Male Profile
NewsMusik

NewsMusik

Sunday, 23 April 2017 10:28

Bonita & The Hus Band

Perayaan Sewindu Dan Lahirnya Album Kedua

Hijau dan merah. Dua warna itu yang selalu identik dengan cabe. Setidaknya begitu orang-orang memang lebih mengenalnya. Sehingga ketika menemui cabe dengan selain dua warna tersebut, sudah pasti bertanya: ini benar-benar cabe atau bukan. Setidaknya ini yang kemudian menjadi pembahasan NewsMusik bersama Bonita dan Silir Pujiwati.

Cabe ornamental magenta, begitu keterangan yang tertulis di sebuah kertas yang ditancapkan di tanah dalam pot. Terletak di teras di luar auditorium Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis di bilangan Rasuna Said, Jakarta. Menimbulkan pertanyaan apakah cabe ini hanya hiasan dan tidak bisa dimakan.

Bisa jadi karena terlalu malas bertanya pada mbah Google, akhirnya berujung pada berkomentar asal-asalan. Mulai dari cabenya dicat sampai menarik kesimpulan sendiri tidak bisa dimakan. Serta menyisakan pertanyaan kalau tukang gorengan memberikan cabe itu sebagai pelengkap gorengannya bakal dimakan atau tidak.

Pembahasan masalah cabe terlupakan ketika membahas rencana babak berikutnya rangkaian keliling beberapa kota dengan tajuk Belong To Each Other Tour 2017. Salah satu kota yang akan disinggahi adalah Nias. Dimana berkaitan dengan daerah tersebut, ternyata baru beberapa hari sebelumnya Bonita mengetahui kalau dia ternyata memiliki darah Nias dari buyutnya.

Obrolan di teras itu dilakukan sembari menunggu alat-alat musik tengah disiapkan di dalam auditorium. Hari itu, Rabu (12/04), Bonita bersama Bonita & the Hus Band (BNTHB) akan menggelar pentas pada malam harinya. Dalam rangka merayakan ulang tahun kedelapan sekaligus perayaan perilisan album kedua BNTHB, Rumah.

Peralatan yang akan digunakan untuk pentas sendiri sudah tiba sejak jam 1. Tapi baru diizinkan untuk dibawa masuk ke auditorium mulai jam 2. Untuk mengisi waktu, kru beserta personil BNTHB, minus Bonita yang belum datang, memutuskan untuk mengisi perut. Selesai makan, perut pun kenyang. Pas dengan saatnya untuk memasukkan peralatan dan kemudian soundcheck.

“Gue penasaran banget. Udah lama nih gue pengen banget mainin pianonya,” ujar Andie Jonathan Palempung, atau biasa dipanggil Jepe. Piano yang dimaksud adalah grand piano dengan merek Bosendorfer. Sebuah nama yang sudah berkecimpung dalam pembuatan piano dari Austria sejak 1828.

02 Bonita And The Hus Band Klandesti NBonita And The Hus Band (foto: Klandesti N)

Tak perlu menunggu perintah, Jepe langsung menghampiri dan memainkan piano idamannya. Denting piano mengisi seantero auditorium Erasmus Huis. Sekaligus mengiringi kesibukan kru dan personel BNTHB mempersiapkan perlengkapan untuk pentas.  “Asyik juga kali ya kalo punya piano di rumah. Tapi mau ditaruh mana ya di rumah gue hehehehe,” kata Petrus Briyanto Adi alias Adoy, gitaris sekaligus penyanyi latar, berkhayal ketika melihat Jepe asyik memainkan piano.

Semua sibuk dengan aktifitas masing-masing. Jimmy Tobing mempersiapkan saxofon dan menyempatkan memainkannya sejenak. Bharata Eli Gulo tentu menyusun perkusinya. Di sebelahnya tak kalah sibuk Agung Budiman yang biasanya mendokumentasikan, ikut menyiapkan perkusinya. Di ruang sebelah auditorium, Ira Humairah yang kemudian dibantu Ruth Priscilla Hutabesy sibuk mendata pemesanan tiket.

Ruth datang bersama tunangannya, Gabriel Mayo. NewsMusik mengucapkan selamat atas rencana peluncuran mini album bertajuk Hari Ini. Digelar dua hari setelah pentas BNTHB di Paviliun 28. Mayo hanya sebentar singgah di Erasmus Huis karena harus bertemu dan berlatih dengan kelompok Celtic Room di Plaza Festival.

Sembari menunggu waktu untuk soundcheck, paling asyik menikmati segelas teh atau kopi hangat. Berkumpul di meja yang sama dengan Ira dan Ruth masih berkutat dengan urusan tiket. Sementara Bonita lebih memilih berjalan-jalan sambil melatih dan melemaskan jari-jarinya memainkan ukulele.

Sekitar pukul empat sore, BNTHB formasi lengkap soundcheck membawakan beberapa lagu. Formasi untuk pentas ini selain dilengkapi oleh Jepe dan Agung, ada Yusuf Dharmayan Soerachmadi memainkan bass serta Butong Olala dengan akordionnya. Tak lupa penyanyi diimpor dari Yogya yang merupakan biduan kelompok Kua Etnika, Silir Pujiwati.

Awalnya Bonita, Adoy dan Silir sempat kesulitan menemukan nada yang tepat bagi tembang berbahasa Jawa yang dinyanyikan. Tapi setelah beberapa kali akhirnya ditemukan kunci yang pas untuk lagu tersebut. “Aku gak mau nyanyi, aku maunya liat kamu nyanyi,” ujar Bonita dengan nada manja seperti anak kecil.

03 Bonita And The Hus Band Klandesti NBonita And The Hus Band (foto: Klandesti N)

Ucapannya itu ditujukan kepada Silir yang sukses membuatnya tak bisa menyembunyikan kekaguman. Bahkan ketika Silir menembangkan lirik berbahasa Jawa, Bonita tak kuasa menyembunyikan rasa terharu. Matanya berkaca-kaca menyimak Silir menembang.

Soundcheck berhenti ketika jarum jam hampir menyentuh pukul enam. Jimmy beranjak keluar auditorium untuk menghampiri istri dan anak perempuannya yang baru datang. Jimmy menggendong Truly Sofia Tobing menuju ke dalam auditorium dan mendekat ke Jepe yang tengah memainkan piano.

Kehadiran Truly menambah semarak suasana. Bonita yang gemas tak puas-puasnya menciumi meski bayi berumur 10 bulan itu tengah belepotan makanan pipinya. Silir pun juga tak kalah gemas. Dia lalu menembangkan lagu ‘Lelo Ledung’ yang dijelaskannya sebagai lagu pengantar tidur. “Ada ya suara-suara kayak gitu ya,” ucap Jimmy sambil menggeleng-gelengkan kepala dan wajah penuh kekaguman. Sebuah ekspresi kekaguman mendengarkan suara Silir yang memesona.

