NewsMusik

NewsMusik

Friday, 10 March 2017 15:40

Trinity: The Nekad Traveler

Cinta Negeri Lewat Traveling

Ingin melihat film dengan hamparan keindahan alam negeri ini, tanpa konflik yang mendebarkan dan dibentang dengan cerita aman? Segera saja saksikan film Trinity: The Nekad Traveler yang akan segera tayang di bioskop tanah air pada 16 Maret 2017 mendatang. Sebuah film yang diangkat dari pengalaman nyata Perucha Hutagaol yang ditulisnya dalam buku perjalanan dan menjadi bestseller.

Film besutan Rizal Mantovani, yang merupakan karya rumah produksi Tujuh Bintang Sinema, dibantu oleh penulis skenario Rahabi Mandra dan Piu Syarif. Mereka mencoba mengangkat awal petualangan si penggemar jalan-jalan tersebut dan kegalauan hatinya untuk memuaskan hasratnya agar bisa piknik kemanapun.

Sedari awal, penonton sudah digiring lewat tutur seorang Trinity (Maudy Ayunda) yang tengah menikmati suasana liburan diatas hamparan laut dengan pemandangan menawan. Trinity menceritakan bagaimana dengan menjadi seorang traveler, ia dapat memuaskan hatinya dan menjadi mata telinga bagi pembaca blog-nya ketika mengunjungi sebuah destinasi yang diulasnya.

Lalu seperti yang telah diduga... ceritapun di flashback ke tahun-tahun awal seorang Trinity menjadi traveler sejati. Awalnya ia hanya seorang wanita kantoran biasa yang hobi traveling. Bersama dengan kawan-kawannya, ia sering berpetualang ke berbagai lokasi, lalu menuturkan pengalamannya dalam sebuah blog. Tapi, akibat hobi tersebut ia sering mengalami kesulitan keuangan, kehabisan jatah cuti dan bermasalah dengan atasannya (Ayu Dewi).

02 Trinity, The Nekad Traveler IstimewaTrinity: The Nekad Traveler (Istimewa)

Lain lagi permasalahan dirumah dimana sang ayah (Farhan) dan ibunya (Cut Mini) terus menerus menanyakan kapan dirinya akan menikah. Sementara niat untuk menikah tengah jauh dari targetnya, karena otaknya masih disibukkan dengan bucket list, yang berisikan daftar hal-hal yang harus ia lakukan sebelum tua. Walau kebanyakan sih isinya (lagi-lagi) tentang tempat target jalan-jalan.

Mungkin, hal semacam ini sering terjadi di kehidupan nyata pada diri light traveler yang kerap menggunakan waktu luangnya untuk mendatangi destinasi wisata di penjuru negeri ini. Bekerja di perusahaan sebagai sebuah cara untuk mengumpulkan uang agar bisa jalan-jalan diakhir pekan atau tanggal yang tepat dengan waktu yang terbatas. Nah, disini keunggulan seorang Trinity ditampilkan, dengan bagaimana ia mendapatkan cara untuk liburan dengan biaya minim, memotivasi diri untuk mencapai target kantor agar mendapatkan izin ataupun tambahan waktu cuti.

Keindahan alam dan beberapa destinasi ditampilkan dengan apik sekali oleh sang sutradara. Mata penonton di manja lewat visualisasi dari drone, sehingga menghasilkan keindahan yang maksimal. Bohong saja kalau hati para penonton tidak terpesona. Seperti bagaimana Rizal mampu membungkus kota Lampung dengan begitu indahnya lewat tempat-tempat menarik dan pemandangan Anak Gunung Krakatau yang spektakuler. Juga tempat-tempat lainnya di Makassar, Nusa Tenggara Timur, Filipina dan Maldives.

Begitu juga dengan sedikit bumbu kisah cintanya dengan Paul (Hamish Daud) seorang fotografer tampan yang juga hobi traveling. Walaupun sepertinya hanya sebagai pelengkap, namun sedikit banyak cukuplah untuk meyekap perasaan romantis sambil menikmati keindahan pantai Maldives dengan resort mewahnya.

Pada dasarnya, film Trinity: The Nekad Traveler tidak begitu jauh berbeda dengan apa yang tersaji dari acuannya. Namun saking fun-nya, sehingga melupakan detail bagaimana menjadi seorang backpacker atau light traveler dadakan. Salah satu contoh kecil, NewsMusik sendiri cukup tahu, bagaimana perjuangan perjalanan yang harus dilakukan mencapai anak gunung Krakatau. Minimnya transportasi air kesana menyebabkan tingginya harga sebuah perahu wisata yang tak mungkin ditanggung sendiri oleh seorang traveler ber-budget terbatas. Apalagi untuk mencapai destinasi di timur Indonesia yang tak kalah menguras isi dompet.


