NewsMusik

NewsMusik

Monday, 13 November 2017 10:37

Indonesia Kita (I.Ki)

Album Kedua dan Rock Opera

Mendengar lontaran kalimat bahwa I.Ki bukan dilahirkan, tapi terlahirkan... adalah sebuah pengulangan yang seringkali keluar dari mulut seorang Renny Djajoesman. Tapi yang kita harus pahami, ini bukan sebuah rangkaian kata-kata tanpa kebanggaan. Ini adalah sepenggal kata yang menjadi kunci keberadaan sebuah komunitas para musisi lintas genre yang makin guyub pada saat ini, Indonesia Kita (I.Ki)

Kalimat yang sama kembali terlontar lagi pada Jumat, 10 November 2017 malam, diantara sergapan hujan dibilangan Komplek Polri, Ragunan, Jakarta Selatan. Ya, dirumahnya yang cukup luas ini, Renny sengaja melakukan Syukuran Ulang Tahun Kedua I.Ki lewat cara yang sederhana.

Kepada NewsMusik, Renny mengungkapkan bahwa sebenarnya syukuran dikediamannya ini dibuat dadakan. “Sebenarnya kita sudah menyiapkan sebuah acara ulang tahun yang meriah di sebuah tempat di Jakarta. Namun mendadak kok ya rasanya terlalu berlebihan. Apalagi belakang ini berturut-turut banyak kawan-kawan musisi yang berpulang. Sehingga lebih etis rasanya kalau dibuat sederhana saja disini. Yang pentingkan semangatnya”, ungkap Renny panjang lebar.

Selanjutnya dia menambahkan “Tak hanya syukuran, namun nanti sekalian ingin membicarakan rencana penggarapan album kedua I.Ki yang memang harus segera rampung”.

02 Renny Djajoesman IbonkRenny Djajoesman (foto: Ibonk)

Lamat-lamat hujan mulai reda dan di lokasi acara sudah terlihat banyak musisi yang tergabung di komunitas ini diantaranya: Berry Saint Loco, Riffy Putri, Silvia Sartje, Wel Welly, Rama Moektio, Trison, Damon Koeswoyo, Jelly Tobing, Harry Toledo, Taras serta dihadiri juga lewat kedatangan Pembina I.Ki seperti Bens Leo dan Rummy Azis. Juga beberapa awak media yang memang sengaja hadir untuk meliput kemeriahan malam itu.

Dalam sambutannya yang Renny yang ditemani oleh Jelly Tobing menyampaikan bahwa Komunitas ini bukan dikumpukan melainkan terkumpulkan. Moment itu bertepatan pula dengan sebuah tanggal yang sakral bagi bangsa ini yakni hari Pahlawan. “Yang bisa mengumpulkan kami adalah semangat nasionalisme, bertepatan pula lahir lagu perdana bertajuk ‘Indonesia Kita’ yang dikarang Jelly Tobing”.

Sebagaimana yang terjadi, lagu yang bernafaskan spirit kecintaan kepedulian terhadap Indonesia tersebut selain menjadi lagu khusus di tubuh I.Ki juga menjadi theme song Bela Negara oleh Kementrian Pertahanan RI.

Seperti yang telah disinggung diatas, I.Ki saat ini akan segera membuat album kedua. “Untuk materi lagu sudah ada. Karena disini semuanya adalah musisi dan saya sudah mengelompokkan komunitas ini menjadi beberapa kelompok, masing-masing bertanggung jawab dengan satu karya dari mentah sampai menjadi barang jadi. Semua tema lagu nanti tetap merupakan tema kebangsaan dan silakan dengan genre apapun”, papar Renny lagi.

03 Potong Tumpeng I.Ki IbonkPotong Tumpeng I.Ki (foto: Ibonk)

Pembahasan materi album kedua I.Ki ini adalah sambutan atas tantangan dari penasehat dan juga pemilik DSS, Donny Hardono yang sejak beberapa waktu lalu sudah menyuarakan ingin membantu menggarap album kedua ini agar lebih apik dibandingkan album sebelumnya.  

Renny juga menyebut pada Januari 2018 berencana membawa anggota I.Ki bermain dalam pertunjukan “Rock Opera”. “Ini baru sebuah tawaran dan memang telah kepikiran lama. Baru sampai pada perumusan cerita. “Potensi kawan-kawan di I.Ki saya yakin akan bisa menonjol karena beberpa saya lihat jago akting, dan ceritanya juga masih dalam balutan rock. Jadi pasti bisalah”, tutupnya.

Baiklah, walau syukuran ulang tahun kedua I.Ki hanya dilakukan sederhana, tapi NewsMusik melihat rencana pembuatan album kedua dan pertunjukkan Rock Opera adalah potensi bagus komunitas ini untuk semakin eksis di hari depan. Keep rawwkk.../ Ibonk

 

Tuesday, 07 November 2017 13:11

Konser Dongeng Naura 2 Bandung

Karir Kinclong Berkat Tangan Dingin Orang Tua

Mengikuti perkembangan Naura sejak kemunculannya di tahun 2014 lalu, rasanya cuma decak kagum yang bimengiringi perjalanan karirnya. Bagaimana tidak, sejak kemunculannya pertama kali, Naura sanggup mempengaruhi anak Indonesia dengan lagu-lagunya. Pertumbuhan karirnyapun terbilang cukup singkat. Bagaimana tidak, anak pasangan penyanyi Nola B3 dan Baldy Mulya Putra ini hadir ditengah pacekliknya tokoh cilik di industri hiburan tanah air.

Dibandingkan dengan sang Ibu yang perlu 20 tahun untuk menggelar konser tunggal, di usianya yang baru menginjak 12 tahun ini, Naura sudah menggelar konser tunggal selama 3 kali dan mendulang sukses. Terlepas dari bakat, kesuksesan Naura adalah juga berkat tangan dingin kedua orang tuanya hingga menjadikan Naura idola baru di industri musik anak Tanah Air.

Sejak booming-nya film bergenre musikal “Petualangan Sherina” di tahun 2000-an yang membawa Sherina Munaf ke jajaran idola cilik baru kala itu, belum ada lagi tokoh idola baru untuk anak di Tanah Air. Pertumbuhan generasi bangsa saat ini yang begitu pesat tidak sebanding dengan pertumbuhan karya lagu anak, yang diisi dengan lirik lagu yang menyenangkan dan syarat dengan edukasi. Kemunculan Naura sendiri membawa angin segar di tengah minimnya lagu anak dan hiburan untuk anak yang berkualitas.

NewsMusik lagi-lagi berkesempatan untuk kembali menyaksikan gelaran konser tunggalnya yang bertajuk “Konser Dongeng Naura 2” yang kali ini diadakan di Bandung. Setelah konsernya 4-5 Februari lalu yang diadakan di Ciputra Artpreneur, Jakarta, rasanya baru kali ini dibuat merinding menyaksikan aksi Naura beserta kawan-kawan seusianya beraksi di atas panggung.

Bagaimana tidak, Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Tamansari Kota Bandung sejak siang hari sudah penuh diisi oleh anak-anak berbagai usia untuk menyaksikan konser Naura kali ini. Padahal konser baru akan berlangsung mulai pukul 19.30 WIB. Pukul 18.30 WIB area konser mulai dibuka, Gedung Sabuga pun diisi oleh teriakan dan celoteh anak-anak yang ingin menyaksikan idola kesayangan mereka di atas panggung.

