NewsMusik

NewsMusik

Saturday, 04 March 2017 23:42

Air Supply

Memanjakan Pengemar Indonesia

 

Terbayarlah sudah hutang band legendaris asal Australia, Air Supply, yang akhirnya bisa memanjakan dan menghibur para pengemarnya di Indonesia. Lewat konser yang bertajuk “40th Anniversary-Celebration of Love”, di The Kasablanka, Kota Kasablanka Jakarta Selatan, Jumat (3/3/2017). Acara tersebut berlangsung sukses dan sesuai dengan ekspektasi dari pihak penyelenggara, bahwa masih cukup banyak yang merindukan duo gaek ini.

Russel Hitchook dan Graham Russel membuka konser dengan lagu ‘Sweet Dream’. Teriakan dan sorak penonton sepontan terdengar yang hadir di The Kasablanka pun bergemuruh. Setelahnya, duo tersebut  langsung melanjutkan dengan tembang lagu lainnya. “Apakah kalian sudah merasa romatis malam ini?” tutur Graham disambut tepuk tangan penonton.

Suasanapun menjadi terasa syahdu dan romantis saat duo tersebut membawakan lagu ‘Just As I Am’, ‘Every Woman’, ‘Here I Am’, ‘Chances’, dan sebuah tembang yang sangat ditunggu-tunggu para pengemar Air Supply berjudul ‘Goodbye’. Setiap tembang yang dibawakan duo yang terkenal di era tahun 80-an itu tak henti-hentinya penonton ikut bernyanyi bersama. Mereka tetap memberikan kejutan pada pengemarnya yang sabar menantikan konser yang sempat tertunda ini, yang seharusnya berlangsung 3 Desember 2016.

02 Air Supply RizalGraham Russel (Foto: Rizal)

 

Satu satu lagu romantis lainnya yang menjadi andalan dan hit mereka terlantunkan. Banyak lagu seperti ‘The One That You Love’, ‘Two Less Lonely’, ‘Lost in Love’, ‘Making Love’, ‘Without’, ataupun ‘Shake It’, dihadirkan sampai akhir konser.

Patut diakui bahwa penampilan yang disajikan oleh Russel Hitchcock (67) dan Graham Russel (66) mampu menyihir ribuan penonton yang hadir malam itu. Riuhnya kehadiran penonton juga direspon dengan antusias oleh 2 Russel tersebut. “Terima kasih banyak, tempat ini sangat berkesan setelah 40 tahun,” katanya.

Dengan sebuah lagu penutup ‘All Out of Love’, keduanya mengakhiri konser kelimanya di Kota Kasablanka. “Kami adalah milik kalian! sebelum kami pergi, kami punya sesuatu untuk dinyanyikan”, kata Graham Russel sebelum menyanyikan lagu terakhir pada konser mereka malam itu.

“Terima kasih Jakarta! God Bless You....”, ungkap keduanya mengakhiri penampilannya./ Rizal

 

 

Saturday, 04 March 2017 18:38

Arturo Sandoval

Magnet JJF di hari Pertama
 
Java Jazz Festival (JJF) 2017 hari pertama resmi digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (3/3). Ribuan pecinta jazz sudah berdatangan dari sore hingga senja ini. Malah beberapa musisi terlihat sudah menuntaskan penampilannya pada sore harinya. Nama-nama yang menarik perhatian di awal JJF 2017 Randy Pandugo, Mezzoforte, Beady Belle Band, Jazz Orchestra of the Concertgebouw feat. Dira Sugandi, Fareed Haque, Tulus, The Daunas feat. Paulinho, dan lainnya seakan-akan menjadi magnet tersendiri untuk diburu.
Beranjak ke malam hari, pengunjung Java Jazz Festival 2017 bakal dihibur oleh sederet musisi unggulan lainnya. Seperti, Danilla, Emma Larsson, King, Ron King Big Band, Andien, Harvey Mason, DW3, Abdul and the Coffee Theory, Polly Gibson, The Groove, Nik West, Kirk Whalum, dan lainnya.
Yang menjadi incaran utama malam ini adalah musisi asal Kuba, Arturo Sandoval. Ia mendapat jatah manggung di Tebs Stage Hall D1. Musisi yang tahun ini memasuki usia 68 tahun tampil agak mundur dari waktu yang telah dijadwalkan. Seperti tidak ingin mengecewakan para penontonnya, ia pun tampil dengan total.
"Sangat menyenangkan berada di sini," ungkap Sandoval. "Saya takjub, fasilitas disini sangat mengesankan", pujinya dari atas panggung ketika memberikan kesannya terhadap festival ini.
 
