Male Profile
NewsMusik

NewsMusik

Monday, 09 January 2017 15:40

50 Tahun The Rollies

The Rollies Itu Satu

Tak terasa tahun ini The Rollies genap 50 tahun usianya. Band ini dibentuk pada Oktober 1967 oleh Iwan, Delly, Iskandar dan Deddy Stanzah, lalu menyusul bergabung Gito, Bonny & Benny Likumahuwa serta Didit Maruto. Dengan berbagai persoalan internal diantara para musisinya, The Rollies tetap bertahan tanpa harus bongkar pasang personelnya.

The Rollies lebih suka tiarap dari pada harus mengganti pemain baru. Saat Deddy Stanzah dan Gito terlibat masalah serius dengan kebiasaannya mengkonsumsi obat setan, The Rollies baru mencari drummer baru setelah Iwan meninggal, serta Stanzah dianggap sudah tak bisa dikendalikan lagi. Selanjutnya baru muncul Jimmy Manoppo tampil sebagai drummer baru diikuti Oetje F Tekol sebagai bassis.

The Rollies boleh dianggap sebagai satu-satunya band yang paling kompak permainannya. Semua berkat hubungan sesama pemain yang telah menyatu diantara Iwan, Delly, Deddy Stanzah, Gito,Iskandar, Nonny dan Benny Likumahuwa. Mereka bagaikan pemusik setengah dewa yang menentukan apa yang mereka hasilkan adalah sebuah sajian musik yang sangat luas biasa untuk dinikmati mata dan telinga.

Para personel The Rollies adalah para pemusik berbakat, mereka bukan cuma piawai memainkan peralatan musik. Mereka juga mampu membuat komposisi, aransemen sebuah musik menjadi jauh lebih cantik. Seperti saat The Rollies memainkan lagu-lagu dari Chicago, Blood, Sweat & Tears, Santana, James Brown dan lainnya.

The Rollies pun tak mau dianggap sebagai komplotan peniru. Mereka semua mampu menciptakan lagu-lagu yang menjadi hits dikemudian hari. The Rollies juga tidak menampik kalau musik mereka dipengaruhi Chicago, Santana. BST serta menjadikan The Rollies sebagai brass rock group.

 02 Rollies Istimewa

Rollies (Istimewa)

Musiknya adalah satu yang lain karena tercerabut dari unsur-unsur Chicago, Santana dan BST. Sehingga mereka mampu menjadikan The Rollies bagaikan lukisan surealisme. Segala macam bunyi yang menyatu, terkadang terdengar nakal penuh gairah, dilain waktu bisa terdengar menyayat hati dan mendadak sontak berubah menjadi ranjau.

Tak pernah berhenti disatu titik puncak, ketika orang-orang yang mendengarkan musik The Rollies ,mereka seperti kehilangan buku panduan untuk berkata apa yang memang tak sanggup lagi diungkap dengan kata-kata.

Akhirnya kembali pada kata yang paling tepat, bahwa The Rollies merupakan simbol dari musik-musik kontemporer Indonesia. Dengan musiknya The Rollies bisa menjembatani hubungan anak dan bapak untuk sama-sama menyukai The Rollies dari masa ke masa./ Buyunk

03 Rollies 1973 Istimewa

Rollies 1973 (Istimewa)

Saturday, 07 January 2017 15:22

Good Morning Breakfast

Melepas Official Video Klip

 

Menandai kehadiran bulan Januari 2017, Sundaypop Records secara resmi merilis videoklip single ‘Selfish’ yang diambil dari EP Good Morning Breakfast yang penggarapan videoklip ini dibantu oleh kawan – kawan POV Project Bandung. Dirilisnya klip ini sebagai ucapan terima kasih Good Morning Breakfast untuk Rizkidz (gitar) yang sudah tidak bersama band ini sejak Oktober 2016.

Konsep klipnya sendiri hanya mengambil footage saat mereka tampil live di An Intimacy ”Departure” pada 2 April 2016 silam di Gedung New Majestic (ex-Gedung AACC) Bandung. Sejarah ini mereka abadikan dalam sebuah bentuk video untuk single mereka ‘Selfish’.

