Matt Costa Foto-foto Istimewa

Matt Costa

Story, Evolusi dan Perjalanan Musik

Dia sempat digadang-gadang sebagian kritikus musik sebagai sosok Bob Dylan baru di era folk modern ini. Musisi ini pun mengaku minder ketika acap kali ada yang menyamakan dirinya dengan tokoh folk legendaris dunia itu.

Penyanyi yang kita bahas kali ini, memang cukup mahir memainkan alat tiup harmonika, akselerasi petikan gitarnya punya ciri khas tersendiri dan terdapat jiwa blues, country didalam musiknya. Dari segi lirik - musik yang ia buat banyak bertutur soal konteks keseharian tentang apa yang sedang ia alami, kritik-kritik sosial, makna cinta puitis ditulis dalam raga sastra, kadang ia juga bertutur layaknya dongeng yang nyaman untuk dihayati.

Lewat tembang ‘Ophelia’ penyanyi asal California ini, mempuitiskan kisah tragis seorang putri cantik yang harus mati bunuh diri lantaran kondisi mentalnya terganggu karena tekanan batin, lalu mengakhiri hidupnya di sebuah danau. Cerita novel karya William Shakespeare ini berhasil di imajinasikannya lewat petikan gitar mendayu ditambah loroh nada sendu dari tiupan harmonika. Tak heran jika pria bernama lengkap Matthew Albert Costa ini semakin cepat meroket masuk ke jajaran salah satu musisi folk elite asal Amerika saat ini, perjuangan karirnya pun cukup layak untuk di ulas.

Saat umur 12 tahun ‘Matt Costa’ mulai penasaran dengan musik, dia belajar main gitar listrik secara otodidak karena terpengaruh dengan Nirvana. Selama 2 tahun kedepan ia malah rajin datang dan belajar musik-musik orkestra, hanya karena ingin bisa menyalurkan hobi sebagai penulis lagu. Rasa penasaran ini terjawab saat mendengarkan simfoni indahnya Mozart. Penyanyi berdarah Portugis itu memutuskan akan tampil all out dengan gitar, karena menurutnya hanya dengan alat musik gitar ia bisa masuk ke dalam tulisan.

Pada usia 17 tahun ia mulai belajar mengkontruksi lagu-lagu yang ditulis, saat itu Costa kehabisan dana. Ayahnya yang bekerja di bidang jasa penerbangan jarang sekali pulang menemuinya. Pilihan waktu itu hanya menggadaikan terompet klasik untuk membeli Songbook, demi menambah ilmu pengetahuannya dengan mempelajari katalog not balok .

Seperti remaja pada umumnya, Costa tidak hanya terpaku dengan satu hobi saja. Lingkungan California Selatan telah membentuknya menjadi seorang pemain skateboarding. Konon hobi bermain skateboard sempat menjadikannya lupa dengan musik. Terbukti saat dia menjual gitar listrik pertamanya kepada seseorang, demi membeli papan skate dan sepatu. Saat diambang menjadi pemain skate profesional, ia mengalami insiden yang cukup parah, didiagnosa mengalami patah kaki pada usia 19 tahun dan mengharuskannya untuk rehabilitasi dalam waktu lama. Dia cukup jera dengan kejadian ini dan menolak menggeluti profesi sebagai pemain skateboard.

02 Matt Costa IstimewaFoto - foto Istimewa

Dalam masa-masa penyembuhan patah kaki, untungnya Costa masih memiliki mainan yakni sebuah gitar akustik string. Kala itu ia sangat terdoktrin dengan musik-musik Donavon dan Bob Dylan. Baginya Donavon merupakan seorang musisi yang membuatnya termotivasi kembali untuk bangkit menjadi pemusik, ia tertantang untuk belajar bermain finger-pick pada gitar dan melatih diri menyanyikan tembang-tembangnya, Bob Dylan and The Band.