Truly yang murah senyum dan senang tertawa memang mencuri perhatian setiap orang dewasa yang ada. Tambahkan satu bayi lagi, maka semakin semarak lagi. Dia adalah Rubina Kalila Semesta. Merupakan anak pertama Candisa dan Agus Leonardi. Tak lain adalah keponakan Bonita.

Di luar Erasmus Huis hujan tiba-tiba datang dengan derasnya. Tentu saja ini menimbulkan kekhawatiran akan membuat menghalangi penonton untuk datang. Belum lagi ditambah kemacetan Jakarta yang beberapa minggu belakangan ini semakin menggila. Kebetulan pula Erasmus Huis tidak jauh dari perempatan Kuningan yang terkena “basian” kemacetan di Pancoran.

“Tenang aja yang gak bakalan sepi kok, paling dikit (penonton) yang datang,” canda Adoy menjawab pertanyaan apakah ada penonton yang datang. Bonita tertawa tapi tampaknya bercampur sebal juga mendengar jawaban Adoy.

Kehadiran satu orang lagi semakin membuat suasana meriah. Windra Benyamin atau akrab disapa Bontel yang menjadi biang keroknya. Saling cela dengan Adoy, Bonita dan Bharata. Mengaku heran kenapa dia senewen padahal BNTHB yang pentas. “Lo pasti rindu manggung ya? Eh bukan. Rindu manggung sama Float ya?” goda Adoy. Sementara yang digoda cuma cengengesan.

Beberapa menit menjelang pentas, semua berkumpul membentuk lingkaran. Adoy memberikan kata pengantar dan sekaligus memberi semangat untuk semua yang hadir dan terlibat. Terbukalah sebuah fakta bahwa ulang tahun BNTHB sebenarnya di bulan Mei. Jadi selama beberapa tahun sebelumnya keliru.

BNTBH muncul ke atas panggung setelah disebutkan oleh pembawa acara dadakan. Direncanakan awalnya adalah Donny yang bertindak sebagai penata cahaya untuk mengumumkannya. Tapi kemudian malah suara perempuan yang berkumandang. “Hujan tiada henti membasahi bumi. Ia membiarkan rintiknya. Rintihan tangis ibu pertiwi. Tanah, rumput, daun dan bunga. Tumbuh indah beraneka ragam. Lalu hujan turun tiada henti,” demikian Bonita menyanyikan lagu pembuka konser.

NewsMusik sempat bingung mencari di album terbaru lagu yang mana dinyanyikan sebagai pembuka tersebut. Sehari setelah konser via Whatsapp diperoleh informasi dari Adoy. Judulnya Insert I tapi berbeda dengan versi album yang tidak ada liriknya. Judulnya pun menjadi ‘Hujan’ dengan lirik yang baru dibuat Bonita.

04 Bonita And The Hus Band Klandesti NBonita And The Hus Band (foto: Klandesti N)

Sepanjang konser Bonita berusaha menahan diri untuk tidak banyak berbicara. Takut emosional, begitu alasannya. Alhasil Adoy banyak mengambil alih berbicara. Menjelaskan tentang lagu yang dibawakan, sekelumit kisah tentang BNTHB dan juga tidak ketinggalan bercanda. “Terima kasih yang sudah datang ke sini malam ini. Daripada nonton debat pilkada yang gak jelas itu, memang lebih baik di sini saja,” kata Adoy.

Malam itu memang tengah berlangsung debat terakhir Pilkada DKI Jakarta. Dan ada pemandangan menarik di FOH malam itu. Donny yang sibuk dengan berbagai tombol di depannya mengatur cahaya ternyata menyimak debat tersebut melalui gawainya. Matanya memandang ke perangkat penata cahaya. Tapi telinganya menyimak debat yang didengarkannya melalui earphone.

Konser selain dimeriahkan oleh tepuk tangan penonton, juga disemarakkan dengan pekikan riang Truly di beberapa kesempatan. Di bagian lain terlihat juga seorang anak kecil yang asyik menari-nari mengikuti lagu yang tengah dibawakan.

Silir kembali memukau dengan suaranya. Terungkap kemudian bila tembang Jawa yang dibawakan sebagai pembuka lagu ‘Rumah Temanku’ dibuatnya di atas kereta api dalam perjalanan Yogya menuju Jakarta. Dia memberi kejutan pula dengan menyanyikan lagu ulang tahun berbahasa Jawa sebelum silam.

Di antara penonton yang hadir terlihat orang tua, handai taulan dan sahabat. Usai konser, BNTHB menghampiri mereka untuk mengucapkan terima kasih. Air mata haru Bonita tak terbendung ketika mengucapkan terima kasih sambil memeluk sang ayah, Koes Hendratmo. Selamat sewindu Bonita & the Hus Band. Sukses untuk babak kedua rangkaian Belong To Each Other Tour 2017. /Klandesti N

 

Tuesday, 25 April 2017 09:35

Nonaria & Danilla

Bersenang-senang Bersama

Baru belajar dan perut lapar. Dua hal tersebut adalah dari sekian banyak penyebab seseorang mudah lupa. Setidaknya ini yang bisa NewsMusik simpulkan ketika melihat Nesia Medyanti Ardi, Nanin Wardhani, Yasintha Pattiasina dan Danilla tengah soundcheck di Galeri Indonesia Kaya pada Sabtu (15/04) silam. “Aduh, ini kunci F gimana ya?” keluh Danilla sambil berusaha mengingat. Bagi yang kerap melihat Danilla pentas, pasti sudah tahu kalau Danilla selalu memainkan pianika. Tapi kali ini tidak. Kali ini dia memainkan bass yang baru saja dipelajari beberapa hari sebelumnya di studio ketika latihan.

Untuk pentas di Galeri Indonesia Kaya, Danilla berkolaborasi dengan grup Nonaria yang beranggotakan Nesia, Nanin dan Yasintha. Mereka tampil dalam acara bertajuk Wanita Kekinian. Maklum, bulan April di negara ini identik dengan acara yang mengedepankan perempuan. Apalagi kalau bukan karena Hari Kartini setiap 21 April.

Soundcheck yang digelar sebenarnya santai sekali. Nesia yang mulutnya “bocor halus” kerap melontarkan kalimat-kalimat yang menggelitik. Tapi juga kerap melontarkan ide cemerlang. Seperti memberi masukan untuk adanya solo piano.

Tapi seperti yang disebutkan di awal tulisan ini, perut lapar menyebabkan gampang lupa. Begitu yang dialami Nesia. Beberapa kali dia sempat lupa lirik dan bagiannya. Dia pun sadar kalau ternyata perut keroncongan yang membuatnya lupa. Soundcheck diputuskan disudahi. Waktunya makan.