03 Trinity, The Nekad Traveler IstimewaTrinity: The Nekad Traveler (Istimewa)

Yaaa sudahlah, secara keseluruhan semua patut diapresiasi karena film ini sendiri akhirnya menjadi semacam etalase cantik pariwisata negeri ini untuk menarik wisatawan. Wajar saja, jika Kementrian Pariwisata dan Pemda Lampung merasa wajib untuk men-support film ini. Para pemain juga cukup pas membawakan karakter masing-masing.

Juga suara indah Maudy Ayunda sang pemeran utama yang dapat kita nikmati dalam lantunan lagu lawas milik Dee Lestari ‘Satu Bintang Di Langit Kelam’ yang menjadi soundtrack film ini. Pesan yang disampaikan dalam film ini juga cukup jelas, bagaimanapun juga Indonesia merupakan surga wisata dunia. Negara yang kaya matahari, pemandangan alam dan kuliner yang tidak terbandingkan, maka kita wajib menjejakkan kaki disetiap jengkal tanah di Nusantara ini sehingga memunculkan rasa cinta dan keinginan untuk menjaganya.. Ehh, satu lagi ransel kakak Trinity (Maudy Ayunda) pakai bagus dehhh... / Ibonk

 

Tuesday, 07 March 2017 17:15

Iwan Fals

Lupa Lirik Lagu Sendiri

Penyanyi legendaris Iwan Fals mengaku sering menggunakan fitur di google untuk membantunya mencari fitur tentang musik maupun untuk dirinya sendiri. Iwan yang bernama lengkap Virgiawan Listanto ini menjadi artis nomor satu yang sering dicari di Google Indonesia oleh penikmat musik megalahkan Justin Bieber yang berada diurutan kedua.

Iwan yang merupakan seorang penyanyi beraliran Balada, Pop, Rock, dan Country, sejak hadir di industri musik Indonesia mempunyai penggemar dari semua usia sampai saat ini. Lagu yang diciptakannya terkadang  merupakan kritik atas perilaku sekelompok orang seperti judul lagu ‘Wakil Rakyat’, ‘Tante Lisa’ maupun tentang kehidupan itu sendiri.

Lagu yang diciptakannya juga sesuai dengan kondisi dan keadaan yang terjadi baik di luar ataupun di Indonesia, sebut saja seperti judul lagu ’Ethiopia’, ‘Bento’ dan ‘Bongkar’ yang makin melejitkan namanya. Terkadang juga tema lagu yang diciptakannya merupakan empati bagi kelompok marginal contohnya lagu ‘Siang Seberang Istana’ dan ‘Lonteku’, namun Iwan juga tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya sendiri tetapi juga ciptaan dari sejumlah musisi lainnya.

Sejak meninggalnya sang anak Galang Rambu Anarki, warna dan gaya bermusik Iwan Fals terasa berbeda. Dia tidak segarang dan tidak seliar dahulu. Lirik-lirik lagunya lebih mendalam dan religius. Iwan Fals juga sempat membawakan lagu-lagu bertema cinta baik karangannya sendiri maupun dari orang lain. Dari penampilanpun berubah lebih bersahaja dengan rambut yang tersisir rapi.

02 Iwan Fals & Anji YDhew.jpgIwan Fals & Anji (foto: YDhew)

Pencapaiannya saat ini bisa dilihat dari seringnya orang mencari namanya di google, bahkan sampai saat ini penyanyi kelahiran 3 September 1961 ini menjadi sosok seorang penyanyi yang disegani di tanah air. Selain menciptakan banyak lagu, Iwan juga mengaku sering menggunakan fitur pencarian di google untuk menciptakan lirik dari lagu-lagunya, bahkan lucunya terkadang dia sering menemukan ejaan namanya yang salah. “Kadang juga suka cari lagu sendiri, maklum suka lupa lirik lagunya”, ujar Iwan sambil tertawa sewaktu di temui di peluncuran fitur terbaru Google di Jakarta.

Iwan  yang saat ini tengah melakukan tur konser di 9 kota dan baru-baru ini hadir di Festival Jazz terbesar di Indonesia, menyambut baik peluncuran fitur terbaru ini. "Saya tahu pasti kalau penikmat musik di Indonesia kerap memanfaatkan Google untuk mencari kabar terbaru seputar artis favorit mereka. Sekarang kita sebagai musisi bisa langsung memberikan informasi yang mereka inginkan di halaman pertama Google, jadi lebih cepat dan praktis buat kita semua. “Misalnya, saya akan memberikan jadwal konser saya yang berikutnya lewat post di google ini”, tutup Iwan./ YDhew

Wednesday, 08 March 2017 10:10

Mezzoforte

Gaung Abadi Pengusung Funk Fusion

Jazz yang dalam perkembangannya menjadi suatu bentuk seni musik, baik dalam komposisi tertentu maupun improvisasi, terkadang juga merefleksikan melodi-melodi secara spontan. Musik jazz juga adalah musik yang bisa dirasakan dalam hati. Musisi yang memainkan suatu melodi terkadang menunjukkan ketidakjelasan ekspresi seorang musisi itu sendiri. Sehingga bagi penikmat musik jazz tidak dapat mendeskripsikan kenapa menyukai jenis musik ini.

