NewsMusik

NewsMusik

Friday, 27 October 2017 09:47

Album Soundtrack Naura & Genk Juara

Tema Musikal Berisikan Motivasi

Naura yang tengah sukses di panggung industri musik anak tanah air, kembali meluncurkan sebuah album yang bertajuk “Naura & Genk Juara”. Album ini merupakan soundtrack dalam film musikal anak yang akan tayang tanggal 16 November 2017.

Sebelum penayangan filmnya Naura yang merupakan pemain utama di film tersebut  menginginkan agar pada saat menyaksikan filmnya bisa bernyanyi bersama.

“Aku berharap teman-teman Naura bisa nonton bareng sama keluarga atau sahabatnya. Lagu ini musikal, akan senang banget kalau teman-teman yang menonton bisa nyanyi bersama di bioskop”, ujar Naura di Pondok Indah Mall, Rabu (25/10).

Tiap materi lagu diciptakan dengan sangat apik oleh kakak beradik Mhala dan Tantra Numata. Membuat suatu album musikal bukan suatu perkara mudah bagi kakak beradik ini. ‘Saya butuh waktu sekitar tiga bulan untuk membedah naskah bersama sutradara dan penulis naskah. Disitu kami bersama-sama menentukan bagian mana saja yang akan disisipi bagian untuk bernyanyi. Dari situlah, saya baru bisa mulai menggarap musiknya”, papar Mhala. Perlu di ketahui bahwa pembuatan lagu musikal merupakan pekerjaan yang sulit bagi composer manapun di dunia.

Album ini berisi sembilan track yang masing masing mempunyai cerita dan makna tersendiri. Lagu ‘Juara’ yang menjadi lagu pembuka dari film ini, dengan tempo lagu yang ceria lagu ini mengajak pendengarnya mengenai keberhasilan akan diraih jika kita mau berusaha.

02 Naura YDhewNaura (foto: YDhew)

Lagu ‘Bawakan Cerita Banyak Untukku’ menceritakan kegelisahan orang tua pada anaknya yang akan pergi. Lagu ini dibawakan dengan gaya percakapan Nola dan Naura yang membawa pendengarnya terseret ke dalam cerita.

‘Mendengar Alam’ merupakan lagu yang sangat puitis, dengan tema petualangan dan berisikan tentang mencintai dan menjaga alam semesta. Sementara lagu ‘Kamu Menyebalkan’ mengambil tipe liberto, yaitu dialog yang dinyanyikan, dengan menggambarkan adegan pertengkaran  Oki dan Bimo yang dilerai oleh Naura.

Di lagu ke lima ‘Setinggi Langit’, merupakan unggulan dalam album ini dibuat dengan aransemen khusus  yang menceritakan tentang cita-cita dan mimpi seseorang yang bisa dicapai dengan kerja keras. Lagu yang berjudul  ‘Aku Hanya Ingin Pulang’ dibawakan secara solo dalam tempo ballad, yang menceritakan tentang kecemasan Naura yang disekap komplotan penculik.

Track ke tujuh ada lagu ‘Jangan Jangan’ dengan beat yang catchy menjadi lagu andalan anak-anak untuk kemping. Liriknya bisa membakar semangat anak-anak untuk lebih berani dan diciptakan cukup singkat serta mudah diingat. Di track delapan ada ‘Kita Juara’ dengan tema persahabatan dibawakan oleh Naura, Joshua Rundengan, Vickram Priyono, Andryan, Bima dan seluruh pemain yang ingin memperlihatkan pentingnya persahabatan dalam suka maupun duka.

Di sajian terakhir ‘Berani Bermimpi’  dibawakan dengan tempo cepat dengan menggunakan tema dan senada dengan lagu ‘Setinggi Langit’ ingin mengajak teman-teman Naura untuk berani mewujudkan mimpi dan cita-cita.

Kesemua lagu didalam album ini memang menceritakan tentang film yang akan tayang nantinya. Semuanya sarat dengan pesan moral dan motivasi bagi anak-anak yang mendengar sekaligus menonton filmnya nanti. Selain album soundtrack Naura juga meluncurkan buku behind the scene film dengan tajuk yang sama. Buku ini berisikan 128 halaman yang berisikan kegitan-kegiatan Naura dari mulai awal pembuatan film./ YDhew

 

Friday, 27 October 2017 09:40

The Mighty Eight

Siap Melanjutkan Dominasi Musik Rock Tanah Air

Delapan band rock terbaik Indonesia jebolan SuperMusic.ID Rockin Battle meluncurkan album perdananya yang bertajuk “SuperMusic.ID Rockin Battle – The Mighty Eight".  Delapan band yang disebut The Mighty Eight ini merupakan finalis dari kompetisi band rock terbesar besutan SuperMusic.ID yang digelar pada Januari hingga Mei 2017 yang lalu. Kompetisi ini sendiri memiliki misi untuk mencari regenarasi band rock baru karena adanya satu kesenjangan di dalam musik rock.

Kompetisi yang memperpendek kesenjangan yang cukup kentara antara kategori senior dengan para bibit baru ini ternyata mendapat antusiasme yang cukup tinggi. Terbukti dengan jumlah 1200 band yang mendaftar dari proses registrasi dan menyatakan diri sebagai musisi rock. Kompetisi tersebut bukan hanya sekedar kompetisi tapi juga merupakan semi grooming, ada tahap belajar sampai dengan membuat album kompilasi yang dibuat serespresentative mungkin.

Sesuai konsepnya, album ini menyuguhkan kompilasi 8 lagu dari The Mighty Eight yang dipenuhi berbagai genre rock. Delapan band ini sendiri memiliki karakter berbeda-beda namun tetap mengakar pada pakem musik rock.

Di tiga besar terdapat, GHO$$ (Jakarta) yang merupakan pemenang utama Rockin Battle, kental dengan unsur indie rock dan hip-hop. Berbeda dengan band kebanyakan, mereka menggabungkan kedua unsur tersebut dengan beat yang berbeda kedalam sentuhan musik yang mereka buat.

