Bowie GBS

Steve Gadd, John Bonham, Dave Grohl dan Chad Smith

Itu nama-nama drummer favorit utamanya. Tapi sejatinya, ia suka menonton atau mendengar permainan banyak drummer. Bagus buat menambah wawasannya juga. Jadi kayak dapat vitamin atawa suplemen ya bro? Kalau drummer, dapat kesempatan menonton drummer bagus lain? Langsung sehat dan segeran deh, ya ga sih?

Dia tertawa. Dia tak menyanggah, sejatinya drummer ataupun musisi harus banyak waktu menonton dan mendengar banyak musik. Wawasan, juga pengetahuan makin luas, akan berdampak positif pada musikalitasnya.

Kalau grup band favoritnya apa saja? Ia menyebut Led Zeppelin, Nirvana, Red Hot Chilli Peppers dan The Police. Ia lantas juga menyebut album-album musik favoritnya macam Blood Sugar Sex Magic-nya Red Hot Chilli Peppers. “Saya suka juga dengan semua albumnya Led Zeppelin, semua albumnya Sting, juga Foo Fighter dan Nirvana,” katanya dengan antusias.

Ia bisa dibilang, drummer generasi muda yang bisalah dibilang, salah satu yang menonjol saat ini. Mulai kemana-mana, dan jadi dikenal makin luas. Tak semata-mata perkara emang jago mainnya, bukan itu saja. Yang mainnya jago makin lama makin banyak. Ia mudah bergaul, supel, aktif berkawan kemana-mana.

Satu ketika, teman-teman di Rumah Musik Harry Roesli Bandung misalnya, dibantunya. Bantuannya berupa, peduli, datang, mampir, ngobrol, workshop informal dengan para murid sekolah musik “informal” di Jalan Supratman itu. Yang seperti diketahui notabene, sebagian diantaranya datang dari kalangan anak-anak musisi jalanan.

Ia tak sungkan ikut peduli begitu, atau kalau ada waktunya, ia menyelip diantara audience atau penonton. Di saat teman-teman musisi lain tampil, atau bikin special-gig misalnya. Apresiasi, kepedulian juga namanya, untuk pertemanan dan persahabatan dengan sesama musisi. Terus terang, buat NM sih, ga begitu banyak musisi yang mau meluangkan waktu memberi perhatian kepada musisi lainnya, walaupun musiknya beda!

Ia sendiri mengaku belajar drum secara otodidak. Ada cerita uniknya nih soal gimana ia belajar menjadi drummer. Ia menyebut Ringga, drummernya Andre Harihandoyo Sonic People, sebagai guru drums pertamanya. Jadi, ia sering menemani Ringga les drums di Farabi. Setiap menemani, Ringga masuk kelas, ia nongkrong di warung kopi dekat sekolah musik itu.

Begitu selesai, sambungnya, “Biasanya Ringga dan teman-teman yang belajar drums, kumpul di kantinnya tuh. Saya ikut di situ, tapi agak jauh duduknya. Ya perhatiin mereka saja, dengerin baik-baik saat mereka membahas pelajaran drums yang didapat di kelas. Sampai setahunanlah begitu terus. Enak aja.”

Pengetahuannya didapatnya dari curi-curi pandang eh curi-curi denger. Kebayangkan, acuh tak acuh, tapi pasang kuping. Pikirin dan ingetin? Seru juga ya? Dan selanjutnya, ia juga lantas belajar drums dengan Gusti Hendy-nya GIGI. “Waktu itu belajar di sekolah kecil ya di Rintop, di Jakarta Timur lah.

Tempat kursus itu kebetulan cukup dekat, ga terlalu mahal juga. Hendy belum masuk GIGI waktu itu, begitu ceritanya lagi. “Bandnya Hendy saat itu Fresh Band. Hendy masih belah tengah, pakai kacamata bullet. Hihihihi, dan Hendy doyan banget indomie telor.” Nah ya dia sempat belajar beberapa bulan dengan Hendy saat itu.

 MG 8671

Abis itu dia ke Jogja. Masuk Komunikasi di Fisipol Universitas Gajah Mada. Sempat bermukim di kota gudeg itu selama sekitar 5 tahun. Bergaul juga dengan komunitas musisi di sana, juga ikutan marching band UGM. Kemarin ini, ia mengaku juga mengenal seorang penulis musik jazz kawakan, sekaligus penyiar radio acara jazz di sebuah stasiun radio di Jogja. Ceto Mundiarso nama teman itu.