Musik jazz banyak menggunakan instrumen gitar, trombon, piano, terompet, dan saksofon dan juga merupakan jenis musik yang tumbuh dari penggabungan beberapa genre musik seperti blues, musik Eropa dan beberapa penggabungan jenis musik lainnya.

Pengaruh dan perkembangan musik blues tidak dapat ditinggalkan saat membahas musik jazz di tahun-tahun awal perkembangannya. Ekspresi yang memancar saat memainkan musik blues sangat sesuai dengan gaya musik jazz. Kemampuan untuk memainkan musik blues menjadi standar bagi semua musisi jazz, terutama untuk digunakan dalam berimprovisasi dan ber-jam session.

Dalam perjalanannya  musik jazz juga digemari oleh para rocker yang sebelumnya bermain dalam musik blues. Di era tahun 70-an muncul beberapa band-band yang beraliran funk fussion, yang banyak menghilangkan alat-alat musik akustik, walau terkadang muncul dengan tetap memainkan alat musik akustik. Penggunaan alat electric/ electronic seperti gitar electric, bass electric, dan synthesizer sering menggantikan alat musik tradisional jazz seperti, saxophone, trumpet dan bass betot.

Fusion merupakan cabang dari jazz yang didalamnya sudah diinprovisasi dengan genre musik rock dan funk. Mengacu pada namanya, fusion mengkombinasikan kebiasan-kebiasaan & energi dari musik rock dengan harmonisasi yang sempurna dan kebebasan improvisasi Jazz. Bagi para kritisi musik ataupun penggemar jazz, sejak kemunculannya hingga saat ini terkadang maih menjadi perdebatan diantara mereka.

02 Mezzoforte YDhewMezzoforte (foto: YDhew)

Sebagian besar dari mereka kurang bisa menerima permainan “keras” dari jenis jazz atau funk fusion. Nasib dari musisi ataupun group yang memainkan genre tersebut menjadi tidak menentu, karena sebagian dari kritikus dan penggemar musik jazz dengan tegas menolak kehadiran mereka.

Salah satu group band yang masih bertahan dan memainkan jazz fusion adalah Mezzoforte. Group band asal kepulauan di ujung utara bumi ini (Islandia) ini masih bertahan di tengah group band lainnya yang timbul tenggelam seiring dengan kesuksesan albumnya. Band ini  mengusung musik instrumental tanpa adanya vokalis diantara mereka. Beberapa hari lalu NewsMusik berkesempatan untuk menonton aksi mereka di acara Java Jazz Festival 2017, di Jakarta.

Tak pelak lagi, tahun ini merupakan kali ke enam mereka tampil di ajang festival tersebut.  Kiprah mereka pada musik jazz dimulai sejak 1977. Sejak awal mereka berkarya, sampai sekarang paling tidak sudah merilis 15 album dan tampil di berbagai panggung jazz di dunia, termasuk Indonesia.

Band yang digawangi dengan formasi aslinya, Eythor Gunnarsson (keyboards), Fridrik Karlsson (gitar), Johann Asmundsson (bass) dan Gulli Briem (drums) dari hits single-nya ‘Garden Party’ mulai diperhitungkan dunia sebagai salah satu group musik yang penting dengan mengusung genre jazz fusion. Band ini didirikan di Reykjavik sejak berdirinya belum kehilangan gaungnya sampai saat ini.

Mulai tahun 2005 formasi yang awalnya hanya 4 orang bertambah dengan masuknya Brunno Muller (gitar), Jones Wall (saksofon), Thomas Dyani (perkusi), Sebastian Studnitzky (trumpet), Oscar Gudjonson (saksofon), Staffan-William-Olsson (gitar), Kare Kolve (saksofon).

Alur melodi yang dimainkan oleh mereka membawa warna yang berbeda. Harmonisasi dari masing-masing alat musik sedikit lebih abstrak dan bernuansa dance ambient music. Unsur improvisasi jazz-nya lebih menonjol dari pada aransemen yang manis dan mudah diraba. Tidak mudah memainkan beberapa alat musik berbeda menjadi suatu melodi yang harmonis. Musik yang dihasilkan merekapun selalu mengikuti perkembangan zaman sehingga unsur improvisasi jazznya lebih menonjol dengan aransemen yang manis dan mudah diraba.

03 Mezzoforte YDhewMezzoforte (foto: YDhew)

Tampil beberapa kalinya di ajang JJF kemarin, band ini sukses membawa penonton yang hadir ikut bergoyang mengikuti irama lagu, sesekali terdengar teriakan dari penonton karena permainan mereka.  Mezzoforte yang mempunyai anggota dengan rentang usia beragam, dari muda hingga paruh baya, kali ini membawakan deretan lagu mulai dari ‘Mezzoforte’, ‘High Season’, ‘Day Break’, ‘Rollercoaster’, ‘Suprise Surprise’, ‘Garden Party’ hingga  ‘Blast from the Past’ yang cukup dikenal penonton saat itu.