Menuju ke ruang rias dahulu sebelum menuju tempat makan. Di depan ruang rias terlihat 10 nasi kotak dengan menu ayam goreng dan rendang. Tidak jelas buat siapa. Karena ragu-ragu akhirnya memutuskan makan yang lain saja. Nesia pengin ayam gorengnya Kolonel Sanders.

Akhirnya kaki-kaki melangkah ke foodcourt dengan banyak pilihan. Nesia dan Nanin memilih makanan yang direbus. Lafa, rekan satu band Danilla, memilih makanan rumahan komplit dengan kerupuknya. Sedangkan Danilla memesan ayam hainan yang tidak jauh dari meja tempat mereka makan.

02 Nonaria & Danilla Klandesti NNonaria & Danilla (foto: Klandesti_N)

“Hah, Inem?” tanya Nanin dengan wajah penuh kebingungan sambil memandang Nesia yang juga bereaksi sama. Penyebabnya karena mereka mendengar Danilla dipanggil untuk mengambil pesanannya. Ternyata salah dengar. Karena yang benar adalah ayam hainan. Bukan Inem.

Setelah habis menyantap makanannya Nesia ternyata masih ngidam ayam gorengnya Kolonel Sanders. Tapi kemudian berubah niatnya. Bubar jalan dari foodcourt menuju lantai atas untuk mencari tempat santai. Sepanjang jalan Nesia, Nanin, Yasintha dan Danilla sibuk membahas pembagian peran. Danilla jadi anak majikan, sementara mereka bertiga jadi peran pembantu.

Karena tempat ngopi kesukaan Nesia sedang direnovasi akhirnya diputuskan turun ke Ground Level ke tempat ngopi dengan logo warna hijau bergambar putri duyung berekor ganda. Sambil menunggu pesanan mulailah perbincangan ngalor-ngidul. Dari ketakutan terhadap kecoa, cacing dan tikus, membahas penyebab meninggalnya January Christy, menentukan ukuran “sesuatu” berdasarkan penampakan hidung, sampai salah penulisan nama di gelas pesanan.

“Gue pernah mesen tapi namanya salah. Gue udah bilang nama gue, Lafa. Tapi tau gak jadinya apa? Hamdan,” cerita Lafa yang sontak membuat semua tertawa.

Menjelang pukul dua siang, Newmusik mengingatkan untuk segera naik. Jaga-jaga mal ramai karena long weekend sehingga sulit menuju ke atas dengan dengan lift karena harus antri. Juga berjaga-jaga bertemu penggemar yang meminta foto bersama. Khususnya dengan Danilla. Dan benar saja, ketika tengah menunggu lift, seorang lelaki muda meminta foto bersama Danilla dan Lafa. Terlihat jelas sekali rona puas dan senang bukan kepalang dapat berfoto bersama mereka.

Sampai di ruang rias ritual memulas wajah agar semakin memesona pun dimulai. Dilengkapi dengan celotehan-celotehan yang mengocok perut. Tidak afdal rasanya bila tidak ada musik. Nesia pun memutar musik melalui gawainya. Salah satunya adalah lagu penutup anime Dragon Ball.

03 Nonaria & Danilla Klandesti NNonaria & Danilla (foto: Klandesti_N)

Dika Chasmala yang sehati dalam urusan saling mencela dengan Nesia datang. Sudah bisa ditebak suasana semakin ramai dengan berbalas celaan antara mereka berdua. Lalu datang juga Hendrawan Revianto alias Cak Hend. Ini dia orang yang berhasil memaksa Danilla untuk belajar kilat memainkan bass.

Urusan merias wajah sudah selesai. Saatnya salin pakaian. Trio Nonaria kompak mengenakan kebaya berwarna merah dan bertelanjang kaki. Sementara Danilla berkebaya putih dengan Converse putih menutupi kakinya. “Kan dia anak majikan,” ujar Nesia mengenai perbedaan berpakaian mereka.

Masih ada waktu beberapa menit sebelum pentas dimulai. Newsmusik meminta mereka untuk berfoto bersama memanfaatkan waktu kosong. Karena mereka asyik untuk diajak bertingkah gila-gilaan, kamar mandi yang ada di ruang ganti menjadi lokasi pemotretan. Bersempit-sempitan ria berlima di kamar mandi yang kecil. “Duh gue deg degan nih,” ungkap Danilla yang tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Ternyata pengalaman manggung berpuluh-puluh kali tidak menjamin menunggu waktu naik panggung akan baik-baik saja.

Semenit menjelang masuk ke dalam auditorium Galeri Indonesia Kaya, Nonaria masih berdebat urutan siapa yang harus masuk duluan. Akhirnya disepakati urutan masuk berdasarkan letak instrumen masing-masing. Pentas pun dimulai oleh Nonaria dengan lagu ‘O Sarinah’ karya Ismail Marzuki.

Nonaria lalu berturut-turut membawakan dua karya orisinal mereka, ‘Antri Yuk’ dan ‘Santai’. Nesia pun pamer dan dengan berlagak sombong mengabarkan ‘Antri Yuk’ akan resmi dirilis via iTunes pada 20 April.

Penonton yang datang boleh jadi mayoritas adalah penggemar Danilla yang disebut Penelisik. Tapi Nonaria tak gentar. Toh Nesia tetap saja tampil santai dan kenes. Unjuk kebolehannya ber-scat singing ria membuahkan tempik sorak dan tepuk tangan penonton. “Selama ini saya selalu bersenang-senang di atas panggung. Tapi dengan mereka, saya belajar bagaimana bercanda di panggung,” ujar Danilla ketika akhirnya naik panggung bergabung dengan Nonaria.

04 Nonaria & Danilla Klandesti NNonaria & Danilla (foto: Klandesti_N)

‘Melayang’ milik January Christy menjadi lagu pertama kolaborasi mereka. Hampir terjadi insiden ketika setelah selesai hampir saja bass jatuh dari penyangga ketika diletakkan Danilla. Untunglah semua aman terkendali.

Berturut-turut kemudian dibawakan lagu milik Danilla, ‘Junko Furuta’ dan ‘Love is A Losing Game’ milik Amy Winehouse. Diterangkan kemudian bahwa lagu-lagu yang dibawakan kolaborasi itu dipopulerkan dan tentang perempuan yang telah meninggal. Dari sini kemudian ditanyakan kembali apa penyebab meninggalnya January Christy. Suasana pun riuh dengan penonton yang memberi jawaban.

Pentas Wanita Kekinian yang menampilkan kolaborasi Nonaria dan Danilla diakhiri dengan ‘Ibu Kita Kartini’ karya Wage Rudolf Supratman. Setelahnya mereka berfoto bersama penikmat seni, sebutan bagi mereka yang datang ke Galeri Indonesia Kaya. Kemudian bisa ditebak Danilla menjadi incaran penggemarnya untuk berfoto bersama yang diladeni dengan sabar. Nonaria juga dong.

