D’Jenks Foto-foto Teza

D’Jenks

Jalan Panjang Berliku

Apa jadinya, apabila sekumpulan musisi-musisi punk tampil bersatu dalam satu panggung justru membawa esensi musik yang bernuansa reggae. Di Indonesia, untuk tema seperti ini cenderung cukup langka, biasanya komunitas punk akan kumpul dimana ada acara musik yang bertemakan punk dan begitu pun sebaliknya, saat band reggae perform tentu bakal menjanjikan hadirnya para Rastaman yang turut meramaikan suasana.

Namun hal tersebut nyatanya tidak begitu berlaku buat D’jenks. Band tersebut bisa tampil pada kedua acara yang bisa dibilang beda faham itu, mereka cukup terbukti bisa menyatukan 2 makna yang sangat berbeda namun berhasil di persatukan dalam 1 persepsi, kala musik yang berbicara.

D’jenks lahir dari selorong tongkrongan punk di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Pemberian nama itu sendiri konon karena personilnya dulu sempat doyan nyimeng, Jenks sendiri diambil dalam bahasa keseharian anak kampus pada saat itu yang bisa dipersepsikan memiliki arti ganja.

Kini D’jenks adalah Dome alias Mr. Rumput yang berperan sebagai peneriak mikrofon utama. Duo gitar elektrik yang diisi Ghebois aka Rama Adithya dan Ario Nugroho, Bayu Satria meramaikan tune lewat Hammond Keyboard, Christo Putra menjaga lini belakang berperan sebagai Drummer dan Marchel Arnold yang menjaga ritme lewat Bass. Para musisi ini mayoritas merupakan gabungan eks mahasiswa-mahasiswa Universitas Moestopo dan Universitas Sahid, Jakarta.

Band ini tercetuslewat ide & luapan emosi spontan, mereka iseng-iseng meramaikan acara street gigs di penghujung tahun 2002 menuju awal tahun 2003. Lantas nagih!.. Para punggawanya memiliki passion yang cukup besar untuk memainkan musik Reggae. Konon mereka menemukan suatu eksperimen baru, dimana meracik musik dirty reggae tetapi tidak keluar jauh dari konteks Punk seperti basik musik para personilnyanya. Nah, bagaimana caranya?

‘Move On’, sebuah single yang berhasil mereka rilis tahun 2010 silam. Lagu ini mungkin saja bisa mengingatkan para kelakarya kembali ke periode musik 70an, khususnya saat terjadi invasi dalam skala besar, masuknya kultur reggae – punk yang merasuki Inggris pada waktu itu.

02 DJenks TezaFoto - foto Teza

D’jenks berhasil mengimplementasikan sound-sound vintage di single yang masuk album kompilasi Return Of Root Bois vol.1. Mereka menyerap kuat enerji musik leluhurnya itu yang juga sangat mereka idolai seperti Bob Marley, The Clash, Jimmy Cliff, Tooth and The Maytals, Lee “Scratch” Perry, Derrick Morgan hingga Rancid dan The Aggrolites.

Tahun 2004 – 2005 adalah waktu dimana album ‘The Other Side” milik Steven Coconuttrezze meledak di kancah musik nasional. Sejak saat itu band-band reggae di Indonesia bisa bernafas lega karena sudah memiliki jajaran komunitas dan pangsa pasar sendiri, apresiasi terhadap musik ranah Jamaika itu melonjak tajam di nusantara.

Bahkan, Salah satu personil D’jenks mengaku, cukup memanfaatkan momentum tersebut pasca ‘Welcome to my Paradise’ berhasil menuai sukses di industri musik lokal. Hal ini turut menghantarkan D’jenks kecipratan job manggung dan perlahan bisa berdikari, menuai sukses hingga melangsungkan tour musiknya ke Cirebon. Band tersebut juga sempat tampil di acara ‘Tribute To Imanez’.

Akhir tahun 2006 D’jenks masuk ke dapur rekaman, dengan proses waktu beberapa bulan mereka berhasil merekam 3 lagu (masih instrument). Disaat sedang getol-getolnya rekaman yang tinggal menuju proses akhir take vocal, Dome justru tersangkut masalah pelik yang membuatnya di karantina dan otomatis menjauh dari kehidupan bermusik. Ia tersandung kasus penyalahgunaan ganja. Sementara anggota band lainnya sangat berharap vonis yang dijatuhkan untuk si Mr.Rumput tidak berlangsung lama, agar proses rekaman bisa terus berjalan.

Si peneriak mikrofon itu ternyata mendapat vonis cukup lama, kurungan tahanan diatas 3 tahun penjara, hal ini membuat personil D’jenks yang lain ketar-ketir karena dikejar deadline. Pihak label akhirnya membatalkan projek yang saat itu memang mandek di tengah jalan. Sementara band D’jenks pun harus terus berjalan walaupun dalam kondisi harus gonta-ganti vokalis. Opay (That’s Rock a Feller) dan Jali (The Fitri) sempat menjadi vokalis sementara, menggantikan peran Dome.

“Kami sepakat untuk menunda rekaman pada waktu itu, walaupun D’jenks sempat gonta-ganti vokalis juga. Namun, cuman Dome yang memiliki karakter kuat untuk ngisi vokal di musik D’jenks ini. Kalo ganti vokalis lebih dari ganti instrument, mungkin semua bisa berubah total untuk musik. Kita tetep nunggu Dome, karena dia memang khas dan karakter suaranya pas di band ini” jelas Rama Adithya kepada NewsMusik.

