NewsMusik

NewsMusik

Tuesday, 28 February 2017 19:00

Rossa

Gelar Konser Tunggal

Penyanyi mungil berdarah Sumedang kelahiran 9 Oktober 1978 ini memiliki segudang prestasi. Sampai saat ini saja, sudah tercatat 130 hits yang pernah dikeluarkan Rossa dan hampir 85% sudah dibuatkan video klipnya. Penjualan fisik berupa CD pun bisa dibilang fantastis dengan penjualan diatas 10 juta copy sejak karirnya di dunia musik tanah air.

Rossa yang  mulai dikenal publik sejak meluncurkan album “Nada-Nada Cinta” ini baru saja merilis single terbarunya di Singapore tahun 2017 yang berjudul ‘Body Speak’ sebuah lagu yang berbahasa Inggris dan diciptakan oleh 3 musisi handal asal Amerika (Steve Shebby, Joleen Belle dan Michelle Buzz) dan proses rekamannya dilakukan di Amerika. Single ini juga akan ditampilkan  di acara MTV Asia Spotlight yang ditayangkan sampai ke Jepang, Taiwan, China dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Penayangan video klip lagu ini juga akan ditayangkan oleh MTV Asia, Rossa pun menjadi artis Indonesia yang tampil pertama kali di MTV Asia Spotlight.

21 tahun karirnya di dunia musik, Rossa sempat jenuh dan berkeinginan untuk hijrah ke luar negeri meninggalkan hingar bingarnya dunia hiburan di tanah air dan memilih untuk berbisnis. Namun keinginannya itu urung dilakukan dikarenakan tidak mendapatkan dukungan dari keluarga maupun orang tua.

“Aku hampir pingin pindah ke luar negeri di akhir tahun 2016, memulai bisnis disana. Kepingin jadi orang biasa aja karena dasarnya memang aku suka bisnis. Sudah milih-milih tempat malah di Sydney”, ujar Rossa sambil tertawa.

Semangatnya kembali bangkit berkat dukungan orang tua dan juga kawan-kawan musisi yang selama ini mendukung karirnya terutama di bidang musik. Semakin kokoh setelah menyabet penghargaan kembali di tahun 2015 kemarin. Di tengah karirnya yang tidak pernah surut, merayakan 21 tahun berkarya, Rossa kembali berkeinginan mengulang kesuksesan konser tunggalnya. Menggandeng Jay Subiyakto  sebagai Art Director dan Tohpati sebagai Music Director, Rossa kembali akan menggelar konser tunggal di Jakarta.

02 Rossa YDhew

“Sebagai penyanyi yang talented dan menjaga eksistensi di dunia musik, sudah sepatutnya Rossa menggelar kembali konser tunggal. Artis itu kalau mau eksis harus berkonser, karena situasi di dunia musik saat ini tetapi juga harus didukung dengan cara yang baik, misalnya tidak lip sync dan lain-lain. Karena berkesenian adalah untuk mendukung kebudayaan, jadi jangan dibatasi oleh peraturan-peraturan yang membebani untuk musik Indonesia”, jelas Jay sewaktu ditemui di All Seasons Hotel,  Thamrin, Jakarta Pusat.

Design panggung, media visual dan video nantinya tidak akan diulang apa yang kita buat dulu, masih kita godog bersama Tohpati. Yang jelas berbeda dari konser Rossa sebelumnya”, tambah Jay. Konser yang bertajuk “The Journey of 21 Dazzling Years” ini akan dikemas secara glamour dan megah dengan dukungan tata suara, cahaya dan artistik yang berbeda.

Di konsernya nanti Rossa akan membawakan sekitar 20 lagu yang di aransemen oleh Tohpati “Rossa ini adalah artis yang besar. ini menjadi tantangan tersendiri buat saya apalagi lagu-lagu Rossa hampir semua selalu jadi hits jadi tidak terlalu sulit untuk memilih lagu. Lagu diakan memang dikenal lagu yang selalu sifatnya patah hati, jadi bagaimana nantinya membuat lagu-lagunya dibuat lebih seragam dan berbeda dengan konser sebelumnya, cantik tapi elegan”, jelas Tohpati./ YDhew

Tuesday, 28 February 2017 10:19

Manifestour 2017

Show Beroktan Tinggi

 