Sementara Meet After The Storm (M.A.t.S) band yang berasal dari Palembang  menjadi runner up yang punya karakter electro rock, dan  Killa The Phia asal Aceh adalah band dengan genre pure metal core  yang terinspirasi dengan Lamb of God, Pantera, Chimaira, As I Lie Dying, hingga Burgerkill.

Demikian juga line up lainnya, yakni Kasino Brothers (Yogyakarta) yang mengusung rock and roll dengan sentuhan psychedelic, Equaliz (Medan) dengan pop rock, Jakarta Blues Factory (Jakarta) yang konsisten mengusung blues, THE GRGTZ (Bekasi) dengan alternative rock, dan Radioaktif (Bandung) yang punya alternative rock dengan nafas grunge.

02 Super Rockin Battle IstimewaSuper Rockin Battle (Istimewa)

"Album ini adalah persembahan bagi semua penggemar musik rock di Tanah Air. Delapan band di The Mighty Eight punya karakter berbeda-beda, bahkan asal daerahnya juga beda-beda. Jadi secara musikalitas, album ini menawarkan sebuah paket lengkap dari apa yang kami sebut sebagai regenerasi musik rock Indonesia” ujar Gege Dhirgantara.

Lanjutnya kembali “Kami berharap pecinta musik rock dapat menikmati hasil karya berkualitas dari finalis Rockin Battle ini," tutup  pria yang juga menjadi General Manager SuperMusic.ID di acara peluncuran album The Mighty Eight, Rabu (25/10).

Gege menjelaskan rilis album ini adalah pemenuhan janji dan jawaban dari proses panjang pencarian generasi baru band rock Indonesia. Nama Mighty Eight sendiri sebetulnya sebuah ikon dari delapan band tersebut yang kekinian. Perjalanan panjang ini diharapkan dapat menghasilkan regenerasi band rock baru di  tanah air.

Perjalanan cukup panjang dilalui untuk menghasilkan album ini, sejak dari fase registrasi yang diikuti lebih dari 1.200 band, fase live audition di 4 kota, fase band camp, hingga final audition yang kemudian berlanjut hingga ke tahap recording, mixing, dan mastering. Para musisi senior yang eksistensinya di dunia musik Tanah Air terlibat langsung sebagai juri untuk menentukan pemenang. Mereka adalah Ian Antono (God Bless), Stephan Santoso (Produser / Musikimia), Stevi Item (Andra and The Backbone/ Deadsquad), dan Imanine (J-Rocks).

Dengan line up dan kualitas musik yang dimilikinya, SuperMusic.ID optimistis album ini bisa didengar dan mendapat perhatian dari penggemar musik secara luas. "Di album ini, setiap band mencoba mengeksplorasi dan menghasilkan musik yang fresh. Kami ingin album ini menjadi breakthrough setelah sekian lama kita tidak mendengar karya baru dari band-band rock Indonesia," ujar Gege.

03 Super Rockin Battle IstimewaSuper Rockin Battle (Istimewa)

Proses rekaman inipun terbilang cukup rumit, mengingat ada delapan band dengan delapan lagu yang harus digarap dengan matang. Stephan Santoso selalu produser yang menentukan kualitas aransemen musik dari album ini. Rekamannya pun berlangsung di Jakarta dan Sydney, Australia, sehingga cukup memeras habis kemampuan gitaris Musikimia ini. Ada tujuh band yang melakukan rekaman di Studio Aquarius, Jakarta. GHO$$ yang didampuk sebagai pemenang  utama melakukan rekaman lagunya ‘Carele$$’ di Studios 301 dan Hercules Street Studio, Sydney, Australia.

"Saya bilang (album) ini adalah representasi dari musik rock yang saat ini terus berkembang. Setiap band punya karakter yang kuat, dengan warna yang berbeda-beda. Jadi musikalitasnya lebih kaya dalam memproduksi musik di setiap genre. Ada dark rock, metal core, blues, rock & roll, pokoknya macam-macam. Sepanjang proses rekaman pun mereka berusaha membuat musik dengan kualitas yang sangat bagus," tutur Stephan.

Album ini, akan dijual secara digital dengan kerjasama dengan sejumlah aplikasi musik seperti iTunes, Apple Music, JOOX, Spotify, dan sebagainya. “Untuk penjualan fisik tetap ada, namun karena saat ini kondisi sedang sulit dalam penjualan album secara fisik kami akan fokus kepada penjualan secara digital lebih dahulu”, ujar Gege.


Playlist "SuperMusic.ID Rockin Battle – The Mighty Eight"
1.    MALAS – THE GRGTZ
2.    NALAR – Meet After The Storm (M.A.t.S)
3.    CARE.LE$$ – GHO$$   
4.    JERITAN KEGELAPAN – Killa The Phia
5.    HEY – Jakarta Blues Factory
6.    PERGI PERGILAH KAU – Equaliz
7.    I AM – Radioaktif
8.    DILEMA – Kasino Brothers/ YDhew

04 Super Rockin Battle IstimewaSuper Rockin Battle (Istimewa)

 

Tuesday, 17 October 2017 12:04

Solo City Jazz 2017

Minimalis namun Efektif

Beberapa tahun lalu, ibarat jamur pada musim penghujan, banyak bermunculan festival-festival jazz yang bertebaran disetiap pelosok negeri ini. Festival berbau jazz yang berkembang dengan suburnya, membuncah mewangi dari Sabang sampai Marauke. Menjadikan negeri ini, menjadi sebuah etalase padat akan festival jazz, belum lagi ditambah dengan festival-festival lainnya lewat genre yang berbeda.

Namun ibarat tumbuhnya, begitupun dengan keadaan sebaliknya yang sama cepatnya. Kabar-kabarnya hampir separuh dari puluhan festival jazz yang ada satu demi satu mulai berguguran. Ada yang bertahan 3 sampai 5 kali pertunjukan, akhirnya hilang tak berbekas, bahkan ada yang langsung gugur setelah sekali muncul.