Duet terompet dan saksofon dari personilnya ditambah petikan bass dari Johann Asmundsson yang memukau dengan tempo middle up-beat sanggup membuat penonton terpukau kala itu. Bukan waktu yang sedikit bagi Mezzoforte untuk menjaga keutuhan band fusion ini.

Bagaimanapun mereka harus bisa mensejajarkan diri dengan kemunculan kelompok-kelompok band baru dan mereka akan terus berusaha tetap berkembang dan menyesuaikan karya dengan perkembangan zaman. Diakui juga oleh Eyþór Gunnarsson bahwa sebagian penggemar terbesarnya berasal dari Indonesia, dan band yang sudah berusia 40 tahun ini akan tetap berusaha menyapa penggemarnya yang berada di Indonesia.

Luar biasa.../ YDhew

Sunday, 05 March 2017 11:34

Lorde

Single Baru dan Perubahan Tampilan

 

Cukup lama, hampir empat tahun perjalanan waktu, akhirnya Ella Marija Lani Yelich-O'Connor atau lebih pop disapa Lorde bisa kembali merilis single terbarunya yang diberi tajuk ‘Green Light’. Ini merupakan single pertama dari album barunya "Melodrama", menyusul albumnya pada tahun 2013 lalu "Pure Heroine".

Sebelumnya, Lorde sengaja memberikan serangkaian sinyal kepada penggemarnya bahwa dirinya akan melepas sebuah karya terbaru. Pelepasan single ini juga dibarengi dengan diluncurkannya video klip lagu tersebut.

Jangan berharap melihat Lorde yang dikenal selama ini, karena lewat klip-nya ini, Lorde tampil beda. Perubahan terjadi dari musiknya yang lebih nge-dance dan lakon dirinya yang menari di pinggir jalan, kap mobil, dan sebuah klab.

Namun tetap jangan salah..., karena menurut pengakuan gadis yang lahir pada 7 November 1996 ini, bahwa sebenarnya lagu ini merupakan lagu patah hati. Meskipun lagunya sendiri di hantar lewat irama upbeat yang seolah mengajak menari dan bergembira. Lantunan lirik dalam lagu itu menjadi bentuk luapan emosinya.

 

02 Lorde IstimewaFoto: Istimewa

 

"(Lagu) ini sangat berbeda, seperti di luar dugaan. Ini sangatlah lengkap, lucu, sedih dan menggembirakan dan akan membuatmu menari," tulisnya di akun IG nya. "Ini bukan sesuatu yang biasanya saya tuliskan. Butuh beberapa waktu untuk dapat menuangkan ide dalam menulis lagu tentang patah hati. Itu merupakan patah hati terbesar yang pernah saya alami," lanjutnya.

Dia pun menambahkan bahwa lagu itu menjadi momen ketika perubahan terjadi dalam hidup seseorang yang kemudian dapat membuatnya melakukan semua hal-hal konyol. Begitu juga dengan penampilannya, lewat single yang diproduseri oleh  Jack Antonoff ini, dirinya tak lagi terlihat gothic tapi sedikit lebih berwarna. Menghadirkan wajah cantiknya yang natural, dan tampil lebih feminin.

Lebih jauh lagi, album "Melodrama" sendiri nantinya hendak dirilis pada tanggal 15 Juni mendatang. Ia juga sudah mempersiapkan diri untuk menghabiskan musim semi dan musim panasnya untuk gencar mempromosikan album barunya. / Ibonk

Monday, 06 March 2017 09:32

Chick Corea Elektric Band

Magnet Utama JJF 2017

Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa magnet utama pagelaran musik terbesar Java Jazz Festival (JJF) 2017 ini adalah kehadiran Chick Corea dengan Chick Corea Elektric Band memang telah ditunggu-tunggu sejak lama. Bisa dilihat dari antusiasme pencinta musik jazz yang hadir ingin menyaksikan penampilan mereka dihari ketiga JJF Minggu (5/3/2017). Tetap saja membludak dan malah ada yang memang sengaja menyaksikan sampai dua kali.

Sebelum panggung dibuka, sama seperti sehari sebelumnya penonton telah tampak mengular. Mereka tak sabar untuk menonton suguhan improvised jazz and fusion dari Chick Corea dan bandnya.

Begitu gate dibuka, kursi penonton yang adapun langsung penuh nyaris tak tersisa. Untuk yang tidak mendapatkan kursi, sudah dipastikan harus rela berdiri di belakang dan disamping panggung.

Animo pada Chick Corea memang telah ditunggu sejak lama, keinginan menghadirkan pianis jenius dari Amerika ini sudah tercetus dan menjadi wishlist sejak pertama kali JJF diadakan. Karena memang dirinya adalah fenomenal dan menjadi panutan para musisi jazz modern.