Nesia terlihat terburu-buru mengemas peralatannya. Maklum dia harus segera menuju ke tempat lain buat “mencangkul” rejeki di bilangan Menteng. Laris manis nih. /Klandesti_N

 

Friday, 21 April 2017 11:19

Mouly Surya

Lolos Seleksi Cannes film Festival

Nursita Mouly Surya, sutradara kelahiran Jakarta 10 September 1980,  yang sejak kecil mempunyai hobby menulis ini namanya memang tidak setenar Hanung Bramantio ataupun Nia Dinata. Namun wanita yang biasa di panggil Mouly ini karyanya tidak boleh di pandang sebelah mata. Karyanya pernah meraih tiga penghargaan Festival Film Indonesia (FFI)  2008 untuk kategori penulis skenario, film dan sutradara terbaik melalui film “Fiksi”.

Mouly mulai mengenal dunia film sejak berkuliah di Melbourne, Australia, bersama teman dan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Australia membuat film amatir. Sejak saat itu Mouly merasa menikmati bagaimana cara membuat film. Padahal di saat itu ia mengambil kuliah sastra dan media, tapi dirinya merasa lebih tertarik untuk membuat film. Cita-cita sejak kecil menjadi penulis buku akhirnya ditinggalkan dan memutuskan untuk meneruskan kuliah S2 dengan mengambil jurusan film. Sejak saat itu dia mantap menentukan pilihan sebagai sutradara.

Berbekal pengetahuan tentang film,  Mouly juga berhasil membawa film "Fiksi" ke dalam festival film internasional Busan (Busan International Film Festival di 2008). Lewat film Fiksi itu juga yang mengantar Mouly menjadi satu-satunya perempuan peraih Piala Citra untuk kategori sutradara terbaik 

Ditahun 2013 Mouly menyutradarai film What They Don't Talk About When They Talk About Love, yang merupakan film Indonesia pertama  masuk seleksi World Cinema Dramatic Competition Sundance Film Festival.

Foto Marlina Cannes 2(Poster Marlina Cannes (Foto: Istimewa)

Karya terbaru Mouly “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”, Film tersebut menjadi film yang pertama mendapatkan subsidi Aide aux cinemas du Monde dari Kementerian Komunikasi dan Kebudayaan serta Kementerian Luar Negeri Prancis.   Terseleksi di Quinzaine des réalisateurs (Directors Fortnight) yang berlangsung paralel dengan Cannes Film Festival 2017.

Sejak diselenggarakan pertamakalinya di tahun 1969, Directors' Fortnight, yang diselenggarakan pada Festival Film Cannes oleh Société des Réalisateurs de Films (Asosiasi Sutradara Film Perancis), bertujuan untuk mendukung pembuat film dan mendorong talenta baru ke hadapan khalayak umum serta kritikus film pada perlehatan festival film terpenting di dunia ini.

Banyak sutradara dunia yang sebelumnya merintis karier lewat kanal Directors Fortnight, di antaranya Werner Herzog, George Lucas, Martin Scorsese, Jim Jarmush, Michael Haneke, Spike Lee, dan Sofia Coppola.

“Terseleksi di festival ini saya berharap bisa memberikan kesempatan kepada Marlina untuk mendapatkan distribusi yang lebih luas dari film-film saya sebelumnya. Sungguh sebuah kehormatan besar bisa berada di Directors’ Fortnight yang telah banyak menemukan Auteurs dunia dan terkenal dengan karya yang lebih edgy. Sungguh sebuah panggung yang cocok untuk Marlina.“ Kata Mouly lewat keterangan tertulisnya. Saat ini Marlina sedang dalam proses paska produksi di Paris.

Marlina bercerita tentang seorang janda yang melalui perjalanan mencari keadilan setelah rumahnya diserang oleh segerombolan perampok yang kemudian perampok tersebut dipenggal kepalanya oleh Marlina. Perjuangannya membawa kepala sang perampok ke kantor polisi ini yang membuat Mouly tertarik untuk mengangkat kisahnya menjadi sebuah film.

Marlina merupakan film keempat Indonesia yang berhasil masuk seleksi rangkaian Festival Film Cannes, setelah sebelumnya Tjoet Nja’ Dhien (1988, Semaine de la Critique), Daun di Atas Bantal (1998, Un Certain Regard), dan Serambi (2006, Un Certain Regard).

Film ini ditulis sendiri oleh Mouly Surya bersama Rama Adi dan  ide cerita dari Garin Nugroho. Bertindak sebagai produser  Rama Adi dan Fauzan Zidni, dan dibintangi oleh Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama dan Egi Fedly.

Film produksi bersama Cinesurya, Kaninga Pictures (Indonesia), Sasha & Co Production (Prancis), Astro Shaw (Malaysia), HOOQ Originals (Singapura) dan Purin Pictures (Thailand) ini nantinya akan diputar di festival yang diselenggarakan tanggal 18 hingga 28 Mei 2017 di Cannes, lalu akan ada pemutaran di Marseille, Paris, Geneva, Roma, Milan, Florence dan Brussels.

Wednesday, 19 April 2017 14:52

Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw

Tour Bersama di Enam Kota

 

Tiga musisi muda berbakat, Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw tidak pernah diam dan berhenti dari berkarya.  Ketiganya Kerap berjalan sendiri, sampai suatu saat mereka berkumpul di suatu tempat dan mempunyai ide untuk berjalan bersama.  Ide mereka kemudian diwujudkan dalam sebuah tur enam kota bertajuk MLDSPOT Intimate Tour "3 Cerita, 1 Ruang".

Ide yang sebenarnya berawal dari Kunto Aji beserta team-nya yang mempunyai keinginan menyuguhkan sebuah showcase dengan konsep sederhana. Sambil menunggu waktu yang tepat, perjalanan membawa Kunto Aji bertemu dengan Eva Celia dan seorang musisi, pemain trumpet muda dan berbakat, Jordy Waelauruw.

“Setelah bertemu dan ngobrol lebih jauh bersama Eva Celia dan Jordy Waelauruw, ternyata kami bertiga punya frekuensi yang sama dalam bermusik. Bagaimana kami memperlakukan musik, terlebih kepada karya-karya yang kami buat. Saya, Eva dan Jordy juga sama-sama menjalani album pertama yang punya cerita masing-masing di baliknya dan terus mencari ruang untuk menyebarkannya. Adanya persamaan ini membuat ide awal saya berkembang menjadi sebuah tur,” ungkap Kunto Aji.

Konsep pertunjukan yang telah ada sebelumnya akhirnya berkembang dari segala ide dan masukan tentang visi dan misi tiga musisi ini dalam bermusik. Ide ini kemudian disambut dengan positif oleh MLDSPOT yang kerap kali mendukung acara musik.

