Orkes Moral Pengantar Minum Racun

Para Komedian Yang Menghibur Lewat Orkes Musik

“Pokoknya apa saja sekarang yang penting jadi uang (duit - ringgit - dollar) / Time is money katanya orang bule, paklek, dan bude gue / Waktu itu adalah uang... Uang rokok, uang denger, uang apa kek yang penting kagak bokek (dapur bisa ngebul) / Mau ngojek, jadi kuli, kasak kusuk yang penting duit masuk (Halaaal) masing-masing cari caranya / Iyowa (iyowae), Iyowa (Iyowae)..”

itulah sepenggal lirik dari lagu Hits terbaru nya Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR) yang berjudul Time is Money yang baru-baru ini berhasil mereka rilis dalam bentuk cd mini album dan berisikan sekitar 4 buah lagu. Tak luput dari ciri khas sisi musikalitas komediannya, kali ini di 3 lagu berikutnya OM PMR juga memparodikan lagu-lagu milik Naif, Seringai dan Efek Rumah Kaca digubah dengan sense humor ala parodi musik 80 an.

Setelah nyaris lenyap tertelan regenarasi musik di Indonesia, kini OM PMR akhirnya berani unjuk gigi kembali. Masih dengan stelan yang sama yakni mendendangkan orkes-orkes rakyat, dangdutan, penuh humor dan guyonan lucu, natural ala kadarnya. Maka tak heran, jika para punggawanya pun saat ini masih tampak terlihat cukup awet muda.

Para penonton yang datang dari darah metal, blues, reggae, jazz hingga genre apapun itu seakan idealisnya pun luntur saat melihat si peledak lagu Judul-Judulan itu beraksi diatas panggung, semuanya tumpah ruah riang joget tertawa bersama dengan diiringi sebuah parodi orkes dangdut terkemuka. Seiring pesatnya pertumbuhan variasi genre musik yang ada saat ini, karya band asal Blok A itu ternyata tidak lekang oleh waktu, justru kembalinya OM PMR dapat mewarnai lagi peta industri musik di tanah air saat ini.

Cerita terbentuknya OM PMR tidak lepas juga dari tangan dingin si raja humor Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro) yang pada periode 80 an kerap memakai back sound orkes parodi sebagai pengiring mereka saat On Air di Prambors Rasisonia, Jakarta. Acap kali Warkop muncul saat siaran dan hampir dipastikan turut disertai dengan kehadiran sekelompok band orkes, semisal Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP) yang mereka lahirkan terlebih dahulu hingga mereka mancapai titik fase ketenarannya.

Nama OM PSP pun makin bergaung dan mulai dikenal luas oleh beragam masyarakat sehingga jadwalnya pun makin sibuk untuk tampil dari panggung ke panggung dan secara perlahan mereka pun mesti terpisah dari Warkop. Saat itu Warkop membutuhkan band pengganti OM PSP. Kriteria grup musik yang mereka cari ini tentunya harus bisa memadukan eksplorasi musik apa saja yang mereka mau, terutama yang bisa mengemas parodi dangdut, karena musik ini terlanjur ngetrend di telinga anak muda era 80 an sebagai bumbu tawa selain lewat dialog-dialog ngocol, atraksi musik yang berbau humor pun bisa menjadi medium canda bagi para pendengarnya.

Wre Munindra yang bekerja sebagai penyiar Prambors, katakanlah saat itu mendapatkan mandat dari almarhum Kasino untuk sesegera mungkin mendapatkan talent musisi yang nilai plusnya bisa memparodikan kembali lagu-lagu yang pernah kondang dan masih klop juga dengan khas nuansa musik orkes dangdut yang sangat akrab ditelinga masyarakat pada waktu itu. Akhirnya tahun 1977 mereka bertemu di kawasan Blok A, Jakarta Selatan dengan sekelompok anak-anak muda yang acap kali kalau kumpul pasti lagi nyanyi-nyanyi riang dengan nuansa lirik humoris yang semaunya, dikemas lewat olahan dangdut jenaka. Saat itu mereka dikenal selalu menghibur orang-orang yang lagi teler disekitar daerah Blok A.

