AbsurdNation

Jazz Dengan Santai. Membelai Kuping, Menentramkan Hati

NewsMusik “baru” menemukan mereka di Solo. Saat pergelaran Solo City Jazz tempo hari. Ketika mereka naik panggung, kwartet ini sekilas “biasa” saja. Tapi ketika mereka memilih ‘Pacar Lima Langkah’ untuk dibawakan, membuka penampilan mereka waktu itu. Lho, dangdut jazz? Nyatanya, tidak ada yang namanya dangdut-jazz atawa misal dangdut yang di-jazz-in. Mereka memang “hanya” membawakan lagu dangdut, dengan format musik mereka sendiri. Bukan sesuatu yang benar-benar baru.

 MG 4368Ini memang lepas dari soal orisinalitas musik. Tidak ke situ. Tapi lebih pada, bunyian yang mereka berempat hasilkan. Vokal, Nanda Goeltom. Drums, Fanny Wardoyo.Piano dan synthesizer, Yusuf Saputra. Lalu pada bass ada, Fauz Hibbatul Haqqi.

Keempat pemuda ini, mengaku ada yang masih jomblo dan ada juga yang sudah mempunyai teman dekat, datangnya dari Semarang. Datang langsung dari Semarang ke Solo. Sehabis tampil, tak lama kemudian, mereka langsung cabut balik ke Semarang. Ada acara lain menunggu, kata Nanda, vokalisnya yang terlihat “pling sehat”.

Jazz itu susah-susah gampang. Gampang tapi susah. Diakui oleh mereka, bahwa semacam stigma yang ada di kepala publik kebanyakan, seperti itulah adanya. Jazz itu rada sulit dicerna. Maka, mereka memutar otaknya, demi memperoleh strategi. Supaya mereka dengan jazz-nya dapat diterima masyarakat banyak.

Kami sebenarnya, awalnya memang dari komunitas. Sepakat nge-band bareng, cerita Nanda yang cukup ceria dan ceplas-ceplos. Persis penampilannya di atas panggung. Senang menggelitik dengan omongannya. Tambah Nanda,”Kami memang biasanya membawakan jazz ya yang jazz beneran.Swing gitu. Juga Miles Davis, sejenisnyalah.”

Fauz Ribatul HaqqDan diakui, bahwa ya jazz memang relatif berat ya? So, kesepakatan mereka lantas, mereka mencoba mengakali sajian musik jazz mereka. Boleh saja kok. Kan seperti restoran menyajikan nasi goreng, dengan nama yang “asing” diberi topping macam-macam. Tetap saja, dasarnya nasi goreng. Kalau untuk AbsurdNation, ya tetap jazz.

Jazz dengan medley lagu anak-anak? Kenapa tidak. Kwaret ini menyajikan hal seperti itu. Yang paling menarik sesungguhnya, cara mereka menyajikan musik jazz mereka. Terkesan santai, tidak ngoyo, tak terkesan terlalu bernafsu. Apalagi, “makan waktu banyak” dengan akrobat skill satu persatu musisinya. Kan jazz itu butuh skill mumpuni?

Masalahnya adalah, ketika terbawa untuk pamer skill, yang bakalan lupawaktu. Bahkan jadi lupa penonton. Alhasil, bisa terjadi, penonton bengong dan bingung. Ini main musik apaan? Bisa juga sih, penonton terkesima dan kasih keplok hangat. Coba tanya ke penonton, ngerti ga apa yang mereka mainin?

Fanny WardoyoAbsurdNation sendiri maunya, memainkan jazz dengan landasan spirit ethnic jazz. Tapi dengan perabotan musik barat lho. Tatanan melodi saja, terselip nafas etnik. Mereka berdiri pada 11 Desember 2011, dan 5 hari kemudian, mereka tampil pertama kali di acara jam-session pada Jazz Ngisoringin. Dari situ, mereka mulai memberanikan diri, mengembara kemana-mana.

Selain di Solo, sebelumnya mereka juga memperoleh kesempatan tampil di Indonesian Jass Festival di Jakarta. Dan selanjutnya, bulan depan, rencananya mereka akan tampil di JazzTraffic.

Pandangan mereka terhadap jazz di Indonesia hari ini, begini nih. “Jazz di Indonesia juga banyak mengalami perkembangan. Jazz mulai tidak lagi dianggap sebagai musik "kelas atas". Jazz mulai diterima di setiap kalangan, tanpa melihat suku, kasta dan tahta. Tinggal apakah mereka mampu menyerap atau tidak. Jazz dalam persepsi gaya hidup juga mulai berkembang di Indonesia. Bagaimana unsur improvisasi menjalar di setiap komposisi yg dibuat, dengan tanpa melupakan konsep awalnya. Swing, funk, fusion mulai banyak digandrungi para remaja. Musisi2 lokal pun tak kalah dengan komposisi-komposisi yg diakulturasikan dengan kebudayaan tradisional”.


Yusuf Saputra SianturiNanda Goeltom lantas mengatakan juga, Absurdnation sendiri berusaha menjadi bagian dari perubahan ini. Bagaimana kami mencoba mengkolaborasikan jazz dengan unsur2 budaya yg lain seperti acara pengajian, monolog, pentas puisi, sampai upacara adat. Mencoba menyebarkan virus ini kemana-mana. indonesia dan dunia. Karena menurut kami, Jazz adalah pandangan hidup, jazz adalah bagaimana kita mensyukuri berkah dan menterjemahkan dalam bentuk harmoni. Jazz adalah persembahan.

Tambah Nanda lagi, yang sebenarnya berasal dari ibukota ini, “Kami masih dalam proses produksi, insya Allah pada awal tahun depan mini album kami sudah jadi. Single pertama kami bertilte "Titik Balik" dalam proses rekaman. Mudah-mudahan segera selesai.” Yup, kalau begitu kita tunggu ya. Semangat dalam menyebarkan virus, terus dan terus.... /dM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found