Yockie Suryo Prayogo Yockie Suryo Prayogo (Istimewa)

Yockie Suryo Prayogo

Sosok yang Tak Lekang Oleh Waktu

Malang tak dapat ditolak, akhirnya kabar duka tersebut datang juga tatkala Yockie Suryo Prayogo dikabarkan telah tutup usia pada usia 63 tahun dan telah dimakamkan di peristirahatan terakhirnya sekitar pukul 15.35 WIB. Ia yang sebelumnya terbaring sakit akibat pendarahan pembuluh darah di otak akhirnya harus menuntaskan janjinya pada sang Khalik.

Masih hangat diingatan kita pada akhir Januari lalu, kawan-kawan musisinya secara bersama-sama membuat konser amal bertajuk Pagelaran Sang Bahaduri. Seluruh pendapatan konser malam itu akan digunakan untuk pengobatan Yockie.  Konser yang digagas oleh para sahabatnya tersebut menghadirkan banyak nama kondang di panggung musik tanah air, sebutlah Andy /rif, Ariyo Wahab, Aning Katamsi, Benny Soebardja, Berlian Hutauruk, Bonita, Che Cupumanik, D’Masiv, Debby Nasution, Dhenok Wahyudi, Dira Sugandi, Fadly, Fariz RM, Nicky Astria, Kadri Mohamad, Keenan Nasution, Louise Hutauruk, Mondo Gascaro, Once, Tika Bisono, God Bless dan lainnya.

Semua pendapatan konser tersebut langsung disumbangkan kepada keluarganya untuk biaya pengobatan Yockie. Walaupun menurut Erros Djarot, Yockie menolak diadakannya pertunjukan tersebut yang mengatasnamakan bantuan untuk dirinya.

Ia yang lahir di Demak, Jawa Tengah pada 14 September 1954 dikenal sebagai seorang musisi handal, pencipta lagu yang pernah tergabung dalam berbagai grup rock seperti Bigman Robinson, Double O, Giant Step, Contrapunk, dan Jaguar, meski pada akhirnya Jockie memang lebih dikenal khalayak ketika ikut bergabung dalam kelompok musik rock God Bless.

02 YSOP Istimewa

Yockie Suryo Prayogo (Istimewa)

Ia begitu piawai dan mampu berbaur dalam genre apapun karena Yockie paham hampir semua genre dari klasikal, rock, jazz, pop. Tapi yang hebatnya juga ia mampu mempertahankan jati dirinya sebagai musisi yang memiliki karakter. Seperti jargonnya yang cukup terkenal adalah “Musik Saya Adalah Saya”

Sejarah musikpun mencatat ketika ia bergabung membentuk God Bless pada tahun 1972.  Corak permainan kibornya dianggap mumpuni untuk  memberi nyawa di tubuh God Bless. Sedikit menyisipkan aksentuasi berbau klasik, terutama membaurkan bunyi-bunyian piano dan Hammond B-3, orang sudah bisa menebak karakter God Bless.

Posisinya di super group tersebut sempat digantikan Abadi Soesman (Cermin) dan bergabung kembali dalam penggarapan album Semut Hitam yang dilepas kepasaran pada tahun 1988.

Pada era 1977, Yockie sebenarnya juga tengah getol berada di jalur musik pop. Saat itu ia menjadi arranger album Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang diadakan Radio Prambors. Kiprahnya menata aransemen lagu seperti Lilin Lilin Kecil (James F. Sundah) dianggap sebagai nyawa baru, dimana saat itu sebenarnya musik pop tampil begitu-begitu saja.  

Pada tahun yang sama, Erros Djarot menggandeng Yockie Suryo Prayogo untuk menggarap album soundtrack film Badai Pasti Berlalu bersama dengan sederet musisi seperti Chrisye, Berlian Hutauruk, Debby Nasution, Keenan Nasution, dan Fariz RM. Album ini pun akhirnya lahir menjadi fenomenal lewat sisi tata musik  serta penulisan lirik yang lebih puitis.

Gayanya dalam mengaransir musik seperti yang diciptakannya tersebut terus saja berlanjut ketika ia menggarap album-album solo Chrisye seperti “Percik Pesona”, “Puspa Indah Taman Hati”, “Pantulan Cinta”, “Resesi”, “Metropolitan”, dan “Nona”. Semuanya menjadi album fenomenal dan susah dicari bandingannya. Masih tetap terasa menggugah walau kita dengarkan lagi pada waktu ini.

03 YSOP Istimewa

Yockie Suryo Prayogo (Istimewa)

Diluar kerjasamanya dengan Chrisye, ia juga cukup produktif merilis sederet album solo, masih tetap bermain di wilayah pop dengan menggarap album-album dari berbagai penyanyi, mulai dari Dian Pramana Poetra, Keenan, Vonny Sumlang, dan sederet nama penyanyi lainnya.

Di akhir 80-an Yockie tercatat melibatkan dirinya dalam proyek Kantata Takwa yang digagas oleh Setiawan Djody dan ia banyak berkolaborasi lewat dimensi musik yang berbeda, berbaur dengan sosok-sosok seniman layaknya WS Rendra, Iwan Fals hingga Sawung Jabo. Kolaborasi yang menghasilkan sesuatu yang baru dalam intuisi bermusik Jockie.

Di luar Kantata Jockie pun ikut mendukung kelompok Swami bahkan membentuk kelompok Suket pada tahun 1992 bersama sederet pemusik asal Surabaya seperti Didit Saksana, Rere, dan Naniel. Kelompok yang sedikit memiliki persamaan dengan Kantata Takwa yang mengangkat tema-tema sosial.

Yockie  oleh teman-temannya dianggap keras kepala, apalagi jika berurusan dengan musik. Namun hal tersebutlah yang menurut Erros Djarot menjaganya tetap memiliki karakter seorang Yockie. Anggapan keras kepala terhadapnya ternyata tidak menjadikannya menepis semua hal baru yang datang dan dianggapnya menjadi tantangan.

"Saya ini musisi yang terbuka bekerja sama dengan siapa saja, termasuk dengan band yang muda-muda. Biar bagaimana pun, generasi saya harus memberi masukan kepada generasi yang lebih muda. Jangan sampai ada gap, karena pengalaman tidak akan bohong," ungkap Yockie pada tahun 2012, ketika berkolaborasi dengan Pure Saturday, band asal Bandung.

Begitulah, tak habis menceritakan sepak terjang almarhum Yockie Suryo Prayogo semasa hidupnya. Tanah air ini kehilangan musisi yang fenomenal dan berkarakter, tak banyak ditemukan sosok seperti dirinya di republik ini. Derai air mata kehilangan tak lama lagi juga akan kering, tapi karya yang terpatri tetap akan diingat sampai kapanpun. Tinggal bagaimana generasi penerus bangsa ini menjaga dan merawat agar waktu tak mencabut kiprah mereka dari ingatan kita semua./ Ibonk (...dari berbagai sumber)

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found