Cerita ini sebenarnya dimulai setelah Good Morning Breakfast merilis EP perdana yang bertajuk “A Story of James and Nina” pada 10 Mei 2016. EP ini berbentuk kaset yang dibalut dengan konsep mix tape yang marak pada tahun 90 an. Kaset yang diangkat sebagai bentuk EP Good Morning Breakfast ini ditujukan untuk membangkitkan kembali nostalgia sekaligus mengingatkan kembali bahwa mixtape sendiri secara fundamental berbentuk kaset.

Konsep yang ditawarkan ini ditunjukkan melalui track-track didalamnya yang di mixing dan mastering oleh studio-studio yang berbeda, karena mixtape pada tahun 90-an biasanya berisikan lagu-lagu dari band-band yang berbeda, nota bene memiliki kualitas sound mixing dan mastering yang juga berbeda satu sama lain.

02 Good Morning Breakfast Istimewa

Good Morning Breakfast  (Istimewa)

 

Single yang ditulis oleh Palpov (Vocal) dan Ismet Hafiz Alim (Bass) dan musik dibantu oleh 4 personil lainnya yaitu Rizkidz (Gitar), Bambang Adithya (Gitar), Raden Rully Purnomo (Synthesizer) dan Lovely Inna (Drums) ini menceritakan tentang The ideas of self centric, the world revolves around someone atau sebuah konsep egois tentang seseorang yang mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya,

Intinya bagaimana kita harus belajar untuk selalu peduli dengan sekitar dan kehidupan. Bukan hanya mendekat karena sekedar ingin tahu atau karena tertarik, lalu pergi begitu saja. Bahwa melihat sesuatu harus dengan hati. Sikap egois tidak akan membantu menemukan keinginan, tapi justru akan menjadikan kita semakin jauh dari apa yang diinginkan/ Ibonk

Friday, 06 January 2017 11:50

Dara Puspita

3 Tahun 4 Bulan Mencari Popilaritas

Kita sudah selayaknya bangga terhadap prestasi Dara Puspita, sebab mereka adalah band wanita Indonesia pertama yang berhasil menembus blantika musik dunia di London. Apalagi Dara Puspita merupakan salah satu band wanita dari 180 band wanita yang tercatat di bursa musik internasional.

Pada akhir Desember 1971, Dara Puspita kembali ke tanah air setelah berkelana di daratan Eropa dan Inggris setelah 3 tahun 4 bulan. Banyak sekali perubahan yang terlihat, salah satunya cara dandanan mereka yang lebih seronok dibandingkan saat mereka berangkat ke Eropa. Yang tak hilang adalah keramahan Titiek AR, Lies AR, Titi Hamzah & Sussy Nander.  

Mereka berempat tetap hangat menerima para wartawan yang ikut menyambutnya. Berikut ini obrolan santainya bersama Dara Puspita,

Lagu apa saja yang kalian rekam selama berada di Eropa?
Cukup banyak, antara lain ‘Welcome To My House’, ‘In Believe in Love’, ‘Dream Stealer’, ‘Ba Da Da Dum’. Semuanya ada di album-album Dara Puspita.

Pada lagu ‘Ba Da Da Dum’ terdengar suara iringan musik orkestra
Ya betul, kami lupa namanya. Mereka adalah musisi profesional yang pernah ikut membantu rekaman The Beatles.

Selama berada di Eropa, apakah pernah menjadi band pembuka sebuah grup terkenal?
Kami pernah mendampingi konser War Horse dan beberapa grup papan bawah. Ada kebanggaan bisa menjadi band pembuka.

Apakah pada saat menjadi band pembuka, Dara Puspita main sendiri memainkan lagu-lagu orang lain atau lagu-lagu sendiri?
Jelas kami memainkan lagu-lagu Indonesia dulu, karena itu merupakan salah tujuan Dara Puspita, pergi ke Eropa untuk memperkenalkan bahwa Ini lho lagu Indonesia. Setelah itu baru kita mainkan lagu-lagu hit dari Deep Purple, Black Sabbath, Grand Funk Railroad, Ten Years After, Uriah Heep, dan lain-lain.

02 Dara Puspita Bilbao 1971 IstimewaDara Puspita Bilbao - 1971 (Istimewa)

Saat berada di London, pernah show dimana saja?
Di Olympia Hall, dan di Revolution Club. Kami mencoba main di Marquee atau 100 Riffles, tapi persaingannya ketat untuk bisa main disitu.

