NewsMusik

NewsMusik

Friday, 07 April 2017 17:27

Hammersonic Festival 2017

Siap Siap di Guncang Megadeth

Hammersonic Festival adalah festival musik heavy metal terbesar di Asia Pasifik yang akan merayakan semangat originalitas pada 7 Mei 2017 mendatang di Ecopark Ancol, Jakarta. Sejak tahun 2012 Hammersonic Festival bersama El Diablo telah berkolaborasi menjadikan gelaran ini sebuah medium kreasi individu yang menggandrungi genre ini. Originalitas adalah kemampuan untuk berani menunjukkan jiwa kreatif dan dan tampil beda.

Cerita originalitas El Diablo dimulai ketika El Diablo menggandeng Hammersonic Festival untuk memberikan penghargaan kepada para penikmat dan pelaku musik metal di Indonesia lewat Hammersonic Festival 2012. “Tahun 2012 menandai era baru untuk El Diablo yang memiliki DNA untuk berani selalu tampil original.

Didapuk sebagai partner Hammersonic Festival 2012 kala itu seperti mendapat jackpot, karena Hammersonic Festival terdiri dari individu juga memiliki semangat untuk berani tampil beda, berani tampil original, berani jadi diri sendiri. Memberikan perhatian dan dukungan lebih kepada komunitas musik non-top-40”, ungkap  Erwin Ruffin, representasi El Diablo.

Musik heavy metal sendiri dikenal dengan raung suara gitar yang keras dan terdistorsi, vokal yang melengking ditingkahii dengan teriakan dan suara parau. Belum lagi gebukan drum yang agresif. Walaupun untuk awam terdengar susah untuk didengarkan, namun genre ini cukup banyak menyedot animo penggilanya. Salah satu yang menjadi magnet terbesar adalah akan tampilnya Megadeth untuk meramaikan Hammersonic Festval 2017.

“Salah satu yang akan tampil adalah Megadeth. Setelah lima tahun eksis akhirnya kami berhasil mendatangkan salah satu band terbesar di dunia,” ujar COO Hammersonic Festival Wendi Putranto dalam jumpa pers di Hard Rock Café, SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (6/4/2017).

02 Hammersonic Festival 2017 RizalHammersonic Festival 2017 (foto: Rizal)

Wendi mengungkapkan kehadiran band dunia itu sudah dipastikan sebab proses tawar menawar sudah rampung. “Bisa dibilang sampai sejauh ini dari sisi legalitasdan sebagainya dibilang sudah 100 persen,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pergelaran musik ini, akan ada tiga panggung outdoor dan satu panggung indoor utama. Panggung utama itu diberi nama Soul of Still Krishna J Sadrach Stage, sebagai apresiasi terhadap kiprah Krishna di blantika musik Tanah Air khusunya musik metal. Seperti perhelatan sebelumnya juga akan tetap diadakan Hammersonic Metal Awards. “Tapi, kali ini hanya sekitar lima penghargaan yang telah dipersiapkan. Lebih menurun dari tahun lalu,” katanya.

Vokalis band metal Hellcrust, Andyan Gorust, mengatakan bahwa Hammersonic Festival amat sangat dinanti-nanti oleh pemusik dan metalhead di Indonesia. “Sebenarnya festival ini adalah event impian bagi anak-anak satu nusantara. Sebelum ada ini, untuk nonton band Internasional lumayan susah karena aksesnya”, ungkap Gorust.

Dari sisi line up dalam negeri, sederetan band yang akan tampil diantaranya Seringai, Revenge The Fate, Trojan, dan From Hell to Heaven. Sedangkan dari luar negeri selain Megadeth adalah The Black Dahlia Murder, Whitechapel, Northlane, dan band lainnya./ Rizal

 


Friday, 07 April 2017 17:15

Kartini

Potret Perlawanan Terhadap Kekang Tradisi

Ini sebuah kabar sejarah, soal perjuangan mendapatkan kesetaraan, sebuah usaha melawan takdir dan tradisi. Diproduksi oleh Legacy Pictures, film garapan Hanung Bramantyo ini merupakan sebuah paparan kisah hidup tokoh perempuan asal Jepara, “Kartini”. Wanita pembela emansipasi serta dinobatkan menjadi pahlawan Indonesia yang paling harum namanya.

Lewat film ini, Hanung menghadirkan sebuah penyampaian visualisasi yang berbeda soal perjuangan R.A Kartini melawan takdir dan tradisi dari apa yang ditemukannya pada  buku “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya. Kartini yang pada akhirnya dianggap telah berjuang bagi kesetaraan hak untuk semua orang dalam hal pendidikan yang layak, persamaan status sosial tanpa pandang ras, suku, agama dan golongan.

Cerita dibuka lewat alur cerita mundur tatkala Kartini (Dian Sastrowardoyo) akhirnya menerima takdirnya untuk menjadi seorang Raden Ayu. Inilah takdir yang amat didambakan ibu kandungnya, Ngasirah (Christine Hakim), seorang perempuan yang bukan ningrat namun bersuamikan seorang Bupati dan harus terhinakan dirumahnya sendiri. Menjadi Raden Ayu merupakan sebuah cara perempuan Jawa dalam membawa kehormatan bagi keluarga pada era tersebut.

Melawan takdir dan tradisi bukanlah perkara mudah. Kartini dibantu kedua adiknya, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita), berjuang menjadi perempuan yang sanggup menentukan masa depannya sendiri, seusai keinginan hati serta nurani.

Tak sedikit tantangan atau hambatan yang harus dihadapi ketiga bersaudari ini, mulai dari adanya tradisi pingitan dari kaum ningrat yang turut dilakukan ayahnya, Raden Mas Aryo Sosronigrat (Deddy Sutomo) serta pemikiran-pemikiran kolot saudaranya, Raden Mas Slamet (Denny Sumargo) dan Soelastri (Adinia Wirasti).