02 OM PMR TezaFoto - foto Teza

Dengan reaksi spontan dan sense humornya Kasino pun langsung memberikan nama Orkes Moral Pengantar Minum Racun, termasuk untuk menamai tiap personelnya dengan nama-nama jahil seperti Budi Padukone, Harry Muke Kaphour, Imma Maranaan, Yuri Mahippal, Adjie Ceti Bahadur Sjah dan Jhonny Madu Matikutu.

Sejak terbentuk di tahun itu, OM PMR bisa dibilang juga sebuah taman bermain bagi para anggotanya. Saat berada di dalam taman bermain itu energi riang meledak-ledak di dalam diri tiap personelnya. Alih-alih menjadi grup band yang serius dan berpikir bagaimana karya mereka laku di pasaran justru mereka malah terlihat lebih enjoy menikmati waktu bermain-main dan bercanda untuk mencurahkan seluruh kreatifitas mereka.

Lantaran membuat karya yang penuh dengan senda gurau, maka sangat pantas jika dibilang musik mereka pasti tak pernah lekang oleh waktu. Energi riang dan kegembiraan mereka selalu menular kepada tiap pendengar lagu-lagu OM PMR. Kedekatannya dengan Warkop turut menghantarkan mereka dalam tur lawak Warkop keliling Indonesia. Penampilannya tentu saja turut mempopulerkan nama orkes ini sendiri, walaupun hanya berawal dari tampil iseng-iseng bernyanyi.

Suatu waktu mereka dapat berdiri sendiri dan tampil dari panggung ke panggung seperti kelakarnya sebuah band ternama yaa.. nama OM PMR hingga saat ini bisa dikategorikan sebagai orkes legendaris musik asli Indonesia. Apalagi mengingat pada tahun 1987 saat mereka berhasil merilis album Judul-Judulan yang kabarnya, album ini ludes terjual hingga ke angka 2 juta copy di seluruh Indonesia, benar-benar pencapaian yang sangat luar biasa disaat publik saat itu mungkin terasa jenuh dengan dayuan musik pop melayu dan sebagainya. Kehadiran orkes parodi ini tentunya mampu memberikan warna baru di ranah industri musik tanah air.

Sedikitnya 15 album telah mereka keluarkan belum lagi ditambah 7 album kompilasi yang berhasil mereka lahirkan sedari awal grup musik parodi ini terbentuk. Taman bermain inilah yang mempertahankan eksistensinya saat mereka tetap kompak dan bersinergi kuat walaupun usia mereka kini tidak belia lagi.

Sempat vakum beberapa saat karena kesibukan para personilnya, OM PMR akhirnya kembali berkumpul dan malah tampak seperti bocah yang sudah lama tidak berjumpa saat mereka kembali bertemu di taman bermain favorit mereka yakni panggung. Canda tawa riang dan senda gurau kembali tercipta disini, karya mereka kembali mengalir deras dan dapat dinikmati para penggemarnya.

Cikal bakal akan comeback bermusik, dimulai lagi di tahun 2012 yang saat itu di kawasan Kemang, saat malam hari selalu dihiasi party-party musik DJ. Abie selaku pemilik bar itu merasakan cukup putus asa jika hanya dugem jedap jedup melulu yang ditampilkan. Hingga di suatu saat ia iseng-iseng memutarkan lagu OM PMR sebagai tema happy ending penutup malam, yang diluar dugaan justru mendapat respons positif dari para pengunjungnya, kaum hippers berjoget-joget tentunya dengan sentuhan musik yang sangat berbeda dari hari-hari biasanya.

Sejak saat itu Abie mencari-cari para personel OM PMR, dengan harapan mereka dapat berkumpul lagi dan tentunya bisa kembali melanjutkan karir bermusik. Rencana ini pun tak sulit, hanya rentang 1 tahun ia berhasil melakukan kesepakatan dengan para punggawa OM PMR dan lebih tepatnya pada Juni 2013, akhirnya mereka kembali orkesan bersama-sama di Borneo Beer House.

