NewsMusik

NewsMusik

Wednesday, 22 February 2017 08:47

Air Supply

Dipastikan Hadir di Jakarta

Setelah batal manggung di saat mendekati hari-H pada Desember 2016 lalu, duo Graham Russel dan Russel Hitchcock yang tergabung dalam Air Supply menyatakan kesiapan mereka untuk segera tampil dihadapan penggemarnya di Jakarta. Sebelumnya duo ini batal manggung dikarenakan Russel Hitchcock kelelahan akibat jadwal tur yang padat.

Kepastian kedatangan tersebut disampaikan keduanya lewat video greeting yang dikirimkan kepada pihak penyelenggara. “Akhirnya yang kita tunggu-tunggu datang juga, video greeting dari Air Supply ini untuk memastikan kedatangan mereka nanti 100% confirmed akan konser di Jakarta”, ungkap David Ananda selaku Managing Director Full Color Entertainment.

Air Supply sendiri akan tiba di Jakarta lebih awal dari jadwal manggungnya. Mereka akan tinggal di Jakarta selama 5 hari dan 4 malam (dari tanggal 28 Februari hingga 4 Maret 2017) untuk melaksanakan persiapan konser juga Press Conference dan serangkaian media Interviews.

 

02 Air Supply Istimewa Foto : Istimewa

 

Jakarta akan menjadi kota pertama dari rangkaian tur Air Supply di South East Asia. Selepas itu mereka akan tampil di Singapore tanggal 4 & 5 Maret , Cebu 7 Maret  dan Manila 8 Maret”, lanjut David. Konser yang bertajuk “Bringing Back The Memories” nanti akan merangkum lagu-lagu hits Air Supply pada konser  tanggal 3 Maret 2017, di The Kasablanka Hall, Mall Kota Kasablanka, Jakarta.

Berdasarkan rilis yang diterima NewsMusik bahwa harga tiket Silver (standing) sudah habis terjual. Tiket yang tersedia saat ini tinggal Diamond VVIP (numbered seating) seharga Rp 2.500.000,-, Platinum (free seating) Rp 1.500.000-, dan kelas Gold (free seating)   Rp 1.000.000,- Untuk informasi lebih lengkap dapat dilihat di website resmi Air Supply di http://www.airsupplymusic.com/tour./ YDhew

 

 

Tuesday, 21 February 2017 13:18

Buka’an 8

Drama Komedi Keseharian

Film drama komedi romantis garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini bercerita tentang Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela), pasangan millenial yang bertemu dan jatuh cinta di dunia maya. Hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga Mia karena menganggap Alam hanya bermain sosmed dan tak punya pekerjaan tetap. Di momen kelahiran anak pertama mereka, Alam ingin membuktikan kepada orang tua Mia, bahwa ia adalah seorang suami idaman.

Dalam film ini Chicco beradu peran dengan Tio Pakusadewo sebagai Abah (ayah Mia) yang berakting total. Abah, dalam film ini akting Tio Pakusadewo sebagai orang tua yang menderita stroke dengan aksi yang konyol cukup berhasil disini.  Ditambah lagi sosok abah dipasangkan dengan Sarah Sechan yang berperan sebagai Umbu (ibu Mia) sebagai sosok ibu yang lugu dan selalu sinis dengan komentar yang diucapkannya cukup membuat penonton terhibur.

Alam sebagai calon ayah berkarakter santai dengan gaya seorang seniman. Kata-kata mengumpat  yang sering dijumpai dikehidupan sehari-hari, digulirkan secara jenaka dan terkadang serius. Konflik yang muncul sewaktu mempersiapkan persalinan Mia, dimana Alam tidak mampu membayar rumah sakit, cukup berhasil membuat penonton tergelak karena tingkah konyolnya.

Film Buka’an 8 ini mempertemukan kembali Angga dengan duet dua produser Anggia Kharisma dan Chicco Jerikho, yang sukses dengan 2 film sebelumnya, Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) dan Filosofi Kopi The Movie (2015). “Buka’an 8 merupakan film komedi pertama yang saya buat mengangkat cerita generasi millenial yang addictive pada media sosial dan internet. Film ini terinspirasi dari proses menanti kelahiran anak pertama saya yang kebetulan pada saat itu ditemani oleh Chicco Jerikho dan tercetuslah ide untuk membuat film ini”, tutur Angga Dimas Sasongko.

02 Bukaan8 IstimewaBuka'an 8 (Foto: Istimewa)

Film yang memotret problematika pasangan muda yang tengah berjuang mendapatkan restu dari orang tua.  Menceritakan kedekatan emosional yang tercipta antara anak dan orang tua pada proses kelahiran dengan genre komedi. Mengombinasikan realita, cerita pribadi, dan berbagai kekonyolan yang terjadi di keseharian.

Akhirnya film ini mampu menghantar cerita yang sangat dekat bagi mereka yang sangat menikmati hiruk – pikuk media sosial. Cukuplah membawa angin segar di sela-sela hiruk pikuk suasana politik yang memanas akhir-akhir ini.