Kabarnya Dara Puspita pernah mendapat kesulitan saat berada di London.
Ya benar sekali, buat musisi asing peraturannya ketat sekali. Di London ada Artist Union semacam persatuan artis, penyanyi dan band, kalau belum terdaftar bisa dianggap liar. Dan untuk bisa menjadi anggota banyak persyaratan yang harus dipenuhi.

Apa pandangan mereka terhadap Dara Puspita?
Mereka bilang kami datang terlalu pagi, perlu waktu 5 sampai 6 tahun untuk bisa menembus London, sedangkan kami baru 3 tahun beberapa bulan saja.

Apa yang kalian rasakan selama 3 tahun melanglang buana di Eropa dan Inggris?
Yang jelas permainan kami berubah, juga dandanan Dara Puspita yang lebih modis mengikuti mode terbaru saat ini.

Apa rahasianya yang membuat Dara Puspita bisa bertahan dan tetap kompak?
Yang pasti kami sudah 7 tahun selalu bersama. Semua kekurangan maupun kelebihan kami itu yang menjadi modal utama mengapa kami bisa bertahan terus.

03 Dara Puspita & Titiek Puspa IstimewaDara Puspita & Titiek Puspa (Istimewa)

Band-band apa saja yang sempat kalian tonton selama berada di Eropa?
Nggak banyak, karena waktu kami terbatas. Hanya sempat menyaksikan The Taste, Roxy Galagher, The Cats. Waktu di Belanda sempat dengar kabar bandnya Achmad Albar show disebuah kelab malam. Saya nggak bisa lihat karena Dara Puspita harus main di kelab malam.

Waktu berangkat pertama kali ke Eropa, cuma bawa peralatan musik seadanya. Tapi begitu kembali ke Indonesia, Dara Puspita memboyong peralatan musik sebesar 4,5 ton, bisa diceritakan?
Terus terang kami bingung mau mulai dari mana setibanya di Belanda. Mau langsung main di kelab-kelab nggak mungkin. Kalau ketahuan bisa diusir pulang kembali ke Jakarta. Akhirnya kami ikut rombongan Gipsy bekeliling Eropa. Dari situ pelan-pelan kami menabung. Selain untuk biaya hidup juga untuk pembelian peralatan musik yang dicicil satu persatu.

Kami berusaha sehemat mungkin, karena kami malu kalau suatu saat harus pulang ke Indonesia dengan tangan kosong./ Buyunk

 

Friday, 06 January 2017 11:43

Filosofi Kopi: Ben & Jody

Sekuel Kelanjutan dari Visinema Pictures

Setelah sukses mengadaptasi salah satu cerita pendek dari novel berjudul Filosofi Kopi karya Dewi Lestari (2015), Visinema Pictures kini memproduksi sekuel dari film tersebut dengan judul Filosofi Kopi: Ben & Jody. Untuk hal tersebut, Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara kembali  berkolaborasi dengan Anggia Kharisma, Chicco Jerikho dan Handoko Hendroyono selaku produser. Selain ketiga produser tersebut, kali ini Rio Dewanto juga ikut ambil bagian menjadi produser di film ini.

Filosofi Kopi: Ben & Jody merupakan pengembangan cerita yang dibuat oleh Christian Armantyo dan Frischa Aswarini, pemenang kompetisi #NgeracikCerita yang diselenggarakan Visinema Pictures pada pertengahan tahun 2016 silam.

Akhirnya cerita tersebut dibuat menjadi skenario oleh Jenny Jusuf (penulis “Filosofi Kopi The Movie”) dan M Irfan Ramli (penulis ‘Cahaya Dari Timur’ dan ‘Surat Dari Praha’). Dewi ‘Dee’ Lestari dan Angga Dwimas Sasongko juga turut menjadi konsultan skenario untuk filmnya. Kedua pemenang kompetisi tersebut juga mendapatkan kesempatan mengikuti big reading pada bulan Desember lalu bersama dengan seluruh pemeran dan kru Filosofi Kopi: Ben & Jody (2016).

