Boris Simanjuntak

Pelacur Enam Senar

“Gue masih inget banget, waktu itu pas SD di ajak jalan-jalan sama nyokap ke daerah Cikini atau seputaran TIM gitu. Disitu ada yang jualan kaset tape, lalu gue pilih lah ‘The Rolling Stone’ sebagai kaset musik pertama yang gue beli. Dulu itu kayak cool banget ngeliat foto Keith Richard ngerokok di atas panggung sambil megang telecaster, karena dia adalah idola remaja pada saat itu. Sejak itu tiap gue maen gitar mesti ada rokok dibibir dan gue jadi ngerokok sampe sekarang ya gara-gara Richard”. – Boris Flowers

Adalah Boris P. Simanjuntak, gitaris dari band ‘The Flowers’ ini mengaku telah memperhatikan dan memainkan musik rock and roll sejak kecil. Boris muda yang masih menginjakkan kaki di kelas 4 Sekolah Dasar mulai mencoba intro ‘Ticket To Ride’ nya The Beatles yang ia pelajari dari rekan mainnya. Sang Ibu merupakan seorang pekerja seni, khususnya seni tari hingga theater, hal ini tentu makin memudahkan Boris untuk lebih mengembangkan bakatnya terutama di bidang kesenian musik. Dia sempat dimasukkan kursus gitar di Farabi walaupun tidak sampai selesai, namun Boris cenderung lebih tertarik belajar gitar lewat teman-teman setongkrongannya pada saat itu.

Bakat musik ini terus ia asah hingga meningkat ke bangku SMP dan SMA. Ia tidak pernah absen di panggung apalagi jika ada acara pensi musik di sekolahan. Tembang-tembang dari band Poison, Solid 80, Sammy Hagar, Motley Crue, hingga Metallica adalah lahapan wajibnya bersama kawan-kawan seperjuangan saat itu. Hingga suatu waktu ia bertemu Riri Riza (produser film) yang satu sekolah di SMA Labschool. Saat itu Riri bermain sebagai penabuh drum dan sosok inilah yang ia akui sebagai mentor pertamanya di bidang musik, karena Boris banyak bertukar fikiran olehnya dan mendapat cukup banyak pengarahan khususnya dibidang musik.

Berlanjut hingga ke bangku kuliah, gitaris kelahiran Jakarta 29 Agustus ini, memutuskan untuk masuk di Kampus Trisakti Jurusan Design. Disini ia mengenal Dimas Djayadiningrat, Boris yang berfashion rock and roll saat kuliah akhirnya mendapat lawan eksperimental dalam bermusik. Lewat Djay dipertemukanlah Boris dengan Anda Perdana dan Njet Barmansyah yang saat itu berpacaran dengan adiknya Djay, dari sinilah awal cikal bakal Boris masuk sebagai seorang gitaris di lingkungan potlot.

Boris dan kawan-kawan sempat membentuk band ‘House Of The Rising Sun’ yang terdiri dari, Ivanka Slank, Chilling The Flowers, Njet Barmansyah, Anda Perdana, Teguh Kidnap Katrina. Suatu hari band ini sedang manggung di Jakarta, membawakan lagu-lagu dari The Black Crows, The Doors, Rolling Stone, hingga Lenny Kravitz. Saat itu Bimbim, Kaka dan Bongky (Slank) yang nonton live perform band ini pun kepincut dengan aksi mereka di panggung dan memulai relasi hingga masuk sarang ke lingkungan Potlot.

Era 90’an popularitas band slenge’an ini tentu tidak bisa diragukan lagi sepak terjangnya di blantika musik rock Indonesia. Positifnya mereka mewadahkan rumah Bunda Iffet ini sebagai tempat berkreasi khususnya di bidang musik. Boris pun perlahan mulai enggan menimba ilmu di kampus, hingga pada akhirnya memilih cabut-cabutan dari jadwal yang mestinya kuliah, malahan nongkrong di potlot. Akhirnya ia pun bertekad untuk lebih memfokuskan kuliah musik saja disini, yang ia sebut sebagai Potlot School Of Rock.

02 Boris Teza

Pada tahun 1993, Oppie Andaresta merilis debut ‘Albumnya Oppie’. Boris digaet menjadi gitaris band pengiring untuk tiap show di ‘Oppie & BOP’ hingga mengisi beberapa part song di album kedua ‘Bidadari Badung’ diantaranya lagu ‘Ingat-ingat pesan Mama’ dan ‘Holiday Sendiri’ dan lebih banyak kontribusinya lagi pada album berikutnya ‘Berubah’.

“Oppie Andaresta adalah salah satu musisi yang ngajakin gue pertama kali narik becak (bermain sebagai band pengiring) dan di bayar pula hahaha.. Oiya, Oppie ini adalah wanita yang cerdas, keras, tambeng, tapi jiwa sosialnya sangat tinggi dan relatif cukup maju sebagai musisi perempuan. Dan yang paling penting, beliau ini yang ngajak gue untuk dapet banyak pengalaman dan hal-hal baru diseputar musik,” jelasnya kepada NewsMusik.