02 Kartini IstimewaKartini (Istimewa)

Untungnya, Kartini masih didukung oleh kakak kandungnya, R.M Panji Sosrokartono (Reza Rahadian) yang menjadi pembuka pemikirannya mencintai buku. Menjadi jendela jiwanya melihat dunia yang lebih luas. Selama masih ada buku, maka tidak ada yang bisa memenjarakan pikiran dan imajinasi Kartini.

Sedikit demi sedikit, Hanung mencoba mengarahkan penonton siapa dan bagaimana Kartini itu. Sejak kecil, Kartini yang biasa dipanggil Trinil sudah merasakan memiliki dua ibu dari dua kasta yang berbeda. Karena tradisi yang cukup kuat, perbedaan kasta tersebut tak sekedar membuatnya harus berpisah dengan Ibunya. Tapi juga tak boleh memanggil Ngasirah dengan sebutan “Ibu”. Sebutan yang hanya pantas dimiliki oleh bangsawan semacam Raden Ayu Moeryam (Djenar Maesa Ayu) selaku ibu tirinya.

Ia dan saudara-saudaranya harus memanggil Ngasirah dengan sebutan “Yu”, sebutan yang sering dipakai untuk memanggil abdi dalem dan sebayanya. Kepada Kartini dan saudara-saudaranya, Ngasirah pun harus melakukan sembah sungkem dan berbahasa Jawa halus serta harus menghormati mereka.

Film ini juga menggiring penonton mengetahui bagaimana Kartini dan adik-adiknya menjadi sangat bersemangat ketika sedikit demi sedikit kekang sang ayah mulai mengendur. Lewat kemampuannya menulis jurnal, sedikit banyak bisa memperkuat posisi sang ayah ataupun mendudukkan kakaknya di posisi yang didambakannya di pemerintahan.

Walaupun semua keuntungan yang mereka rasakan, menjadi bumerang untuk keluarganya. Bagaimana tanggapan miring dari rekan sejawat sang ayah yang menuduh mereka telah menghantam tradisi. Bagaimana Kartini dianggap berkepala besar oleh ibu tirinya, karena sering mendapat perhatian lebih dari para kompeni.

Masa pingitanpun akhirnya terlalu lama menyekap Kartini, karena tak ada bangsawan yang mau mempersuntingnya. Sampai pada akhirnya hadir Raden Adipati Joyodiningrat (Dwi Sasono) yang melamarnya. Adegan ini dibuat manis dan melegakan karena akhirnya Kartini dipersunting oleh lelaki yang mampu mengabulkan semua persyaratannya.

03 Kartini IstimewaKartini (Istimewa)

Ini juga menggambarkan pemikiran Kartini yang sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang lebih nrimo. Ia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dan menjadi istri keempat dari Adipati Rembang tersebut.

Patut diberikan pujian disini adalah keberhasilan Hanung membawa emosi Kartini sampai ke bangku penonton. Bagaimana nasehat sang Ibu, yang menguras emosi ketika menceritakan harus menerima sebuah beban hina dari sebuah tradisi, hanya untuk menyelamatkan masa depan  suami  dan anak-anaknya. Juga buncahan kesedihan kala Kartini meminta izin kepada ibu kandungnya untuk menikah dengan sang Adipati.

Suguhan film ini agak berbeda dari sebelumnya seperti karya Sjumanjaya yang dibintangi oleh Yenni Rachman pada tahun 1982, ataupun “Surat Cinta Untuk Kartini” yang diproduksi pada 2016 lalu. Hanung menggambarkan Kartini sebagai manusia seutuhnya dan tampi apa adanya. Film ini akan tayang pada 19 April 2017 diseluruh bioskop di tanah air./ Ibonk

 



Thursday, 06 April 2017 13:50

Montecristo

Menjaga Momentum

Menutup bulan Februari pekan silam, kelompok musik rock progresif Montecristo menggelar konser mereka lewat tajuk Once Upon A TimeA Concert by Montecristo di Exodus Lounge, Kuningan City Mall, Jakarta. Ini merupakan konser pertama sejak band asal Jakarta ini merilis album keduanya yang bertajuk “A Deep Sleep” pada 7 Desember 2016.

Bila kita merujuk kembali kebelakang, bisa jadi konser ini adalah untuk menjaga momentum disaat semangat masih tinggi. itulah mungkin yang tengah dirasakan oleh Eric Martoyo, Rustam Effendy, Fadhil Indra, Haposan Pangaribuan, Alvin Anggakusuma dan Keda Panjaitan.

Selama dua bulan ini, pihak band yang dibantu oleh tim produksi telah bekerja keras mempersiapkan konser ini. Tujuannya adalah untuk menjadikan pertunjukan ini tidak seperti pada umumnya. Ini adalah sebuah konser bernuansa teatrikal lewat bantuan multimedia dan narasi sebagai pengantar di tiap lagu.

Tak mudah memang menyajikan suguhan rock progresif ke telinga para pendengarnya. Bolehlah dikata, kalau musik ini perlu dinikmati sambil mikir, meresapi tiap lirik dan alunan musik yang disuguhkan. Karena itulah, musik yang sempat menjamur dan meraih masa keemasan dan menghasilkan band-band besar seperti Genesis, Yes, Pink Flyod, ataupun Dream Theatre ini sedikit demi sedikit semakin redup.

02 Montecristo dMMontecristo (dM)

Belum lagi jika kita lihat ditanah air, saat ini hanya segelintir band-band pengusung musik ini yang masih bertahan.  Tidak hilang memang, masih ada komunitas-komunitas yang menjaga agar mereka tetap hidup. Dan Montecristo masih cukup punya tenaga berlebih untuk menjaga semangat mereka.

“Kami tetap mempertahankan formula “rock yang berkisah”. Lewat lirik yang bertutur, kami menyampaikan cerita, menggarisbawahi pesan, dan mengajak pendengar berkontemplasi. Kami percaya musik adalah kendaraan yang tepat untuk itu,” kata Eric Martoyo, vokalis dan penulis lirik.

