NewsMusik

NewsMusik

Tuesday, 01 November 2016 10:00

Harry Koko Santoso

Bicara Tentang Masa Depan Industri Musik dan Peran Pemerintah

Bulan Oktober ini ada dua perhelatan musik yang mendatangkan begitu banyaknya group band/ musisi yang ditampilkan. Ada Synchronize Fest yang digelar di Pasar Gambir Kemayoran, Jakarta yang mengetengahkan lebih 100 dari group. Digelar dalam 3 hari dari 28, 29, 30 Oktober 2016 kemarin. Sementara jauh hari sebelumnya sudah digelar Konser 1000 Band, yang menghadirkan lebih dari 1000 band/ musisi yang memeriahkan Pekan Raya Indonesia di ICE, BSD, Tangerang, dihelat dari tanggal 20 Oktober sampai 6 November 2016 mendatang.

Pertanda apakah ini? Inikah kebangkitan musik dalam negeri? Seperti beberapa statement yang NewsMusik dengarkan dari beberapa pemerhati musik tanah air. Bahwa ini merupakan geliat bagus bagaimana sebenarnya semangat musik Indonesia. Inilah potret sebenarnya, bahwa industri musik tidak mati.  

Hal senada, NewsMusik dapatkan juga takkala memenuhi undangan dari Deteksi Production yang disamping membidani Konser 1000 Band juga mengadakan sebuah diskusi musikal bertajuk “Potensi dan Masa Depan Musisi Indonesia”. Diskusi yang berlangsung santai dengan menghadirkan Harry Koko Santoso atau lebih karib disapa Koko Deteksi, Ferdy Element, Astrid, dan Hyang I Mihardja (General Secretary PRI2016) di Media Room, ICE BSD, pada Sabtu sore (29/10).

Kita skip dan mungkin fokus saja dengan apa yang disampaikan oleh Koko Deteksi, selaku promotor di banyak festival musik lewat Deteksi Production yang dibangunnya pada tahun 1997 silam. Dalam pandangannya terhadap topik yang dibahas, Koko sepertinya tidak begitu setuju bahwa potensi musik di Indonesia dianggap melorot.

“Secara kuantitas, jumlah seniman musik di Indonesia sangat banyak. Kalau kita ambil contoh, anggaplah 1 Kabupaten minimal ada 10 kegiatan musik setiap hari.  Maka kita punya 5.500 atau sebanyak 1,7 juta kegiatan musik setiap hari di seluruh Indonesia. Coba kalikan setahun? Nah apa kita percaya di satu Kabupaten hanya ada 10 band? Bayangkan banyaknya kegiatan musik yang terjadi di tanah air ini,” urainya membuka perbincangan.

Koko percaya, jika saat ini Pekan Raya Indonesia berani menggelar Konser 1000 Band di Jakarta, maka bisa saja hal yang sama dilakukan di 34 provinsi lain di Indonesia, untuk mengadakan hal serupa. Dari banyaknya band dan kegiatan musik yang dilakukan di Indonesia tersebutlah, yang menjadikan Koko menganggap kalau Konser 1000 Band yang dilakukannya ini bukanlah sebuah hal besar. Semua tinggal kepada niat untuk menciptakan peluang tersebut.

02 Harry Koko Santoso IbonkHarry Koko Santoso (foto: Ibonk)

“Bukan merupakan hal sulit bikin konser 1000 band di 34 provinsi. Yang susah itu keingiannya, kepeduliannya. Kita secara hitungan kasar memiliki lebih dari 100 ribu band di tanah air ini,” optimisnya.

Diluar itu, Koko yang mengaku hidup dan dihidupkan oleh musik melihat bagaimana potensi musik sendiri merupakan angka yang cukup seksi untuk dilirik. “Memang ada musisi Indonesia yang dibayar 100 ribu dollar? Saya nggak pernah dengar sampai hari ini. Penyanyi asing yang datang ke Jakarta ada jutaan. Contoh sekelas Salena Gomez dibayar ratusan ribu dollar sekali tampil, ini bukan bisnis kecil. Hitung saja, Amerika memiliki berapa banyak penyanyi sekelas itu? Bayangkan bisnis musik yang terjadi setiap harinya, berapa juta dollar yang mereka dapat. Kalau dikalikan setahun sudah berapa? Jadi jangan heran, kalau sekarang orang lebih sering membicarakan musik dari bisnis apapun, termasuk bisnis senjata”.