02 Naura dan Nola YDhewNaura dan Nola (foto: YDhew)

Begitu Konser Dongeng dimulai, suasana gedung yang sejak awal dibukanya semakin meriah dengan atribut yang dikenakan penggemar Naura yang biasa disebut Teman Naura. Kerlap kerlip lampu warna merah muda dan biru menghiasi seantero Sambuga. Belum lagi sambutan fansnya tersebut yang patut diacungi jempol.

Ojip Ismaputra yang didampuk menjadi pendongeng membuka acara konser kali ini, seakan tak sabar dengan kemunculan Naura. Ribuan penonton yang terdiri dari anak-anak dan orang tua yang mendampingi bersorak kegirangan begitu Naura muncul. Hal ini menjadi bukti begitu antusiasnya mereka untuk menyaksikan konser tersebut.

Membuka lagu pertama Naura hadir dengan menggunakan kostum pink berkilau seakan berada di negeri dongeng, sesuai dengan lagu yang dibawakan ‘Dongeng’. Tak hanya sendiri, Naura didampingi oleh Neona sang adik dan Ibunya Nola yang sama-sama menggunakan kostum bak putri dalam dongeng.

Setelah menyanyi bersama ibu dan adiknya, dipenampilan ke dua Naura tampil dengan duduk di atas sofa besar sambil memetik ukulele. Menyanyikan lagu ‘Panca Indera’ dilanjutkan dengan ‘Kata Ajaib’ dan ‘Menabung’ Naura tampil prima bersama dengan D’Nau, kelompok penari Naura.

Tadinya NewsMusik sempat berfikir bahwa Naura melakukan aksinya dengan lip-sync, melihat betapa stabilnya suara Naura di atas panggung, padahal dia menyanyi dan menari tanpa henti sambil sesekali berlari di atas panggung untuk menyapa pengunjung yang memadati area konser dari ujung panggung ke ujung lainnya. “Halo semuanya. Kumaha damang? Aku senang banget bisa konser di Bandung. Sudah ikutan nyanyi dari lagu pertama, siap untuk lagu berikutnya ya," kata Naura menyapa sekitar 2000-an penonton yang hadir kala itu.

Di lagu keempat ‘Jalan-jalan’, selain memanjakan penonton dengan aksi panggungnya beragam objek gambar secara visual pun ditampilkan. Gambar yang bergerak dengan berbeda-beda di setiap lagu, ditambah dengan video mapping yang menghiasi sanggup membawa penonton ke dalam alunan lagu yang di bawakan.

Neona muncul di lagu berikutnya ‘Mama Papa’, dimulai dengan percakapan dengan kakaknya yang sedikit memaksa untuk gilirannya bernyanyi, Neona menghadirkan suasana tawa di antara penonton. Lewat gayanya yang kenes dan sok tahu Neona memaksa kakaknya Naura turun dari panggung.

Dengan mulus Neona kemudian menyanyikan lagu berikutnya ‘Langit Yang Sama’. Bocah usia 8 tahun ini sanggup memberikan suasana yang berbeda diatas panggung. Hal ini diakui oleh  Ojip, bahwa yang ditampilkan Neona di atas panggung hampir semuanya dilakukan secara spontan keluar dari skrip.

03 Momen Sahabat Setia IstimewaMomen Sahabat Setia (Istimewa)

Contohnya saja ketika tiba-tiba muncul menyanyikan ‘Eta Terangkanlah’ yang mau tidak mau musik yang mengiringi dipaksakan muncul mengisi lagu tersebut. Begitupun ketika menyanyikan lagu lebih awal dengan spontan Neona mengatakan “Eh salah ya..” tanpa grogi ia tetap bernyanyi, hingga penonton menganggap hal tersebut sebagai salah satu improvisasi lagi dari Neona.

Tampil sekitar hampir 2 jam, Naura tampil dengan membawakan 18 lagu. Hampir disetiap jeda lagu ditampilkan beragam dialog, baik dialog yang menghibur juga menyampaikan pesan untuk anak-anak yang menonton pada malam itu. Berturut-turut lagu ‘Bully’, ‘Menari’, ‘Sahabat Setia’, ‘Sister’ dan lagu ‘Untuk Tuhan’ menyampaikan pesan yang berbeda dari setiap lagunya.

Di babak akhir konser, Naura tak henti menyanyi sambil menari untuk lagu ‘Believe’, ‘Lukisan Indonesia’ ‘Berani Bermimpi’, dan ‘Setinggi Langit’. Hampir semua lagu di aransemen oleh Mhala dan Tantra “Numata” dengan komposisi aransemen yang apik. Naura pun mampu dan tahu caranya memberikan penampilan yang terbaik.

Moment haru juga tersaji pada konser kali ini, duet Naura dengan Nola pada saat menyanyikan lagu ‘Sahabat Setia’. Nola bernyanyi sambil menahan isak ketika lagu yang menceritakan hubungan antara ibu dan anak itu dilantunkan, penonton yang menyemangati Nola membuatnya sanggup melanjutkan lagu tersebut dengan mulus.

Tak kalah menarik, kehadiran gendang rampak dan beberapa penari asal kota Bandung yang didapat lewat audisi mampu membuat mata penonton tak lepas dari panggung. Aksi mereka dengan diiringi musik rampak gendang tampil memukau bersama dengan Naura menari dan bernyanyi.

Begitulah konser kali ini, banyak decak kagum keluar begitu saja dari penonton. Di usianya yang terbilang belia, namanya berangsur-angsur menjadi ikon baru di bidang musik. Hampir di setiap konsernya tiket yang dijual dengan harga Rp. 175 ribu hingga Rp. 975 ribu ludes terjual hanya dalam hitungan hari.  

Stamina Naura pun patut diacungi jempol, dengan persiapan yang cukup singkat sekitar hampir dua minggu, Naura masih tetap prima menyanyikan setiap bait lagu-lagunya. Naura yang kepingin tetap terus sukses, terus bernyanyi dan terus mempengaruhi anak-anak lainnya, berharap ke depan karyanya masih tetap dapat diterima oleh anak Indonesia sesuai dengan perkembangan usianya.

"Saya tak pernah menyangka karier Naura dan Neona akan seperti ini. Sejak lagu pertama sampai terakhir di konser semua ikut menyanyi. Nggak tahu mau ngomong apa, yang jelas hal ini menjadi penghargaan tertinggi buat kami," ujar Nola./ YDhew

 

Wednesday, 08 November 2017 14:52

Marky Ramone

Segera Hadir di Jakarta

Marc Steven Bell atau lebih dikenal dengan nickname Marky Ramone kelahiran Brooklyn, New York, 15 Juli 1952 adalah mantan penggebuk drum unit punk legendaris Ramones. Nah, kabarnya dalam waktu dekat ini, Marky bakal tampil menggelar konser dipanggung Hard Rock Café, Jakarta pada  5 Desember 2017.

Marky sendiri tergabung di formasi Ramones selama kurang lebih 15 tahun. Kini ia menjadi satu-satunya personel Ramones yang masih hidup. Seperti yang kita ketahui bahwa, Ramones adalah band yang paling berpengaruh di skena musik punk era ’70 an.