Dalam suasana konser malam itu, tampak hadir wajah-wajah familiar yang kerap berkiprah di jalur musik progresif. Mereka terlihat antusias menyaksikan seperti apa ke 6 punggawa Montecristo ini menaklukkan panggung.

Tak ingin juga tampil tanggung, sebelum mereka tampil, panggung di buka oleh group metal legendaris Grass Rock yang digawangi oleh Hans Sinjal (vokal), Edi Kemput (gitar), Denny Irenk (keyboardist), Rere Reza (drum) serta bassis baru Zondy Kaunang. Walau agak berbeda rasa, namun kehadiran Grass Rock cukuplah membakar semangat para yang hadir untuk sampai pada sang penampil utama.

03 Montecristo dMMontecristo (dM)

“Malam ini kami akan bercerita tentang dua titik terpenting dalam kehidupan manusia: kelahiran dan kematian, dan fase diantara dua titik itu yaitu sebuah proses yang tak pernah sederhana, namun sering diwakili hanya oleh satu kata: kehidupan!”, seru Eric.

Itu adalah sepenggal kalimat pembuka yang menunjukkan kembalinya mereka menguasai panggung. Lalu terlantunkanlah lagu pembuka ‘Celebration Of Birth’ yang bertutur tentang perayaan kelahiran, sekaligus peringatan tentang dunia nyata yang jauh dari ideal.

Tak menunggu lama, beberapa lagu berikutnyapun digelontorkan seperti ‘Rendezvous’, ‘Crash’, ‘A Blessing Or A Curse?’ ataupun ‘A Romance Of Serendipity’. Sekitar 9 lagu yang dikombinasikan dari 2 album yang telah mereka terbitkan.

Di penghujung konser Montecristo mengajak penonton berkontemplasi tentang kematian lewat tembang ‘A Deep Sleep’. Konser malam itu ditutup dengan vocal falsetto Eric menyanyikan: ... he asked me if I was afraid of dying, I said “Yes, I am”, I wasn’t lying, But it may be like a deep sleep state of mind....../ Ibonk

 

Tuesday, 04 April 2017 16:34

Ghost In The Shell

Pencarian Jati Diri Cyborg

Adalah suatu organisasi counter-cyberterrorist, yang mempunyai sebuah divisi khusus bernama Public Security Section 9. Organisasi ini terdiri dari para mantan tentara dan polisi detektif dan dipimpin oleh Motoko Kusanagi. Menceritakan sebuah kota fiktif di Jepang bernama Niihama pada pertengahan abad 21, Public Security Section 9 bertugas menangani berbagai macam kasus kriminal, dari terorisme sampai kasus korupsi.

Di film ini diperlihatkan bagaimana teknologi yang berkembang dengan pesat, diciptakannya manusia yang memiliki otak cyber dan aksesnya disesuaikan dengan tingkat sosialnya. Dimana fungsi otaknya adalah menyambungkannya ke jaringan dan teknologi. Sehingga manusia bisa menjadi setengah robot (cyborg) yang mempunyai tubuh prostetik yang terkoneksi dengan otak cybernya.

Scarlett Johansson berperan sebagai Major, salah satu anggota tim anti teror cyber bernama Section 9. Film diawali dengan adegan Major yang dioperasi karena telah mengalami kecelakaan dan merenggut hampir seluruh anggota badannya. Kepala peneliti, Dr. Ouelet (Juliette Binoche) mengatakan bahwa bahwa Major adalah orang pertama yang kesadarannya dan rohnya (ghost) berhasil dicangkokkan ke tubuh (shell).

Bersama dengan tim yang terdiri dari berbagai manusia dengan sentuhan cyborg dalam level yang berbeda-beda. Major sendiri dipasangkan dengan partner dekatnya Batou (Pilou Asbaek), Major yang ditugaskan oleh pimpinannya (Takeshi Kitano) untuk menyelidiki serangkaian kasus pembunuhan yang melibatkan robot. Semua itu didalangi oleh hacker misterius bernama Kuze (Michael Pitt) sebagai bentuk sabotase terhadap Hanka Robotics, perusahaan yang menciptakan Major.

 

02 Geisha Cyborg IstimewaGeisha Cyborg (Foto: Istimewa)

 Saat menyelami "ghost" sebuah robot geisha, Major mendapat petunjuk mengenai Kuze, namun ini juga yang membuat Major akhirnya berinteraksi dengan Kuze. Pertemuan keduanya, akhirnya menyingkap asal usul dari mana mereka berasal. Karena meskipun bertubuh cyborg, namun karena roh dan otaknya adalah manusia terkadang muncul bayangan-bayangan yang selalu mengganggu Major selama ini. Sehingga membuatnya bingung dengan identitasnya sendiri.

Film ini adalah film  anime yang diangkat dari  karya Masamune Shirow dan disutradarai oleh Mamoru Oshii. Anime ini disebut-sebut sebagai salah satu anime terbaik sepanjang masa. Sepanjang film ini penonton disuguhkan dengan kecanggihan teknologi masa depan, dimana digital efeknya hampir mirip denga suasana asli.

Karakter Major yang ternyata aslinya adalah bernama Motoko Kusanagi, seorang yang mampu berkelahi dan pandai memecahkan masalah. Selain itu mempunyai fisik yang kuat dan seperti karakter aslinya yang mempunyai daya juang yang tinggi. Rasanya tak salah menunjuk Scarlett Johansson untuk memerankan tokoh seperti ini, yang menjadi rancu adalah ketika ternyata asal dari sang Major adalah seorang gadis Jepang.

Tapi sudahlah, hal ini yang akhirnya menjadi daya tarik film ini, seperti kita tahu bahwa di film-film Scarlet sebelumnya bahwa perannya adalah selalu sebagai gadis yang sexy dan pandai berkelahi. Meski di film inipun Scarlet masih memerankan tokoh yang sama dan sayapun melihatnya tak jauh berbeda dengan film-film Scarlet yang lain.

