Yon Koeswoyo Yon Koeswoyo (Foto: Rizal)

Yon Koeswoyo

The Last Real Koes Plus

Ia yang terlahir dengan nama Koesyono di Tuban, Jawa Timur pada  27 September 1940 adalah salah seorang pionir dan legenda musik Indonesia. Kepergian Yon Koeswoyo di usia 77 tahun pada hari Jumat (5/1) kemarin, merupakan kehilangan besar untuk musik Indonesia khususnya jutaan penggemar Koes Plus maupun Koes Bersaudara di seluruh pelosok nusantara.

Ia telah menjadi vokalis Koes Bersaudara dan Koes Plus yang sangat tenar pada dekade 60 dan 70an, dan ikut memiliki peran besar pada band legendaris ini. Bersama saudara-saudaranya, Yon menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya, dan pindah ke Jakarta pada tahun 1952 mengikuti mutasi ayahanda yang berkarier di Kementerian Dalam Negeri.

Yon aktif bermusik sejak awal dibentuknya grup musik bersama saudara-saudara kandungnya. Di tahun 1958 mereka menamakan grup ini dengan sebutan Kus Brothers, yang terdiri atas Jon, Tonny, Nomo serta Yon dan Yok Koeswoyo ditambah seorang dari luar keluarga Koeswoyo bernama Jan Mintaraga. Mencoba membentuk ciri khas dengan 2 vokalis utama bukannya tanpa sebab. Inspirasi datang lewat band Kalin Twin, dua penyanyi Amerika bersaudara yang kembar. Namun dalam perkembangannya grup ini lebih condong meniru Everly Brothers.

Band ini pertama kali rekaman pada tahu 1962 di bawah payung Irama Record, dan merubah nama menjadi Koes Bersaudara pada tahun 1963 setelah Jan Mintaraga keluar, dan tal lama kemudian Jon. Sampai tahun 1964 secara produktif mereka merekam banyak single. Akhirnya lagu-lagu tersebut dirangkum dan lahirlah album pertama pada tahun 1964.

02 Koes Plus Istimewa

Koes Plus (Foto: Istimewa)

Band ini cukup sukses lewat beberapa album sampai akhirnya pada 1965 mereka sempat diangkut dan mendekam di penjara Glodok selama tiga bulan. Pemenjaraan ini dipicu oleh penampilan mereka di sebuah pesta di Tanah Abang yang membawakan lagu Beatles, yang saat itu disebut sebagai agen Neo-kolonialisme a dan itu dilarang oleh pemerintahan orde lama pada saat itu.

Penamngkapan mereka sebenarnya menjadi trigger tersendiri bagi band ini untuk semakin populer.  Pada 1967, selepas keluar dari penjara, Yon dan saudara-saudaranya mengeluarkan album To The So Called The Guilties. Ini merupakan album protes pertama di Indonesia, dan terdapat sebuah tunggalan berbahasa Inggris yang bercerita tentang Soekarno berjudul ‘Poor Clown’.

Berlanjut ke tahun 1969, Koes Bersaudara berubah menjadi Koes Plus, karena Nomo Koeswoyo memutuskan keluar dan posisinya sebagai penabuh drum digantikan oleh Kasmuri atau Murry.

Seterusnya, seakan tak terbendung, Koes Plus menjadi band paling penting di negeri ini. Keberhasilan mereka tidak hanya diakui dari jumlah penjualan, namun juga kreatifitas mereka. Mereka merilis ratusan album dari berbagai macam genre musik, ada pop, kasidah, rock n roll, keroncong ataupun reliji. Bayangkan lagi, setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin Eugene Timothy. Mereka menjadi mesin hits, tercatat pada tahun 1974 Koes Plus berhasil merilis sekitar 24 album yang berarti setiap sebulan sekali Koes Plus menghasilkan 2 album.

Meski lagu-lagunya kebanyakan pop namun mudah melekat di telinga penggemarnya. Walaupun sempat menyuarakan protes politik lewat albumnya, namun mereka tidak berusaha menjadi politis. Mereka konsisten menyuarakan pesan-pesan perdamaian, cinta kasih dan keluarga.

Sejarah juga mencatat, semua anggota Koes Plus adalah entertainer sejati, termasuk juga seorang Yon Koeswoyo. Tidak cuma piawai bernyanyi, tapi juga berkomunikasi di atas panggung.

03 Koes Plus Istimewa

Koes Plus (Foto: Istimewa)

Naik turun secara popularitas juga masa vakum telah mereka rasakan, kehilangan Nomo yang akhirnya bersolo karier dan mengurus bisnisnya serta yang paling telak ketika sang kakak Tonny meninggal. Sejak itu Koes Plus banyak mengalami gonta ganti personil. Pada 2004, Murry keluar menyusul Yok untuk hengkang dari group karena alasan kesehatan, otomatis menjadikan Yon menjadi satu-satunya keluarga Koeswoyo yang masih tersisa di Koes Plus.

Begitu legendarisnya Koes Plus, banyak orang yang menyandingkannya dengan band The Beatles dan Yon dianggap menjadi John Lennon. Semua karya-karya mereka hampir bisa dinyanyikan oleh anak muda, sampai generasi sebelumnya.

Yon merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara putera pasangan Raden Koeswoyo dan Rr. Atmini dan meninggalkan empat orang anak yakni, Gerry Koeswoyo, David Koeswoyo (dari pernikahan dengan Damiana Susi), Kenas Koeswoyo dan Bela Aron Koeswoyo dari pernikahan dengan Bonita Angela).

Pendidikan terakhir yang sempat ditempuh oleh Yon adalah Universitas Res Publica (Universitas Trisakti) Jakarta, jurusan Arsitektur pada tahun 1965, walau tidak selesai, meski sudah tingkat terakhir. Diantara saudara-saudaranya, Yon memang termasuk yang telat menikah. Hal itu pernah ia tuangkan dalam lagu ciptaannya berjudul ‘Hidup Yang Sepi’. Lagu yang lahir ketika Yon benar-benar sepi sebagai pria lajang tanpa kekasih. Bahkan ia pernah menyanyikan lagu itu sampai matanya berlinang.

04 Yon Koeswoyo Rizal

Yon Koeswoyo (Foto: Rizal)

Pada masa remaja Yon mengaku sempat merasakan cinta platonik yang dahsyat, namun cinta itu tak berkelanjutan. Dalam pengakuannya, terkuak bahwa cinta sejatinya dahulu pernah hinggap pada pemain drum band wanita Dara Puspita bernama Susy Nander. Kisah cinta Yon tersebut diabadikan oleh Tonny Koeswoyo dalam lagu ‘Andaikan Kau Datang’ yang dilantunkan Yon.

Pada masa-masa tuanya, Yon mulai mengisi hari-harinya dengan berkebun dan melukis. Ia juga tetap aktif mencipta lagu dan menyiapkan album baru Koes Plus formasi terakhir yang terus diusungnya sampai akhir hayatnya./ Rachmat

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found