Tetap menghadirkan komposisi musik dan musisi yang sama seperti malam sebelumnya, Chick Corea Elektric Band tampil bersama dengan Dave Weckl, Nathan East, Eric Marienthal, dan Frank Gambale.

02 Chick Corea Elektric Band IbonkChick Corea Elektric Band (foto: Ibonk)

"We are gonna making some noise...", sapa musisi yang saat ini berusia 75 tahun ini kepada penonton yang disambut dengan riuh. Dilanjutkan dengan kehadiran ‘Trance Dance’ yang menjadi nomor pembuka yang cukup apik.,

Berikutnya panggung terus digeber dengan komposisi apik lainnya seperti ‘CTA’, ‘Jocelyn-The Commander’ dan beberapa lainnya. Sajian fusion apik lewat permainan piano Corea berpadu dengan hentakan drum Dave Weckl, lengkingan saxophone Eric Marienthal, gitar elektrik Frank Gambale, dan bas Nathan East tersaji dengan harmonis.

Begitulah, keyboardist dan komposer yang memiliki nama lahir Armando Anthony Corea ini dalam karirnya  sudah cukup sering menjadi penggerak dari beberapa group musik. Tak bisa juga dipungkiri, betapa dirinya menjadi salah seorang yang turut berperan besar lahirnya gerakan electric jazz fusion ditahun 1960-an

Balik lagi ke panggung JJF 2017, selanjutnya dihadirkan ‘Beneath the Mask’ dan ‘Silver Temple’. Penonton terus saja memberikan applause sebagai bentuk kepuasan dan apresiasi yang tidak berhenti disetiap  mereka menyelesaikan permainan.

03 Chick Corea & Eric Marienthal IbonkChick Corea & Eric Marienthal (foto: Ibonk)

Sepanjang perjalan karirnya, Chick Corea telah mengumpulkan 63 nominasi Grammy dengan 22 penghargaan. Eksplorasinya akan genre yang bervariasi menjadikannya memiliki basis refernsi yang cukup luas. Stamina dan aksi panggungnya yang cukup prima menjadikannya masih sangat produktif. Tak ada perbedaan berarti saat ia memainkan piano akustik ataupun elektrik, baik solo ataupun bersama band, segalanya terlihat sempurna.

Di akhir penampilan mereka, Chick Corea dan kawan-kawan menghadirkan komposisi penutup lewat ‘Got a Match?’ yang langsung direspon oleh penonton sambil berdiri dan larut mengikuti lagu bertempo cepat tersebut. / Ibonk

Monday, 06 March 2017 09:25

Bebel Gilberto

Bossa Nova Cinta Nan Mendayu

Sebuah senyum manis dan sapa ramah kepada penggemarnya menjadi sebuah obat tersendiri di malam ketiga ajang jazz terbesar saat ini Java Jazz Festival 2017.  Bayangkan saja, pertunjukkan yang seharusnya dimulai pada pukul 21.45 harus mundur sampai pukul 23.00 WIB. Cukup lama juga mereka sabar berdiri menantikan kehadiran diva Bossa Nova yang memiliki suara yang cukup menghipnotis ini.

Bebel Gilberto, hadir dengan pakaian bermotif bunga-bunga merah yang ceria langsung saja membuka penampilannya dengan ‘August Day’. Jam terbang yang cukup tinggi tampak sekali dengan bagaimana ia menguasai panggung sepanjang penampilannya. Walau hanya diiringi akustik yang minim, nominator beberapa kali dalam ajang Grammy Awards ini terlihat begitu memikat dengan pilihan lagu-lagu dan gerak tarinya.

Anak dari pionir bossa nova, Joao Gilberto dan Miucha ini menghadirkan lagu lainnya yang berjudul ‘Momento’ dan melibatkan penonton untuk bernyanyi bersamanya pada lagu ‘Aganju’. Lepas itu, dengan sedikit kocak ia pun menyanyikan intro ‘Agua de Beber’ yang cukup fenomenal... ‘Haaa, kalian mau mendengarkan ini? Tidak akan..”, ujarnya, Ia malah menghadirkan lagu yang cukup dikenal yang juga mengangkat namanya ‘So Nice’ dengan nada yang begitu indah..

Begitulah.. lagu demi lagu lewat sajian boosa nova bersyair latin terus mengalun. Ia yang sejak tahun 1960-an sudah menjadi salah satu musisi Brazil yang paling laris di Amerika ini, mengakui mengalami masa kecil yang disebutnya “music non stop”. Dikelilingi oleh keluarga besar termasuk pamannya yang juga komposer Chico Buarque, lalu Milton Nascimento, Tim Jobim, Caetano Veloso dan Joao Donato.

02 Bebel Gilberto IbonkBebel Gilberto (foto: Ibonk)

Warna musiknya sendiri mendapat pengaruh yang cukup luas dari semua genre musik termasuk semua jenis musik Brazil. Pasca dirinya pindah ke New York pada tahun 1991, ia lebih memperdalam musik electronic yang dikawinkannya dengan musik Brazil. Nah.. sampai saat ini, Bebel Gilberto seolah cukup melekat dengan jenis musik tersebut.