02 Chicco Jerikho saat memberikan keterangan tentang Filosofi Kopi Ben & Jody IstimewaChicco Jerikho saat memberikan keterangan tentang Filosofi Kopi - Ben & Jody (Istimewa)

Proses syutingnya sendiri masih akan berlangsung hingga awal Februari 2017. Lokasinya sendiri akan dilangsungkan di Jakarta, Bali, Yogyakarta, Makassar dan Toraja. “Kami baru masuk hari ketiga, masih ada sisa 20 hari syuting kedepan”, ungkap Anggia selaku produser pada saat konferensi pers yang berlangsung di lokasi pengambilan gambar filmnya, Kedai Filosofi Kopi Melawai.

Sekuel film ini masih akan diperkuat dengan duet dua pemeran utama pria, Chicco Jerikho (Ben) dan Rio Dewanto (Jody).  Selain mereka berdua, film ini juga melibatkan dua aktris yang dipilih untuk menjadi bagian dari perjalanan Ben & Jody. Terpilih Luna Maya yang akan membintangi karakter baru bernama Tarra. Lalu Nadine Alexandra, Putri Indonesia 2010 yang mengambil kesempatan untuk membintangi karakter baru bernama Brie. Rencananya film ini dijadwalkan akan tayang pada bulan Juli 2017./ Ibonk

 

Monday, 02 January 2017 14:08

Nomo Koeswoyo

Ini Perang Antar Klan Koeswoyo

“Aku ingin meninggalkan kenang-kenangan berupa lagu untuk pecinta musik pop Indonesia," begitu kata Nomo Koeswoyo. Oleh karena itu dia angkat kaki dari Koes Bersaudara untuk membentuk grup sendiri No Koes. "Aku pergi dari Koes Bersaudara demi harga diri, karena mas Tony Koeswoyo sebagai kakak tertua tidak pernah memberikan kesempatan untuk berkarya membuat lagu. Dia pikir aku cuma bisa jadi pemain drums,” ungkap Nomo.

Suatu saat Nomo bilang ke Tony mau bikin grup sendiri, hal tersebut ditanggapi Tony dengan sinis. "Mana bisa sampeyan bikin lagu". Merasa disepelekan, Nomo langsung hengkang meninggalkan saudara-saudaranya. Ia bertekad untuk membuktikan kemampuannya membuat lagu. Hal ini semakin terkuak bahwa dalam tubuh Koes Bersaudara ada persaingan antara kakak dan adik yang disebut kemudian sebagai Koeswoyo Yudha.

Koeswoyo Yudha alias perang saudara klan Koeswoyo pun dimulai saat Nomo memproklamirkan No Koes, Ia berusaha untuk menembus dominasi sang kakak yang memegang kendali Koes Bersaudara. Semua orang pun tahu bahwa Tony punya peranan yang jauh lebih besar terhadap Yok & Yon yang juga menulis lagu. Namun selalu ditolak dengan berbagai alasan, padahal lagu-lagu ciptaan mereka berdua cukup bagus dan ada nilai komersilnya.

Sejak peristiwa Koes Bersaudara masuk bui di tahun 1965, Nomo mengaku sempat kehilangan kepercayaan dirinya terhadap musik. "Mana mungkin aku bisa hidup kalau mengandalkan musik saja. Aku harus cari sesuatu yang bisa menjamin kehidupan selanjutnya". Namun Tony punya prinsip “makan tak makan kumpul”. "Dia memilih gaya hidup kaya tidak kaya tetap main musik, dia lebih suka lihat kita jadi gembel," keluh Nomo.

02 Koes Bersaudara IstimewaKoes Bersaudara (Istimewa)

Karena dinilai sering mbalelo akhirnya Nomo digusur dari kedudukannya sebagai drummer. Ia diganti oleh Murry eks band Patas, Koes Bersaudara pun berubah menjadi Koes Plus. Sedangkan Nomo dikasih job sebagai Manager. "Tadinya aku pikir enak juga jadi manager, nggak perlu main tapi dapat duit," kata Nomo. Tapi lama kelamaan ia merasa gerah dan ia bicara dengan Tony. Karena merasa diremehkan tanpa berpikir dua kali Nomo langsung angkat kaki.

Nomo sebagai manager bukan tanpa prestasi. Ia berhasil mendapatkan kontrak rekaman Koes Plus sebanyak 4 album dengan pihak Remaco. "Itupun tidak dihargai oleh Tony. Dari pada aku makan hati terus, bisa mati berdiri. Aku bulatkan tekad untuk cabut dari segala urusan Koes Plus."