Para pemain yang terlibat selain yag telah disebut sebelumnya adalah Dayu Wijanto, Uli Herdiansyah, Ary Kirana, Melissa Karim, Maruli Tampubolon, TJ, Ivy Batuta, Marwoto, Roy Marten, Nadine Alexandra dan Adriano Qalbi.

Soundtrack Film 'Buka’an 8’ diisi oleh lagu dari band indie Payung Teduh berjudul ‘Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan’ dan band asal Yogyakarta FSTVLST untuk lagu ‘Ayun Buai Zaman’. Bagi yang butuh hiburan untuk sekedar mengocok perut, film Buka’an 8 ini akan tayang di bioskop mulai 23 Februari 2017./ YDhew

 


 

Monday, 20 February 2017 21:24

Intan Rachman

Single Baru Setelah Ajang Menyanyi

 

Sudah banyak bukti kalau talenta bermusik, ataupun memiliki suara merdu bisa karena faktor genetik. Dari faktor darah atau keturunan tersebut, kita sangat terbiasa melihat banyak penyanyi  dunia hadir dari satu garis keturunan. Seperti juga dialami oleh Intan Rahayuning Rachman atau lebih pop disapa Intan Rachman yang tak lain merupakan adik dari Iman J-Rocks.

Cukup banyak yang mengetahui kalau Intan adalah salah seorang jebolan ajang kompetisi menyanyi. Kini bersama sang kakak, Intan melepas single perdananya yang berjudul ‘Sebel’. Singel ini coba diracik sedemikian rupa lewat pendekatan musik yang easy listening dalam sentuhan pop jazz ala Jepang oleh Iman sendiri.

Iman sendiri beranggapan bahwa single ini bisa memberikan kontribusi positif musik Indonesia. Apalagi dengan vokal sang adik yang khas dan berkarakter bisa mencuri hati pendengar musik Indonesia.

Merujuk kebelakang, single ini diciptakan oleh almarhum Ilham yang merupakan adik dari Iman J-Rocks dan kakak kandung dari Intan Rachman sendiri. Ini adalah project keluarga, dimana Iman mengisi track gitar, almarhum Ilham mengisi bass dan gitar, sedangkan Intan Rachman tetap pada vokal. Lagu ini ditulis dalam lirik yang lugas dengan bahasa sehari hari yang ringan, sehingga mudah untuk dicerna.

02 Intan Rachman Iman J Rocks IstimewaIntan Rachman & Iman J-Rocks (Foto: Istimewa)

Setelah berpulangnya Ilham, lagu ini akhirnya dilanjutkan oleh Iman dan Intan Rachman dibawah payung label musik Greenland Indonesia. Untuk mengenang dan menghormati almarhum Ilham, mereka sengaja membiarkan beberapa track yang sudah almarhum pernah isi seperti track bass, gitar, dan beberapa part melodi gitar tetap sesuai aslinya.

Nah, selanjutnya tinggal menunggu respon pasar musik tanah air saja. Apakah single ini bisa menjadi trigger bagus untuk kelanjutan kiprah Intan di blantika musik tanah air? Kita lihat saja.../ Ibonk 

Monday, 20 February 2017 17:13

The Moffatts

Histeria Nostalgia

 

I miss you like crazy, Even More than words can say, I miss you like crazy, Every minute of every day, Girl I'm so down when your love's not around, I miss you, miss you, miss you, I miss you like crazy... Bagi Anda yang mengalami masa angkatan baru gede di tahun 1998 sampai dengan 2001 tentu akrab dengan rangkaian kalimat di atas. Tepat bila Anda menyebutnya merupakan lirik dari lagu ‘Miss You Like Crazy’ yang dinyanyikan Moffatt bersaudara : Scott Andrew Moffatt (Scott Moffatt), serta kembar tiga Clinton Thomas John Moffatt (Clint Moffatt),  Robert Franklin Peter Moffatt (Bob Moffatt) dan David William Michael Moffatt (Dave Moffatt).

Lagu itu memiliki jam putar tinggi di berbagai radio. Begitu juga dengan ‘Girls of My Dreams’, ‘I’ll Be There For You’, atau ‘If Life is So Short’. Tak heran pula bila kemudian The Moffatts menjadi pujaan setiap perempuan muda. Tampang manis dan lagu-lagu dengan muatan cinta dan rayuan adalah modal penakluk hati.

Tahun 2000 The Moffatts sempat menggelar konser di dua kota di Indonesia : Jakarta dan Bandung. Sudah bisa ditebak bahwa di kedua konser itu kemudian dipenuhi oleh penggemar. Juga tentnunya dihiasi oleh teriakan histeris.

Tujuh belas tahun kemudian ritual yang sama terulang kembali. The Moffatts yang bubar tahun 2001 memutuskan untuk berkumpul kembali dan menjalani rangkaian tur dengan embel-embel perpisahan. Dengan formasi Scott, Clint dan Scott minus Dave yang tak lagi turut serta.