Begitulah adanya, festival jazz seperti menjadi ladang bisnis yang menjanjikan keuntungan secara finansial dan kesohoran nama sang penyelenggara. Walaupun pada kenyataannya, bukanlah sebuah hal yang mudah menjalankan sebuah jazz festival. Butuh pemikiran, modal, tenaga, tim, eksistensi dan keberuntungan tingkat tinggi.

Salah satunya yang masih tetap bertahan adalah Solo City Jazz (SCJ) yang telah diadakan pertama kali pada 4 dan 5 Desember 2009 di Windujenar-Ngarsopuro dan berlanjut terus sampai tahun ini. Hanya pada tahun 2010 SCJ gagal diadakan dikarenakan karena adanya musibah hujan debu paska erupsi Merapi.

Sebagai sebuah event musik tahunan, SCJ tetap mempertahankan konsep dasar berformat a la festival lewat musik jazz, art, heritage dan batik. Sampai saat inipun konsep tersebut tetap dipertahankan. Untuk sajian musiknya sendiri merangkum beragam macam  jazz dengan aneka “sub-genre”nya. Diluar itu, festival ini mengedepankan juga porsi khusus pada band yang mengedepankan eksplorasi eksperimentasi jazz dengan unsur-unsur eksotika tradisi Nusantara. Selain, bagaimana para musisi dan penyanyi, melakukan reintepretasi tersendiri masing-masing terhadap jazz. Hidangan lengkap itu kami menyebutnya sebagai, “jazz-nya wong Solo”.

Hal lain sebagai pembeda dari festival lain sejenis adalah dengan mempertahankan kesan guyub, akrab dan intim. Caranya adalah membuat panggung SCJ di udara terbuka, di spot-spot yang cukup memiliki nilai sejarah dan gratis. Semua boleh menonton, semua bisa menikmati. Dan dari manapun!

02 Vibes IbonkVibes (foto: Ibonk)

Inilah sebuah identitas yang menjadi ciri tersendiri, untuk menghindari keseragaman sehingga sulit membedakan satu festival dengan festival lain. Ya tentunya, bagaimana acara festival tersebut bisa bersinergi dengan kota yang dipilih sebagai tempat diadakannya festival tersebut tanpa bertolak belakang dengan masyarakat yang malah dikhawatirkan, akan menjadi asing, padahal festival jazz itu, memakai nama kota tersebut.

Lantaran sifat gratisnya itu, maka sajian jazz yang dihidangkan, memang juga diupayakan memiliki unsur hiburan, yang semoga dapat dicerna mata dan telinga masyarakat penonton yang heterogen. Alhasil, siapapun boleh menonton dan bisa menghibur diri....

Terbukti selama bertahun-tahun SCJ sanggup memberikan tambahan event istimewa, menambah daya tarik kota Solo, sebagai salah satu kota tujuan wisata eksotis. Terutama memasyarakatkan jazz sebagai salah satu musik hiburan masa kini, yang dapat disukai publik kebanyakan. Lewat proses yang panjang yang menghidangkan format festival dengan balutan unsur art yang berbeda, menjadi sebuah mata acara andalan kota Solo.

Juga membawa unsur jazz rasa Solo tersebut jauh ke kantong-kantong yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti pasar tradisional. Yaa, SCJ beberapa kali kerap membawa keberagaman jazz dengan beragam sub-genre-nya tersebut ditengah-tengah pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional dalam versi semi ataupun full akustik. Tentunya juga dalam versi yang lebih lite, sehingga lebih terasa membumi.

Memasuki tahun ke-9, dan penyelenggaraan ke-8 kalinya tahun 2017 ini, juga tetap mengandalkan jurus “minimalis tapi efektif”. Diselenggarakan di akhir September kemarin tetap menuai kesuksesan yang cukup signifikan. Yang dimaksud dengan konsep minimalis tapi efektif ini adalah konsep sepanggung, dengan pengisi acara yang beragam.

Pada acara puncak, Sabtu 30 September menghadirkan bintang-bintang muda potensial asal ibukota. Ada kehadiran Ben Sihombing, serta grup unik yang adalah tiga dara cantik dan seru dan penuh semangat dan sehat, Nonaria. Lalu dimeriahkan acara dua kelompok musik yang tak kalah menariknya, asal Solo sendiri, duo Jungkat Jungkit dan trio Fisip Meraung. Lainnya terekam juga nama Vibes, Horse Race Ska, Destiny, yang adalah grup band muda usia yang datang dari Solo dan daerah lain di Jawa Tengah. Serta satu kelompok Pilipe, komunitas jazz senior, Pinggir Kali Pepe yang juga dari Solo.

Selain itu, sebagai menu sajian utama kehadiran Fariz RM with his Anthology Kuartet menjadi sebuah penampilan yang dinanti. Tidak bisa dipungkiri jika kehadiran kedua kalinya Fariz RM tetap diminati setelah beberapa tahun sebelumnya Fariz pernah juga hadir dalam format band yang berbeda. Sang musisi multi instrumentalis, penulis lagu, aranjer dan produser musik kenamaan sejak 1980-an itu hadir bersama Eddy Syakroni, Adi Dharmawan dan Iwan Wiradz.

03 Pilipe IbonkPilipe (foto: Ibonk)

Festival yang telah dimulai sejak sore hari tersebut dengan ancaman turunnya hujan tersebut, langsung saja mendapat sambutan yang cukup meriah. Tawaran suguhan yang sangat berwarna warni antara jazz dan non-jazz. Sebuah sajian musik yang akhirnya mampu untuk menghimpun potensi musisi muda lokal dan penonton dari beragam kesukaan.

Inilah tantangan serunya, dimana sebuah perhelatan festival dengan embel-embel jazz di masa sekarang, terutama di Indonesia sejatinya haruslah pandai bersiasat, tanpa terlihat upaya mengelak dari tanggung jawab moral penyelenggara. Yaa, karena seringkali terjadi sebuah festival jazz malah minim kehadiran musik jazz nya. Sementara kita cukup tau bahwa sebagai jenis musik, perlu waktu rasanya genre ini sepenuhnya menjadi magnet untuk mendatangkan publik.