02 Arturo Sandoval Ibonk
Arturo Sandoval (Foto: Ibonk)
Beragam sajian latin jazz dalam berbagai tempo dimainkannya bersama bandnya. Walaupun sudah melampaui masa tenarnya, Sandoval juga masih memiliki vokal yang masih cukup prima. Seperti lagu 'Bossa Nova' dengan lirik bahasa Latin dinyanyikannya dengan apik. Kemampuannya dalam meniup trompet juga patut diberi banyak jempol. "Come on, ladies. Goyangkan pinggulmu," kata Sandoval sambil tersenyum lebar, membuat penonton tertawa.
Selanjutnya lagu 'Smile' milik Nat King Cole pun dibawakan. Tidak dinyanyikan, tapi dari alunan terompet yang ia tiup. Lagi sebuah lagu upbeat berjudul 'Shake Your Booty Baby' menjadi sarana menunjukkan aksinya. Dengan menggunakan terompetnya sambil sesekali bernyanyi ia pun sedikit menari dan itu makin membuat penonton terhibur
Setelahnya, Arturo Sandoval menunjukkan respect-nya terhadap sang mentor Dizzy Gillespie lewat single ‘Everyday I Think of You’. Panggung langsung disergap oleh rasa haru, ketika Ia menyanyi dengan sepenuh hati. 
Diakhir pertunjukannya, Sandoval mempersilakan pemain perkusinya untuk tampil solo dengan menggunakan marakas dan drum. Piawai menunjukkan berbagai teknik, Sandoval mengapresiasi permainan musisinya tersebut dengan tepuk tangan dan sorakkan penonton./ Ibonk
Sunday, 05 March 2017 18:16

Tommy Page

Kematiannya Masih Teka Teki

Penyanyi Tommy Page yang sudah beberapa kali datang ke Jakarta pada pertengahan 2016  lalu menggelar konser yang bertajuk "In The Mood of Love with Tommy Page" ini di kabarkan meninggal dunia.  Belum diketahui apa penyebab pasti penyanyi berparas baby face ini menghembuskan nafas terakhirnya, dugaan sementara yang dikutip dari Billboard.com, Tommy meninggal kaarena bunuh diri.

Penyanyi yang memiliki nama asli Thomas Alden Page  ini meninggal disaat usianya masih relatif muda,  penyanyi kelahiran New Jersey, USA ini meninggal dunia pada saat usia 46 tahun. Page yang memulai karirnya sejak usia belia. Bakatnya dalam bidang musik mulai terlihat sejak memulai bermain piano pada usia delapan tahun dan belajar keyboard pada usinya  12 tahun. Sejak saat itu Page mulai bermain musik  dan bergabung dengan saudaranya dalam sebuah grup musik.

Lulus dari Sekolah Menengah Atas, Page yang beranjak remaja mencoba peruntungannya di kota New York dan bekerja pada sebuah klub yang bernama Nell’s.  Dari sana Page berkenalan dengan produser Mark Kamins dan pemilik Sire Records, Seymour Stein. Bertemu dengan kedua orang tersebut menjadi kunci dari perjalanan karir Page di dunia musik. Sambil bekerja Page mengirimkan demo lagunya kepada Seymor Stein dan akhirnya berhasil.

Salah satu singlenya yang berjudul ‘I’ll Be Your Everything’ sukses menduduki puncak tanggal lagu Billboard di era tahun 1990. Sejak saat itu nama Tommy Page mulai dikenal oleh pecinta musik pop dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Lagu itu sendiri ditulis oleh Page dan pemberian dua personel New Kids On The Block (NKOTB), Jordan Knight dan Danny Wood. Page pun diminta sebagai artis pembuka untuk konser “Step By Step” mereka. Lagu yang dibawakan Page sebagai vokalis utama diharmonisasikan dengan Donnie Wahlberg, Jordan Knight dan Danny Wood. Lagu tersebut muncul dalam album keduanya “Painting in My Mind”.

02 Tommy Page IstimewaTommy Page (Istimewa)

Sejak saat itu Page kerap muncul di beberapa majalah remaja, namun hal tersebut tidak serta merta membuat penjualan album Page laris manis di pasaran. Di tahun 1991 Page merilis albumnya yang ke tiga From the Heart. Karena penjualan album yang biasa saja, Page sempat mendapatkan julukan ‘One Hits Wonder’ oleh salah satu label musik di Amerika.

Di tahun 1992 Page muli dilirik label rekaman yang berada di Jepang, Page pun merilis albumnya yang bertajuk “Friend to Rely On” dan menjadi hits terbesar untuk Warner Jepang kala itu. Di tahun 1994-1996 ia juga merilis dua album, yaitu “Time” dan “Loving You”.