02 The Moffatts Klandesti NThe Moffatts (Foto: Istimewa)

Minggu (19/02) malam, The Moffatts tampil kembali di hadapan penggemarnya di Hard Rock Cafe Jakarta. Sekitar dua ratusan mantan anak baru gede hadir. Terlihat ada yang mengenakan kaus dengan tulisan atau foto The Moffatts. Tampak wajah-wajah antusias yang ingin bernostalgia dengan idola masa muda.

Entah terlalu antusias atau rindu, lagu-lagu rekaman The Moffatts yang tengah diperdengarkan malah memancing terjadinya koor massal. Bahkan ketika lagu populer yang tengah diputar memancing reaksi teriakan di antara penonton.  Tempik sorak semakin membahana ketika satu per satu The Moffats mulai muncul di atas panggung.

‘Crazy’ yang menjadi lagu pembuka tampaknya tepat untuk menjelaskan “kegilaan” di depan panggung. Meski memang kadar keliaran penonton sudah jauh berkurang. Rata-rata semua sudah cukup sadar akan umur yang tak lagi muda. Tapi teriakan-teriakan kagum masih kerap terdengar.

Malam itu mereka tidak hanya membawakan lagu-lagu dari dua album The Moffatts : Chapter I : A New Beginning dan Submodalities. Tapi juga membawakan lagu dari masing-masing proyek setelah The Moffatts bubar. Scott memamerkan lagu dari album solo. Sedangkan Clint dan Bob memilih membawakan dari proyek Same Same dan Endless Summer.

‘Miss You Like Crazy’ menjadi lagu pamungkas. Malam nostalgia pun usai sudah. Entah berapa banyak kenangan masa lalu yang kembali terbuka. Yang pasti, banyak senyuman yang menghiasi wajah penonton malam itu./ Klandesti_N

Monday, 20 February 2017 15:58

Warpaint

Konser Bayar Hutang

 

Tahun 2011, Warpaint yang beranggotakan Emily Kokal (vokal, gitar), Theresa Wayman (vokal, gitar), Jenny Lee Lindberg (vokal, bass) dan Stella Mozgawa (drum) pernah berencana melawat ke Jakarta. Tapi karena satu dan lain hal rencana tersebut batal. Berselang 6 tahun kemudian, akhirnya Warpaint mewujudkan rencana yang tertunda tersebut.

Digelarlah konser Warpaint – Heads Up Tour 2017 oleh Wire It Up! pada hari Jumat (17/02) di kawasan Parkir Selatan Senayan Jakarta. Dimulai sekitar pukul 7 malam dengan dibuka oleh penampilan tiga band produk dalam negeri : Trou, Diocreatura dan Kimokal.

Sambutan paling meriah tentu dialamatkan kepada Warpaint. Enam tahun bukan waktu sebentar untuk bisa melihat mereka beraksi di depan mata. Lain halnya bagi mereka yang mampu dan mau usaha pernah datang ketika Warpaint konser di luar Indonesia.  ‘Keep It Healthy’ dari album kedua bertajuk Warpaint menjadi lagu pembuka.

Berbicara aksi panggung tidak ada pamer keahlian dalam hal memainkan instrumen masing-masing. Tidak ada juga tingkah pecicilan di atas panggung. Terhitung kalem dan sangat sederhana sekali yang mereka tampilkan.

01 WarpaintWarpaint (Foto: Klandesti N)

Jenny tampil mencuri perhatian dengan mengenakan kaus hitam berhiaskan gambar barong. Sesekali dia melambaikan tangan ke arah penonton sambil tersenyum manis. Sementara Emily dengan santainya memakai sandal hotel. Kadang-kadang maju ke depan menyanyi sambil bergoyang di atas speaker.

“Terima kasih sudah mengundang kami untuk konser di sini. Kalian semua sangat istimewa,” ujar Theresa. Bagi penonton pun menjadi istimewa, karena Indonesia menjadi satu-satunya negara yang disinggahi dalam rangkaian tur mereka.

Di konser perdana, semoga juga bukan yang terakhir, Warpaint membawakan sekitar 15 lagu. Termasuk tiga lagu encore : ‘Billie Holiday’, ‘So Good’ dan ‘Bees’. Bisa dikatakan lebih dari cukup untuk sebuah penantian selama enam tahun. /Klandesti_N

Monday, 20 February 2017 15:39

Friday Unplugged 90’s Rock Night

Berawal dari Kumpul-Kumpul

Ini adalah pesta musik rock tanpa harus disajikan secara hingar bingar. Kok bisa? Seperti yang disajikan pada Jumat (17/2/17) malam lalu, di sebuah cafe dibilangan Salabenda kota Bogor. Sajian musik hidup lewat tajuk Friday Unplugged 90’s Rock Night ditawarkan kepara penggila musik ber genre ini. Acara yang digagas oleh Komunitas Grunge Bogor yang juga merupakan sebuah komunitas peduli musik dan potensi anak muda lokal khususnya Grunge.

