind (2014) dan Promenades: A Short Film by Elephant Kind (2015).
Dalam hal konsep shor movie inipun mereka membuatnya dengan serius yang tidak didapat dari band manapun. Mereka membungkus musiknya dengan konsep visual dengan plot layaknya sebuah film. Lengkap dengan suguhan kisah dan tokoh utamanya.

Sejak awal berdirinya band ini mungkin tidak segencar band-band lainnya dalam bermusik, mereka cukup tenang dalam menjaga eksistensi bermusiknya. Seakan tak terdengar oleh media, namun aksi mereka dari panggung ke panggung tak pernah sepi dengan selalu membuat inovasi baru dalam karir bermusiknya. Lihat saja selain catatan-catatan bermusiknya di atas, Elephant Kind juga pernah menginjakkan kakinya di beberapa panggung bergengsi seperti Tabik! Volume 5 in Conjuction with Rocking the Region di Panggung Outdoor Theater, Esplanade, Singapura (Maret 2015).

Festival musik gagasan ISMAYA Live bertajuk ‘We The Fest’ 9 Agustus 2015 dan berbagi panggung bersama sejumlah musisi mancanegara mulai dari Echosmith, Rufus, Flight Facilities, Darius, Jessie Ware, Madeon hingga Passion Pit. Serta yang paling hangat, Elephant Kind, didaulat sebagai pembuka Circa Waves, grup indie rock asal Liverpool, Inggris, yang tampil untuk pertama kalinya di Indonesia pada Oktober kemarin, di Foundry 8, Jakarta Selatan.

Di tahun 2017, tanpa di duga mereka mendapatkan prestasi sebagai salah satu nominasi AMI Awards dalam bidang Karya Produksi Alternatif/Alternatif Rock/Lintas Bidang. "Waktu kami mulai Elephant Kind 3 tahun lalu, kami nggak melihat band kami akan masuk nominasi AMI gitu-gitu. Tiga tahun lalu kami malah mendapat criticism kenapa bikin lagu pakai bahasa Inggris, siapa yang bakal dengerin," ujar Bam Mastro di  Jakarta Selatan, Senin (30/10).

04 Elephant Kind True Love Launching IstimewaElephant Kind - True Love Launching (Istimewa)

Menurut Bam, AMI yang dilihatnya sekarang sudah melihat semua band di Indonesia  sama rata semuanya, mereka tidak melihat lagi suatu band atau musisi hanya dari keluaran dari major label saja. “AMI merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga. Seperti Grammy misalnya penghargaan  itu untuk menaikkan value artisnya,  gue melihatnya untuk jenjang karir untuk artis penting banget, walaupun banyak pemusik bodo amat dengan segala macam award, tapi paling tidak kita merasa dihargai,” ujar Bam.

Dalam penutupan album City-J, Elephant Kind merilis kembali video musik dalam balutan Thriller. Berkolaborasi dengan sutradar Jordan Marzuki, track nomor 6 dalam album tersebut ‘True Love’ menjadi single terbaru sekaligus penutup dari fokusnya terhadap album City-J. Rentang waktu satu tahun dirasa cukup untuk mereka fokus dalam mempromosikan kencang album CityJ dan bersiap untuk lebih terbuka dengan pengalaman-pengalaman baru lainnya.

 “True Love ditulis untuk menjadi anthem dari perasaan cinta yang sesungguhnya. Bukan hanya di perkataan, tapi rasa yang intim antara satu dengan lainnya. Ini yang Elephant Kind ingin sampaikan juga ke pendengar kami di manapun. Satu tahun belakangan begitu menakjubkan, kami merasakan energi cinta yang besarnya sama seperti cinta kami terhadap mereka dan lagu ini yang menjadi gambarannya,” ujar Bam menjelaskan.

Ada chemistry yang baik antara Elephant Kind dan Jordan Marzuki untuk True Love ini. Ada kesamaan persepsi tentang True Love yang mereka tangkap masing-masing. Ide dari Elephant Kind dimana cerita tentang tiga remaja dikembangkan melalui dekonstruksi plot untuk membuat video musik ini lebih tidak linear dan ada benang merah yang bisa menjadi barometer intensitas suspense dari scene-scene yang tersaji.

Film thriller bergenre horor ini memiliki taste sendiri dalam berkarya, berbeda dan memiliki keberanian untuk mengeksplorasi ide-ide gila ya akan disampaikan. Ide yang cukup matang dari segi karakter, plot dan cerita yang sebenarnya, merealisasikan dalam bentuk genre teenage horor flick dengan adegan kekerasan cukup ekstrim, namun dibalut dengan apik oleh sang sutradara Jordan Marzuki.

 “Pada musik video ini, saya hanya ingin have fun dengan darah, kekerasan, thanks to Elephant Kind untuk menyediakan media musik mereka untuk saya bisa segila mungkin,” tambah Jordan Marzuki lagi.

Lagi-lagi Elephant Kind membuat konsep musik video yang berbeda dengan group musik lainnya, menyimak dari judulnya justru ‘True Love’ menyajikan hal yang tidak terduga. Cinta sejati diterjemahkannya menjadi  sesuatu yang seram dan justru distopis. Suatu kreatifitas dalam menciptakan brand yang berkharakter dalam musik mereka. Hal ini menjadi prespektif baru buat mereka bahwa dalam hal bermusik bukan hanya sekedar menjaga eksistensi dengan hanya bermusik saja, akan tetapi perlu menciptakan sesuatu hal yang baru dan produk baru setiap tahunnya.

“Penting bagi kita untuk menciptakan suatu karya baru, dengan trend yang berubah-ubah kita mau selalu berevolusi, growth bukan secara seniman saja, tetapi secara manusia yang terus berevolusi,” tutup Bam./ YDhew

 

Wednesday, 01 November 2017 15:35

Big 80’s – 90’s Forever Young

Hits Lama Lewat Sentuhan Terkini

Tidak akan ada yang menyangkal, betapa musik 80 – 90an adalah sebuah masa kejayaan musik dunia, termasuklah musik di tanah air. Sebuah tonggak dimana semua aliran musik tumbuh bersama, malah terkadang bercampur baur. Begitu banyak musisi maupun grup band lahir dan terkenal hingga saat ini yang lahir di era keemasan tersebut.

Jangan tanya seberapa kreatif mereka dalam mengemas musik dan menggelindingkannya ke telinga para penggemarnya. Yang patut kita akui adalah, bagaimana mereka bisa mengalahkan semua keterbatasan, persaingan yang cukup ketat dan teknologi yang belum canggih seperti saat ini dengan karya yang tak mati di libas oleh zaman.

Boleh kita simak di era 80an dengan kehadiran diantaranya Elfa’s Singers, Fariz RM, Dian Pramana Poetra, Deddy Dhukun, Malyda, Mus Mujiono, Eramono, Bagoes AA, Vina Panduwinata, Jopie Latul, Atiek CB, Trie Utami atau era 90an seperti Kla Project, Kahitna, Java Jive, KSP, Slank dan banyak lagi. Semuanya hampir memiliki karya abadi yang masih sering diperdengarkan sampai saat ini.

