Foto-foto Tj Singo Foto-foto Tj Singo

Endah N Rhesa

Kreativitas Tanpa Batas, Kekuatan Konsep & Romantisme Lucu

Dunia musik Indonesia mencatat ada beberapa duo cowok dan cewek alias pria dan wanita. Sebutlah Muchsin dan Titiek Sandhora serta Onny Suryono dan Tuti Soebardjo yang suami istri di jalur pop. Mereka memulai bernyanyi di tahun 60an – 70an. Ada Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih yang kemudian diganti Rita Sugiarto di genre dangdut. Juga Franky & Jane yang kakak adik. Lalu seniman serba bisa Benyamin S berduet dengan Ida Royani. Mereka berkibar di rentang tahun 70an.

Di tahun 80an ada Biru Langit yang hubungannya kemitraan saja. Ada Indra Lesmana dan Titi DJ yang saat itu berpacaran. Juga Indra Lesmana dan Sophia Latjuba yang berlanjut ke jenjang pernikahan. Kemudian Jingga yang tidak ada hubungan saudara juga berkarya di tahun 90an dan hanya melahirkan satu album. Nah, di penghujung tahun 2000an, ada Stars and Rabbit dan juga duo suami istri, Endah N Rhesa namanya. Dunia memang berputar. Dan kalau kata Muchsin dan Titiek Sandhora, “dunia belum kiamat/panjang umur ada jodoh ……”

Nah, kita ngomongin Endah N Rhesa atau disingkat EaR aja deh kali ini. Ngobrol dengan EaR itu seperti ngobrol dengan teman lama yang sudah puluhan tahun tak jumpa. Mengalir deras, sederas hujan abu dari Gunung Kelud yang belum lama ini meletus. Banyak hal yang diungkapkan. Mulai dari proses kreatif mereka sampai kehidupan mereka berdua yang ada hubungannya dengan karir mereka. Kita ngomongin karir aja deh, karena kita bukan tukang gossip.

EaR adalah salah satu duo yang bergerak di jalur indie yang akhirnya popularitasnya sama atau bahkan lebih dari musisi yang berada di jalur mayor atau mainstream. Duo yang memainkan beberapa genre musik seperti folk, jazz, blues, rock & roll dan ballads hanya dengan memadukan gitar akustik, bass dan vokal ini semakin hari semakin akrab namanya di dunia musik Indonesia. Berangkat dari jalur indie kemudian secara alami diterima juga oleh kalangan luas, bukan hanya komunitas.  

Lagu-lagu mereka yang digemari antara lain ‘I Don't Remember’, ‘When You Love Someone’, ‘Living With Pirates’, ‘Uncle Jim’, ‘Perfect Afternoon’, dan ‘Wish You Were Here’. Banyaknya lagu-lagu mellow yang lebih dikenal mau tak mau membuat mereka diberi stempel sebagai pencipta lagu-lagu romantis. Tapi, benarkah mereka pasangan yang romantis? Eits…. Ceritanya satu per satu ya……

Endah N Rhesa adalah proyek musikal yang terbentuk dari akustik gitar, bass dan vokal. Warna yang mereka bentuk dari tiga instrumen ini adalah folk, jazz, blues, rock and roll dan balada. Mereka berdua bertemu di sebuah band berkonsep rock di awal tahun 2003. Tak hanya bertemu, tapi benih cinta tumbuh di sana. Di tahun 2004, Endah mengundurkan diri karena alasan studi dan Rhesa menyusul. Setelah itu, mereka sering latihan dan menciptakan musik bersama-sama. ‘When You Love Someone’ adalah lagu pertama yang mereka ciptakan bersama. Dan inilah lagu yang paling punya cerita buat mereka.

Awalnya Endah merekam lagu-lagunya dalam album The New Beginning yang berisi empat lagu, dijual sendiri dengan produksi terbatas. Rhesa menambahkan bass dan menjadi sebuah perpaduan apik antara ketiga instrumen tersebut (vokal, gitar dan bass) pada lagu ‘When You Love Someone’. Sejak saat itu mereka berdua sering bermain bersama di acara-acara kampus dan mendapat respon positif. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membuat sebuah nama duo yang diambil dari nama mereka sendiri, Endah N Rhesa.

Duo yang memilih jalur indie ini awalnya tidak menyadari apa yang mereka lakukan disebut indie. Mereka justru menyadari setelah selesai mengerjakan album pertama. Mereka mengerjakan semuanya sendiri. Mereka mengontrol semua proses kreatif tanpa tekanan dari manapun. Dan, mereka memilih proses awal sampai akhir sampai menjual karya mereka sendiri. Jalur inilah yang menyenangkan mereka. Dan, akhirnya mereka berkubang di sana.

Perjalanan karya mereka sejak 2009 sampai sekarang telah menghasilkan tiga album yang menjadi trilogi ditambah satu album OST Cita-citaku Setinggi Tanah tahun 2011 dan album Real Life tahun 2009 yang merupakan souvenir pesta pernikahan mereka, tidak dijual fisiknya tapi bisa diunduh di website mereka tiap bulan Desember, bulan perkawinan mereka. Nah, kalau melihat karya-karya mereka, jelas bahwa EaR adalah musisi yang punya konsep. Buktinya ada di album trilogi.

