Male Profile
NewsMusik

NewsMusik

Saturday, 25 February 2017 08:45

Interchange

Membebaskan Jiwa Yang Terperangkap

 

Disajikan dalam alur bergenre supernatural thriller, yang dipusatkan pada kisah seorang fotografer bersama rekannya seorang detektif keras kepala. Tengah mengungkap kasus pembunuhan berseri dan di luar nalar manusia. Adalah Adam (Iedil Putra), yang tengah merasa jengah dengan pekerjaannya, setelah dirinya sering diusik oleh halusinasi yang menerornya. Adam tak lain merupakan fotografer forensik yang akrab dengan pemandangan mayat korban pembunuhan, melalui lensa kamera miliknya.

Karena hal itu, ia pun memilih menutup diri dan besembunyi dalam apartemen huniannya. Membunuh sepinya, ia mulai memotret para penghuni lainnya dari atas balkon apartemennya. Hingga pada suatu hari, terjadi rangkaian pembunuhan dan Adam turut terseret dalam kasus yang tengah diselidiki sahabatnya, Detektif Man (Shaheizy Sam).

Di sisi lain, Adam terjebak dengan kehadiran sosok misterius bernama Iva (Prisia Nasution), yang juga merupakan penghuni apartemen yang sama. Seperti magnet, Iva memiliki daya pikat tertentu mampu membuat Adam tertarik dan semakin dalam masuk kekehidupan Iva yang mistis.

Begitulah, rantai pembunuhan terus berlangsung dengan teka teki yang bikin sakit kepala. Apa lagi ditiap temuan perkara selalu ditemukan mayat tanpa darah tergantung, pecahan plat kaca negatif, bulu burung rangkong (hornbill) yang dianggap sudah punah. Adam pun mulai mengidentifikasi pecahan yang kerap digunakan untuk fotografi di abad ke-19.

Dia membawa temuannya tersebut kepada Heng (Chew Kin-wah) dan menemukan bahwa pecahan kaca bergambar itu adalah negatif yang diambil oleh penjelajah Norwegia, Carl Lumholtz yang menjelajah Borneo, Kalimantan Tengah antara 1913-1917. Merekam kebiasaan orang Dayak asli, dengan totem burung enggang.

03 Interchange IstimewaFoto: Istimewa

Berdasarkan sebuah buku yang diterbitkan oleh Carl Lumholtz, Adam melihat banyak kemiripan yang mencolok antara korban dibunuh dan anggota suku Tingang yang ada dalam buku sejarah tersebut. Salah satunya malah mirip sekali dengan Iva. Lewat temuan tersebut mulailah Adam merangkai semua puzzle tersebut dan sampai akhirnya dirinya bisa mengetahui siapa koban selanjutnya. Dari sini juga dirinya dapat mengetahui “jiwa yang terperangkap“ dan takhayul kuno yang menjadi nyata.

Berawal dari Lumholtz dahulu memotret kehidupan suku Tingang. Suku tersebut kemudian menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Namun ternyata dalam 100 tahun ini, Iva dan 36 jiwa lain yang terperangkap dalam plat kaca negatif mengembara didampingi Belian (Nicholas Saputra), sebagai semangat sukunya yang berwujud manusia burung, turut mendampinginya melakukan tugas demi mati dengan tenang.

NewsMusik melihat film ini sebagai sebuah cerita yang cukup menarik, baik dari alur dan visual yang tersajikan. Konteks modern dalam framing film noir tentang detektif dan menggabungkannya dengan cerita mitologi Asia Tenggara, serta keyakinan supernatural mampu dipresentasikan dengan baik. Syukurnya lagi bahwa Dain Said selaku Director tidak terlalu berlebihan mengupas mistisisme etnografis untuk men-delivery tradisi spiritualisme kepada penonton sehingga menjadi bertele-tele.

02 Interchange IstimewaFoto: Istimewa

Walaupun begitu, komponen supernatural dalam film ini cukup terangkat lewat karakter Belian yang di desain sebagai spirit yang kuat, perannya dalam film ini cukup tegas. Cuma sayangnya, efek CGI yang disajikan saat perubahan Belian menjadi burung tidak begitu memikat. Masih lebih baik jika kita melihat film serial Manimal produksi 1983 yang diperankan oleh Simon MacCorkindale dan sempat disajikan di tanah air.

