Herry & d 80’s Freaks

Musik 80-an Ga akan Pernah Mati

Dalam perjalanan sejarah musik, era 1980-an adalah era dimana industri musik mulai mencengkeram pasar. Dimana kaum industrialis musik, maksudnya para record-label, mulai mengatur dan mengarahkan pasar.

Era tersebut dianggap, “penurunan” idealisme dibandingkan era sebelumnya. Karena 1970-an dianggap idealisme dalam musik menjadi “raja”. Musik-musik bagus banyak lahir di tahun 1970-an, sementara musik 1980-an mulai tidak independen lagi. Campur tangan pihak label mulai mengutak-atik content music para artis atau penyanyi.

Namun, di sisi lain, era 1980-an itu mulai munculnya MTV. Promosi musik makin gencar, dipikirkan konsepnya lebih matang. Alhasil, musik 1980-an lantas seolah menghampiri publik dengan lebih intens, lebih gencar. Berdampak pada peningkatan jumlah incomings dari para label secara signifikan.


 MG 7393aNah maka jangan heranlah, kalau terasa dan terkesan bahwa musik-musik yang bermunculan di era 1980-an tetap “menempel lekat” pada publik, bahkan sampai sekarang. Musik 1980-an memang lantas tetap sering mewarnai kehidupan, tetap beredar. Paling tidak lewat radio stations ataupun backsound televisi, termasuk tayangan video musik 1980-an.

So, begitu juga yang terjadi pada seorang bernama Gregory Stanley. Ia mengaku freaks dengan musik 1980-an, terutama yang jazzy atau jazz pop. Saat dulu dikenal sebagai jazzy tunes, sementara pihak radio di era itu mengenalnya dengan sebutan, adult contemporary. Lagu-lagu 1980-an, terus senantiasa menemaninya di kala senggang. Ia bukan pemusik, tapi seorang karyawan di sebuah instansi pemerintah.

Menarik memang, kalau ternyata ia mengaku memang bukan pemusik. Tapi penikmat musik fanatik. “Tapi saya bisa bikin lagu sendiri, walau mentah ya. Sedikit-sedikit bisalah main piano. Otodidak saja,”kata Stanley.

Di tahun 2010, ia berencana menikah. Dan ia punya ide, memberikan souvenir bagi para tamu wedding ceremony-nya berupa rekaman satu lagu karyanya dalam sebuah cd. Musiknya, ya harus 80-an, lanjutnya. Maka iapun mengajak teman-teman lamanya, Eka Bhakti, kibordis yang juga komposer dan aranjer. Kemudian ada Herry Soedayat, vokalis.


 MG 7407aTrio ini ternyata malah dapat menghasilkan empat lagu. Semua musik dikerjakan lewat synthesizer dan program. Musik sepenuhnya digarap Eka Bhakti. Empat lagu selesai, Eka mencetuskan ide,”Udah empat lagu, kenapa ga kita bikin 1 album rekaman saja ya?” Stanley dan Herry setuju. Apalagi Stanley, dia antusias banget. Apalagi disepakati bahwa musiknya ya bersuasana erat dan kental 80-an.


Kita bertiga mengerjakan bareng, tapi karena kesibukan masing-masing, “Selain itu juga karena saya itu kan musisi yang gaptek, karena kan bukan musisi profesional ya. Jadi begitulah, proses pengerjaan lamban dan perlahan,”terang Stanley.


Proses produksi rekaman dimulai April 2010 dan baru bisa selesai pada sekitar Januari 2013. Dilanjutkan proses mixing, mastering kemudian juga mencoba untuk bisa menjual album ini ke pasar. Proses untuk itu juga terasa lambat, tapi kita jalani saja dengan sabar dan yakin, jelas Herry. Maka akhirnya album itu dapat dirilis ke publik mulai November 2013.


Nama yang mereka pakai adalah Herry & d 80’s Freaks. Karena memang menonjolkan Herry Soedayat sebagai frontline. “Saya bertindak sebagai pembuat lagu, juga musik secara keseluruhan selain kibordis kan. Berdasarkan konsep musik yang kita sepakati bertiga. Stanley sebagai executive producer dan Stanley kan sebagai penggagas utama selain juga pembuat lagu dan ikut mengisi kibor juga,”jelas Eka.


Dalam album mereka tersebut, ada keseluruhan 8 tracks. Dimana 6 lagu adalah karya Stanley, 1 lagu adalah karya bersama Eka Bhakti dan Herry serta 1 lagu lagi karya Eka sendiri. Musiknya berkiblat pada apa yang disebut sebagai American 80’s Pop. “Kita ga ke British seperti synthpop ya. Tapi lebih ke Amerika yang bernuansa jazzy, r n b, soul dan funk gitu,”ungkap Stanley.

