Male Profile
NewsMusik

NewsMusik

Wednesday, 02 August 2017 11:15

Heru K Wibawa

Membangun Prilaku Dengan "Transformasi Diri"

Kematian bintang film komedi Robin William dan juga penyanyi tersohor seperti Whitney Houston serta  Chester Bennington seorang musisi rock dari band kenamaan Linkin Park,  tentu mengejutkan banyak pihak. Bagaimana tidak mereka yang tampaknya memiliki kehidupan dengan memiliki segalanya, glamour, kemewahan, kekayaan serta prestasi yang dikagumi dan diimpikan banyak orang ternyata mempunyai kehidupan yang rapuh. Mereka merupakan contoh manusia yang kosong dan penuh keputusasaan di balik gemerlap kemewahan dan keberhasilan duniawinya.

Banyak sekali kejadian mengejutkan saat kita melihat drama kehidupan seseorang. Ketika manusia hanya hidup  dengan mengikuti kefanaan jati dirinya, maka dengan mudah terjatuh dan hancur. Demikian antara lain cuplikan dari buku “Transformasi Diri” karya dari Heru K. Wibawa.

Heru begitu biasa dipanggil merupakan seorang pensiunan Polri yang kini menjadi seorang entrepreneur ditemui Sabtu (29/7) dalam peluncuran bukunya yang kelima yang bertajuk “Transformasi Diri” ia melihat bahwa generasi muda saat ini adalah generasi yang sangat self center, yaitu dirinya menjadi pusat pertimbangan dari apapun yang dia lakukan, kalau senang dilakukan, dan sebaliknya. Itu yang menjadi filosofi hidup generasi sekarang. Transformasi diri memberi filosofi yang baru bahwa hidup itu memiliki tanggung jawab bahwa apa yang dia lakukan  akan di pertanggung jawabkan nanti dikemudian hari.

Menurut Heru, ciri manusia yang jatuh dalam jebakan kehidupan adalah ketika keputusan-keputusan hidupnya tidak lagi menggunakan akal sehat, perasaan dan kebijaksanaan. Tetapi oleh pola keputusan yang nir rasa dan nir logika yang dipaksakan. Membangun prilaku yang tidak sesuai dengan kebijaksanaan dan nilai-nilai peradaban membuat kerdil dan matinya potensi diri. Kerugian besar terjadi karena banyak yang membawa potensi besar ke dalam liang kubur.

02 Transformasi Diri IstimewaTransformasi Diri (Istimewa)

Pria yang berusia 50 tahun dan penyuka travelling ini telah melihat dan mengamati kehidupan dari berbagai kalangan dan menemukan banyak rahasia kehidupan serta menemukan sebuah pola yang bisa kita ikuti. Terlalu banyak contoh keberhasilan yang dicapai dan diceritakan dengan jelas, tetapi tetap saja banyak orang yang tidak bisa mengikutinya. Demikian juga cerita tentang kegagalan yang sudah sangat sering terjadi namun masih juga diulang-ulang, ujarnya.

Saat ini tantangan untuk mentransformasi diri bisa semakin rumit dalam kehidupan masyarakat perkotaan. Manusia Indonesia lebih banyak yang masuk dalam jebakan-jebakan kehidupan, yang mematikan potensi dalam dirinya. Sebuah ironi yang akan terus mewarnai kehidupan manusia.

Di dalam buku setebal 213 halaman ini, Heru menyimpulkan bahwa jalan keluar dari jebakan kehidupan yakni, manusia harus mengalami transformasi diri jika ingin mendapatkan peluang dan berkat yang telah disediakan Tuhan. “Harapannya manusia bisa hidup di potensi maksimalnya. Jadi bangsa ini juga maksimal. Melalui transformasi diri, orang menjalani prosesnya sehingga rela menghidupi hidupnya dengan potensi maksimal, sehingga tidak terjebak dengan pola kehidupan yang salah” jelasnya.

Dengan merefleksikan kehidupan yang telah dijalani dengan merencanakan kehidupan baru yang lebih baik dan sejalan dengan kehendak Tuhan, sejatinya kita agar dapat memandang dan memaknai hidup dengan cara baru agar tidak masuk dalam jebakan kehidupan yang merugikan./ YDhew

 

Wednesday, 02 August 2017 11:09

Indische Party

Single Ketiga Sebagai Penyejuk

Pada akhir tahun 2016 lalu, Indische Party resmi melepas album mereka yang bertajuk “Analog”. Album yang sedikit banyak memberikan kabar baik untuk kiprah mereka ini, dikuatkan dengan tunggalan jagoan ‘Serigala’ dan ‘Khilaf’ sebagai single pertama dan keduanya. Nah, dipertengahan 2017 ini Indische Party akhirnya kembali meluncurkan single terbaru berjudul ‘Ingin Dekatmu’.

Tak hanya melepas single tersebut, mereka juga sekaligus merilis video musiknya yang dapat ditonton di kanal YouTube. Lagu ini juga dapat didengar lewat layanan streaming musik Spotify dan bisa diunduh melalui iTunes yang didistribusikan melalui label rekaman demajors.

Single ‘Ingin Dekatmu’ ini juga merupakan satu-satunya lagu yang dinyanyikan oleh Tika Pramesti, drummer Indische Party. Bernuansa dream pop, lagu ini juga didukung oleh Delicacy String Quartet dan Indra Perkasa (Tomorrow People Ensemble) pada aransemennya.

Band yang terbentuk di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini beranggotakan Japra Shadiq (vokal/ harmonika), Kubil Idris (gitar), Jacobus Dimas (bass), dan Tika Pramesti (drum). Sebelum merilis Analog, Indische Party telah lebih dulu melepas album penuh perdana mereka lewat tajuk “Indische Party” (2013) dan album mini “On Vacation” (2016) yang direkam di studio legendaris Abbey Road, London, Inggris.

02 Indische Party IstimewaIndische Party (Istimewa)

Penayangan pertama sekali video musik “Ingin Dekatmu” ini telah dilakukan pada hari ulang tahun mereka yang ke enam (21/7) bulan lalu. Video ini diproduksi oleh Narkobus Records dan Rita Yossy serta dibantu oleh Lola Amaria, disutradarai oleh Rita Yossy, dan Fraulein Amalia sebagai Director of Photography.