Walau terkesan tak begitu kentara, namun tergambar jelas ada kegalauan dalam hatinya melihat fenomena industri dunia hiburan di tanah air. Bagaimana bisa, negara yang memiliki potensi musisi yang mencapai ratusan ribu dan cukup baik dari segi kuantitas maupun kualitas, namun tidak mampu bicara secara internasional. “Ada yang salah dengan hal ini, mungkin karena kita baru 71 tahun merdeka. Jadi belum bisa dibandingkan dengan Amerika dan negara maju lainnya yang sudah merdeka ratusan tahun,” bujuknya.

03 Harry Koko Santoso IbonkHarry Koko Santoso (foto: Ibonk)

Lalu bagaimana dengan peran pemerintah? Menurut Koko, pemerintah tak perlu turun tangan, tapi tetap harus perlu peduli. Karena industri musik itu berbeda. Tak perlu biaya infrastruktur yang mahal seperti industri lainnya, karena kalau ditilik secara benar bahwa potensi utama dari karya musik adalah kreatifitas dan prestasi musisinya. Maka yang diperlukan dari pemerintah adalah kebijakan super untuk iklim berkesenian di Indonesia.

Harusnya, Republik ini cukup paham dan mau terlibat langsung untuk mengembangkan sampai batas maksimal potensi pelaku industri musik ini. Seperti Korea misalnya, yang pemerintahnya total terlibat di industri ini dari hulu ke hilir. Hasilnya? Kita bisa lihat sendiri, bagaimana serbuan K-Pop tidak terbendung lagi. Bagaimana Amerika dan negara-negara pemegang kunci bisnis hiburan, harus  dengan berat hati mengakui budaya baru  ini.

Balik lagi ke soal peran pemerintah terhadap industri musik di tanah air. Meminjam apa yang disampaikan oleh pengamat musik yang juga jurnalis, Budi Ace, bahwa sebagai salah satu sektor utama dari 16 sub sektor ekonomi kreatif yang menjadi perhatian pemerintah Indonesia melalui BERKAF (Badan Ekonomi Kreatif) adalah memberikan dukungan finansial yang merupakan faktor penting bagi menggeliatnya industri musik Indonesia.

Yang bikin melongo, bagaimana BERKRAF sendiri terkesan tidak begitu sensitif untuk melihat ini sebagai sebuah event yang harus dibantu. Kenapa? Semua merujuk dari apa yang disampaikan oleh pihak Pekan Raya Indonesia 2016 sebagai payung besar Konser 1000 Band ini. Bahwa keberadaan mereka disamping menampilkan musik, pameran kuliner dan industri kreatif lainnya diusahakan dari kocek sendiri.

04 Harry Koko Santoso IbonkAndai saja 30% dari biaya produksi Konser 1000 Band bisa ditalangi oleh pemerintah melalui BEKRAF, maka geliat acara semacam ini akan terselenggara dengan leluasa, lebih besar dan jangkauannya meluas ke seluruh pelosok negeri. Ini bermakna bahwa, segenap elemen dalam masyarakat termasuk pemerintah seharusnya memang urun-rembug untuk menduniakan industri kreatif bernama musik ini.

Koko juga mengungkapkan, bahwa Konser 1000 Band yang fenomenal ini, sebagian besar hanya diikuti oleh musisi dari wilayah Jawa. Karena panitia hanya menyiapkan honor, biaya konsumsi dan akmodasi angkutan darat saja. Maka jika ada musisi dari luar Jawa, maka transportasi udara harus mereka siapkan sendiri. Tanpa dukungan finansial dari sponsor, mustahil kendala tersebut bisa diantisipasi.

Koko juga beramsumsi, jika saja memang BEKRAF memiliki anggaran untuk kegiatan konser musik, ada baiknya memang diberikan kepada pihak swasta untuk mengelolanya agar kelak industri musik Indonesia bisa tampil dan bicara di tingkat dunia. Atau kalaulah memang tanpa dana dari pemerintah, harusnya ada pihak swasta yang berani menginvestasikan dananya ke sektor ini, termasuk penyelenggaraan konser musik. Karena, menurutnya, inilah bisnis yang bisa menghasilkan keuntungan berlipat-ganda dari modal, jika dikerjakan dengan serius dan profesional secara rutin, tak hanya di Jakarta tapi di semua tempat di nusantara ini./ Ibonk

 

Friday, 28 October 2016 14:27

Young Lex

Kolaborasi Bersama Gamaliel

Samuel Alexander Pieter atau lebih tenar dengan nama popnya Young Lex, telah menjelma menjadi seorang rapper yang cukup berpengaruh di peta musik Indonesia. Kredibilitasnya dibuktikan dengan terpilihnya lagu ‘O Aja Ya Kan’ yang masuk dalam kategori nominator Karya Produksi Rap/ HipHop Terbaik di ajang penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2016.