02 Intimate Tour Poster IstimewaIntimate Tour Poster (Istimewa)

Konser ini rencananya akan di adakan di 6 titik di Surabaya (Sabtu, 6/5), Malang (Senin, 8/5), Jogjakarta (Rabu, 10/5), Semarang (Jumat, 12/5), Bandung (Minggu, 14/5) dan Jakarta (Selasa, 16/5). Selama 10 hari berturut-turut, Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw bersama rombongan lainnya berada dalam satu bis melalui jalan darat menyambangi titik-titik yang telah ditentukan tersebut.

Pertunjukan nantinya mempunyai konsep intimate, dan merupakan tugas dari Kunto Aji, Eva Celia dan Jordy Waelauruw untuk membuat pendengarnya tidak hanya dekat, namun juga bisa menyampaikan pesan-pesan dari setiap materi yang akan mereka mainkan.

Dipilihnya galeri sebagi tempat pertunjukan, pengunjung yang hadirpun dibatasi hanya sekitar 200 orang saja, sehingga pertujukan yang akan berjalan nantinya menjadi lebih intim dari semua panggung yang pernah mereka jalani sebelumnya.

Eva Celia menuturkan bahwa “Seni adalah platform saya, Kunto Aji dan Jordy Waelauruw dalam mengekspresikan diri melalui hal yang kami sukai, musik. Bagaimana saya bisa menggali potensi dalam diri saya dan menunjukannya kepada orang lain. Saya pribadi percaya kalau intimate tour ini tidak hanya bisa memberikan pertunjukan yang impactful melalui passion, cinta dan kejujuran yang saya letakan dalam lagu-lagu yang saya bawakan nanti. Dan terlebih lagi, saya bisa membangkitkan semangat independen untuk jujur dalam berkarya kepada audiens nanti.”

03 Intimate Tour IstimewaIntimate Tour (Istimewa)

“MLDSPOT Intimate Tour ini adalah ruang yang ideal untuk saya pribadi, bisa dekat dengan pemain musik lain dan mereka yang datang. Yang paling utama adalah, saya bisa menyebarkan karya-karya saya,” tambah Jordy Waelauruw singkat.

Tiket  dijual secara ekslusife melalui GO-TIX, dan untuk ticket pre-sale tersedia pada hari sudah bisa di pesan sejak hari Selasa (18/4) hingga Kamis (20/4). /JD

 

Wednesday, 19 April 2017 13:55

BOYZLIFE

Konser Perdana Di Asia Tenggara

Setelah sukses dengan gelaran konser Air Supply bulan Maret 2017 lalu, kali ini promotor Full Color Entertainment menggandeng promotor Tata Enterprise dan Hotel Sultan Jakarta, menggelar konser perdana Boyzlife di Jakarta, pada 21 Mei 2017 mendatang, yang akan menjadi konser perdana Boyzlife di Asia Tenggara.

Brian yang memutuskan hengkang dari Westlife tahun 2004 silam, Keith Duffy pun diajak berkolaborasi dalam grup duo bernama Boyzlife. Brian dan Keith juga saling bertukar informasi soal pop heyday mereka pada masa keemasan boyband kala itu. Nama Boyzlife dipilih menjadi nama grup duo ini, bukanlah tanpa alasan. Baik Brian maupun Keith masih memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap Boyzone dan Westlife yang sudah membesarkan nama mereka berdua. Karena itulah, nama Boyzlife diambil dari penggalan nama boyband Boyzone dan Westlife.

Kerinduan para fans Boyzone dan Westlife, boyband era tahun 1990-an, akan terbayarkan pada Mei 2017 mendatang dengan akan hadirnya grup duo Keith Duffy (personil Boyzone) dan Brian McFadden (ex personil Westlife), dalam konser perdana Boyzlife di Jakarta.

Konser kali ini akan berbeda dengan konser-konser boyband pada umumnya. Karena kedua personil Boyzlife sudah meleburkan pengaruh dari grup musik mereka sebelumnya. Konsep yang akan diusung Boyzlife adalah ‘Story’, ‘Laughter’ dan ‘Music’. Pada konser yang dijadwalkan berdurasi 90 menit itu, Boyzlife akan ‘Bernostalgia’, ‘Bersenda Gurau’ dan yang pasti akan ‘Bernyanyi’ dengan menyanyikan lebih dari 18 buah lagu hits dari Boyzone dan Westlife seperti ‘Flying Without Wings’ (Westlife), ‘No Matter What’ (Boyzone), ‘Love Me for A Reason’ (Boyzone) dan ‘If Let You Go’ (Westlife).

Boyzlife JakartaFoto: Istimewa

"Konsep yang diusung Boyzlife pada konsernya sangat berbeda. Jadinya, selain dapat menjadi ‘obat’ pelepas kerinduan fans Westlife dan Boyzone, konser juga akan berlangsung intimate. Karena baik Brian dan Keith, keduanya ingin bisa lebih dekat dengan fans-fans mereka," ucap David Ananda, Managing Director Full Color Entertainment menurut release yang diterima NewsMusik Selasa (18/4).

Konser yang rencananya akan diadakan dengan tema indoor di dalam Hotel Sultan, Jakarta ini, jumlah ticket yang dijual juga sangat terbatas. Untuk kategori Special Diamond VVIP Meet & Greet  Rp 2.500.000 (including dinner & soundcheck experience), kategori Diamond VVIP  Meet & Greet      Rp 1.950.000, Kategori Diamond VVIP  Rp 1.350.000 (numbered seating), Kategori Gold Rp. 850.000 (free seating), dan kategori Silver di jual Rp. 495.000 (standing).

Ticket juga sudah dapat dibeli secara online di rajakarcis.com, ticket.com mulai hari ini (18/4), dan secara offline tiket dapat dibeli di kantor Full Color Entertainment di Mall Taman Anggrek P2 No.19 Jakarta dan Hotel Sultan Jakarta, serta juga akan menyusul dijual di seluruh gerai Familymart dan Indomaret. /JD

 

 



Saturday, 15 April 2017 12:43

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

Persahabatan di Balik Kedai Kopi

Pertengahan tahun 2015 lalu, "Filosofi Kopi" yang merupakan film karya Angga Dwimas Sasongko yang menggabungkan kombinasi antara aspek artistik dan komersial.  Film ini juga telah memenangkan kategori Penyunting Gambar Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik pada FFI 2015.

Film rumah produksi Visinema Pictures ini menceritakan persahabatan Ben & Jody (diperankan oleh Rio Dewanto dan Chicco Jerikho) menemukan jati diri dalam secangkir kopi, dan drama perdamaian dengan masa lalu. Kisah yang diangkat dari novel karya Dewi Lestari akhirnya sukses meramaikan dunia sinematografi Indonesia, menjadi sebuah kisah inspiratif  dalam balutan pencarian mereka membuat kopi terbaik.

Nah, akhirnya setelah 2 tahun berselang, Ben dan Jody menyadari satu hal bahwa mereka selama ini hanya hidup dalam utopia belaka. Ben dan Jody harus membuat strategi baru, agar dunia kopi yang mereka cintai tetap hidup.