"Lagu ini adalah penyejuk bagi pria-pria liar yang berseluncur ria di depan panggung Indische Party. Lucunya, ketika kami membawakan lagu ini di panggung, mereka seketika koor massal dan berubah menjadi anak-anak yang manis. Hahaha," ungkap Japs Shadiq, sang vokalis sekaligus pencipta lagu ini./ Ibonk

Sunday, 30 July 2017 12:10

Gita Gutawa

Luncurkan Album Musik Anak Terbaik

Minimnya lagu anak-anak yang berkualitas membuat Gita Gutawa merasa sedih. Bagaimana tidak, banyak anak sekarang yang menyanyikan lagu orang dewasa tanpa paham arti dibalik liriknya. Hal inilah yang membuat ia dan sang ayah, Erwin Gutawa berkolaborasi untuk membuat album anak-anak dengan menggandeng beberapa penyanyi anak berbakat.

Seperti kita ketahui, sejak tahun 2013 kolaborasi unik seorang ayah dan anak menghadirkan warna baru bagi musik anak Indonesia dengan menghadirkan “Diatas Rata-rata” (DARR). Lewat DARR, Erwin dan Gita Gutawa berhasil membentuk platform generasi berkualitas yang memberi kontribusi besar untuk musik Indonesia. Setelah sukses menggelar konser, kerja keras Erwin dan Gita Gutawa pun membuahkan hasil dengan diluncurkannya album anak-anak muda yang tergabung dalam grup DARR ini.

Bertajuk “Musik anak Terbaik Di Atas Rata-rata”, album ini berisikan 11 lagu dengan single andalannya ‘Never Grow Up’. Sebuah lagu bilingual  yang dinyanyikan oleh Lyodra (salah satu anggota DARR 2) asal Medan. Lagu ‘Never Grow Up’ sendiri diciptakan oleh salah satu anggota DARR 1, Noni Dju, dengan tempo upbeat kekinian. Liriknya juga sangat fun bermaksud untuk  menunjukkan betapa seru dan riang masa kecil.

Gita merasa bangga bisa mengumpulkan anak-anak yang berbakat dari dua generasi project-nya tersebut. “Project ini akhirnya selesai juga, sangat menyenangkan bisa terlibat didalamnya. Aku bangga bisa berhubungan dengan mereka, dan aku banyak belajar juga dari mereka. Akhirnya ini jadi persembahan aku dan papa untuk seluruh anak di Indonesia,” ujar Gita.

02 Gita Gutawa YDhewGita Gutawa (YDhew)

Selain Lyodra, terdapat juga anak berbakat lainnya seperti Rafi Sudirman dengan singlenya ‘Aku Suka Hari Ini’, dan juga duo kakak beradik yang memiliki komposisi suara yang sangat unik yaitu Oliv dan Ola (Duo OlivOla) yang menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ bersama dengan Rafi Sudirman. Lagu ini diharapkan bisa menjadi anthem baru untuk anak-anak Indonesia saat merayakan hari lahir.

Selain lagu yang telah di sebutkan diatas, album ini juga berisikan lagu lainnya, yaitu ‘Abrakadabra’, ‘Jangan Remehkan’, ‘Walangkekek’, ‘Stop Bully’, ‘Tangga Nada’, ‘Janji Untuk Mimpi’, ‘Bersama’, dan ‘Buka Puasa’.

Gita berharap dengan adanya album ini bisa menjadi wadah untuk anak-anak Indonesia dan mengobati kerinduan masyarakat Indonesia atas lagu-lagu anak Indonesia yang berkualitas. Album “Musik Anak Terbaik Di Atas Rata-rata” tentunya akan menjadi  sebuah album yang memberi inspirasi dan edukasi bagi anak-anak Indonesia./ YDhew

03 Gita & Erwin Gutawa YDhewGita & Erwin Gutawa (YDhew)

Wednesday, 26 July 2017 14:12

Marcell Siahaan

Konser Yang Pertama dan Terakhir

Mungkin, pada awalnya semua juga akan bertanya-tanya dengan pernyataan seorang Marcell Siahaan terhadap konser yang akan digelarnya tak lama lagi. Konsernya sendiri diberinya tajuk "Once In A Lifetime" dan akan digelar di KLCC Plenary Hall, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 23 September 2017 mendatang. "Ini murni ide saya, dan sudah ada dari tahun lalu. Pada dasarnya saya ingin bikin konser sendiri secara mandiri," ungkapnya saat jumpa pers di bilangan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (25/7/2017).

“Kalau boleh jujur, saya ingin katakan bahwa inilah momentum paling tepat bagi saya untuk menggelar konser tunggal. Ada dua poin penting yang mendasari dibuatnya konser tersebut, yaitu 15 tahun perjalanan saya bermusik sebagai solois dan juga hari dimana saya memasuki usia 40 tahun. Sehingga inilah konser yang pertama dan terakhir disaat saya memasuki usia 40 tahun, dan manusia hanya sekali mengalami hal tersebut”, terangnya berfilosofi.  

Kenapa harus menggelar konser di Malaysia? Menurutnya lagi  karena negara tersebut, khususnya Kuala Lumpur, merupakan salah satu fan base terbesarnya. Apalagi, kata dia, selama ini terjadi ketimpangan yang baru diketahuinya bahwa di Kuala Lumpur, Marcell mendapati bahwa album-albumnya selalu terlambat beredar disana.  "Ini upaya saya menjaga fans di sana. Apalagi cukup banyak permintaan dari mereka agar saya dapat mengadakan konser disana," ucapnya.

Tidak juga menutup kemungkinan, jika memungkinkan konser serupa akan digelar di tanah air. Dalam konser nanti, Marcell akan diiringi oleh band yang dikomandoi oleh Rishanda Singgih. Ia juga akan berkolaborasi dengan penyanyi yang masih ditutup rapat-rapat informasinya.