Film produksi Apparat dan Cinesurya Pictures ini sudah ditayangkan resmi secara global. Juga telah masuk dalam seleksi beberapa festival seperti Locarno Film Fest di Swiss dan Toronto International Film Fest. Ide dasar film ini, terinspirasi dari rekam jejak perjalanan Carl Lumholtz. Pada salah satu fotonya, ia memotret sejumlah wanita dayak tengah membasuh diri di sungai untuk membersihkan ‘efek jahat‘ setelah di foto oleh Carl. Akan segera ditayangkan di Indonesia pada 2 Maret 2017. /Ibonk

 


 

Potret Gamblang Dunia Malam

 

Mungkin tak perlu terlalu gamblang merinci dan menceritakan apa yang dihantarkan secara visual dari film produksi Grafent Pictures, Demi Istri Production, dan disutradarai oleh Fajar Nugros ini. Yaa.. inilah film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Moammar Emka yang dipublished pada 2003 silam. Film yang menceritakan sisi ‘merinding’ gemerlapnya ibukota.

Karya Emka ini memang sempat menjadi buah bibir di negeri ini. Menceritakan beragam kejadian dunia malam yang kebanyakan dari kita tidak mengetahui. Membuka mata banyak orang, sampai sebegitu tidak percayanya dan bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Ini memang bukan untuk kali pertama Jakarta Undercover diangkat ke layar lebar. Di tahun 2007, film adaptasi ini pertama dirilis lewat sutradara Lance Mengong dan skenarionya ditulis Erwin Arnada serta Joko Anwar. Kalau di lihat segi plot, film yang dibintangi Luna Maya tersebut, tidak berkaitan langsung dengan isi buku Jakarta Undercover karena dibuat sebagai drama kriminal. Walau masih mengambil tema dunia malam yang dibahas di buku tersebut.

Nah, lewat film ini semuanya dibuat hampir seperti yang ada pada bukunya. Tentu saja ini bukan hal mudah, karena harus merubah bahasa tulisan dari bahasa gambar. Itulah sebab, Fajar Nugros berhati-hati dalam memvisualkan apa yang tertulis di dalam buku karya Emka.

Ceritanya sendiri mengisahkan keinginan seorang wartawan untuk membuat tulisan tentang kehidupan malam Jakarta, dan terjebak konflik yang melibatkan hubungan cinta kaum kelas atas. Pras (Oka Antara) yang demi mengejar cita-citanya menjadi wartawan. Lalu ia berangkat ke Jakarta  dan berguru pada Djarwo (Lukman Sardi) pemimpin redaksi sebuah majalah berita. Awalnya antusias dengan status barunya, namun ujung-ujungnya idealismenya pun mulai luntur.

02 Jakarta Undercover IstimewaFoto: Istimewa

 

Semua berawal saat Pras mulai menyadari bahwa kecemerlangan tulisannya dimanfaatkan oleh kantornya untuk tujuan tertentu. Ia makin memberontak setelah bertemu Awink (Ganindra Bimo) penari malam yang merasa dirinya terjebak terjebak dalam tubuh lelaki. Bersama Awink, iapun dibawa berkenalan dengan Yoga (Baim Wong), yang menjadi tokoh penting di dunia bisnis ‘gelap’ Jakarta.

Begitulah, tanpa sadar Pras semakin terjebak semakin dalam ia menggali, semakin dalam dan makin jauh dalam pusaran ketidaktahuan. Apalagi saat ia bertemu dengan Laura (Tiara Eve) model yang membuat hidupnya berbeda.

Seperti yang ditangkap NewsMusik dari apa yang disampaikan Fajar Nugros bahwa film ini lebih mengedepankan kemasan drama. Fokus mengambarkan bahwa dunia malam Jakarta itu ada dan juga nilai-nilai kemanusiaan, bukan untuk mengumbar sisi vulgar secara visual.  Tinggal lagi bagaimana pendapat kita selepas menyaksikan film ini..., monggo./ Ibonk

 


Wednesday, 22 February 2017 08:47

Air Supply

Dipastikan Hadir di Jakarta

Setelah batal manggung di saat mendekati hari-H pada Desember 2016 lalu, duo Graham Russel dan Russel Hitchcock yang tergabung dalam Air Supply menyatakan kesiapan mereka untuk segera tampil dihadapan penggemarnya di Jakarta. Sebelumnya duo ini batal manggung dikarenakan Russel Hitchcock kelelahan akibat jadwal tur yang padat.

Kepastian kedatangan tersebut disampaikan keduanya lewat video greeting yang dikirimkan kepada pihak penyelenggara. “Akhirnya yang kita tunggu-tunggu datang juga, video greeting dari Air Supply ini untuk memastikan kedatangan mereka nanti 100% confirmed akan konser di Jakarta”, ungkap David Ananda selaku Managing Director Full Color Entertainment.