Single-nya ‘Missing You’ berhasil meraih peringkat satu di Asia. Namun akibat krisis ekonomi di Jepang kala itu, pada akhir 1990-an, label rekamanpun ditutup. Dengan nasib yang tak pasti sebelum fokus menjadi produser dan bergabung dengan Warner Bros/ Reprise Records Page yang membantu karir Michael Buble, Alanis Morissette, Josh Groban, dan Green Day sempat merilis album “Ten Til Midnight” di tahun 2000.

Sejak karirnya di dunia musik Page sempat melahirkan beberapa album, meskipun hanya satu lagunya yang menjadi hits di negara asalnya, namun beberapa lagu Page meledak di Asia dan beberapa kali datang ke Indonesia untuk konser dan selalu sukses dipadati penggemar. Kecintaanya terhadap fansnya yang berasal dari Indonesia, penyanyi berwajah imut ini bahkan sempat menggarap singlenya dengan penyanyi Tanah Air, Citra Scholastika yang berjudul  "Don't Give Up on Love".

Selamat jalan Tom./ YDhew

 

Sunday, 05 March 2017 15:09

Hari Kedua JJF 2017

Pesta Musik Banyak Genre

 

Tidak seperti hari sebelumnya, JJF 2017 yang memasuki hari kedua ini dipadati dengan ribuan penonton. Hampir di setiap stage dipadati penonton, dan untungnya lagi di hari ini cuaca lebih bersahabat sehingga stage yang berada di outdoor pun tak kalah ramainya. Simak Dialog menjadi band pembuka di hari kedua ini. Seperti kita ketahui, band ini baru saja ditinggalkan oleh Riza Arshad, salah satu musisi jazz terbaik yang dimiliki Indonesia. Pertunjukan ini cukup emosional karena para anggota Simak Dialog tetap memutuskan untuk memakai nama Simak Dialog sebagai tribute kepada almarhum.

Beberapa musisi Indonesia sukses membuat panggung Java Jazz Festifal 2017 kali ini menggema bukan hanya dari musisi asing tetapi musisi lokalpun terlihat dipadati pengunjung. Seperti penampilan dari beberapa musisi yang tergabung dalam Yamaha Music Project, Glenn Fredly, Yura Yunita, Tulus, Armand Maulana, dan Saykoji. Hadir dalam satu panggung yang di padati oleh penonton aksi mereka yang ditutup  dengan bernyanyi bersama-sama membuat histeris.

Afgan yang menjadi salah satu artis pengisi hari kedua juga tak kalah menyedot penonton, bertempat di BNI Stage, Afgan memulai aksinya dengan lagu ‘Katakan’. Penonton yang mayoritas ABG ini sontak membuat histeris. Penampilannya  yang perlente dengan memakai busana serba putih sukses membuat panggung atraktif dengan aksinya mengajak penonton berdialog sampai berjalan “mondar mandir” dibibir panggungpun dilakukan Afgan dengan energik.

 

02 Afghan YDhewAfgan (Foto; YDhew)

 

Walaupun lagu-lagunya yang ditampilkan seperti ‘Dia-Dia’, ‘Kunci Hati’ serta salah satu lagu barunya ‘Can’t On Me’ dan lagu milik George Michael ‘I Can’t Make You Love Me’ bukan bergenre jazz namun penampilan Afgan kali ini sukses membuat penonton berbondong-bondong menuju stage B3.

Penampilan memukau dari musisi asal Brasil, Sergio Mendes juga tak kalah menariknya dan berhasil menyedot pengunjung. Dengan mengusung musik jazz funk Sergio memulai aksinya dengan menyanyikan lagu ‘Maghdalenna’. Diiringi irama musik khas latin, penampilan artis yang bernama lengkap Sergio Santos Mendes ini berhasil membuat penonton menari.

Di hari kedua ini walaupun sempat diguyur hujan, namun tidak menyurutkan penonton untuk pindah dari panggung ke panggung lain dan juga booth-booth sponsor yang ada di outdoor area JIExpo Kemayoran Jakarta. Penonton yang datang pun beragam, tidak hanya menarik minat penonton dalam negeri saja,  hadir juga beberapa penonton yang berasal dari manca negara.

Festival Jazz kali ini lebih berwarna, bukan hanya menampilkan musisi yang memang beraliran jazz tetapi panggung diisi juga dengan musisi bergenre berbeda. Sebut saja Iwa K, NEO dan Sweet Martabak, Gugun Blues Shelter dan Naughty by Nature./ YDhew

 

03 Naighty By Nature IbonkNaighty By Nature (Foto: Ibonk)

Friday, 03 March 2017 23:40

Zap Mama

Panaskan JJF 2017 Hari Pertama

 

Satu lagi yang cukup ditunggu penampilannya adalah Zap Mama di Hall B3/ C3 di ajang Java Jazz Festival (JJF) 2017 ini. Ini tahun keduanya Zap Mama yang dimotori oleh seniman Belgia, Marie Daulne tampil diajang jazz paling bergengsi pada saat ini tersebut.  Zap Mama sendiri melantunkan musik polifonik dan Afro-Pop yang harmonik dengan campuran teknik vokal Afrika, Urban, Hip-Hop dengan penekanan pada suara.