Komunitas ini awalnya cuma kumpil-kumpul teman yang terajut lewat kecintaan pada musik ini. Berdiri sejak awal 2003, ketika beberapa anak muda merasa jenuh ketika menyadari kota Bogor sangat minim acara musik yang bertemakan grunge. Terpicu oleh keinginan tersebut, akhirnya diambil inisiatif untuk membentuk sebuah perkumpulan atau hanya sekedar nongkrong dengan obrolan bertemakan grunge.

Friday Unplugged 90’s Rock Night kemarin dipandu oleh Yudit yang terbilang sudah malang melintang di dunia musik Bogor. Bakasura, membuka penampilan ini dengan meng-cover beberapa lagu Pearl Jam. Tak lupa juga beberapa band dari luar Bogor ikut ambil bagian diacara ini. Salah satunya Morning Shine, band Grunge asal Jakarta ini yang kerap menghiasi berbagai gigs grunge di Jakarta. Mereka secara terbuka menyatakan kegembiraannya bisa berpartisipasi untuk menghidupkan kembali scene yang bisa dibilang anti mainstream ini.

Selain kedua nama diatas, sajian musik unplugged tersebut juga dimeriahkan oleh nama-nama sangar yang sedikit banyak dikenal oleh pencinta musik sejenis di kota Bogor seperti Even Flow, Rasvala, Jeremy, Cacat Mental, Terserak ataupun Pembunuh Sepi.

 

02 Friday Unplugged 90s Rock Night Fikar

Friday Unplugged 90’s Rock Night (Foto: Fikar)

Perhelatan ini berlangsung dengan identitas Bogor, yang tak luput dari guyuran hujan. Tapi jangan tanya antusias meriah penikmat scene tersebut. Sebagai kelanjutannya, mereka menegaskan  akan ada acara sejenis pada 4 Maret 2017 di daerah Karadenan, Cibinong Bogor. Lalu ada lagi pagelaran yang juga rutin dengan tajuk “Raincity Grunge Fest” yang masih belum tampak tanggalnya.

Untuk kedepannya, mereka menyatakan akan mengupayakan kegiatan ini bisa tetap solid dan  berkembang. Mereka juga sangat berterima kasih bila mana regenerasi komunitas ini dapat terwujud. / Fikar

Thursday, 16 February 2017 12:32

Andi Bayou

Awal Meniti Karir Internasional

Musisi dan pencipta lagu asal Yogyakarta, Andi Haryo Setiawan yang lebih dikenal dengan nama Andi Bayou pernah mencapai masa jaya bermusik di tahun 90an lewat band besutannya, Bayou. Andi sendiri mulai tertarik dengan dunia musik sejak orang tuanya membelikan seperangkat alat musik dan keyboard Roland Alpha Juno. Ia pun mulai menekuni ilmu komposisi, aransemen, dan dunia MIDI dengan perangkat  alat musiknya sejak tahun 1988, dan di tahun 1990 Andi memulai karir musiknya dengan hijrah ke Jakarta.

Jatuh bangun di dunia musik sudah pernah di rasakan, namun semangatnya di dunia musik tak pernah surut. Sempat vakum di band besutannya Bayou, karir Andi sebagai produser, arranger, komposer dan keyboardist justru semakin berkibar. Iapun mulai merintis bisnis studio rekaman di rumahnya. Nama-nama besar seperti Iwan Fals, Nicky Astria, SO7, Kangen Band, Judika, Syahrini, Rio Febrian, Warna, Dewi Sandra, Mayangsari hingga Trio Macan tercatat pernah berkolaborasi dengan Andi dalam pengerjaan albumnya.

Kesukaannya pada perangkat musik Roland, di tahun 2004 membawanya menjadi Artist Ambassador untuk Roland Keyboard. Hampir 13 tahun menjadi ambassador, impiannya untuk mengunjungi Frankfurt Messe juga markas besar dan pabrik piano termahal di dunia Steinway & Son di Hamburg di tahun 2015 terwujud.  Di akhir tahun 2016 Andi pun berkesempatan untuk menghadiri NAMM Show yang di selenggarakan tanggal 19-22 Januari 2017 di Anaheim California.

NAMM Show adalah annual event berkumpulnya para produsen alat musik di dunia yang di gelar di Aneheim, California, AS. Acara tahunan ini menampilkan produk terbaru dari beberapa produsen alat musik, sebagai peraga dan menjadi ajang pamer kualitas serta inovasi terbaru dari produsen alat musik.

02 NAMM 2017 IstimewaNAMM 2017 (Istimewa)

“NAMM Show sendiri tidak di buka untuk umum dan hanya terbatas kepada anggota, distributor dan para undangan saja. Juga artis-artis dunia seperti Stevie Wonder, John Mayer, Earth Wind and Fire, Jean Michel Jarre, Andy Summer, dan seorang Andi Bayou hahaha,” jelas Andi sambil tertawa.

