Adrian Adioetomo

Karat & Arang

Saya enggak membuat musik blues karena keputusan bisnis sih.. walau saya tau ini musik yang enggak banyak orang dengar, tapi bukan kerena itu saya main blues. Kebetulan saya tau musik ini, mengerti memainkannya dan bisa mengumandangkan perasaan saya untuk mainkan musik ini.” – Adrian Adioetomo

Karakter permainan gitar slide dengan Resonator dan Dobro gitar ini menjadikannya simbol Delta Blues di Indonesia, juga suara kritis nan lantang dipadukan dengan lirik-lirik abstrak dan tajam yang ia teriakkan semakin menambah daya magis album baru Karat & Arang dari Adrian Adiotomo. Bersama MySeeds Records, sebuah label independent. Adrian Adioetomo berhasil merilis Karat & Arang yang berisi 23 lagu dalam dua cakram padat (album ganda).

Adrian Adioetomo

Part I Karat merupakan instrospeksi diri batin Adrian. Seperti pada lirik lagu ‘Rongsokan’ ia menyebut Hari-hari dalam fikiran seperti tak bisa kutinggalkan, mungkin memang harus kubiarkan walaupun jadi rongsokan, walaupun jadi rongsokan.. dan pada lagu ‘Terlalu Mabuk’ ia berkata Terlalu Mabuk untuk rindu, Mabuk untuk ingin dirimu.. Terlalu mabuk untuk yang itu, Terlalu mabuk untuk yang itu, Mabuk mengetuk depan pintu.. Salah alamat di Akherat.!!. Side Karat ini berisi 9 lagu baru ditambah 3 bonus track dimana lagu-lagu itu sempat direkam olehnya di tahun 90’an.

Sementara pada Part II Arang merupakan penelusuran psikologi sosial yang diamati Adrian di kehidupan nyata. Seperti pada lirik lagu ‘Berapa Harganya?’ Tak ada kontrak tak ada jaminan siapa yang tak ingin melepas beban.. Bulan demi bulan tak kuhitung lagi, ku hanya ingin pergi darisini.. Berapa Harganya?.. Satu karcis ujung dunia.. Berapa harganya?.. Untuk bisa sampai disana.. Berapa harganya?.. Kritik-kritik yang disampaikan oleh Adrian cukup tajam. Sementara Side Arang ini diisi sekitar delapan lagu barunya dengan tambahan 3 bonus track, lagu-lagu yang telah ia rekam sekitar 15 tahun silam.

Gitar Dobro, yang senantiasa menjadi senjata andalannya, merupakan produksi tahun 1932, sebelum munculnya era gitar elektrik. Dobro ini dibuat oleh imigran Czeko yang mapan di California, mereka adalah Dopyera bersaudara. Awalnya mereka merakit gitar yang berbody metal dengan merk National. Kemudian mereka cekcok dengan partner Amerika mereka, lalu memisahkan diri dan membuat merk Dobro dengan body dari kayu.

Album Karat dan Arang ini memiliki cover artwork yang abstrak. Disini Adrian Adioetomo mencoba melukiskan feel dari keseluruhan album sambil menyempilkan karakter-karakter atau setting yang ada di dalam lirik lagu-lagunya. Memang tidak secara harafiah, tapi lebih disampaikan lewat simbol-simbol abstrak saja. Supportlah karya-karya musisi Indonesia dengan membeli CD Original, mari bersama lawan budaya Bajakan!.. /Teza

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found