Air Supply sendiri akan tiba di Jakarta lebih awal dari jadwal manggungnya. Mereka akan tinggal di Jakarta selama 5 hari dan 4 malam (dari tanggal 28 Februari hingga 4 Maret 2017) untuk melaksanakan persiapan konser juga Press Conference dan serangkaian media Interviews.

 

02 Air Supply Istimewa Foto : Istimewa

 

Jakarta akan menjadi kota pertama dari rangkaian tur Air Supply di South East Asia. Selepas itu mereka akan tampil di Singapore tanggal 4 & 5 Maret , Cebu 7 Maret  dan Manila 8 Maret”, lanjut David. Konser yang bertajuk “Bringing Back The Memories” nanti akan merangkum lagu-lagu hits Air Supply pada konser  tanggal 3 Maret 2017, di The Kasablanka Hall, Mall Kota Kasablanka, Jakarta.

Berdasarkan rilis yang diterima NewsMusik bahwa harga tiket Silver (standing) sudah habis terjual. Tiket yang tersedia saat ini tinggal Diamond VVIP (numbered seating) seharga Rp 2.500.000,-, Platinum (free seating) Rp 1.500.000-, dan kelas Gold (free seating)   Rp 1.000.000,- Untuk informasi lebih lengkap dapat dilihat di website resmi Air Supply di http://www.airsupplymusic.com/tour./ YDhew

 

 

Tuesday, 21 February 2017 13:18

Buka’an 8

Drama Komedi Keseharian

Film drama komedi romantis garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini bercerita tentang Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela), pasangan millenial yang bertemu dan jatuh cinta di dunia maya. Hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga Mia karena menganggap Alam hanya bermain sosmed dan tak punya pekerjaan tetap. Di momen kelahiran anak pertama mereka, Alam ingin membuktikan kepada orang tua Mia, bahwa ia adalah seorang suami idaman.

Dalam film ini Chicco beradu peran dengan Tio Pakusadewo sebagai Abah (ayah Mia) yang berakting total. Abah, dalam film ini akting Tio Pakusadewo sebagai orang tua yang menderita stroke dengan aksi yang konyol cukup berhasil disini.  Ditambah lagi sosok abah dipasangkan dengan Sarah Sechan yang berperan sebagai Umbu (ibu Mia) sebagai sosok ibu yang lugu dan selalu sinis dengan komentar yang diucapkannya cukup membuat penonton terhibur.

Alam sebagai calon ayah berkarakter santai dengan gaya seorang seniman. Kata-kata mengumpat  yang sering dijumpai dikehidupan sehari-hari, digulirkan secara jenaka dan terkadang serius. Konflik yang muncul sewaktu mempersiapkan persalinan Mia, dimana Alam tidak mampu membayar rumah sakit, cukup berhasil membuat penonton tergelak karena tingkah konyolnya.

Film Buka’an 8 ini mempertemukan kembali Angga dengan duet dua produser Anggia Kharisma dan Chicco Jerikho, yang sukses dengan 2 film sebelumnya, Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) dan Filosofi Kopi The Movie (2015). “Buka’an 8 merupakan film komedi pertama yang saya buat mengangkat cerita generasi millenial yang addictive pada media sosial dan internet. Film ini terinspirasi dari proses menanti kelahiran anak pertama saya yang kebetulan pada saat itu ditemani oleh Chicco Jerikho dan tercetuslah ide untuk membuat film ini”, tutur Angga Dimas Sasongko.

02 Bukaan8 IstimewaBuka'an 8 (Foto: Istimewa)

Film yang memotret problematika pasangan muda yang tengah berjuang mendapatkan restu dari orang tua.  Menceritakan kedekatan emosional yang tercipta antara anak dan orang tua pada proses kelahiran dengan genre komedi. Mengombinasikan realita, cerita pribadi, dan berbagai kekonyolan yang terjadi di keseharian.

Akhirnya film ini mampu menghantar cerita yang sangat dekat bagi mereka yang sangat menikmati hiruk – pikuk media sosial. Cukuplah membawa angin segar di sela-sela hiruk pikuk suasana politik yang memanas akhir-akhir ini.

Para pemain yang terlibat selain yag telah disebut sebelumnya adalah Dayu Wijanto, Uli Herdiansyah, Ary Kirana, Melissa Karim, Maruli Tampubolon, TJ, Ivy Batuta, Marwoto, Roy Marten, Nadine Alexandra dan Adriano Qalbi.