Ia sering ngobrol, dan mas Ceto tutur katanya halus, baik banget dan sering jadi teman diskusi serta tempatnya bertanya. NM dan dirinya memang merasa kehilangan ketika Ceto Mundiarso meninggal dunia karena sakit, di Minggu lalu. Ia merasa kehilangan orang baik, yang punya pengetahuan musik terutama jazz yang luas. Kamipun sempat memperbincangkan mendiang beberapa saat….

Kembali kepada drummer muda yang supel ini. Ia kelahiran Jakarta, 23 Juni 1984. Putra tunggal dari pasangan Achadi dan Titik Wardani. Oh ya, ia memang kian dikenal luas karena menjadi drummer dari trio blues dahsyat, Gugun Blues Shelter. Apalagi lantas, iapun masuk formasi trio yang tak kalah dahsyat lainnya, Tohpati Bertiga.

Ia sempat menuliskan discographynya, antara lain adalah terlibat dalam albumnya Next of Kin, Harry Montong Idol (Toraja), Djemima, Oddie Agam, Krisna Balagita dalam Sacred Geometry. Kemudian albumnya Dudi-nya YovieNUNO, Selayang Pandang dengan Aminoto Kossin. Tentu saja ia mendukung album Riot dari Tohpati-Bertiga.

Dan pada semua album Gugun Blues Shelter seperti selftitled album yang dirilis tahun 2010, dilanjutkan dengan Satu untuk Berbagi, yang diedarkan pada 2011. Lalu album Solid Ground (2011) dan album Soul Shaker yang dirilis pada tahun 2013 kemarin. GBS itu dimasukinya mulai 2007, menggantikan drummer sebelumnya, saat masih bernama Gugun and the Bluesbug, Iskandar.

Oh ya menyoal pengalaman panggungnya, bersama GBS memang ia beroleh kesempatan melanglang buana. Maka tak heran ia lantas menyebut penampilannya bersama GBS di Rock & Roots Festival di Singapura, sebagai salah satu acara yang paling berkesan buatnya. Karena saat itu ia dan GBS bisa sepanggung dengan para musisi kelas dunia.

Mereka itu adalah musisi dan grup terkemuka, semua peraih Grammy Awards berkali-kali, “Seru banget ya, apalagi mereka semua itu aduh humble semua,” ceritanya. Ia menjelaskan, yang menjadi headliners festival tersebut adalah Buddy Guy, Gypsy Kings, Jools Holland Orchestra dan sampai Buena Vista Social Club.

Ia juga tak akan bisa melupakan saat GBS beroleh kesempatan tampil di main stage dari acara Hard Rock Calling. Mereka mendapat tiket itu, setelah terpilih dengan jumlah voters terbanyak seluruh dunia. “Saya itu merasa diberi kesempatan oleh Tuhan, untuk melihat dan merasakan gimana sepanggung dan berbagi backstage dengan para musisi legendaries dunia. Dan ditonton pula oleh puluhan ribu orang,” jelasnya.

Eh kalau acara yang paling nyebelin yang ga bisa dilupain? Show yang paling buruk kesannya, dimana? Ia buru-buru menjawab dengan cepatnya, satu saat GBS dapat kesempatan gig kecil di Irlandia. “Kita mainnya di sebuah tempat kayak gudang tua gitu, bau gedung lama banget dalamnya. Di luar udaranya ah dingin banget! Yang nonton kami itu hanya 5 orang saja! Dan kitapun lantas mainnya salah-salah pula… Hahaha, itu pengalaman paling tidak asyik deh,” kenangnya.

 MG 8758

Saat ini ia kabarnya bersiap menyelesaikan video klip dari album terbaru GBS, Soul Shaker. Setelah itu, GBS akan merilis album kolaborasi dengan Baim-nya theDance Company. Album itu direncanakan akan dirilis setelah Lebaran. Oh ya GBS juga berencana untuk tur lagi di Eropa dan Amerika. Tur tersebut maunya bisa di tahun ini, atau ya paling tidak bisa dilakukan tahun depan deh.

Cita-citanya yang belum kesampaian, sambil senyam-senyum dia bilang, “Gw pengen konser dengan dari Black Country Communion Trio! Itu lho, grupnya Glenn Hughes sama Joe Bonamassa, Jason Bonham dan Derek Sherinian. Hehehehe. Atau juga dengan Lenny Kravitz, Winery Dogs, Extreme dan Aerosmith!”

Well bro, didoain. Sukses selalu deh ya. Eh iya, masih perlu disebutkan namanya doi nih? Aditya Wibowo, lebih popular dengan panggilan Bowie. Sampai ketemu lagi ah, bro! / dionM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found