Cornel Simanjuntak Cornel Simanjuntak (Istimewa)

Cornel Simanjuntak

Pelopor Musik Indonesia

Merayakan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober lalu, PT. Pembangunan Jaya bekerjasama dengan Miles Films memproduksi film dokumenter web-series Maestro Indonesia salah satunya episode Cornel Simanjuntak. Film yang dibawakan dengan apik oleh Nicholas Saputra ini mengulas kegigihan sang Maestro memperjuangkan musik di era perjuangan kemerdekaan.

Sekilas tentang sang maestro musik Cornel Simanjuntak atau C. Simanjuntak, beliau adalah seorang prajurit tanah air dan pencipta lagu-lagu yang bertema heroik-patriotik. Sebut saja ‘Maju Tak Gentar’, ‘Tanah Tumpah Darahku’, dan ‘Sorak Sorai Bergembira’. Lagu dengan tempo cepat dan heroik ini diciptakan pada saat melawan tentara Gurkha/ Inggris.

Cornel yang dilahirkan di  Pematang Siantar, Sumatera Utara tahun 1921, merupakan seorang musisi yang mendapatkan pelajaran bermusik secara otodidak. Pendidikan teori dan praktek musik diperoleh dari pater Yesuit J. Schouten semasa ia bersekolah guru HIK Xaverius College di Muntilan, Jawa Tengah serta mendiang Sudjasmin. Buku-bukunya semasa sekolah banyak diisi dengan not-not balok dalam upayanya mengubah harmoni.

Di sekolah ini, dia bergabung dengan orkes simponi sekolah yang beranggotakan 60 orang, dan terpilih sebagai concert master. Orkes musik ini merupakan orkes yang beraliran musik klasik. Di sekolah ini juga Cornel mulai mengenal sastra. Para tokoh sastra seperti Sanusi Pane, Amir Hamzah, hingga Goethe, Sciller dan Shakespeare menjadi panutannya. Di tahun 1942 Cornel menyelesaikan studinya, dan Jepang mulai masuk ke Indonesia.

Cornel Simanjuntak yang beragama Katolik diusianya yang ke 22 hirah ke Jakarta dan menjadi guru SD  Van Lith.  Karena jiwa seninya lebih kuat, Cornel kemudian beralih profesi dengan bergabung di Kantor Kebudayaan Jepang, Keimin Bunka Shidosho. Dari sinilah seni bermusiknya semakin garang dengan menciptakan beberapa lagu propaganda Jepang. Maka terciptalah diantranya ‘Menanam Kapas’, ‘Bikin Kapal’, ‘Bekerja’ dan ‘Menabung’ dan yang paling populer salah satunya berjudul ‘Hancurkanlah Musuh Kita’.

02 Cornel Simanjuntak IstimewaCornel-Simanjuntak (Istimewa)

“Saya hendak membawa perasaan musik modern ke dalam hati rakyat, dan lihatlah hasilnya telah sampai ke masyarakat kita di lapisan paling bawah”, ujar Cornel kepada Asrul Sani saat berada di Keimin. Ia bekerja pada pemerintah Jepang, namun bukan dirinya pro Jepang, akan tetapi hanya ingin menyiarkan karyanya pada stasiun radio saat itu.

Cornel yang paling dikenal dengan lagunya ‘Maju Tak Gentar’. Menurut Suka Hardjana seorang komponis dan musicology Indonesia pada masa itu banyak sekali bermunculan pencipta lagu di Indonesia. Tidak seperti Ismail Marzuki yang memang sudah dahulu terjun ke dunia musik, Cornel mempunyai posisi yang unik dalam jajaran semua pencipta lagu di tanah air.

“Cornel menciptakan lagu-lagu yang sangat sederhana dalam bentuk mars dan mudah diingat, pada eranya mulai dari anak-anak sampai yang tua menyanyikan lagu itu. Aura tahun 40-an pada waktu itu adalah merupakan aura kemerdekaan, jadi semua lagu-lagunya hanya berdasarkan inspirasi saja, naluri bukan berdasarkan pendidikan intelektual”, paparnya.

Pada 19 Agustus 1945 saat pidato kemerdekaan Presiden Soekarno, dimana sebelum dimulainya pidato dinyanyikanlah lagu Indonesia Raya, Cornel dengan kritis mengkritik lagu kemerdekaan tersebut. Cornel yang kaget bahwa lagu kemerdekaan dinyanyikan secara tidak kompak dan merasa ada yang salah dengan lagu tersebut.

Hersri Setiawan, seorang sejarawan yang pernah menulis tentang Cornel mengungkapkan bahwa pada masa itu orang Indonesia hanya mengetahui 5 nada dimana harus dinyanyiikan dengan 7 nada sehingga antara syair dan melodi tidak sinkron. Cornel lah yang membuatnya menjadi satu. Selain lagu bertempo mars tersebut, Cornel juga menciptakan lagu yang bertema puitis seperti ‘Kemuning’, ‘Kenangan’, ‘O Angin’, dan ‘Citra’.

Perjuangannya dalam melawan penjajah juga dibuktikan dengan mengarahkan moncong senjatanya kepada tentara Gukha/ Jepang di Malang pada periode tahun 1945-1946. Cornel pernah merasakan panasnya peluru yang bersarang di pahanya pada saat pertempuran di daerah Senen, Tangsi Penggorengan, Jakarta lalu kemudian dengan keadaan terluka Cornel diselundupkan ke Kerawang.

03 Cornel Simanjuntak IstimewaCornel-Simanjuntak (Istimewa)

Dari Kerawang kemudian ia dikirim ke Yogyakarta, di kota inilah kemudian lahir lagu-lagunya yang berjudul “ Tanah Tumpah Darahku”, “Maju Tak Gentar”, “Pada Pahlawan”, “Teguh Kukuh Berlapis Baja”, dan “Indonesia Tetap Merdeka”.

Cornel kemudian menderita penyakit TBC dengan peluru masih bersarang dipahanya, dan di tanggal 15 September 1946 ia menghembuskan nafas terakhirnya di Sanatorium Pakem, Yogya. Menjelang ajal ia masih sempat menulis lagu bernama ‘Bali Putra Indonesia’, namun menurut Karkono Kamajaya teman seperjuangannya lagu yang ditulis dengan gamelan itu belum selesai.

Cornel Simanjuntak lah yang telah menciptakan dasar-dasar lagu Indonesia bagaimana musik Indonesia seharusnya. Hal ini tidak berlangsung lama,  di era tahun 50-an musik Indonesia mulai dipengaruhi oleh unsur-unsur dari luar. Indonesia menjadi tujuan pengaruh masuknya musik baik dari timur dan barat.

Namun Cornel Simanjuntak telah merubah bahwa kreatifitas dan jiwa seni tidak bisa berubah dalam kondisi apapun. Dengan kondisi dalam keadaan serba sulit, ditengah pertempuran dan juga penyakitnya Cornel sanggup menciptakan beberapa lagu yang masih kita dengar sampai saat ini. Harmonisasi lagu-lagunya yang membuatnya  masuk ke dalam jajaran maestro musik Indonesia.

Cornel Simanjuntak, adalah seorang pemimpi dengan suasana hati yang berubah-ubah. Hidup diantara suara, melodi yang bertukar-tukar dan hidup baginya hanya dengan musik. Hal ini bisa dilihat dari batu nisan yang tertulis “Gugur sebagai seniman dan prajurit tanah air”. /YDhew

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found