Mass media heboh memberitakan Koeswoyo Yudha. Apa lagi Nomo tak berlama-lama bengong. Ia langsung membentuk No Koes dan berkat kelihaiannya berdagang Nomo langsung mendapat kontrak dari Yukawi, Hal ini membuat pihak Remaco seperti kebakaran jenggot menuduh Nomo sebagai pengkhianat karena Nomo angkat kaki sebagai Manager Koes Plus tanpa sepengetahuan Eugene Timothy bos Remaco. "Edan apa, aku cabut jadi manager harus lapor dia dulu?" ketus Nomo.

Akibatnya kedua perusahaan rekaman itu terseret dalam kancah peperangan atau persaingan klan Koeswoyo. Ditambah keikutsertaan fans Koes Bersaudara yang terpecah menjadi dua kubu. Buat Nomo keberpihakan penggemar setia sangat dibutuhkannya. "Karena mereka bisa menilai sendiri apa sebenarnya yang terjadi dakam tubuh Koes Bersaudara, Aku tidak perlu berteriak-teriak kesana kemari, Cukup dengan berkarya membuat album. Itu sudah bukti nyata bahwa aku bisa bikin lagu."/ Buyunk

 

Monday, 02 January 2017 13:59

Musik Bagus Day

Sajian Volume Kedua

Musik Bagus Day (MBD) pertama kali diselenggarakan di Townsquare Cilandak, Jakarta tanggal 1 Desember silam. Beberapa segmen yang disajikan dalam MBD edisi perdana adalah music performance yang menampilkan Aboda, Rontak, Richard Hutapea feat. Renata Tobing dan Nadafiksi. Tidak hanya live music, juga dibuat workshop bersama Barry Likumahuwa, Rayendra Sunito, Harry Anggoman, Gerald Situmorang, Hari Prast, Yoga Adhitrisna feat. Institut Musik Jalanan, Udet NEO dan Igor SAYKOJI, selaku seniman profesional di bidangnya.

Maka sudah dipastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat yang hadir akan menikmati beragam sajian berupa; pasar musik, panggung musik hingga workshop musik. Semuanya tersaji untuk memperlihatkan ekosistem musik yang amat hidup di Indonesia khususnya di Jakarta. Peserta pasar musik dan penampil pun tidak hanya hadir dari dalam Jakarta, namun dihadirkan juga dari Bogor dan Bandung untuk meramaikan satu hari peringatan hari berbagi musik bagus.

Melanjutkan sukses gelaran perdana, MBD Volume II kembali dihadirkan dengan mengetengahkan nama-nama penampil dan pengisi workshop seperti; Sisitipsi, Sri Hanuraga Trio, Teddy Adhitya, Junior Soemantri, dan OK Bro Keroncong feat. Aura Kasih. Untuk gelaran workshop akan diisi bersama; Taufik “Emte”, Adib Hidayat, Andre Dinuth, Nicky Manuputty, Georgie Tanasale, Hari Prast, Yoga Adhitrisna, Irama Nusantara, dan Eva Celia.

02 Sri Hanuraga Trio IstimewaSri Hanuraga Trio (Istimewa)

MBD Volume II masih akan dilaksanakan pada 5 Januari 2016 di Townsquare Cilandak, Jakarta.  Sebuah pengharapan bahwa musik dapat menjadi harapan segar bagi orang-orang yang sudah tidak percaya dengan banyak hal. Karena melalui musiklah konsep berbagi kebahagiaan dan optimisme meruak di Indonesia  bahkan di dunia pada saat ini.

Mau bergabung untuk bersukarian dan berkembang bersama? Jaga tanggal  mainnya dan hadirlah disana.../ Ibonk

 

Thursday, 29 December 2016 16:50

Promise

Cerita Romantis Penuh Teka Teki

Kisah berawal dari dua orang sahabat Rahman (Dimas Anggara) dan Aji (Boy William) yang berbeda karakter, Aji yang urakan dan playboy sedang Rahman adalah pria lugu yang dilahirkan dari keluarga yang religius dan berasal dari lingkungan pesantren. Keduanya mempunyai wajah yang tampan, Aji yang mempunyai keinginan agar Rahman bisa berubah seperti dirinya menjalankan cara yang akhirnya merubah kehidupan Rahman secara drastis.

