NewsMusik

NewsMusik

Thursday, 01 February 2018 06:37

Purwa Caraka Music Studio

30 Tahun Mencerdaskan Generasi Lewat Musik

Seperti yang kita ketahui, Purwa Caraka Music Studio (PCMS) adalah lembaga kursus musik yang dimotori sepenuhnya oleh Purwa Caraka. Lembaga ini telah sukses mencetak penyanyi-penyanyi maupun pemain musik handal di Indonesia. Siapa sangka jika PCMS sendiri sudah berkibar selama 30 tahun di tanah air, dan untuk hal tersebut kang Purwa tengah mempersiapkan kegiatan yang menandakan keberadaan mereka.

Menyikapi rencana ini, didampingi sang putra Aditya Purwa Putra sengaja mengadakan tatap muka dengan media perihal rencana mereka tersebut yang dikemas dalam tema “The Journey 30th Purwa Caraka” pada Rabu 31 Januari 2018 di bilangan Menteng, Jakarta.

Pada kesempatan tersebut kang Purwa menyampaikan kalau dirinya usai mengikuti Asia Pacific Art Festival di Kuala Lumpur, Malaysia. "Ya.. kita habis ikut Asia Pasific Arts Festival di Kuala Lumpur, nanti acara puncaknya bulan November di Taman Ismail Marzuki," kata Purwa Caraka.

Aditya Purwa Putra yang saat ini membantu kegiatan PCMS di seluruh Indonesia, menambahkan bahwa saat ini Purwa Caraka Musik Studio sudah mendapatkan 6 Distinction Gold Awards, 31 Gold Awards, 13 Silver Awards. "Juga menjadi 1st Runner Up in Music Category dalam ajang Asia Pacific Arts Festival di Kuala Lumpur, Malaysia," ucap Adit.

02 Purwa Caraka Adit dan Siswa Berprestasi Ibonk

Kang Purwa, Adit dan Dua Siswa Berprestasi (Foto: Ibonk)

Ini merupakan prestasi tersendiri dan sepatutnya dipertahankan dan dikembangkan untuk meningkatkan benchmark, standar kualitas dari PCMS. Untuk mewujudkan hal itu, kang Purwa mengatakan bahwa sudah mendirikan tiga Purwa Caraka Music School Education Center. "Kami mendirikan 3 PCMS Education Centre yang bobotnya sedikit di atas PCMS untuk mengangkat kualitas," ujarnya.

Selain itu, mereka juga membuka kelas baru untuk mengikuti perkembangan zaman. "Kita juga membuka kelas kelas baru untuk mengikuti perkembangan zaman. Karena lembaga pendidikan seharusnya semakin dewasa semakin matang," tuturnya.

Balik ketema besar “The Journey 30th Purwa Caraka” serangkaian kegiatan berkesinambungan akan dilakukan sejak 26 Januari sampai 3 November 2018 mendatang, seperti Asia Pasific Arts Festival di Kuala Lumpur, Final Festival Drum PCSM se Indonesia, Lomba Desain Logo PCMS, Konser PCMS Choir di GKJ, ataupun Konser 3 Dekade di Teater Jakarta. Tercatat ada sekitar 9 kegiatan besar dan kecil yang dilaksanakan.

Tak hanya mengejar prestasi dan keuntungan semata, PCMS juga tengah menggiatkan kegiatan pentingnya pengetahuan musik bagi anak-anak di Indonesia. Dikatakannya bahwa mereka sudah melakukan CSR di beberapa Sekolah Dasar yang terfokus pada daerah asal berdirinya Purwa Caraka Musik Studio, yakni kota Bandung.

03 Puwa Caraka Ibonk

Purwa Caraka (Foto: Ibonk)

"Kita sudah melakukan CSR di beberapa Sekolah Dasar di daerah Bandung. Kita membantu sekolah-sekolah dasar yang berpotensi tapi kekurangan atau bahkan tidak mampu untuk mengadakan instrumen musik untuk siswanya”, ucapnya.  

Kini, dalam perjalanan menuju 30 tahun eksistensinya, PCSM telah memiliki 93 cabang di seluruh tanah air, 1600 orang pengajar dan 20.000 siswa yang sebagian besar adalah anak-anak usia sekolah. Lembaga ini meyakini bahwa musik bukan saja memberi kehidupan dan dinikmati, tetapi dapat meningkatkan kecerdasan seseorang, terutama anak-anak. / Ibonk

Tuesday, 30 January 2018 01:08

Mike Shinoda

Lewat EP Luapkan Rasa Kehilangan Terhadap Chester Bennington

Walau kepergian Chester Bennington akibat meninggal bunuh diri pada Juli 2017 lalu, ternyata masih saja meninggalkan rasa kehilangan yang teramat sangat. Seperti yang dirasakan dan dilakoni oleh rapper Linkin Park, Mike Shinoda, yang baru saja merilis EP terbarunya. Mini album bertajuk “Post Traumatic” ini terdiri dari dari 3 lagu dan menjadi karya musik pertama yang dirilis Mike Shinoda.