Kemampuannya untuk menumpahkan segala ide dan rasa lewat musik rap, tak luput dari peran YouTube.  Secara otodidak, Lex menemukan teknik merangkai kata cepat, lalu mendalami standar rap dan belajar dari lagu yang didengarnya lewat YouTube tersebut. Sejak itu mulailah Lex mengulik dan mengadaptasi lewat rumus yang didapatnya tersebut dan mencoba meng-combine dengan lagu  yang dia nyanyikan.

Musik hip hop yang bebas dan lebih banyak makna serta pesan yang bisa disampaikan membuat Rapper dan YouTuber berbakat ini tak berhenti membuat karya. Lex yang percaya bahwa bakatnya di dapat dengan cara berlatih secara terus menerus ini, semakin mencintai genre musik Hip Hop.

Sukses lewat kolaborasinya dengan Awkarin yang diunggahnya di YouTube, Lex kembali membuat single terbarunya yang berjudul ‘Slow’ dengan menggandeng salah satu personil GAC, Gamaliel yang berlatar belakang penyanyi R&B.

02 Young Lex YDhewYoung Lex (foto: YDhew)

Gue ajak Gamal, karena satu karakter, sama-sama suka R&B dan Hip Hop. Gue suka semua karya yang dia ciptakan. Kedengarannya fresh banget”, jelasnya saat ditemui pada peluncuran single-nya di Aruba, Pasar Raya, Jakarta (27/10).

Lagu ‘Slow’ yang memiliki lirik campur antara Inggris dan Bahasa ini, kental dengan nuansa R&B dikolaborasikan dengan Hip Hop diciptakan langsung oleh Young Lex, Gamaliel bersama Tatsuro Miller dan Kieran Kuek yang dikenal sebagai music producer di Malaysia. “Ini Gamaliel banget vokalnya, maka lagu ini lebih berwarna dari lagu-lagu gue sebelumnya” tambah Lex.

“Ciptainnya bareng-bareng, 50:50 pembagiannya, jadi nggak ada yang dominan”, ungkap Gamaliel.

Saat ini musik Hip Hop Indonesia terlihat makin subur dan semakin dikenal di masyarakat. Lewat kolaborasi ini, Young Lex berharap lagu ini dapat diterima masyarakat luas dan bisa turut memajukan dunia musik Rap/ Hip Hop Indonesia./ YDhew

03 Young Lex & Gamaliel YDhewYoung Lex & Gamaliel (foto: YDhew)

 

Thursday, 27 October 2016 16:59

Sanmig Light Summerfling

Musik Elektronik dan Serbuan Partygoers

Setelah sukses menyenangkan partygoers di Immigrant dan O2, Jakarta pada pekan silam, selanjutnya Sanmig Light sudah menyiapkan kembali keriaan lanjutannya dengan menggelar roadshow di Bali. Pesta di pulau Dewata ini akan diselenggarakan dalam 3 babak yakni 28 Oktober, 30 Oktober dan 6 November mendatang.

Roadshow SanMig tersebut bakal dipanaskan dengan perpaduan musik elektronik yang menarik  untuk diikuti. Puncak acaranya, Sanmig Light akan diakhiri dengan penampilan The Hydrant, yang merupakan band kawakan asli Bali.

Menurut Brand Manager Sanmig, Jaka Sebastian bahwa rangkaian acara ini akan menampilkan banyak kejutan yang tentunya akan menyenangkan para partygoers. “Welcome to Sanmig Light Summerfling, siapkan diri kamu untuk menjadi bagian dari rangkaian party roadshow ini. Akan banyak miracle will happen on this event,” janjinya.

Jaka menambahkan bahwa Sanmig Light sangat ingin partygoers menikmati event itu bersama orang-orang terdekat dan menjadikannya sebagai momen istimewa. “Momen bersama sahabat adalah happy hour. Sudah sepatutnya akan menjadi momen yang terjadi di setiap jam setiap hari.”

02 The Hydrant IstimewaThe Hydrant (foto: Istimewa)

Every hour is happy hour, is it right? Kita harus percaya momen kegembiraan weekend tidak akan pernah selesai. Akan berlanjut terus-menerus dalam hidup kita,” imbuhnya.

