Foto-foto DionM Foto-foto DionM

A.I.R

Dari Trio, Melalu Lights dan Rasa, Ke Duo

Nama saya Rulyabii Margana S, kelahiran Sumerang pada 27 November 1990. Tinggi saya 180, berat badan saya, sekarang lagi gemukan, 70 kg. Ayah saya, Entang Suhanda, ibu saya Tiktik Rostika. Saya sampai SMA di Sumedang, lalu ke Jakarta, sempat satu semester di Sastra Jepang, Universitas Indonesia. Saya finalis Lmen 2014, sebelumnya saya anggota Paskibra Jawa Barat di 2006, lalu jadi 5 besar Top Model Oriental Aneka Yes, 5 besar Top Model Indonesia. Dan saya juga sempat masuk 100 besar eliminasi Indonesian Idol 2010.

Kalau saya, Muhamad Amin Ilyas. Saya lahir di Makasar, 13 Maret 1986. Saya sempat masukFakultas Hukum Universitas Hasanudin, sampai semster 4 saja. Tinggi saya sekitar 176, berat badan eh lagi gemukan, malah ini naik pas puasa, 64 kg kira-kira. Ayah saya, H.Muhamad Ilyas Zaenong, ibu saya Sheila Hafsary. Di 2005, saya Juara Bintang Radio se Sulsel dan Sulbar. Saya masuk 60 besar eliminasi Indonesian Idol d 2006, lalu setahun berikutnya ikut lagi dan masuk 40 besar.

Begitulah, mereka memperkenalkan diri. Yoi, hanya berdua. Mereka memang duo. Ga lebih? Eh awalnya bertiga sebenarnya, ada Indra, rapper. Jadi nama mereka AIR sebenarnya inisial dari nama merekabertiga. Tapi sayang, Indra mengundurkan diri, tapi tetap saja mereka pilih membawan nama AIR. Amin Ilyas dan Rully, jadinya begitu.

 MG 6334

Padahal sebenarnya, cerita Rully, saya datang dipanggil untuk menjadi bintang tamu album Indra, cerita Rully. Kemudian Amin, juga dipanggil belakangan dengan maksud sama. Akhirnya menejemen malah menyatukan kita saja, menjadi trio. Tapi memang tak sempat berlanjut lagi, kita menjadi duo saja, tambah Amin.

Mereka memang bak boyband, sekilas. Tapi keduanya mengaku, mereka lebih memilih bentuk tidak seperti boyband. Karena mereka memang menyanyi juga, sebaik-baiknya, tak hanya berhenti pada eksplorasi koreografi semata. NewsMusik melihat, adalah bagus, karena toh mereka berdua memang punya modal pula pada suara. Tak sebatas hanyalah menjual gerak tari, goyang-goying dan tampilan fisik.

Mungkin tak apa juga, kalau berniat menjual fisik dan kemampuan tari, karena hal begituan sempat menjadi trend. Boyband, begitupun halnya dengan girlband, mengtamakan pada wajah cantik, imut, ganteng, oriental dan pandai “berjoget”. Oriental itu kudu, karena inspirasi utama masa kini ke muka ke Korea-Korea an, secara Korea yang sukses menginvasi dengan pasukan boyband en girlband nya.

 MG 6310

Bahkan era Backstreet Boys to N’Sync sampai Westlife, menjadi kalah pamor. Hingga Amerika dan Eropa juga. Muke bule ganteng, lewatlah dari muke-muke putih ke kuning-kuning an dengan mata agak sipit. Tapi sssstt, kabarnya masuk tahun ini,popularitas boyband dan girlband menunjukkan gejala menurun. Bosen? Jeleknya menjadi trend begitu. Digeber, eksplorasi abis-abisan, digenjot promosi maksimal, dan waktu “edar” malah jadi lebih pendek.

So, kalau AIR muncul sekarang, tidak menjadi boyband, itu jelas strategi bagus. Biar gimana, penyanyi kudu pintar bernyanyi, paling tidak ada modal suara lumayan. Sayang aja talenta bagus, tidak ditonjolkan. Kayak AIR, pada Amin misalnya.