 

03 Scarlett Johansson IstimewaScarlett Johansson (Foto: Istimewa)

Ada banyak filosofis yang bermain dari masing-masing karakternya. Major meskipun tidak mempunyai emosi dan berwajah dingin tanpa ekspresi namun disini dia dipasangkan oleh Batou yang merupakan manusia biasa sehingga mempengaruhi karakter Major itu sendiri.

Film yang memakan waktu hampir 9 tahun ini baru mendapatkan ijin produksi dari pemegang hak cipta manga dan anime Ghost in the Shell di tahun 2008 setelah menjalani serangkaian diskusi yang sangat alot. Setelah 9 tahun berlalu, Dreamworks akhirnya benar-benar menayangkan film ini di awal tahun 2017. Dimulai dari pemutaran perdana di Jepang pada 16 Maret 2017, dan dilanjutkan ke Amerika dan dunia pada tanggal 31 Maret 2017./ YDhew

 

Tuesday, 04 April 2017 16:19

Nidji

Isi Soundtrack Film The Guys

 

Grup musik Nidji beberapa waktu lalu kembali kebagian job untuk mengisi soundtrack film The Guys garapan sutradara, penulis, sekaligus komedian Raditya Dika. Memang sih, tahun-tahun belakangan ini, mereka sering diminta untuk menciptakan theme song untuk beberapa film. Masih segar mungkin diingatan kita, ketika tahun lalu mereka turut dilibatkan untuk mengisi tema lagu film Bangkit dan beberapa film lainnya.

Unutuk urusan pembuatan soundtrack, pengalaman yang mungkin paling berkesan dari band ini ketika di tahun 2007 dua lagu dari album “Breakthru” yakni ‘Heaven’ dan ‘Shadow’ menjadi  tema lagu serial Heroes yang disiarkan di Asia Tenggara.

Setahun berikutnya, dari album “Top Up” dijadikan sebagai original soundtrack sinetron Namaku Mentari, dan yang paling fenomenal ketika band ini menjadi buah bibir saat menggarap tema lagu film yang di adaptasi dari novel karangan Andrea Hirata, “Laskar Pelangi”.

“Dipercaya menggarap soundtrack film, susah-susah gampang. Yang jelas, kita harus punya kemauan dan sehati. Saya dan kawan-kawan kalo udah cocok tema apa yang digarap, nggak masalah jika harus bekutat berhari-hari di dalam studio,” ujar Giring.

 

02 The Guys Film Istimewa1The Guys Film (Foto: Istimewa)

 

Balik lagi ke proyek terbaru mereka ini, Nidji menghadirkan lagu berjudul ‘Bila Bersamamu’. Lagu manis dan sederhana ini, belum lama ini juga melepas video musiknya. Ini juga sebagai penanda menjadi video single pertama dari album terbaru mereka “Love, Fake, and Friendship”.  Tak mau setengah-setengah, lagu yang ditulis oleh Andi Ariel Harsya ini, langsung diperankan oleh dua pemeran utamanya yakni Raditya Dika dan Pevita Pearce.

Gianni Fajri selaku sutradara, mengatakan bahwa video musik ini adalah penggambaran atas mimpi Radit terhadap karakter perempuan dalam film. "Nidji juga berperan dalam video musik ini sebagai karakter-karakter yang mendukung situasi mimpi Radit dan Pevita. Konsepnya juga nggak lari dari filmnya”.

Meskipun soundtrack-nya sudah digulirkan namun film The Guys sendiri baru akan tayang di bioskop Indonesia pada 13 April mendatang. Sementara untuk album Love, Fake, and Friendship milik Nidji sudah rilis terlebih dahulu pada 16 Maret lalu secara digital.

Nidji yang beranggotakan Giring Ganesha, Andi Ariel Harsya, Ramadhista Akbar, Randy Danistha, Andro Regantoro dan Adri Prakarsa, menyebutkan kalau mereka senang bekerjasama dengan Raditya dan pihak Soraya Intercine. “Mudah-mudahan film The Guys sukses,” harap Giring./ Ibonk

Saturday, 01 April 2017 18:15

90s Music Harmony

Konser Pengobat Rindu

Pada Jum’at (31/3), The Pallas SCBD Jakarta yang menyelenggarakan konser 90s Music Harmony tampak disesaki pengunjung. Tidak hanya generasi 90-an,  tetapi banyak juga terdapat generasi millenials pun hadir disini. Antusiasme pengunjung terlihat mulai pukul 18.00 WIB untuk menyaksikan band legendaris di era tahun 90-an Dewa 19 feat. Ari Lasso dan Java Jive feat. Nadilla.

Dua band ini sendiri sudah cukup diketahui menjadi idola di era tahu 90an. Tampilnya mereka sedikit banyak menghapus kerinduan penggemar atas karya-karya mereka. Antrian panjang terlihat sejak NewsMusik datang ke lokasi, bahkan ada beberapa yang tidak bisa masuk untuk menyaksikan konser band idola mereka.

Muncul sebagai band pembuka Java Jive yang menghadirkan juga Nadila, dinilai cukup bisa menggiring ingatan penonton ke masa lalu. Lagu-lagu hits mereka seperti ‘Gadis Malam’, ‘Gerangan Cinta’ dan ‘Selalu Untuk Selamanya’, ‘Salahkah Aku’ ataupun ‘Kulakukan Semua Untukmu’ yang dinyanyikan bersama dengan Nadila membuat penonton ikut bernyanyi.

Lengkingan suara khas dari Danny Jive, meski tidak seharmonis dulu namun cukuplah membuat penonton bersorak. Penampilan mereka semakin manis lewat penampilan Capung dan Fatur yang unjuk kebolehan memainkan gitar diatas panggung.