Sebelumnya, Sanmig Light roadshow party event sudah menghentak Jakarta lewat tema “Summerfling” pekan lalu. Ratusan pengunjung di Immigrant dan O2, sudah dibuat  bergembira. Sederetan DJ ternama seperti  Anto Polski, Gowik, Fadlie, Lucky Wijaya, Micko, Cream & Tanzel sukses membakar para partygoers dan menambah kemeriahan acara tersebut./ Ibonk

03 Sanmig Light Summerfling IstimewaSanmig Light Summerfling (foto: Istimewa)

 

Tuesday, 25 October 2016 15:28

Rossa

Siap Tampil di Ajang 21st Asian Television Awards

Penyanyi mungil yang bernama asli Sri Rossa Roslaina Handayani atau yang biasa disebut Rossa ini dipastikan akan hadir di ajang  Asian Television Awards di Singapura. Asian Television Awards ini adalah ajang penghargaan bagi program dan insan pertelevisian yang berprestasi di wilayah Asia.

Berbicara mengenai kehadirannya ke ajang penganugerahan, Rossa mengatakan bahwa dirinya sebagai seorang artis Asia, bangga dan merasa terhormat dapat tampil di ajang  21st Asian Television Awards. “Saya merasa terhormat diberi kesempatan untuk tampil di atas panggung bergengsi ini, dimana acara ini merupakan perayaan bagi insan terbaik televisi Asia”, ucap Rossa.

20 tahun sudah Rossa berkarier di industri musik, Rossa selalu eksis dan berada di jajaran artis top Indonesia, Malaysia, dan Singapore. Gelar Diva Indonesia pun telah ia raih seiring dengan popularitasnya yang tidak hanya di Indonesia, namun hingga ke Malaysia, Brunei dan Singapura. Bahkan Rossa mendapat gelar kehormatan Dato' dari kerajaan Pahang, Malaysia.

02 Rossa IstimewaRossa (Istimewa)

Beberapa kali meraih penjualan CD terbanyak untuk album yang direlease-nya, Bulan Juni lalu, Rossa merilis single terbaru yang berjudul ‘Jangan Hilangkan Dia’ yang juga merupakan OST Film ILY from 38,000 Feet. Rossa yang akan tampil di Asian Television Awards 2016 akan sepanggung dengan Charli XCX, penyanyi pop fenomenal asal Inggris  dan selebriti Asia lainnya seperti JJ Lin, Adrian Pang, Stephanie Carrington, Alden Richards dan Baki Zainal.

Bagi penggemar Rossa 21st Asian Television Awards  akan ditayangkan secara langsung dari Suntec Singapore Convention & Exhibition Centre, lantai 6, pada hari Jumat, 2 Desember 2016 oleh salah satu stasiun TV swasta di Indonesia./ YDhew

 

Tuesday, 25 October 2016 15:07

Marlupi Sijangga

Legenda Hidup Ballet Indonesia

Energik, lincah, penampilan yang selalu riang dengan rambut pendeknya membuat sebagian orang tidak percaya bahwa di usianya yang memasuki usia 79 ini masih mantap langkah kakinya dalam mengajar tari. Marlupi Sijangga adalah seorang pendiri akademi tari terbesar dan tertua di Indonesia dengan nama Marlupi Dance Academy. Dirinya adalah salah satu dari sekian institusi tari dan seniman tari yang mencetuskan berbagai macam event tari di Indonesia.

Sejak usia 15 tahun Marlupi Sijangga mulai tertarik dan belajar ballet, karena dirinya memperhatikan anak-anak keturunan Belanda yang belajar menari di sekolah ballet “Tegal Sari” pada tahun 1952 lewat gurunya Mrs. Zahller yang berasal dari Belanda.  Marlupi merupakan salah satu penari Ballet dari Indonesia yang memulai belajar ballet di sekolah tersebut.

Diusianya yang masih sangat muda, pada tahun 1956, Marlupi Sijangga membuka sekolah ballet sendiri di Bon Becak Bungurun dengan nama “Marry”. Dengan dana yang terbatas, walau belum mampu membeli kaca dan bar (bentangan besi untuk bersandar kaki dan tangan balerina) di tempat sederhana tersebut dia mengajar.

Pada saat itu, Marlupi memperhatikan bahwa sekolah balet lain memiliki guru dengan kemampuan mengajar yang sederhana dan teknik yang kurang baik, sehingga dia terpacu untuk mendirikan sekolah walaupun usianya saat itu masih belasan tahun. Selain belajar secara otodidak, Marlupi juga mengembangkan kemampuannya dalam mengajar balet dengan mengikuti kursus di beberapa negara seperti Hongkong, Zurich, Madrid, New York, London, dan Kanada.