“Saya selalu terfikir dengan koleksi lagu yang direkam Bob Dylan & The Band tahun 1967, saya merasa sangat menyukai lagu-lagu itu dan bagaimana caranya mereka merekam itu terdengar sangat simple. Karena album inilah aku menemukan sesuatu yang baru dan harus segera mungkin di kerjakan, karena akan menjadi hal yang besar pada suatu saat nanti. Aku bisa lepas landas ke dimensi musik dan merasakannya untuk bisa membuat sesuatu yang cool. Memang musik seperti inilah yang saya sangat inginkan,” ucap Matt Costa seperti dilansir di halaman situs resminya.

Talenta musiknya tercium oleh Tom Dumont (No Doubt) dan sudah dipantau cukup lama, hingga pada akhirnya Tom menawarkan Costa untuk rekaman, mereka resmi bekerjasama pada tahun 2003. Saat itu debut ‘Matt Costa EP’ berhasil dirilis 5 lagu, sebagai buah pertemanan awal. Lewat lagu folk ‘Astair’ ia berhasil memperkenalkan diri kepada publik lokal sebagai pendatang baru di musik yang cukup mengejutkan. Gitaris No Doubt ini, memilih untuk melanjutkan kerjasamanya dengan Matt.

Disisi utama, artist ini cukup produktif dalam menciptakan karya, lantas ia pun (Tom) memproduseri “The Elasmosaurus EP” yang berhasil di launching tahun 2005. Mini album kedua milik Matt Costa ini dirilis dengan total 6 track. Kini track ‘Lullaby’ yang menjadi perbincangan hangat di label-label musik Amerika Serikat, banyak yang menginginkannya memboyong Costa untuk segera pindah label.

Hanya beberapa bulan berselang, tepatnya pada 26 Juli 2005, Matt Costa untuk pertama kalinya berhasil merilis full album “Song We Sing”. Setelah launching, penyanyi kelahiran Huntington Beach itu banyak menghabiskan waktunya bermain sebagai session player untuk opening manggungnya Jack Johnson di Summer Tour 2005. Tahun itu ia berkenalan juga dengan beberapa band tour lain nya seperti, Oasis, G Love and Special Sauce, Ryan Adams and The Cardinals dan mulai menjalin relasi bersama.

Pasca Summer Tour, Jack Johnson dan istrinya sepakat memboyong masuk Matt Costa ke dalam Brushfire Records di tahun 2006. Sebagai jasa awal, Jack menawarkan album “Song We Sing” akan di rilis ulang oleh labelnya dengan penambahan materi 4 lagu baru dan ‘Lullaby’ bisa di repackage dengan konsep musik gitar-ukulele featuring Jack Johnson. Ternyata lagu sendu ini berhasil masuk di “Ost Sing a Longs and Lullabies for the film Curious George”. Album soundtrack film kartun tersebut bertengger di peringkat 1 chart musik Australia, Canada, New Zealand, US Billboard pada tahun 2006 selama beberapa minggu.

Tahun 2006 menjadi hari-hari yang cukup padat bagi Costa, karena ia tercatat mulai kedapatan jadwal manggung secara extensif di Australia, New Zealand, Eropa, Amerika Selatan hingga Asia khususnya Jepang, saat itu Jack Johnson juga merilis album DVD Tour Asia dan melibatkan Matt Costa sebagai spesial guest artist di katalog DVD berkolaborasi di band Jack Johnson and Friends.

03 Matt Costa IstimewaFoto - foto Istimewa

Costa turut terlibat juga dalam pembuatan beberapa OST dokumenter film surfing ‘”A Broke Down Melody” yang di perankan oleh Rob Machado, Kelly Slater, Gerry Lopez (3 Surfer Profesional) dan “Arctic Tale” film bertema Fauna yang diproduksi National Geographic pada tahun 2007.

Pada tahun 2008, Tom Dumont kembali berkecimpung memproduseri album kedua Matt Costa “Unfamiliar Faces”. Kerjasama Costa dengan pihak label pun menuai sukses, album itu membuat rekor baru karena dilahap pangsa pasar musik Amerika sebanyak 11.000 copy dalam kurun waktu hanya satu minggu sejak rilis. Hanya berjarak satu bulan, Brushfire Records mencatatkan sejarahnya juga saat merilis “Unfamiliar Faces” dalam bentuk Double Vinyl , masuk di Nashville historic pressed.