02 Ahmad Dhani & Ari Lasso YDhewAhmad Dhani & Ari Lasso (YDhew)

Suka ataupun tidak, penampilan yang paling banyak ditunggu hadir sekitar pukul 21.00 WIB. Sorak sorai penontonpun menyambut hadirnya Dewa 19 dan Ari Lasso di panggung. Membuka penampilan mereka lewat lagu ‘Manusia Biasa” yang disambut gemuruh. Ahmad Dhani dan Ari Lasso pun berturut-turut membawakan lagu ‘Restoe Boemi’ dan ‘Bukan Siti Nurbaya’.

Selanjutnya Ari Lasso memimpin membawakan beberapa lagu hits lainnya seperti ‘Satu Hati’, ‘Aku Di Sini Untukmu’, ‘Takkan Ada Cinta yang Lain’, dan ‘Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi’ yang diiringi oleh Abdul Qadir Jaelani (Dul) dengan petikan bassnya. “Malam ini kita bikin jadi Rock N Roll Concert”, ujar Ari Lasso ketika memperkenankan Dul naik ke atas panggung.

Ahmad Dhani yang kala itu bertugas bermain keyboard, tak ketinggalan unjuk kebolehan dengan  membawakan lagu ‘Hitam Putih’ dan ‘Aku Cinta Dia’, setelah itu panggung kembali dikuasai Ari Lasso. Ari yang sebelum konser kehilangan ayahanda tercinta, mengajak penonton untuk hening sejenak dengan menyanyikan lagu ‘Cinta Kan Membawamu Kembali’ sontak penontonpun bernyanyi dengan khidmat sambil melambaikan tangan.

Total 15 lagu hits Dewa19 dari album Terbaik Terbaik yang dibawakan pada malam itu, 'Aku Milikmu', 'Kirana', dan 'Roman Picisan', ‘Kangen’ dan ditutup dua lagu terakhir ‘Kamulah Satu-Satunya’ serta ‘Separuh Nafas’ yang merupakan bonus untuk penonton yang sedari awal tak berhenti ikut mereka bernyanyi.

Thank you, Baladewa!" teriak Ari sebelum menutupnya dengan lagu ‘Separuh Nafas’.

03 Ari Lasso & Yuke YDhewAri Lasso & Yuke (YDhew)

Konser yang ditutup pukul 23.30 ini rasanya masih banyak menyimpan rasa penasaran penonton. Meski telah ditutup oleh MC, namun antusiasme mereka terhadap musik ini tak surut. Dewa yang memang sejak tahun 2014 resmi membubarkan diri, tampil dengan format lama yang banyak ditunggu penggemarnya kala itu. Tak banyak yang berubah dari keseluruhan penampilannya. Hanya mungkin aransemennya yang sedikit berbeda, dan dibenarkan oleh Dhanny sewaktu sesi wawancara sebelum acara konser berlangsung.

Bisa jadi konser ini karena memang kerinduan penggemar akan lagu-lagu tahun 90an. Riuhnya suara penonton sejak awal penampilan mereka seakan menjadi ajang reuni antara musisi dengan penggemarnya./ YDhew

04 Java Jive YDhewJava Jive (YDhew)

Sunday, 02 April 2017 16:17

Ferry Mursyidan Baldan

Peluncuran Buku dari Seorang Fans Militan

Sebagai fans berat Chrismansyah Rahadi atau lebih dikenal dengan Chrisye, Ferry Mursyidan Baldan (FMB), Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional masa bakti Oktober 2014 sampai Juli 2016 era kabinet Presiden Joko Widodo ini boleh dikata sangat militan. Tidak hanya mengumpulkan semua karya legenda musik nasional tersebut saja, tapi juga jauh lebih dalam menggali setiap remah kenangan dari idolanya tersebut.

Setiap tahun, di momen kelahiran maupun wafatnya Chrisye, ia selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke makam almarhum. Selepas itu, biasanya bersama beberapa sahabat ia akan meluangkan waktu untuk sekedar menggali kenangan lewat lagu-lagu almarhum.

Bentuk kecintaannya yang terbaru sebagai fans, kembali diungkapkan lewat buku, yang kali ini menyematkan tema 10 Tahun Setelah Chrisye Pergi: Ekspresi Kangen Penggemar. Peluncuran buku setebal 345 halaman ini dihadiri sejumlah teman-teman FMB, musisi, penyanyi, dan sejumlah awak media di Kafe Rarampa, Jakarta Selatan, pada akhir pekan lalu.

Peluncuran buku ini menyusul apa yang dilakukan 5 tahun silam, yang bertepatan dengan 5 tahun wafatnya Chrisye. Kala itu, FMB juga menerbitkan buku Chrisye, Kesan di Mata Media dan Fans. Buku inilah yang menjadi landasan utama untuk di  yang berisi perjalanan Chrisye dari panggung musik hingga kepergiannya yang direkam oleh media. “Buku ini sekaligus kami dedikasikan sebagai penyempurnaan buku terbitan 2012,” ujar Ferry lagi.

Materi buku sendiri berisikan kumpulan catatan perjalanan tentang Chrisye yang dikutip dari berbagai media, baik cetak ataupun online; serta komentar para wartawan. Buku ini menegaskan tonggak keberhasilan Chrisye sebagai musisi besar dan memperlihatkan betapa kuatnya nama Chrisye dalam jagat musik Indonesia.

02 Damayanti Noor & Ferry Mursyidan Baldan IbonkDamayanti Noor & Ferry Mursyidan Baldan (Ibonk)

Meskipun telah 10 tahun berpulang, namun karya-karya Chrisye tetap laris manis didengar oleh para fans dan penggemar musik dalam negeri. Bahkan, sebuah film yang menceritakan sosok Chrisye tengah dalam masa produksi dan akan segera dirilis pada 2017.

Nah, cara FMB mengekspresikan rasa cintanya ini sebenarnya boleh dikata diluar kebiasaan. Terbilang unik dan personal bahkan cenderung istimewa. “Ini sama sekali bukan ingin mengkultuskan Chrisye. Kami hanya merasa tidak rela jika nama besar Chrisye hilang begitu saja ditelan waktu. Bangsa ini perlu menghargai dan menghormati seorang musisi, meski dia sudah tidak ada lagi bersama kita,“ jelasnya.

