NewsMusik

NewsMusik

Wednesday, 29 March 2017 10:05

Air

Bakal Konser di Singapura

Bagi pecinta musik bergenre elektronika tentu masih segar dalam ingatannya pada tahun 1999 silam. Kala itu pada film “The Virgin Suicides” yang menjadi film perdana Sofia Coppola, juga makin melejitkan sebuah nama lain, Air.

Adalah Nicolas Godin dan Jean-Benoit Dunckel, duo yang membentuk Air yang berasal dari Prancis pada tahun 1995 silam. Kehadiran mereka mulai menarik perhatian secara global tatkala merilis album perdananya “Moon Safari”.  

Melalui usungan genre elektronika yang dirasa cukup sensual nama duo Air ini akhirnya menjadi sudut khusus yang menarik bagi penggila musik sejenis. Di tahun-tahun mereka berkarier, tercatat sudah delapan album penuh yang mereka hasilkan. Terakhir sekali ketika di tahun 2014 duo ini melepas “Music for Museum”. Selain itu, mereka juga memiliki sejumlah kompilasi yang salah satunya baru dirilis tahun lalu lewat tajuk “Twentyears”.

Melanjutkan kiprahnya di belahan dunia lainnya, duo ini dikabarkan akan merambah dan akan menemui fansnya di Asia, khusunya di Singapura. Ini merupakan kali pertama mereka menginjakkan kakinya di negara tersebut.

02 Air IstimewaAIR (Istimewa)

Konser yang telah dikonfirmasi keabsahannya tersebut akan dilangsungkan di Esplanade Theater pada 27 Mei mendatang. Konfirmasi tersebut telah diumumkan oleh Secret Sounds Asia selaku promotor, lewat ajakan mereka... “bergabunglah dengan kami untuk sebuah malam istimewa bersama pesona Air dalam penampilan perdana mereka di Singapura.”

Bagi yang tertarik untuk segera menyaksikan konser tersebut segera saja mengunjungi APACTix.com . Tiketnya sendiri dibagi dalam empat kategori, yaitu Category 1 seharga SIN 148, Category 2 seharga SIN 128, Category 3 seharga SIN 108 dolar Singapura, dan Category 4 seharga SIN 88.  Jangan sampai kehabisan yaaa..../ Ibonk

 

Friday, 24 March 2017 09:47

Mars Met Venus

Merilis Teaser Poster 2 Film

Film terbaru yang diproduksi oleh MNC Pictures dengan judul Mars Met Venus akhirnya merilis teaser poster. Film yang sebelumnya memiliki judul  Men Are From Mars, Women Are From Where inipun resmi mengubah judulnya. Executive Producer, Affandi Abdul Rachman mengatakan bahwa berubahnya judul tersebut,  selain bisa memperjelas ke pecinta film di indonesia khususnya.

Film karya Hadrah Daeng Ratu dan dibantu oleh Toha Essa, Ferry Ardiyan (Produser),: Lukman Sardi (Creative Producer) ini, akan menjadi sebuah suguhan yang cukup unik.

Untuk pertamakalinya ada 1 cerita, di dalam 2 film, dan di release dalam waktu yang berdekatan. “Part-nya si Cewek yaitu film VENUS akan release duluan, dan film MARS atau Part-nya si Cowok akan release belakangan”, jelas Affandi lagi

Film Mars Met Venus sendiri menceritakan Kelvin (Ge Pamungkas) sebagai seorang calon arsitek yang berencana menikahi pacarnya, Mila (Pamela Bowie) adik kelasnya waktu SMA. Hubungan ini sendiri  diceritakan mulai dari cinta monyet, pedekate, jadian hingga ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.

02 Mars Met Venus IstimewaMars Met Venus (Istimewa)

Nah, dalam rangka melamar Mila, Kelvin punya ide cemerlang dan unik yakni dengan merekam perjalanan cinta mereka lewat sebuah vlog (video blog). Empat sahabat Kelvin yakni Reza, Bobby, Martin dan Steve (Cameo Project) versus dua sahabat Mila, Icha (Ria Ricis) dan Malia (Rani Ramadhany) adalah menjadi tempat curhat dan memberikan nasehat.  

Mereka semua tidak hanya membantu hubungan Kelvin dan Mila, namun juga ternyata secara  diam-diam belajar dari kisah cinta Kelvin dan Mila yang unik. Ada janji dari para pembuat film ini, bahwa lewat 2 film ini, “Mars Met Venus” mereka akan memberikan suguhan film yang menyentuh dan pesan yang membangun./Ibonk

Friday, 24 March 2017 15:24

Beauty and The Beast

Kisah Klasik Yang Tetap Bikin Baper

Film yang saat ini sedang naik daun di bioskop-bioskop tanah air ini, sejak awal tayangnya 17 Maret 2017 sampai hari ini masih cukup menyedot pengunjung. Antrian panjang bisa dilihat sejak awal kemunculan pertama kali, tidak tanggung-tanggung 4 studio menggeser film-film lainnya. Seperti yang sudah-sudah, film dongeng milik Disney memang  selalu menyita perhatian pecinta film tanah air.