Adalah Remissa yang merupakan kuartet asal Malang dan pede mengusung genre Seattle Sound di setiap penampilannya. Band yang dihuni oleh Rizky Muhammad sebagai vokalis dan gitaris, Baron Wisnumurti menjadi pembetot bass, dan Bintang Mahatma pada posisi penggebuk drum. “Kami bertiga bukanlah teman lama, perguruan tinggi yang mempertemukan kita dan selera musik yang mempersatukan kita” ujar band yang dibentuk pada 2014 silam ini,

Namun karena kondisi mengharuskan untuk mengisi kekurangan gitar lagi, maka Rizqtsany yang tak bukan merupakan teman perguruan tinggi mereka akhirnya mengisi kekurangan tersebut. “Dalam bahasa latin, nama kami memiliki arti santai. Ada juga yang mengidentikkan dengan nama seorang wanita. Bahkan nama kami termasuk salah satu jenis hewan yang menyerupai kupu-kupu”, ungkap Rizki,, pria berambut panjang yang terlihat santai dengan setelan kemeja flannel dan celana sobeknya.  “Intinya, biarkanlah lagu-lagu kami yang mampu membuat mereka mengartikan nama kami”, lanjutnya ketika ditanya arti dibalik nama Remissa

Pada pertengahan tahun lalu, mereka telah mengeluarkan debut album bertajuk “Manifesto Mimpi” dibawah naungan Frekuensi Record yang merupakan label indie asal Malang. Vocal serak dengan substain rendah mengaung-mengaung mendampingi harmonisasi gitar, dentuman drum penuh energi dan hentakan bass tepat di depan jantung menjadi khas dalam debut album Manifesto Mimpi.

Patut diingat, sebelumnya mereka juga pernah melepas single ‘Diskusi Mimpi’ yang siap didengarkan di SoundCloud mereka. “Semua tema materi dalam debut album penuh nanti merupakan rangkuman kejujuran yang berasal dari suara hati kecil kami, tentang segala hal yang terjadi di lingkungan sekitar kami. Kami tidak ingin suara-suara hati kecil ini tersimpan rapat hanya dalam hati, jadi kami jadikan karya-karya kami sebagai jembatan untuk menyampaikan pesan yang ingin kami suarakan” racau mereka  ketika ditanya tentang tema besar album mereka.

02 Remissa FikarRemissa (Foto: Fikar)

Rangkaian tour dalam formasi band memang impian setiap anak band untuk melangkah ketahap selanjutnya. Begitu pula dengan Remissa. sebagai band indie maka konsekuensi terhadap tour harus diemban secara bersama. Mulai dari mengumpulkan dana dari tiap personil untuk menyewa sebuah minibus, menghubungi relasi setiap kota, mencari penginapan yang minim biaya, membawa beberapa merchandise sebagai upaya mencari dana tambahan. Dengan hanya bermodalkan semangat mengejar apa yang mereka sukai, sebuah tour Remissa dapat terselenggara.

Dengan nama “Manifestour 2017” yang merupakan plesetan dari album mereka. 7 kota siap disambangi oleh kuartet asal Malang ini, yakni Semarang, Purwokerto, Jakarta, Bogor, Jogja, Solo, dan Surabaya. Dalam kurun waktu 11 hari dan diawali dari tanggal 20 Februari 2016, tour pun dimulai.

Semarang membuka semangat mereka untuk dapat menyelesaikan tour dengan menggebu-gebu, lalu melangkah sedikit Purwokerto menjadi korban raungan mereka berikutya. Dan ibukota pun tak luput menjadi sasaran mereka untuk menapaki langkah mereka dalam berkarir. Selanjutnya kota ke 4 yang menjadi korban mereka adalah Bogor.

Bertempat di Warkop Villa Kuda diblangan Ciawi, Bogor, Remissa datang sebagai band luar kota yang sedang panas seperti lahar gunung berapi. Seperti namanya, Bogor kala itu diguyur hujan. Rasvala menjadi Opening Act dirangkaian kota ke 4 Manifestour. Antusiasme tersaji ketika MC menyertakan penonton agar langsung berinteraksi dengan Remissa.

“Apa tujuan kalian tour sebenarnya?“, salah seorang penonton melontarkan pertanyaan. “Kami ingin menularkan semangat jiwa muda kami. Agar anak-anak muda dapat terus berkarya tanpa peduli minim biaya, karena setiap semangat pasti terkandung nilai-nilai yang tak terjamah harga“, ungkap Rizqtsany sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.