Dari sisi SCJ, karena gratisan-nya, sebetulnya pas dan cocok untuk sekaligus menjadi etalase musisi yang lebih membawa ruh jazz dalam musiknya. Etalase yang menjadi media edukasi, memperkenalkan jazz dan mendidik publik untuk mengenal dulu, baru kemudian benar-benar paham dengan musik jazz sebenarnya. Ini adalah strategi untuk merangkul publik, membuka pintu, sekalian memberi apresiasi bagi para musisi muda yang ada.

Kembali ke panggung festivalnya, tanpa kesan mewah panggung di halaman Benteng Vastenburg, Solo tersebut dimulai jam 16.00 an. Dibuka oleh Destiny, grup muda Solo, lalu disambung Fisip Meraung, lalu ada Horse Race Ska. Vibes

Berikutnya setelah break kedua, tampil grup senior, Pilipe yang lumayan membawakan lagu-lagu bertema jazz, fusion, jazzy era 80 sampai 90-an. Disela dengan kedatangan Walikota Surakarta, FX. Hady Rudyatmo yang memberikan sambutan singkat. Kedatangannya juga ditemani langsung oleh Wakil Walikota, Achmad Purnomo.

Jungkat Jungkit tampil lumayan menambah suasana kesegaran dan kenyamanan. Lewat irama folk, dan telah memiliki album, duo ini tampil pede. Walau memang masih harus memperbanyak jam terbang agar lebih kinclong lagi, duo ini cukuplah untuk mewarnai semarak SCJ yang mulai merangkak malam.

Berikutnya hadir dalam format trio, Nonaria. Memilih warna merah manyala pada wardrobe yang berkesan vintage, Nesia Ardi (Vokal, Snare Drum), Nanin Wardhana (Piano) dan Yasintha Pattiasina (Violin) tampil unik. Ditambah additional player pada Double Bass. Suasana akustik yang cerah ceria. "Perkenalkan kami dari Nonaria, saya Nesia Ardi, di sini ada nona Nanin Wardhani di keyboard, dan nona Yasinta di biola," lanjutnya.

04 Nonaria IbonkNonaria (foto: Ibonk)

Ketiganya menghadirkan lagu pertama yang mereka bawakan berjudul 'Salam Nonaria' yang dibawakan dengan iringan musik yang ceria. Mereka dikenal selalu membawakan lagu-lagu dengan musik dan iringan lagu yang ceria juga jenaka. Lagu-lagu merdu bersuasana ceria dan hangat

Lepas Nonaria berganti dengan Ben Sihombing, yang juga adik kandung Petra Sihombing. Masih muda belia, ia  kembali menghadirkan format minimalis ketika tampil di panggung, Ben memposisikan dirinya di tengah dengan gitar akustik, ditemani pemain drum elektrik dan kibor.

Kehadiran Ben membuat suasana jadi adem, bertebaranlah lagu-lagu cinta anak muda yang langsung diikuti paramuda dibagian penonton. Christopher Ben Joshua Sihombing juga lantas membawakan hits-nya, ‘Set Me Free’ serta ‘Mine’ kedalam list lagu yang ditampilkan. Dan penutup acara, siapa lagi kalau bukan Fariz Rustam Munaf. Langsung membuka penampilannya lewat ‘Penari’. Lantas menyajikan hits miliknya yang lain, termasuk ‘Nada Kasih’, ‘Hasrat dan Cinta’, ‘Barcelona dan...’Sakura’ yang melegenda.

Mendekati jam 23.30, Fariz RM menyudahi penampilannya. Penonton langsung beranjak pula meninggalkan areal benteng Vastenburg. SCJ berakhir lancar, dari awal sore sampai tengah malam. Kawasan areal parkir itupun langsung segera senyap. Stand-stand penjualan aneka makanan, minuman penyegar dan lain serta sederet food-truck juga lantas segera ditutup dan dibereskan dengan cepat.

Begitulah, SCJ 2017 pun berjalan dengan baik, cuaca malam yang cerah bertabur gemintang memang akhirnya menuntaskan ketakutan penyelenggara akan sergapan hujan. Memang Solo pada saat itu kerap diguyur hujan dalam intensitas tinggi. Namun semua menjadi baik-baik saja, seperti keyakinan untuk menyajikan festival ini di tahun-tahun berikutnya./ Ibonk, dM

 

Tuesday, 24 October 2017 15:03

Benny Panjaitan Wafat

Pentolan Panbers itupun Berpulang

Musisi legendaris Benny Panjaitan dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (24/10/2017). Hal itu dibenarkan keluarga, bahwa almarhum berpulang pada pagi hari sekitar pukul 09.50 WIB. Benny merupakan salah satu pentolan Panjaitan Bersaudara (Panbers) yang didirikan pada 1969 lalu di Surabaya.

Band keluarga tersebut terdiri dari empat orang kakak beradik kandung putra-putra dari Drs. JMM Pandjaitan SH (alm) dengan Bosani SO Sitompul. Mereka adalah Hans Panjaitan (lead guitar), Benny Panjaitan (vokal dan rhythm guitar), Doan Panjaitan (bas, keyboard), serta Asido Panjaitan (drum). Dalam perkembangannya formasi band ini berubah dan bertambah sejak tahun 1990-an dengan kehadiran Maxi Pandelaki pada bass, Hans Noya pada lead guitar, dan Hendri Lamiri pada biola.

Sebelumnya, Benny sempat dikabarkan meninggal dunia pada Minggu (22/10/2017) kemarin. Namun disangkal oleh putra almarhum Dino Panjaitan yang menegaskan ayahnya saat itu sehat.