Keabadian karya-karya mereka tersebut tentu saja banyak membuat rasa rindu penikmat musik nasional saat ini. Nah, hal itu langsung dijawab oleh Seno M. Hardjo dari label Target Pop dan Target Pro dengan melepas album Big 80’s-90’s Forever Young. Tidak sendirian tapi dibantu Teffy Mayne, selaku partner kerja Seno M. Hardjo.

02 Elfas Singers IbonkElfas Singers (foto: Ibonk)

Belasan musik hits era 80an hingga 90an mereka hidupkan kembali lewat balutan aransemen kekinian. Album ini berisikan 15 lagu populer zaman tahun 1980-1990an dan dinyanyikan ulang oleh beberapa musisi ternama tanah air, baik yang sudah masuk katagori senior ataupun muka baru.

"Konsep album ini simpel banget. Saya punya beberapa lagu yang sudah siap diedarkan, akhirnya kita kumpulin di sini. Produce-nya itu dari hati yang terdalam," kata Seno M. Hardjo. "Masyarakat harus tahu sejarah musik Indonesia. Walaupun mengganti aransemen, tapi esensi lagunya masih sama. Malah beberapa lagu dihadirkan dengan aransemen nyaris sama dengan versi originalnya," kata Teffy menimpali pada saat peluncuran album ini dibilangan Kemang, Jakarta.

Harapan bahwa lagu-lagu tersebut akan kembali disukai oleh anak muda terkini, muncul juga dari seorang Yana Julio yang merupakan salah seorang personil Elfa’s Singers, "Harapannya adalah akan bertambah lagi lagu-lagu lama yang disukai anak muda sekarang, tentunya aransemen baru dan sebagainya," ungkapnya.

Senada dengan Yana, Hedi Yunus yang juga ikut terlibat dalam album kompilasi ini menyatakan menjadi obat rindu bagi masyarakat luas. "Ya, memang era 80 hingga 90an, saat ini masih bisa dinikmati oleh semua kalangan. Hal itu, membuat kita merasa bangga, karena musik yang kita hasilkan bisa diterima oleh semua kalangan," akunya .

03 Ika Putri IbonkIka Putri (foto: Ibonk)

Begitulah, intinya perilisan album kompilasi ini sungguh sebuah langkah menjanjikan. NewsMusik sendiri melihat ada kecenderungan kalau album Big 80s-90’s Forever Young ini akan diikuti oleh album-album berikutnya. Kenapa begitu? Karena semuanya masih terasa tanggung, mengingat banyaknya hits yang tercipta pada masa keemasan tersebut dan juga konsistensi seorang Seno M. Hardjo yang terus berkutat mengaransir lagu-lagu lawas dengan rasa masa kini.

Sama seperti yang disampaikan oleh Ryan Kyoto yang karyanya juga disematkan didalam album ini mengatakan bahwa meski ini merupakan sekumpulan karya lama, namun ketika diaransemen dan dinyanyikan ulang menjadi seperti sebuah karya baru. “Saya berharap  hal ini tidak berhenti disini saja, masih banyak karya-karya lain yang bisa dibuat seperti ini. Kami sangat mengapresiasi usaha yang telah dilakukan ini”, tutupnya.

Berikut track list album 'Big 80s 90s Forever Young':
1. Elfa's Singer feat. Andien - Pesta
2. Harvey Malaihollo - Dara
3. Java Jive - Keliru
4. Ika Putri - Cinta Jangan Kau Pergi
5. Dian Pramana Poetra feat. Syaharani - Biru
6. Hedi Yunus - Oh Asmara
7. 2D - Telah Pergi Sahabat Tercinta
8. KSP Singer - Dan Cinta
9. Lona Cindy - Kata Hatiku
10. Rick Karnadi feat. Fierza - Mungkinkah Terjadi
11. Billy Wino - Arti Kehidupan
12. Indah Dewi Pertiwi feat.Richard Chriss - Semua Jadi Satu
13. Harsya Rieuwpassa - Kau Seputih Melati
14. Atiek CB - Risau
15. Ardina Glenda - Hanya Dirimu/ Ibonk

04 Big 80s 90s Forever Young IbonkBig 80's - 90's Forever Young (foto: Ibonk)

 

Monday, 30 October 2017 13:42

Cornel Simanjuntak

Pelopor Musik Indonesia

Merayakan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober lalu, PT. Pembangunan Jaya bekerjasama dengan Miles Films memproduksi film dokumenter web-series Maestro Indonesia salah satunya episode Cornel Simanjuntak. Film yang dibawakan dengan apik oleh Nicholas Saputra ini mengulas kegigihan sang Maestro memperjuangkan musik di era perjuangan kemerdekaan.

Sekilas tentang sang maestro musik Cornel Simanjuntak atau C. Simanjuntak, beliau adalah seorang prajurit tanah air dan pencipta lagu-lagu yang bertema heroik-patriotik. Sebut saja ‘Maju Tak Gentar’, ‘Tanah Tumpah Darahku’, dan ‘Sorak Sorai Bergembira’. Lagu dengan tempo cepat dan heroik ini diciptakan pada saat melawan tentara Gurkha/ Inggris.

Cornel yang dilahirkan di  Pematang Siantar, Sumatera Utara tahun 1921, merupakan seorang musisi yang mendapatkan pelajaran bermusik secara otodidak. Pendidikan teori dan praktek musik diperoleh dari pater Yesuit J. Schouten semasa ia bersekolah guru HIK Xaverius College di Muntilan, Jawa Tengah serta mendiang Sudjasmin. Buku-bukunya semasa sekolah banyak diisi dengan not-not balok dalam upayanya mengubah harmoni.

Di sekolah ini, dia bergabung dengan orkes simponi sekolah yang beranggotakan 60 orang, dan terpilih sebagai concert master. Orkes musik ini merupakan orkes yang beraliran musik klasik. Di sekolah ini juga Cornel mulai mengenal sastra. Para tokoh sastra seperti Sanusi Pane, Amir Hamzah, hingga Goethe, Sciller dan Shakespeare menjadi panutannya. Di tahun 1942 Cornel menyelesaikan studinya, dan Jepang mulai masuk ke Indonesia.

Cornel Simanjuntak yang beragama Katolik diusianya yang ke 22 hirah ke Jakarta dan menjadi guru SD  Van Lith.  Karena jiwa seninya lebih kuat, Cornel kemudian beralih profesi dengan bergabung di Kantor Kebudayaan Jepang, Keimin Bunka Shidosho. Dari sinilah seni bermusiknya semakin garang dengan menciptakan beberapa lagu propaganda Jepang. Maka terciptalah diantranya ‘Menanam Kapas’, ‘Bikin Kapal’, ‘Bekerja’ dan ‘Menabung’ dan yang paling populer salah satunya berjudul ‘Hancurkanlah Musuh Kita’.