Band inipun akhirnya harus bubar pada tahun 1996 setelah mennghabiskan sebanyak lebih dari 2000 konser. Kenang-kenangan yang bakal diingat selamanya selain konser dan karya musik mereka adalah salah satu buku otobiografi Marky yang bertajuk Punk Rock Blitzkrieg: My Life as a Ramone.

Dipertunjukannya di tanah air nanti, Marky akan tampil bersama bandnya yang diberi nama Marky Ramone’s Blitzkrieg. Grup bentukannya ini lahir pada tahun 2008, sebagai wujud  kecintaannya terhadap musik dan panggung rock.

02 Marky Ramone Live IstimewaMarky Ramone (Istimewa)

Untuk menyaksikan penampilan Marky di Hard Rock Cafe Jakarta, pihak penyelenggara menetapkan harga tiket sebesar Rp. 400.000,-. Tiketnya sendiri sudah dijual sejak 1 November lalu langsung di Hard Rock Cafe Jakarta. Kabarnya sebelum konser berlangsung, ada kemungkinan bakal diadakan sesi Meet & Greet dengan Marky sendiri untuk para fansnya di tanah air./ Ibonk

 

Tuesday, 07 November 2017 14:43

Chrisye #TheSpiritContinues Music Fest Concert

Perayaan Semangat Seorang Legenda

10 tahun sudah penyanyi legendaris Chrisye kembali keharibaan penciptanya. Tapi masih lekat dan seakan tidak pernah sirna dari ingatan segala karya yang pernah dihadirkannya. Ada banyak sajian musik yang dikemas dalam beragam tema untuk mengenang keberadaan sang legenda ini semasa hidupnya. Tak terhitung juga, munculnya penggemar baru dimasa milenial ini karena sajian-sajian tersebut, karena karya Chrisye seperti  dapat bergandeng dengan era berjalan.

Kali inipun sebuah pertunjukan musik yang dilebeli tajuk “Chrisye TheSpiritContinues Music Fest Concert” akan diselenggarakan di Balai Sarbini, Jakarta Selatan, pada 29 November 2017. Konser yang dilatarbelakangi oleh kemampuan Chrisye yang mampu merawat semangatnya dalam berkarya, perjuangan, dan keberuntungannya yang mampu melintasi generasi musik tanah air.

"Chrisye sudah pergi, tak akan pernah kembali. Tapi, semangat yang pernah ditunjukkannya itulah yang harus kita ambil. Let celebrate his spirit, semangat dia yang diharapkan bisa berlanjut untuk musik Indonesia," ungkap istri mendiang, Damayanti Noor di bilangan SCBD, Jakarta, Selasa (7/11/2017).

Sejalan dengan rencana ini, promotor Diansyah Dinamika Wiryatama (DDW COMM), Rizky Diansyah pun mengampanyekan #thespiritcontinues untuk meneruskan semangat berkarya dan bermusik Chrisye kepada generasi muda. “Ini bukan sekedar event, namun ini lebih kepada sebuah campaign atau movement bagi sesama musisi ataupun penggemarnya. Tidak ada batasan untuk tetap berkarya, menjaga semangat yang memang harus tumbuh dari diri sendiri”,  ungkapnya berfilosofi.

02 Reza unjuk tampil saat Chrisye TheSpiritContinues Music Fest Press Conference IbonkReza unjuk tampil saat Chrisye #TheSpiritContinues Music Fest Press Conference (foto: Ibonk)

Begitulah, untuk menularkan semangat tersebut kepada generasi milenial, pertunjukan ini pun dirancang berbeda dengan konser-konser yang sudah pernah ada. Seperti yang disampaikan oleh Seno M. Hardjo selaku salah seorang penggagas event ini kepada NewsMusik, bahwa mereka melibatkan penyanyi-penyanyi dari berbagai kalangan. Mulai dari seorang Glenn Fredly dan Reza yang telah memiliki nama besar sampai kepada kalangan musik indie yang diwakili oleh band Sore, serta youTubers seperti Eclat Story, Oskar Mahendra, Deredia ataupun Electroma (DJ Kenny, Gabriel, dan Dewi Gita).

“Sengaja ditampilkan nama-nama lintas genre dan era karena kami percaya mereka dapat menampilkan sebuah hal yang berbeda. Bagaimana mereka akan menginteprestasikan karya Chrisye yang mereka pilih kedalam sajian yang unik”, ungkap Seno. “Kehadiran Denny Chasmala and Friends sebagai pengiring juga akan menjadi jaminan kualitas konser ini.”

Selain dari susunan penampil, panggung pertunjukan juga ditata sedemikian rupa agar menambah semarak. “Kami enggak mau bikin konser yang sama. Memang seperti festival, ada tiga stage dalam satu panggung besar. Terpisah stage-nya dan nonstop tanpa MC," ujar Damayanti.

Bagi yang berminat, pihak penyelenggara telah merilis bandrol tiket untuk early bird yang tersedia sampai tanggal 10 November 2017 di Kiostix, Blibli, Goers ataupun Traveloka dengan harga Rp. 350.000,- (Gold), dan Rp. 275.000 (Silver). Selepas batasan tanggal tersebut, tiket akan dijual dengan harga normal. Baiklah, bagaimana bentuk sajian yang akan ditampilkan pada Chrisye #TheSpiritContinues Music Fest Concert mendatang? Ada baiknya kita hadir menyaksikannya./ Ibonk

 

Thursday, 02 November 2017 09:24

Afgan

Rilis Video Klip ‘X’

Setelah sukses membawa pulang penghargaan Anugerah Planet Muzik 2017 untuk lagu ‘X’ sebagai Kolaborasi Terbaik dengan rapper asal Malaysia SonaOne, Afgan bisa dikata keluar dari zona nyamannya. Dalam single ini ia mempersembahkan genre yang berbeda, dengan memberikan sesuatu yang baru.  Afgan yang dikenal sebagai penyanyi ballad, tiba-tiba merubahnya dengan sentuhan hip hop.

"Bisa dibilang saya lumayan cari risiko. Ya mengubah musik saya, yang sebelumnya lagu ballad sekarang urban sedikit hip hop. Pertama kali dalam karier saya berani merilis lagu seperti ini," tutur Afgan di Decanter, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (1/11).

Agan mengakui bahwa lagu ini merupakan lagu favoritnya pada album ”Sides”, selain merupakan karya Afgan sendiri lagu ini terinspirasi dari kisah cintanya. “Saya akui kalau lagu ini merupakan a whole new sound from me. Tapi saya rasa dari liriknya sendiri pasti banyak orang yang bisa relate dengan lagu ini. ‘X’ itu artinya mantan, lagu ini menceritakan seseorang yang ditinggalkan oleh mantannya. Saya yakin di Indonesia pasti banyak yang mengalami hal tersebut,” ujar Afgan.

Proses pembuatan lagu ini pun terbilang cukup singkat, antara Afgan dan SonaOne telah saling kenal sebelumnya sehingga chemistry diantara keduanya terbentuk dengan mudah.

02 Afgan & SonaOne terkait perilisan Video Klip X YDhewAfgan & SonaOne terkait perilisan Video Klip ‘X’ (foto: YDhew)

“Saya senang sekali bisa berkolaborasi dengan Afgan, ini awal yang bagus buat saya. Lagu ini dibuat hanya dalam tiga jam seperti Afgan bilang. Ini sangat alami, aku bahkan tidak tahu bagaimana ini terjadi, sangat cepat, dan ini ajaib. Ini salah satu kolaborasi favorit, dan juga kolaborasi pertama dengan penyanyi Indonesia," kata Sona.