Soundtrack Film 'Buka’an 8’ diisi oleh lagu dari band indie Payung Teduh berjudul ‘Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan’ dan band asal Yogyakarta FSTVLST untuk lagu ‘Ayun Buai Zaman’. Bagi yang butuh hiburan untuk sekedar mengocok perut, film Buka’an 8 ini akan tayang di bioskop mulai 23 Februari 2017./ YDhew

 


 

Monday, 20 February 2017 21:24

Intan Rachman

Single Baru Setelah Ajang Menyanyi

 

Sudah banyak bukti kalau talenta bermusik, ataupun memiliki suara merdu bisa karena faktor genetik. Dari faktor darah atau keturunan tersebut, kita sangat terbiasa melihat banyak penyanyi  dunia hadir dari satu garis keturunan. Seperti juga dialami oleh Intan Rahayuning Rachman atau lebih pop disapa Intan Rachman yang tak lain merupakan adik dari Iman J-Rocks.

Cukup banyak yang mengetahui kalau Intan adalah salah seorang jebolan ajang kompetisi menyanyi. Kini bersama sang kakak, Intan melepas single perdananya yang berjudul ‘Sebel’. Singel ini coba diracik sedemikian rupa lewat pendekatan musik yang easy listening dalam sentuhan pop jazz ala Jepang oleh Iman sendiri.

Iman sendiri beranggapan bahwa single ini bisa memberikan kontribusi positif musik Indonesia. Apalagi dengan vokal sang adik yang khas dan berkarakter bisa mencuri hati pendengar musik Indonesia.

Merujuk kebelakang, single ini diciptakan oleh almarhum Ilham yang merupakan adik dari Iman J-Rocks dan kakak kandung dari Intan Rachman sendiri. Ini adalah project keluarga, dimana Iman mengisi track gitar, almarhum Ilham mengisi bass dan gitar, sedangkan Intan Rachman tetap pada vokal. Lagu ini ditulis dalam lirik yang lugas dengan bahasa sehari hari yang ringan, sehingga mudah untuk dicerna.

02 Intan Rachman Iman J Rocks IstimewaIntan Rachman & Iman J-Rocks (Foto: Istimewa)

Setelah berpulangnya Ilham, lagu ini akhirnya dilanjutkan oleh Iman dan Intan Rachman dibawah payung label musik Greenland Indonesia. Untuk mengenang dan menghormati almarhum Ilham, mereka sengaja membiarkan beberapa track yang sudah almarhum pernah isi seperti track bass, gitar, dan beberapa part melodi gitar tetap sesuai aslinya.

Nah, selanjutnya tinggal menunggu respon pasar musik tanah air saja. Apakah single ini bisa menjadi trigger bagus untuk kelanjutan kiprah Intan di blantika musik tanah air? Kita lihat saja.../ Ibonk 

Monday, 20 February 2017 17:13

The Moffatts

Histeria Nostalgia

 

I miss you like crazy, Even More than words can say, I miss you like crazy, Every minute of every day, Girl I'm so down when your love's not around, I miss you, miss you, miss you, I miss you like crazy... Bagi Anda yang mengalami masa angkatan baru gede di tahun 1998 sampai dengan 2001 tentu akrab dengan rangkaian kalimat di atas. Tepat bila Anda menyebutnya merupakan lirik dari lagu ‘Miss You Like Crazy’ yang dinyanyikan Moffatt bersaudara : Scott Andrew Moffatt (Scott Moffatt), serta kembar tiga Clinton Thomas John Moffatt (Clint Moffatt),  Robert Franklin Peter Moffatt (Bob Moffatt) dan David William Michael Moffatt (Dave Moffatt).

Lagu itu memiliki jam putar tinggi di berbagai radio. Begitu juga dengan ‘Girls of My Dreams’, ‘I’ll Be There For You’, atau ‘If Life is So Short’. Tak heran pula bila kemudian The Moffatts menjadi pujaan setiap perempuan muda. Tampang manis dan lagu-lagu dengan muatan cinta dan rayuan adalah modal penakluk hati.

Tahun 2000 The Moffatts sempat menggelar konser di dua kota di Indonesia : Jakarta dan Bandung. Sudah bisa ditebak bahwa di kedua konser itu kemudian dipenuhi oleh penggemar. Juga tentnunya dihiasi oleh teriakan histeris.