02 Benny Panjaitan IstimewaBenny Panjaitan (Istimewa)

Selama ini Benny memang sudah lama menderita stroke. Terhitung, sejak 2010, Benny sudah tiga kali mengalami serangan stroke sampai harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit pada 2015 lalu karena tak sadarkan diri setelah mengeluh pusing. Menurut analisa dokter pada saat itu terindakasi ada cairan di dalam otaknya. Benny saat itu dirawat di Rumah Sakit Sari Asih, Ciledug, Jakarta.

Menurut Dino, ayahnya dinyatakan meninggal dunia saat tertidur di ranjang perawatan dikediamannya. Kabar yang tersebut disampaikan oleh perawat dan dipastikan oleh istri almarhum bahwa beliau telah tiada.

Pada 23 November mendatang, rencananya akan digelar konser sekaligus peluncuran buku 'Perjalanan Panjang Sang Legend' di Graha Bhakti Budaya, TIM.  Itu merupakan salah satu wujud menghormati Benny yang disebut legenda./ Ibonk

 

Monday, 23 October 2017 16:02

Pengabdi Setan

Film Horor Nasional Terlaris

Film yang sontak mendapatkan atribut menjadi film horor terlaris nasional pada saat ini, “Pengabdi Setan” semakin tangguh duduk dipuncak ketenarannya. Film versi baru dari film berjudul sama ini secara mengejutkan sekitar tiga minggu sejak pemutaran perdananya telah ditonton lebih dari 2,8 juta kali.

Seperti yang telah disebutkan diatas dan banyak diketahui oleh khalayak bahwa film arahan Joko Anwar ini merupakan garapan ulang dari film asli rilisan tahun 1980. Belakangan, Joko Anwar menyatakan kalau film yang dibuatnya ini lebih tepat disebut prekuel.

Tidak hanya meraih kesuksesan komersial, film ini juga menjadi calon kuat untuk memborong Piala Citra di Festival Film Indonesia tahun ini. Bagaimana tidak? Film ini telah menerima 13 nominasi sebagai Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Joko Anwar), Penulis Skenario Terbaik (Joko Anwar), Pengarah Sinematografi Terbaik (Ical Tanjung), Pemeran Anak Terbaik (Muhammad Adhiyat), Pengarah Artistik Terbaik (Allan Sebastian), dan Penyunting Gambar Terbaik (Arifin Cuunk).

Selanjutnya kategori Penata Efek Visual Terbaik (Finalize Studio, Hery Kuntoro, Addy Eldipie), Penata Suara Terbaik (Khikmawan Santosa, Anhar Moha), Penata Musik Terbaik (Aghi Narottama, Tony Merle, Bemby Gusti), Pencipta Lagu Tema Terbaik (The Spouse - ‘Kelam Malam’), Penata Busana Terbaik (Isabelle Patrice), serta Penata Rias Terbaik (Darwyn Tse).

Tahun 2017 ini, sepertinya juga menjadi tahun yang baik bagi film horor Indonesia. Setidaknya ada empat buah film bergenre horor duduk dalam daftar sepuluh film Indonesia dengan pendapatan terbanyak. Dipastikan semuanya meraih lebih dari satu juta penonton. Sampai saat ini, film ini masih tayang di berbagai bioskop Indonesia dan kabar terbarunya telah tembus diatas 3 juta penonton.

02 Pengabdi Setan IstimewaPengabdi Setan (Istimewa)

Selain Pengabdi Setan tercatat juga “Danur: I Can See Ghosts”, “Jailangkung” dan “The Doll 2”. Yang patut diingat adalah film bergenre horor ini, pernah masuk menjadi kandidat di festival yang sama adalah “Taman Lawang” dan “308” pada tahun 2013 silam.

Film yang berkisah tentang Rini (Tara Basro) beserta bapak, ibu, dan ketiga adik laki-lakinya yang terpaksa pindah ke rumah nenek. Mereka terpaksa tinggal disana setelah rumah mereka dijual untuk biaya pengobatan ibunya. Ibunya kemudian meninggal dan menjadi pembuka kemunculan teror dirumah tersebut./ Ibonk

 

Tuesday, 17 October 2017 10:02

Gloria Jessica

Gadis Batak Bersuara Lembut

Ada yang bilang orang Batak selalu dikaruniai suara yang merdu, banyak sudah penyanyi yang berdarah Batak selalu sukses meraih simpati dari beberapa kontes menyanyi. Dengan ciri khas bersuara lantang, power yang tinggi bisa dibilang orang yang berdarah Batak selalu merajai  berbagai ajang menyanyi di tanah air. Yaah meski tidak semuanya, tetapi mereka yang mempunyai darah Batak hampir tidak bisa dipisahkan dari bernyanyi.

Bicara hal tersebut, ada seorang gadis jebolan salah satu kontestan The Voice Indonesia RCTI tahun 2016 yang kebetulan juga berdarah Batak, dialah Gloria Jessica. Gadis kelahiran Jakarta 23 tahun lalu ini  bernama lengkap Gloria Jessica Ulima Gultom. Penampilan perdananya di ajang tersebut membuat semua orang termasuk juri yang mendengarkan dan melihatnya bernyanyi seakan melayang dan terpaku dengan suaranya yang khas  dan sexy.

‘A Sky Full Of Stars’ salah satu lagu dari Coldplay yang dipilihnya pada babak Knockout The Voice Indonesia membuatnya menjadi perhatian masyarakat. Dengan suara khasnya, membawanya sebagai salah satu kontestan yang berpenampilan terbaik versi The Voice Global dalam babak tersebut dan membuatnya menjadi salah satu kontestan yang ditakuti kala itu. Bahkan video penampilannya pada ajang itu sempat menjadi trending topic di Youtube Indonesia dengan ditonton lebih dari tiga juta kali selama sembilan hari berturut-turut. Namanya pun berhasil masuk bersama dengan para penyanyi hebat dari negara lain. Namun langkahnya di ajang tersebut hanya mampu menebus babak semi final.