Total 2 tahun 10 bulan vokalis berambut keriting itu menjalankan masa hukumannya di 3 lembaga pemasyarakatan yang berbeda-beda tempat. Dome sempat menulis lirik di dalam bui “Rindu ini terlalu lama terendap, dalam ruang sempit sesak teramat pengap, letih rasa hati menghitung hari yang tak pasti, lelah mata ini pandangi ruas jeruji besi.. Diperas dan ditindas melewati batas, oleh sipir-sipir yang ganas dan buas..” dia melanjutkan nulis bait demi bait dan mendapatkan full supportdari para koleganya di band.Lirik tersebut akhirnya masuk di laguD’jenks yang berjudul‘Prison Blues’, lagu initurut berkecimpung jugadi SoundtrackFilm Arisan 2.

03 DJenks TezaFoto - foto Teza

“Gue pulang pesantren, baru mulai proses rekaman lagi nih...Awalnya di ajak sama Om Boris (gitaris Artificial Life), beliau punya record namanya Revival dan ngajakin D’jenks buat ikutan kompilasi Return of Root Boys vol.1 dan kami merilis ‘Move On’ pada April 2010. Hahaha, Produktif banget ya itungannya.. 7 tahun itu baru bisa satu lagu ngeluarinnya single!!? Abis itu D’jenks mulai dapet job manggung-manggunglagi di luar kota.Lalu, Kami memutuskan untuk rekaman album lagi nih, tapi karena duitnya nggak ada dan materi belum ada... itu kita proses album pertama isinya 8 lagu kita makan waktu 2 tahun! Akhirnya 10 November 2013 dan bertepatan dengan hari pahlawan, kami syukur banget bisa merilis album self-titled ini, Alhamdulillah.. akhirnya rampung juga album pertama ini” ucap Mr.Rumput.

Dome pun mengakui setelah peluncuran album ini cukup berdampak pula pada jam manggung D’jenks dan semakin banyak orang yang mengapresiasi karya-karya bandnya. Pasca peluncuran album, saat itu ada sebagian pengamat musik yang merasa cukup heran dengan aksi band ini, terutama saat mereka pentas.Pada mulanya D’jenks dilihat seperti segerombolan anak-anak Punk (terutama soal fashion) kok malah membawakan lagu reggae?. Mulanyasang pendengar cukup kaget dengan hal ini,hingga proses waktu yang bicara akhirnya penonton pun perlahan memuji karya musik D’jenks yang sarat nuansa dirty reggae itu.

D’jenks akhirnya bekerjasama dengan Paviliun Record untuk penggarapan album awal dan deal memproduksi 1.000 cd dengan label tersebut, hingga ke tahap distribusinya pun band ini ikut membantu penjualan kaset, setelah cd habis, mereka me repeat lagi album self-titled. Tapi, dengan format kaset tape sebanyak 100 keping dan mendapat request lanjutan hingga 300 kaset. Dome bahkan teringat pada masa lalunya, saat itu ia harus menyisihkan sebagian uangnya untuk mendapatkan kaset-kaset tape, bahkan kalau cover depan menarik perhatiannya dia sampai rela nyolong kaset tape itu dari toko di Blok M, demi menambah bekal pengetahuannya di bidang musik.

Ada hal yang cukup unik saat melakukan recording di band D’jenks. Saat aransemen musik sudah oke hingga segi instrument pun finish. Recording aman dan layak bungkus (mixing-mastering), justru bait vokal malah belum tertulis sama sekali. Nah loh...??

Lalu, Dome menjelaskan untuk meminta izin kepada rekan-rekan bandnya selama 1-2 jam, karena sejenak ia harus melakukan penghayatan guna menulis lagu. Bukan di pantai, bukan pula di gunung, eks vokalist “DickHead” itu justru mendapatkan feel kenikmatan menulis lirik saat berada didalam toilet sambil jongkok ngerokok. Disinilah idenya mengalir deras dan berhasil lirik ditulisnya yang rata-rata terdapat di lagu-lagu album debut band tersebut.

04 DJenks TezaFoto - foto Teza

Dalam waktu dekat ini D’jenks siap mengeluarkan split tape (album kompilasi 3 band) dan siap memproduksi 2 lagu teranyarnya yang soundnya tentu beda lagi dari album awal. Untuk album baru ini, mereka akan mengcover lagu ‘Artificial Life – I Wanna Skank’ dan ‘You Make Me Get Fall’ sebuah lagu baru khusus yang rencananya akan rilis Mei 2015. Selain itu D’jenks juga tergabung pada kompilasi album “Indonesia Reggae Sound’s” yang di pagari Off Beat. Penasaran??...

“Cintailah bentuk rekaman fisik.. kalo hanya lo ngedownload kasian musisinya gitu lho! Gimana mau survive kita-kita orang disini, karena kan kalo lo beli rekaman fisik gue, bukannya gue mengharapkan jadi kaya.. engga! Cuman, gimana caranya gue nanti bisa tetep bikin karya lagi, engga mandek disitu doang.” Celoteh Dome saat menanggapi maraknya pembajakan musik di Indonesia.

Support your local musicians dengan membeli karya asli bukan yang bajakan /Teza.

Share this article

Related items

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found