Berturut-turut kembali ia melantunkan lagu-lagu lainnya dengan berbagai macam tempo lagu seperti ‘Saudade’, ‘Baby’, ‘Bring Back The Love’, ‘Sem Contencao’, dan ‘Cada Beijo’.

Penampilannya diakhiri dengan menghadirkan lagu ‘Samba Da Bencao’. Begitulah... semuapun puas akhirnya dengan apa yang dihadirkannya  lewat permainan bossa nova infused melody.. lagu dengan lirik cinta dan pertunjukkan panggung yang mendayu../ Ibonk

Sunday, 05 March 2017 09:13

Nik West

Silver Mohawk, Bass dan Aksi Panggung

Masih muda usia, namun karirnya di panggung musik terbilang cukup sukses. Malah profilnya telah dimuat di majalah Bass Musician Magz, Bass Player, Bass Quaterly Germany ataupun Bazz Magz Japan. Siapa lagi kalau bukan Nik West yang disebut-sebut juga sebagai The Female Lenny Kravitz.

Tahun ini meriupakan tahun pertamanya menjejakkan kaki di panggung Java Jazz Festival, namun kabar kedangannya sudah cukup membuat penasaran para penonton yang hadir. Nik hadir selama 2 malam berturut-turut dan malam kedua kemarin 4/3/17 adalah aksi terakhirnya. Apa yang ditampilkannya memang benar-benar sebuah aksi panggung yang cukup enerjik.

Malam sebelumnya, NewsMusik hanya sempat menyaksikannya diujung penampilannya saat membawakan salah satu komposisi lawas milik Prince yang berjudul ‘Kiss’. Nah karena hal tersebut, rasa penasaran membawa keinginan untuk melihatnya lebih jauh di panggung D1 di hari kedua.

Benar saja, mendekati pukul 20.31 WIB, gemuruh drum solo, gitar elektrik, organ menjadi pembuka penampilan Nik West di kali kedua penampilannya. Silver Mohawk Lady ini membawakan lagu pembuka berjudul 'Bass Groove'.  Ditingkahi oleh dua orang wanita bernyanyi sambil mengiringi permainannya. Tampil dengan body suit biru metalik, dengan rok dan sepatu warna silver langsung menunjukkan kebolehannya di atas panggung.

02 Nik West IbonkNik West (foto: Ibonk)

Panggung makin warna warni dengan wardrobe para anggota bandnya yang juga mengenakan pakaian dengan warna mencolok. Tak meninggalkan aksi panggungnya, Nik tidak pernah diam di satu posisi. Ia terus berjalan hilir mudik menguasai semua sudut panggung. Beberapa lagu lainnya yang ditampilkannya seperti 'Say Somethin', ‘My Relationship’, ‘Bottom Of the Bottle’, ‘Forbidden Fruit’ ataupun 'People Pleaser'. Malah dilagu 'People Pleaser', ia memetik bassnya hingga duduk di lantai.

Sempat silam sejenak takkala sang vokalis membawakan lagu milik sang Sister Morphins Janis Joplins 'Piece of My Heart'. Selepasnya iapun kembali menghentak panggung dengan caranya sendiri. Sebagai entertainer dalam musik ia sanggup menghadirkan kepuasan maksimal.

Nik West sendiri merupakan pemain bass dan penyanyi berbakat yang sudah melanglang buana mengiringi penampilan Dave Stewart, Prince, John Mayer dan lainnya. Ia juga tumbuh dari keluarga dan lingkungan musik. Belajar musik diusia 13 tahun, dan kemudian membuat band keluarga bersama saudara-saudaranya. Semakin dirinya dewasa, ia makin tertarik dengan musik jazz, dan melakukan improvisasi serta bereksperimen dengan musik ini.

03 Nik West IbonkNik West (foto: Ibonk)

Permainannya sendiri sangat dipengaruhi oleh Larry Graham, Louis Johnson dan Marcus Miller yang kental sekali dengan nuansa funk. Cara bernyanyi juga sangat ekspresif, tak kalah dengan permainan bassnya. Sayang di 2 hari penampilannya ini, Nik West lebih banyak beraksi dengan bass nya saja.

Diujung penampilannya Nik memainkan lagu lawas milik Chaka Khan ‘Ain’t No body’ sambil tak lupa menyajikan aksi lainnya diatas panggung. Thanks for the performance Nik.. we love you!!/ Ibonk

 

Saturday, 04 March 2017 23:42

Air Supply

Memanjakan Pengemar Indonesia

 

Terbayarlah sudah hutang band legendaris asal Australia, Air Supply, yang akhirnya bisa memanjakan dan menghibur para pengemarnya di Indonesia. Lewat konser yang bertajuk “40th Anniversary-Celebration of Love”, di The Kasablanka, Kota Kasablanka Jakarta Selatan, Jumat (3/3/2017). Acara tersebut berlangsung sukses dan sesuai dengan ekspektasi dari pihak penyelenggara, bahwa masih cukup banyak yang merindukan duo gaek ini.