Seperti yang diakui oleh Mike, bahwa album ini adalah luapan perasaan akan apa yang terjadi dalam setengah tahun terakhir. “Album ini berisi tiga buah lagu ‘Place to Start’, ‘Over Again’, dan ‘Watching As I Fall’, dan kesemuanya untuk mengenang Chester Bennington”, akunya.

Mini album “Post Traumatic” EP mulai dirilis secara resmi sejak 25 Januari kemarin. Selain itu, Mike Shinoda juga meluncurkan 3 video berbeda untuk masing-masing track. Klip sederhana yang dirilis memperlihatkan Shinoda dalam berbagai scene berbeda, ketika membawakan track dari EP tersebut.

02 Mike Shinoda Istimewa

Mike Shinoda (Istimewa)

Lagu pertama yang diberi judul ‘Place to Start’, menampilkan voicemail yang tertinggal di ponselnya setelah kematian Bennington. Disusul dengan ‘Over Again’ dimana Mike mengungkap rasa kehilangan yang besar akan Chester Bennington. Sekaligus bagaimana perasannya harus tampil seorang diri di konser tribute untuk sang rekan.

Track terakhir yang bertajuk ‘Watching As I Fall’ masih menceritakan tentang rasa sedih dan juga kehilangan arah paska kehilangan Chester Bennington. Sebelumnya, Mike telah berdiskusi dengan para penggemar melalui twitter terkait lagu yang dirilis untuk mengenang Chester Bennington. ... dan inilah cerminan dari duka  Mike atas kehilangannya terhadap sahabatnya tersebut./ Dek

Tuesday, 30 January 2018 00:41

Sheila On 7

Film Favorit, Singel Terbaru di Awal 2018

Alkisah pada tahun lalu, Duta dan kawan-kawan yang tergabung dalam Sheila on 7 pernah berjanji aka nada sebuah single bertajuk Film Favorit akan dirilis mengawali 2018. Janji tersebut akhirnya dilaksanakan.  Melalui akun twitter mereka Sheila On 7 mengumumkan single tersebut telah dirilis pada Jumat, 26 Januari 2018 lalu.

Single ‘Film Favorit’ tersebut akhirnya serentak diperdengarkan di beberapa stasiun radio. Kemudian, mulai 29 Januari kemarin, tunggalan itu sudah mulai bisa diunduh dan dinikmati secara streaming di kanal-kanal musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan Deezer.

Duta sang vokalis, sebelumnya memang menjanjikan musik yang disajikan dalam single ini akan lebih segar. Tunggalan ini juga akan menjadi pembuka karya mereka yang dirilis dengan label milik sendiri, bernama 507 Records. Untuk pertama kali Sheila On 7 di penggarapan album baru ini melibatkan music director. Tomo Widayat dan Tama Wicitra, dua teman lama Sheila On 7 dari Yogyakarta dilibatkan di penggarapan materi baru mereka kali ini.

Dalam perjalanan mereka bermusik lebih dari dua dekade, Sheila On 7 telah melahirkan delapan album studio. Album terakhir yang mereka luncurkan berjudul “Musim Yang Baik” pada 2014 silam. Album yang berisi 10 lagu tersebut melejitkan satu single hitsnya berjudul  ‘Lapang Dada’.

02 Film Favorit Istimewa

Single terbaru Sheila on 7 'Film Favorit' (Istimewa)

Lebih dalam menelusuri karya terbaru mereka ini adalah menceritakan tentang kisah seseorang yang berusaha menaklukan hati orang yang disukainya, dengan cara yang seperti di film favorit orang tersebut, bahkan jika bukan sebagai pemeran utamanya. Semuanya tersirat dipenggalan lirik lagunya... "Semua cara akan kucoba, walau peran yang kumainkan bukan pemeran utamanya...“.