Cara Aji yang ingin sahabatnya bisa merasakan cinta dan mempunyai wawasan luas tidak sejalan dengan keinginan Rahman dan membuatnya  meneruskan sekolah ke Eropa. Semenjak itulah keduanya berpisah dan tidak pernah bertemu.

Dari sini alur cerita mulai penuh teka teki dan scene yang terpotong-potong serta cerita yang berubah-ubah. Rahman yang sambil kuliah dan bekerja di Milan, Italy, bertemu dengan Moza (Mikha Tambayong) yang mempunyai perasaan terhadap Rahman. Moza yang kemudian menjadi sahabat Rahman merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Rahman selama ini, namun tidak dapat menemukan jawabannya.

Bersamaan dengan itu ceritapun kembali ke masa kecil Rahman yang berteman dengan seorang gadis, Kanya (Amanda Rawles), blasteran Jawa dan Eropa yang menjadi sahabat Rahman sejak kecil. Alur cerita membuat penonton berfikir, ada apa dibalik kepergian Rahman ke Milan.

Di kota Milan ini juga akhirnya mempertemukan kembali Rahman dengan sahabatnya Aji, yang akhirnya Moza dapat menemukan teka teki dari Rahman yang selama ini tidak pernah diungkapkan, termasuk perempuan yang dicintai Rahman.

02 Promise IstimewaPromise (Istimewa)

Film produksi Screenplay Films ini mempunyai daya tarik yang memikat dengan lokasi syuting yang sesuai dengan jalan cerita. Kedua tempat secara visual cukup menarik yang menampilkan lokasi yang indah seperti Danau Como dan Bellagio di Milan dan juga tempat di tanah air yang menampilkan hutan Kalibiru, Yogyakarta dan hutan pinus Kragilan, Magelang.

Sutradara Asep Kusnandar menawarkan proses cerita cinta yang cukup menghibur, dengan dibumbui kata-kata puitis dengan nuansa drama yang bukan sekedar menjual cerita sedih yang meratap-ratap. Keempat pemain yang berperan sebagai anak muda yang lebih matang dalam segi akting berperan secara natural. Karakter yang dimainkanpun cukup pas mereka bawakan, chemistry antara Dimas Anggara dan Amanda Rawles cukup sukses dibawakan.

Yang menarik dari film ini selain dengan lokasi yang secara visual memikat, film ini juga diisi oleh soundtrack film yang diciptakan liriknya oleh Melly Goeslaw dan di aransemen Anto Hoed. Melly yang memang dijuluki queen of soundtrack berhasil menjadikan film ini menarik dan eksclusive. Alunan lagu “Promise” cukup mewakilan suasana dan jalan cerita dari film, meski jalan cerita dari film ini terkadang terasa aneh dan mengada-ngada. Film ini akan tayang pada awal Januari 2017 diseluruh bioskop di Indonesia. Penasaran dengan akhir kisah cinta bak sinetron ini? Jangan lupa nontonlah.../ YDhew

 

Thursday, 29 December 2016 16:41

Achmad Albar

Jadi Rocker Harus Modis

Achmad Albar membentuk God Bless bukan sekedar untuk menghidangkan pertunjukan musik, namun juga memperlihatkan sebuah peragaan busana panggung. Disetiap penampilannya, Albar selalu memperhatikan busana panggungnya maupun teman-teman  satu grupnya. Betapa tidak, busana panggung God Bless selalu mengikuti perkembangan mode saat itu. Saat “glam rock” menjadi wabah, Albar tak luput dari serangan tersebut dengan busana panggung ketat, berkilat, bersepatu boot setinggi lutut.

Belum lagi asesoris yang tersangkut disekujur tubuh Albar yang terlihat sexy, dengn kalung warna warni bergelantung dileher. Gelang yang berlerot ditangan, ikat pinggang yang besar serta ikat leher yang seragam dengan ikat pinggangnya.

"Jadi rocker harus modis," kata Albar. "Sebelum jadi penyanyi saya sudah menyukai yang bersifat mode, mulai dari sepatu, celana, baju maupun pernak-perniknya. Sebagai seorang penyanyi rock yang terlebih dahulu terlihat penonton, tentunya saya tidak bisa mengenakan busana seadanya. Lihat saja David Bowie, Elton John, Garry Glitter, Rod Stewart dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan contoh bahwa seorang penyanyi rock itu harus punya cita rasa yang tinggi terhadap busana panggungnya. Saya pun harus demikian."