03 Remissa FikarRemissa (Foto: Fikar)

Acara pun berlangsung penuh keringat. Raungan Remissa diatas panggung yang memang menjadi khasnya mampu menghentak jiwa-jiwa anak muda diacara itu. Suasana pun memanas ketika 3 vokalis dari band Rasvala, Jeans Roek, dan Remissa melantunkan lagu kebanggaan grunge yaitu ‘Smells Like Teen Spirit‘ milik mbah-nya musik grunge dunia, Nirvana.

Acara yang digelar selama kurang lebih dari 3 jam berlangsung intim. Bertukar kontak dan besar harapan bagi Remissa agar band band kota bogor dan juga lainnya dapat berkunjung ke Malang sebagai silahturahmi antar sesama pelaku musik.

Tiga kota lain akan menjadi sasaran empuk selanjutnya.  Emosi bahagia dan semangat tak kunjung henti pun menjadi pelipur lara bagi kuartet Seattle Sound tersebut. Semoga Manifestour 2017 dapat menjadi momentum bagi Remissa untuk memperkuat persaudaraan di luar kota mereka. Kita doakan...... / Fikar

 

  

Saturday, 25 February 2017 08:45

Interchange

Membebaskan Jiwa Yang Terperangkap

 

Disajikan dalam alur bergenre supernatural thriller, yang dipusatkan pada kisah seorang fotografer bersama rekannya seorang detektif keras kepala. Tengah mengungkap kasus pembunuhan berseri dan di luar nalar manusia. Adalah Adam (Iedil Putra), yang tengah merasa jengah dengan pekerjaannya, setelah dirinya sering diusik oleh halusinasi yang menerornya. Adam tak lain merupakan fotografer forensik yang akrab dengan pemandangan mayat korban pembunuhan, melalui lensa kamera miliknya.

Karena hal itu, ia pun memilih menutup diri dan besembunyi dalam apartemen huniannya. Membunuh sepinya, ia mulai memotret para penghuni lainnya dari atas balkon apartemennya. Hingga pada suatu hari, terjadi rangkaian pembunuhan dan Adam turut terseret dalam kasus yang tengah diselidiki sahabatnya, Detektif Man (Shaheizy Sam).

Di sisi lain, Adam terjebak dengan kehadiran sosok misterius bernama Iva (Prisia Nasution), yang juga merupakan penghuni apartemen yang sama. Seperti magnet, Iva memiliki daya pikat tertentu mampu membuat Adam tertarik dan semakin dalam masuk kekehidupan Iva yang mistis.

Begitulah, rantai pembunuhan terus berlangsung dengan teka teki yang bikin sakit kepala. Apa lagi ditiap temuan perkara selalu ditemukan mayat tanpa darah tergantung, pecahan plat kaca negatif, bulu burung rangkong (hornbill) yang dianggap sudah punah. Adam pun mulai mengidentifikasi pecahan yang kerap digunakan untuk fotografi di abad ke-19.

Dia membawa temuannya tersebut kepada Heng (Chew Kin-wah) dan menemukan bahwa pecahan kaca bergambar itu adalah negatif yang diambil oleh penjelajah Norwegia, Carl Lumholtz yang menjelajah Borneo, Kalimantan Tengah antara 1913-1917. Merekam kebiasaan orang Dayak asli, dengan totem burung enggang.

03 Interchange IstimewaFoto: Istimewa

Berdasarkan sebuah buku yang diterbitkan oleh Carl Lumholtz, Adam melihat banyak kemiripan yang mencolok antara korban dibunuh dan anggota suku Tingang yang ada dalam buku sejarah tersebut. Salah satunya malah mirip sekali dengan Iva. Lewat temuan tersebut mulailah Adam merangkai semua puzzle tersebut dan sampai akhirnya dirinya bisa mengetahui siapa koban selanjutnya. Dari sini juga dirinya dapat mengetahui “jiwa yang terperangkap“ dan takhayul kuno yang menjadi nyata.

Berawal dari Lumholtz dahulu memotret kehidupan suku Tingang. Suku tersebut kemudian menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Namun ternyata dalam 100 tahun ini, Iva dan 36 jiwa lain yang terperangkap dalam plat kaca negatif mengembara didampingi Belian (Nicholas Saputra), sebagai semangat sukunya yang berwujud manusia burung, turut mendampinginya melakukan tugas demi mati dengan tenang.