Sejauh apa keberhasilan tunggalan ini membuka keberuntungan mereka di tahun 2018 ini? Mari kita tunggu saja..../ Ismed

Monday, 29 January 2018 01:25

The Lord

Bermula dari De-Kill

Sejarah dunia hiburan di Jakarta banyak menorehkan tinta emas dalam perkembangannya. Salah satu cerita adalah pada era generasi bunga yang merebak di awal tahun 1968. Sebuah era yang melahirkan banyak band-band baru dengan beraneka ragam nama seperti: Flower Potmen, Gipsy, BeatStone, The Hips, Spokesman, Free Love, Ireka, Coklat Madu, Thumpest & The Playboy, Bigman Robinson, Dayasi, dan termasuk didalamnya De-Kill yang terkesan sangar.

"Padahal namanya dicomot dari bahasa Betawi dekil alias jorok", tutur Firman Ichsan sang drummer. Bersama Yudi Yusuf, Doni & Dono, De-Kill merambah ke pesta-pesta anak muda Menteng dan Kebayoran Baru. "Setiap malam minggu De-Kill diundang main di pesta teman-teman dekat, tanpa dibayar sepeserpun. Tapi kita semua happy, karena tambah banyak teman yang mengundang main di pestanya".

Namun diperjalanan De-Kill hanya mampu bertahan selama 2 tahun, lantas bubar dikarenakan para personelnya pindah sekolah yang berjauhan. "Gua sama Adi Ichsan, Tammy Daud, Doni bikin grup baru dengan nama The Lord. Kami mainnya cuma di pesta-pesta anak Menteng dan Kebayoran Baru atau di rumah gua sendiri di Teuku Umar", aku Firman.

02 Firman Ichsan Istimewa

Firman Ichsan (Foto: Istimewa)

The Lord sempat tampil di pesta musik anak-anak Imada di TIM. "Seru juga bisa manggung disuasana yang berbeda. Shownya di siang hari bolong bareng sama Ireka, bandnya anak-anak kolong Bearland. Dari situ The Lord berteman baik dengan anak-anak Ireka. Ketika mereka bikin pesta ulang tahun, The Lord diundang. Sempat punya perasaan ngeri main dikompleks tentara, tapi Ucup pemain bass Ireka ngomong kalau dirinya yang jadi jaminannya”.

Begitulah akhirnya, The Lord selain main di pesta-pesta, juga pernah mengisi acara di Blow Up, yang pada waktu itu adalah sebuah club khusus anak muda yang terletak diatas Hotel Indonesia. Lagu-lagu yang dimainkan juga campur aduk, ada The Beatles, Bee Gees, John Mayall dan Peter Green.

"The Lords tidak terikat satu aliran, pokoknya lagunya enak, dikenal banyak orang .Terus kita latihan sampai hapal buat mengiringi para buaya pesta berdansa dansi disetiap malam Minggu", tutup Firman Ichsan ./ Buyunk

Friday, 26 January 2018 08:50

Konser Sang Bahaduri

Pagelaran Terbaik di Awal Tahun

Akhirnya, semua berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Walaupun ada kendala, tapi masih dalam batas wajar. Diakhir acara rasa syukur dan lega terpancar di wajah-wajah tim kreatif acara konser Pagelaran Konser Bahaduri dan mereka yang terlibat langsung mempersiapkan event ini. Konser yang sengaja dibuat untuk mengapresiasi karya-karya musik Jockie Suryoprayogo di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Rabu, 24/1 malam.

Konser ini sendiri juga diliputi kesedihan, karena Sys NS yang turut terlibat mempersiapkan keberhasilan acara ini harus berpulang sehari sebelum konser ini dilaksanakan. Akhirnya,  memang tidak hanya Jockie yang jadi tokoh sentral malam itu, tetapi juga almarhum Sys NS menjadi hal yang banyak dibicarakan.

Selain mempersiapkan God Bless sebagai penampil kejutan, Sys juga seharusnya menjadi salah satu pemberi testimoni tentang  hubungannya dengan Jockie.  Karena hubungan Jockie dan Sys NS terjalin sejak diadakannya Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors tahun 70 an.

Konser dibuka lewat kehadiran Aning Katamsi dan Che Cupumanik yang membawakan lagu yang diaransemen oleh Jockie dari lirik puisi WS Rendra berjudul ‘Kesaksian’. Lepas keduanya, muncul lady rocker yang lama menghilang, Nicky Astria lewat tunggalan ‘Biar Semua HIlang’. Nicky tak sendiri, tapi ditemani oleh pemain akordion wanita terbaik negeri ini, Windy Setiadi.