Sona yang diajak oleh pihak Trinity Optima Production untuk membantu membuat lagu di album “Sides”, hanya butuh waktu seminggu, Afgan ke Malaysia untuk membicarakan lagu ini. Dua minggu kemudian Sona terbang ke Jakarta untuk melakukan proses rekaman. SonaOne pun merasa bangga berkolaborasi dengan Afgan yang membawanya mendapatkan penghargaan Anugerah Planet Muzik 2017 untuk pertama kali.

Lagu ‘X’ ini juga menampilkan video klip yang digarap secara apik oleh Candi Soeleman. Dengan konsep urban dan futuristik, video klip ini menyajikan pemandangan gedung-gedung di Korea Selatan sebagai lokasi. Dipilihnya Korea Selatan sebagai lokasi video dengan gaya clean cut dan minimalis. Video klip ini ingin memperlihatkan sisi Afgan yang modern dan gentleman di tengah kota.

Afgan sendiri kini telah mendapatkan nominasi dari Anugerah Musik Indonesia 2017 untuk kategori Best Pop Album, Best of The Best Album, dan Best Pop Solo Artist. Mengingat kesuksesan single ini, terbersit rencana  kedepannya kalau keduanya berencana untuk kembali berkolaborasi di project lainnya./ YDhew

03 Afgan & SonaOne YDhewAfgan & SonaOne (foto: YDhew)

 

Tuesday, 31 October 2017 15:42

Elephant Kind

Suguhan Musik Lewat Konsep Visual

Suguhan musik apik dengan sentuhan nutrisi pop dikemas secara berbeda oleh Elephant Kind. Sekilas bila menyimak lagu-lagunya band ini seperti bukan asal dari Indonesia, selain lirik yang berbahasa Inggris, instrument merekapun terdengar modern dengan sentuhan barat. Cerita band  yang di awaki oleh Bam Mastro (vokal/gitar), Dewa Pratama (multi instrumentalist/guitar/backing vocal) dan Bayu Adisapoetra (drum) berawal sejak sang vokalis membuat tugas akhirnya.

Bam yang menempuh pendidikan musik di Western Australian Academy of Performing Arts (WAAPA), dengan membuat sebuah proyek musik untuk tugas akhirnya tersebut. Bam yang merasa kesulitan dengan skripsinya akhirnya pulang ke Jakarta dan membuat project sendiri yang akhirnya diberi nama Elephant Kind yang sampai sekarang menjadi suatu brand baru di bidang musik.

Di Jakarta, Bam mewujudkan Elephant Kind dengan Bayu Adisapoetra, John 'Choky' Patton dan Dewa Pratama yang memilih hijrah kembali berkarier dengan band asalnya, Kelompok Penerbang Roket. Biasanya group band dibentuk berasal dari pertemanan ataupun teman sekolah, tidak demikian halnya dengan band ini. Para personilnya masing-masing belum pernah mengenal satu sama lain. Mereka disatukan dengan adanya proyek musik dengan kesukaan yang berbeda-beda.

Nama Elephant Kind sendiri di dapat Bam dari salah satu kicauan di twitter yang berbunyi "An elephant can die from a broken heart”, gajah ini membuat mereka kagum dengan kekuatannya yang masih sanggup berdiri meski menjelang ajalnya. Elephant Kind mengembangkan bermusiknya dari filosofi tersebut. Musik yang seolah menjadi penghibur bagi mereka yang merasakan patah hati dan tersakiti, bukan hanya oleh cinta tetapi juga hal-hal lainnnya.

02 Elephant Kind True Love Launching IstimewaElephant Kind - True Love Launching (Istimewa)

Dengan influence setiap personilnya yang berbeda-beda terciptalah suatu karya musik yang nge-pop namun melankolis tapi menghibur. Campuran musik lintas genre yang berbaur menjadi satu ini terbukti setahun sejak mereka berdiri mampu memenangkan suatu penghargaan Favorite Newscomers 2014 dari ICEMA. Penghargaan tersebut diterima mereka dari dua mini albumnya yang bertajuk "Scenarios: A Short Film by Elephant Kind" dan  “Promenades, A Short Film by Elephant Kind” dan menghasilkan single–single yang sukses seperti ‘We All Lose (Holy Sh*t)’, ‘Oh Well, ‘Why Did You HaveTo Go’, dan ‘With Grace’ yang membuat mereka melesat tajam dan menyebarkan virus Julian Day-tokoh fiksi dalam Elephant Kind.

Bam yang gemar hiphop, sementara Bayu beraliran punk, dan Dewa dengan EDMnya kemunculan mereka di panggung industri musik tanah air sanggup disandingkan dengan band-band indie seperti Sore, Efek Rumah Kaca hingga Pure Saturday sebagai band kesohor.

Elephant Kind pun mengukir prestasi dengan salah satu pentas seni yang diadakan di salah satu SMA di Medan, sebanyak 2000 ticket ludes terjual dalam usianya yang baru menginjak satu tahun. Hal ini merupakan salah satu prestasi dalam perjalanan karir mereka yang sulit dilakukan oleh band manapun.

Gaya bermusik  mereka yang terpengaruh karya musisi dari luar dan juga bermacam genre, seperti Michael Jackson, Kings of Leon, Kanye West, Sigur Ros, David Bowie, Bon Iver hingga Queen sehingga tercipta karya musik dengan lirik  yang emosional. Semua lagu-lagu mereka yang berbahasa Inggris Bam mengaku merasa kesulitan dalam menciptakan lirik Bahasa Inggris, Bam yang sedari kecil sudah tinggal di luar negeri merasa tidak pernah berhasil menciptakan lirik dalam bahasa Indonesia.

“Kita sebetulnya sudah menciptakan lagu dengan standard berbahasa Indonesia, tetapi tidak pernah berhasil. Keadaan sekarang ini dengan secara nyaman biar bagaimanapun kita melakukan ini untuk para fans yang suka dengan karya sebelumnya, tetapi kita juga tetap harus menjaga kualitas ini. Misalkan berbahasa Indonesia kualitas kita harus sama dengan lagu yang kita ciptakan dalam bahasa Inggris. Dan menurut gue, kita lacking dalam berbahasa Indonesia cara pembuatan lirik berbahasa Indonesia susah sekali. Apalagi kayak gue dari kecil gak disini. Karena bahasa Indonesia gue adalah bahasa Indonesia yang kaku dan orang tua, dimana tidak bisa diterapkan untuk anak-anak di zaman sekarang. Tidak menutup kemungkinan kita juga akan menciptakan lirik berbahasa Indonesia,” tutur Bam.

Di awal September lalu, Elephant Kind kembali mengeluarkan karya mereka yang semua lagunya dalam  berbahasa Inggris. Debut album yang bertajuk “City-J” berisi 12 lagu mereka dengan ciri khas pop visioner dengan lirik dan musik yang masih tetap di jalur emosional.