“Hal itu kami lakukan bukan semata karena mengagumi sosok Chrisye, tapi kami juga ingin menjaga agar lagu-lagu almarhum tetap hidup di sepanjang waktu,” katanya lagi. Kadangkala lewat cara jahilnya, seringkali ia meminta pengamen di warung-warung makan, home band di hotel, atau dalam acara resepsi pernikahan ia minta untuk melantunkan lagu-lagu Chrisye.

Pengaruh lirik lagu Chrisye juga  begitu kuat dalam diri Ferry. Sejak menjadi aktivis hingga hari ini diakuinya telah mengikat jiwanya. “Jika dirangkai, seluruh lagu-lagu Chrisye seakan mewakili perjalanan hidup manusia, dari rasa cinta antar manusia, rasa cinta negera, keindahan alam, sampai tentang Tuhan dan adanya hari akhir,” tandasnya.

03 Jockie Soerjoprajogo & Keenan Nasution IbonkJockie Soerjoprajogo & Keenan Nasution (Ibonk)

Acara peluncuran buku ini terkesan meriah dan penuh keakraban, dihadiri oleh wajah-wajah yang tak asing lagi seperti istri almarhum Chrisye, Damayanti Noor beserta si kembar Marsha dan Pasha, Jockie Soerjoprajogo, Vina Panduwinata, Tika Bisono, Bens Leo, Mohamad Kadri, Vino Bastian, Marsha Timothy, Keenan Nasution, Ida Royani dan lainnya.

“Buku ini memiliki nilai jual secara komersial, dan dibuat tanpa sponsor. Tapi terus terang ini dibuat  tidak untuk tujuan komersil. Jika ada masyarakat yang berminat untuk memiliki, kami akan melayani. Kalaupun ada benefitnya, kami akan serahkan separuhnya untuk keluarga almarhum,” tutup FMB kepada NewsMusik secara gamblang./ Ibonk

Saturday, 01 April 2017 15:55

Jakarta Rockulture

Bangkitkan Ruh Metal 80 – 90an

Seorang anak perempuan berusia di bawah sepuluh tahun tampak asyik menikmati apa yang ada di depannya. Annabelle, begitu orang tuanya memberi nama,  sesekali melompat kegirangan. Ekspresi gembira terlihat jelas di wajahnya. Senyum mengembang serta mata berbinar-binar. Masih ditambah dengan teriakan-teriakan riangnya.

Tak lama kemudian menyusul anak perempuan yang tampaknya berusia sepantaran bernama Zelda. Berbeda dengan Annabelle, dia terlihat lebih tenang. Begitu pula dengan yang belakangan menyusul. Tapi persamaannya adalah : sama-sama menikmati suguhan musik yang dibawakan band tengah beraksi di panggung.

Musik pop dengan irama dan lirik mengalun sendu. Tidak salah bila Anda mengira itu yang dinikmati mereka bertiga. Tapi kenyataannya, musik bertegangan tinggi menggedor gendang telinga yang mereka simak. Entah mereka paham atau tidak dengan musik dan liriknya. Termasuk juga dengaKeysha n simbol horn yang sesekali ditirukan oleh tangan-tangan mungil itu. Melihat keluguan dan kepolosan anak-anak kecil tersebut menghadirkan senyum simpul.

Annebelle, Zelda dan Keysha adalah tiga diantara belasan anak-anak belia yang hadir bersama orang tuanya di Jakarta Rockulture. Sebuah pentas musik keras yang diselenggarakan oleh Sacca Production dan Rockultura pada Sabtu (31/03) siang sampai tengah malam di Kuningan City Mall. Mengangkat tema The Headbanger Years sebagai klangenan era keemasan musik metal era 80 dan 90-an.

Masa dimana orang tua mereka masih remaja dan mungkin masih mencari jati diri. Dimana MTV adalah salah satu media untuk mencari informasi tentang musik, khususnya metal, terbaru. Itu juga masih harus melalui saluran yang hanya ditangkap lewat parabola. Sebuah acara bertajuk Headbangers Ball menjadi tontonan wajib.

“Kami pengin bareng-bareng merayakan bersama era dimana Metallica lagi keren banget. Era 1980-an akhir dan 1990-an awal paling berkesan bagi kita. Bernostalgia era itu (di acara ini),” terang Oddie Octaviadi, vokalis Getah sekaligus panitia Jakarta Rockulture, di jumpa pers dua minggu sebelum acara.

02 ArrowGuns Klandesti NArrowGuns (foto: Klandesti N)

Jadilah sekujur tempat perhelatan Jakarta Rockulture dipenuhi memorabilia masa keemasan tersebut. Mulai dari poster band, kaset, piringan hitam serta cakram padat, sampai dengan berbagai poster acara pentas musik luar negeri. Sayang sekali sebenarnya kenapa tidak menyertakan “produk” dalam negeri era tersebut. Kesadaran pengarsipan serta dokumentasi yang minim tampaknya menjadi kambing hitam.

Sebagai pengisi acara, Jakarta Rockulture mengedepankan band-band dalam negeri. Dimana para personilnya adalah mereka yang sebagian besar tumbuh di era 80 sampai 90-an. Musisi-musisi era tersebut jelas mempengaruhi aliran musik mereka. Iron Maiden, Black Sabbath, Metallica, Guns ‘N Roses, Megadeth, Motorhead, maupun Anthrax adalah untuk menyebut diantaranya.

Arrowguns hadir di Jakarta Rockulture sebagai titisan Guns ‘N Roses. Lengkap dengan vokalis yang tak kalah dengan Axl Rose dalam hal bertingkah menyebalkan dan bermulut besar. Tak perlu dibawa serius melihat ulahnya. Karena memang hanya aksi panggung belaka. Tertawalah dan nikmati serta ikut menyanyikan lagu-lagu Guns ‘N Roses yang disuguhkan.