NewsMusik melihat film ini sebagai sebuah cerita yang cukup menarik, baik dari alur dan visual yang tersajikan. Konteks modern dalam framing film noir tentang detektif dan menggabungkannya dengan cerita mitologi Asia Tenggara, serta keyakinan supernatural mampu dipresentasikan dengan baik. Syukurnya lagi bahwa Dain Said selaku Director tidak terlalu berlebihan mengupas mistisisme etnografis untuk men-delivery tradisi spiritualisme kepada penonton sehingga menjadi bertele-tele.

02 Interchange IstimewaFoto: Istimewa

Walaupun begitu, komponen supernatural dalam film ini cukup terangkat lewat karakter Belian yang di desain sebagai spirit yang kuat, perannya dalam film ini cukup tegas. Cuma sayangnya, efek CGI yang disajikan saat perubahan Belian menjadi burung tidak begitu memikat. Masih lebih baik jika kita melihat film serial Manimal produksi 1983 yang diperankan oleh Simon MacCorkindale dan sempat disajikan di tanah air.

Film produksi Apparat dan Cinesurya Pictures ini sudah ditayangkan resmi secara global. Juga telah masuk dalam seleksi beberapa festival seperti Locarno Film Fest di Swiss dan Toronto International Film Fest. Ide dasar film ini, terinspirasi dari rekam jejak perjalanan Carl Lumholtz. Pada salah satu fotonya, ia memotret sejumlah wanita dayak tengah membasuh diri di sungai untuk membersihkan ‘efek jahat‘ setelah di foto oleh Carl. Akan segera ditayangkan di Indonesia pada 2 Maret 2017. /Ibonk

 


 

Potret Gamblang Dunia Malam

 

Mungkin tak perlu terlalu gamblang merinci dan menceritakan apa yang dihantarkan secara visual dari film produksi Grafent Pictures, Demi Istri Production, dan disutradarai oleh Fajar Nugros ini. Yaa.. inilah film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Moammar Emka yang dipublished pada 2003 silam. Film yang menceritakan sisi ‘merinding’ gemerlapnya ibukota.

Karya Emka ini memang sempat menjadi buah bibir di negeri ini. Menceritakan beragam kejadian dunia malam yang kebanyakan dari kita tidak mengetahui. Membuka mata banyak orang, sampai sebegitu tidak percayanya dan bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Ini memang bukan untuk kali pertama Jakarta Undercover diangkat ke layar lebar. Di tahun 2007, film adaptasi ini pertama dirilis lewat sutradara Lance Mengong dan skenarionya ditulis Erwin Arnada serta Joko Anwar. Kalau di lihat segi plot, film yang dibintangi Luna Maya tersebut, tidak berkaitan langsung dengan isi buku Jakarta Undercover karena dibuat sebagai drama kriminal. Walau masih mengambil tema dunia malam yang dibahas di buku tersebut.

Nah, lewat film ini semuanya dibuat hampir seperti yang ada pada bukunya. Tentu saja ini bukan hal mudah, karena harus merubah bahasa tulisan dari bahasa gambar. Itulah sebab, Fajar Nugros berhati-hati dalam memvisualkan apa yang tertulis di dalam buku karya Emka.

Ceritanya sendiri mengisahkan keinginan seorang wartawan untuk membuat tulisan tentang kehidupan malam Jakarta, dan terjebak konflik yang melibatkan hubungan cinta kaum kelas atas. Pras (Oka Antara) yang demi mengejar cita-citanya menjadi wartawan. Lalu ia berangkat ke Jakarta  dan berguru pada Djarwo (Lukman Sardi) pemimpin redaksi sebuah majalah berita. Awalnya antusias dengan status barunya, namun ujung-ujungnya idealismenya pun mulai luntur.

02 Jakarta Undercover IstimewaFoto: Istimewa

 

Semua berawal saat Pras mulai menyadari bahwa kecemerlangan tulisannya dimanfaatkan oleh kantornya untuk tujuan tertentu. Ia makin memberontak setelah bertemu Awink (Ganindra Bimo) penari malam yang merasa dirinya terjebak terjebak dalam tubuh lelaki. Bersama Awink, iapun dibawa berkenalan dengan Yoga (Baim Wong), yang menjadi tokoh penting di dunia bisnis ‘gelap’ Jakarta.

Begitulah, tanpa sadar Pras semakin terjebak semakin dalam ia menggali, semakin dalam dan makin jauh dalam pusaran ketidaktahuan. Apalagi saat ia bertemu dengan Laura (Tiara Eve) model yang membuat hidupnya berbeda.