02 Cornel Simanjuntak IstimewaCornel-Simanjuntak (Istimewa)

“Saya hendak membawa perasaan musik modern ke dalam hati rakyat, dan lihatlah hasilnya telah sampai ke masyarakat kita di lapisan paling bawah”, ujar Cornel kepada Asrul Sani saat berada di Keimin. Ia bekerja pada pemerintah Jepang, namun bukan dirinya pro Jepang, akan tetapi hanya ingin menyiarkan karyanya pada stasiun radio saat itu.

Cornel yang paling dikenal dengan lagunya ‘Maju Tak Gentar’. Menurut Suka Hardjana seorang komponis dan musicology Indonesia pada masa itu banyak sekali bermunculan pencipta lagu di Indonesia. Tidak seperti Ismail Marzuki yang memang sudah dahulu terjun ke dunia musik, Cornel mempunyai posisi yang unik dalam jajaran semua pencipta lagu di tanah air.

“Cornel menciptakan lagu-lagu yang sangat sederhana dalam bentuk mars dan mudah diingat, pada eranya mulai dari anak-anak sampai yang tua menyanyikan lagu itu. Aura tahun 40-an pada waktu itu adalah merupakan aura kemerdekaan, jadi semua lagu-lagunya hanya berdasarkan inspirasi saja, naluri bukan berdasarkan pendidikan intelektual”, paparnya.

Pada 19 Agustus 1945 saat pidato kemerdekaan Presiden Soekarno, dimana sebelum dimulainya pidato dinyanyikanlah lagu Indonesia Raya, Cornel dengan kritis mengkritik lagu kemerdekaan tersebut. Cornel yang kaget bahwa lagu kemerdekaan dinyanyikan secara tidak kompak dan merasa ada yang salah dengan lagu tersebut.

Hersri Setiawan, seorang sejarawan yang pernah menulis tentang Cornel mengungkapkan bahwa pada masa itu orang Indonesia hanya mengetahui 5 nada dimana harus dinyanyiikan dengan 7 nada sehingga antara syair dan melodi tidak sinkron. Cornel lah yang membuatnya menjadi satu. Selain lagu bertempo mars tersebut, Cornel juga menciptakan lagu yang bertema puitis seperti ‘Kemuning’, ‘Kenangan’, ‘O Angin’, dan ‘Citra’.

Perjuangannya dalam melawan penjajah juga dibuktikan dengan mengarahkan moncong senjatanya kepada tentara Gukha/ Jepang di Malang pada periode tahun 1945-1946. Cornel pernah merasakan panasnya peluru yang bersarang di pahanya pada saat pertempuran di daerah Senen, Tangsi Penggorengan, Jakarta lalu kemudian dengan keadaan terluka Cornel diselundupkan ke Kerawang.

03 Cornel Simanjuntak IstimewaCornel-Simanjuntak (Istimewa)

Dari Kerawang kemudian ia dikirim ke Yogyakarta, di kota inilah kemudian lahir lagu-lagunya yang berjudul “ Tanah Tumpah Darahku”, “Maju Tak Gentar”, “Pada Pahlawan”, “Teguh Kukuh Berlapis Baja”, dan “Indonesia Tetap Merdeka”.

Cornel kemudian menderita penyakit TBC dengan peluru masih bersarang dipahanya, dan di tanggal 15 September 1946 ia menghembuskan nafas terakhirnya di Sanatorium Pakem, Yogya. Menjelang ajal ia masih sempat menulis lagu bernama ‘Bali Putra Indonesia’, namun menurut Karkono Kamajaya teman seperjuangannya lagu yang ditulis dengan gamelan itu belum selesai.

Cornel Simanjuntak lah yang telah menciptakan dasar-dasar lagu Indonesia bagaimana musik Indonesia seharusnya. Hal ini tidak berlangsung lama,  di era tahun 50-an musik Indonesia mulai dipengaruhi oleh unsur-unsur dari luar. Indonesia menjadi tujuan pengaruh masuknya musik baik dari timur dan barat.

Namun Cornel Simanjuntak telah merubah bahwa kreatifitas dan jiwa seni tidak bisa berubah dalam kondisi apapun. Dengan kondisi dalam keadaan serba sulit, ditengah pertempuran dan juga penyakitnya Cornel sanggup menciptakan beberapa lagu yang masih kita dengar sampai saat ini. Harmonisasi lagu-lagunya yang membuatnya  masuk ke dalam jajaran maestro musik Indonesia.

Cornel Simanjuntak, adalah seorang pemimpi dengan suasana hati yang berubah-ubah. Hidup diantara suara, melodi yang bertukar-tukar dan hidup baginya hanya dengan musik. Hal ini bisa dilihat dari batu nisan yang tertulis “Gugur sebagai seniman dan prajurit tanah air”. /YDhew

 

Monday, 30 October 2017 13:33

Pucuk Cool Jam

Wadah Unjuk Bakat Talenta Muda

Jakarta-Ajang pencarian bakat musik Pucuk Cool Jam hadir kembali setelah sukses digelar secara berturut-turut pada 2016 dan 2017. Kali ini Pucuk Cool Jam 2018 akan menyambangi 40 sekolah di wilayah Jabodetabek, Bandung dan Cirebon. Ini adalah upaya brand ini untuk mengapresiasi passion dan talenta anak muda Indonesia melalui ajang kompetisi musik yang  berhasil memberikan wadah aspirasi dan kreativitas bagi talenta-talenta muda berbakat yang memiliki minat besar terhadap seni, baik dalam bermusik maupun kreativitas seni lainnya.

Dibuka lewat digital audition menggunakan platform digital, peserta nanti dapat mendaftar dan mengirimkan materi lagu berupa cover lagu musisi Indonesia maupun internasional yang mereka sukai. Selain itu, peserta juga harus membuat arransemen ulang jingle The Pucuk Harum versi mereka. Materi tersebut nantinya bakal dinilai oleh tim juri yang salah satu jurinya adalah musisi Iga Massardi.

Menurut Brand Manager Teh Pucuk, Juanita mengatakan, kegiatan ini sebagai komitmen Teh Pucuk Harum. Teh Pucuk Harum ingin mendukung dan mewujudkan generasi muda yang kreatif, inovatif, berani dan berprestasi. "Kami ingin memberikan lebih banyak lagi kesempatan bagi anak muda untuk dapat menikmati momentum gelaran Pucuk Cool Jam 2018," kata Juanita pada saat temu media dibilangan Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (28/10/2017).

Selain membuka pendaftaran melalui digital audition, para siswa juga dapat mendaftarkan sekolahnya agar dapat dikunjungi oleh Pucuk Cool Jam 2018. Pemenang juga berkesempatan tampil di Pucuk Cool Truck sebuah iconic truck yang telah dilengkapi dengan system audio serta layar LED sebagai special stage. Sekitar 10 band dan 10 ekstrakurikuler terpilih dari kegiatan Pucuk Cool Jam 2018 berkesempatan juga untuk unjuk kebolehan di puncak acara Pucuk Cool Jam Festival 2018.