02 Marlupi & MDA IstimewaMarlupi & MDA (Istimewa)

Beberapa penghargaanpun pernah diterima Marlupi atas karya dan kerja kerasnya di bidang seni tari balet adalah Best Executif Award dari Singapura (1982), Adhi Karya Award (1993), dan Penghargaan Karier dan Prestasi Pria wanita (1996).  Termasuk  berbagai juara ballet di Sydney-Australia, juara I & II Juara I & II Ballet and Jazz Dance Competition di Tremaine Dance Competition, New York City. Memperoleh penghargaan (berpenampilan terbaik) The Best Performance dan sekaligus memperoleh penghargaan beasiswa untuk mengikuti “Summer School” USA, dan masih banyak lagi kejuaraan yang diikutinya.

Seiring berjalannya waktu, di tahun 1970, sesuai nasehat dari kepala Bidang Kesenian dan Kebudayan (Moelyono Suryopranomo), sekolah ballet Marry berubah nama menjadi “Marlupi Dance Academy (MDA)” bertempat di Trimurti dan Simulawang. Hasil kerja kerasnya selama 59 tahun telah menghasilkan banyak penari dan pengajar dengan standar Internasional.

Langkah Marlupi Sijangga dalam perkembangan dunia tari di Indonesia tak hanya berhenti sampai disini saja, Marlupi pun mewariskan bakatnya kepada anaknya, Fifi Sijangga dan cucunya  Claresta Alim dengan mendirikan “Indonesia Dance Company (IDCO)” sebagai suatu wadah profesional dalam pengembangan potensi tari dan karir sebagai profesi yang menjanjikan dan memiliki banyak prospek yang baik.

Sebagai sebuah institusi Fifi Sijangga sebagai Executive Director IDCO yang juga menjadi salah satu Pengelola Marlupi Dance Academy dibantu oleh banyak profesional dibidang tari dalam menjalankan IDCO seperti Marlupi Sijangga yang menjadi Patron, Claresta Alim sebagai Founder & Artistic Director, Rita Rettasari sebagai Technical Director, Yuniki Salim sebagai Creative Director, Leonny Ariesa sebagai Managing Director,  dan Jonatha Pranadjaja sebagai Ballet Mistress.

“IDCO menggunakan ballet klasik sebagai fondasi dalam pelatihan karena teknik di dalam tari ballet merupakan dasar yang kuat untuk menarikan berbagai jenis tarian lainnya. Teknik tersebut sudah melingkupi kelenturan tubuh, kekuatan menggunakan otot dan garis tubuh yang indah dan benar, musikalitas, serta mengandung nilai estetika dan artistik yang tinggi” jelas Fifi Sijangga.

03 MDA IstimewaMDA (Istimewa)

Claresta Alim juga mengutarakan sebagai akademi yang mewadahi para seniman tari d Indonesia IDCO hadir dengan koreografer dan para penari pilihan yang memiliki dedikasi tinggi di dunia tari Indonesia dengan pencapaian dan pengalaman yang luas di bidangnya. Diantara koreografernya adalah; Claresta Alim, Jonatha Pranadjaja, Siti Soraya, dan Michael Halim. Serta penari yang tergabung dalam IDCO diantaranya; Chailiessa Purnama Yosaputra, Cindy Kwan, Dheidra Fadhillah, Irene Aryanto, Leonny AriesaMaria Linsy Ariani, Michael Halim, Nadia Mulyono, Regita Marvela Pangalila, Resti Oktaviani, Siko Setyanto, Siti Soraya.

Pada tanggal 1 Oktober 2016 lalu, IDCO pun sukses mengadakan event bertema “WE DANCE” yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Jakarta. Dalam pertunjukan tersebut, IDCO dan menampilkan beberapa jenis tarian dengan Claresta Alim sebagai Artistic Director serta Siti Soraya Thajib, Siko Setyanto dan Claresta Alim sebagai koreografer. Pada tanggal tersebut juga merupakan awal terbentuknya/ berdirinya IDCO yang bisa menjadi sebuah karya yang dapat diterima oleh semua orang.