03 Elephant Kind YDhewElephant Kind (foto: YDew)

Album ini berangkat dari pengalaman dan kehidupan mereka di Ibu Kota Jakarta yang dijuluki mereka dengan sebutan City-J yang mengangkat kehidupan masyarakat Jakarta yang modern dan hidup  komersial. Selain mereka sendiri, album ini juga ditangani oleh Lee Buddle, ahli musik dari Australia yang pernah menggarap musik untuk penyanyi Justin bieber dan Kelly Clarkson. Buddle merupakan guru Bam di Western Australian Academy of Performing Arts.

Sebagai band indie, Elephant Kind mempunyai situs tersendiri yang dibuat mereka untuk memasarkan karyanya. Ciri khas mereka dalam setiap perilisan albumnya adalah dengan disertai film pendek. Seperti ke dua album mini yang telah mereka keluarkan sebelumnya. Scenarios: A Short Film by Elephant Kind (2014) dan Promenades: A Short Film by Elephant Kind (2015).
Dalam hal konsep shor movie inipun mereka membuatnya dengan serius yang tidak didapat dari band manapun. Mereka membungkus musiknya dengan konsep visual dengan plot layaknya sebuah film. Lengkap dengan suguhan kisah dan tokoh utamanya.

Sejak awal berdirinya band ini mungkin tidak segencar band-band lainnya dalam bermusik, mereka cukup tenang dalam menjaga eksistensi bermusiknya. Seakan tak terdengar oleh media, namun aksi mereka dari panggung ke panggung tak pernah sepi dengan selalu membuat inovasi baru dalam karir bermusiknya. Lihat saja selain catatan-catatan bermusiknya di atas, Elephant Kind juga pernah menginjakkan kakinya di beberapa panggung bergengsi seperti Tabik! Volume 5 in Conjuction with Rocking the Region di Panggung Outdoor Theater, Esplanade, Singapura (Maret 2015).

Festival musik gagasan ISMAYA Live bertajuk ‘We The Fest’ 9 Agustus 2015 dan berbagi panggung bersama sejumlah musisi mancanegara mulai dari Echosmith, Rufus, Flight Facilities, Darius, Jessie Ware, Madeon hingga Passion Pit. Serta yang paling hangat, Elephant Kind, didaulat sebagai pembuka Circa Waves, grup indie rock asal Liverpool, Inggris, yang tampil untuk pertama kalinya di Indonesia pada Oktober kemarin, di Foundry 8, Jakarta Selatan.

Di tahun 2017, tanpa di duga mereka mendapatkan prestasi sebagai salah satu nominasi AMI Awards dalam bidang Karya Produksi Alternatif/Alternatif Rock/Lintas Bidang. "Waktu kami mulai Elephant Kind 3 tahun lalu, kami nggak melihat band kami akan masuk nominasi AMI gitu-gitu. Tiga tahun lalu kami malah mendapat criticism kenapa bikin lagu pakai bahasa Inggris, siapa yang bakal dengerin," ujar Bam Mastro di  Jakarta Selatan, Senin (30/10).

04 Elephant Kind True Love Launching IstimewaElephant Kind - True Love Launching (Istimewa)

Menurut Bam, AMI yang dilihatnya sekarang sudah melihat semua band di Indonesia  sama rata semuanya, mereka tidak melihat lagi suatu band atau musisi hanya dari keluaran dari major label saja. “AMI merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga. Seperti Grammy misalnya penghargaan  itu untuk menaikkan value artisnya,  gue melihatnya untuk jenjang karir untuk artis penting banget, walaupun banyak pemusik bodo amat dengan segala macam award, tapi paling tidak kita merasa dihargai,” ujar Bam.

Dalam penutupan album City-J, Elephant Kind merilis kembali video musik dalam balutan Thriller. Berkolaborasi dengan sutradar Jordan Marzuki, track nomor 6 dalam album tersebut ‘True Love’ menjadi single terbaru sekaligus penutup dari fokusnya terhadap album City-J. Rentang waktu satu tahun dirasa cukup untuk mereka fokus dalam mempromosikan kencang album CityJ dan bersiap untuk lebih terbuka dengan pengalaman-pengalaman baru lainnya.

 “True Love ditulis untuk menjadi anthem dari perasaan cinta yang sesungguhnya. Bukan hanya di perkataan, tapi rasa yang intim antara satu dengan lainnya. Ini yang Elephant Kind ingin sampaikan juga ke pendengar kami di manapun. Satu tahun belakangan begitu menakjubkan, kami merasakan energi cinta yang besarnya sama seperti cinta kami terhadap mereka dan lagu ini yang menjadi gambarannya,” ujar Bam menjelaskan.

Ada chemistry yang baik antara Elephant Kind dan Jordan Marzuki untuk True Love ini. Ada kesamaan persepsi tentang True Love yang mereka tangkap masing-masing. Ide dari Elephant Kind dimana cerita tentang tiga remaja dikembangkan melalui dekonstruksi plot untuk membuat video musik ini lebih tidak linear dan ada benang merah yang bisa menjadi barometer intensitas suspense dari scene-scene yang tersaji.

Film thriller bergenre horor ini memiliki taste sendiri dalam berkarya, berbeda dan memiliki keberanian untuk mengeksplorasi ide-ide gila ya akan disampaikan. Ide yang cukup matang dari segi karakter, plot dan cerita yang sebenarnya, merealisasikan dalam bentuk genre teenage horor flick dengan adegan kekerasan cukup ekstrim, namun dibalut dengan apik oleh sang sutradara Jordan Marzuki.

 “Pada musik video ini, saya hanya ingin have fun dengan darah, kekerasan, thanks to Elephant Kind untuk menyediakan media musik mereka untuk saya bisa segila mungkin,” tambah Jordan Marzuki lagi.

Lagi-lagi Elephant Kind membuat konsep musik video yang berbeda dengan group musik lainnya, menyimak dari judulnya justru ‘True Love’ menyajikan hal yang tidak terduga. Cinta sejati diterjemahkannya menjadi  sesuatu yang seram dan justru distopis. Suatu kreatifitas dalam menciptakan brand yang berkharakter dalam musik mereka. Hal ini menjadi prespektif baru buat mereka bahwa dalam hal bermusik bukan hanya sekedar menjaga eksistensi dengan hanya bermusik saja, akan tetapi perlu menciptakan sesuatu hal yang baru dan produk baru setiap tahunnya.

“Penting bagi kita untuk menciptakan suatu karya baru, dengan trend yang berubah-ubah kita mau selalu berevolusi, growth bukan secara seniman saja, tetapi secara manusia yang terus berevolusi,” tutup Bam./ YDhew

 

Wednesday, 01 November 2017 15:35

Big 80’s – 90’s Forever Young

Hits Lama Lewat Sentuhan Terkini

Tidak akan ada yang menyangkal, betapa musik 80 – 90an adalah sebuah masa kejayaan musik dunia, termasuklah musik di tanah air. Sebuah tonggak dimana semua aliran musik tumbuh bersama, malah terkadang bercampur baur. Begitu banyak musisi maupun grup band lahir dan terkenal hingga saat ini yang lahir di era keemasan tersebut.

Jangan tanya seberapa kreatif mereka dalam mengemas musik dan menggelindingkannya ke telinga para penggemarnya. Yang patut kita akui adalah, bagaimana mereka bisa mengalahkan semua keterbatasan, persaingan yang cukup ketat dan teknologi yang belum canggih seperti saat ini dengan karya yang tak mati di libas oleh zaman.