Untuk konser ini, Marcell sendiri bekerjasama dengan Oleg Sanchabakhtiar dari Planet Design Indonesia dan Empire Live, VMC Music Indonesia. Selama menjalani dan mempersiapkan materi konsernya, ia mengakui tidak mengalami kendala berarti. Ia justru menikmati perjalanan dari konsernya ini.

02 Oleg Sanchabakhtiar & Marcell Siahaan IbonkOleg Sanchabakhtiar & Marcell Siahaan (foto: Ibonk)

Seperti yang dijelaskan langsung oleh Oleg kepada NewsMusik terkait konser tersebut bahwa dirinya cukup nyaman bekerjasama dengan Marcell. Ia sangat menikmati, dan menyebut bahwa Marcell adalah pribadi yang sederhana. Ia juga menganggap bahwa Marcell cukup berhasil membawa dirinya ke puncak karier dan sudah dapat disebut Rising Legend. “.... dan saya ingin menjadi bagian dari sejarah ini”, ujarnya.

Oleg juga menyebutkan bahwa setting panggung dan multimedia yang akan ditampilkannya nanti akan mewakili jati diri dan  keinginan Marcell. Juga akan menyesuaikan dengan karakter fans Marcell di Malaysia.      

Ada sekitar 40 lagu yang akan ditampilkan dipanggung konsernya nanti dalam durasi waktu 90-an menit. Ada 15 gimmick visual dan non visual yang diharapkan akan memberikan kesan yang tak terlupakan. Lagu-lagu tersebut akan dikemas lewat beragam bentuk penyajian seperti tunggalan ataupun medley.

“Yang penting, saya mau penonton bisa menikmati konser ini. Mereka ingin mendengarkan saya bernyanyi dan saya akan berikan yang terbaik,” jelas  penyanyi yang baru seja melepas video klip dari single terbarunya bersama Raline Shah berjudul ‘Jadi Milikmu’.

Tiket untuk konser Once In A Lifetime akan dibagi menjadi 7 kategori, dimulai dari kelas Reguler seharga Rp. 308,000,00 hingga kelas Intimate seharga Rp. 6,534,000. Untuk kelas Intimate ini tentunya akan mendapat benefit, salah satunya adalah photo backstage dengan Marcell sendiri. Tiket konser ini sendiri sudah bisa didapatkan di situs kiostix.com dan aplikasi Goers/ Ibonk

 

Friday, 21 July 2017 19:35

Pacha Festival 2017

Festival Dance Terbesar di Langit Bali

Bagi penikmat musik EDM, libur panjang akhir pekan dalam rangka HUT RI yang ke-72 akan diwarnai dengan gelaran Pacha Festival Bali 2017.  Pacha merupakan salah satu dance club terbaik di dunia, yang dikenal dengan club terbaiknya di Ibiza, Spanyol. Karenanya, Pacha Festival Bali akan menghadirkan pengalaman festival electronic dance terbesar di Pulau Dewata.

Gelaran ini merupakan festival Pacha untuk pertama kalinya dengan alunan musik dari deretan DJ internasional ternama. Sebelas DJ papan atas seperti Steve Angello, Fedde Le Grand, Roger Sanchez, Dipha Barus dan 7 nama top lainnya. Bertempat di Ananta Resort, Seminyak, pada tanggal 18 Agustus 2017 mendatang acara ini dipastikan akan mewarnai langit pulau Dewata.

Dengan menggandeng Maxima Entertainment selaku promoter, Pacha Festival Bali 2017 akan menghadirkan pengalaman festival electronic dancer untuk satu hari penuh ala Ibiza terbaik di Bali dan menjadi festival Pacha Pertama yang diadakan di Asia Tenggara. Sebelumnya, Pacha Festival telah sukses selama lima tahun menggetarkan puluhan ribu ‘party goers’ di Amsterdam dan baru saja memulai edisi Tokyo pada tahun lalu.

“Pacha Festival Bali 2017 akan menghadirkan pengalaman berbeda buat para pecinta musik dance di tanah air. Sebelas DJ Top Internasional dan puluhan dancer akan menghadirkan keseruan ala Ibiza, tempat dimana club house Pacha berasal. Bayangkan saja, sebuah dance floor dengan panorama sunset pantai Seminyak yang menawan,”umbar Chairri Ibrahim, General Manager Maxima Entertainment dalam press conference di Senayan Kamis (20/7).

02 DJ Moski Love DJ Patrix Johnson Hans Smith Pacha Representative Chairri Ibrahim GM Maxima Entertainment YDhew

DJ Moski Love, DJ Patrix Johnson, Hans Smith-Pacha Representative, Chairri Ibrahim-GM Maxima Entertainment (YDhew)

Acara ini akan ada 9 nama Disk Jockey (DJ) Internasional yang akan mengisi gelaran ini, diantaranya Steve Angello, Fedde Le Grand, Roger Sanchez, Leroy Styles, Patrix Johnson, Danny Wade, Justin Strikes, Moski Love, dan James Sullivan. DJ papan atas Indonesia yang turut meramaikan festival ini adalah Dipha Barus dan JYAP serta akan hadir dengan memberikan cita rasa nusantara. Kedua DJ tanah air tersebut akan memandu dance floor dari panggung utama.

Patrix Johnson DJ asal Belanda yang merupakan salah satu headliner pada acara ini mengatakan bahwa dirinya senang ikut ambil bagian dalam dance festival terbesar di Bali ini. Dirinya sudah menyiapkan beberapa andalan dengan aliran future house sound, yang khusus dipersiapkan guna memanaskan ajang ini.

Jadi bagi pecinta musik ajeb-ajeb, tidak perlu jauh-jauh lagi melihat aksi DJ kelas dunia, cukup dengan membeli tiket paling murah seharga Rp. 645.000,- pada saat ini penjualan tiket memasuki masa kedua, tiket General Admission fase pertama sudah habis terjual. Sedangkan fase ketiga tiket dijual dengan harga sedikit lebih tinggi, Maxima menyediakan tiket VIP seharga Rp. 1.665.000,- (include tax dan handling fee).