Anak pertama dari 2 bersaudara ini, sebelumnya sempat memiliki grup band, NYX namanya. Grup berkonotasi pop-rock ini sempat muncul cukup sering pada beberapa event dan terutama di layar kaca, antara lain dengan single, ‘Masih Ada’ yang dipopulerkan duo Dian PP & Deddy Dhukun. Sayangnya, grup ini lantas berhenti begitu saja hidupnya.

 MG 6331

Nah menariknya begini, Rully yang lebih tinggi dan kekar badannya, yang udah 2 bulan-an ga sempat lagi exercise di fitness centre, dulunya adalah penonton NYX. Dia mengaku suka melihat grup itu. Dia menonton di TV, waktu itu masih tinggal di Sumedang. Lalu satu ketika, iapun bertemu dan bisa berkenalan dengan “idola”nya itu, pada sebuah pesta di Jakarta. “Lho, elo tuh yang vokalis NYX itu kan?” Begitu tanya Rully, anak ke 2 dari 6 bersaudara ini antusias. Dan merekapun berteman sejak itu.

Namun anehnya, saat disatukan, yang awalnya dengan AIR itu, mereka tidak menyangka sama sekai akan bertemu lagi. “Iya, saya dan Rully sih ga tau kalau dipanggil untuk membantu rekaman Indra itu. Kita ya ketemu di studio saja, eh ada elo, gitu lah. Ya kita suka-suka aja. Karena itulah, memang sudah berteman dan akrab jadinya, ketika lantas menjadi duo, kita hayiuk aja,” jelas Amin.

Adapun ide untuk menyatukan Amin, Indra dan Rully awalnya datang dari Retno Martuti, sebagai exectuive producer AIR. Yang notabene juga adalah Dirut dari Sirene Production, yang menangani menejemen AIR saat ini.

A.I.R yang menjadi duo saja, lalu merilis album rekaman bertajuk The Journey of Lights, Rasa di atas Rasa. Sebuah album pop berisi 10 lagu. Dimana pada satu lagu, ‘Kehilangan Dirimu’ yang diunggulkan menjadi single-hits , Amin dan Rully disandingkan dengan Widhi Arjuna, finalis dari ajang KDI 4. Formatnya menjadi “kembali ke trio”, tapi menjadi agak berbeda, karena ada nuansa Melayu lewat Widhi.

 MG 6354

Album bertitel rada berkesan “spiritulisme” namun tak berbentuk menjadi album reliji itu, menurut Vendi Sevendi yang adalah menejer Sirene Production, saat ini tengah menjalani tahapan promosi radio. Selain itu juga tampil pada berbagai kesempatan showcases. Launching album sepenuhnya, baru akan dilakukan pada bulan mendatang, setelah Idul Fitri.

Video klip dari lagu tersebut, juga sudah bisa dilihat di youtube, dan nanti juga di video folder NM ini. Sejauh ini, kata Vendi, respon publik lumayan bagus. Makanya mereka optimis terus jalan dan meneruskan program promosi tersebut

Well, musik Indonesia memang ramai. Tetap saja ada hal-hal yang tetap dilihat “mempunyai prospek baik” dalam hal ini sisi bisnisnya, sehingga kontinuitas tumbuhnya nama-nama baru dapat terjaga. Terus saja bermunculan nama-nama baru, yang lepas di soal potensial atau tidak, tapi telah berani muncul ke permukaan. Tampil menunjukkan kreatifitas dan kemampuannya.

Popularitas kemudian, baik bagi para artis atau musisi dan termasuk bagi menejemen, lebih sebagai sebuah berkah bonus. Di tengah-tengah industri musik yang dianggap “lesu darah”, tetap berani untuk ke depan, adalah sebuah langkah yang patut diberi apresiasi.

Kudu ada usaha maksimal, dibarengi konsep kreatifitas yang jelas dan terarah dalam upaya promosinya. Paling tidak kan, kita ga akan pernah tahu hasil akhirnya seperti apa, kalau saja hanya berhenti pada berandai-andai dan bermain pada asumsi, selain sibuk berhitung semata. Setuju ga?

Selamat berkarya, Rully dan Amin! Tetap semangat! / dM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found