Penyanyi asal Belgia tersebut cukup mampu menggoyang panggung JJF dan memanjakan para penikmat musik yang hadir. "Selamat malam," serunya saat menyapa penonton dalam bahasa Indonesia. Sapaan hangat itu disambut sorak sorai dan tepuk tangan para penonton, setelah sempat menunggu sekitar lebih dari setengah jam dari waktu tampil yang telah dijadwalkan.

Selepas itu ia melantunkan ’Woodabee’, yang langsung saja disambut meriah oleh penonton yang hadir. Dilanjutkan ke lagu ‘Vibration’, penonton semakin menggila dan bersorak-sorak ketika lengking vokal Zap Mama menggema di area BNI Stage

.03 Zap Mama IbonkZap Mama (Foto: Ibonk)

 

Penyanyi yang memulai debutnya pada 1991 ini masih saja terus menghipnotis para penikmatnya lewat tampilan selanjutnya ‘Singings Sisters’. Begitulah, Zap Mama mampu mempengaruhi emosi lewat tampilan keren darinya yang sukses membawakan pengaruh musiknya tersebut mendunia.

Silih berganti karya ditampilkan mulai ‘1000 Ways’, ‘Africa Sunset’, ‘Nefertiti’, ataupun ‘Hello to Mama’ yang memiliki pengaruh dani terinspirasi dari musik Hip Hop, Nu-Soul, Jazz dan unsur-unsur pop lainnya. Tak hanya menyanyikan beberapa bait lagu bersama-sama, ia juga mengajak penonton untuk larut lewat goyang ala Afrika yang dipertontonkannya.

 

02 Zap Mama IbonkFoto: Ibonk

Seperti yang disebutkan Marie Daulne disela-sela penampilannya bahwa suara itu adalah instrumen itu sendiri. "Ini instrumen paling asli, instrumen utama. Instrumen yang paling soulful, adalah suara manusia. Menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa Perancis dan Inggris dengan akar musik  african world music. Sangat seksi...,” ungkapnya.

Ia juga cukup piawai mengemas penampilannya seperti membawakan potongan lagu Al Jarreau ataupun memasukkan nafas rock lewat penggalan lagu ‘We Will Rock You’ nya Queen.

Itulah Marie Daulne, ataupun Zap Mama yang seperti yang disebutkannya dihadapan penonton merupakan anak dari seorang ayah Belgia dan ibu Kongo. Ia lahir di Timur Zaire. Beberapa hari setelah kelahirannya ayahnya dibunuh oleh pemberontak Simba, selama krisis Kongo. Tragis memang... Namun, ia tidak mau untuk terus menebarkan kesedihan tersebut, tapi sebuah kegembiraan lewat musiknya yang memikat hati./ Ibonk

Saturday, 04 March 2017 20:24

Kinga Glyk

Menjadi Penutup Malam yang Gaya
 
 
Hujan rintik masih terus mengguyur dibilangan PRJ Kemayoran dilokasi penyelenggaraan Java Jazz Festival 2017 hari pertama kemarin. Jarum jam juga sudah menunjukkan waktu lewat dari pukul 24.00 dini hari. Ketika terdengar lamat-lamat dari Hall C2 cabikan bass dinamis yang cukup menggelitik untuk disimak.  
 
Benar saja, dipanggung yang tak berapa besar tersebut, tampal Kinga Glyk yang masih berusia 19 tahun tengah beraksi bersama sang ayah Irek Glyk yang menemaninya lewat nama Kinga and Irek Glyk.
 
Meskipun usianya masih muda, jangan pernah anggap remeh perempuan satu ini. Bayangkan saja, di belia usia ia sudah bermain dengan banyak musisi berpengaruh dari Polondia seperti: Robinson Jnr, Bernard Maseli, Ruth Waldron, Natalia Niemen, Jorgos Skolias, Apostolis Anthimos, Leszek Winder, Paweł Tomaszewski, Grzegorz Kopolka, Joachim Mencel, Arek Skolik, Mateusz Otremba (Mate.o), Marek Dykta, dan Piotr Wyleżoł.
 
Maka tak heran jika gadis yang sudah memulai karirnya sejak berusia 12 tahun lewat trio keluarga bersama sang ayah Irek dan kakaknya Patrick, Kinga didapuk menjadi bassis muda terbaik Polandia mewakili generasi muda. Mendapat predikat lainnya juga sebagai rising star dari jazz dan musik blues di negara tersebut.
 