02 Sarah Ibonk

Sarah (Foto: Ibonk)

Kehadiran Nicky membuat sebagian penonton yang memadati venue berteriak histeris karena kerinduan mereka.  Mudah-mudahan lewat penampilannya di konser ini, Nicky bisa memotivasi dirinya untuk membuat konser tunggal atau minimal sering-sering mengisi panggung-panggung musik di dalam negeri. Karena suaranya nan khas, dan kemampuannya berolah vokal yang tak berubah membuat kerinduan penggemarnya tetap membuncah.

Lepas Nicky, hadir  turut hadir juga salah seorang pentolan Pegangsaan, Keenan Nasution yang hadir membawakan tembang masterpiecenya ‘Nuansa Bening’. Bak menyihir semua yang hadir hingga semua ikut bernyanyi bersamanya. Setelah Keenan, hadir pula Dhenok Wahyudi dengan lagu ‘Dalam Cita dan Cinta’, dilanjutkan Fryda Luciana menyanyikan lagu ‘Dalam Kelembutan Pagi’.

Selanjutnya hadir God Bless yang memang menjadi sessi kejutan. Singa tua dalam industri musik rock tanah air ini, memang tidak disiapkan buat manggung di Konser Sang Bahaduri. Ini semua memang ide Sys, yang disampaikannya kepada Seno M Hardjo serta Donny Hardono punggawa DSS.

Dalam perjalanan karirnya, Yockie memang pernah bergabung dalam formasi God Bless tahun 1972. Lewat formasi Yockie (keyboards), Achmad Albar (vocal), Donny Fattah (bas), Ian Antono (gitar) dan Teddy Sujaya (drums). Formasi yang terpilih buat mendampingi Konser Deep Purple tahun 1975 di Stadion Utama Senayan Jakarta.

03 Berlian Hutauruk Ibonk

Berlian Hutauruk (Foto: Ibonk)

Usai Godbless, sederetan penyanyi seperti Benny Soebardja, Glenn Fredly, Gilang Samsoe, Louise Hutauruk, Andi /rif, Fadli Padi, Mondo Gascaro, Tika Bisono, Fariz RM yang berduet dengan Sarah putri Yockie Suryo Prayogo, Dira Sugandi, Bonita dan Once tampil berkesinambungan.

Ujung konser ini menampilkan kuncian yang selalu ditunggu di konser-konser sejenis. Vokal Berlian Hutauruk tampil membawakan lagu ‘Matahari’ dan berlanjut dengan ‘Badai Pasti Berlalu’ seakan menjadi puncak adrenalin dari konser ini. Penampilan kemudian ditutup dengan alunan vokal Ario Wahab menyanyikan tunggalan ‘Juwita’ bersama-sama pendukung lainnya dipanggung.

“Kita harus akui Yockie adalah aset bangsa yang tidak ternilai.  Sama dengan para artis lainnya yang tengah menderita sakit. Kita tengah membangun ekosistem agar mereka lebih terlindungi baik kala sehat maupun sakit. Saya bersama Bekraf terus berjuang untuk itu,”  ungkap Triawan Munaf selaku Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).

04 Ario Wahab Ibonk

Ario Wahab dan Artis Pendukung (Foto: Ibonk)

Ia yang menyaksikan acara ini mengaku amat bangga melihat karya-karya Yockie dihadirkan oleh para musisi lintas usia. Sementara Erros Djarot selaku sahabat Yockie dengan sedikit  emosional memberikan kritik kepada pemerintah dengan harus memberikan perhatian lebih  terhadap para musisi seperti Yockie yang kini tengah sakit.

Memang sepatutnya pemerintah memberikan perhatian khusus bagi para musisi yang telah banyak menunjukkan karya dan mengharumkan nama bangsa. Nama Yockie, bisa jadi jaminan mutu, sehingga mendapat dukungan penuh dari sahabat-sahabat musisi dan mampu mengumpulkan dana sebesar Rp. 514 juta dalam semalam.

Bagaimana dengan musisi lainnya? Seperti Oding Nasution yang tengah terbaring sakit dan memerlukan cuci darah. Juga musisi-musisi lain yang kemampuan ekonominya jauh di bawah standar. Agar tak terkesan negeri ini kerap melupakan mereka para musisi yang telah menorehkan karya-karya terbaiknya./ Ibonk
  

Thursday, 25 January 2018 06:37

Sys NS

Kreatif dan Guru Bagi Banyak Orang

Umur manusia adalah rahasia Ilahi, sebuah misteri yang hanya diketahui oleh sang Khalik. Seperti beberapa hari lalu ketika Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns. Soerio Soebagio atau lebih dikenal dengan nama Sys NS harus meninggalkan kita semua, menyongsong janjinya dengan sang pencipta. Semua terkesiap, dan hanya bisa membisikkan doa, agar diberikan tempat terbaik disisiNya.