‘Ballet is my life, jalani hidup dengan semangat. Saya akan menari ballet sampai Tuhan tidak mengizinkan lagi”, tutup Marlupi dengan senyumnya yang tak pernah lepas dari wajahnya. / YDhew

04 MDA IstimewaMDA (istimewa)

 

Tuesday, 25 October 2016 14:58

Korea Indonesia Film Festival 2016

Menghadirkan 20 Judul Film

Saat ini merupakan keempat kalinya Korea Indonesia Film Festival (KIFF) 2016 digelar, yang merupakan kerjasama CGV blitz dengan Korea Cultural Centre Indonesia (KCCI). Event ini juga sebagai wujud dari kerjasama & ajang pertukaran budaya serta cultur perfilman masing-masing negara acara ini kembali di hadirkan untuk masyarakan Indonesia.

Dalam perhelatannya selama 5 hari, KIFF 2016 akan menghadirkan 20 judul film dengan 13 Judul film Korea, 2 judul special Art, dan 5 Judul film Box Office Indonesia. Opening Ceremony diadakan di CGV blitz Grand Indonesia pada hari ini 26 Oktober 2016 dan beberapa lokasi lainnya akan memulai pemutaran dihari yang sama hingga 30 Oktober 2016.

KIFF 2016 akan dimulai pada 26 Oktober sampai 30 Oktober 2016 di 6 lokasi CGV blitz yang ada di Jakarta maupun di kota-kota lainnya yakni di  Grand Indonesia, Jakarta, Teraskota BSD, Tangerang, Festive Walk, Karawang, Bandung Electronic Centre, Bandung, Marvell City, Surabaya dan Sahid J-Walk, Yogyakarta.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, opening ceremony KIFF juga menghadirkan aktor dan aktris dari Korea Selatan. Tahun ini KIFF mendatangkan Kim In Kwon yang didampingi aktris Indonesia, Julie Estelle. Pada KIFF  2016 ini, permainan sang aktor kawakan Kim In Kwon dapat disaksikan dalam perannya pada film “The Himalayas”.

KIFF 2016KIFF 2016 (istimewa)

Beberapa judul film yang akan diputar di KIFF 2016, selain The Himalayas antara lain “The Age Of Shadows”,”, “One Way Trip”, “Time Renegades”, ”Train To Busan”, dan “Seondal: The Man Who Sells The River”, sedangkan film-film tanah air akan diwakili oleh “Aisyah Biarkan Kami Bersaudara”, “Filosofi Kopi”, “Jilbab Traveler : Love Sparks In Korea”, “Sabtu Bersama Bapak” dan “ILY From 38.000 Feet”./ Ibonk

 

Friday, 21 October 2016 10:39

#Y2Kustic

Kompilasi Lagu Tahun 2000-an

Mengangkat kembali karya-karya lama adalah hal yang lumrah dilakukan. Apalagi jika karya-karya tersebut memiliki nilai historis tersendiri. Seperti yang dilakukan oleh Sony Music Indonesia yang mencoba mengangkat kembali lagu-lagu tahun 2000-an yang pernah hit. Tentunya tak tampil polos, tapi lewat aransemen ulang dengan format akustik dan dibawakan oleh penyanyi-penyanyi muda generasi millennial.

Lewat album yang bertajuk #Y2Koustic, mencoba menawarkan sensasi bernostalgia dengan cita rasa dan kemasan musik masa kini. Album yang dikemas lewat kumpulan 10 lagu ini menampilkan para penyanyi popular yang berada dibawah payung Sony Music, seperti Isyana Sarasvati, Fatin Shidqia, Theovertunes, GAC, Rendy Pandugo, Tasya Kamila, Soulvibe, Karina Salim, Nadya Fatira dan Rafael Tan.

Di luar dari membicarakan target penjualan, rilisnya album ini diharapkan bisa mewarnai kembali industri musik tanah air. Apalagi bagi yang rindu akan lagu-lagu hit lama, yang dibawakan kembali dalam versi akustik secara apik. Selain itu tentunya untuk melestarikan musik Indonesia yang pernah merajai tangga lagu di dalam negeri.

“Album #Y2Kustic ini diisi oleh deretan penyanyi bertalenta, juga lagu-lagu yang berkualitas. Kami yakin #Y2Kustic mejadi album yang diminati oleh pecinta musik Indonesia,” jelas Rachmad Husnianto, Finance and Commercial Director Sony Music Entertainment Indonesia pada saat launching album ini di Kemang, Jakarta Selatan.

02 Rendy Pandugo RizalRendy Pandugo (foto: Rizal)

Sebagai contoh misalnya single ‘Salahkah Aku Selalu Mencintaimu’ yang pada 2003 lalu menjadi hit dan  dipopulerkan oleh Duo Ratu. Kini lagu tersebut dihantarkan dengan manis oleh Fathin Shidqia, setelah sebelumnya diaransemen ulang dan diproduseri oleh Stephan Santoso.