03 OM PMR TezaFoto - foto Teza

Selain berhasil menyedot ratusan massa, tentunya saat itu kehadiran kembalinya sang legenda orkes cukup mengejutkan publik musik Indonesia. Setelah suksesnya acara tersebut, Abie bersama Dado Darmawan (drummer The Flowers) dan team Adu Kreatif Management justru ber visi untuk mengarah ke penggodokan materi lagu terbaru yang pasti masih bisa dilakukan OM PMR, saat itu massa sudah terlanjur mengelu-elukan ketimbang bahagia melihat 6 personil ini bisa rujuk tampil sepanggung lagi.

Alhasil, single lagu Topan (Tato atau Panu) berhasil dirilis tahun 2014 silam dan mendapatkan respon sangat positif di telinga para pendengarnya. Lagu ini merupakan persembahan awal dari comebacknya OM PMR pasca lebih dari 10 tahun mereka vakum bermusik, karya-karya lama mereka kabarnya sudah ludes terbakar, tiada data tersisa.

Saat itu gedung yang menyimpan arsip-arsip berharga OM PMR tak luput dari aksi pembakaran pada saat peristiwa Reformasi 1998. Karakter unik berparodi lewat musik nyatanya tak hilang dari akar musikalitas OM PMR, Topan ialah gubahan dari lagu Posesif milik Naif. Hingga video clipnya pun mereka lakoni sendiri dengan sense humor apa yang mereka mau dan tergolong cukup cerdas, bisa masuk menghibur di kalangan orang tua maupun anak-anak muda.

Belum lama ini mereka berhasil merilis album ke – 16 nya dengan personil yang masih utuh dari awal grup orkes ini terbentuk di tahun 1977. “Saya ini Indonesia, saya orkes dan keluarnya album terbaru ini sangat terinspirasi dari penampilan di Borneo House tahun 2013. Kita berenam yang niat dan tetep kita kompak untuk bikin musik, musik orkes ini enaknya kan kagak ribet karena engga pake effect-effect an dan kita rilis disini karena kita emang besar di pasar, meeting nya di pasar dan itulah kenapa kenapa kita rilis album ini di pasar. Nantinya album ini akan saya titipin di tukang jamu-tukang jamu terdekat, ntar sore-sore mereka mesti setoran dah sama kita” ucap Jhonny Iskandar dan Budi Padukone secara bergantian diselingi oleh gelak tawa dari para penggemarnya saat OM PMR meluncuran album terbarunya di Pasar Santa, Jakarta Selatan (12/6).

Setelah menggelar presconfrencenya itu tak lupa mereka pun segera beraksi lagi di atas panggung yang tergolong cukup sesak dan gerah. Atmosfer ini sama sekali tidak menyurutkan para penggemarnya untuk berjogat-joget tumpah ruah di lantai pasar, dimulai dari lagu ‘M.J.K’, ‘Cita-Cita Edan’ hingga hitsnya ‘Judul-Judulan’. Bahkan lagu pamungkas itu pun tak mampu membuat barisan penggemarnya bubar yang justru menagih balik ke sang idola untuk tetap meneruskan lagi orkesnya, dan OM PMR pun menjawab dengan 2 lagu penutup demi membahagiakan para pendengar setianya dan pulang dengan tawa riang.

Untuk ukuran sebuah band yang telah terbentuk dari tahun 70 an apalagi belum gonta-ganti personil dan berhasil perform diatas 12 lagu tanpa jeda istirahat itu merupakan prestasi yang sungguh luar biasa.. apalagi Budi Santoso, Harry Sugiarto, Hermanto, Yuri Anurawan, Matroji dan Jhonny Iskandar kini tambah funky mengenakan stelan baju-baju band metal seperti Seringai, Dead Vertical, Noxa dan sebagainya.

04 OM PMR TezaFoto - foto Teza

Sementara saat diatas panggung penampilan Johnny Iskandar pun masih sangat orisinil seperti yang lama, mengandalkan suling bambu dan sisir sebagai alat tiup utama, tiada yang berubah sedikitpun dari konsep orkesan panggung ini. Semoga mereka diberikan kesehatan dan kebugaran selalu agar dapat terus menghibur rakyatnya dari panggung ke panggung dan bisa berkarya terus untuk membahagiakan para penggemar setianya, sukses selalu OM PMR, Orkeslah Kalau Bergitar.../Teza

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found