Memiliki suara yang lembut, Gloria yang memilih genre musik pop dan jazz ini sebelum mengikuti ajang The Voice Indonesia pernah berperan sebagi Olivia dalam salah satu versi ending film pendek “Arah Kisah Kita” karya Juna yang di unggah di channel Youtube “Susah Tidur”. Berkat penampilannya dengan beberapa video yang diunggah tersebut, Gloria pernah diundang oleh Tompi dan berduet dengannya untuk tampil di acara Trio Lestari.

Ditahun 2017 ini, pada ajang Anugerah Planet Muzik 2017, Gloria membawakan lagu  ‘Dia Tak Cinta Kamu’. Dengan suara khasnya lagu cinta bertempo lambat ini  dibalut dengan aransemen musik yang indah membuat lagu dengan tema sederhana ini sangat mengena bagi yang mendengarnya. Lagu ini menceritakan tentang kisah patah hati seseorang yang ditinggal sang kekasih yang sudah tidak mencintainya.

Lagu ciptaan musisi tanah air, Dewiq membawanya terpilih sebagai Best New Female Artist Anugerah Planet Muzik Indonesia pada tanggal 14 Oktober 2017 yang diselenggarakan di Singapore. Sehari sebelumnya Gloria juga terpilih menjadi Nominasi Best New Artist di ajang Anugerah Musik Indonesia 2017.

Melengkapi karya nya di industri musik,  Gloria juga baru mengeluarkan sebuah lagu berjudul 'I Just Wanna Love You' yang didedikasikan untuk orang tua sebagai sebuah bentuk bakti kasih & sayangnya terhadap mereka. /YDhew

 

Tuesday, 17 October 2017 16:56

Anggun

Rilis Single dan Persiapan Album Baru

Anggun yang meniti karir internasionalnya sejak tahun 1997 kembali merilis single terbarunya yang berjudul ‘What We Remember’. Anggun  pernah menjadi Juri internasional Asia’s Got Talent, Duta Besar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB),  dan Pemenang World Music Award serta menjadi best-selling artis Asia Tenggara dengan penjualan album terlaris diluar wilayah Asia.

Baru saja usai melakukan turnya di negara Perancis dan Belgia, Anggun mengaku kesibukannya tersebut cukup membuatnya  merasa kelelahan. Perlu waktu satu setengah tahun lamanya untuk menyelesaikan album yang akan segera dirilis 8 Desember 2017 nanti. ‘What We Remember’  merupakan single pertama dari album internasionalnya dengan nuansa mid-tempo pop-electro.

Pelantun lagu ‘Snow On The Sahara’ ini menuturkan bahwa 'What We Remember' memberikan kesan yang mendalam untuk pendengarnya. Lagu ini menceritakan hal-hal yang dikenang dari kehidupan seseorang  dari kehidupannya sebagai manusia, dengan di balut sedikit sentuhan akustik yang bisa menjadi candu ketika mendengarnya. Lagu ini juga sekaligus sebagai countdown atas perilisan album terbarunya.

“Lagu ini bicara tentang kenyataan hidup di mana kita hanya punya kesempatan hidup ini sekali dan sedikit waktu, maka kamu harus membuat sesuatu yang berguna, kamu harus membuat orang terinspirasi, membuat orang mengingatmu. Suatu saat, kamu hanya akan jadi kenangan. Berharap kamu tahu, kamu sudah mencoba yang terbaik untuk ini, jadi itu akan menjadi kenangan yang baik”, ungkap Anggun  dalam sebuah press rilis yang di terima NewsMusik belum lama ini.

Dengan ciri khas vocal Anggun yang unik, lagu ini terasa enak di dengar dan berbeda dari lagu-lagunya sebelumnya. Selain ditulis sendiri oleh Anggun, ‘What We Remember’ juga dibantu oleh dua orang talenta dibidang musik yang pernah mencetak hits di negara Perancis, yaitu Silvio Lisbone dan Guillaume Boscaro. Pertemuan dengan keduanya adalah pada saat kedua produser ini mempromosikan Opus yang dirilis tahun 2015 dan telah mendapatkan sertifikasi ‘Gold’ di Perancis, serta mendapat penghargaan penjualan album ketiganya yang membuatnya disebut Asia’s Export Sensation.

"Saya mencoba untuk jujur dengan tulisanku, dan sekarang laguku itu lebih tentang sekelilingku daripada tentang diriku. Semuanya tentang sesuatu yang logis, tentang apa yang aku baca, aku lihat. Apa yang aku makan, yang aku tonton, lalu semua diterjemahkan menjadi emotions, dan emotions itulah yang kemudian menjadi lagu," ujar Anggun.

Album inipun nantinya akan berisi tiga bahasa yaitu, Indonesia, Inggris dan Perancis. Mengenai hal tersebut Anggun mengatakan bahwa  “Apapun tentang bahasa Indonesia adalah sesuatu yang alami untuk saya,begitu juga bahasa Inggris karena saya besar dengan mendengarkan Beatles. Sekarang bahasa Perancis adalah bahasa ketigaku, jadi itu alami saja karena saya bicara Perancis hampir setiap hari. Saya rasa saya tidak bisa memilih mana bahasa yang lebih saya suka. Ada masa di mana ada semacam topik yang mungkin mudah untuk dibicarakan atau untuk dinyanyikan atau ditulis dalam Bahasa Perancis misalnya,lalu ada sesuatu yang mudah yang perlu dibawakan dalam bahasa Inggris atau sesuatu yang sulit ke dalam Bahasa Indonesia. Semuanya tercampur, dan saya tak tahu harus pilih bahasa yang mana.”

Anggun juga memberikan saran dan tips bagi artis Asia muda yang ingin berkarir di kancah musik internasional agar selalu mengerjakan sesuatu dengan kerja keras, jangan merasa takut dan kerjakan sesuatu dengan caramu sendiri. “Yang terpenting menurutku adalah individuality yang membuat dirimu adalah kamu. Tak perlu mencoba menjadi Britney-nya Asia, atau Beyonce-nya Asia bahkan Nicky Minaj-nya Asia, mereka hanya satu di dunia. Jadilah diri sendiri untuk menjadi yang terbaik!, karena hanya ada satu kamu di dunia”, tutup Anggun.