Boleh kita simak di era 80an dengan kehadiran diantaranya Elfa’s Singers, Fariz RM, Dian Pramana Poetra, Deddy Dhukun, Malyda, Mus Mujiono, Eramono, Bagoes AA, Vina Panduwinata, Jopie Latul, Atiek CB, Trie Utami atau era 90an seperti Kla Project, Kahitna, Java Jive, KSP, Slank dan banyak lagi. Semuanya hampir memiliki karya abadi yang masih sering diperdengarkan sampai saat ini.

Keabadian karya-karya mereka tersebut tentu saja banyak membuat rasa rindu penikmat musik nasional saat ini. Nah, hal itu langsung dijawab oleh Seno M. Hardjo dari label Target Pop dan Target Pro dengan melepas album Big 80’s-90’s Forever Young. Tidak sendirian tapi dibantu Teffy Mayne, selaku partner kerja Seno M. Hardjo.

02 Elfas Singers IbonkElfas Singers (foto: Ibonk)

Belasan musik hits era 80an hingga 90an mereka hidupkan kembali lewat balutan aransemen kekinian. Album ini berisikan 15 lagu populer zaman tahun 1980-1990an dan dinyanyikan ulang oleh beberapa musisi ternama tanah air, baik yang sudah masuk katagori senior ataupun muka baru.

"Konsep album ini simpel banget. Saya punya beberapa lagu yang sudah siap diedarkan, akhirnya kita kumpulin di sini. Produce-nya itu dari hati yang terdalam," kata Seno M. Hardjo. "Masyarakat harus tahu sejarah musik Indonesia. Walaupun mengganti aransemen, tapi esensi lagunya masih sama. Malah beberapa lagu dihadirkan dengan aransemen nyaris sama dengan versi originalnya," kata Teffy menimpali pada saat peluncuran album ini dibilangan Kemang, Jakarta.

Harapan bahwa lagu-lagu tersebut akan kembali disukai oleh anak muda terkini, muncul juga dari seorang Yana Julio yang merupakan salah seorang personil Elfa’s Singers, "Harapannya adalah akan bertambah lagi lagu-lagu lama yang disukai anak muda sekarang, tentunya aransemen baru dan sebagainya," ungkapnya.

Senada dengan Yana, Hedi Yunus yang juga ikut terlibat dalam album kompilasi ini menyatakan menjadi obat rindu bagi masyarakat luas. "Ya, memang era 80 hingga 90an, saat ini masih bisa dinikmati oleh semua kalangan. Hal itu, membuat kita merasa bangga, karena musik yang kita hasilkan bisa diterima oleh semua kalangan," akunya .

03 Ika Putri IbonkIka Putri (foto: Ibonk)

Begitulah, intinya perilisan album kompilasi ini sungguh sebuah langkah menjanjikan. NewsMusik sendiri melihat ada kecenderungan kalau album Big 80s-90’s Forever Young ini akan diikuti oleh album-album berikutnya. Kenapa begitu? Karena semuanya masih terasa tanggung, mengingat banyaknya hits yang tercipta pada masa keemasan tersebut dan juga konsistensi seorang Seno M. Hardjo yang terus berkutat mengaransir lagu-lagu lawas dengan rasa masa kini.

Sama seperti yang disampaikan oleh Ryan Kyoto yang karyanya juga disematkan didalam album ini mengatakan bahwa meski ini merupakan sekumpulan karya lama, namun ketika diaransemen dan dinyanyikan ulang menjadi seperti sebuah karya baru. “Saya berharap  hal ini tidak berhenti disini saja, masih banyak karya-karya lain yang bisa dibuat seperti ini. Kami sangat mengapresiasi usaha yang telah dilakukan ini”, tutupnya.

Berikut track list album 'Big 80s 90s Forever Young':
1. Elfa's Singer feat. Andien - Pesta
2. Harvey Malaihollo - Dara
3. Java Jive - Keliru
4. Ika Putri - Cinta Jangan Kau Pergi
5. Dian Pramana Poetra feat. Syaharani - Biru
6. Hedi Yunus - Oh Asmara
7. 2D - Telah Pergi Sahabat Tercinta
8. KSP Singer - Dan Cinta
9. Lona Cindy - Kata Hatiku
10. Rick Karnadi feat. Fierza - Mungkinkah Terjadi
11. Billy Wino - Arti Kehidupan
12. Indah Dewi Pertiwi feat.Richard Chriss - Semua Jadi Satu
13. Harsya Rieuwpassa - Kau Seputih Melati
14. Atiek CB - Risau
15. Ardina Glenda - Hanya Dirimu/ Ibonk

04 Big 80s 90s Forever Young IbonkBig 80's - 90's Forever Young (foto: Ibonk)

 

Monday, 30 October 2017 13:42

Cornel Simanjuntak

Pelopor Musik Indonesia

Merayakan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober lalu, PT. Pembangunan Jaya bekerjasama dengan Miles Films memproduksi film dokumenter web-series Maestro Indonesia salah satunya episode Cornel Simanjuntak. Film yang dibawakan dengan apik oleh Nicholas Saputra ini mengulas kegigihan sang Maestro memperjuangkan musik di era perjuangan kemerdekaan.

Sekilas tentang sang maestro musik Cornel Simanjuntak atau C. Simanjuntak, beliau adalah seorang prajurit tanah air dan pencipta lagu-lagu yang bertema heroik-patriotik. Sebut saja ‘Maju Tak Gentar’, ‘Tanah Tumpah Darahku’, dan ‘Sorak Sorai Bergembira’. Lagu dengan tempo cepat dan heroik ini diciptakan pada saat melawan tentara Gurkha/ Inggris.

Cornel yang dilahirkan di  Pematang Siantar, Sumatera Utara tahun 1921, merupakan seorang musisi yang mendapatkan pelajaran bermusik secara otodidak. Pendidikan teori dan praktek musik diperoleh dari pater Yesuit J. Schouten semasa ia bersekolah guru HIK Xaverius College di Muntilan, Jawa Tengah serta mendiang Sudjasmin. Buku-bukunya semasa sekolah banyak diisi dengan not-not balok dalam upayanya mengubah harmoni.

Di sekolah ini, dia bergabung dengan orkes simponi sekolah yang beranggotakan 60 orang, dan terpilih sebagai concert master. Orkes musik ini merupakan orkes yang beraliran musik klasik. Di sekolah ini juga Cornel mulai mengenal sastra. Para tokoh sastra seperti Sanusi Pane, Amir Hamzah, hingga Goethe, Sciller dan Shakespeare menjadi panutannya. Di tahun 1942 Cornel menyelesaikan studinya, dan Jepang mulai masuk ke Indonesia.

Cornel Simanjuntak yang beragama Katolik diusianya yang ke 22 hirah ke Jakarta dan menjadi guru SD  Van Lith.  Karena jiwa seninya lebih kuat, Cornel kemudian beralih profesi dengan bergabung di Kantor Kebudayaan Jepang, Keimin Bunka Shidosho. Dari sinilah seni bermusiknya semakin garang dengan menciptakan beberapa lagu propaganda Jepang. Maka terciptalah diantranya ‘Menanam Kapas’, ‘Bikin Kapal’, ‘Bekerja’ dan ‘Menabung’ dan yang paling populer salah satunya berjudul ‘Hancurkanlah Musuh Kita’.