Atau yang masih asyik untuk disimak adalah lagu ‘Sebuah Kisah Klasik’ milik So7.  Lagu ini kembali dinyanyikan oleh, Rendy Pandugo diiringi kepiawaiannya bermain gitar.  Dalam perjalanannya, Rendy telah merebut hati para pengemar musik dan menjadikan lagu ini top airplay di radio-radio.

Lagu-lagu lainnya yang dapat disimak dalam album kompilasi ini adalah, ‘Tiada Kata Berpisah’, ‘Dahulu’, ‘Jauh’, ‘Begitu Indah’, ‘Jangan Takut Gelap’, ‘Kuterimakan’, ‘Dalam Hati Saja’ dan ‘Belum Saatnya (Berpisah)’./ Rizal

 

Wednesday, 19 October 2016 15:19

Group Rock 70’an

Mau Dibawa Kemana Lagi?

Gaung pesta musik Jumpa Kawan Lama menyisakan obrolan santai. Walaupun santai sebenarnya ini kritikan pedas juga bagi pihak penyelenggara. Selain sound system yang payah, JKL 2016 tetap dianggap sebagai sebuah acara yang luar biasa. “Tapi sound system nya hancur lebur," ucap Roi Rahmanto, kolektor musik 70'an yang paling lengkap di negeri ini.

"Mengapa tidak pakai jasa DSS atau yang dari Bandung? Keduanya langganan Java Jazz. Sering juga dipakai untuk konser musik rock," tambah Benny.

Dari segi penampilan para musisi-musisi 70'an pun tak luput dari sorotan. Bahkan sobat Fauzie Djunaedi, secara terang-terangan menulis komentar, "Kalau 'stage act' The Minstrel's begitu-begitu saja, mungkin dalam 2 atau 3 show berikutnya bakal stagnant".

Atau mungkin faktor usia yang membuat mereka melempem? "Gak juga kok, buktinya Bonny, Donny & Fancy Jr bermain bagus sekali. Mereka bisa membuat sebagian penonton yang berada dibagian depan ikut berjingkrak. Katakanlah Bonny naik panggung dalam keadaan teler... tapi yang jelas dia betul-betul entertainer”, sambungnya lagi.

02 JKL 2016 Djajusman ErlanggaJKL 2016 (foto: Djajusman Erlangga)

Yang pasti mereka yang berduyun-duyun datang ke Kemang Village, selain untuk bertemu kawan-kawan lama, juga untuk menikmati persembahan musik dari Bigman Robinson yang di tahun 70'an terlihat garang. "Maxi Gunawan kalau nyanyi sambil memainkan keyboard. Tubuhnya selalu bergerak kesana kemari dengan busananya yang menyolok beda sendiri. Berpantalon dua warna, bajunya hippie banget," kenang Ira.

Sedangkan Gipsy tak ada perubahan, "Waktu ada Atut Harahap, Gipsy bagus sekali. Setelah itu mereka kayak anak Menteng yang baik-baik perilakunya. Kita-kita datang bukan cuma sekedar buat kumpul mendengar lagu yang dikenal. Tapi juga buat menonton anak-anak  band 70'an itu beraksi seperti dulu lagi. Karena kalau mainnya cuma segitu-gitu saja, grup rock 70'an itu mau dibawa kemana lagi?"

Nah looooo???/ Buyunk Aktuil

03 JKL 2016 Djajusman ErlanggaJKL 2016 (foto: Djajusman Erlangga)

 

Tuesday, 18 October 2016 15:08

Demam JKL 2016

Berlanjut ke Back to Rock of 70’s

Pesta musik Jumpa Kawan Lama (JKL) 2016 yang digelar di Avenue of The Stars, Kemang Village, Jakarta Selatan telah 1 bulan berlalu. Ternyata gaungnya masih terus terasa terasa hingga hari ini. Terbukti masih menjadi bahan obrolan dikalangan 70’an betapa hebohnya acara tersebut.

Setiap kali bertemu dengan sobat - sobat Aktuilers, semua memberikan pujian dan kritiknya. Banyak pendapat yang mengatakan kalau dari segi acara patutlah diacungi jempol. Namun agak berbeda tanggapan mengenai tata suara. Hampir kompak mengatakan ketidak puasannya. Mereka rata-rata kecewa berat apapun alasannya.

"Aku salut Aktuil The Legend bisa mengumpulkan banyak orang generasi 70'an. Semoga event berikutnya bisa lebih bagus dengan sound system yang dahsyat," ungkap Seno M Hardjo yang sempat memberikan pendapatnya.