02 Iga Masardi IbonkIga Masardi (foto: Ibonk)

Sebagai juri diajang ini Iga Masardi, gitaris yang juga vokalis Barasuara ini kepada NewsMusik sempat menuturkan bahwa diluar sebagai juri ia memberikan apresiasi terhadap gelaran ini, karena memberikan wadah positif, khususnya di bidang musik kepada generasi muda.

Ada kaitan yang sangat erat antara musik dengan energi, dan energi juga berkaitan dengan inspirasi. Sehingga, seperti yang pernah dialaminya bahwa tidak ada waktu yang terbaik untuk memulai bermain musik selain pada masa remaja. “Ini adalah momentum dimana mimpi seakan bisa melesat cepat dan ide-ide liar muncul dalam hitungan detik," ungkapnya.

Sebagai juri, Iga akan melihat semua sisi positif dari talenta yang tersaring, tidak hanya melihat dari sisi genre, skill ataupun dan kekuatan individu semata. Tapi juga kekompakan dan bagaimana mereka membangun chemistry sebuah penampilan.    

"Secara keseluruhan Pucuk Cool Jam hadir sebagai wadah untuk itu semua. Sebuah kesempatan baik yang bisa digunakan bukan hanya sebagai pembuktian, tapi juga sebagai penentu langkah ke depan. Ajang Pucuk Cool Jam ini bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tapi siapa yang berhasil menemukan jalannya," sambungnya kembali.

Selain kompetisi, Pucuk Cool Jam 2018 juga berupaya untuk mengembangkan skill bermusik para talenta-talenta muda. Caranya yakni melalui workshop dengan menggandeng SAE Institute Jakarta, lembaga terkemuka bertaraf Internasional dalam industri pendidikan media kreatif. Sinergi ini akan memberikan pelatihan skill bermusik dengan sesi yang lebih mendalam.

Selamat berkompetisi di ajang Pucuk Cool Jam 2018...  Bravo!!/ Ibonk

 

Saturday, 28 October 2017 21:42

Marlupi Dance Academy

Menggabungkan Balet dan Budaya

Marlupi Dance Academy (MDA) adalah sebuah akademi tari yang didirikan oleh Marlupi Sijangga sejak tahun 1965. Marlupi yang sudah menginjak usia 80 tahun berhasil menghasilkan balerina-balerina handal Indonesia. Diusianya tersebut, Marlupi baru saja dianugerahi penghargaan oleh pemerintah sebagai Maestro Seni Tradisi kategori Pencipta, pelopor dan Pembaruan Seni Tari Balet di Indonesia.

Pada generasi kedua MDA semakin berkembang sejak terlibatnya Fifi Sijangga (Anak Marlupi Sijangga) dan membuka cabangnya di Jakarta. Dengan pencapaian reputasi baik nasional maupun internasional sebagai salah satu akademi tari unggulan di Indonesia sejak tahun 1995. Dan kemudian bergabunglah putri dari Fifi Sijangga sebagai generasi ketiga.

Dari sinilah kemudian MDA mulai membuat program pelatihan yang dibuat khusus untuk para siswanya yang menginkan karir profesional yang membuat generasi ini menjadi akademi tari terbesar sekaligus tertua di Indonesia yang namanya sangat diperhitungkan di dalam dan luar negeri.

Marlupi Sijangga sendiri sampai diusia sekarang masih terlibat dalam seni pertunjukkan balet dan selalu memonitor perkembangan balet yang didirikannya. Sebagai seorang pendiri balet ia selalu memperjuangkan agar seni tari balet bisa lebih diterima di Indonesia.

“Saya tidak pernah bosan dengan balet, saya pernah buat pertunjukan sendiri. Ballet is my life, bagaimana saya memperjuangkan sekolah balet ini. Saya ingin tari ini bisa sampai ke daerah-daerah, cucu saya sudah membentuk Indonesia Dance Company yang sudah membuat pertunjukkan di Surabaya dan sukses. Kalau di luar negeri seperti Malaysia, Singapore, atau seluruh dunia untuk membentuk suatu company harus di dukung oleh pemerintah. Sayangnya di Indonesia masih sangat kurang penghargaan tentang seni tari ballet”, ujar Marlupi Sijangga di Taman Ismail Marzuki, Jum’at (27/10).

02 Marlupi dan Fifi Sijangga YDhewMarlupi dan Fifi Sijangga (foto: YDhew)

Marlupi sangat ingin mengadakan pertunjukan di daerah-daerah agar seni balet bisa lebih dapat diterima di masyarakat, tentu saja dengan dukungan dari pemerintah karena untuk mengadakan suatu pertunjukan sangat sulit dengan keterbatasan dana yang ada.

Dalam pertunjukkannya MDA juga selalu mengkolaborasikan seni balet dengan seni tari Indonesia, saat ini MDA sendiri sudah mencoba menghasilkan karya seni balet di Indonesia. Marlupi mengungkapkan bahwa untuk berkolaborasi dengan seni budaya Indonesia sangat sulit, karena berhubungan dengan musik.

“Untuk mengsikronkan musik balet yang kebarat-baratan dengan musik daerah  apabila tidak cocok tidak bisa di singkronkan. Semua harus sinkron. Saya ingin sebuah pertunjukan balet dengan pertunjukkan life concert. Karena di Indonesia belum ada life concert”, papar Marlupi. Hal ini pernah diungkapkan pada saat penerimaan anugerah yang diterimanya kepada Adie MS yang tertarik dengan kolaborasi ini, namun tetap perlu dukungan pemerintah tambahnya lagi.

MDA sendiri pernah mencoba mengkolaborasikan seni budaya Indonesia dengan kesenian tari balet dan mendulang sukses di tahun 2015  dengan pagelaran ‘Si Kabayan’. Ingin mengulang hal yang sama, di tanggal  28 – 29 Oktober 2017 MDA kembali membuat pentas baru yang diambil dari cerita rakyat Tanah Air “Rama dan Shinta”.


Cerita pewayangan yang dikreasikan oleh Yuniki Salim dan Fifi Sijangga sebagai direktur artistik itu menambah produksi MDA tahun ini. Yuniki Salim mengatakan cerita 'Rama dan Sinta' adalah kisah pewayangan yang dekat dengan masyarakat Indonesia.

03 MDS YDhewMDS (foto: YDhew)

"Kebetulan Rama Sinta salah satu cerita pewayangan yang sudah diadaptasi jadi salah satu cerita di Nusantara,” ujar Yuniki Salim.

Dengan adanya pentas Rama dan Sinta ini, Direktur Artistik MDA Fifi Sijangga berharap agar balet Indonesia bisa menampilkan ciri khas Tanah Air. "Saya ingin balet di indonesia lebih maju lagi dengan menampilkan ciri khas Indonesia juga supaya masyarakat lebih mencintai cerita indonesia yang dituangkan di dalam balet," tutur Fifi Sijangga.

Rama dan Sinta menceritakan tentang kisah dua sejoli yang hidup bahagia di dalam hutan. Mereka ditemani oleh Laksamana yang merupakan saudara sepupu dari Rama dan seekor burung bernama Jatayu yang setia menemani Sinta.