Albar tidak memperdulikan pandangan banyak orang yang menyebutnya penyanyi genit karena sering merias wajahnya. "Itu merupakan bagian dari sebuah pertunjukan musik. Penonton pasti datang untuk melihat kita menyanyi. Kalau kita tak dandan, pasti mereka tak tertarik untuk berlama-lama menontonnya."

Sebagai penyanyi rock pujaan khalayak ramai, Albar harus siap-siap suatu saat dirinya digerayangi penggemar yang berusaha untuk “menjambret” sesuatu yang menempel ditubuhnya. Mulai dari pernak pernik asesoris, gelang, kalung, ikat pinggang dari leher hingga baju atau kausnya yang modis.

02 God Bless Formasi 5 IstimewaGod Bless - Formasi 5 (Istimewa)

Apa lagi kalau God Bless show ke daerah, semua asesoris- asesoris tersebut habis ludes dijambret penggemar yang naik ke panggung, atau menunggunya di kamar rias. "Saya tidak marah melihat kelakukan mereka, ini sebuah pendekatan yang baik antara penyanyi dengan penggemarnya.”

Albar mengungkapkan sebagian honornya habis buat membeli busana pangggung lengkap dengan asesorisnya."Kalau baju dan celana, saya beli bahannya lalu dibawa ke tukang jahit langganan sambil bawa contoh potongannya yang model apa. Biasanya saya ambl dari majalah-majalah mode yang sedikit dirubah atau ditambah."

Jadi rocker harus modis merupakan prinsip yang dikenakan kepada seluruh personel God Bless. "Lihat saja sejak ada Fuad Hassan, Soman Lubis, Keenan, Debby dan Odink, Ian Antono, Donny Gagola, Teddy Sudjaya, Jockie Soeryoprayogo maupun Deddy Dores... God Bless pasti paling modis."/ Buyunk

 

Thursday, 29 December 2016 16:33

Giant Step

Dengarkan Dulu Kaset Kami, Baru Tonton Konsernya

Bergabungnya Albert Warnerin dan Triawan Munaf membuat Giant Step semakin kokoh. Sebelumnya grup yang dibangun Benny Soebardja ini, beberapa kali bongkar pasang pemain. "Saya yakin dengan formasi sekarang, Giant Step bisa mengejar ketertinggalannya, karena Adhi Sibolangit (Bass) dan Hadi (Drummer) juga sudah siap tempur," jelas Benny yang belakangan permainan gitarnya tak berkembang,

Menurut Benny, belakangan ini ia sibuk menata kembali grupnya setelah ditinggal Deddy Dores dan Yanto. "Waktu ditinggal Deddy Stanzah dan Jockie S, saya tak mati langkah mencari pemain baru. Karena saya berkeinginan suatu saat Giant Step bisa berkembang jauh lebih baik lagi kedepan, dan sekaranglah saatnya kami bekerja keras untuk menjadi grup terbaik".

Setelah berlatih intensif selama 3 bulan, Benny memperkenalkan Giant Step formasi baru di Bogor dengan pertimbangan lebih mudah masuk ke Jakarta. "Bandung merupakan rumah kami, setiap saat bisa show di kota sendiri. Karena dengan menaklukan Jakarta, selanjutnya mudah untuk show di kota-kota berikutnya."

Apa yang diharapkan Benny terbukti, setelah meraih sukses di Bogor. Giant Step tampil di Taman Ria Monas Jakarta dengan disaksikan sekitar 15.000 penonton yang penasaran ingin tahu seperti apa Giant Step formasi baru dengan dua musisi hebat Albert Warnerin dan Triawan Munaf.

Hebatnya lagi, Giant Step berhasil mengungguli SAS dalam pengumpulan penonton terbanyak. SAS hanya 13.000 orang, "Saya tak menyangka antuasias penonton yang begitu besar," sahut Albert Warnerin yang baru pertama kali show di Jakarta. Begitu pula Triawan Munaf "Apa lagi kami bisa mengalahkan SAS dari segi pengumpulan penonton yang membuat saya semakin semangat untuk bisa show bersama SAS".