 MG 7411aBanyak nama musisi terkemuka ikut terlibat mendukung album ini seperti Lian Panggabean, Noldy Pamungkas, Kadek Rihardhika selain Tessa dan Thomas BH, sebagai gitaris. Lalu ada Bintang Indrianto, bassis. Drums oleh Gerry Herb dan Heery Meiristanto. Pada trumpet ada Idham Noorsaid, kemudian Arief Setiadi pada saxophone. Juga ikut mendukung, Syarief Wiradz, perkusionis.

Lagu-lagu orisinal bertema 80-an ala kelompok ini, memang karena mereka menyukai dan meyakini pola musik 80-an tak bakal mati. Musik-musik 80-an kan lebih nyantol di kuping dan hati, serta terus nempel, “Ya gitu, kita pakai saja tema musik itu. Karena kita suka, jadi enak dan asyik maininnya. Kita malah juga mengulik sound supaya dekat dengan sound khas 80-an”,Stanley menjelaskan lagi.

Kelompok “unik” ini sebenarnya berisikan nama-nama yang berpengalaman luas, selain Gregory Stanley yang lebih suka disebut penikmat music 80-an. Eka Bhakti di era akhir 1980-an telah mulai muncul di panggung music. Ia lantas ditarik masuk formasi grup legendaris, Funk Section. Selain itu membentuk grup pop-rock, KIN, yang mana vokalisnya adalah Herry Soedayat.


Eka juga masuk formasi Mahadewa, dimana vokalisnya adalah alm.Warren Wiebe, seorang penyanyi yang lumayan dikenal luas di era 1980-1990an lewat salah satu album David Foster di sini. Mahadewa dibentuk untuk mengikuti North Sea Jazz Festival di Den Haag, Belanda. Selain itu, ia juga sempat tampil lagi di North Sea Jazz Festival dengan Jamz All Stars.


Eka kelahiran Jakarta pada 10 November, tanpa menyebutkan tahunnya, tercatat menulis lagu ‘Terpesona’ (yang dibawakan Funk Section lalu Glenn Fredly dan Audy), ‘Saat Saat Bersamamu’ (dibawakan KIN dan lantas dibawakan lagi dalam kelompok ini). Selain itu menangani illustrasi music pada banyak program televisi seperti di TransTV, Indosiar, ANTV.

Belum lagi, ia juga menangani musik pada banyak sinetron produksi Sinemart, Multi Vision, Indika dan banyak rumah produksi lainnya. Ia juga ikut menangani rekaman banyak penyanyi seperti Hedi Yunus, Titi DJ, Sahrul Gunawan, Kris Dayanti, Dian Pramana Poetra, Sujiwo Tejo, Tompi dan lainnya.


 MG 7419aGregory Stanley sendiri, lahir di Surabaya 3 September 1978. Ia mengaku penggemar berat David Foster, Jay Graydon, Toto, Chicago, Earth, Wind & Fire lalu Bobby Caldwell. Selain Warren Wiebe, George Duke dan banyak nama 80-an lain. Ia karyawan swasta, yang masih bisa mengatur waktu untuk terlibat dalam rekaman ini.

Herry Soedayat, selama ini lebih dikenal sebagai “bintang” di kafe-kafe, dan memang terbilang fasih dalam membawakan lagu-lagu cover 1980-an, dimana ia telah menyanyi di kafe-kafe sejak 1993 sampai saat ini. Awalnya ia memulai karir nyanyinya sebagai Juara pada berbagai Festival Pop Singer di tahun 1991 sampai 1995.

Ia gabung dengan KIN dari 1994 untuk beberapa tahun. Lalu membentuk Romantic Four, salah satu kelompok entertainer kafe yang sangat dikenal saat ini, yang spesialis cover lagu-lagu hits 1980-an. Ia yang kelahiran 11 April ini mengaku pengagum Luther Vandross,  James Ingram, Michael Franks, Lionel Ritchie, Kenny Rogers, Jon Bon Jovi., Chicago, Casiopea, Chic Corea Electric Band. Dan nama-nama tenar 80-an lainnya. Ia juga pengagum berat Queen dan Beatles sejak lama.

So, catet baek-baek aja nama mereka ini. Bisa jadi, mereka bisa hadir dan nemenin hari-hari kita dengan musik gaya 80-annya. Ga ada salahnya untuk mengkoleksi juga album mereka. Beberapa nomer hits mereka telah mulai diputar di radio-radio di beberapa kota di Indonesia. Diantaranya adalah lagu, ‘Saat Saat Bersamamu’, ‘Devotion’.

Musik dalam album mereka, sebenarnya variatif juga. Tak melulu berjenis jazzy tunes, tapi menyelip warna pop rock selain warna contemporary pop. Layaklah untuk disimak dan didengarkan. Tinggal kita nantikan saja, penampilan live mereka. Saat ini, Stanley, Herry dan Eka tengah menyiapkan sebuah band tetap untuk mengiringi mereka. Ya kita serius nyiapin diri untuk show dong, jelas Stanley. Well, good luck, dude! / dM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found