02 Luna Maya IstimewaLuna Maya (Istimewa)

Ada dua tokoh baru dalam Filosofi Kopi 2, Luna Maya (Tarra) dan Nadine Alexandra (Brie) yang nantinya  turut meramaikan film Filosofi Kopi 2 ini. Tokoh Tarra merupakan rekan baru Ben dan Jody. Sementara Brie, adalah barista baru di Jakarta sepulang dari Melbourne.

Lewat teaser yang berdurasi cukup singkat, 'Filosofi Kopi 2' akan menyuguhkan perjalanan Ben dan Jody yang memutuskan untuk kembali membuka kedai di Jakarta.

Sequel yang diperkuat juga oleh hadirnya dua tokoh baru, Jumat (14/4) telah dirilis Filosofi Kopi 2: Ben & Jody dan  'Official Trailer' di kanal Youtube 'Visinema Pictures' akan segera rilis. Filmnya sendiri digadang-gadang kemungkinan akan tayang d bulan Juli 2017. Kita tunggu saja/ YDhew

 

Monday, 17 April 2017 12:34

Nidji

Arti Sahabat dan Pamitnya Giring

Group band Nidji yang berawal dari persahabatan Rama dan Andro yang memang sama-sama menyukai musik. Persahabatan mereka berkembang terus hingga di tahun 2002 mereka sepakat untuk membentuk group band, dimana sebelumnya Rama, Andro dan Ariel yang saat itu baru bergabung dengan mereka menciptakan sebuah lagu yang berjudul ‘Maria’. Namun lagu tersebut belum ada vokal yang mengisi, sehingga mereka bertemu dengan Giring yang akhirnya melengkapi hobby bermusik mereka sebagai vokalis.

Perjalanan bermusik mereka berempat (Ariel, Andro, Rama dan Giring) diawali dengan melakukan jam session bersama, dan akhirnya masuklah Adri menempat posisi sebagai drummer. Sampai pada di awal Februari 2002 kemudian dibentuklah band yang sekarang kita kenal dengan nama Nidji. Kemudian di tahun 2005, Nidji menambah satu orang personil lagi sebagai keyboardist yaitu Randy..  

Dari awal konsep musik yang mereka gunakan sampai sekarang adalah modern rock dengan  memadukan unsur-unsur lain, seperti progresif, funk, alternatif, dan pop. Sesuai dengan namanya yang diambil dari bahasa Jepang yang berarti pelangi, dengan konsep merefleksikan warna musik yang berbeda satu dengan lainnya, namun tetap harmonis.

Dalam karirnya bermusik ada beberapa grup band yang secara tidak langsung mempengaruhi dan menjadi inspirasi terhadap corak musik Nidji, antara lain Coldplay, Goo Goo Dolls, U2, Radiohead, Smashing Pumpkins, The Verve, Dave Matthews, The Killers, dan sebagainya. Gaya Giring sewaktu bernyanyipun membuat band Nidji menjadi band yang unik dan atraktif.

02 Nidji RizalNidji (foto: Rizal)

Album perdana mereka yang bertajuk “Breakthru” dengan single-nya ‘Sudah’, ‘Hapus’, ‘Bila Aku Jatuh Cinta’, ‘Kau Dan Aku’, ‘Disco Lazy Time’ dirilis tahun 2005 dan sukses ketiga tunggalan  tersebut mendudukkannya diposisi ke 1 di MTV Ampuh.

Pada tahun 2007 mereka mengeluarkan album keduanya “Top Up” dengan single yang berjudul ‘Shadow’ kembali menggapai sukses menjadi no 1 di MTV Ampuh dan bertahan selama 13 minggu di posisi tersebut. Tahun 2008, tunggalan yang berjudul ‘Laskar Pelangi’ menjadi salah satu lagu di album kompilasi Ost. Laskar Pelangi yang filmnya mencapai booming di industri film Indonesia.

Di tahun 2011 Nidji kembali merilis sebuah album yang bertajuk “Liberty”, dan sempat ada keinginan untuk go international, ide ini tercetus setelah Nidji mendapat undangan pentas di Australia di tahun berikutnya. Hal tersebut diwujudkan dengan rilisnya album yang berjudul “Victory” di Australia, Jepang, dan beberapa negara Eropa lainnya.

Menginjak usia ke 15, rumor akan bubarnya  group band ini sempat terdengar, terkait pernyataan dari Giring menjelang  konser tunggal Nidji yang akan di gelar  pada tanggal 5 Mei 2017 nanti. “Gue mau ngomong takut salah, takut ngelukain sahabat gue nanti. Gue memang mau break. Tapi akan tetap bermusik kok, tetap bernyanyi meski cuma di kamar mandi” ujar Giring Rabu (14/4) di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.

03 Nidji RizalNidji (foto: Rizal)

Nidji sendiri mengatakan bahwa konser ini menjadi sebuah konser pertama dan terakhir dalam sepak terjang Nidji  di belantika musik Indonesia. Konser ini selain menandai karir Nidji selama 15 tahun berkarir di dunia musik tanah air, dan bertepatan juga peluncuran album terbarunya lalu yang bertajuk "Love Fake Friendship".

Selain itu konser ini juga tidak menutup kemungkinan menjadi konser yang terakhir buat Nidji bersama dengan Garing, dimana sang vokalis akan melanjutkan studinya di Amerika, dan juga adanya rumor Giring akan fokus beralih ke dunia politik. Namun hal tersebut belum sepenuhnya di bantah oleh Giring.

“Kalau hengkang enggak. Nidji adalah band terbaik bagi saya. The Beatles enggak bisa ngajak saya keliling dunia. Tapi Nidji bisa mengajak saya keliling dunia. Kalau ditanya soal gue di Nidji, gue mau menangis jawabnya. Tapi, liat aja konsernya besok. Semua hasil yang ditanyakan akan dijawab besok saat konser tunggal, Nidjiholic (fans Nidji) akan menyesal jika tidak datang di Balai Kartini Expo” sambungnya.

Konser yang bertajuk ‘Arti Sahabat’ sebagai ceremonial 15 tahun berkarir Nidji dan menunjukan apa sebuah arti persahabatan bagi Nidji. “Sekarang, kita berenam udah 15 Tahun, toleransi kita udah maksimal. Apa pun yang Giring lakukan kita bakal dukung sepenuhnya. Karena kita mau nunjukin arti sahabat yang sesungguhnya,” ujar Andro. /Rizal-YDhew

 

Friday, 14 April 2017 21:50

Rossa

Konser Bersenang Senang

Kamis (13/4) lalu Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jakarta sejak jam 5 sore sudah mulai dipadati pengunjung untuk menyaksikan konser Rossa yang bertajuk 'The Journey of 21 Dazzling Years'. Para pengunjung yang sebagian terdiri dari kaum hawa ini tampak antusias untuk menyaksikan penyanyi kesayangan mereka yang terkenal dengan lagu galaunya.