Suatu hari Sinta melihat seekor kijang emas dan meminta Rama untuk menangkapnya. Ketika Sinta sendirian, Rahwana yang terpesona dengan kecantikan Sinta menyamar menjadi seorang pengemis supaya Sinta iba dan keluar dari lingkaran perlindungan. Pertunjukkan ini bakal dipentaskan di Taman Ismai Marzuki  dalam upaya meningkatkan kualitas seni budaya di Tanah Air.

 

Friday, 27 October 2017 09:47

Album Soundtrack Naura & Genk Juara

Tema Musikal Berisikan Motivasi

Naura yang tengah sukses di panggung industri musik anak tanah air, kembali meluncurkan sebuah album yang bertajuk “Naura & Genk Juara”. Album ini merupakan soundtrack dalam film musikal anak yang akan tayang tanggal 16 November 2017.

Sebelum penayangan filmnya Naura yang merupakan pemain utama di film tersebut  menginginkan agar pada saat menyaksikan filmnya bisa bernyanyi bersama.

“Aku berharap teman-teman Naura bisa nonton bareng sama keluarga atau sahabatnya. Lagu ini musikal, akan senang banget kalau teman-teman yang menonton bisa nyanyi bersama di bioskop”, ujar Naura di Pondok Indah Mall, Rabu (25/10).

Tiap materi lagu diciptakan dengan sangat apik oleh kakak beradik Mhala dan Tantra Numata. Membuat suatu album musikal bukan suatu perkara mudah bagi kakak beradik ini. ‘Saya butuh waktu sekitar tiga bulan untuk membedah naskah bersama sutradara dan penulis naskah. Disitu kami bersama-sama menentukan bagian mana saja yang akan disisipi bagian untuk bernyanyi. Dari situlah, saya baru bisa mulai menggarap musiknya”, papar Mhala. Perlu di ketahui bahwa pembuatan lagu musikal merupakan pekerjaan yang sulit bagi composer manapun di dunia.

Album ini berisi sembilan track yang masing masing mempunyai cerita dan makna tersendiri. Lagu ‘Juara’ yang menjadi lagu pembuka dari film ini, dengan tempo lagu yang ceria lagu ini mengajak pendengarnya mengenai keberhasilan akan diraih jika kita mau berusaha.

02 Naura YDhewNaura (foto: YDhew)

Lagu ‘Bawakan Cerita Banyak Untukku’ menceritakan kegelisahan orang tua pada anaknya yang akan pergi. Lagu ini dibawakan dengan gaya percakapan Nola dan Naura yang membawa pendengarnya terseret ke dalam cerita.

‘Mendengar Alam’ merupakan lagu yang sangat puitis, dengan tema petualangan dan berisikan tentang mencintai dan menjaga alam semesta. Sementara lagu ‘Kamu Menyebalkan’ mengambil tipe liberto, yaitu dialog yang dinyanyikan, dengan menggambarkan adegan pertengkaran  Oki dan Bimo yang dilerai oleh Naura.

Di lagu ke lima ‘Setinggi Langit’, merupakan unggulan dalam album ini dibuat dengan aransemen khusus  yang menceritakan tentang cita-cita dan mimpi seseorang yang bisa dicapai dengan kerja keras. Lagu yang berjudul  ‘Aku Hanya Ingin Pulang’ dibawakan secara solo dalam tempo ballad, yang menceritakan tentang kecemasan Naura yang disekap komplotan penculik.

Track ke tujuh ada lagu ‘Jangan Jangan’ dengan beat yang catchy menjadi lagu andalan anak-anak untuk kemping. Liriknya bisa membakar semangat anak-anak untuk lebih berani dan diciptakan cukup singkat serta mudah diingat. Di track delapan ada ‘Kita Juara’ dengan tema persahabatan dibawakan oleh Naura, Joshua Rundengan, Vickram Priyono, Andryan, Bima dan seluruh pemain yang ingin memperlihatkan pentingnya persahabatan dalam suka maupun duka.

Di sajian terakhir ‘Berani Bermimpi’  dibawakan dengan tempo cepat dengan menggunakan tema dan senada dengan lagu ‘Setinggi Langit’ ingin mengajak teman-teman Naura untuk berani mewujudkan mimpi dan cita-cita.

Kesemua lagu didalam album ini memang menceritakan tentang film yang akan tayang nantinya. Semuanya sarat dengan pesan moral dan motivasi bagi anak-anak yang mendengar sekaligus menonton filmnya nanti. Selain album soundtrack Naura juga meluncurkan buku behind the scene film dengan tajuk yang sama. Buku ini berisikan 128 halaman yang berisikan kegitan-kegiatan Naura dari mulai awal pembuatan film./ YDhew

 

Friday, 27 October 2017 09:40

The Mighty Eight

Siap Melanjutkan Dominasi Musik Rock Tanah Air

Delapan band rock terbaik Indonesia jebolan SuperMusic.ID Rockin Battle meluncurkan album perdananya yang bertajuk “SuperMusic.ID Rockin Battle – The Mighty Eight".  Delapan band yang disebut The Mighty Eight ini merupakan finalis dari kompetisi band rock terbesar besutan SuperMusic.ID yang digelar pada Januari hingga Mei 2017 yang lalu. Kompetisi ini sendiri memiliki misi untuk mencari regenarasi band rock baru karena adanya satu kesenjangan di dalam musik rock.

Kompetisi yang memperpendek kesenjangan yang cukup kentara antara kategori senior dengan para bibit baru ini ternyata mendapat antusiasme yang cukup tinggi. Terbukti dengan jumlah 1200 band yang mendaftar dari proses registrasi dan menyatakan diri sebagai musisi rock. Kompetisi tersebut bukan hanya sekedar kompetisi tapi juga merupakan semi grooming, ada tahap belajar sampai dengan membuat album kompilasi yang dibuat serespresentative mungkin.

Sesuai konsepnya, album ini menyuguhkan kompilasi 8 lagu dari The Mighty Eight yang dipenuhi berbagai genre rock. Delapan band ini sendiri memiliki karakter berbeda-beda namun tetap mengakar pada pakem musik rock.

Di tiga besar terdapat, GHO$$ (Jakarta) yang merupakan pemenang utama Rockin Battle, kental dengan unsur indie rock dan hip-hop. Berbeda dengan band kebanyakan, mereka menggabungkan kedua unsur tersebut dengan beat yang berbeda kedalam sentuhan musik yang mereka buat.

Sementara Meet After The Storm (M.A.t.S) band yang berasal dari Palembang  menjadi runner up yang punya karakter electro rock, dan  Killa The Phia asal Aceh adalah band dengan genre pure metal core  yang terinspirasi dengan Lamb of God, Pantera, Chimaira, As I Lie Dying, hingga Burgerkill.

Demikian juga line up lainnya, yakni Kasino Brothers (Yogyakarta) yang mengusung rock and roll dengan sentuhan psychedelic, Equaliz (Medan) dengan pop rock, Jakarta Blues Factory (Jakarta) yang konsisten mengusung blues, THE GRGTZ (Bekasi) dengan alternative rock, dan Radioaktif (Bandung) yang punya alternative rock dengan nafas grunge.