Bagi yang hendak merasakan keseruan bersama teman terdekat tersedia paket VIP untuk lima orang dengan harga ticket mulai dari Rp. 12.575.000,-. Untuk para party seaker dan party goers segera beli ticketnya jangan sampai kehabisan./ YDhew

Friday, 21 July 2017 18:04

Chester Bennington

Akhir Kelam, Hidup Sang Bintang

Lagi-lagi dunia terhenyak, dengan kabar menyedihkan bagi jutaan orang yang mendengarnya. Ada saja  selebritis dunia yang mengakhiri hidupnya lewat cara cepat. Kali ini menimpa sang vokalis group musik Linkin Park, Chester Charles Bennington. Seakan tak percaya, bagaimana seorang yang di dunia mendapatkan segalanya, ketenaran dan juga kehidupan yang seolah kita berfikir mereka bahagia dan sukses dalam hidupnya karena apapun pasti mereka dapatkan dengan mudah.

Namun hal tersebut tidaklah selalu demikian, tak jarang mereka berperan sebagai aktor yang selalu kelihatan tak pernah mengalami beban dan masalah, dan tiba-tiba kita terheyak ketika sang idola harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak wajar.

Bunuh diri apakah memang suatu penyakit kejiwaan atau memang karena jeratan narkoba yang menyebabkan dengan mudahnya mereka mengakhiri hidup dengan cara yang tak wajar. Entahlah. Kita tak pernah tahu di balik glamournya kehidupan mereka dan juga berapa banyak penggemar yang selalu mengelu-elukan mereka tetapi ternyata memiliki kekosongan hidup.

Kita juga tak pernah tahu kehidupan pribadi mereka yang tidak mereka share di publik. Ketika sang idola memutuskan hidup dengan cara bunuh diri, segala hal tentang kehidupan merekapun mulai terkuak. Tentang perasaan mereka dan juga kesepian dan keputusasaan yang mendera dibalik kepopulerannya,  sehingga salah satu tindakan yang kadang sulit kita cerna dengan akal sehat adalah dengan memutuskan hidup dengan cara bunuh diri.

Chester Bennington mengakhiri hidupnya bertepatan dengan ulang tahun sahabatnya Chris Cornell, seorang musisi yang terkenal sebagai penyanyi, pemain gitar, dan pencipta lagu dari band Soundgarden yang juga mengakhiri hidupnya dengan cara mengenaskan “Gantung Diri”. Sejak diketemukan tergantung di rumahnya di Palos Verdes, Los Angeles, Kamis (20/7) sampai berita ini diturunkan belum jelas apa yang menyebabkan Chester nekat mengakhiri hidupnya. Chester juga adalah salah satu orang yang paling bersedih saat Chris Cornell meninggal.

 

02 Chester Bennington IstimewaChester Bennington (Foto: Istimewa)

Tutup usia di tahun ke 41, Chester sejak kecil sudah tertarik dengan seni terutama musik. Laki-laki kelahiran Phoenix, Ariona, Amerika Serikat ini memang sejak kecil dipenuhi dengan cerita kelam. Lahir dari pasangan broken home, Chester kecil sering mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan. Mulai dari pelecehan, bullying, bahkan kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang yang sangat dekat di hidupnya. Hal itulah yang selalu membekas dan menghantuinya hingga dewasa. Hal tersebut sudah bukan rahasia lagi, dimana setiap wawancara dan lagu-lagunya selalu menyebutkan pengalamannya yang kelam.

Chester yang tinggal bersama ayahnya sejak perceraian orang tuanya, selalu berhadapan dengan kekerasan, baik dari orang terdekatnya maupun lingkungan sekitarnya. Hal tersebut menjadi pemicu mengapa sejak kecil sudah terjerumus dalam lingkaran obat-obat terlarang. "Saya menggunakannya  banyak sekali. Saya menghisap ganja, memakai sedikit meth dan kemudian hanya duduk saja terdiam dan mengalami kepanikan. Untuk menurunkannya biasanya saya menghirup opium. Berat saya menyusut hingga 50 kilogram. Ibu saya bilang saya terlihat seperti baru keluar dari kamp Auschwitz. Setiap kali ‘sakau’, saya akan menghisap ganja agar terbebas dari obat-obatan terlarang", ujar Chester dalam suatu sesi wawancara.

Lepas dari sang ayah dan memutuskan ikut dengan ibu di usia 17 tahun, Chester mulai menekuni kesukaannya akan seni. Dalam musik itulah Chester bisa mengungkapkan gelisah dan sisi kelamnya. Sejak bersama ibunya, dia mulai berhenti akan kecanduannya dengan alkohol dan obat terlarang, Chester mulai bekerja dan menjalani karir bermusik secara profesional.

Iapun mengawali karier musiknya dengan bergabung bersama Sean Dowdell sebagai vokalis. Kemudian, Sean Dowdell dan Chester Bennington keluar dan membentuk band baru beraliran post-grunge bernama Grey Daze. Band tersebut merilis 3 album masing-masing pada 1993, 1994 dan 1997. Pada 1998, Bennington meninggalkan Grey Daze namun kesulitan untuk menemukan band baru.
 
Ditengah rasa frustasi dan keputusasaan di bidang musik, Chester bertemu dengan Jeff Blue wakil pimpinan A&R di Zomba Music Los Angeles. Chester mengikuti sebuah audisi sebagai vokalis untuk sebuah band bernama Xero yang kemudian dirubah namanya menjadi Linkin Park.

Setelah sukses menjalani audisi, Bennington yang kala itu bekerja di sebuah perusahaan digital segera meninggalkan pekerjaannya dan membawa keluarganya pindah ke California. Chester Bennington dan Mike Shinoda, salah satu personil Linkin Park, berhasil membuat progres yang baik. Sayangnya mereka berulang kali mendapat penolakan dari beberapa label musik. Atas campur tangan Jeff Blue pula lah, mereka akhirnya berhasil mendapat kontrak rekaman dengan Warner Bros. Records di tahun 1999.