Album trilogi mereka yang terdiri dari Nowhere To Go (2009), Look What We’ve Found (2010) dan Escape (2011) adalah sebuah story book. Sebuah imajinasi yang dikemas menjadi cerita dalam bentuk lagu. Inilah yang akhirnya menjadi benang merah bahwa musik mereka bergenre ballad. Pasutri yang lagu-lagunya dianggap romantis ini bukanlah musisi yang mengenyam popularitas dalam sekejap.

Jika ditilik dari awal mereka berkarir, mereka butuh waktu yang tidak sebentar. Hampir satu dasawarsa mereka akhirnya bisa menjadi seperti sekarang ini. Idealisme dan kreativitas mereka adalah kuncinya. Konsistensi dan kontinuitas dalam berkarya.

Selain konsep album yang membutuhkan imajinasi dan kreativitas tingkat tinggi, lihat saja bagaimana Endah selalu merangkai kata-kata menjadi lagu yang mengajak para penonton yang datang di pertunjukan mereka untuk menghargai karya musisi dengan membeli produk asli. Lagu-lagu yang liriknya tak pernah sama itu temanya satu.

Tanpa kreativitas dan kemampuan olah kata yang bagus, tak mungkin Endah bisa melakukannya. Spontanitas yang biasanya dibawakan di penghujung pertunjukan mereka adalah sebuah “akrobat” yang tak jarang mengundang gelak tawa dan tepuk tangan penonton. Itu salah satu kekuatan spesial mereka.

Nah, selama satu dasawarsa menjadi mitra kerja, pasangan dalam berkarir musik sampai menjadi pasangan yang sah menurut negara dan agama, tentu hubungan mereka tak terhindarkan dari perselisihan pendapat. Wajar donk, dan itu juga terjadi pada suami istri. Nah, yang menarik diketahui adalah apa yang bisa menjadi pemantik dan bagaimana mereka mengatasi perselisihan itu?

Ternyata, salah satu percekcokan yang terjadi tak jauh dari masalah karir. Misalnya, ada bagian yang meleset ketika berada di panggung. Turun dari panggung, mereka marahan. Kadang, marahan terjadi sebelum naik panggung dan langsung terselesaikan karena “the show must go on”. Turun panggung, case is closed. Kompak banget ya?

Ya, mereka selalu mencari solusi atas permasalahan suami istri mereka dan ketika solusi itu terpecahkan, itu menjadi salah satu best time mereka. Kedengarannya sih simple, tapi tidak mudah menjalankannya. Anyway, Endah dan Rhesa bisa tuh! Indahnya ya…

Nah, omong-omong soal the best time, kadang orang menginterpretasikannya sebagai suatu waktu dimana sepasang suami istri memiliki waktu tertentu yang khusus dan private, misalnya liburan bersama. Percaya gak percaya, selama ini Endah dan Rhesa tak pernah liburan bersama tanpa diganggu masalah kerja. Nah lho! Ya mudah-mudahan tak lama lagi mereka bisa liburan berdua tanpa diganggu urusan karir. Sebuah ‘Liburan Indie’, seperti lagu mereka di album kompilasi Radio Kills The TV Star #001.

Dan di liburan itu nanti, mereka bisa memuaskan diri menikmati romantisme suami istri sebagaimana citra yang selama ini dikesankan para earFriends, fans EaR. Bisa saja mereka liburan indie, menikmati kopi dan coklat kesukaan mereka sambil mendengarkan lagu-lagu cinta untuk semakin menebalkan hubungan mereka.

Salah satunya adalah ‘Can You Feel The Love Tonight’ versi Nathan Lane, Ernie Sabella, Sally Dworsky, Joseph Williams dan Kristle Edwards, bukan versi Elton John. Lagu cinta yang romantis yang juga lucu, lagu yang membuat mereka excited. Ampuuuuun daaah…..

Rasanya memang mereka perlu berlibur dengan santai tanpa diganggu urusan kerja sambil menikmati waktu khusus untuk mendengarkan musik yang biasanya hanya dilakukan di dalam mobil sambil berdiskusi apa saja di tengah perjalanan tanpa arah dan kemacetan Jakarta.

Begitulah sebuah pergerakan model independen, yang ternyata berjalan lumayan mulus lho. Buktinya, mereka sekarang menjadi salah satu kelompok musik yang paling “lancar-jaya”. Job ga pernah kering, bisa disebut begitu. Konser ke konser, bahkan sampai perayaan pernikahan segala, karena pengantinnya fans berat mereka.

Siapa tahu, ketika mereka berlibur, beromantis ria akan tercipta banyak karya yang bisa menjadi trilogi lain atau ….. entahlah apa saja, yang jelas karya yang kreatif dan idealis. Kita kuntit yuuuk……Eh boleh ga? / Tj Singo/Kontributor Yogyakarta

EaR

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found