02 Kinga Irek Glyk Ibonk
Kinga Glyk ( Foto: Ibonk)
 
Kinga telah bermain lebih dari 100 konser di seluruh negeri dan luar negeri.  Karir studionya dikerjakannya pada bulan Maret 2015, ia merilis album debutnya “Registration” (‘Rejestracja’) yang direkam bersama beberapa nama seperti Natalia Niemen, Joachim Mencel, SMP Robinson dan Jorgos Skolias. Album ini mendapat review yang sangat bagus dari beberapa stasiun radio dan majalah musik Polandia.
 
Albumnya tersebut tidak hanya memainkan komposisi Kinga sendiri, tetapi juga memasukkan beberapa komposisi musisi terkenal dengan aransemen Kinga secara brilian seperti karya  Bob Dylan ‘Gotta Serve Somebody’ yang melantunkan suara Jorgos Skolias, ataupun track ‘Dolaniedola’ dari Czeslaw Niemen. 
 
Februari tahun lalu, Kinga melepas albumnya keduanya “Happy Birthday” yang menyertakan pula seniman terkenal berikut seperti Paweł Tomaszewski, Andrzej Gondek, Kuba Gwardecki dan Ireneusz Głyk. Album ini mendapat sambutan cukup baik oleh media dan para pendengar.
Begitulah, panggung kemarin malam sudah menunjukkan kemampuannya tersebut. NewsMusik  secara tak sengaja juga menemukan Indro Hadjodikoro dan sang istri tengah menikmati kepiawaian Kinga memainkan komposisinya diatas panggung. Atraktif dan sekaligus memikat, dengan banyak melibatkan penonton untuk ikut terlibat dalam penampilannya.
 
03 Kinga Glyk Ibonk
Kinga Glyk (Foto: Ibonk)
 
Begitulah... sekitar pukul 01.00 dinihari, Kinga menutup penampilannya dan di tolak oleh sebahagian besar penonton di Hall C malam itu. Mereka meminta ia untuk memainkan 1 komposisi lagi dan akhirnya setelah bersepakat dengan personil lainnya, Kingapun kembali kepanggung seorang diri dan sembari lesehan di bibir panggung, ia memainkan ‘Tears in Heaven’ milik Eric Clapton yang diikuti koor para penonton yang mengiringinya lewat vokal. / Ibonk
 
Saturday, 04 March 2017 16:18

Java Jive

Persiapan Konser Bareng Dewa 19
 
 
Sudah 24 tahun band asal Bandung, Java Jive yang di gawangi oleh Capung, Noey, Tony, Edwin, Fatur dan Danny ini tetap konsisten dengan mempertahankan personilnya sampai sekarang. Ditemui di acara temu media “90’s Music Harmony-Konser Kangen Yang Terindah” di bilangan Jakarta Selatan (2/3. Dalam pernyataannya, Danny mengungkapkan kelanggengan personil didalam band tersebut lebih dikarenakan takdir. “Ini bagian dari garis hidup kami. Tidak mudah menyatukan masalah ego, ekonomi dan lain-lain dalam sebuah band,” ungkapnya. 
 
Ditambahkannya lagi bahwa, mereka bisa lewati perjalanan panjang selama ini dengan kesadaran dan saling memahami karakter masing-masing personil. “Semua sudah seperti keluarga sendiri”, tambah Danny.
 
Band yang dibentuk tahun 1989 ini oleh Edwin Saleh (drum) dan Noey (bas) yang berasal dari SMA yang sama. Mereka sepakat membentuk group band dengan nama Java Jive yang mengambil salah satu judul lagu kelompok vocal Manhattan Transfer. Kemudian masuklah nama lainnya seperti Micko (gitar), Tony (keyboard), Fatur (perkusi/vokal), Danny (vokal) dan Neta (vokal).  Namun kemudian Neta dan Micko yang posisinya digantikan oleh Capung,  hengkang dari group ini.
 
Band ini  awalnya merintis  sebagai  band café dan sampai saat ini sudah tercatat menelurkan delapan album dan tiga single. Mereka dikenal dengan beberapa lagu hits seperti ‘Gadis Malam’, ‘Permataku’, ‘Gerangan Cinta’, dan ‘Kau Yang Terindah’ namun sempat hilang selama sembilan tahun dari dunia musik tanah air. Alasan terkuat vakumnya mereka pada saat itu karena yang merupakan ‘nyawa’ dari band ini mengalami ketergantungan obat-obatan terlarang. 
 