Setelah selesai menghadiri acara NAMM Show, bersama dengan sahabatnya Anto Juwono, yang juga seorang penyanyi Indonesia yang bermukim di Amerika, Andi terbang menuju New Jersey.  Pertemuannya dengan produser berkebangsaan Belanda, Michael Zetner yang bermukim di Irlandia menghasilkan kolaborasi dengan band beraliran New Age asal Amerika bernama Zen Land. Personil Zen Land adalah para musisi senior Amerika yang telah banyak bekerjasama dengan artis-artis besar dunia seperti Frank Zappa, Sting, Andy Summer, Jeff Beck, The Who, Peter Gabriel, Yes, Bruce Springsteen, David Bowie dan lainnya.

“Lagu ciptaanku berjudul ‘Sunrise at Borobudur’ menjadi karya kolaborasi dengan Zen Land yang bakal rilis dibawah bendera Warner Music Indonesia di awal tahun ini. Kita membahas proses mixing mastering lagu tersebut yang akan di kerjakan di Hollywood serta rencana waktu rilis yang sudah semakin dekat. Kolaborasi ini menjadi project yang maha penting bagiku, karena sebagai pintu gerbang karir Internasionalku” ujar Andi kepada NewsMusik.

Hadir di acara NAMM Show juga membawa Andi bertemu dengan musisi dan produser yang sudah punya nama di industri musik Amerika, terkoneksi dengan mereka membuatnya makin percaya diri dan lebih bersemangat untuk bisa rekaman di Amerika. Sejak di Indonesia, Andi sudah mempersiapkan materi lagu-lagu yang bakal direkam di Amerika dan berlatih keras setiap hari. Usaha yang hampir satu tahun lamanya untuk memainkan komposisi ciptaannya sendiri yang menggabungkan unsur klasik, jazz, progresif, rock dan pop ke dalam sebuah karya yang berdurasi 8 menit.

03 The Cutting Studio NYC IstimewaThe Cutting Studio - NYC (Istimewa)

Usahanya tersebut akhirnya berbuah manis, meski ada beberapa kesulitan sewaktu latihan, Andi akhirnya bisa menyelesaikan rekaman sebanyak 4 buah lagu di The Cutting Studio, sebuah studio rekaman bergengsi di kawasan Manhattan New York. Studio ini juga menjadi  tempat dimana artis-artis dunia seperti The Corrs, Linkin Park, John Legend, Boyzone dan lainnya pernah rekaman.

“Walau masih ada kekurangan di sana sini, dan sempat mengalami putus asa karena masalah lama di  jari kelingkingku. Aku mencoba memainkan dan merekam ulang mulai part yang mudah dulu, aku sengaja membiarkan kekurangan tersebut karena ingin menghadirkan suasana live recording tanpa menggunakan metronome. Setelah berusaha dan berjuang dengan keras sesaat sebelum jadwal rekaman berakhir akhirnya aku berhasil menyelesaikan rekaman 4 lagu lengkap dengan take vocal 2 buah lagu dalam waktu 1 shift”, jelas Andi bangga./ YDhew

 

Monday, 13 February 2017 10:35

Al Jarreau

Tak Ada Lagi Scat Indah

Al Jerreau yang terlahir dengan nama Alwynn Lopez Jarreau, di Milwaukee pada 12 Maret 1940 telah menghebuskan nafas terakhirnya pada usia 76 tahun di Los Angeles, California, Minggu (12/2/2017). Berpulangnya penyanyi jazz yang berjulukan “The Acrobat of Scat” itu diakibatkan kelelahan dan tengah dirawat di sebuah rumah sakit di LA. Mengambil kabar dari akun facebook dan twitter-nya, Al Jarreau meninggal sekitar jam 9 pagi disaksikan oleh Istri, putra dan beberapa temannya.

Ia adalah sosok yang penuh semangat, memiliki gaya vokal yang unik dan penuh akrobat. Tak banyak yang melakukannya, sehingga gampang ditebak kalau hal tersebut menjadikannya kondang dan menjadi ikon musik terutama jazz. Prestasi terakhir yang didapatkannya ketika beberapa bulan lalu, Al Jarreau mendapat penghargaan dari Presiden Amerika kala itu,  Barack Obama di Gedung Putih pada perayaan International Jazz Day.

Sepanjang karirnya bermusik, Al Jerreau telah mendapat banyak penghargan, salah satunya adalah dengan meraih 7 Grammy Awards. Ada sebuah hal yang langka dengan pengharagaan musik tertinggi dunia yang diraihnya ini, karena 7 Grammy tersebut didapatkannya untuk tiga genre berbeda, yakni jazz, pop, dan R&B. Sebagai musisi jazz kenamaan, ia begitu populer dengan berbagai single hits miliknya seperti ‘We're in This Love Together’,  ‘After All’, ‘Morning’, ‘Moonlightin’, ‘Take 5’, ataupun ‘Breaking Away’.