02 Super Rockin Battle IstimewaSuper Rockin Battle (Istimewa)

"Album ini adalah persembahan bagi semua penggemar musik rock di Tanah Air. Delapan band di The Mighty Eight punya karakter berbeda-beda, bahkan asal daerahnya juga beda-beda. Jadi secara musikalitas, album ini menawarkan sebuah paket lengkap dari apa yang kami sebut sebagai regenerasi musik rock Indonesia” ujar Gege Dhirgantara.

Lanjutnya kembali “Kami berharap pecinta musik rock dapat menikmati hasil karya berkualitas dari finalis Rockin Battle ini," tutup  pria yang juga menjadi General Manager SuperMusic.ID di acara peluncuran album The Mighty Eight, Rabu (25/10).

Gege menjelaskan rilis album ini adalah pemenuhan janji dan jawaban dari proses panjang pencarian generasi baru band rock Indonesia. Nama Mighty Eight sendiri sebetulnya sebuah ikon dari delapan band tersebut yang kekinian. Perjalanan panjang ini diharapkan dapat menghasilkan regenerasi band rock baru di  tanah air.

Perjalanan cukup panjang dilalui untuk menghasilkan album ini, sejak dari fase registrasi yang diikuti lebih dari 1.200 band, fase live audition di 4 kota, fase band camp, hingga final audition yang kemudian berlanjut hingga ke tahap recording, mixing, dan mastering. Para musisi senior yang eksistensinya di dunia musik Tanah Air terlibat langsung sebagai juri untuk menentukan pemenang. Mereka adalah Ian Antono (God Bless), Stephan Santoso (Produser / Musikimia), Stevi Item (Andra and The Backbone/ Deadsquad), dan Imanine (J-Rocks).

Dengan line up dan kualitas musik yang dimilikinya, SuperMusic.ID optimistis album ini bisa didengar dan mendapat perhatian dari penggemar musik secara luas. "Di album ini, setiap band mencoba mengeksplorasi dan menghasilkan musik yang fresh. Kami ingin album ini menjadi breakthrough setelah sekian lama kita tidak mendengar karya baru dari band-band rock Indonesia," ujar Gege.

03 Super Rockin Battle IstimewaSuper Rockin Battle (Istimewa)

Proses rekaman inipun terbilang cukup rumit, mengingat ada delapan band dengan delapan lagu yang harus digarap dengan matang. Stephan Santoso selalu produser yang menentukan kualitas aransemen musik dari album ini. Rekamannya pun berlangsung di Jakarta dan Sydney, Australia, sehingga cukup memeras habis kemampuan gitaris Musikimia ini. Ada tujuh band yang melakukan rekaman di Studio Aquarius, Jakarta. GHO$$ yang didampuk sebagai pemenang  utama melakukan rekaman lagunya ‘Carele$$’ di Studios 301 dan Hercules Street Studio, Sydney, Australia.

"Saya bilang (album) ini adalah representasi dari musik rock yang saat ini terus berkembang. Setiap band punya karakter yang kuat, dengan warna yang berbeda-beda. Jadi musikalitasnya lebih kaya dalam memproduksi musik di setiap genre. Ada dark rock, metal core, blues, rock & roll, pokoknya macam-macam. Sepanjang proses rekaman pun mereka berusaha membuat musik dengan kualitas yang sangat bagus," tutur Stephan.

Album ini, akan dijual secara digital dengan kerjasama dengan sejumlah aplikasi musik seperti iTunes, Apple Music, JOOX, Spotify, dan sebagainya. “Untuk penjualan fisik tetap ada, namun karena saat ini kondisi sedang sulit dalam penjualan album secara fisik kami akan fokus kepada penjualan secara digital lebih dahulu”, ujar Gege.


Playlist "SuperMusic.ID Rockin Battle – The Mighty Eight"
1.    MALAS – THE GRGTZ
2.    NALAR – Meet After The Storm (M.A.t.S)
3.    CARE.LE$$ – GHO$$   
4.    JERITAN KEGELAPAN – Killa The Phia
5.    HEY – Jakarta Blues Factory
6.    PERGI PERGILAH KAU – Equaliz
7.    I AM – Radioaktif
8.    DILEMA – Kasino Brothers/ YDhew

04 Super Rockin Battle IstimewaSuper Rockin Battle (Istimewa)

 

Tuesday, 17 October 2017 12:04

Solo City Jazz 2017

Minimalis namun Efektif

Beberapa tahun lalu, ibarat jamur pada musim penghujan, banyak bermunculan festival-festival jazz yang bertebaran disetiap pelosok negeri ini. Festival berbau jazz yang berkembang dengan suburnya, membuncah mewangi dari Sabang sampai Marauke. Menjadikan negeri ini, menjadi sebuah etalase padat akan festival jazz, belum lagi ditambah dengan festival-festival lainnya lewat genre yang berbeda.

Namun ibarat tumbuhnya, begitupun dengan keadaan sebaliknya yang sama cepatnya. Kabar-kabarnya hampir separuh dari puluhan festival jazz yang ada satu demi satu mulai berguguran. Ada yang bertahan 3 sampai 5 kali pertunjukan, akhirnya hilang tak berbekas, bahkan ada yang langsung gugur setelah sekali muncul.

Begitulah adanya, festival jazz seperti menjadi ladang bisnis yang menjanjikan keuntungan secara finansial dan kesohoran nama sang penyelenggara. Walaupun pada kenyataannya, bukanlah sebuah hal yang mudah menjalankan sebuah jazz festival. Butuh pemikiran, modal, tenaga, tim, eksistensi dan keberuntungan tingkat tinggi.

Salah satunya yang masih tetap bertahan adalah Solo City Jazz (SCJ) yang telah diadakan pertama kali pada 4 dan 5 Desember 2009 di Windujenar-Ngarsopuro dan berlanjut terus sampai tahun ini. Hanya pada tahun 2010 SCJ gagal diadakan dikarenakan karena adanya musibah hujan debu paska erupsi Merapi.

Sebagai sebuah event musik tahunan, SCJ tetap mempertahankan konsep dasar berformat a la festival lewat musik jazz, art, heritage dan batik. Sampai saat inipun konsep tersebut tetap dipertahankan. Untuk sajian musiknya sendiri merangkum beragam macam  jazz dengan aneka “sub-genre”nya. Diluar itu, festival ini mengedepankan juga porsi khusus pada band yang mengedepankan eksplorasi eksperimentasi jazz dengan unsur-unsur eksotika tradisi Nusantara. Selain, bagaimana para musisi dan penyanyi, melakukan reintepretasi tersendiri masing-masing terhadap jazz. Hidangan lengkap itu kami menyebutnya sebagai, “jazz-nya wong Solo”.

Hal lain sebagai pembeda dari festival lain sejenis adalah dengan mempertahankan kesan guyub, akrab dan intim. Caranya adalah membuat panggung SCJ di udara terbuka, di spot-spot yang cukup memiliki nilai sejarah dan gratis. Semua boleh menonton, semua bisa menikmati. Dan dari manapun!