Tujuh belas tahun kemudian ritual yang sama terulang kembali. The Moffatts yang bubar tahun 2001 memutuskan untuk berkumpul kembali dan menjalani rangkaian tur dengan embel-embel perpisahan. Dengan formasi Scott, Clint dan Scott minus Dave yang tak lagi turut serta.

02 The Moffatts Klandesti NThe Moffatts (Foto: Istimewa)

Minggu (19/02) malam, The Moffatts tampil kembali di hadapan penggemarnya di Hard Rock Cafe Jakarta. Sekitar dua ratusan mantan anak baru gede hadir. Terlihat ada yang mengenakan kaus dengan tulisan atau foto The Moffatts. Tampak wajah-wajah antusias yang ingin bernostalgia dengan idola masa muda.

Entah terlalu antusias atau rindu, lagu-lagu rekaman The Moffatts yang tengah diperdengarkan malah memancing terjadinya koor massal. Bahkan ketika lagu populer yang tengah diputar memancing reaksi teriakan di antara penonton.  Tempik sorak semakin membahana ketika satu per satu The Moffats mulai muncul di atas panggung.

‘Crazy’ yang menjadi lagu pembuka tampaknya tepat untuk menjelaskan “kegilaan” di depan panggung. Meski memang kadar keliaran penonton sudah jauh berkurang. Rata-rata semua sudah cukup sadar akan umur yang tak lagi muda. Tapi teriakan-teriakan kagum masih kerap terdengar.

Malam itu mereka tidak hanya membawakan lagu-lagu dari dua album The Moffatts : Chapter I : A New Beginning dan Submodalities. Tapi juga membawakan lagu dari masing-masing proyek setelah The Moffatts bubar. Scott memamerkan lagu dari album solo. Sedangkan Clint dan Bob memilih membawakan dari proyek Same Same dan Endless Summer.

‘Miss You Like Crazy’ menjadi lagu pamungkas. Malam nostalgia pun usai sudah. Entah berapa banyak kenangan masa lalu yang kembali terbuka. Yang pasti, banyak senyuman yang menghiasi wajah penonton malam itu./ Klandesti_N

Monday, 20 February 2017 15:58

Warpaint

Konser Bayar Hutang

 

Tahun 2011, Warpaint yang beranggotakan Emily Kokal (vokal, gitar), Theresa Wayman (vokal, gitar), Jenny Lee Lindberg (vokal, bass) dan Stella Mozgawa (drum) pernah berencana melawat ke Jakarta. Tapi karena satu dan lain hal rencana tersebut batal. Berselang 6 tahun kemudian, akhirnya Warpaint mewujudkan rencana yang tertunda tersebut.

Digelarlah konser Warpaint – Heads Up Tour 2017 oleh Wire It Up! pada hari Jumat (17/02) di kawasan Parkir Selatan Senayan Jakarta. Dimulai sekitar pukul 7 malam dengan dibuka oleh penampilan tiga band produk dalam negeri : Trou, Diocreatura dan Kimokal.

Sambutan paling meriah tentu dialamatkan kepada Warpaint. Enam tahun bukan waktu sebentar untuk bisa melihat mereka beraksi di depan mata. Lain halnya bagi mereka yang mampu dan mau usaha pernah datang ketika Warpaint konser di luar Indonesia.  ‘Keep It Healthy’ dari album kedua bertajuk Warpaint menjadi lagu pembuka.

Berbicara aksi panggung tidak ada pamer keahlian dalam hal memainkan instrumen masing-masing. Tidak ada juga tingkah pecicilan di atas panggung. Terhitung kalem dan sangat sederhana sekali yang mereka tampilkan.

01 WarpaintWarpaint (Foto: Klandesti N)

Jenny tampil mencuri perhatian dengan mengenakan kaus hitam berhiaskan gambar barong. Sesekali dia melambaikan tangan ke arah penonton sambil tersenyum manis. Sementara Emily dengan santainya memakai sandal hotel. Kadang-kadang maju ke depan menyanyi sambil bergoyang di atas speaker.

“Terima kasih sudah mengundang kami untuk konser di sini. Kalian semua sangat istimewa,” ujar Theresa. Bagi penonton pun menjadi istimewa, karena Indonesia menjadi satu-satunya negara yang disinggahi dalam rangkaian tur mereka.