Russel Hitchook dan Graham Russel membuka konser dengan lagu ‘Sweet Dream’. Teriakan dan sorak penonton sepontan terdengar yang hadir di The Kasablanka pun bergemuruh. Setelahnya, duo tersebut  langsung melanjutkan dengan tembang lagu lainnya. “Apakah kalian sudah merasa romatis malam ini?” tutur Graham disambut tepuk tangan penonton.

Suasanapun menjadi terasa syahdu dan romantis saat duo tersebut membawakan lagu ‘Just As I Am’, ‘Every Woman’, ‘Here I Am’, ‘Chances’, dan sebuah tembang yang sangat ditunggu-tunggu para pengemar Air Supply berjudul ‘Goodbye’. Setiap tembang yang dibawakan duo yang terkenal di era tahun 80-an itu tak henti-hentinya penonton ikut bernyanyi bersama. Mereka tetap memberikan kejutan pada pengemarnya yang sabar menantikan konser yang sempat tertunda ini, yang seharusnya berlangsung 3 Desember 2016.

02 Air Supply RizalGraham Russel (Foto: Rizal)

 

Satu satu lagu romantis lainnya yang menjadi andalan dan hit mereka terlantunkan. Banyak lagu seperti ‘The One That You Love’, ‘Two Less Lonely’, ‘Lost in Love’, ‘Making Love’, ‘Without’, ataupun ‘Shake It’, dihadirkan sampai akhir konser.

Patut diakui bahwa penampilan yang disajikan oleh Russel Hitchcock (67) dan Graham Russel (66) mampu menyihir ribuan penonton yang hadir malam itu. Riuhnya kehadiran penonton juga direspon dengan antusias oleh 2 Russel tersebut. “Terima kasih banyak, tempat ini sangat berkesan setelah 40 tahun,” katanya.

Dengan sebuah lagu penutup ‘All Out of Love’, keduanya mengakhiri konser kelimanya di Kota Kasablanka. “Kami adalah milik kalian! sebelum kami pergi, kami punya sesuatu untuk dinyanyikan”, kata Graham Russel sebelum menyanyikan lagu terakhir pada konser mereka malam itu.

“Terima kasih Jakarta! God Bless You....”, ungkap keduanya mengakhiri penampilannya./ Rizal

 

 

Saturday, 04 March 2017 18:38

Arturo Sandoval

Magnet JJF di hari Pertama
 
Java Jazz Festival (JJF) 2017 hari pertama resmi digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (3/3). Ribuan pecinta jazz sudah berdatangan dari sore hingga senja ini. Malah beberapa musisi terlihat sudah menuntaskan penampilannya pada sore harinya. Nama-nama yang menarik perhatian di awal JJF 2017 Randy Pandugo, Mezzoforte, Beady Belle Band, Jazz Orchestra of the Concertgebouw feat. Dira Sugandi, Fareed Haque, Tulus, The Daunas feat. Paulinho, dan lainnya seakan-akan menjadi magnet tersendiri untuk diburu.
Beranjak ke malam hari, pengunjung Java Jazz Festival 2017 bakal dihibur oleh sederet musisi unggulan lainnya. Seperti, Danilla, Emma Larsson, King, Ron King Big Band, Andien, Harvey Mason, DW3, Abdul and the Coffee Theory, Polly Gibson, The Groove, Nik West, Kirk Whalum, dan lainnya.
Yang menjadi incaran utama malam ini adalah musisi asal Kuba, Arturo Sandoval. Ia mendapat jatah manggung di Tebs Stage Hall D1. Musisi yang tahun ini memasuki usia 68 tahun tampil agak mundur dari waktu yang telah dijadwalkan. Seperti tidak ingin mengecewakan para penontonnya, ia pun tampil dengan total.
"Sangat menyenangkan berada di sini," ungkap Sandoval. "Saya takjub, fasilitas disini sangat mengesankan", pujinya dari atas panggung ketika memberikan kesannya terhadap festival ini.
 
02 Arturo Sandoval Ibonk
Arturo Sandoval (Foto: Ibonk)
Beragam sajian latin jazz dalam berbagai tempo dimainkannya bersama bandnya. Walaupun sudah melampaui masa tenarnya, Sandoval juga masih memiliki vokal yang masih cukup prima. Seperti lagu 'Bossa Nova' dengan lirik bahasa Latin dinyanyikannya dengan apik. Kemampuannya dalam meniup trompet juga patut diberi banyak jempol. "Come on, ladies. Goyangkan pinggulmu," kata Sandoval sambil tersenyum lebar, membuat penonton tertawa.
Selanjutnya lagu 'Smile' milik Nat King Cole pun dibawakan. Tidak dinyanyikan, tapi dari alunan terompet yang ia tiup. Lagi sebuah lagu upbeat berjudul 'Shake Your Booty Baby' menjadi sarana menunjukkan aksinya. Dengan menggunakan terompetnya sambil sesekali bernyanyi ia pun sedikit menari dan itu makin membuat penonton terhibur
Setelahnya, Arturo Sandoval menunjukkan respect-nya terhadap sang mentor Dizzy Gillespie lewat single ‘Everyday I Think of You’. Panggung langsung disergap oleh rasa haru, ketika Ia menyanyi dengan sepenuh hati. 
Diakhir pertunjukannya, Sandoval mempersilakan pemain perkusinya untuk tampil solo dengan menggunakan marakas dan drum. Piawai menunjukkan berbagai teknik, Sandoval mengapresiasi permainan musisinya tersebut dengan tepuk tangan dan sorakkan penonton./ Ibonk
Sunday, 05 March 2017 18:16