02 Cornel Simanjuntak IstimewaCornel-Simanjuntak (Istimewa)

“Saya hendak membawa perasaan musik modern ke dalam hati rakyat, dan lihatlah hasilnya telah sampai ke masyarakat kita di lapisan paling bawah”, ujar Cornel kepada Asrul Sani saat berada di Keimin. Ia bekerja pada pemerintah Jepang, namun bukan dirinya pro Jepang, akan tetapi hanya ingin menyiarkan karyanya pada stasiun radio saat itu.

Cornel yang paling dikenal dengan lagunya ‘Maju Tak Gentar’. Menurut Suka Hardjana seorang komponis dan musicology Indonesia pada masa itu banyak sekali bermunculan pencipta lagu di Indonesia. Tidak seperti Ismail Marzuki yang memang sudah dahulu terjun ke dunia musik, Cornel mempunyai posisi yang unik dalam jajaran semua pencipta lagu di tanah air.

“Cornel menciptakan lagu-lagu yang sangat sederhana dalam bentuk mars dan mudah diingat, pada eranya mulai dari anak-anak sampai yang tua menyanyikan lagu itu. Aura tahun 40-an pada waktu itu adalah merupakan aura kemerdekaan, jadi semua lagu-lagunya hanya berdasarkan inspirasi saja, naluri bukan berdasarkan pendidikan intelektual”, paparnya.

Pada 19 Agustus 1945 saat pidato kemerdekaan Presiden Soekarno, dimana sebelum dimulainya pidato dinyanyikanlah lagu Indonesia Raya, Cornel dengan kritis mengkritik lagu kemerdekaan tersebut. Cornel yang kaget bahwa lagu kemerdekaan dinyanyikan secara tidak kompak dan merasa ada yang salah dengan lagu tersebut.

Hersri Setiawan, seorang sejarawan yang pernah menulis tentang Cornel mengungkapkan bahwa pada masa itu orang Indonesia hanya mengetahui 5 nada dimana harus dinyanyiikan dengan 7 nada sehingga antara syair dan melodi tidak sinkron. Cornel lah yang membuatnya menjadi satu. Selain lagu bertempo mars tersebut, Cornel juga menciptakan lagu yang bertema puitis seperti ‘Kemuning’, ‘Kenangan’, ‘O Angin’, dan ‘Citra’.

Perjuangannya dalam melawan penjajah juga dibuktikan dengan mengarahkan moncong senjatanya kepada tentara Gukha/ Jepang di Malang pada periode tahun 1945-1946. Cornel pernah merasakan panasnya peluru yang bersarang di pahanya pada saat pertempuran di daerah Senen, Tangsi Penggorengan, Jakarta lalu kemudian dengan keadaan terluka Cornel diselundupkan ke Kerawang.

03 Cornel Simanjuntak IstimewaCornel-Simanjuntak (Istimewa)

Dari Kerawang kemudian ia dikirim ke Yogyakarta, di kota inilah kemudian lahir lagu-lagunya yang berjudul “ Tanah Tumpah Darahku”, “Maju Tak Gentar”, “Pada Pahlawan”, “Teguh Kukuh Berlapis Baja”, dan “Indonesia Tetap Merdeka”.

Cornel kemudian menderita penyakit TBC dengan peluru masih bersarang dipahanya, dan di tanggal 15 September 1946 ia menghembuskan nafas terakhirnya di Sanatorium Pakem, Yogya. Menjelang ajal ia masih sempat menulis lagu bernama ‘Bali Putra Indonesia’, namun menurut Karkono Kamajaya teman seperjuangannya lagu yang ditulis dengan gamelan itu belum selesai.

Cornel Simanjuntak lah yang telah menciptakan dasar-dasar lagu Indonesia bagaimana musik Indonesia seharusnya. Hal ini tidak berlangsung lama,  di era tahun 50-an musik Indonesia mulai dipengaruhi oleh unsur-unsur dari luar. Indonesia menjadi tujuan pengaruh masuknya musik baik dari timur dan barat.

Namun Cornel Simanjuntak telah merubah bahwa kreatifitas dan jiwa seni tidak bisa berubah dalam kondisi apapun. Dengan kondisi dalam keadaan serba sulit, ditengah pertempuran dan juga penyakitnya Cornel sanggup menciptakan beberapa lagu yang masih kita dengar sampai saat ini. Harmonisasi lagu-lagunya yang membuatnya  masuk ke dalam jajaran maestro musik Indonesia.

Cornel Simanjuntak, adalah seorang pemimpi dengan suasana hati yang berubah-ubah. Hidup diantara suara, melodi yang bertukar-tukar dan hidup baginya hanya dengan musik. Hal ini bisa dilihat dari batu nisan yang tertulis “Gugur sebagai seniman dan prajurit tanah air”. /YDhew

 

Monday, 30 October 2017 13:33

Pucuk Cool Jam

Wadah Unjuk Bakat Talenta Muda

Jakarta-Ajang pencarian bakat musik Pucuk Cool Jam hadir kembali setelah sukses digelar secara berturut-turut pada 2016 dan 2017. Kali ini Pucuk Cool Jam 2018 akan menyambangi 40 sekolah di wilayah Jabodetabek, Bandung dan Cirebon. Ini adalah upaya brand ini untuk mengapresiasi passion dan talenta anak muda Indonesia melalui ajang kompetisi musik yang  berhasil memberikan wadah aspirasi dan kreativitas bagi talenta-talenta muda berbakat yang memiliki minat besar terhadap seni, baik dalam bermusik maupun kreativitas seni lainnya.

Dibuka lewat digital audition menggunakan platform digital, peserta nanti dapat mendaftar dan mengirimkan materi lagu berupa cover lagu musisi Indonesia maupun internasional yang mereka sukai. Selain itu, peserta juga harus membuat arransemen ulang jingle The Pucuk Harum versi mereka. Materi tersebut nantinya bakal dinilai oleh tim juri yang salah satu jurinya adalah musisi Iga Massardi.

Menurut Brand Manager Teh Pucuk, Juanita mengatakan, kegiatan ini sebagai komitmen Teh Pucuk Harum. Teh Pucuk Harum ingin mendukung dan mewujudkan generasi muda yang kreatif, inovatif, berani dan berprestasi. "Kami ingin memberikan lebih banyak lagi kesempatan bagi anak muda untuk dapat menikmati momentum gelaran Pucuk Cool Jam 2018," kata Juanita pada saat temu media dibilangan Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (28/10/2017).

Selain membuka pendaftaran melalui digital audition, para siswa juga dapat mendaftarkan sekolahnya agar dapat dikunjungi oleh Pucuk Cool Jam 2018. Pemenang juga berkesempatan tampil di Pucuk Cool Truck sebuah iconic truck yang telah dilengkapi dengan system audio serta layar LED sebagai special stage. Sekitar 10 band dan 10 ekstrakurikuler terpilih dari kegiatan Pucuk Cool Jam 2018 berkesempatan juga untuk unjuk kebolehan di puncak acara Pucuk Cool Jam Festival 2018.

02 Iga Masardi IbonkIga Masardi (foto: Ibonk)

Sebagai juri diajang ini Iga Masardi, gitaris yang juga vokalis Barasuara ini kepada NewsMusik sempat menuturkan bahwa diluar sebagai juri ia memberikan apresiasi terhadap gelaran ini, karena memberikan wadah positif, khususnya di bidang musik kepada generasi muda.