Ia tumbuh besar di Milwaukee, dan pertama kali bersentuhan dengan musik karena seringnya mendengarkan orang tuanya bermain musik di gereja. Menekuni karir musiknya secara penuh ketika berusia 27 tahun. Semua dimulai ketika Ia menyelesaikan S2 nya dalam bidang ilmu rehabilitasi kejuruan dari Universitas Iowa. Lalu pindah pindah ke San Fransisco, malah terjun ke dunia musik bersama seorang musisi yang juga menjadi legenda, George Duke.

02 Al Jarreau IstimewaAl Jarreau (Foto: Istimewa)

Walau telat memulai karir bermusiknya, namun hanya butuh beberapa tahun saja  ia mulai menarik perhatian banyak pihak. Ya apalagi kalau tidak lewat gaya vokal yang sangat tidak biasa. Kritik yang datang dijawabnya dengan ketangkasan improvisasi pada vokal, dan menghasilkan berbagai vokalisasi mulai dari yang biasa saja sampai njlimet sekalipun.

Suara merdunya juga dinikmati di lagu tema serial televisi era 80an “Moonlighting”, yang turut membesarkan nama aktor Bruce Willis. Juga yang tak mungkin dilupakan kala dirinya terlibat penggarapan lagu ‘We Are the World’ di tahun 1985 sebagai upaya penggalangan dana korban gizi buruk di Ethiopia.

Oleh industri musik dunia, karyanya dimasukkan dalam berbagai unsur selain jazz seperti  pop, soul, gospel, latin dan lainnya. Hal tersebutlah yang mendorong kepopulerannya karena  bisa fleksibel meninggalkan bentuk puritan dari framing jazz menjadi sangat aksesibilitas dan komersil.

Seperti yang pernah diutarakannya dalam wawancara terdahulunya pada tahun 1986 mengenai kritik yang diterimanya. Al Jerreau tidak pernah tergoyahkan dengan “sikap jazz" nya tersebut yang didefinisikannya sebagai sebuah pilihan pribadi dan melakoni sesuatu yang berbeda. "Saya mencoba untuk menjadi reseptif, untuk mendengarkan, dan tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru."

03 Al Jarreau IstimewaAl Jarreau (Foto: Istimewa)

Joe Gordon, sang manajer menyebutnya sebagai pria yang luar biasa. Al Jerreau tidak pernah berhenti berterima kasih pada penggemarnya dan orang-orang yang pernah bekerja dengannya secara langsung ataupun tidak langsung. "Prioritasnya adalah bermusik. Tapi prioritas utamanya adalah bagaimana ia bisa membuat orang lain merasa lebih baik dan nyaman.”

Begitulah, tak terhitung panggung yang sudah ditaklukkannya, lebih dari 20 album telah dirilisnya, banyak hits yang sudah menghiasi tangga lagu dunia, juga kolaborasinya dengan para musisi yang tak kalah hebat. Semua seakan malah menampilkan keunikan bakat dan semangat tinggi sang legenda.

Rest In Peace Al... We are never forget you the king of scat..../ Ibonk

 

Friday, 10 February 2017 10:23

Wiro Sableng 212

Kerjasama Internasional Si Kapak Maut

 

Wiro Sableng adalah karakter fiksi dan tokoh utama cerita silat Indonesia yang diambil dari buku silat Wiro Sableng Kapak Maut Naga Geni 212 karya almarhum Bastian Tito. Ini adalah serial silat terpanjang dan terlama di Indonesia. Dibuat selama rentang waktu 39 tahun (1967 – 2006) yang terdiri dari 185 judul dan disetiap bukunya selalu berhasil terjual ratusan ribu cetak bahkan pernah sampai sejuta cetakan. Sehingga, tidak heran jika Wiro Sableng pun menjadi legenda Indonesia, dan sampai kini masih mempunyai basis penggemar yang kuat.

Berdasarkan hal tersebut Lifelike Picture dan Fox International Production berkolaborasi mengangkat serial legendaris ini ke layar lebar dengan memproduksi Wiro Sableng 212 (212 Warrior). Kedua perusahaan ini akan mengembangkan, dan mendistribusikan filmnya di seluruh Indonesia serta kemungkinannya di negara lain. Ini adalah kerjasama pertama kalinya FIP dengan rumah produksi asal Indonesia.

“Saya sangat senang dengan keterlibatan kami dalam film ini dan bangga dapat bekerja sama deng6an tim kreatif dari Lifelike Pictures. FIP merasa terhormat bisa menjadi studio Hollywood pertama yang melakukan co-production dengan rumah produksi Indonesia. Kami berharap akan lebih banyak lagi kolaborasi lainnya di masa mendatang”, ungkap Tomas Jegeus, President FIP dalam rilis yang diterima NewsMusik (9/2) lalu.