Syukurnya pada tahun 2008 mereka dapat bangkit kembali dan  merilis album “Stay Gold” dengan single andalannya ‘Hilang’. Namun itu tidak mudah, untuk karena mau tak mau mereka harus merangkak dari awal kembali setelah 9 tahun tidak merilis satu karyapun. Band inipun dianggap sudah ‘mati’, namun ternyata mereka masih mendapat tempat di acara reunian.
 
 
02 Capung Danny Ibonk
Capung & Danny (Foto: Ibonk) 
 
Saat ini, keadaan sedikit berubah dikarenakan banyaknya pihak yang kangen mendengarkan musik di tahun 90an. Mau tak mau nama Java Jive pun mulai kembali terdengar. Banyak pihak yang mengatakan bahwa memang di tahun 90an adalah tahun dimana musik mengalami era terbaik. “Lagu-lagu 90an memang masih ada tempat dihati pendengar musik Indonesia. Buktinya masih  banyak lagu-lagu hits tahun 90an yang masih diputar di radio-radio. Terutama lagu Java Jive. Banyak mami – mami yang menularkan selera musik era mereka kepada anak-anaknya”, ujar Danny.
 
Ditempatkan sebagai salah satu band favorit dan sampai sekarang masih banyak yang menyukai musiknya, membuat mereka mempunyai keinginan untuk berkarya kembali. Ini semua sebagai rasa tanggung jawab mereka terhadap penggemarnya. “Paling tidak kita sudah mempersiapkan dua-tiga single yang nantinya akan di rilis. Kita masih mampu berkarya”, ungkap Danny.
 
Band yang dari awal tetap konsisten membawakan lagu dengan genre pop, jazz ini, walaupun sempat mempunyai keinginan untuk keluar dari zona nyaman mereka namun sampai sekarang tetap tidak akan merubah jenis musik atau aransemen apapun dari musiknya nanti. “Zaman bisa berubah, alat juga bisa berubah, tetapi itu tidak akan merubah kita sebagai salah satu icon musik di tahun 90an. Kita tidak akan merubah apapun, tidak akan menjadi dan melihat dari musik siapapun, karena Java Jive sudah menjadi bagian dari musik kita sendiri, sudah ada segmentasinya masing-masing. Kita sebagian dari band 90an yang masuk ke dalam komunitas band yang masih  ori” ujar Capung.
 
Dipertemukan sepanggung bersama dengan Dewa 19 tanggal 31 Maret 2017 mendatang di The Pallas-SCBD, Java Jive tetap akan menampilkan lagu-lagu terbaiknya dan dikenal nanti pada saat 90an dengan aransemen yang tidak akan dirubah. “Saat ini kami sedang mempersiapkan banyak hal untuk konser nanti. Baik latihan sampai mengkonsepkan live music arrangement, stage act, repertoire lagu, wardrobe serta tidak ketinggalan fisik” jelas Capung. 
 
03 PresConf 90s Music Harmony Ibonk
 PresConf 90's Music Harmony (Foto: Ibonk)
 
“Alhamdulillah sampai saat ini ditakdirkan masih bersama, masih jauh kalau dibandingkan dengan senior kita seperti God Bless yang memang sudah teruji baik dari musikalitas maupun aksi panggungnya. Itu cita-cita kita. Sangat sulit memang untuk kembali dengan membuat hits baru. Artis sekarang menelurkan hits paling banyak cuma tiga lagu, sedangkan kita punya minimum delapan.
 
Itu yang membuat beberapa orang menginginkan kita kembali untuk manggung. Banyak rekan band tahun 90an yang kembali naik lagi, dan sewaktu naik ke panggung mendengarkan beberapa hits memang menyenangkan dibanding dengan artis yang baru,” tutup Capung dan Danny./ YDhew
 
Thursday, 02 March 2017 13:44

Java Jazz Festival 2017

1000 Musisi dan 170 Penampilan

Jakarta International BNI Java Jazz Festival (JJF) ke 13 kalinya sudah final dan segera bergulir. Tetap diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 3,4 dan 5 Maret 2017. Sebanyak 1.000 musisi bakal tampil di festival musik jazz tahunan terbesar di Indonesia tersebut.

Direktur Utama Java Festival Production Dewi Gontha menyebutkan saat ini sebanyak 30% musisi internasional sudah hadir dan akan terus berdatangan. Selama tiga hari ada  1.000 musisi yang terdiri atas 300 musisi internasional dan 700 musisi dalam negeri yang bakal dirangkum lewat 170 penampilan di 14 panggung.

Dari sisi line up, penampilan yang paling ditunggu-tunggu siapa lagi kalau bukan Chick Corea yang pernah meraih Grammy dan Latin Grammy Awards. Corea akan hadir bersama The Chick Corea Elektric Band feat Dave Weck, Nathan East, Eric Marienthal, Frank Gambale, Arturo Sandoval, dan Ne-Yo. Juga tak kalah menarik menyaksikan lagi Sergio Mendes.