Ada kaitan yang sangat erat antara musik dengan energi, dan energi juga berkaitan dengan inspirasi. Sehingga, seperti yang pernah dialaminya bahwa tidak ada waktu yang terbaik untuk memulai bermain musik selain pada masa remaja. “Ini adalah momentum dimana mimpi seakan bisa melesat cepat dan ide-ide liar muncul dalam hitungan detik," ungkapnya.

Sebagai juri, Iga akan melihat semua sisi positif dari talenta yang tersaring, tidak hanya melihat dari sisi genre, skill ataupun dan kekuatan individu semata. Tapi juga kekompakan dan bagaimana mereka membangun chemistry sebuah penampilan.    

"Secara keseluruhan Pucuk Cool Jam hadir sebagai wadah untuk itu semua. Sebuah kesempatan baik yang bisa digunakan bukan hanya sebagai pembuktian, tapi juga sebagai penentu langkah ke depan. Ajang Pucuk Cool Jam ini bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tapi siapa yang berhasil menemukan jalannya," sambungnya kembali.

Selain kompetisi, Pucuk Cool Jam 2018 juga berupaya untuk mengembangkan skill bermusik para talenta-talenta muda. Caranya yakni melalui workshop dengan menggandeng SAE Institute Jakarta, lembaga terkemuka bertaraf Internasional dalam industri pendidikan media kreatif. Sinergi ini akan memberikan pelatihan skill bermusik dengan sesi yang lebih mendalam.

Selamat berkompetisi di ajang Pucuk Cool Jam 2018...  Bravo!!/ Ibonk

 

Saturday, 28 October 2017 21:42

Marlupi Dance Academy

Menggabungkan Balet dan Budaya

Marlupi Dance Academy (MDA) adalah sebuah akademi tari yang didirikan oleh Marlupi Sijangga sejak tahun 1965. Marlupi yang sudah menginjak usia 80 tahun berhasil menghasilkan balerina-balerina handal Indonesia. Diusianya tersebut, Marlupi baru saja dianugerahi penghargaan oleh pemerintah sebagai Maestro Seni Tradisi kategori Pencipta, pelopor dan Pembaruan Seni Tari Balet di Indonesia.

Pada generasi kedua MDA semakin berkembang sejak terlibatnya Fifi Sijangga (Anak Marlupi Sijangga) dan membuka cabangnya di Jakarta. Dengan pencapaian reputasi baik nasional maupun internasional sebagai salah satu akademi tari unggulan di Indonesia sejak tahun 1995. Dan kemudian bergabunglah putri dari Fifi Sijangga sebagai generasi ketiga.

Dari sinilah kemudian MDA mulai membuat program pelatihan yang dibuat khusus untuk para siswanya yang menginkan karir profesional yang membuat generasi ini menjadi akademi tari terbesar sekaligus tertua di Indonesia yang namanya sangat diperhitungkan di dalam dan luar negeri.

Marlupi Sijangga sendiri sampai diusia sekarang masih terlibat dalam seni pertunjukkan balet dan selalu memonitor perkembangan balet yang didirikannya. Sebagai seorang pendiri balet ia selalu memperjuangkan agar seni tari balet bisa lebih diterima di Indonesia.

“Saya tidak pernah bosan dengan balet, saya pernah buat pertunjukan sendiri. Ballet is my life, bagaimana saya memperjuangkan sekolah balet ini. Saya ingin tari ini bisa sampai ke daerah-daerah, cucu saya sudah membentuk Indonesia Dance Company yang sudah membuat pertunjukkan di Surabaya dan sukses. Kalau di luar negeri seperti Malaysia, Singapore, atau seluruh dunia untuk membentuk suatu company harus di dukung oleh pemerintah. Sayangnya di Indonesia masih sangat kurang penghargaan tentang seni tari ballet”, ujar Marlupi Sijangga di Taman Ismail Marzuki, Jum’at (27/10).

02 Marlupi dan Fifi Sijangga YDhewMarlupi dan Fifi Sijangga (foto: YDhew)

Marlupi sangat ingin mengadakan pertunjukan di daerah-daerah agar seni balet bisa lebih dapat diterima di masyarakat, tentu saja dengan dukungan dari pemerintah karena untuk mengadakan suatu pertunjukan sangat sulit dengan keterbatasan dana yang ada.

Dalam pertunjukkannya MDA juga selalu mengkolaborasikan seni balet dengan seni tari Indonesia, saat ini MDA sendiri sudah mencoba menghasilkan karya seni balet di Indonesia. Marlupi mengungkapkan bahwa untuk berkolaborasi dengan seni budaya Indonesia sangat sulit, karena berhubungan dengan musik.

“Untuk mengsikronkan musik balet yang kebarat-baratan dengan musik daerah  apabila tidak cocok tidak bisa di singkronkan. Semua harus sinkron. Saya ingin sebuah pertunjukan balet dengan pertunjukkan life concert. Karena di Indonesia belum ada life concert”, papar Marlupi. Hal ini pernah diungkapkan pada saat penerimaan anugerah yang diterimanya kepada Adie MS yang tertarik dengan kolaborasi ini, namun tetap perlu dukungan pemerintah tambahnya lagi.

MDA sendiri pernah mencoba mengkolaborasikan seni budaya Indonesia dengan kesenian tari balet dan mendulang sukses di tahun 2015  dengan pagelaran ‘Si Kabayan’. Ingin mengulang hal yang sama, di tanggal  28 – 29 Oktober 2017 MDA kembali membuat pentas baru yang diambil dari cerita rakyat Tanah Air “Rama dan Shinta”.


Cerita pewayangan yang dikreasikan oleh Yuniki Salim dan Fifi Sijangga sebagai direktur artistik itu menambah produksi MDA tahun ini. Yuniki Salim mengatakan cerita 'Rama dan Sinta' adalah kisah pewayangan yang dekat dengan masyarakat Indonesia.

03 MDS YDhewMDS (foto: YDhew)

"Kebetulan Rama Sinta salah satu cerita pewayangan yang sudah diadaptasi jadi salah satu cerita di Nusantara,” ujar Yuniki Salim.

Dengan adanya pentas Rama dan Sinta ini, Direktur Artistik MDA Fifi Sijangga berharap agar balet Indonesia bisa menampilkan ciri khas Tanah Air. "Saya ingin balet di indonesia lebih maju lagi dengan menampilkan ciri khas Indonesia juga supaya masyarakat lebih mencintai cerita indonesia yang dituangkan di dalam balet," tutur Fifi Sijangga.

Rama dan Sinta menceritakan tentang kisah dua sejoli yang hidup bahagia di dalam hutan. Mereka ditemani oleh Laksamana yang merupakan saudara sepupu dari Rama dan seekor burung bernama Jatayu yang setia menemani Sinta.

Suatu hari Sinta melihat seekor kijang emas dan meminta Rama untuk menangkapnya. Ketika Sinta sendirian, Rahwana yang terpesona dengan kecantikan Sinta menyamar menjadi seorang pengemis supaya Sinta iba dan keluar dari lingkaran perlindungan. Pertunjukkan ini bakal dipentaskan di Taman Ismai Marzuki  dalam upaya meningkatkan kualitas seni budaya di Tanah Air.

 

Page 2 of 123