Sys NS lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 18 Juli 1956, dan merupakan salah satu individu yang cukup di kenal di negeri ini. Ia adalah penyiar, seniman, aktor, sutradara, politisi dan beberapa profesi lainnya. Walau terlahir di Semarang, orang tua Sys sebenarnya tinggal di Jakarta. Cuma kebiasaan sang bunda (Siti Suciati), ketika kandungan sudah sampai di bulan ke tujuh, ia sengaja pulang ke rumah ibunya (nenek Sys) di Semarang untuk melahirkan disana.

Ia menikah dengan Shanty Widhiyanti, SE, dan dikaruniai 3 orang anak, Syanindita Trasysty, Sabdayagra Ahessa, dan Sadhenna Sayanda. Sejak muda, Sys banyak bergaul dengan para selebriti/ musisi di negeri ini.  Semuanya dimulai saat Sys duduk di bangku SMU, orang tuanya yang pindah ke Semarang. Namun Sys memilih tetap tinggal di Jakarta meneruskan sekolahnya.

Sejak itu, dia pun sekolah sambil mencari uang sendiri sebagai disc jockey. Pernah mengecap status sebagai mahasiswa di IKJ, namun akhirnya Sys lebih memilih melakoni profesinya tersebut ketimbang kuliah. Ketika menggeluti disc jockey, ia pernah memperoleh penghargaan sebagai The Best of Disc Jockey of Indonesia pada tahun 1975.

02 Sys NS Istimewa

Sys NS (Foto: Istimewa)

Setelah tidak kuliah lagi, hampir semua profesi pernah dia lakukan khususnya yang berhubungan dengan dunia seni hiburan. Jadi penulis skenario, sutradara, pemain film bahkan bergabung bersama Muklis Gumilang, Pepeng, Krisna dan Nana Krip dalam kelompok humor Sersan Prambors. .  

Memang karirnya sebagai penyiar radio di Radio Audio pada 1972. Kemudian pindah menjadi penyiar di radio Prambors pada 1975 hingga 1987 membuat namanya melambung tinggi dan dikenal kemana-mana, menjadikannya manusia super kreatif. Memiliki pemikiran yang out of the box di zamannya, tak heran gawe apapun yang dilakoninya menambah tonggak keberhasilan dirinya.

Keberhasilannya di lingkungan pekerjaan diikuti juga dengan kiprahnya di bidang organisasi, seperti menjadi Ketua Kasta (Kekerabatan Antar Siswa se Jakarta) Prambors, Ketua Laboratorium Seni Prambors, juga pernah menjadi Ketua Gabungan Artis Nusantara, ataupun Ketua Umum PB PARFI periode 1998-2002.

Dalam dunia politik ia pernah duduk menjadi Anggota Badan Pekerja (PAH II) MPR-RI periode 1999-2000, Anggota MPR-RI, Utusan Golongan periode 1999-2004. Pada tahun 2001, Sys menjadi salah satu pendiri Partai Demokrat dan Partai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang akhirnya namanya diubah menjadi Partai Nusantara Kedaulatan Rakyat Indonesia.

Sys adalah sahabat semua, dan dunia hiburan menjadi benang merah yang begitu kuat dan nyata membawanya kekalangan manapun. Kepergiannya untuk selamanya pada  23 Januari 2018 silam di usia 61 tahun meninggalkan banyak kesan di hati setiap sahabatnya. Sepertinya, tak ada acara yang sepi kalau dirinya terlibat. Sys cukup piawai mengemas acara apapun.

03 Sys NS Jelly Tobing JKL 2016 Ibonk

Sys NS & Jelly Tobing di JKL 2016 (Foto: Ibonk)

NewsMusik juga merasakan langsung, tatkala menggelar event Jumpa Kawan Lama (JKL) 2016 yang ke 4 kalinya. Sys sebagai seksi repot dan juga bertindak sebagai MC di acara ini mengatakan, bahwa event ini akan menjadi kenangan para sobat-sobatnya sebagai pesta generasi bunga. Kenyataannya sesuai dengan prediksinya, JKL yang diadakan di bilangan Kemang tersebutpun akhirnya menjadi pesta nostalgia yang meledak.