Seperti yang ditangkap NewsMusik dari apa yang disampaikan Fajar Nugros bahwa film ini lebih mengedepankan kemasan drama. Fokus mengambarkan bahwa dunia malam Jakarta itu ada dan juga nilai-nilai kemanusiaan, bukan untuk mengumbar sisi vulgar secara visual.  Tinggal lagi bagaimana pendapat kita selepas menyaksikan film ini..., monggo./ Ibonk

 


Wednesday, 22 February 2017 08:47

Air Supply

Dipastikan Hadir di Jakarta

Setelah batal manggung di saat mendekati hari-H pada Desember 2016 lalu, duo Graham Russel dan Russel Hitchcock yang tergabung dalam Air Supply menyatakan kesiapan mereka untuk segera tampil dihadapan penggemarnya di Jakarta. Sebelumnya duo ini batal manggung dikarenakan Russel Hitchcock kelelahan akibat jadwal tur yang padat.

Kepastian kedatangan tersebut disampaikan keduanya lewat video greeting yang dikirimkan kepada pihak penyelenggara. “Akhirnya yang kita tunggu-tunggu datang juga, video greeting dari Air Supply ini untuk memastikan kedatangan mereka nanti 100% confirmed akan konser di Jakarta”, ungkap David Ananda selaku Managing Director Full Color Entertainment.

Air Supply sendiri akan tiba di Jakarta lebih awal dari jadwal manggungnya. Mereka akan tinggal di Jakarta selama 5 hari dan 4 malam (dari tanggal 28 Februari hingga 4 Maret 2017) untuk melaksanakan persiapan konser juga Press Conference dan serangkaian media Interviews.

 

02 Air Supply Istimewa Foto : Istimewa

 

Jakarta akan menjadi kota pertama dari rangkaian tur Air Supply di South East Asia. Selepas itu mereka akan tampil di Singapore tanggal 4 & 5 Maret , Cebu 7 Maret  dan Manila 8 Maret”, lanjut David. Konser yang bertajuk “Bringing Back The Memories” nanti akan merangkum lagu-lagu hits Air Supply pada konser  tanggal 3 Maret 2017, di The Kasablanka Hall, Mall Kota Kasablanka, Jakarta.

Berdasarkan rilis yang diterima NewsMusik bahwa harga tiket Silver (standing) sudah habis terjual. Tiket yang tersedia saat ini tinggal Diamond VVIP (numbered seating) seharga Rp 2.500.000,-, Platinum (free seating) Rp 1.500.000-, dan kelas Gold (free seating)   Rp 1.000.000,- Untuk informasi lebih lengkap dapat dilihat di website resmi Air Supply di http://www.airsupplymusic.com/tour./ YDhew

 

 

Tuesday, 21 February 2017 13:18

Buka’an 8

Drama Komedi Keseharian

Film drama komedi romantis garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini bercerita tentang Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela), pasangan millenial yang bertemu dan jatuh cinta di dunia maya. Hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga Mia karena menganggap Alam hanya bermain sosmed dan tak punya pekerjaan tetap. Di momen kelahiran anak pertama mereka, Alam ingin membuktikan kepada orang tua Mia, bahwa ia adalah seorang suami idaman.

Dalam film ini Chicco beradu peran dengan Tio Pakusadewo sebagai Abah (ayah Mia) yang berakting total. Abah, dalam film ini akting Tio Pakusadewo sebagai orang tua yang menderita stroke dengan aksi yang konyol cukup berhasil disini.  Ditambah lagi sosok abah dipasangkan dengan Sarah Sechan yang berperan sebagai Umbu (ibu Mia) sebagai sosok ibu yang lugu dan selalu sinis dengan komentar yang diucapkannya cukup membuat penonton terhibur.

Alam sebagai calon ayah berkarakter santai dengan gaya seorang seniman. Kata-kata mengumpat  yang sering dijumpai dikehidupan sehari-hari, digulirkan secara jenaka dan terkadang serius. Konflik yang muncul sewaktu mempersiapkan persalinan Mia, dimana Alam tidak mampu membayar rumah sakit, cukup berhasil membuat penonton tergelak karena tingkah konyolnya.