Film layar lebar kolosal dengan genre Action Comedy Fantasi ini akan diproduksi pada tahun 2017 dan direncanakan rilis di bioskop tahun 2018. Vino G. Bastian yang merupakan anak dari penulis novel almarhum Bastian Tito dipilih menjadi pemeran karakter Wiro Sableng. Vino sebagai pemeran dan wakil dari pihak keluarga mengatakan

02 Triawan Munaf Pendukung Film Wiro Sableng 212 IstimewaTriawan munaf & Para Pendukung Wiro Sableng 212 (Foto: Istimewa)

“Keluarga besar alm. Bastian Tito sudah lama ingin memperkenalkan kembali Wiro Sableng 212 kepada generasi millenial. Kami merasa beruntung sekali, Wiro Sableng 212 bukan hanya warisan keluarga, tapi telah menjadi warisan bagi bangsa Indonesia.”

Dalam jajaran pemain, Marsha Timothy dan Sherina Munaf akan ikut serta berperan dalam film ini. Beberapa nama pemainpun telah disiapkan dan akan diumumkan menjelang produksi film ini. Sebagai sutradara dipilih sutradara muda Angga D. Sasongko yang telah diakui prestasinya. “Bagi saya ini merupakan suatu kehormatan dengan WS212 yang begitu menarik dan legendaris, dan saya mendapat kesempatan untuk keluar dari zona nyaman saya dengan menjelajah suatu tema dan genre film yang baru. Ini juga sekaligus sebagai ajang reuni saya dengan Vino”, jelas Angga.

03 Marsha Timothy IstimewaMarsha Timothy (Foto: Istimewa)

Skenario film ini ditulis oleh Sheila Timothy, Tumpal Tampubolon dan Seno Gumira Ajidarma. Sedangkan yang akan bertanggung jawab dalam koreografi laga disebutlah nama Yayan Ruhiyan yang sudah mempunyai prestasi baik di dalam maupun luar negeri dengan karyanya di film The Raid, The Raid 2, Yakuza Apocalypse, dan Star Wars 7.

Tokoh dan cerita Wiro Sableng sebetulnya  sudah pernah diangkat beberapa kali ke layar lebar dan serial televisi. Wiro Sableng 212 versi baru ini adalah film Indonesia yang pertama kali diproduksi oleh Fox International yang merupakan salah satu rumah produksi terbesar di dunia 20th Century Fox Film Corporation. Seperti apa nanti filmnya kita tunggu saja edisi terbaru Wiro Sableng 212 dengan karakternya yang unik dan lucu serta mempunyai kekuatan yang maha dasyat ini./ YDhew

04 Yayan Ruhiyan IstimewaYayan Ruhiyan (Foto: Istimewa)

Thursday, 09 February 2017 19:18

Dr. Bramundito

Musik Adalah Penyeimbang

 

Jangan tanyakan soal musik padanya, karena itu merupakan dunia yang sangat dipahaminya. Tempat dimana dirinya mendapatkan sesuatu yang berbeda, yang menjadikannya mampu untuk menjalani rutinitas yang kerap bikin jemu. “Musik bagi saya adalah penyeimbang”, dan kalimat itulah yang menjadikan seorang dokter Bramundito Abdurrachim, Sp.Og dapat melakoni dua dunia sekaligus... dokter dan musisi.

Dr. Bram, itu sapaan akrab dirinya, sudah main musik sejak SMP bersama kawan-kawan seumurannya. Seperti diakuinya, beberapa musisi senior tanah air adalah temannya nge-band. Satu yang tak biasa memang profesinya sebagai dokter ahli kebidanan dan kandungan, cukup senior malah. Diluar rutinitasnya tersebut dirinya malah mampu menghasilkan album rekaman, sampai 3 album malah.

Kelahiran Jakarta, 6 Mei 1962 ini mengawali debut albumnya lewat karya perdananya bertajuk “Dunia Baru” pada 2008 silam. Album tersebut berisikan 12 lagu yang semuanya hasil karyanya. Berawal dari keisengannya untuk merangkum lagu-lagu ini sebagai koleksi pribadi. Namun kala itu, menurut Andy Bayou, yang juga sahabatnya menganggap bahwa lagu-lagu sang dokter sangat terasa komersil, sayang kalau cuma disimpan.

Nah, akhirnya dibuatlah album “beneran” dan menghasilkan beberapa hits seperti ‘Lama Kunanti’ yang disuarakan Matthew Sayersz. Lalu ada suara khas, Ivan Nestorman lewat judul  ‘Bersemi di Bali', dan ‘Jangan Harap’ yang dibawakan Tompi. Dalam album ini pula, ia menggandeng beberapa musisi berpengalaman selain Andy ada Yudhistira Arianto, almarhum Ade Hamzah dan Tohpati.