JKL 2018, yang akan direncanakan di tengah tahun ini, juga sangat kehilangan. Bersama Maxi Gunawan selaku penggagas, NewsMusik dan tim inti, Sys sudah beberapa kali mengadakan meeting untuk persiapan acara ini. Kepergiannya yang terasa mendadak, membuat sementara persiapan acara tersebut seolah tertatih.

Begitulah, seorang Sys NS adalah jiwa yang tak pernah mati, bagi keluarga dan seluruh penggemarnya. Kehidupan adalah perjalanan teramat singkat, namun bisa menjadi berarti ketika seseorang mampu berkarya dan menjadi kebahagiaan bagi sesama..... dan Sys telah membuktikan hal tersebut.

Selamat jalan, kami selalu mengenangmu....../ Ibonk

Tuesday, 23 January 2018 00:54

Nada Kita

Menghubungkan Millenials dengan Brand Lewat Musik

Berada di era globalisasi seperti sekarang ini, masyarakat semakin dimanjakan dengan kemajuan teknologi. Salah satu yang paling diuntungkan adalah para pencinta musik. Tidak ada lagi batasan yang menjadi penghalang. Siapapun bisa dengan mudah mendengarkan musik melalui aplikasi yang tersedia di smartphone mereka, salah satunya yang terbaru adalah lewat aplikasi berngaran Nada Kita.

Merilis fitur baru, Brand Chanel, aplikasi ini bermaksud ingin memudahkan sebuah merk untuk mengintegritas musik dengan mudah ke pelanggan-pelanggan mereka. Apalagi seperti kita ketahui bahwa mendengarkan musik adalah aktivitas yang paling sering dilakukan oleh pengguna smartphone.

Con Raso, Direktur Pelaksana Tuned Global dan Pemilik Bersama Nada Kita menjelaskan, bahwa Brand Channel merupakan halaman khusus di halaman Nada Kita, yang memungkinkan brand berkomunikasi lebih dalam, dan langsung dengan penikmat musik. “Untuk saat, Nada Kita untuk Brand telah tersedia di beberapa brand yaitu, SPC Mobile, Evercoss, Lazada, dan Smartfren,”tutur  Con Raso di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (22/1/2018).

Dirinya mencoba membandingkan dengan studi Nielsen yang menunjukan bahwa iklan audio mendorong peningkatan daya ingat sebesar 24%, dibandingkan dengan iklan display biasa. “Menggunakan musik dalam strategi pemasaran biasanya selalu rumit, mahal dan sulit diukur, oleh karena itu kami menciptakan Nada Kita Brand Channels,” tutur Con Raso.

02 Con Raso Direktur Pelaksana Tuned Global Ibonk

Con Raso, Direktur Pelaksana Tuned Global (Foto: Ibonk)

Selanjutnya Con Raso menjelaskan, bahwa Brand Channel melengkapi penawaran awal Nada kita untuk brand yang sudah mencakup Branded mix musik untuk menyasar khalayak tertentu sesuai aliran musik, suasana hati dan momen tertentu.

Nada Kita menyasar penikmat musik sehari-hari, secara luas yang biasanya mendengarkan siaran radio lokal. Disebutkan Con Raso, mereka mendengarkan lagu hits, lokal dan musik yang akrab di telinga setiap hari. Namun pada dasarnya, menurut Con Raso, mereka mencari rekomendasi dan daftar putar yang siap digunakan.

“Nada Kita menggabungkan apa yang terbaik dari radio, yaitu kemudahan, dan yang terbaik dari digital yaitu interaktif dan personal. Kami bangga dengan apa yang telah kami capai. Dalam waktu kurang dari satu tahun tanpa anggaran sebesar pesaing multinasional kami, “ sebut Con Raso.

Menurut data yang ada, mendengarkan musik adalah salah satu dari tiga aktifitas yang paling dilakukan di smartphone dan Nada Kita berhasil mengambil celah tersebut. Terbukti  kurang dari setahun ini, Nada kita kini telah digunakan 2 juta orang di Indonesia per Desember 2017. Nada Kita menyasar penikmat musik lewat siaran radio lokal, dan mencari rekomendasi serta daftar lagu yang siap diputar.

03 Drian Nugroho Musica Raymond Tedjokusumo CEO SPC Mobile Con Raso Co founder Nada Kita Tuned Global Ibonk

Drian Nugroho (Musica), Raymond Tedjokusumo (CEO SPC Mobile), Con Raso (Co-founder Nada Kita - Tuned Global) (Foto: Ibonk)

Aplikasi ini disuguhkan dengan menggabungkan musik terbaik dari siaran radio dan musik digital sehingga pendengar bisa dengan mudah mendengarkan musik hanya lewat satu aplikasi.