Dewi menambahkan, pada tahun ini ada Special Project dan juga Kolaborasi yang akan menghadirkan Tribute To Whitney Houston dan menampilkan Dira Sugandi, Lea Simanjuntak, Ramasean dan Soundwave.

Kolaborasi lainnya adalah, Paulinho Garcia feat. Rega Dauna, Barasuara feat. Ron King Horn Section Endah N’ Rhesa X DUADRUM, dan penyanyi jazz Margie Segers yang akan tampil dengan The Ron King Horn Section.

02 Pieter F. Gontha IbonkPieter F. Gontha (foto: Ibonk)

Diitemui selepas konferensi pers pada , penggagas Java Jazz Peter F. Gontha menyebut akan menampilkan tribute untuk legenda musik jazz yang baru saja berpulang, yakni Al Jarreau. Panggung yang diberi tajuk Tribute To Al Jarreau by MANNA feat. Michael Paulo & Jacky Bahasuan ini akan diadakan pada hari kedua festival ini. “Saya sedih dengan kepergian Al. Dia teman saya. Kami berkawan sejak tahun 1985,” ucap Peter.

Tahun ini  pihak Java Jazz juga mencoba melakukan terobosan baru dalam bentuk tayangan bagi penikmat jazz yang tidak sempat hadir di JJF 2017 ini. Seperti yang dijelaskan Dewi Gontha bahwa mereka telah menyiapkan dan menerapkan teknologi kamera 360 derajat. Nantinya pengunjung website Java Jazz akan dapat menyaksikan kemeriahan acara dari berbagai sudut. / Ibonk

 

Monday, 27 February 2017 09:22

Galih & Ratna

Tetap Berakhir Duka

Di era remaja tahun 80an siapa yang tak kenal Galih dan Ratna, dua sejoli yang menjadi tokoh utama dari novel berjudul “Gita Cinta Dari SMA”, dan dalam filmnya diperankan oleh Rano Karno dan Yessy Gusman. Pasangan ini sempat populer di era tersebut dan masih melekat sebagai ikon sampai sekarang. Film yang dirilis tahun 1979 ini menampilkan cerita tentang kehidupan remaja di SMA dan seluk beluk percintaan remaja.

Di tahun 2017 ini 360 Sinergy Production kembali mengangkat film tersebut ke layar lebar. Galih diperankan oleh Refal Hady dan Ratna diperankan oleh Sheryl Sheinafia dengan disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Ceritanya sendiri merupakan remake dari film sebelumnya dibuat dengan cerita yang lebih milineal, disesuaikan dengan masa kini dengan sentuhan modern.

Diawali dengan hadirnya Ratna sebagai siswi baru disekolah SMA dimana Galih bersekolah juga disana. Ratna berasal dari keluarga berada, memiliki wajah cantik dan gaya remaja millenialis, tentunya tidak kesulitan untuk berbaur dengan temannya di sekolah.

Sejak pertama melihat Galih, Ratnapun tertarik dengan sosok Galih yang pendiam dan pintar. Galih yang lebih suka menyendiri sambil mendengarkan musik dari walkman ini membuat Ratna makin penasaran dengan sosok Galih dan mencari cara untuk bisa lebih dekat dengannya.

02 Galih dan Ratna IstimewaGalih dan Ratna (Istimewa)

Ratna yang memang berbakat dengan dunia musik makin tertarik dengan sosok Galih, dan gayungpun bersambut. Cerita cinta mereka berjalan dengan lancar, sampai akhirnya muncul konflik dikarenakan keterlibatan orang tua masing-masing. Konflik tersebut akhirnya mengharuskan mereka berpisah, dimana keduanya dituntut untuk melanjutkan study dengan pilihan masing-masing.

Blehhh... sama dengan film Galih dan Ratna sebelumnya yang memang tidak happy ending. Tetapi dibedakan lewat alur cerita dimana versi Rano Karno dan Yessy Gusman maksimal dengan adegan khas remaja kala itu. Pada versi sekarang kita hanya melihat pada sosok Galih dan Ratna dari awal sampai akhir saja, sehingga film terkesan membosankan.

Chemistry antara Sheryl dan Refal tidak sekuat pendahulunya walaupun kalau mau berbaik sangka  akting dari keduanya cukup bagus sebagai pemain baru pada industri perfilman tanah air. Editing dari film inipun dilihat kurang halus antara perpindahan dari tempat satu ke tempat lainnya.

Sedikit tertolong lewat kehadiran beberapa musisi papan atas yang mengisi lagu dari awal sampai akhir. Sebut saja antaranya Trio GAC, Rendy Pandugo, White Shoes & The Couple Company, Sore, Audrey Tapiheru dan pemeran utama film ini Sheryl Sheinafia.