Bila Oracle tampil sepenuh hati membawakan lagu-lagu milik Metallica, Seven Years Later menggeber dengan kecepatan tinggi “titah” Iron Maiden. Keduanya sama-sama berjaya dalam hal meningkatkan euforia di barisan penonton. Tak terelakkan koor massal dan juga tempik sorak membahana di setiap lagu yang dibawakan.

Penampil lainnya menyelipkan beberapa lagu milik Black Sabbath, Anthrax dan Motorhead di antara lagu-lagu orisinal milik mereka. Hal ini yang dilakukan Getah, Divine dan Seringai. Sementara Deadsquad, Cosmic Vortex, Noxa dan Koil cukup percaya diri membawakan lagu sendiri. Bukan pongah, hanya sebuah kepercayaan diri terhadap karya sendiri.

Suguhan aneka lagu bertegangan tinggi dari band-band era 80 dan 90-an menjadi menu utama DJ Demon Trooper. Tampil unik dengan mengenakan seragam lengkap tentara Stormtrooper dari film Star Wars. Helmnya dihiasi gambar dengan corak menyerupai riasan karakter The Demon yang identik dengan vokalis sekaligus pemetik bass Kiss, Gene Simmons.

“Kalian lihat ya om-om itu nanti joget-joget tingkahnya kayak orang gila,” pesan Arie Daging selaku pembawa acara kepada Annabelle, Keysha dan Zelda. Kenyataannya? Memang kemudian terjadi penonton saling membenturkan diri, melompat, berteriak, mengepalkan tangan ke udara, berselancar di atas kepala penonton lainnya. Tindakan yang dinilai gila bagi mereka yang patokannya adalah menikmati musik cukup dengan duduk diam.

03 Jakarta Rockulture Klandesti NJakarta Rockulture (foto: Klandesti N)

Dari ukuran kuantitas penonton memang tidak bisa memadati seantero ruangan. Diperkirakan sekitar 100 sampai 200-an penonton yang datang silih berganti. Tapi tak malu-malu untuk menggila di lantai dansa. Didominasi oleh mereka yang berusia 20-an tahun yang kerap disebut sebagai generasi millennials. Lalu dimana para Generasi X hari itu?

“Orang kalo umurnya udah 30-an tahun, itu biasanya posisi nonton konsernya semakin di belakang. Gimana mau moshing coba? Baru goyang bentar udah sakit pinggang,” ujar Soleh Solihun, rekan Arie sebagai pembawa acara. Sontak tawa pecah seolah mengamini pernyataan tersebut.

Lalu bagaimana pendapat Annabelle, Keysha dan Zelda melihat “kegilaan” om-omnya? Sepertinya mereka lebih memilih melewatkannya. Lihat saja di pojokan sana. Zelda dan Annabelle asyik memainkan gawainya. Keysha malah sibuk dengan mewarnai buku gambar dengan kelir. Lupa dengan segala hiruk pikuk di sekitar.

Tapi masih ada satu anak kecil yang sejak awal antusias menonton setiap band yang tampil. Ketika banyak anak seusianya sudah tidur di pelukan orang tua, dia betah melek. Semakin malam dia semakin merapat ke panggung. Duduk di tangga samping panggung atau di bangku ditemani ibu atau ayahnya. “Ada anak kecil namanya Sasha. Dia gak mau pulang sebelum nonton Seringai,” kata Arian 13 sambil menunjuk ke samping panggung. Penonton pun memberikan tepuk tangan meriah untuk semangat Sasha.

Senyum merekah menghiasi wajah yang digelayuti kantuk ketika Arian menghampirinya usai pentas. Tampaknya dia tidur nyenyak malam itu. Keinginan keras untuk menonton Seringai telah terwujud. Tidak menutup kemungkinan dia kelak akan menjadi seperti yang disampaikan oleh Arian. Sebagai generasi penerus yang melestarikan musik metal di tanah air. Tidak hanya sebagai pemusik, tapi juga sebagai penyelenggara acara maupun pendukung lainnya. /Klandesti_N

 

Friday, 31 March 2017 18:31

Naura

Tampil Lagi Lewat Film Musikal

Adyla Rafa Naura Ayu merupakan putri dari penyanyi Nola B3, yang sukses menggelar konsernya Februari lalu ini kembali menunjukan talentanya di dunia hiburan tanah air. Bocah cilik berusia 11 tahun yang memang sangat menyukai seni ini merambah dan menunjukkan bakatnya berakting.  Lewat judul film Naura dan Genk Juara ini, ia akan kembali berkolaborasi dengan sang bunda yang akan bernyanyi bersama. Tapi lagu apa yang nanti akan ditampilkan masih dirahasiakan.

Film yang diproduksi Kompas Gramedia Production bersama Creative & Co ini di sutradarai oleh Eugene Panji. Eugene mengatakan bahwa film garapannya ini mengusung semangat film keluarga yang sangat kental. “Ada banyak pesan moral dan ajakan positif yang cocok disimak penonton, baik anak dan orangtua, seperti persahabatan, cinta alam, serta nilai edukatif lain”, ungkapnya.

Latar belakang adanya film ini adalah karena adanya fenomena hilangnya interaksi anak dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar karena kemajuan teknologi yang mengubah kehidupan keluarga. Selain itu film ini mendefinisikan arti “Juara” yang tidak melulu membicarakan soal peringkat atau piala dan lomba. Tapi lebih luas lagi yakni seberapa besar kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar  dan bagaimana seseorang bisa bermanfaat bagi sesama.

”Di film ini aku tetapi jadi Naura. Tapi di Naura ini aku lebih optimis, speak up, lebih jadi leader dan jadi anak yang positif serta pemberani,” ungkap Naura saat jumpa pers di bilangan Jakarta Selatan, Kamis (30/3).