Di konser perdana, semoga juga bukan yang terakhir, Warpaint membawakan sekitar 15 lagu. Termasuk tiga lagu encore : ‘Billie Holiday’, ‘So Good’ dan ‘Bees’. Bisa dikatakan lebih dari cukup untuk sebuah penantian selama enam tahun. /Klandesti_N

Monday, 20 February 2017 15:39

Friday Unplugged 90’s Rock Night

Berawal dari Kumpul-Kumpul

Ini adalah pesta musik rock tanpa harus disajikan secara hingar bingar. Kok bisa? Seperti yang disajikan pada Jumat (17/2/17) malam lalu, di sebuah cafe dibilangan Salabenda kota Bogor. Sajian musik hidup lewat tajuk Friday Unplugged 90’s Rock Night ditawarkan kepara penggila musik ber genre ini. Acara yang digagas oleh Komunitas Grunge Bogor yang juga merupakan sebuah komunitas peduli musik dan potensi anak muda lokal khususnya Grunge.

Komunitas ini awalnya cuma kumpil-kumpul teman yang terajut lewat kecintaan pada musik ini. Berdiri sejak awal 2003, ketika beberapa anak muda merasa jenuh ketika menyadari kota Bogor sangat minim acara musik yang bertemakan grunge. Terpicu oleh keinginan tersebut, akhirnya diambil inisiatif untuk membentuk sebuah perkumpulan atau hanya sekedar nongkrong dengan obrolan bertemakan grunge.

Friday Unplugged 90’s Rock Night kemarin dipandu oleh Yudit yang terbilang sudah malang melintang di dunia musik Bogor. Bakasura, membuka penampilan ini dengan meng-cover beberapa lagu Pearl Jam. Tak lupa juga beberapa band dari luar Bogor ikut ambil bagian diacara ini. Salah satunya Morning Shine, band Grunge asal Jakarta ini yang kerap menghiasi berbagai gigs grunge di Jakarta. Mereka secara terbuka menyatakan kegembiraannya bisa berpartisipasi untuk menghidupkan kembali scene yang bisa dibilang anti mainstream ini.

Selain kedua nama diatas, sajian musik unplugged tersebut juga dimeriahkan oleh nama-nama sangar yang sedikit banyak dikenal oleh pencinta musik sejenis di kota Bogor seperti Even Flow, Rasvala, Jeremy, Cacat Mental, Terserak ataupun Pembunuh Sepi.

 

02 Friday Unplugged 90s Rock Night Fikar

Friday Unplugged 90’s Rock Night (Foto: Fikar)

Perhelatan ini berlangsung dengan identitas Bogor, yang tak luput dari guyuran hujan. Tapi jangan tanya antusias meriah penikmat scene tersebut. Sebagai kelanjutannya, mereka menegaskan  akan ada acara sejenis pada 4 Maret 2017 di daerah Karadenan, Cibinong Bogor. Lalu ada lagi pagelaran yang juga rutin dengan tajuk “Raincity Grunge Fest” yang masih belum tampak tanggalnya.

Untuk kedepannya, mereka menyatakan akan mengupayakan kegiatan ini bisa tetap solid dan  berkembang. Mereka juga sangat berterima kasih bila mana regenerasi komunitas ini dapat terwujud. / Fikar

Thursday, 16 February 2017 12:32

Andi Bayou

Awal Meniti Karir Internasional

Musisi dan pencipta lagu asal Yogyakarta, Andi Haryo Setiawan yang lebih dikenal dengan nama Andi Bayou pernah mencapai masa jaya bermusik di tahun 90an lewat band besutannya, Bayou. Andi sendiri mulai tertarik dengan dunia musik sejak orang tuanya membelikan seperangkat alat musik dan keyboard Roland Alpha Juno. Ia pun mulai menekuni ilmu komposisi, aransemen, dan dunia MIDI dengan perangkat  alat musiknya sejak tahun 1988, dan di tahun 1990 Andi memulai karir musiknya dengan hijrah ke Jakarta.

Jatuh bangun di dunia musik sudah pernah di rasakan, namun semangatnya di dunia musik tak pernah surut. Sempat vakum di band besutannya Bayou, karir Andi sebagai produser, arranger, komposer dan keyboardist justru semakin berkibar. Iapun mulai merintis bisnis studio rekaman di rumahnya. Nama-nama besar seperti Iwan Fals, Nicky Astria, SO7, Kangen Band, Judika, Syahrini, Rio Febrian, Warna, Dewi Sandra, Mayangsari hingga Trio Macan tercatat pernah berkolaborasi dengan Andi dalam pengerjaan albumnya.