Di tahun 2000 debut Album “Hybrid Theory” yang dirilisnya menduduki peringkat dua di tangga album Billboard Amerika Serikat dan akhirnya band ini menjadi salah satu band rock yang mampu menjual 30 juta album di seluruh dunia selama kurun waktu dua tahun. Dan menjadi salah satu band yang cukup berpengaruh dan terbesar di Amerika Serikat. Pada 2003, “Meteora” membuat Linkin Park terus melejit, dengan salah satu lagu andalan, “Numb” album itu terjual 27 juta kopi.

 

03 Chester Bennington IstimewaChester Bennington (Foto: istimewa)

Setelah lepas dari jeratan narkoba beberapa lama, lagi-lagi Chester kembali kecanduan alkohol ditengah kesuksesan Linkin Park dan kembali menghentikan kecanduannya di tahun 2011. Ayah dari 6 orang anak dari dua pernikahannya dalam hampir setiap wawancara selalu mengungkapkan sisi kelam dan juga gangguan kejiwaan yang di deritanya, dan ini bukan suatu rahasia lagi bagi para fansnya.

Album terbarunya “One More Light” adalah album yang membantunya berjuang dari gangguan kejiwaannya yang juga membantunya fokus dalam hal terpenting dalam hidupnya. Album ini merupakan album terakhirnya bersama Linkin Park yang dirilis tanggal 19 Mei 2017.

"Aku sampai pada titik hidupku, Aku bisa saja menyerah dan mati saja atau berjuang untuk apa yang kuinginkan. Dan aku memilih untuk terus berjuang. Aku ingin punya hubungan yang baik. Aku ingin mencintai orang-orang di hidupku. Aku ingin menikmati pekerjaanku. Aku ingin menikmati saat-saat menjadi ayah, dan punya teman, dan hanya bangun di pagi hari saja. Karena itulah arti perjuangan bagiku," ujar Chester sewaktu wawancara mengenai album terbarunya 4 bulan lalu.

Namun sayang ternyata Chester harus menyerah, kita tak akan pernah tahu apa yang membuatnya nekat mengakhiri hidupnya. Bertahun-tahun berjuang akan kecanduannya terhadap narkoba dan alkohol. Lalu sejak lama pula jiwanya terganggu dengan selalu memikirkan cara untuk mengakhiri hidup karena merasa tertekan dengan hidupnya.

Rest in Peace Chester, You’re legend now, and we’re gonna miss u…/ YDhew

 

Wednesday, 19 July 2017 15:14

PassionVille 2017

Tantang Generasi Muda Berpotensi untuk Berkarya

Kurangnya wadah yang memadai bagi generasi muda Indonesia untuk menunjukkan kreatifitas dan mewujudkan mimpinya terkadang dapat menimbulkan persoalan. Hal ini timbul karena terbentur dengan beragam kendala tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Berdasarkan hal tersebut Wismilak Foundation kembali menyelenggarakan PassionVille2017.

Tahun ini adalah penyelenggaraan ke-5 PassionVille dan semakin kukuh sebagai rangkaian festival passion bidang kreatif terbesar di Indonesia. Dengan memperluas konten program lebih banyak, untuk menciptakan peluang yang dapat diambil anak-anak muda Indonesia lewat karya-karya barunya sesuai passion-nya masing-masing.

Tahun ini lewat tagline “Passion for Nation” diharapkan akan menjadi semangat baru bagi para passioners.  Masih melalui program #ProjectPassion, tantangan bagi para Passioners akan terasa lebih menarik karena nantinya akan dicari ide-ide proposal dari project yang lebih kreatif, inovatif, dan diharapkan mempunyai dampak positif serta menginspirasi untuk lingkungan sekitar, kota, bahkan bangsa Indonesia. Ide dan kreativitas yang nantinya akan diikutsertakan tidak harus besar dan massif, karena dengan ide kecilpun akan memberi dampak positif dan pengaruh besar bagi sekitar.

Menariknya di tahun ini, PassionVille menghadirkan narasumber sebagai inspiring people, ada vokalis band Payung Teduh Mohammad Istiqomah (Is), Arina Ephipania yang juga seorang vokalis band dari band Mocca, serta di meriahkan dengan Komunitas Institut Musik Jalanan yang didirikan oleh Andi Malewa. PassionVille juga berkolaborasi dengan musisi Endah N Rhesa melalui program ‘Passionville X Endah N Rhesa, Indie Ride – Journey of Passion.

02 Endah Rhesa IstimewaEndah & Rhesa (Istimewa)

“Banyak sekali anak muda Indonesia yang memiliki passion di bidang kreatif, tetapi sering menemui kendala. Kami sangat senang sekali dapat terlibat dalam aktivasi yang penuh inspirasi seperti Passionville ini. Kami berharap PassionVille 2017 dapat menciptakan para Passioners dengan ide-ide fresh yang tentunya dapat membawa perubahan dan dampak posisitif untuk Indonesia. Apalagi dengan tema Passion for Nation, ini adalah tantangan bagi para passioners yang datang dari berbagai latar belakang yang berbeda”, ungkap Is dan Arina sesuai dengan rilis yang diterima NewsMusik Selasa (19/7).

#ProjectPassion ini dapat diikuti oleh perorangan maupun beregu, pria atau wanita warga negara Indonesia dengan usia 18 tahun. Pendaftaran telah dibuka melalui website www.passionville.id sejak bulan Mei 2017 hingga tanggal 14 Oktober 2017, dan sejauh ini kualitas submission para calon passioners menunjukkan peningkatan.

Proposal terpilih akan mendapatkan mentoring session dari para tokoh inspiratif. Setelah sesi mentoring, para peserta terpilih akan menjalani ‘Kelas Kreatifitas & Passion’ dan mendapatkan coaching dari para ahli di bidang kreatif, sebelum mereka mempresentasikan project mereka masing-masing kepada dewan juri. Pemenang nantinya akan mendapatkan pendanaan untuk merealisasikan ide kreatifnya, serta untuk pemenang utama juga akan memperoleh experience grant, bisa dalam bentuk mentoring, workshop atau exhibition.