Sejauh ini, Nada Kita telah melakukan kerjasama dengan label musik di Indonesia diantaranya Aquarius Musikindo, Musica Studio’s, MyMusic, Nagaswara, Trinity, dan VMC. Untuk label lainnya, akan segera ikut dirangkul dalam waktu dekat./ Ibonk

Monday, 22 January 2018 03:05

Whatever Band

Rilis Single Kedua Semesta Bersama

Divertune, yang merupakan label distribusi dari Divertone.com kembali melepas single berjudul ‘Semesta Bersama’. Tunggalan ini merupakan karya kedua yang dibesut oleh Whatever Band di bawah naungan Divertune.

Indra Batubara sebagai leader band dan pencipta lagu ini menuturkan bahwa ‘Semesta Bersama’ merupakan cerita tentang cara mensyukuri hidup serta siap menjalani keadaan apapun karena akan selalu ada harapan. “Menurut gue hidup ini harus disyukuri ya, dan yakin aja harapan selalu ada, tinggal gimana kita yang kejar dan raih,” urainya.

Group yang kini digawangi oleh Bara (Gitar & Vokal), Bowo (Gitar), Dema (Vokal), Tito (Bass), serta Oza (Drum) ini menganggap bahwa tunggalan ini merupakan kado khusus untuk para fans mereka yang telah menunggu rilisnya diawal tahun 2018.

Patut diketahui bahwa Whatever Band sendiri sudah cukup lama berkiprah di kancah musik-musik beraliran britpop. Semuanya diawali dari kegilaan mereka terhadap band asal Inggris, Oasis. Sejak mereka berdiri hingga akhirnya dikenal di pangggung-panggung pensi dan memiliki penggemar yang cukup loyal.

02 Whatever Band Istimewa

 Whatever Band (Foto: Istimewa)

Debut single band ini sebelumnya bercerita tentang kekaguman mereka terhadap John Lennon dan dibungkus lewat judul ‘Song For Lennon’. Lagu yang dieksplor atas penglihatan mereka terhadap sosok Lennon yang dikenal sangat kritis dan romantis di setiap lirik-lirik yang diciptakannya. Tak hanya itu tetapi juga gaya hidupnya yang dinilai identik dengan british musik.

Seperti karya sebelumnya, untuk lagu ‘Semesta Bersama’ versi digitalnya sendiri sudah dapat diunduh di iTunes, Spotify, Deezer dan Shazam. Sudah 2 tunggalan, dan mari kita nantikan debut album mereka./ Deks

Monday, 22 January 2018 02:55

Kompetisi Karada Dance

Belajar Bahasa Jepang Lewat Tarian

Untuk memeriahkan puncak Kompetisi Final Karada Dance aJapan dan juga untuk memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang, WakuWaku Japan Corporation menggelar acara kontes menari dengan titel “Kontes Karada Dance aJapan”.  Program original yang sedang tayang di WakuWaku Japan, yakni “Asonde Manabu Nihongo aJapan / Let’s Enjoy! Play and Learn Japanese”.

Acara ini adalah program edukasi untuk anak-anak yang tinggal di luar negeri supaya tidak merasa asing dengan Bahasa Jepang. Cara belajarnyapun dibuat fun melalui lagu, irama dan animasi yang dapat dinikmati orang tua dan anak-anak.

Kompetisi final yang dilangsungkan pada hari Sabtu 20 Januari 2018 di SD Global Islamic School, Condet, Jakarta Timur tersebut menampilkan 8 orang/ group finalis dari 100 peminat yang terseleksi. Kazuhito Kosaka atau lebih pop dikenal sebagai Piko Taro yang juga menjadi Ambasador Waku Waku Japan menjadi juri tunggal acara ini.

“Kalau belajar bahasa sambil dipadu dengan gerak dan musik akan lebih cepat mengingat. Dan saya mempunyai keinginan untuk lebih mengenalkan budaya Jepang dan artis-artis Jepang ke Indonesia. Orang Indonesia sangat hangat, dan ini kedua kalinya saya datang ke Jakarta, Indonesia”, oceh Piko Taro ketika memperkenalkan dirinya.

02 Kazuhito Kosaka atau Piko Taro Ibonk

Kazuhito Kosaka atau lebih dikenal sebagai Piko Taro (Foto: Ibonk)

Kompetisi Karada Dance aJapan sendiri mulai berjalan dan masuk tahap seleksi sejak 25 September hingga 29 Desember 2017. Sebagai sebuah project yang juga tengah mempromosikan kontes ini ke seluruh dunia, peserta diharuskan untuk menarikan Karada Dance, direkam lalu diunggah di Instagram.