 

“What We Remember” Video Lyric

Wednesday, 18 October 2017 10:43

Pekan Raya Indonesia 2017

Konsep Pameran Unik dan Tak Terlupakan

Mengulang kesuksesan tahun lalu, Pekan Raya Indonesia (PRI) 2017 kembali digelar. Bertempat yang sama, ICE-BSD pekan raya ini akan diselenggarakan pada tanggal 21 Oktober sampai dengan 5 November 2017. Bila tahun kemarin menggunakan konsep 1000 Band, di tahun ini mempunyai konsep yang berbeda. Dengan konsep yang lebih fresh ditampilkan  10 exhibition hall indoor dan area outdoor yang akan diisi oleh 500 exhibitor kuliner dan multi produk.

Salah satu konsep yang akan disajikan tahun ini adalah Wahana  Rumah Hantu. Dengan menampilkan Teater Interaktif Misteri Batavia  berkolaborasi dengan artis Happy Salma membuat PRI kali ini akan menarik dan tidak terlupakan. Wahana ini bukan sekedar menakut-nakuti, tetapi juga memberikan informasi asal muasal dari urban legend di Jakarta. Ditambah dengan  konsep interaktif yang akan ditampilkan melalui disain rumah hantu yang sangat mirip aslinya, dan memajang hantu yang akan diperankan oleh  para aktor-aktris para pemainTeater Miss Tjitjih yang masih aktif dalam seni teater di bilangan Cempaka Putih.

Menurut Happy Salma konsep yang merujuk dengan cerita Urban Legend ini merupakan cerita yang berasal di kalangan masyarakat Jakarta pada zaman dahulu. Dengan Konsep rumah hantu Happy bukan hanya memajang property saja, tetapi ada interaksi disana.

“Buat yang punya penyakit jantung jangan coba-coba kesini ya..”  ujar Happy sambil tertawa.

 DSC4036Happy Salma & DJ Riri (Foto: Yulia)

Konsep yang disusun sedemikian rupa olehnya bukan hanya sekedar konsep saja, tetapi membutuhkan waktu lama dengan riset yang panjang. “Saya terus mencari alternatif yang mau ditampilkan selain bentuk teater yang konvensional pada umumnya. Saya memang kepingin banget membuat sesuatu yang berbeda dan lahirlah misteri Batavia ini”, jelas Happy.

"Bahwa kita menjadi bagian dari Indonesia di sini, bukan hanya akan belanja, pesta pora, makan-makan, dan mendengarkan musik. Tapi tetap, dasar dari perayaan itu semua adalah keragaman Indonesia baik dari makanan, pakaian, bahkan historikal," tuturnya.

PRI merupakan event tahunan yang digelar oleh Exhibitor Organizer PT Indonesia International Graha (IIG Events) yang berada di bawah naungan PT Indonesia International Expo (IIE) yang dipimpin oleh Ryan Adrian selaku Presiden Direktur.

Dari sejak awal PRI  bertekad  untuk menyajikan tujuan rekreasi masyarakat umum. Acara ini bisa dinikmati untuk semua umur dengan beragam konsep yang disajikan. Untuk PRI 2017 disajikannya dari konsep Pesta Wisata, pertunjukan budaya, hingga konser musik dari Kolaborasi Musik Kita (KOMIK), yang menampilkan musisi ternama seperti Raisa, Sheila On 7, Glenn Fredly, Kahitna, GIGI, Ayu Ting Ting, Rizky Febian, DJ Riri, dan lainnya.

 DSC4019Ryan Adrian selaku Presiden Direktur PT Indonesia International Graha (IIG Events)

“Budaya adalah hal yang seharusnya menjadi sesuatu yang selain dibanggakan juga dipahami oleh genarasi milenial, yang terekpos melalui berbagai gadget yang dibanjiri dengan informasi dari dunia maya. Event kali ini juga menampilkan kesenian dari budaya-budaya Indonesa dari Sabang sampai Merauke”, ungkap Ryan Adrian di acara jumpa pers di Hard Rock Café, Jakarta, Selasa (17/10).

Dengan target 1 juta pengunjung di tahun ini, acara ini akan semakin meriah dengan menghadirkan berbagai permainan anak seperti carousel dan bianglala yang sering ditemukan di pasar malam, dan ditambah dengan kehadiran Mookiland yang menyuguhkan petualangan dan arena bermain bagi anak dalam istana balon.

PRI 2017 tahun ini merupakan hasil riset yang dilakukan oleh penyelenggara yang mencoba memahami minat dari pengunjung tahun sebelumnya. Seperti hadirnya Komunitas Organik dan juga beberapa pengusaha biji kopi dari seluruh Nusantara./Yulia

Wednesday, 18 October 2017 22:27

Super Soccer Futsal Battle 2017

Turnamen Soccer Futsal Terbesar Berstandar Internasional

Olah raga yang mengutamakan keterampilan memanipulasi bola dengan kaki  ini masih menjadi olah raga favorite di masyarakat baik tua maupun muda. Beragam tempat pertandingan dan wadah dari olah raga ini semakin banyak menjamur di tanah air. Hal inilah yang membuat Super Soccer membuat turnamen futsal pertama kali dengan tajuk “Super Soccer Futsal Battle (SSFB) 2017”.

Turnamen ini merupakan sebuah wadah bagi para pelaku dan pecinta olah raga futsal di tanah air. SSFB adalah kejuaraan futsal amatir yang sudah berjalan sejak bulan September 2017 lalu yang  diselenggarakan di delapan kota di Indonesia khususnya Jakarta, Depok, Tangerang, Sukabumi, Serang, Bogor, Bekasi dan Karawang. Turnamen SSFB 2017 dibagi ke dalam tiga babak yakni babak eliminasi, final, dan grand final.