Tommy Page

Kematiannya Masih Teka Teki

Penyanyi Tommy Page yang sudah beberapa kali datang ke Jakarta pada pertengahan 2016  lalu menggelar konser yang bertajuk "In The Mood of Love with Tommy Page" ini di kabarkan meninggal dunia.  Belum diketahui apa penyebab pasti penyanyi berparas baby face ini menghembuskan nafas terakhirnya, dugaan sementara yang dikutip dari Billboard.com, Tommy meninggal kaarena bunuh diri.

Penyanyi yang memiliki nama asli Thomas Alden Page  ini meninggal disaat usianya masih relatif muda,  penyanyi kelahiran New Jersey, USA ini meninggal dunia pada saat usia 46 tahun. Page yang memulai karirnya sejak usia belia. Bakatnya dalam bidang musik mulai terlihat sejak memulai bermain piano pada usia delapan tahun dan belajar keyboard pada usinya  12 tahun. Sejak saat itu Page mulai bermain musik  dan bergabung dengan saudaranya dalam sebuah grup musik.

Lulus dari Sekolah Menengah Atas, Page yang beranjak remaja mencoba peruntungannya di kota New York dan bekerja pada sebuah klub yang bernama Nell’s.  Dari sana Page berkenalan dengan produser Mark Kamins dan pemilik Sire Records, Seymour Stein. Bertemu dengan kedua orang tersebut menjadi kunci dari perjalanan karir Page di dunia musik. Sambil bekerja Page mengirimkan demo lagunya kepada Seymor Stein dan akhirnya berhasil.

Salah satu singlenya yang berjudul ‘I’ll Be Your Everything’ sukses menduduki puncak tanggal lagu Billboard di era tahun 1990. Sejak saat itu nama Tommy Page mulai dikenal oleh pecinta musik pop dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Lagu itu sendiri ditulis oleh Page dan pemberian dua personel New Kids On The Block (NKOTB), Jordan Knight dan Danny Wood. Page pun diminta sebagai artis pembuka untuk konser “Step By Step” mereka. Lagu yang dibawakan Page sebagai vokalis utama diharmonisasikan dengan Donnie Wahlberg, Jordan Knight dan Danny Wood. Lagu tersebut muncul dalam album keduanya “Painting in My Mind”.

02 Tommy Page IstimewaTommy Page (Istimewa)

Sejak saat itu Page kerap muncul di beberapa majalah remaja, namun hal tersebut tidak serta merta membuat penjualan album Page laris manis di pasaran. Di tahun 1991 Page merilis albumnya yang ke tiga From the Heart. Karena penjualan album yang biasa saja, Page sempat mendapatkan julukan ‘One Hits Wonder’ oleh salah satu label musik di Amerika.

Di tahun 1992 Page muli dilirik label rekaman yang berada di Jepang, Page pun merilis albumnya yang bertajuk “Friend to Rely On” dan menjadi hits terbesar untuk Warner Jepang kala itu. Di tahun 1994-1996 ia juga merilis dua album, yaitu “Time” dan “Loving You”.

Single-nya ‘Missing You’ berhasil meraih peringkat satu di Asia. Namun akibat krisis ekonomi di Jepang kala itu, pada akhir 1990-an, label rekamanpun ditutup. Dengan nasib yang tak pasti sebelum fokus menjadi produser dan bergabung dengan Warner Bros/ Reprise Records Page yang membantu karir Michael Buble, Alanis Morissette, Josh Groban, dan Green Day sempat merilis album “Ten Til Midnight” di tahun 2000.

Sejak karirnya di dunia musik Page sempat melahirkan beberapa album, meskipun hanya satu lagunya yang menjadi hits di negara asalnya, namun beberapa lagu Page meledak di Asia dan beberapa kali datang ke Indonesia untuk konser dan selalu sukses dipadati penggemar. Kecintaanya terhadap fansnya yang berasal dari Indonesia, penyanyi berwajah imut ini bahkan sempat menggarap singlenya dengan penyanyi Tanah Air, Citra Scholastika yang berjudul  "Don't Give Up on Love".

Selamat jalan Tom./ YDhew

 

Page 11 of 113