02 Vibes IbonkVibes (foto: Ibonk)

Inilah sebuah identitas yang menjadi ciri tersendiri, untuk menghindari keseragaman sehingga sulit membedakan satu festival dengan festival lain. Ya tentunya, bagaimana acara festival tersebut bisa bersinergi dengan kota yang dipilih sebagai tempat diadakannya festival tersebut tanpa bertolak belakang dengan masyarakat yang malah dikhawatirkan, akan menjadi asing, padahal festival jazz itu, memakai nama kota tersebut.

Lantaran sifat gratisnya itu, maka sajian jazz yang dihidangkan, memang juga diupayakan memiliki unsur hiburan, yang semoga dapat dicerna mata dan telinga masyarakat penonton yang heterogen. Alhasil, siapapun boleh menonton dan bisa menghibur diri....

Terbukti selama bertahun-tahun SCJ sanggup memberikan tambahan event istimewa, menambah daya tarik kota Solo, sebagai salah satu kota tujuan wisata eksotis. Terutama memasyarakatkan jazz sebagai salah satu musik hiburan masa kini, yang dapat disukai publik kebanyakan. Lewat proses yang panjang yang menghidangkan format festival dengan balutan unsur art yang berbeda, menjadi sebuah mata acara andalan kota Solo.

Juga membawa unsur jazz rasa Solo tersebut jauh ke kantong-kantong yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti pasar tradisional. Yaa, SCJ beberapa kali kerap membawa keberagaman jazz dengan beragam sub-genre-nya tersebut ditengah-tengah pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional dalam versi semi ataupun full akustik. Tentunya juga dalam versi yang lebih lite, sehingga lebih terasa membumi.

Memasuki tahun ke-9, dan penyelenggaraan ke-8 kalinya tahun 2017 ini, juga tetap mengandalkan jurus “minimalis tapi efektif”. Diselenggarakan di akhir September kemarin tetap menuai kesuksesan yang cukup signifikan. Yang dimaksud dengan konsep minimalis tapi efektif ini adalah konsep sepanggung, dengan pengisi acara yang beragam.

Pada acara puncak, Sabtu 30 September menghadirkan bintang-bintang muda potensial asal ibukota. Ada kehadiran Ben Sihombing, serta grup unik yang adalah tiga dara cantik dan seru dan penuh semangat dan sehat, Nonaria. Lalu dimeriahkan acara dua kelompok musik yang tak kalah menariknya, asal Solo sendiri, duo Jungkat Jungkit dan trio Fisip Meraung. Lainnya terekam juga nama Vibes, Horse Race Ska, Destiny, yang adalah grup band muda usia yang datang dari Solo dan daerah lain di Jawa Tengah. Serta satu kelompok Pilipe, komunitas jazz senior, Pinggir Kali Pepe yang juga dari Solo.

Selain itu, sebagai menu sajian utama kehadiran Fariz RM with his Anthology Kuartet menjadi sebuah penampilan yang dinanti. Tidak bisa dipungkiri jika kehadiran kedua kalinya Fariz RM tetap diminati setelah beberapa tahun sebelumnya Fariz pernah juga hadir dalam format band yang berbeda. Sang musisi multi instrumentalis, penulis lagu, aranjer dan produser musik kenamaan sejak 1980-an itu hadir bersama Eddy Syakroni, Adi Dharmawan dan Iwan Wiradz.

03 Pilipe IbonkPilipe (foto: Ibonk)

Festival yang telah dimulai sejak sore hari tersebut dengan ancaman turunnya hujan tersebut, langsung saja mendapat sambutan yang cukup meriah. Tawaran suguhan yang sangat berwarna warni antara jazz dan non-jazz. Sebuah sajian musik yang akhirnya mampu untuk menghimpun potensi musisi muda lokal dan penonton dari beragam kesukaan.

Inilah tantangan serunya, dimana sebuah perhelatan festival dengan embel-embel jazz di masa sekarang, terutama di Indonesia sejatinya haruslah pandai bersiasat, tanpa terlihat upaya mengelak dari tanggung jawab moral penyelenggara. Yaa, karena seringkali terjadi sebuah festival jazz malah minim kehadiran musik jazz nya. Sementara kita cukup tau bahwa sebagai jenis musik, perlu waktu rasanya genre ini sepenuhnya menjadi magnet untuk mendatangkan publik.

Dari sisi SCJ, karena gratisan-nya, sebetulnya pas dan cocok untuk sekaligus menjadi etalase musisi yang lebih membawa ruh jazz dalam musiknya. Etalase yang menjadi media edukasi, memperkenalkan jazz dan mendidik publik untuk mengenal dulu, baru kemudian benar-benar paham dengan musik jazz sebenarnya. Ini adalah strategi untuk merangkul publik, membuka pintu, sekalian memberi apresiasi bagi para musisi muda yang ada.

Kembali ke panggung festivalnya, tanpa kesan mewah panggung di halaman Benteng Vastenburg, Solo tersebut dimulai jam 16.00 an. Dibuka oleh Destiny, grup muda Solo, lalu disambung Fisip Meraung, lalu ada Horse Race Ska. Vibes

Berikutnya setelah break kedua, tampil grup senior, Pilipe yang lumayan membawakan lagu-lagu bertema jazz, fusion, jazzy era 80 sampai 90-an. Disela dengan kedatangan Walikota Surakarta, FX. Hady Rudyatmo yang memberikan sambutan singkat. Kedatangannya juga ditemani langsung oleh Wakil Walikota, Achmad Purnomo.

Jungkat Jungkit tampil lumayan menambah suasana kesegaran dan kenyamanan. Lewat irama folk, dan telah memiliki album, duo ini tampil pede. Walau memang masih harus memperbanyak jam terbang agar lebih kinclong lagi, duo ini cukuplah untuk mewarnai semarak SCJ yang mulai merangkak malam.

Berikutnya hadir dalam format trio, Nonaria. Memilih warna merah manyala pada wardrobe yang berkesan vintage, Nesia Ardi (Vokal, Snare Drum), Nanin Wardhana (Piano) dan Yasintha Pattiasina (Violin) tampil unik. Ditambah additional player pada Double Bass. Suasana akustik yang cerah ceria. "Perkenalkan kami dari Nonaria, saya Nesia Ardi, di sini ada nona Nanin Wardhani di keyboard, dan nona Yasinta di biola," lanjutnya.

04 Nonaria IbonkNonaria (foto: Ibonk)

Ketiganya menghadirkan lagu pertama yang mereka bawakan berjudul 'Salam Nonaria' yang dibawakan dengan iringan musik yang ceria. Mereka dikenal selalu membawakan lagu-lagu dengan musik dan iringan lagu yang ceria juga jenaka. Lagu-lagu merdu bersuasana ceria dan hangat

Lepas Nonaria berganti dengan Ben Sihombing, yang juga adik kandung Petra Sihombing. Masih muda belia, ia  kembali menghadirkan format minimalis ketika tampil di panggung, Ben memposisikan dirinya di tengah dengan gitar akustik, ditemani pemain drum elektrik dan kibor.