Kesukaannya pada perangkat musik Roland, di tahun 2004 membawanya menjadi Artist Ambassador untuk Roland Keyboard. Hampir 13 tahun menjadi ambassador, impiannya untuk mengunjungi Frankfurt Messe juga markas besar dan pabrik piano termahal di dunia Steinway & Son di Hamburg di tahun 2015 terwujud.  Di akhir tahun 2016 Andi pun berkesempatan untuk menghadiri NAMM Show yang di selenggarakan tanggal 19-22 Januari 2017 di Anaheim California.

NAMM Show adalah annual event berkumpulnya para produsen alat musik di dunia yang di gelar di Aneheim, California, AS. Acara tahunan ini menampilkan produk terbaru dari beberapa produsen alat musik, sebagai peraga dan menjadi ajang pamer kualitas serta inovasi terbaru dari produsen alat musik.

02 NAMM 2017 IstimewaNAMM 2017 (Istimewa)

“NAMM Show sendiri tidak di buka untuk umum dan hanya terbatas kepada anggota, distributor dan para undangan saja. Juga artis-artis dunia seperti Stevie Wonder, John Mayer, Earth Wind and Fire, Jean Michel Jarre, Andy Summer, dan seorang Andi Bayou hahaha,” jelas Andi sambil tertawa.

Setelah selesai menghadiri acara NAMM Show, bersama dengan sahabatnya Anto Juwono, yang juga seorang penyanyi Indonesia yang bermukim di Amerika, Andi terbang menuju New Jersey.  Pertemuannya dengan produser berkebangsaan Belanda, Michael Zetner yang bermukim di Irlandia menghasilkan kolaborasi dengan band beraliran New Age asal Amerika bernama Zen Land. Personil Zen Land adalah para musisi senior Amerika yang telah banyak bekerjasama dengan artis-artis besar dunia seperti Frank Zappa, Sting, Andy Summer, Jeff Beck, The Who, Peter Gabriel, Yes, Bruce Springsteen, David Bowie dan lainnya.

“Lagu ciptaanku berjudul ‘Sunrise at Borobudur’ menjadi karya kolaborasi dengan Zen Land yang bakal rilis dibawah bendera Warner Music Indonesia di awal tahun ini. Kita membahas proses mixing mastering lagu tersebut yang akan di kerjakan di Hollywood serta rencana waktu rilis yang sudah semakin dekat. Kolaborasi ini menjadi project yang maha penting bagiku, karena sebagai pintu gerbang karir Internasionalku” ujar Andi kepada NewsMusik.

Hadir di acara NAMM Show juga membawa Andi bertemu dengan musisi dan produser yang sudah punya nama di industri musik Amerika, terkoneksi dengan mereka membuatnya makin percaya diri dan lebih bersemangat untuk bisa rekaman di Amerika. Sejak di Indonesia, Andi sudah mempersiapkan materi lagu-lagu yang bakal direkam di Amerika dan berlatih keras setiap hari. Usaha yang hampir satu tahun lamanya untuk memainkan komposisi ciptaannya sendiri yang menggabungkan unsur klasik, jazz, progresif, rock dan pop ke dalam sebuah karya yang berdurasi 8 menit.

03 The Cutting Studio NYC IstimewaThe Cutting Studio - NYC (Istimewa)

Usahanya tersebut akhirnya berbuah manis, meski ada beberapa kesulitan sewaktu latihan, Andi akhirnya bisa menyelesaikan rekaman sebanyak 4 buah lagu di The Cutting Studio, sebuah studio rekaman bergengsi di kawasan Manhattan New York. Studio ini juga menjadi  tempat dimana artis-artis dunia seperti The Corrs, Linkin Park, John Legend, Boyzone dan lainnya pernah rekaman.

“Walau masih ada kekurangan di sana sini, dan sempat mengalami putus asa karena masalah lama di  jari kelingkingku. Aku mencoba memainkan dan merekam ulang mulai part yang mudah dulu, aku sengaja membiarkan kekurangan tersebut karena ingin menghadirkan suasana live recording tanpa menggunakan metronome. Setelah berusaha dan berjuang dengan keras sesaat sebelum jadwal rekaman berakhir akhirnya aku berhasil menyelesaikan rekaman 4 lagu lengkap dengan take vocal 2 buah lagu dalam waktu 1 shift”, jelas Andi bangga./ YDhew

 

Monday, 13 February 2017 10:35

Al Jarreau

Tak Ada Lagi Scat Indah

Al Jerreau yang terlahir dengan nama Alwynn Lopez Jarreau, di Milwaukee pada 12 Maret 1940 telah menghebuskan nafas terakhirnya pada usia 76 tahun di Los Angeles, California, Minggu (12/2/2017). Berpulangnya penyanyi jazz yang berjulukan “The Acrobat of Scat” itu diakibatkan kelelahan dan tengah dirawat di sebuah rumah sakit di LA. Mengambil kabar dari akun facebook dan twitter-nya, Al Jarreau meninggal sekitar jam 9 pagi disaksikan oleh Istri, putra dan beberapa temannya.