Konser yang baru di mulai pukul 20.00 WIB itu diawali dengan kemunculan penyanyi yang akrab di panggil Ocha berbalut gaun berwarna biru. Sebelumnya panggung memunculkan foto-foto dan video Rossa selama perjalanan karirnya bernyanyi. Kemunculan pertama Rossa menampilkan beberapa lagu secara medley, seperti ‘Kembali’, ‘Malam Pertama’, dan dilanjutkan dengan ‘Tak Sanggup Lagi’ di bawakan dengan tempo upbeat. Sesekali terdengar teriakan penonton di sela-sela Rossa menyajikan lagu, yang ditingkahi juga dengan menyajikan koreografi bersama para penarinya.

"Kata Mas Jay (Jay Subyakto), malam ini saya disuruh bersenang-senang, Karena malam ini  jadi malam yang enggak bisa terlupakan. Apa kabar semua... nyanyi bareng saya ya," ujar Rossa kepada pengunjung yang hadir malam itu.

Hampir 5000 penonton tampak memadati Plenary Hall, terlihat juga di kursi penonton sahabat-sahabat Rossa, seperti Ivan Gunawan, Krisdayanti, Syahrini, Cita Chitata, BCL, bahkan Sheila Madjid pun hadir untuk menyaksikan konser ini.

02 Isyana Sarasvati YDhewIsyana Sarasvati (Foto: YDhew)

Berturut-turut Rossa menyanyikan beberapa lagu lainnya seperti ‘Wanita Yang Kau Pilih’, ‘Kumenunggu’, "Bila Salah", dan ‘Hati Yang Kau Sakiti’. Bintang tamu Tulus hadir melantunkan ‘Nada-Nada Cinta’ dengan aransemen mengikuti suara khas dari Tulus yang di racik oleh Tohpati.

Sesi kedua Rossa tampil dengan gaun serba putih. Ia membuka sesi ini lewat ‘Atas Nama Cinta’, dilanjutkan dengan ‘Sakura’ yang disambut suara penonton bernyanyi bersama. Dilanjutkan dengan tembang ‘Terlalu Cinta’ dan ‘Kini’. Sesi ini diakhiri dengan ‘Ayat-Ayat Cinta’ yang diiringi oleh Yovie Widianto.

Isyana Sarasvati yang menjadi salah satu bintang tamu dalam konser Rossa, menyanyikan lagu ‘Tegar’. Menghadirkan improvisasi dari Isyana sendiri dengan memainkan piano klasik yang memukau. Pada sesi ketiga dihadirkan lagu  ‘Body Speak’, ‘Jangan Hilangkan Dia’, dan ‘Hey Ladies’. Lagu lagu tersebut dibawakan dengan mulus yang disambut koor dari para Pencinta Rossa, sebutan penggemar Rossa.

Keriuhan penonton semakin menjadi saat Afgan naik pentas. Rossa dan Afgan tampil mesra dengan mendendangkan lagu ‘Cinta Dalam Hidupku’ dan ‘Kamu Yang Kutunggu’. Begitulah konser Rossa yang menandai 21 tahun karirnya di industri musik tanah air. Hampir 24 lagu yang terdiri dari beberapa hits Rossa dihadirkan malam itu.

Hampir semua tamu undangan yang hadir memuji penampilan Rossa malam itu, tapi entahlah NewsMusik yang menonton seperti ada sesuatu yang kurang dari konser yang digadang-gadang spektakuler ini.
Memang konser ini sukses dihadiri oleh ribuan penonton, tapi rasanya kurang maksimal sehingga yang ditampilkan kurang greget. Interaksi dengan penonton juga kurang dilakukan sehingga terkesan kaku, meski sesekali Rossa sempat memberikan celetukan-celetukan yang membuat penonton tertawa.


03 Rossa YDhewRossa (Foto: YDhew)

Dalam hal panggung dan lighting  terlihat  megah ditambah dengan adanya giant screen  memanjakan penonton yang hadir malam itu. Suara Rossa yang kala itu tampil pun masih kurang maksimal, terkadang seperti terlihat sedikit kewalahan dalam bernyanyi dan belakangan diketahui bahwa memang Rossa yang belum pulih benar dari batuknya, bahkan ada syair yang Rossa  lupa.

Namun sebagai penyanyi yang professional dan mendapat julukan salah satu diva Indonesia,  hal tersebut mampu ditutupi Rossa dengan apik. Tohpati yang di dampuk sebagai Music Director dengan aransemen orkestra berhasil membuat penampilan Rossa terkesan megah dan  berbeda dengan lagu aslinya.

 "Akhirnya malam ini terjadi juga. Malam ini salah satu malam yang selalu saya mimpikan. Malam ini mengingatkan saya bahwa sudah 21 tahun saya berkarya di industri musik Indonesia. Itu semua karena kamu semua yang ada di sini," ucap  Rossa di ujung penampilannya./ YDhew

 

 


Thursday, 13 April 2017 20:42

Vira Talisa

Membawa Rasa Eropa Singgah di Jakarta

Sekitar 3 Tahun lalu, seorang wanita asal Jakarta Vira Talisa mengunggah sebuah lagu ‘Fly To The Moon’ karya Frank Sinatra melalui akun soundcloud miliknya. Tentu ini bukan hal baru dengan mengcover sebuah lagu yang pernah menjadi hits beberapa waktu silam, namun ini menjadi istimewa karena suara vokal asli Indonesia yang berkomposisi dengan broadway khas Perancis.

Vira Talisa Dharmawan, atau yang kerap disapa Vira ini santer di dengar akhir-akhir ini. Wanita yang bermukim di Renne, Perancis ini mendadak mewarnai industri indie Indonesia karena berhasil menelurkan sebuah single ‘Walking Back Home‘ yang kini sudah tersedia di player digital.

Bagi wanita asli Jakarta ini, sebuah refrensi itu sangatlah penting. “Karena untuk menjadi diri sendiri itu perlu refrensi”, ujarnya ketika bakudapa dengan NewsMusik. Sosok yang menjadi referensi itu tidak lain adalah seorang karakter Uncle Jesse dalam sitkom Full House. Karakter yang diperankan oleh John Stamos ialah tipikal paman idaman. Dia punya berbagai refrensi musik ajaib seperti The Beach Boys, Elvis, dan tentang musik era 1950an.

Wanita yang lahir pada 9 Desember 1993 ini sempat beberapa kali tampil diberbagai acara ketika masih menimba ilmu di Eropa. Dengan mengambil jurusan seni, Vira merasa dirinya bisa menjadi seutuhnya. Meninggalkan Indonesia sekitar 5 tahun tak membuatnya merasa kehilangan arah. Hal itu terlihat ketika dia merasa lebih produktif dan percaya diri untuk membuat karyanya sendiri. Berangkat dari sebuah film animasi yang sering diperlihatkan oleh orang tuanya ketika Vira kecil.