“Pemenang saya pilih bukan dari bagaimana mereka pandai menari, tetapi bagaimana mereka menari dengan ceria, gembira, dan bahagia. Itu point yang akan saya berikan,  kepada para finalis Karada Dance hari ini”, pungkas Piko Taro kembali.

Sebelum acara kompetisi final Karada Dance dimulai, Hiroaki Kato, selaku pembawa acara mengajak para peserta yang hadir di acara tersebut untuk belajar bahasa Jepang sehari-hari yang sangat mendasar dan mudah. Tidak lupa juga menyelipkan kata-kata Atama (Kepala), Kao (Wajah), Kata (Bahu), Mune (Dada), Onaka (Perut), yang merupakan kata-kata yang digunakan di Karada Dance.

Finalis yang berasal dari berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Purwoketo, dan Yogyakarta ini berkompetisi dengan baik. Setelah melalui pemilihan yang ketat, pemenangnya di rebut oleh peserta kakak beradik dari Bandung yang berhak menggondol hadiah utama yakni perjalanan ke Jepang secara gratis./ Ibonk

Friday, 19 January 2018 07:46

Sidi Saleh

Pai Kau sebagai Debutan Film Panjangnya

Sutradara Sidi Saleh terbilang sukses di film pendek. Contohnya saja lewat film pendeknya Maryam, Sidi sukses menggondol penghargaan di Venice Horizons Award di Festival Film Venice ke-71 2014. Kini kemampuannya kembali diuji ketika dipercaya mengarahkan film layar lebar berjudul Pai Kau.

Ini adalah sebuah hal yang istimewa bagi Sidi, karena menjadi debutannya dalam menggarap film berdurasi panjang. Proses juga lumayan panjang, dimulai dari 2015 untuk penulisan naskah dan syuting pada 2016, film tersebut akan tayang pada 8 Februari mendatang. “Saya tertantang untuk menangani film ini,” ujarnya pada saat diskusi film ini di IFI Thamrin, Jakarta, Rabu (17/1/2018) silam.

Sidi mengakui bahwa menggarap film panjang tidak semudah film pendek. Misalnya, dari sisi pemeran, film panjang lebih banyak sehingga butuh pendekatan berbeda dalam mengarahkannya. Belum lagi tantangannya adalah bagaimana film ini dapat menarik untuk ditonton. “Jadi saya bilang sulit,” ujarnya.

Namun, kendala-kendala tersebut menjadi pengalaman penting untuknya. Pengalaman itu, menurutnya sangat berguna bagi kariernya di dunia perfilman. Bila pada film pendek dia cenderung masih mempertahankan egonya, di film lebar harus bisa lebih kompromi.

“Dalam film Pai Kau pengalaman yang saya dapat adalah bahwa membuat film bukan hanya sekedar sebuah proses mencipta, tetapi lebih dari itu, yaitu proses pencapaian perspektif dalam pemahaman saya terhadap diri sendiri dan sesama,” ujar Sidi.

02 Pai Kau Istimewa

Poster Film Pai Kau (Foto: Istimewa)

Pai Kau berasal dari bahasa mandarin dari kata Pai Gow yang berarti permainan domino, bercerita tentang hari pernikahan yang menegangkan bagi pasangan Lucy (Irina Chiu), dan Edy Wijaya (Anthony Xie). Di hari pernikahan Lucy dan Edy, muncul seorang tamu wanita yang tidak diundang. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Siska (Ineke Valentina). Kehadiran Siska menjadi sebuah ancaman. Sampai akhirnya semua berakhir dengan tragis.

Sidi Saleh mengenal dunia perfilman dimulai sejak awal tahun 2000-an, semasa ia mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta. Sidi yang sudah akrab dengan kamera sejak kecil itu lebih dulu menjadi sinematografer.

Beberapa proyek sinematografi membuatnya ikut terrlibat seperti “Dajang Soembi, Perempuan jang Dikawini Andjing” (2004), “Kara, Anak Sebatang Pohon” (2005), “Trip to the Wound” (2007), “D’Bijis” (2007), “Merah itu Cinta” (2007), “Babi Buta yang Ingin Terbang” (2008), “Postcards from the Zoo” (2012), serta “Taksu” (2014) karya Kiki Sugino sutradara film dari Jepang dan beberapa judul film lainnya./ Ibonk

Page 7 of 134