Sebelumnya Giant Step pernah tampil di Taman Ria, Monas saat itu itu formasinya masih ada Deddy Dores dan Yanto, mereka cukup sukses. Ketika akhirnya tersiar kabar bahwa Giant Step kembali ke Taman Ria Monas, pengelolanya sempat ketar ketir karena nama Albert dan Triawan belum dikenal banyak pecinta panggung musik rock di Jakarta.

02 Triawan Munaf Giant Step IstimewaTriawan Munaf - Giant Step (Istimewa)

Benny dan Adhi Sibolangit sebagai frontman berhasil memecahkan keraguan itu,membuat Albert dan Triawan ikut tergerak untuk beraksi. Albert terlihat lebih bersemangat menggerayangi gitarnya. Sementara Triawan jari jemarinya  lincah mengisi irama musik khas Giant Step yang dikategorikan sebagai progressive rock-nya Indonesia.

Usai manggung di Bogor dan Jakarta, Benny langsung menggiring teman-teman satu grupnya masuk studio untuk merekam album "Giant Step On The Move". "Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, Giant Step harus mengejar ketinggalan. Maka dengan album perdana ini, kami akan melakukan tour show promosinya ke berbagai kota diseluruh Jawa.

Dengar beredarnya album "Giant Step On The Move" nanti, saya berharap banyak yang membeli agar mereka bisa mendengarkannya, terlebih dahulu sebelum menonton konser Giant Step.”

Mengapa lagu-lagu pada album perdana seluruhnya berbahasa Inggeris?" Kita belum terbiasa mendengar lagu rock berbahasa Indonesia, yang terpenting ini lagu ciptaan saya sendiri, juga ada karya Albert dan Triawan. Kalau album perdana Giant Step bisa diterima,  maka pada album berikutnya saya akan mencoba membuat lagu rock berbahasa Indonesia"./ Buyunk

03 Albert Warnerin IstimewaAlbert Warnerin (Istimewa)

Tuesday, 27 December 2016 14:40

Steven Jam

Menggoyang Bali Lewat Musik Santai

Satu lagi acara festival musik yang digelar di Bali dengan tajuk San Miguel, Midnight Groove pada penghujung tahun ini yang diberi tema ”Only in Just Between Friends”. Di cafe Rumahan Bistro. Festival yang menghadirkan Steven Jam untuk memuaskan para pecinta musik reggae merupakan acara penutup dari rangkaian road show party San Miguel di Midnight Groove.

Road show party yang dilaksanakan di tiga kota besar yakni Bandung, Jakarta dan terakhir di Bali diyakini menjadi daya tarik juga bagi wisatawan yang ada di Bali sehingga jumlah yang hadir diyakini akan lebih banyak dari kota-kota sebelumnya.

"Kami pilih ketiga kota tersebut karena menjadi scene trendsetter lifestyle yang saat ini sangat berkembang. Ditambah basis generasi Y Millenials yang cukup besar dan memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi perekonomian Indonesia," ungkap Jaka Sebastian, Brand Manager PT. Delta Djakarta yang hadir dalam acara ini.

Saat berada di panggung, band yang dipimpin oleh Steven sebagai vokalis ini pun membawakan sedikitnya sepuluh lagu. Dari semua lagu yang dinyanyikan ini, beberapa lagu dari albumnya bersama band Steven and Coconut Treez juga dibawakan. Sebut saja, lagu ‘Bebas Merdeka’, ‘Kembali’, ‘Lagu Pantai’ serta beberapa lagu lainnya.

02 Steven Jam On Stage IstimewaSteven Jam On Stage (Istimewa)

Hasilnya, ratusan penggemar band asal Jakarta ini larut dalam alunan reggae yang identik dengan musik santai ini. Tidak hanya menikmati musik hidup tersebut, para pengunjung juga dapat berbagi cerita dengan sahabat dan orang terdekat sambil menikmati San Miguel.

Dikesempatan ini, juga artis dan talent juga berpartisipasi dalam kampanye “Drink Responsible” melalui pesan-pesan positif yang disampaikan di acara tersebut. Diharapkan hal ini dapat mengedukasi lewat tagline “Don’t drive while drunk, and always know your limit”./ Ibonk

 

Page 17 of 114