Film Buka’an 8 ini mempertemukan kembali Angga dengan duet dua produser Anggia Kharisma dan Chicco Jerikho, yang sukses dengan 2 film sebelumnya, Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) dan Filosofi Kopi The Movie (2015). “Buka’an 8 merupakan film komedi pertama yang saya buat mengangkat cerita generasi millenial yang addictive pada media sosial dan internet. Film ini terinspirasi dari proses menanti kelahiran anak pertama saya yang kebetulan pada saat itu ditemani oleh Chicco Jerikho dan tercetuslah ide untuk membuat film ini”, tutur Angga Dimas Sasongko.

02 Bukaan8 IstimewaBuka'an 8 (Foto: Istimewa)

Film yang memotret problematika pasangan muda yang tengah berjuang mendapatkan restu dari orang tua.  Menceritakan kedekatan emosional yang tercipta antara anak dan orang tua pada proses kelahiran dengan genre komedi. Mengombinasikan realita, cerita pribadi, dan berbagai kekonyolan yang terjadi di keseharian.

Akhirnya film ini mampu menghantar cerita yang sangat dekat bagi mereka yang sangat menikmati hiruk – pikuk media sosial. Cukuplah membawa angin segar di sela-sela hiruk pikuk suasana politik yang memanas akhir-akhir ini.

Para pemain yang terlibat selain yag telah disebut sebelumnya adalah Dayu Wijanto, Uli Herdiansyah, Ary Kirana, Melissa Karim, Maruli Tampubolon, TJ, Ivy Batuta, Marwoto, Roy Marten, Nadine Alexandra dan Adriano Qalbi.

Soundtrack Film 'Buka’an 8’ diisi oleh lagu dari band indie Payung Teduh berjudul ‘Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan’ dan band asal Yogyakarta FSTVLST untuk lagu ‘Ayun Buai Zaman’. Bagi yang butuh hiburan untuk sekedar mengocok perut, film Buka’an 8 ini akan tayang di bioskop mulai 23 Februari 2017./ YDhew

 


 

Monday, 20 February 2017 21:24

Intan Rachman

Single Baru Setelah Ajang Menyanyi

 

Sudah banyak bukti kalau talenta bermusik, ataupun memiliki suara merdu bisa karena faktor genetik. Dari faktor darah atau keturunan tersebut, kita sangat terbiasa melihat banyak penyanyi  dunia hadir dari satu garis keturunan. Seperti juga dialami oleh Intan Rahayuning Rachman atau lebih pop disapa Intan Rachman yang tak lain merupakan adik dari Iman J-Rocks.

Cukup banyak yang mengetahui kalau Intan adalah salah seorang jebolan ajang kompetisi menyanyi. Kini bersama sang kakak, Intan melepas single perdananya yang berjudul ‘Sebel’. Singel ini coba diracik sedemikian rupa lewat pendekatan musik yang easy listening dalam sentuhan pop jazz ala Jepang oleh Iman sendiri.

Iman sendiri beranggapan bahwa single ini bisa memberikan kontribusi positif musik Indonesia. Apalagi dengan vokal sang adik yang khas dan berkarakter bisa mencuri hati pendengar musik Indonesia.

Merujuk kebelakang, single ini diciptakan oleh almarhum Ilham yang merupakan adik dari Iman J-Rocks dan kakak kandung dari Intan Rachman sendiri. Ini adalah project keluarga, dimana Iman mengisi track gitar, almarhum Ilham mengisi bass dan gitar, sedangkan Intan Rachman tetap pada vokal. Lagu ini ditulis dalam lirik yang lugas dengan bahasa sehari hari yang ringan, sehingga mudah untuk dicerna.

02 Intan Rachman Iman J Rocks IstimewaIntan Rachman & Iman J-Rocks (Foto: Istimewa)

Setelah berpulangnya Ilham, lagu ini akhirnya dilanjutkan oleh Iman dan Intan Rachman dibawah payung label musik Greenland Indonesia. Untuk mengenang dan menghormati almarhum Ilham, mereka sengaja membiarkan beberapa track yang sudah almarhum pernah isi seperti track bass, gitar, dan beberapa part melodi gitar tetap sesuai aslinya.