Bakat seni Vira pun tumbuh. Lewat instrumen piano pertama miliknya yang dibelikan oleh ayahnya ketika berumur 5 tahun. Vira jatuh hati dengan music berbagai soundtrack animasi.  Pengagum The Beach Boys ini pun mengaku, bahwa masa muda ialah batu loncatan untuk menemukan sebuah arah kehidupan dimasa muda seperti yang dituangkannya melalui lirik berjudul ‘Get Up, Get Down’.

02 Vira Talisa FikarVira Talisa (Fikar)

Pertengahan 2016, Vira kembali ke Indonesia dari masa studi di Perancis. Semenjak itu ia mulai memberanikan diri dan tampil di berbagai acara untuk memperkenalkan musiknya yang cukup berbeda dengan sebayanya. “Memang dasar rejeki, sebuah label Orang Cliff asal Bandung pun menawari kerjasama untuk menggarap lagu-lagu miliknya secara serius. Ini merupakan kejutan yang menyenangkan”, ungkapnya

Lewt kejutan itupun, akhirnya melahirkan sebuah EP (Extended Playlist) dalam bentuk 5 lagu yg bertajuk EP Self Titled. Sedikit berbeda dengan materi yang ia unggah di soundcloud, EP Vira Talisa ini tersa lebih kaya dengan isian instrumenisasi yg berwarna. Didalam lagu-lagunya, Vira bernyanyi mengenai melankolia romantisme ala Eropa dengan sentuhan pengaruh Broadway.
    
Ketika mendengar ‘If I See You Tommorow’, pendengar akan dibawa mengalun seperti menyusuri jalan-jalan penuh cafe dan berbagai musisi jalanan melewati dinginya iklim ranah Eropa. Vocal yang mengharuskan kita sambil berdansa, meminum teh bersama pasangan, sempurna untuk membangkitkan nostalgi gairah di Indonesia.

‘Into Dust’ cendrung memiliki makna akan kesendirian, setiap mahluk sesibuk apapun pasti suatu saat akan membutuhkan sebuah waktu entah lama atau tidak untuk sekedar mengevaluasi juga berkontemplasi kepada diri sendiri. Karakter gitar string ditambah tipisnya sound ini berhasil membuat suasana layaknya seorang manusia menghadap ke jendela diiringi hujan diluar kamar untuk merenung.

Pada suatu kesempatan, NewsMusik berhasil menyaksikan secara langsung sebuah private concert live bertajuk Authenticity, di Café Rolling Stones Jakarta. Dengan menghadirkan Vira Talisa sebagai pembuka acara. Balutan dresscode hitam ala Eropa klasik dan potongan rambut bob menggambarkan bahwa Vira memang sepenuhnya membawa Irama Eropa ke Jakarta.

03 Vira Talisa FikarVira Talisa (Fikar)

"Suasana dari musik saya secara keseluruhan mungkin bisa dibilang nostalgic karena kebanyakan referensi saya datang dari tahun 30-60an. Eksekusinya sangat organik, dalam artian saya senang menjaga sebuah lagu terkesan mentah, jujur dan rapuh, tanpa tambahan banyak efek maupun edit dalam vokal dan musik," jelas Vira

Tak hanya ingin merilis mini album, Vira pun menuturkan keinginan lainnya. "Ke depannya, pastinya ingin melahirkan karya-karya baru lagi. Mugkin akan mencoba kolaborasi dengan berbagai musisi dari genre yang berbeda-beda. Yang pasti saya akan explore musik lebih dalam dan mencoba lebih kreatif," ujar Vira.

Dan untuk saat ini EP Vira sudah dapat di dengar di player digital seperti iTunes, Spotify, Deezer, dan beragam digital lainnya.  Untuk kedepan semoga Vira Talisa mampu membakitkan gairah broadway dan tidak melupakan Indonesia sebagai identitasnya. Semoga....../ Fikar

Thursday, 13 April 2017 20:31

GIGI

Peremajaan Diri Lewat Manajemen Baru

Memasuki usia 23 tahun dalam berkarir di dunia musik, band yang digawangi oleh Armand Maulana, Thomas Ramdhan, Dewa Budjana dan Gusti Hendy ini selalu mempunyai berbagai cara untuk menjaga eksistensinya di industri musik tanah air. Di usia yang tidak lagi muda untuk sebuah band, GIGI selalu mencoba untuk makin solid sebagai tim. Pada bulan April 2016 lalu, GIGI melakukan penyegaran dengan melakukan re-branding dan membentuk manajemen baru dengan masuknya kembali Aria Baron sebagai manager.

Selain melakukan perubahan manajemen, di ultahnya  ke-23 kemarin (22/3) GIGI juga menggelar mini concert bertajuk “#GOALS” Gigi On Anniversary Stream yang bisa disaksikan secara live streaming di Shoemaker Studio, Cikini. Di tahun 2017 inipun GIGI juga menjalankan proyek barunya dengan meluncurkan website www.gigibandofficial.com. Ini adalah tampilan baru dan kembali memperkenalkan manajemen baru “Rumah Cinta Gigi Kita” yang dipimpin oleh Aria Baron dibantu dengan anak-anak muda yang lebih kreatif. Di manajemen baru melibatkan juga anak dari Thomas Ramdhan, Bounty Ramdhan sebagai Creative Content Creator Management GIGI.

“Dengan adanya tenaga muda ini, kita berharap kedepannya bisa membawa kesegaran  dan energi baru buat GIGI”, jelas Armand di Halfway Bar, Jakarta Selatan (12/4). Perubahan yang terjadi selama 20 tahun kemarin diakui Armand hanya bersifat konservatif yang menjadikan band ini bisa bertahan sampai sekarang.

02 Armand Maulana YDhewArmand Maulana (YDhew)

“Di era digital yang serba cepat sekarang, apabila tidak melakukan perubahan ditakutkan nanti GIGi hanya sebatas  nama saja. Kita kepingin tetap update, dan ini merupakan perubahan yang cukup mendasar bagi manajemen GIGI sendiri”, tambah Armand.

Dalam Rumah Cinta Gigi Kita, GIGI juga memberikan kesempatan bagi anak-anak muda untuk incharge di dalam manajemen lewat website yang mereka luncurkan. Selain itu juga lebih mendekatkan diri dan sebagai ajang silaturahmi pihak GIGI dari masing-masing personil GIGI dengan fans GIGI yang tersebar di seluruh Indonesia yang diberi nama GIGI Kita Fans Club.

“GIGI akan terus berkarya, sampai masing-masing personilnya tidak bisa bermain musik lagi”, tutup Armand./ YDhew

 

Page 13 of 119