Rangkaian acara PassionVille 2017 yang juga turut dimeriahkan dengan Campus Roadshow serta Mini Concert yang telah berjalan selama bulan April hingga Mei 2017 lalu di 5 kota besar di pulau Jawa (Semarang, Solo, Yogya, Malang dan Surabaya). Acara tersebut menampilkan Rene Soehardono, Yoris Sebastian, Erix Soekamti, Andi Malewa dan Ryan “The Popo” serta art performance dari banyak seniman berbakat di Indonesia seperti Rendy Pandugo, Adhitia Sofyan, Superman is Dead, Kelompok Penerbang Roket, The S.I.G.I.T., Seringai, dan banyak lainnya./ YDhew

 

Tuesday, 18 July 2017 22:25

Elly Kasim

Jangan Malu Jadi Penyanyi Daerah

Tak banyak penyanyi daerah yang masih eksis sampai sekarang. Bisa diambil contoh penyanyi Minang yang tetap konsisten sampai kini.  Fenomena lagu asing yang masuk ke Indonesia, telah menggeser popularitas lagu daerah di negerinya sendiri. Padahal kalau boleh dibilang, tak sedikit negara luar yang  mengapresiasi lagu daerah bukan hanya lagu Minang saja.

Elly Kasim, yang sudah hampir 57 tahun berkarya di dunia musik dengan mengusung lagu daerah Minang sangat menyayangkan hal tersebut. Banyak penyanyi Minang yang putar haluan dan meninggalkan karirnya bermusik daerah sehingga tak ada yang bisa meneruskan jejaknya sebagai penyanyi Minang.

“Sebenarnya tak ada yang sulit kalau kita konsisten dengan lagu yang kita bawakan. Banyak yang bagus-bagus, tetapi kebanyakan dari mereka beralih ke dangdut atau musik lainnya. Mereka malu sepertinya membawakan lagu Minang. Kadang sudah populer lalu mereka berhenti”, ujar Elly Kasim Senin (17/7) kepada NewsMusik   di sela latihan untuk konsernya nanti.

Penyuka cabe rawit ini tetap konsisten sampai sekarang membawakan lagu daerahnya sendiri. Elly yang lahir di  Tanjung Mutiara, Agam, Sumatera Barat sampai saat ini tercatat telah merilis hampir 100 album solo. Sejak kecil dirinya sangat menyukai lagu Minang, dan mulai SMP mendengar lagu Minang dari Orkes Gumarang yang populer di waktu itu, Iapun mulai mengikuti festival lagu-lagu pop dan lagu Minang mulai tahun 1957-an dan selalu keluar sebagai juara.

02 Elly Kasim Judika YDhewElly Kasim dan Judika ((Foto: Istimewa)

Di tahun 1960, ia hijrah ke Jakarta dan memulai karirnya dengan mengikuti kejuaraan menyanyi pop di RRI dengan juri Titiek Puspa dan almarhum Bing Slamet. Tak dinyana, Elly dinobatkan menjadi juara pertama. Sejak itulah namanya mulai dikenal di industri musik tanah air. Selanjutnya ia mulai rekaman lagu Minang yang pada era itu sedang berkibar. Makin booming, setelah ia bergabung dengan orkes band Kumbang Cari pimpinan almarhum Nuskan Syarif.

Kepopulerannya sebagai penyanyi Minang tidak hanya di pelosok Nusantara, namuni sampai ke seluruh negara Asia, Eropa, bahkan Amerika dengan membawa kesenian Minang sebagai Duta Musik. Sejumlah lagu-lagunya menjadi hits. Tidak  hanya sebagai penyanyi solo, tetapi juga dipasangkan dengan penyanyi daerah lainnya seperti Tiar Ramon, Yan Bastian, Syamsi Hasan kian mengukuhkan namanya sebagai penyanyi Minang yang belum ada saingannya kala itu.

Ditengah kepopulerannya Elly sempat bergabung dengan Gumarang dan menelurkan hits ‘Bapisah Bukanyo Bacarai’, ‘Nan Bagala/ Reuni Gumarang’ pada tahun 1971. Tercatat beberapa lagunya masih terdengar sampai sekarang seperti ‘Kasiah Tak Sampai’, ‘Mudiak Arau’, ‘Ai Lap You’, ‘Kusiah Bendi’, ‘Surek Dari Rantau’, ‘Saganggam Piciang’, ‘Kasih Ndak Sampai’, ‘Tanah Jao’, ‘Ayam Den Lapeh’ dan masih banyak lagi.
 
Penyanyi berjuluk Si Ayam Den Lapeh ini, bukan hanya dikenal sebagai penyanyi Minang semata tetapi Melayupun dikuasainya. Bahkan Elly pernah tercatat di daerah Pasundan sebagai penyanyi Minang pertama kali yang mempopulerkan lagu yang berjudul ‘Peuyeum Bandung’.

03 Elly Kasim IstimewaFoto : Istimewa

Bukan hanya sekedar bernyanyi, Elly juga menambahkan musik tradisional  Minang yang kental dengan alunan tradisi saluang (suling khas Minang) ditambahkan dengan sedikit sentuhan modern, seperti lagu ‘Sinar Riau’ sehingga menjadi lebih berwarna.

Elly juga tidak hanya menyandang gelar, tetapi juga beragam penghargaan sudah diraihnya karena konsistensinya bermusik. Di usianya yang menginjak 73 tahun, Elly bukan hanya melestarikan budaya tanah kelahirannya dengan senandung lagu saja, tetapi juga sebagai duta seni. Ia berusaha melestarikan budaya Minang dengan melestarikan adat istiadat dan kebudayaan Minangkabau melalui sanggar tari asuhannya yaitu Sangrina Bundo dan Sanggar Bundo Kanduang hingga saat ini.

Jelang konsernya yang bertajuk “Menjulang Bintang 57 tahun Elly Kasim Berdendang” yang akan dilaksanakan tanggal 29 Juli 2017 di Taman Ismail Marzuki mendatang, ia masih memiliki kualitas vokal yang stabil. Konsernya ini adalah salah satu cara untuk memperkenalkan lagu-lagu Minagkabau yang populer menjadi lebih berwarna. Dimana nantinya akan dihadirkan dalam balutan bermacam genre seperti rock n roll, blues, hip hop, jazz dan lainya sehingga dapat lebih diterima oleh generasi muda sekarang.

