FULL MOON CAFÉ di Bandung

Wawaaaaannnn….!!! Teriak Semua Penonton

Dan acara ini memang seolah diberkahiNYA. Apakah Wawan ada? Yang pasti, pas dan tepat, karena bulan purnama menyinari penuh. Dan acara ini pada awalnya, sekitar akhir 1990-an digagas oleh Wawan Juanda, Presiden dari Republic of Entertainment.

FULL MOON CAFÉ di Bandung

Pilihan tempat juga ditentukan Wawan, yang melihat “eksotisme” bagian atap gedung Sasana Budaya Ganesha, Bandung. Cocok nih jadi venue acara yang unik. Jadilah, sempat 3 kali event Full Moon Café digelar di situ. Dengan aneka rupa musik, terutama pada musik-musik non-mainstream macam jazz, blues ataupun world-music. Dilengkapi stand-stand kuliner dan cenderamata khas Bandung dan Jawa Barat.

Kemarin, 21 Agustus sore sampai malam digelar lagi. Tanpa Wawan Juanda, sang penggagas. Karena Wawan sudah meninggalkan kita semua pada 5 Juli 2010 karena terkena serangan jantung dan komplikasi. Yang kali ini berinisiatif menggelar acara adalah, Kawan-Wawan, dan tema utama memang, Tribute To Wawan Juanda.

Alhasil, datanglah dan jadinya seperti reuni saja, banyak kawan-kawan dekat alm.Wawan, yang datang dari mana-mana. Baik dari kalangan event organizer, wartawan, show-production, sponsor dan tentu saja para musisi, penyanyi dan grup band.

Kemarin malam suasana dimeriahkan penampilan antara lain oleh RMHR “Bedug Jepang” dan Tataloe, Compromized Ego, Kolaborasi Tisna Sanjaya-Iman Sholeh-Isa Perkasa, KSP, Egi Fedly, Amy Alternative Strings, Reuni Time Bomb Blues, Mukti-Mukti, Ferry Curtis, 4 Peniti, Nicko & Wanna Be Pro Dancers, Queen Percussion, Penari Santi Melawati, Didong & Friends, termasuk Sawung Jabo ditutup Wachdach.

Satu momen paling menarik, saat seniman dan budayawan, Aat Soeratin bercerita tentang alm.Wawan. Bahwa Wawan memang menginginkan Bandung jadi kota festival, banyak festival digelar. Sentra dari kegiatan artistic di Nusantara. Karena, menurut Aat, salah satu syarat sebuah kota dapat digelar festival adalah harus aman. Artinya, Wawan menganggap Bandung memang aman dan jadi pantas dan siap untuk menggelar festival-festival musik atau budaya, bermacam bentuk.

Pada saat itu, Aat Soeratin juga mengajak seluruh penonton yang berjubelan memenuhi rooftop Sabuga itu diajaknya untuk mengenang alm.Wawan cukup dengan sama-sama berteriak lantang, “Wawaaaaannn!!” Dan terdengarlah begitu nyaringnya, teriakan “memanggil” Wawan malam itu. Diikuti doa, dengan hening tanpa suara sama sekali dalam 20 detik. Hening banget jadinya, Cuma memang ada seorang bersama temannya mungkin terlalu asik bersenda gurau jadi ga menyadari…salah satunya malah juga tetap bertelephone-ria!

Yang jelas, malam mengenang Wawan Juanda itu semoga menjadi semacam “transfer” spirit dari seorang Wawan. Yang semasa hidupnya, begitu peduli akan kekayaan tradisi, budaya Nusantara khususnya Jawa Barat. Selain musik-musik yang di luar wilayah musik-industri. Rasanya, Wawan tersenyum melihat kawan-kawannya berkumpul, mana lagi pas purnama sempurna… /dM

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found