Acara ini diikuti oleh 320 tim dari 20 Kabupaten/Kota yang mengikuti babak eleminasi dengan 96 tim yang lolos  dan telah berlaga di babak Final Round yang digelar di 3 Kota Jakarta, Bekasi dan Tangerang. Saat ini, perhelatan ini telah memasuki masa Grand Final dengan meloloskan 12 tim yang akan diselenggarakan di Bintaro Jaya Exchange, 21-22 Oktober 2017.

“Sebanyak 12 tim terbaik hasil babak Final Round sudah bersiap untuk tampil dalam babak Grand Final tersebut, dengan total hadiah dari mulai eliminasi, Final Round dan Grand Final sekitar 200 juta rupiah, dengan jumlah yang variatif dan berbeda disetiap babaknya. Dan pada grand final nanti juara satunya mendapat hadiah sebesar 20 juta rupiah” ungkap Ricko, Panitia pelaksana Super Soccer Futsal Battle.

Dengan menggunakan ukuran lapangan berstandar internasional, yaitu 20x40 meter persegi dan bahan lapangan yang berbentuk interlock, turnamen ini mempunyai aturan pelaksanaan “The Real Futsal Culture”yang sudah ditetapkan oleh Federasi Futsal Indonesia (FFI). Dengan adanya kategori umum, dan dibatasinya pemain liga profesional untuk menambah suasana kompetitif yang merata di turnamen tersebut.

Perhelatan akbar ini akan ada suguhan hiburan eksebisi antar kampus,  eksebisi selebriti dan eksebisi timnas futsal juara AFF 2010,  dan juga  menampilkan suguhan musik dari Rockin Battle, penampilan Angle Percussion, FDJ Arien Ctherine, One Way Freestyler Indonesia, dan Jakarta Dancer. Tertarik untuk menyaksikan siapa tim terbaik SSFB perdana di tahun ini? Jangan  lewatkan Grand Final SSFB 2017  “The Real Futsal Culture”!?YDhew.

Friday, 13 October 2017 10:20

Steven Coconutreez

Reuni yang Berjalan Manis

Setelah delapan tahun menghilang dari industri musik nasional, belum lama ini keempat punggawa Steven Coconutreez dipersatukan kembali di atas panggung dalam event Synchronize Fest 2017 yang berlangsung di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta pada Sabtu (7/10) kemarin. Panggung Lake Stage menjadi saksi jika magnet grup reggae yang diawaki oleh Tpenk, Rival, Iwan dan Tege masih cukup kuat untuk  menyedot kedatangan massa yang penasaran yang tak ingin melewatkan momen langka ini.

Tanpa basa-basi, salah satu pionir reggae asal Jakarta itu langsung menyapa kerinduan penggemarnya pada hit ‘Long Time No See’. Sebuah lagu yang konteks liriknya dapat merepresentasikan kebahagiaan Coconuttreez dapat bersua kembali dengan para penggemarnya, seraya melanjutkan ajakan menari dengan ’Holiday’, ’Horny Horny’ dan ’Burning With My Fire’.

Malam itu, mereka berhasil membagi porsi tugas dengan baik. Suara Tpenk yang terdengar khas tiada dua, cabikan bass Pallo yang dansakan massa, lengkingan gitar Tege sesekali keluar memekakan telinga, dan dilain sisi ia berperan vital menjaga tempo musik. Lalu aksi individu yang dapat mencengangkan mata mampu dilakoni tak kalah baik oleh Iwano. Meskipun telah lama tak tampil bersama, para punggawanya justru tak nampak gugup ditonton ribuan pasang mata. Enerji musik mereka berjalan dengan baik meski tampil minus Aray (gitar) dan Gocay (drum).

02 Pallo Steven Coconutreez TezaPallo_Steven Coconutreez (foto: Teza)

"Berikutnya, kami akan memainkan lagu favorit dari almarhum Opa Teddy ’Lagu Badai'" ucap Tpenk, diselingi aksi menawan solo jimbe yang ditabuh Iwan. Pada track tersebut, mereka tampil dengan format akustik yang berlanjut saat menggulirkan tembang ’Kembali’, strategi tersebut terbukti ampuh membius penonton yang kegirangan bernyanyi sangat kompak.

Tak luput dari momen istimewa, ’Bebas Merdeka’ pun mengudara beserta ’Welcome to My Paradise’ dan makin saja membuat Lake Stage tambah bergelora dengan penonton yang klimaks menari enjoy menikmati irama musik yang terkenal lahir dari tanah Jamaika itu. Sebagai closing party, Coconutreez  hadirkan ’Lagu Pantai’ yang membuat mayoritas penonton tambah berjingkrakan dalam menghayati lagu milik Imanez itu.

"Lagi.. Lagi.. satu lagu lagi dong, saya datang dari Makassar, khusus untuk nonton reunian ini," teriak seorang penonton yang meminta personil Coconuttreez kembali menghiburnya dan membatalkan rencana cabut dari panggung.

‘Sunset’ pun tersaji dengan indah di Lake Stage, Synchronize Fest II. Sebagai lagu penutup, nomor yang keluar pada album kedua itu membuat seakan party tak seharusnya usai dengan cepat. Bahkan hingga diberikan bonus lagu pun, penonton tidak henti meminta encore.

03 Iwan Steven Coconutreez TezaIwan_Steven Coconutreez (foto: Teza)

Impresifnya penampilan Coconut malam itu, turut dibantu juga dengan kehadiran beberapa additional player,  diantaranya 3 pemain alat tiup trumpet-saxophone, backing vocal serta posisi drum. Pemilihan songlist dari album pertama-kedua, sangat tepat. Terbukti banyak penonton yang sangat fasih bernyanyi kala songlist di atas digeber tuntas.

Yang masih menjadi teka-teki,  apakah kebersamaan mereka hanya project satu malam saja atau justru akan berlanjut hingga melahirkan progres album baru? Tetap nantikan kabarnya hanya di NewsMusik/ Teza

 

Page 3 of 123