Nah, selanjutnya tinggal menunggu respon pasar musik tanah air saja. Apakah single ini bisa menjadi trigger bagus untuk kelanjutan kiprah Intan di blantika musik tanah air? Kita lihat saja.../ Ibonk 

Monday, 20 February 2017 17:13

The Moffatts

Histeria Nostalgia

 

I miss you like crazy, Even More than words can say, I miss you like crazy, Every minute of every day, Girl I'm so down when your love's not around, I miss you, miss you, miss you, I miss you like crazy... Bagi Anda yang mengalami masa angkatan baru gede di tahun 1998 sampai dengan 2001 tentu akrab dengan rangkaian kalimat di atas. Tepat bila Anda menyebutnya merupakan lirik dari lagu ‘Miss You Like Crazy’ yang dinyanyikan Moffatt bersaudara : Scott Andrew Moffatt (Scott Moffatt), serta kembar tiga Clinton Thomas John Moffatt (Clint Moffatt),  Robert Franklin Peter Moffatt (Bob Moffatt) dan David William Michael Moffatt (Dave Moffatt).

Lagu itu memiliki jam putar tinggi di berbagai radio. Begitu juga dengan ‘Girls of My Dreams’, ‘I’ll Be There For You’, atau ‘If Life is So Short’. Tak heran pula bila kemudian The Moffatts menjadi pujaan setiap perempuan muda. Tampang manis dan lagu-lagu dengan muatan cinta dan rayuan adalah modal penakluk hati.

Tahun 2000 The Moffatts sempat menggelar konser di dua kota di Indonesia : Jakarta dan Bandung. Sudah bisa ditebak bahwa di kedua konser itu kemudian dipenuhi oleh penggemar. Juga tentnunya dihiasi oleh teriakan histeris.

Tujuh belas tahun kemudian ritual yang sama terulang kembali. The Moffatts yang bubar tahun 2001 memutuskan untuk berkumpul kembali dan menjalani rangkaian tur dengan embel-embel perpisahan. Dengan formasi Scott, Clint dan Scott minus Dave yang tak lagi turut serta.

02 The Moffatts Klandesti NThe Moffatts (Foto: Istimewa)

Minggu (19/02) malam, The Moffatts tampil kembali di hadapan penggemarnya di Hard Rock Cafe Jakarta. Sekitar dua ratusan mantan anak baru gede hadir. Terlihat ada yang mengenakan kaus dengan tulisan atau foto The Moffatts. Tampak wajah-wajah antusias yang ingin bernostalgia dengan idola masa muda.

Entah terlalu antusias atau rindu, lagu-lagu rekaman The Moffatts yang tengah diperdengarkan malah memancing terjadinya koor massal. Bahkan ketika lagu populer yang tengah diputar memancing reaksi teriakan di antara penonton.  Tempik sorak semakin membahana ketika satu per satu The Moffats mulai muncul di atas panggung.

‘Crazy’ yang menjadi lagu pembuka tampaknya tepat untuk menjelaskan “kegilaan” di depan panggung. Meski memang kadar keliaran penonton sudah jauh berkurang. Rata-rata semua sudah cukup sadar akan umur yang tak lagi muda. Tapi teriakan-teriakan kagum masih kerap terdengar.

Malam itu mereka tidak hanya membawakan lagu-lagu dari dua album The Moffatts : Chapter I : A New Beginning dan Submodalities. Tapi juga membawakan lagu dari masing-masing proyek setelah The Moffatts bubar. Scott memamerkan lagu dari album solo. Sedangkan Clint dan Bob memilih membawakan dari proyek Same Same dan Endless Summer.

‘Miss You Like Crazy’ menjadi lagu pamungkas. Malam nostalgia pun usai sudah. Entah berapa banyak kenangan masa lalu yang kembali terbuka. Yang pasti, banyak senyuman yang menghiasi wajah penonton malam itu./ Klandesti_N

Monday, 20 February 2017 15:58

Warpaint

Konser Bayar Hutang

 

Tahun 2011, Warpaint yang beranggotakan Emily Kokal (vokal, gitar), Theresa Wayman (vokal, gitar), Jenny Lee Lindberg (vokal, bass) dan Stella Mozgawa (drum) pernah berencana melawat ke Jakarta. Tapi karena satu dan lain hal rencana tersebut batal. Berselang 6 tahun kemudian, akhirnya Warpaint mewujudkan rencana yang tertunda tersebut.

Digelarlah konser Warpaint – Heads Up Tour 2017 oleh Wire It Up! pada hari Jumat (17/02) di kawasan Parkir Selatan Senayan Jakarta. Dimulai sekitar pukul 7 malam dengan dibuka oleh penampilan tiga band produk dalam negeri : Trou, Diocreatura dan Kimokal.

