S A H I T A

The Funkiest Grandma!

 

Biasanya kan, berani karena benar. Tapi kali ini,agak sedikit “melenceng”. Karena mereka berani, karena... Eh karena apa ya? NewsMusik lebih suka menyebutnya, berani karena mereka nekad untuk berani malu. Maksudnya?

Ah bayangkanlah, sementara yang lain-lain muncul secantik atawa segagah atawa juga semanis mungkin. Usia malah menjadi semacam handicap yang sangat dikawatirkan oleh banyak selebritis dimana-mana, terutama penyanyi. Apalagi di Indonesia kita ini.

 MG 4605Ketika banyak penyanyi cemas dengan usia yang makin “mateng” dan “banyak”, sementara itu bermunculanlah penyanyi-penyanyi cantik, kenes, manja-manja gimana gitu, lebih aktif berlanggak-lenggok, menari-nari, loncat kesana kemari. Nyanyinya mana? Well, suara dan nyanyian, nomer berikutlah! Trendnya begitu kok sih...


Astaganaga, mereka berempat malah dengan pedenya muncul sebagai...nenek-nenek atau, mbok-mbok tuwe. Lengkap berkebaya, sanggulan dengan konde teplok seadanya. Lalu, tiba-tiba mengeluarkan asesoris... kain lap pembersih di rumah-rumah!


Nekad betul! Yang lain berdandan secantik mungkin, ya kami ini memilih jadi nenek-nenek saja. “Nenek-nenek usia sekitar 60-70 an tahun gitulah. Nenek-nenek di kampung-kampung Jawa, jadi ya berkebaya...,”begitu kata mereka. Lha karena kami memang juga sudah tidak muda lagi kan, timpal yang lain. Toh nanti juga, kami bakal jadi nenek-nenek, kata satunya lagi.


Nenek-nenek 60-70 an tahun bisa menyanyi dan menari, campur teater, kan boleh dong, begitu terang yang lainnya. Asli, dekat mereka berempat ini, seru juga. Mereka cukup cerewet lho. Rame betul! Ga beda dengan di atas panggung.


Jamannya sekarang kan girlband, cewek-cewek cantik gemulai, langsing, rada-rada seksi gitulah. Mereka malah girlband nenek-nenek. Eh ada tidak ya, istilah, womenband. Atau gimana bagusnya disebutnya, yang rada modern gitu?


 MG 4616Susah lho, mencari padanan sebutan yang pas buat mereka. Kelompok 4 orang nenek-nenek lincah, cerewet, tapi funky lho dan bagus pula menyanyi. Tapi memang dasarnya adalah, nekad untuk berani malu.


NewsMusik melihatnya, mereka jeli dalam mencuri perhatian. Tak ada yang menyangka bahwa, menjadi nenek-nenek bisa merebut perhatian semua orang. Nah memang, yang penting harus punya sesuatu. Memiliki kemampuan ekstra sehingga, sosok nenek-nenek funky itu tak hanya berhenti sampai di situ.


Jadi cerita mereka, awalnya itu saat mereka di Teater Gapit. Mereka memang gabung di teater bersama-sama, di awalnya. Peran mereka memang seringkali, jadi nenek-nenek berempat gitu. Menyanyi, menari, becanda, guyonan. Sekian waktu mereka jalani.


Mereka mengatakan, mereka berdiri sejak 22 Juni 2001. Mereka memilih nama, Sahita. Dalam bahasa sansekerta artinya, kebersamaan. Mereka para ibu-ibu yang kepengen terus bersama-sama menghibur masyarakat. Tapi akhirnya, mereka berempat itu kelompok vokal, penari atau pelawak?


Yang jelas, mereka secara sendiri-sendiri sesungguhnya telah lumayan berpengalaman. Jam terbang cukup tinggi, dengan antara lain mendukung pergelaran dari nama-nama ternama macam Sardono W. Kusumo, Mugiyonokasido, Budi Dharsono, Begawan Ciptoning, Deddy Luthan, Elly Luthan, Slamet Gundono, Dedek Wahyudi sampai Garin Nugroho. Tak hanya di tanah air, tapi mereka ikut pementasan di negeri orang!


Keempat Sahita adalah Wahyu Widayati, yang dipanggil Inong. Kini staf di Taman Budaya Surakarta, ia lulusan STSI Surakarta. Seperti juga Sri Setyoasih atau dipanggil Tingtong, yang ternyata mantan penari tarian sakral keraton, Bedhaya Ketawang. Tingtong kini juga aktif menghidupkan dan membina kelompok lesung di kampungnya, Bonoroto, Solo.


 MG 4581Yang juga lulusan STSI Surakarta adalah Atik Kencono Sari, yang ternyata juga penyanyi keroncong. Yang bukan lulusan STSI hanyalah Sri Lestari, biasa dipanggil Cempluk. Ia adalah lulusan Universitas Sebelas Maret tapi memang sudah sejak lama aktif di teater.