Ia adalah sosok yang penuh semangat, memiliki gaya vokal yang unik dan penuh akrobat. Tak banyak yang melakukannya, sehingga gampang ditebak kalau hal tersebut menjadikannya kondang dan menjadi ikon musik terutama jazz. Prestasi terakhir yang didapatkannya ketika beberapa bulan lalu, Al Jarreau mendapat penghargaan dari Presiden Amerika kala itu,  Barack Obama di Gedung Putih pada perayaan International Jazz Day.

Sepanjang karirnya bermusik, Al Jerreau telah mendapat banyak penghargan, salah satunya adalah dengan meraih 7 Grammy Awards. Ada sebuah hal yang langka dengan pengharagaan musik tertinggi dunia yang diraihnya ini, karena 7 Grammy tersebut didapatkannya untuk tiga genre berbeda, yakni jazz, pop, dan R&B. Sebagai musisi jazz kenamaan, ia begitu populer dengan berbagai single hits miliknya seperti ‘We're in This Love Together’,  ‘After All’, ‘Morning’, ‘Moonlightin’, ‘Take 5’, ataupun ‘Breaking Away’.

Ia tumbuh besar di Milwaukee, dan pertama kali bersentuhan dengan musik karena seringnya mendengarkan orang tuanya bermain musik di gereja. Menekuni karir musiknya secara penuh ketika berusia 27 tahun. Semua dimulai ketika Ia menyelesaikan S2 nya dalam bidang ilmu rehabilitasi kejuruan dari Universitas Iowa. Lalu pindah pindah ke San Fransisco, malah terjun ke dunia musik bersama seorang musisi yang juga menjadi legenda, George Duke.

02 Al Jarreau IstimewaAl Jarreau (Foto: Istimewa)

Walau telat memulai karir bermusiknya, namun hanya butuh beberapa tahun saja  ia mulai menarik perhatian banyak pihak. Ya apalagi kalau tidak lewat gaya vokal yang sangat tidak biasa. Kritik yang datang dijawabnya dengan ketangkasan improvisasi pada vokal, dan menghasilkan berbagai vokalisasi mulai dari yang biasa saja sampai njlimet sekalipun.

Suara merdunya juga dinikmati di lagu tema serial televisi era 80an “Moonlighting”, yang turut membesarkan nama aktor Bruce Willis. Juga yang tak mungkin dilupakan kala dirinya terlibat penggarapan lagu ‘We Are the World’ di tahun 1985 sebagai upaya penggalangan dana korban gizi buruk di Ethiopia.

Oleh industri musik dunia, karyanya dimasukkan dalam berbagai unsur selain jazz seperti  pop, soul, gospel, latin dan lainnya. Hal tersebutlah yang mendorong kepopulerannya karena  bisa fleksibel meninggalkan bentuk puritan dari framing jazz menjadi sangat aksesibilitas dan komersil.

Seperti yang pernah diutarakannya dalam wawancara terdahulunya pada tahun 1986 mengenai kritik yang diterimanya. Al Jerreau tidak pernah tergoyahkan dengan “sikap jazz" nya tersebut yang didefinisikannya sebagai sebuah pilihan pribadi dan melakoni sesuatu yang berbeda. "Saya mencoba untuk menjadi reseptif, untuk mendengarkan, dan tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru."

03 Al Jarreau IstimewaAl Jarreau (Foto: Istimewa)

Joe Gordon, sang manajer menyebutnya sebagai pria yang luar biasa. Al Jerreau tidak pernah berhenti berterima kasih pada penggemarnya dan orang-orang yang pernah bekerja dengannya secara langsung ataupun tidak langsung. "Prioritasnya adalah bermusik. Tapi prioritas utamanya adalah bagaimana ia bisa membuat orang lain merasa lebih baik dan nyaman.”

Begitulah, tak terhitung panggung yang sudah ditaklukkannya, lebih dari 20 album telah dirilisnya, banyak hits yang sudah menghiasi tangga lagu dunia, juga kolaborasinya dengan para musisi yang tak kalah hebat. Semua seakan malah menampilkan keunikan bakat dan semangat tinggi sang legenda.

Rest In Peace Al... We are never forget you the king of scat..../ Ibonk

 

Page 13 of 114