“Jangan malu menyanyikan lagu Minang,  tidak boleh mempunyai sifat sombong, selalu rendah hati dan bersosialisasi kepada siapapun. Tetap konsisten dengan lagu daerah dengan ciri khas kalian. Jangan berubah-ubah”, pesannya kepada penyanyi muda khususnya penyanyi Minang yang sedang merintis karir./ YDhew

Tuesday, 18 July 2017 09:49

Luis Fonci

Fenomena Despacito

Ada sebuah tren yang sempat booming belum lama ini di jagat hiburan. Sebuah lagu dengan tempo cepat  sering terdengar dimana-mana.. Tak peduli dengan liriknya, lagu ini ngetop hampir di 45 negara di dunia. ‘Despacito’ pun diketahui merajai disetiap tangga lagu, begitu juga di Indonesia. Lewat lirik   “nakal” tersebut, kepopuleran tunggalan ini mampu duduk selama beberapa minggu di tangga lagu Billboard. Walaupun sebenarnya kita harus mengerenyitkan dahi, karena lirik lagu Despacito bermakna ajakan bercinta dengan kata-kata vulgar.

Sejak dirilis Januari tahun ini, media sosial pun tak kalah ramainya dengan menggugah lagu Despacito dari beragam versi,  meski  berbahasa Spanyol dan tak mudah dinyanyikan, di Indonesia lagu ini tidak hanya dinyanyikan di kalangan artis saja tetapi pengamen jalananpun kerap menyanyikan lagu ini .

Versi pertama Despacito dinyanyikan oleh Luis Fonsi featuring Daddy Yankee. Selanjutnya dimunculkan versi kedua dalam versi remix dan berbahasa Inggris, disini Luis menggandeng Justin Bieber namun tetap dinyanyikan bersama Daddy Yankee. Versi ini juga mampu menduduki puncak tangga lagu Hot 100 Billboard selama delapan minggu berturut-turut.  Lagu inipun merupakan lagu pertama Amerika Latin yang menduduki puncak lagu Billboard Hot 100.

Siapa sih sebetulnya Luis Fonsi? Luis Alfonso Rodríguez López-Ceper penyanyi tampan kelahiran Puerto Rico adalah individu yang menciptakan lagu ini, Fonsi sendiri awalnya tidak menyangka lagunya akan menjadi hits di dunia. Berawal dari dirinya mendapatkan kata Despacito, lalu mulai merekam lagu tersebut di studio miliknya sendiri. Hanya butuh waktu kurang dari tiga jam, lagu ini mampu dia selesaikan. Alunan gitar Spanyol sangat terasa di awal lagu, namun instrument khas Puerto Rico tersebut (Cuarto) yang digunakan belum memuaskan Fonsi. Maka dari itu, Fonsi pun mengajak  Daddy Yankee untuk menyempurnakan lagu ini. Yankee yang sama-sama berkebangsaan latin berhasil memberi warna dilagunya.

02 Luis Fonsi & Daddy Yankee IstimewaLuis Fonsi & Daddy Yankee (Istimewa)

"Aku mendapatkan hook melodinya menggunakan gitar. Beat lagu itu baru muncul setelah aku membuat lirik lagunya. Dalam sebuah sesi menulis lagu bersama temanku Erika Ender, aku berkata kepadanya, bagaimana kalau bagian  chorus lagu ini dibuat dengan menciptakan lagu yang sensual, menyenangkan, membangkitkan, dan membuat orang menari . Dan aku sendiri menganggapnya lagu ini merupakan lagu pop jenis baru," ujarnya bersemangat.

Lelaki berusia 39 tahun ini sejak kecil mulai bermimpi menjadi bintang seperti idolanya kelompok populer Menudo dan meniru gaya mereka. Beranjak dewasa Fonsi bergabung dengan paduan suara anak San Juan.

Kehidupan berlanjut ketika dirinya tinggal di daratan Amerika Serikat selama sepuluh bulan. Fonsi mulai bernyanyi di pentas sekolah dan festival lokal serta berpartisipasi dalam kelompok musik yang dinamakan “Big Guys”. Dari group ini salah satu anggotanya adalah Joey Fatone yang kemudian bergabung dengan group musik NSYNC.

Di tahun 1995, Fonsi  kemudian belajar musik di sekolah Florida State University, dan bergabung dengan paduan suara di sekolahnya bersama City of Birmingham Symphony Orchestra. Fonsi yang selalu berfikir bahwa musik merupakan sesuatu yang penting bagi hidupnya, dengan mengambil jurusan Vocal Performance, Fonci memulai perjalanannya bermusik dengan tampil di seluruh dunia dengan kelompok paduan suaranya, dan mulai membuat dan merekam demo suaranya di Miami. Dari sini karir bermusiknya dimulai. Ia pun mulai mendapat rekaman oleh Universal Music Latin.

Di tahun 1998, album perdananya di rilis, dengan tajuk “Comenzaré (I Will Begin)”  berhasil mendapat nomor 11 di tangga lagu Billboard’s Top Latin. Dengan singlenya ‘Si Tú Quisieras’, ‘Perdóname’, ‘Dime Como’,  dan ‘Me Iré’ dan menjadi hits di tempat kelahirannya dan juga Amerika Latin.

Debutnya di dunia musik semakin dibuktikan dengan rekaman duetnya bersama Christina Aguilera, untuk album Spanyol berbahasa Spanyolnya, “Mi Reflejo” di tahun 2000. Dan pada tahun 2002, Fonsi menjadi pembuka untuk konser Britney Spears “Dream Within a Dream Tour” di AS dan Meksiko.
Sampai saat ini Fonsi telah menelurkan 8 album dan 4 album kompilasi. 8 album tersebut diantaranya; Comenzare (1998), Eterno (2000), Amor Secreto (2002), Abrazar la Vida (2003), Paso a Paso (2005), Palabras del Silencia (2008), Tierra Firme (2011) dan 8 (2014). Beragam penghargaan beberapa kali diterima Fonsi yang mulai terkenal sejak albumnya di tahun 2000 (Eterno).