Kehadiran Ben membuat suasana jadi adem, bertebaranlah lagu-lagu cinta anak muda yang langsung diikuti paramuda dibagian penonton. Christopher Ben Joshua Sihombing juga lantas membawakan hits-nya, ‘Set Me Free’ serta ‘Mine’ kedalam list lagu yang ditampilkan. Dan penutup acara, siapa lagi kalau bukan Fariz Rustam Munaf. Langsung membuka penampilannya lewat ‘Penari’. Lantas menyajikan hits miliknya yang lain, termasuk ‘Nada Kasih’, ‘Hasrat dan Cinta’, ‘Barcelona dan...’Sakura’ yang melegenda.

Mendekati jam 23.30, Fariz RM menyudahi penampilannya. Penonton langsung beranjak pula meninggalkan areal benteng Vastenburg. SCJ berakhir lancar, dari awal sore sampai tengah malam. Kawasan areal parkir itupun langsung segera senyap. Stand-stand penjualan aneka makanan, minuman penyegar dan lain serta sederet food-truck juga lantas segera ditutup dan dibereskan dengan cepat.

Begitulah, SCJ 2017 pun berjalan dengan baik, cuaca malam yang cerah bertabur gemintang memang akhirnya menuntaskan ketakutan penyelenggara akan sergapan hujan. Memang Solo pada saat itu kerap diguyur hujan dalam intensitas tinggi. Namun semua menjadi baik-baik saja, seperti keyakinan untuk menyajikan festival ini di tahun-tahun berikutnya./ Ibonk, dM

 

Tuesday, 24 October 2017 15:03

Benny Panjaitan Wafat

Pentolan Panbers itupun Berpulang

Musisi legendaris Benny Panjaitan dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (24/10/2017). Hal itu dibenarkan keluarga, bahwa almarhum berpulang pada pagi hari sekitar pukul 09.50 WIB. Benny merupakan salah satu pentolan Panjaitan Bersaudara (Panbers) yang didirikan pada 1969 lalu di Surabaya.

Band keluarga tersebut terdiri dari empat orang kakak beradik kandung putra-putra dari Drs. JMM Pandjaitan SH (alm) dengan Bosani SO Sitompul. Mereka adalah Hans Panjaitan (lead guitar), Benny Panjaitan (vokal dan rhythm guitar), Doan Panjaitan (bas, keyboard), serta Asido Panjaitan (drum). Dalam perkembangannya formasi band ini berubah dan bertambah sejak tahun 1990-an dengan kehadiran Maxi Pandelaki pada bass, Hans Noya pada lead guitar, dan Hendri Lamiri pada biola.

Sebelumnya, Benny sempat dikabarkan meninggal dunia pada Minggu (22/10/2017) kemarin. Namun disangkal oleh putra almarhum Dino Panjaitan yang menegaskan ayahnya saat itu sehat.

02 Benny Panjaitan IstimewaBenny Panjaitan (Istimewa)

Selama ini Benny memang sudah lama menderita stroke. Terhitung, sejak 2010, Benny sudah tiga kali mengalami serangan stroke sampai harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit pada 2015 lalu karena tak sadarkan diri setelah mengeluh pusing. Menurut analisa dokter pada saat itu terindakasi ada cairan di dalam otaknya. Benny saat itu dirawat di Rumah Sakit Sari Asih, Ciledug, Jakarta.

Menurut Dino, ayahnya dinyatakan meninggal dunia saat tertidur di ranjang perawatan dikediamannya. Kabar yang tersebut disampaikan oleh perawat dan dipastikan oleh istri almarhum bahwa beliau telah tiada.

Pada 23 November mendatang, rencananya akan digelar konser sekaligus peluncuran buku 'Perjalanan Panjang Sang Legend' di Graha Bhakti Budaya, TIM.  Itu merupakan salah satu wujud menghormati Benny yang disebut legenda./ Ibonk

 

Monday, 23 October 2017 16:02

Pengabdi Setan

Film Horor Nasional Terlaris

Film yang sontak mendapatkan atribut menjadi film horor terlaris nasional pada saat ini, “Pengabdi Setan” semakin tangguh duduk dipuncak ketenarannya. Film versi baru dari film berjudul sama ini secara mengejutkan sekitar tiga minggu sejak pemutaran perdananya telah ditonton lebih dari 2,8 juta kali.

Seperti yang telah disebutkan diatas dan banyak diketahui oleh khalayak bahwa film arahan Joko Anwar ini merupakan garapan ulang dari film asli rilisan tahun 1980. Belakangan, Joko Anwar menyatakan kalau film yang dibuatnya ini lebih tepat disebut prekuel.

Tidak hanya meraih kesuksesan komersial, film ini juga menjadi calon kuat untuk memborong Piala Citra di Festival Film Indonesia tahun ini. Bagaimana tidak? Film ini telah menerima 13 nominasi sebagai Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Joko Anwar), Penulis Skenario Terbaik (Joko Anwar), Pengarah Sinematografi Terbaik (Ical Tanjung), Pemeran Anak Terbaik (Muhammad Adhiyat), Pengarah Artistik Terbaik (Allan Sebastian), dan Penyunting Gambar Terbaik (Arifin Cuunk).

Selanjutnya kategori Penata Efek Visual Terbaik (Finalize Studio, Hery Kuntoro, Addy Eldipie), Penata Suara Terbaik (Khikmawan Santosa, Anhar Moha), Penata Musik Terbaik (Aghi Narottama, Tony Merle, Bemby Gusti), Pencipta Lagu Tema Terbaik (The Spouse - ‘Kelam Malam’), Penata Busana Terbaik (Isabelle Patrice), serta Penata Rias Terbaik (Darwyn Tse).

Tahun 2017 ini, sepertinya juga menjadi tahun yang baik bagi film horor Indonesia. Setidaknya ada empat buah film bergenre horor duduk dalam daftar sepuluh film Indonesia dengan pendapatan terbanyak. Dipastikan semuanya meraih lebih dari satu juta penonton. Sampai saat ini, film ini masih tayang di berbagai bioskop Indonesia dan kabar terbarunya telah tembus diatas 3 juta penonton.

02 Pengabdi Setan IstimewaPengabdi Setan (Istimewa)

Selain Pengabdi Setan tercatat juga “Danur: I Can See Ghosts”, “Jailangkung” dan “The Doll 2”. Yang patut diingat adalah film bergenre horor ini, pernah masuk menjadi kandidat di festival yang sama adalah “Taman Lawang” dan “308” pada tahun 2013 silam.

Film yang berkisah tentang Rini (Tara Basro) beserta bapak, ibu, dan ketiga adik laki-lakinya yang terpaksa pindah ke rumah nenek. Mereka terpaksa tinggal disana setelah rumah mereka dijual untuk biaya pengobatan ibunya. Ibunya kemudian meninggal dan menjadi pembuka kemunculan teror dirumah tersebut./ Ibonk

 

Page 2 of 123