Photo by Amir Perdana Photo by Amir Perdana

STARS and RABBIT

First Live EP!

Elda Suryani dan Adi Widodo. Elda, sebagai vokal utama. Adi adalah pemain gitar akustiknya. Berdua mereka menamakan diri, Stars and Rabbit. Sebuah duo minimalis, bermusik renyah dan ringan. Tapi seperti mencolek hati, sesekali bisa juga membuat kita terasa lebih relax. Sebuah racikan music yang lain memang.

Rileks, angkat kaki, ada secangkir kopi di lawn chair yang kita duduki. Ditemani folk-pop-rootsy adonan musik mereka, mungkin saja bisa membuat sore kita terasa lebih syahdu dan melenakan. Refreshing? Boleh saja. Yang paling tepat, menyegarkan, sebetulnya. Gitar mengalun bening dan vokal utama Elda, yang unik, khas, orisinal.

kjDuo ini sudah dikenal luas, bahkan ke mancanegara. Dimana sejauh ini, mereka telah melepas single, ‘Worth It’. Menyebarluaskan secara, “santai tapi terarah”, musik minimalis yang beraksen kuat pop n folk kreasi mereka.

Elda, pada awalnya adalah vokalis dari kelompok entertainer di Jogjakarta. Dari situ, sudah banyak orang terkagum-kagum akan keunikan vokalnya. Elda lantas mengikuti sebuah ajang pencarian bakat (nyanyi) untuk memilih seorang vokalis untuk kelompok band rock, eVo. Tak dinyana, Elda menang, dan langsung menjadi vokalis eVo, grup yang terdiri dari nama-nama musisi berpengalaman.

Memang para personil eVo yang merasa sangat tertarik dengan warna khas vokal Elda. Unik dan antik. Waktu itu eVo terdiri dari Didit Saad (Gitaris. Plastik, ESQI:EF), Ronald (Drummer. GIGI, dr.PM), Erwin Prasetya (Bass. DEWA), Adnil Faisal (Gitar. Base Jam) serta kibordistnya yang “di-impor” dari Boston, Amerika, Angga “Mr.Ang” Tarmizi.

Sayang, eVo hanya berusia pendek, walau 1 album pernah mereka rilis, dengan single-hits, ‘Agresif’. Di lagu yang relative kencang itu, suara Elda masuk dengankeunikan tersendiri. Tidak lantas menjadi melengking-lengking ataupun penuh dengan jeritan. Tantangan yang seru, bagaimana eVo membuat lagu rock untuk Elda dimana Elda harus mampu menaklukkannya!

Nah selepas eVo, Elda sempat sesaat seperti meninggalkan dunia music. Ia mengisi waktu di dunia fashion. Barulah ia lantas bertemu lagi dengan Adi. Adi ini mengaku, penggemar suara Elda sejak Elda masih bermain di kafe di Jogja. Ia seringkali menonton dan menyaksikan penampilan Elda, waktu itu.

Lalu mereka berteman. Dan ada banyak kesamaan pada “visi dan misi” bermusik antar keduanya. Maka merekapun bersatu dalam sebuah kelompok. Duo saja. Karena memang inginnya lebih minimalis, dengan mengedepankan sound akustik.

Stars and Rabbit PhotoTerakhir, mereka berhasil menyelesaikan sebuah EP, yang berbentuk Live audio-visual. Pengambilan gambar diambil saat mereka manggung di Deus Ex Machina, Bali. Dan EP pertama merekapun berjudul, Live at Deus. Saat pengambilan gambar, mereka waktu itu membawakan 11 lagu. Yang merupakan materi untuk album mereka. Namun saat editing dilakukan, akhirnya mereka memilih hanya melansir 5 lagu saja.

Syuting memang langsung saat mereka show dan hanya memakai 1 kamera yang bergerak. Sound yang diambil langsung dari channel mixer yang ada, namun juga mencampurnya dengan suara audience yang ada malam itu.

Mereka berdua berkeinginan meneruskan perjalanan bermusiknya, tanpa henti. Berkeliling. Go international. Menghibur, menentramkan hati, memberikan pemikiran positif pada penyuka lagu dan musik mereka. Memberikan pula inspirasi pada orang-orang lain, dengan menyodorkan inspirasi dengan hal-hal yang sebut saja, unfamiliar things.

Adapun 5 tracks pada album Live at Deus adalah ‘Summerfall’, ‘Like It Here’, ‘Cry Little Heart’, ‘Old Man Finger’ dan ‘Man Upon The Hill’. So, selamat menikmati, coba dengan secangkir kopi panas, leyeh-leyeh, bermainlah dengan…bintang-bintang dan kelinci /dM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found