Dalam waktu singkat Costa telah berhasil menarik Iphone 3G, yang memakai lagu ‘Mr. Pitiful’ miliknya sebagai jingle komersial utama untuk pemasaran prodak raksasa komunikasi asal Amerika Serikat itu.

Setelah sukses lewat “Unfamiliar Faces” Matt Costa justru menghilang dari jadwal-jadwal manggung besar, ia lebih memilih lesehan musik di Radio dan Televisi lokal hingga beberapa showcast di event edukasi hingga suara musik untuk amal. Penyanyi kelahiran 16 Juni 1982 itu, menemukan hobi barunya seperti camping di hutan dan membawa beragam alat-alat musik seperti Banjo, Organ, Tamborine dan Terompet. Konon disinilah Costa mendapatkan insting sound-sound mistik dan ide-ide baru yang banyak dituangkannya pada album “Mobile Chateau”

Ini menjadi full album studio ketiga miliknya, berhasil dirilis tahun 2010 lewat label Brushfire. Album ini mengukuhkan Matt Costa sebagai artist sekaligus produser di projek album solonya itu. Berisikan materi 13 track, Costa mulai menggunakan beragam alat-alat musik seperti lap steel, gitar senar 12, terompet, harpsichord, auto harp, lute dan mayoritas lagu banyak di isi alat perkusi dengan dibantu tube driven-amps saat recording yang menghasilkan suara-suara vintage. Tak heran sound yang dihasilkan Chateau pun layaknya garage sound di tahun 60’an.

Cukup banyak fansnya yang menyayangkan pada album ini unsur sound dan karakter musikalitas Costa berubah drastis. Allmusic (media indie musik Amerika) memberikan tema British-folk-influenced rock untuk Mobile Chateau. Periode ini Matt Costa sedang ter gila-gila dengan musik Nick Drake, The Beatles, Neil Young hingga The Doors.

Tahun 2013 silam, Matt Costa kembali di dunia musik dengan nuansa orkestra 70’s. Cita rasa imajinasi seni dan lirik elegan di tuangkannya lewat single ‘Good Times’, riuh ramai suara kabaret menyemarakkan titik terang karirnya masih disambut hangat sebagian penikmat musik folk modern, lagu ini akhirnya di launching lewat EP Sacred Hills beberapa bulan kemudian. Pada track ‘Never Change’ ia seperti mengisyaratkan terbangun dari kritikan para penggemarnya, Costa balik ngefolk lagi tampil sangat simple, kembali bersahabat dengan gitar akustik kesayangannya.

Matt CostaFoto - foto Istimewa

Hanya butuh waktu 3 bulan dia mengeluarkan lagi album keempat yang bertajuk “Self-Titled”. Untuk penggarapan musik, Costa sampai rela terbang ke Glaslow untuk menemui rekan-rekan musisi di tanah Brittania seperti Belle & Sebastian, Mogwai, The Verve dan Tony Doogan. Dia melakukan recording di Castle of Doom, Scotlandia. Album ini keluar dalam versi deluxe version dengan total 14 track + bonus digital booklet.

Begitu dia terjun kembali ke saat-saat proses penulisan lagu, sesuatu yang jauh lebih megah dari sebelumnya datang dan seluruh jiwa petualangannya di susun rapi dalam album berjudul Self-Titiled. Disini Matt Costa mendapatkan tantangan besar dari para kritikus musik karena sebagai penyanyi, penulis lagu dan multri istrumentalist bisakah dia menggelar konser menggunakan sound mewah seperti yang terdapat pada album tersebut.

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 23 Februari 2015 Matt Costa kembali merilis EP dengan tajuk Eucalyptus. Disini terdapat 5 lagu baru, Single ‘Ark Song’ bisa saja menyihir para audiencenya buat flashback ke era folk 60an, Costa mengingatkan kembali tema-tema musik yang dimainkan oleh Simon & Garfunkel. Merdunya vokal dan suara-suara latar yang mendayu dan petikan lembut diaduk dengan konsep soft blues menjadi kekuatan di mini album terbarunya ini. / teza

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found