Sambutan paling meriah tentu dialamatkan kepada Warpaint. Enam tahun bukan waktu sebentar untuk bisa melihat mereka beraksi di depan mata. Lain halnya bagi mereka yang mampu dan mau usaha pernah datang ketika Warpaint konser di luar Indonesia.  ‘Keep It Healthy’ dari album kedua bertajuk Warpaint menjadi lagu pembuka.

Berbicara aksi panggung tidak ada pamer keahlian dalam hal memainkan instrumen masing-masing. Tidak ada juga tingkah pecicilan di atas panggung. Terhitung kalem dan sangat sederhana sekali yang mereka tampilkan.

01 WarpaintWarpaint (Foto: Klandesti N)

Jenny tampil mencuri perhatian dengan mengenakan kaus hitam berhiaskan gambar barong. Sesekali dia melambaikan tangan ke arah penonton sambil tersenyum manis. Sementara Emily dengan santainya memakai sandal hotel. Kadang-kadang maju ke depan menyanyi sambil bergoyang di atas speaker.

“Terima kasih sudah mengundang kami untuk konser di sini. Kalian semua sangat istimewa,” ujar Theresa. Bagi penonton pun menjadi istimewa, karena Indonesia menjadi satu-satunya negara yang disinggahi dalam rangkaian tur mereka.

Di konser perdana, semoga juga bukan yang terakhir, Warpaint membawakan sekitar 15 lagu. Termasuk tiga lagu encore : ‘Billie Holiday’, ‘So Good’ dan ‘Bees’. Bisa dikatakan lebih dari cukup untuk sebuah penantian selama enam tahun. /Klandesti_N

Monday, 20 February 2017 15:39

Friday Unplugged 90’s Rock Night

Berawal dari Kumpul-Kumpul

Ini adalah pesta musik rock tanpa harus disajikan secara hingar bingar. Kok bisa? Seperti yang disajikan pada Jumat (17/2/17) malam lalu, di sebuah cafe dibilangan Salabenda kota Bogor. Sajian musik hidup lewat tajuk Friday Unplugged 90’s Rock Night ditawarkan kepara penggila musik ber genre ini. Acara yang digagas oleh Komunitas Grunge Bogor yang juga merupakan sebuah komunitas peduli musik dan potensi anak muda lokal khususnya Grunge.

Komunitas ini awalnya cuma kumpil-kumpul teman yang terajut lewat kecintaan pada musik ini. Berdiri sejak awal 2003, ketika beberapa anak muda merasa jenuh ketika menyadari kota Bogor sangat minim acara musik yang bertemakan grunge. Terpicu oleh keinginan tersebut, akhirnya diambil inisiatif untuk membentuk sebuah perkumpulan atau hanya sekedar nongkrong dengan obrolan bertemakan grunge.

Friday Unplugged 90’s Rock Night kemarin dipandu oleh Yudit yang terbilang sudah malang melintang di dunia musik Bogor. Bakasura, membuka penampilan ini dengan meng-cover beberapa lagu Pearl Jam. Tak lupa juga beberapa band dari luar Bogor ikut ambil bagian diacara ini. Salah satunya Morning Shine, band Grunge asal Jakarta ini yang kerap menghiasi berbagai gigs grunge di Jakarta. Mereka secara terbuka menyatakan kegembiraannya bisa berpartisipasi untuk menghidupkan kembali scene yang bisa dibilang anti mainstream ini.

Selain kedua nama diatas, sajian musik unplugged tersebut juga dimeriahkan oleh nama-nama sangar yang sedikit banyak dikenal oleh pencinta musik sejenis di kota Bogor seperti Even Flow, Rasvala, Jeremy, Cacat Mental, Terserak ataupun Pembunuh Sepi.

 

02 Friday Unplugged 90s Rock Night Fikar

Friday Unplugged 90’s Rock Night (Foto: Fikar)

Perhelatan ini berlangsung dengan identitas Bogor, yang tak luput dari guyuran hujan. Tapi jangan tanya antusias meriah penikmat scene tersebut. Sebagai kelanjutannya, mereka menegaskan  akan ada acara sejenis pada 4 Maret 2017 di daerah Karadenan, Cibinong Bogor. Lalu ada lagi pagelaran yang juga rutin dengan tajuk “Raincity Grunge Fest” yang masih belum tampak tanggalnya.

Untuk kedepannya, mereka menyatakan akan mengupayakan kegiatan ini bisa tetap solid dan  berkembang. Mereka juga sangat berterima kasih bila mana regenerasi komunitas ini dapat terwujud. / Fikar

Page 18 of 119