02 Pendukung Film Naura YDhewPendukung Film Naura (YDhew)

Naura yang merasa impian sedari kecilnya terwujud, merasa senang sehingga sewaktu ditawari untuk bermain film langung mengiyakan tawaran mamanya. “Dari kecil aku tuh memang suka berakting”, ujarnya.

Film yang dikemas secara berbeda dan disajikan terbaru dan kekinian sesuai dengan dunia anak-anak. Film ini juga mengisi kekosongan dan langkanya tontonan layar lebar bergenre anak-anak. Lewat tangan dingin Andi Rianto sebagai arranger musik serta Asaf Antariksa dan Bagus Bramana sebagai penulis cerita akan ada  sentuhan berbeda dengan film bergenre musikal terdahulu.

Selain melibatkan Naura, Eugene juga melibatkan anak-anak berbakat yang dipilih melalui proses casting dan seleksi yang ketat. Anak-anak tersebut nantinya akan memerankan tokoh Okky dan Bimo serta pemain lainya.  ”Proses shooting akan berlangsung mulai pertengahan Mei 2017 di Jakarta dan beberapa lokasi di luar kota,” jelas Augene.

Film Naura & Genk Juara, berkisah tentang seorang gadis kecil bernama Naura, dan ketiga temannya yakni Okky, Bimo, dan Kipli. Mereka mengalami petualangan yang seru dan tidak terduga. Sebuah rencana tipu daya dirancang oleh Trio Licik, yang akhirnya menyeret Naura dan kawan-kawan dalam petualangan yang menegangkan dan penuh kelucuan./ YDhew

 

Friday, 31 March 2017 16:07

Labuan Hati

Cerita Hati Tiga Padusi

Mungkin ini menjadi film pertama dari seorang Lola Amaria untuk sedikit berkompromi dengan pasar film nasional. Hal ini juga menjawab sikapnya terhadap masukan-masukan yang diterimanya. Bahwa bolehlah sesekali membuat film yang gampang dicerna dan mampu memvisualkan framing-framing yang menarik.

Tapi terus terang saja, Lola yang dikenal selalu menampilkan sosok wanita sebagai tokoh utama tetap menampakkan keberpihakannya. Bisa kita telusuri lewat film-filmnya seperti  Betina, Tiga Titik, Minggu Pagi di Victoria Park, Sanubari Jakarta, ataupun Jingga.

Kini lewat film terbarunya “Labuhan Hati” ia sedikit berkompromi namun seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pemeran utama yang didominasi kaum hawa tersebut digambarkan membawa problem yang harus dihadapi. Disini ia sengaja mengaitkan wanita dengan cintanya yang dibungkus dengan keindahan alam Labuhan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur.

Adalah dua wanita yang awalnya tak saling mengenal bernama Indi (Nadine Chandrawinata) dan Bia (Kelly Tandiono), akhirnya atas inisiatif Bia memutuskan untuk pergi liburan bersama ke Labuhan Bajo dan Taman Nasonal Komodo. Disana keduanya dipertemukan dengan seorang staf jasa wisata setempat bernama Maria (Ully Triani) dan pemandu selam bernama Mahesa (Ramon Y Tungka).

Rasa ceria dan rasa akrab yang dirasakan di awal perjalanan mereka akhirnya mulai berubah cepat seiring waktu, Bayangkan, ketiganya tertarik dengan Mahesa lewat masing-masing cara. Ada yang mengekspresikannya secara terbuka seperti Bia, atau terkesan cuek tapi mau seperti Indi dan diam-diam memendam rasa seperti Maria.

02 Labuan Hati IstimewaLabuan Hati (Istimewa)

Dimulai dari sentilan sentilun lewat kata-kata dan dan bahasa tubuh, serta sebuah momen pas namun salah Bia berhasil memerangkap Mahesa lewat trik-nya. Indi dan Maria yang mengetahui hal itu pun jadi cemburu. Berbeda dengan Maria yang lebih baik memendam perasaannya, Indi cukup ekspresif, hingga keduanya terlibat konflik yang cukup panas. Mahesa sendiri akhirnya menjadi serba salah, walau akhirnya dia bisa mengatasi keadaan.

Hampir sepanjang durasi tontonan, kita disuguhi keindahan alam Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo yang eksotik. Disela tampilan visual yang menawan tersebut, Lola cukup berhasil memunculkan konflik diantara mereka. Sebenarnya ketiga perempuan tersebut, tengah diliputi persoalan pribadi sendiri. Bia maupun Indi mencoba mendekati Mahesa sebagai pelarian dari persoalan dengan suami dan tunangannya. Sedangkan Maria terkungkung dengan masa lalunya dan tak bisa move on.

Cerita sederhana, namun tampak kuat dengan ekspresi ataupun blocking setting ala panggung teater yang diciptakan oleh Lola. Namun sedikit kecewa dengan dominasi keempat pemeran sepanjang durasi film. Juga jerih payah Lola menampilkan beragam sudut indah Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo dan beberapa pulau eksotis seperti Sebayur, Rinca, Padar atau pantai Pink pun agak kurang greget karena terkesan tampil ketat. Jarang sekali menampilkan sisi wide angle sehingga membuat mata dapat terbelalak kagum.

Lola dan Titien Wattimena sang penulis skenario, cukup habis-habisan memvisualisasikan keindahan tersebut baik dari daratan (land) ataupun bawah laut (under water) dengan segala habitatnya yang ada. Banyak juga pesan-pesan yang disampaikan terkait dengan segala isu mengenai perwajahan pariwisata ataupun fenomena pulau-pulau yang dimiliki oleh orang asing di negeri lucu ini.

Terlepas dari beberapa sudut lemah dalam film ini, kita patut mengapresiasi usaha sang sutradara wanita ini. Ia terhitung punya kelas , dan keberaniannya dalam menuangkan ide dan cinta tanah air  patutlah diacungi jempol./ Ibonk

 

Page 9 of 114