Film ini juga membahas bagaimana asyiknya mendengarkan musik dengan menggunakan kaset, dan juga menampilkan fisik dari kaset beserta tape-nya yang sulit dijumpai pada era digital saat ini. Elemen musik di film ini sangat kuat dihadirkan. Penasaran ingin kembali bernostalgia dengan sosok Galih dan Ratna? Film ini siap menebar cinta di bioskop mulai tanggal 9 Maret 2017. Tapi jangan harap menemukan sosok Galih dan Ratna versi Rano & Yessi./ YDhew

 


Tuesday, 28 February 2017 19:00

Rossa

Gelar Konser Tunggal

Penyanyi mungil berdarah Sumedang kelahiran 9 Oktober 1978 ini memiliki segudang prestasi. Sampai saat ini saja, sudah tercatat 130 hits yang pernah dikeluarkan Rossa dan hampir 85% sudah dibuatkan video klipnya. Penjualan fisik berupa CD pun bisa dibilang fantastis dengan penjualan diatas 10 juta copy sejak karirnya di dunia musik tanah air.

Rossa yang  mulai dikenal publik sejak meluncurkan album “Nada-Nada Cinta” ini baru saja merilis single terbarunya di Singapore tahun 2017 yang berjudul ‘Body Speak’ sebuah lagu yang berbahasa Inggris dan diciptakan oleh 3 musisi handal asal Amerika (Steve Shebby, Joleen Belle dan Michelle Buzz) dan proses rekamannya dilakukan di Amerika. Single ini juga akan ditampilkan  di acara MTV Asia Spotlight yang ditayangkan sampai ke Jepang, Taiwan, China dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Penayangan video klip lagu ini juga akan ditayangkan oleh MTV Asia, Rossa pun menjadi artis Indonesia yang tampil pertama kali di MTV Asia Spotlight.

21 tahun karirnya di dunia musik, Rossa sempat jenuh dan berkeinginan untuk hijrah ke luar negeri meninggalkan hingar bingarnya dunia hiburan di tanah air dan memilih untuk berbisnis. Namun keinginannya itu urung dilakukan dikarenakan tidak mendapatkan dukungan dari keluarga maupun orang tua.

“Aku hampir pingin pindah ke luar negeri di akhir tahun 2016, memulai bisnis disana. Kepingin jadi orang biasa aja karena dasarnya memang aku suka bisnis. Sudah milih-milih tempat malah di Sydney”, ujar Rossa sambil tertawa.

Semangatnya kembali bangkit berkat dukungan orang tua dan juga kawan-kawan musisi yang selama ini mendukung karirnya terutama di bidang musik. Semakin kokoh setelah menyabet penghargaan kembali di tahun 2015 kemarin. Di tengah karirnya yang tidak pernah surut, merayakan 21 tahun berkarya, Rossa kembali berkeinginan mengulang kesuksesan konser tunggalnya. Menggandeng Jay Subiyakto  sebagai Art Director dan Tohpati sebagai Music Director, Rossa kembali akan menggelar konser tunggal di Jakarta.

02 Rossa YDhew

“Sebagai penyanyi yang talented dan menjaga eksistensi di dunia musik, sudah sepatutnya Rossa menggelar kembali konser tunggal. Artis itu kalau mau eksis harus berkonser, karena situasi di dunia musik saat ini tetapi juga harus didukung dengan cara yang baik, misalnya tidak lip sync dan lain-lain. Karena berkesenian adalah untuk mendukung kebudayaan, jadi jangan dibatasi oleh peraturan-peraturan yang membebani untuk musik Indonesia”, jelas Jay sewaktu ditemui di All Seasons Hotel,  Thamrin, Jakarta Pusat.

Design panggung, media visual dan video nantinya tidak akan diulang apa yang kita buat dulu, masih kita godog bersama Tohpati. Yang jelas berbeda dari konser Rossa sebelumnya”, tambah Jay. Konser yang bertajuk “The Journey of 21 Dazzling Years” ini akan dikemas secara glamour dan megah dengan dukungan tata suara, cahaya dan artistik yang berbeda.

Di konsernya nanti Rossa akan membawakan sekitar 20 lagu yang di aransemen oleh Tohpati “Rossa ini adalah artis yang besar. ini menjadi tantangan tersendiri buat saya apalagi lagu-lagu Rossa hampir semua selalu jadi hits jadi tidak terlalu sulit untuk memilih lagu. Lagu diakan memang dikenal lagu yang selalu sifatnya patah hati, jadi bagaimana nantinya membuat lagu-lagunya dibuat lebih seragam dan berbeda dengan konser sebelumnya, cantik tapi elegan”, jelas Tohpati./ YDhew

Page 19 of 121