03 Luis Fonsi IstimewaLuis Fonsi (Istimewa)

Di album keenam, Palabras del Silencia, ia mampu membuktikan dengan menempati posisi pemuncak  selama beberapa minggu. Luis Fonsi memecahkan Billboard Hot 100 AS untuk pertama kalinya pada bulan September 2008 dengan lagunya ‘No Me Doy por Vencido’. Memulai debutnya di nomor 98 dan memuncak di nomor 92. Album ini mencapai nomor satu di tangga lagu Billboard Hot Latin Tracks. Salah satu dari hit terbesarnya sampai saat ini adalah ‘No Me Doy por Vencido’ yang menjadi "Lagu Pop Latin dalam Dekade" Billboard, dan menghabiskan 21 minggu di nomor satu di tangga lagu Hot Latin Songs.

Pada tahun 2014, Fonsi merilis album 8, dan kemudian melakukan tur betajuk "Somos Uno" pada 2014-2015. Dia juga menyebutkan bahwa dunia seni peran akan berada di jalur karirnya. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak akan keberatan berakting dengan aktor dan aktris Meksiko. Padahal di tahun 2004, Fonsi sempat mencoba untuk berakting di serial telenovela Corazones al Limited dan berperan sebagai Roy.

Begitulah karirnya di dunia musik akhirnya membuahkan hasil di tahun 2017 ini, dengan tanpa sengaja menemukan kata Despacito dan akhirnya menjadi lagu yang bercorak reggaetón. Dengan menggunakan fasilitas You Tube, lagu ini tercatat sebagai lagu Spanyol pertama yang diunggah dan langsung mendapat 5 juta viewer dalam hitungan 24 jam saja. Terlepas dari pro kontra mengenai lirik lagunya, memang lagu ini asyik untuk didengar.

Pasito a pasito, suave suavecito
Nos vamos pegando, poquito a poquito
Que le ensenes a mi boca
Tus lugares favoritos
Pasito a pasito, suave suavecito
Nos vamos pegando, poquito a poquito/ YDhew

 

Monday, 17 July 2017 09:49

Danilla

Berbicara Album Kedua

Perempuan ini tercatat memulai debutnya di dunia musik pada 2013 lalu. Bukan dalam usia yang terbilang sangat belia, sehingga dirinya sangat mudah untuk merebut hati penggemarnya lewat buaian syair dan suaranya yang penuh penghayatan. Lewat musik yang boleh dikata sangat sederhana, disitulah dirinya mekar, tumbuh wajar lewat debut single-nya, 'Buaian' yang kabarnya benar-benar membuai siapapun yang mendengarnya.

Danilla, kelahiran 12 Februari 1990 itu enggan disebut penyanyi apalagi musisi,. Ia kerap menyebut dirinya hanya orang yang hobi mendengarkan musik dan bernyanyi, atau malah  pernah dia menyebut dirinya sendiri sebagai pengantar pesan.

Memiliki nama lengkap Danilla Jelita Poetri Riyadi, ia telah memiliki sebuah album yang dirilis pada Maret 2014 silam. Lewat album tersebut, Danilla semakin menancapkan namanya di blantika musik tanah air.

Proses dirinya dalam menyerap dan bermusikpun sangat terkait dengan kebiasaannya sedari belia sudah mendengarkan Antonio Carlos Jobim, Joao Gilberto, Frank Sinatra, Billie Holiday, ataupun Ella Fitzgerald. Atau ketika beranjak dewasa, ia mendengarkan diantaranya Diana Krall, Sophie Ellis Bextor Coldplay, Radiohead, dan Portishead.

02 Danilla IbonkDanilla (Foto: Ibonk)

Begitulah, NewsMusik sempat bertemu dengannya pekan silam pada saat press conference sebuah event musik yang akan diikutinya. Benar saja, ketika disinggung sedikit kapan dirinya akan meluncurkan album terbaru, iapun memberi bocoran bahwa album tersebut bakal dirilis dalam waktu dekat.

Peluncuran album itu sendiri ditargetkan bisa diadakan sebelum festival Soundrenaline 2017 digelar. Sebab dirinya akan tampil dan ingin membawakan materi baru di sana. "Mudah-mudahan sebelum Soundrenaline sudah rilis, biar orang-orang pada nyanyi nanti di sana," ungkapnya berharap.

Masih berbicara album barunya, ia mengungkapkan bahwa materi lagu yang dipersiapkan adalah ciptaannya. “Lagunya rata-rata tentang kesedihan, kalau sedih gue nggak bisa curhat, jadinya gue nulis lagu," ungkapnya lagi.

Album ini juga diyakininya menjadi sangat personal. Disamping akan didominasi tempo lambat pada aransemen musiknya, Danilla mengakui bahwa perihal lirik banyak ungkapan hatinya tertuang disana. Mulai dari pandangannya terhadap kehidupan, cinta, bahkan soal kepeduliannya terhadap binatang.

03 Danilla IbonkDanilla (Foto: Ibonk)

Sebelumnya sebagai prolog album ini, Oktober tahun lalu, Danilla telah merilis sebuah tunggalan berjudul ‘Kalapuna’. Sebuah kegundahan seputar hubungan percintaan, lagu yang  bercerita tentang waktu di mana hubungan yang sudah seharusnya punah.

Kalau kita sedikit balik kebelakang, di album perdananya Danilla memang tidak ikut menulis lagu. Semua dilakukan Lafa, yang juga mengiringi Danilla menyanyi dengan gitar. Dikatakannya bahwa album kedunya ini didorong oleh refernsi musik yang berbeda. “Overall masih yang down tempo, namun instrumennya tidak sehalus album yang dulu," tukasnya.

Seperti apa nanti suguhan pesan yang dilantunkannya, baiknya kita tunggu saja. Tinggal lagi bagaimana kita mendukung potensi dan mengapresiasi segala upaya yang dilakukan oleh para musisi tanah air ini./ Ibonk

Page 3 of 116