Diluar dari banyak pendapat mengenai gelaran JKL 2016 kemarin, pihak penyelenggara sepertinya panas hati atas banyaknya permintaan agar acara tersebut dibuat reguler. Maka rencanapun dibuat, dan setelah beberapa kali mengadakan pertemuan akhirnya disepakati untuk mengemas acara bertajuk “Back to Rock of 70’s”.

Tempatpun sudah ditentukan yakni di Toba Dream Cafe, Jl Dr. Sahardjo No. 90, Jakarta. Gelaran perdana bakal menampilkan Fancy Jr, The Minstrel's dan Bigman Robinson pada tanggal 25 November 2016. Dijadwalkan pada sesi bulan berikutnya bakal tampil Gipsy, Flower Poetmen dan Freedom of Oyeck.

02 Sys NS & Jelly Tobing IbonkSys NS & Jelly Tobing (foto: Ibonk)

Tim repot JKL 2016 pada dasarnya sangat mengharapkan agar Toba Dream Cafe bisa menjadi tempat bagi penggemar, penikmat musik-musik rock 70'an yang kini mulai bergairah kembali sejak pesta musik JKL 2016. Apalagi saat ini Toba Dream sendiri baru selesai direnovasi dan mampu menampung pengunjung lebih kurang 300 orang.

Masih dalam cakupan yang sama, dari kubu The Minstrel's, begitu dipastikan bakal tampil pada acara Back to Rock of 70's, Jelly Tobing langsung mengadakan persiapan. Dirinya langsung menyiapkan studio pribadinya untuk dipakai latihan mulai hari Senin mendatang. Menurutnya, lagu-lagu yang bakal dilatih sudah disiapkan oleh Fadil Usman. "Saya ingatkan bahwa The Minstrel's adalah akarnya musik rock, Jadi yang dilatih harus lagu-lagu rock yang menjadi hit di tahun 70'an.

“Harus lagu-lagu rock yang easy listening-lah, yang mudah diingat. Sehingga waktu dibawakan semua orang bisa langsung ikut bernyanyi. Ini sangat penting, sebab kalau salah pilih lagu maka show The Minstrel's bakal hancur", ungkap Jelly menambahkan./ Buyunk Aktuil, Ibonk

03 JKL 2016 IbonkJumpa Kawan Lama 2016 (foto: Ibonk)

 

Monday, 17 October 2016 14:55

Donny Fattah

Gagal Manggung di Back to Rock of 70’s

Pada pertemuan komunitas Jumpa Kawan Lama 2016, hari Jum'at lalu, Donny Gagola masih menyatakan kesediannya untuk manggung kembali bersama The Minstrel's dan Bigman Robinson pada pagelaran Back to Rock of 70's pada tgl 25 November 2016 mendatang.

Namun pagi ini, Donny dengan berat hati mengabarkan kalau dirinya batal manggung bersama Fancy Jr, karena pada saat yang sama ada show bersama God Bless. Apa boleh bikin, karena jauh-jauh hari Donny sudah menegaskan bahwa dirinya akan berpartisipasi, asal tidak bentrok dengan jadwal show God Bless.

Tapi Donny juga menyatakan akan tetap menyiapkan diri untuk kesempatan selanjutnya. "Gua pasti main dengan band lama gua sendiri Fancy Jr, bersama Bonny, Roy, Noldy dibantu Nadjib. Lebih asyik bawain lagu-lagu jadul lagi," ujarnya.

Nah, karena Donny Gagola harus show bersama God Bless, akhirnya tinggal The Minstrel's dan Bigman Robinson yang tampil pada pagelaran Back to The Rock of 70's di Toba Dream Cafe.

02 Donny Fattah YoseDonny Fattah (foto: Yose)

"Ini kesempatan buat The Minstrel's unjuk gigi kembali setelah tampil di pesta musik JKL 2016," kata Jelly Tobing,” usai latihan di studio pribadinya. "Sekaligus untuk menjajal kehebatan Bigman Robinson yang kesohor dengan lagu-lagu blues-nya".

“The Minstrel's tidak akan memainkan lagu-lagu blues. Karena The Minstrel's akarnya adalah musik rock," tegas Jelly. Apakah The Minstrel's ‘ngeper' terhadap BMR? "Waah, justru The Minstrel's menantang Bigman Robinson./ Buyunk Aktuil, Ibonk

03 Donny Fattah Ibonk
Donny Fattah (foto: Ibonk)

 

Page 19 of 110