Pada periode 1996, Slank mengalami perpecahan personil yang membuat Bongky, Indra dan Pay hengkang dari band ini. Bongky yang saat itu free menawarkan ide untuk melanjutkan proyek band rock and roll baru yang lirik dan musiknya lebih nakal. Karena pada saat itu memang sedang marak istilah flower generation, lalu ia memproyeksikan Njet, Boris, Cole, Chilling untuk ngeband bareng hingga terbentuklah band ‘The Flowers’ pasca bubarnya Slank formasi 13.

Bongky lalu mendirect ulang lagu-lagu yang sebelumnya sempat terekam seperti, Ngga Ada Matinya, Boncos, Buang Badan. Lagu-lagu tersebut yang kemudian direkam ulang dan ditambahkan dengan materi lagu-lagu lain seperti Bayangan’ dan ‘Tolong Bu Dokter’. Lagu terakhir ini yang menjadi awal dobrakan dari ‘The Flowers’ untuk publik lebih mengenalkan cita rasa musik rock and roll yang mereka miliki dibesut dengan lirik-lirik sosial. Hingga pada titik klimaksnya tahun itu, band ini di plot menjadi pembuka ‘Fire House’ yang pada saat itu sedang melakukan tour musik ke 18 Kota besar di Indonesia.

“Dia adalah guru gue, gurunya anak-anak, orangnya santai, humble dan yang pasti enggak ribet. Disamping idenya brillian, beliau juga pribadi yang sangat humoris dan menyenangkan,” komentar Boris tentang Bongky. Boris pun mengakui sangat banyak belajar dari Slank dan komunitasnya yang membentuknya hingga sampai saat ini.

Hingga pada tahun 1998 Boris memutuskan untuk kuliah ke Berklee College Of Music di Amerika. “Gue harus cabut ke Berklee karena di Jakarta udah kebandelan saat itu, kuliah gue di pertongkrongan cukup deh, gue musti nimba ilmu lagi ke Amrik buat kuliah musik karena kepalang tanggung udah nyaman di zona ini,” ucap Boris.

“Ternyata pilihan gue enggak salah, di Berklee ini gabung dengan lingkup musisi Jazz dan teman disini bisa memotivasi gue untuk keluar dari comfort zone (blues, rock and roll) dan gue belajar sesuatu hal yang gue belum tau sebelumnya seperti musik-musik Miles Davis dan John Coltrane. Gue langsung menyadari kalo musik itu jauh lebih luas dari yang gue kira.”

03 Boris Teza

“Untuk keseharian bertahan hidup disana gue kerja jadi sopir pengantar roti yang mengantar hingga ke toko-toko, terus gawe juga di restoran Jepang bagian nyuci piring, buang sampah, ngangkat beras. Ya ini semua buat nambah-nambah biaya hidup di Boston saat itu. Hingga suatu hari gue memasukkan lamaran pekerjaan yang ada kaitannya dengan musik, seperti jadi tukang gulung kabel, menyiapkan sound buat musisi-musisi yang pengen manggung juga segala macem, karena upah US $ 7 pada saat itu tentunya lumayan banget buat nyambung hidup disini,” ungkap Boris yang sempat ngeband juga dengan band Godam.

Sekembalinya dari perantauan di Amerika dan sukses membawa bekal diploma di bidang musik hingga pada suatu saat itu ia bertemu dengan pasangan musisi, Melly Goeslaw dan Anto Hoed yang Boris akui duet ini pun mementornya lagi.

“Anto dan Melly adalah guru gue yang memperkenalkan sisi lain, karena musik potlot dan yang Melly buat tentu sangat berbeda. Mereka tau karakter gue bermain dan dia tetep memberi ruang gue untuk tetap menjadi diri sendiri, ini merupakan tantangan baru. Hingga gue nyaman kerja bersama Melly, tentunya ngebuka link dan wawasan bermusik karena yang gue bawain lagu yang sebelumnya belum pernah gue lakonin,” ucapnya mengenai kerjasamanya dengan Melly dan Anto.

Saat ini Boris sedang berjuang untuk membangkitkan band utamanya ‘The Flowers’ bersama Njet, Dado dan Eugne ia akan melakukan tahap rekaman lagi dalam waktu dekat, setelah terakhir Flowers merilis album ‘Still Alive and Well’ di tahun 2010. Menurutnya Flowers adalah dia dan Njet, ini adalah tempat menemukan kembali perasaannya yang hilang dan disinilah Boris bisa mencurahkan semua isi hati untuk membuat musik tanpa memikirkan orang lain akan suka atau tidak nantinya.

Ditengah kesibukan jadwal membantu projek rekananan sesama musisi untuk manggung dan sebagainya, ia pun sudah siap berkonsentrasi full demi The Flowers. “Gue sekarang kaya pelacur, gue harus lebih realistis karena gue punya kebutuhan untuk anak istri. Untuk mencapai idealisme ini gue harus melacur untuk mencari modal album. Semua gue lakukan terutama buat The Flowers,” ungkap Boris yang kini turut bermain juga sebagai session player bersama Aura Kasih, Vicky Shu, hingga Anggun C Sasmi. / Teza

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found