Sekitar tiga tahun kemudian, Dr. Bram kembali meluncurkan album keduanya lewat tajuk “Perjalanan Panjang”. Memasukkan tak kurang dari 11 lagu, ia mengajak kembali Andy Bayou, almarhum Ade Hamzah, Yudhistira Arianto serta Rio Moreno, Barry Likumahuwa dan Harry Goro. Di garapan keduanya ini, Dr. Bram kembali mengajak Tohpati untuk didaulat sebagai produser maupun arranger. Lewat album ini beberapa lagu juga sempat menjadi  hits di beberapa stasiun radio tanah air seperti ‘Setahun Sudah’ yang dibawakan Soulmate, ‘Pasti Mampu’ oleh Chaseiro, dan ‘Lama Kunanti’ oleh Matthew Sayersz.

 

02 Dr. Bramundito IbonkDr. Bramundito (Foto: Ibonk)

 

Sehari lalu (8/2/17), NewsMusik sempat bertemu dan berbincang ringan dengan dokter sekaligus musisi ini terkait pelepasan album ketiga dirinya. “Dimanapun saya sempatkan menulis lagu. Nggak peduli tempat, bahkan ketika menunggu jadwal operasi saja saya bisa nulis (lagu)”, ungkapnya sambil tertawa ketika ditanyakan kapan dirinya menciptakan lagu.  

“Teknologi digital saat ini memungkinkan kita melakukan apapun bisa dimana saja. Makanya banyak anak-anak muda zaman sekarang karyanya cukup keren”, tambah suami dari dr. Wigati Purbarini ini. Menurut sang dokter, dirinya cukup banyak memiliki bank lagu yang diciptakannya, yang dengan mudah dapat ditemukan seandainya dirinya ingin menggubah atau merekamnya. “Biasanya ketika selesai bekerja dari rumah sakit. Sore kembali kerumah untuk istirahat, sambil tetap standby jika ada pasien yang memerlukan. Nah disitu waktunya,” jelasnya.

Ada sedikit kekaguman NewsMusik terhadap pola pikir yang dimiliki oleh sang dokter ini. “Diakuinya, sejak ia memilih untuk menjadi seorang dokter, ia berkomitmen untuk tidak harus didikte oleh waktu. “Saya sudah terapkan dari dulu, bahwa saya tidak mau buka praktek selepas tugas utama saya. Seperti saat ini, saya hanya ambil satu hari saja dalam seminggu. Dokter itu harus tetap fresh, karena banyak melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan keselamatan pasien. Jadi harus bebas tekanan, dan bisa mengerjakan hobby”, urainya.

Balik lagi ke album ketiganya ini, album yang telah selesai digarap dipenghujung 2016 ini diberi label “La Rambla”.  Berisikan 10 lagu ini dan memiliki 2 single jagoan yang sudah diputar dibeberapa radio yakni lagu yang menjadi judul album  ‘La Rambla’ yang disuarakan oleh Soulmate, serta alunan suara Latinka lewat ‘Takkan Nyata’.  Lagu lainnya diantaranya ‘Manusia dan Dosa’-Richard Chriss, ‘Akupun Cinta’ – Soulmate, ‘Jangan Tinggalkan Aku’ - Barry Likumahuwa and Friends, ‘Tak Perlu Bersatu’ - Tata  ataupun ‘Penari’ - Netta KD.

Di album ini dr. Bram hanya bertindak sebagai pencipta dan produser saja. Selain Ari Darmawan ia kembali melibatkan Andy Bayou, Yudhistira Arianto, Barry Likumahuwa, dan Tohpati. Kemasan musik secara keseluruhan ia serahkan kepada teman-temannya diatas. Ia hanya mencocokkan siapa penyanyi yang pantas untuk membawakan lagu-lagunya tersebut.

 

03 Dr. Bramundito IbonkDr. Bramundito (Foto: Ibonk)

 

Dalam album ini Dr. Bram sengaja lebih memfokuskan musiknya jauh lebih nge-pop dibandingkan dua album terdahulu. Alasannya agar lebih bisa bersaing saja. “Saya ingin lagu-lagu ini bisa diterima oleh siapapun yang mendengarnya. Ini lebih pop, tidak seperti yang sebelumnya yang lebih jazzy ya..

Album yang proses mixing dan mastering-nya dilakukukan di Amerika ini memang digarap lumayan lama, sekitar 2 tahun. Semuanya terkait dengan jadwal teman-teman musisi yang telah dipilihnya. Tapi dengan waktu yang panjang tersebut, dirinya malah bersyukur karena memiliki waktu untuk mempersiapkan segalanya secara matang.

Bicara soal keuntungan album, ayah dari 1 putri dan 2 putra ini blak-blakan mengatakan bahwa ia tidak melihat hal tersebut. “Ini murni untuk menyalurkan hobby saja. Tidak ada urusan komersil, dari awal saya sudah tau untuk produksi saja sebenarnya tidak akan kembali. Tapi saya bahagia, karena saya bisa memiliki karya untuk diingat dan berkontribusi bagi dunia musik tanah air”, tutup dr. Bramundito./ Ibonk

Page 13 of 113