Sahita belakangan memang makin dikenal luas, setelah muncul di stasiun-stasiun televisi nasional. Selain itu, mereka sukses meramaikan pementasan kolosal macam Matah Ati yang diadakan oleh Atilla Soeryadjaya. Serta juga, pentas yang disutradari Garin Nugroho, perayaan ulang tahun Hotel Indonesia.


Dalam Matah Ati, mereka banyak menerima pujian karena penampilan keempatnya yang gergeran. Matah Ati yang akbar dan sarat tehnologi, dalam sajian visualisasinya itu, menjadi terasa lebih segar karena Sahita menyelip hadir. Itu kata banyak penonton pergelaran tersebut.


Sementara dengan Garin Nugroho mereka ingat, waktu itu mereka diberikan kostum dari perancang yang merancang dan menyediakan kostum untuk para pengisi acara tersebut. Mereka juga akan ditangani rias wajahnya.


Namun Garin menolak dengan cepat. Jangan, Sahita biarkan saja merias wajah sendiri dan kostumnya juga dari mereka saja. Kata Garin, ya Sahita itu begitu, mau saya mereka tampil seperti Sahita biasanya. Kalau didandani nanti, waduh ga lucu lagi. Mas Garin itu ada-ada saja, Sahita mau dibikin cantik lha ga boleh..., keempatnya tertawa lebar.


Sementara NewsMusik bertemu mereka, dan lantas akhirnya bisa ngobrol dan bercengkerama dengan mereka saat Solo City Jazz di Solo, akhir September silam. Katanya mereka glagepan, ketika mendapat tawaran tampil di festival jazz itu. Lha, kami mana ngerti jazz? Alhasil, supaya terlihat nge-jazz, mereka memakai band pengiring segala! Ini pertama kalinya, mereka pakai band pengiring. Dipilihlah...musisi yang berondong semua. Walah!
SahitaaaYa nge-jazz atau tidak, yang penting mereka menjadi penutup festival jazz untuk masyarakat Solo itu dengan gergeran. Sukses menghibur ribuan penonton! Dan buat NewsMusik, kebingungan mereka soal mereka tidaklah nge-jazz, ya yang begitu itu bikin mereka jadi jazzy banget! Hehehehe....


Mereka mengaku konsep mereka sederhana saja. Memang pakai ada tarian, nyanyian dan guyonan. Sental-sentil dengan kenes dan manja gitu deeeh. Kadang terkesan usil, sesekali sok tau.  Kami ini ya hanyalah ibu-ibu biasa sebenarnya, yang ga pinter lho, kata mereka. Tapi mereka mencoba banyak membaca dan mendengar saja, apa yang sedang ramai diperbincangkan. Biasa deh, ibu-ibu ngegosip gitu, kata mereka tertawa.


Dan asal tahu saja, mereka tengah mencoba membuat rekaman. Beberapa karya telah mereka buat selama ini antara lain ‘Srimpi Srimpet’, ‘Srimpi Kethawang’, ‘Lima Ganep’, ‘Ibher-Ibher’, ‘Tedek Arangan’, ‘Pangkur Brujul’, ‘Seba Sewaka’, ‘Glathik Glinding’, ‘Rewangan’ dan lainnya.


Ber-Sahita buat keempat ibu-ibu gaul nan lucu ini adalah, meneruskan kebiasaan berkesenian mereka. Selain mereka tetap aktif menjadi dosen juga. Kumpul untuk latihan  dilakukan, setelah mereka beres dengan urusan rumah tangganya, seperti mengurus anak-anak dan para suami. Mereka jalani dengan sukacita saja, wong suka soale.


Nah lantas sukses dan bikin mereka jadi terkenal, dan makin beken, itu anugerah buat mereka berempat. Dan tidak disangka-sangka. Mimpi saja tidak, kata mereka dan tetap sambil terkekeh-kekeh. Beneran dah, The Funkiest Grandma!


Well, di satu sisi kehadiran mereka yang lumayan lengkap, membuat panggung hiburan kita lebih warna-warni. Memang harus kreatif, termasuk dalam menciptakan personifikasi tertentu sebagai ciri khas. Dan Sahita, di titik ini, terbilang jitu! Itulah kepandaian mereka dalam membaca peluang. Belum ada lho kelompok, “girlband masa lalu” saat ini di pentas musik dan hiburan kita. Ya kan?


Mudah-mudahan mereka bisa terus menghibur masyarakat dimanapun, itu sudah menjadi hiburan yang nyenengin hati mereka. Orang suka dan tertawa, syukurlah, kata mereka tersenyum lebar. Berarti orang-orang masih suka nenek-nenek lincah dan gaul, ya kan nek eh mbak-mbak yang ceriwis?

Sampai ketemu lagi di acara lainnya ya nek, jaga kesehatan, jangan begadang, inget umur.... Lho, nek lagi. Maaf, mbak-mbak. /dionM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found