Dari balik suksesnya film ini, terkabar isu yang tak sedap mewarnai kemunculan film ini. Isu LGBT yang merebak jauh sebelum film ini muncul di tanah air. Bahkan di beberapa negara Asia, sepakat menolak untuk menayangkan film ini ataupun menarik penayangannya. Munculnya isu tersebut karena ada adegan yang memunculkan pasangan terkesan Gay. Walau tak panjang dan masih banyak adegan lainnya lebih menarik untuk diperhatikan. namun memang menjadi kepikiran untuk apa adegan tersebut disertakan? Mencari popularitas instant mungkin?

Ah sudahlah, kita fokus untuk membahas mengenai filmnya saja. Adalah Belle (Emma Watson) seorang gadis cantik namun tidak disukai warga karena Belle lebih suka menyendiri dan sangat menyukai buku, Seperti biasa, di balik sosok gadis yang cantik tentu saja ada seorang pria yang tertarik dengan kepribadian Belle.  Gaston (Luke Evans), pria tampan yang disukai banyak wanita yang tak hanya suka tapi terobsesi untuk menjadikan Belle sebagai istrinya. Namun semuanya yang dimiliki Gaston tidak membuat Belle tertarik.

Belle mempunyai seorang ayah, Maurice (Kevin Kline) yang pergi keluar kota dan tiba-tiba menghilang di hutan. Belle yang khawatir dengan keselamatan ayahnya mencari ke hutan dan  menemukan sang ayah yang ternyata menjadi tawanan Beast. Ia dikurung di kastil di tengah hutan. Belle yang sangat mencintai ayahnya bersikeras menggantikan posisinya. Dari sinilah Belle menemukan sosok Beast (Dan Stevens) yang awalnya adalah seorang pangeran tampan dan berubah karena kutukan seorang penyihir.

02 Beauty And The Beast IstimewaBeauty And The Beast (Istimewa)

Seperti kisah sebelumnya, bahwa satu-satunya yang bisa melenyapkan kutukan tersebut adalah cinta sejati. Namun apabila kelopak mawar terakhir yang disimpan Beast gugur, maka kutukan tersebut akan menjadi permanen.

Jika dibandingkan dengan film Beauty and The Beast versi sebelumnya, tetap menampakkan kesamaan dalam segi cerita. Namun yang membedakan adalah balutan musik dan disajikan lebih manis. Munculnya beberapa karakter seperti perabot yang terdiri dari lampu lilin Lumiere (Ewan McGregor), jam meja Cogsworth (Ian McKellen), teko Mrs. Potts (Emma Thompson), lemari baju (Audra McDonald), piano (Stanley Tucci), dan lainnya yang berusaha membuat keduanya dekat. Tujuannya agar sang pangeran dan mereka bisa kembali menjadi manusia seperti sebelumnya.

Alur cerita sedikit berbeda ketika menampilkan adegan dimana Belle diajak ketempat yang tak pernah disangkanya. Beast memperbolehkan Belle masuk ke perpustakaannya. Ia juga diberikan buku sihir yang bisa mengirim seseorang apabila menyentuh buku tersebut ketempat yang diinginkan. Ataupun cermin ajaib agar bisa melihat Beast kapanpun dia mau.

Masing-masing aktor di film ini bermain secara maksimal, Emma Watson yang sebetulnya sedikit kurang pas memerankan tokoh Belle karena wajahnya yang kekanakan mampu menampilkan akting yang tidak mengecewakan. Tak hanya berakting, Emma juga menyanyikan beberapa lagu.

Karakter Beast juga ditampilkan sedikit berbeda dari karakter Beast sebelumnya yang terkesan menyeramkan. Siluet wajah Stevens sedikit menambah manis dan berhasil mencuri perhatian. Sang sutradara Bill Condon, rasanya pintar bagaimana cara membuat kagum dengan menampilkan keindahan visual  di film ini.

03 Beauty And The Beast IstimewaBeauty And The Beast (Istimewa)

Effek CGI yang ditampilkan pun cukup halus, dimana karakteristik dari perabotan yang hidup terlihat cukup membantu film ini. Mereka dapat berbicara dan bernyanyi layaknya manusia. Lagu yang ditampilkan disini selain dinyanyikan sendiri oleh masing-masiing karakter juga merupakan lagu lama yang di daur ulang dari film animasi sebelumnya.

Beberapa judul lagu yang mengisi film ini antara lain, ‘Something There’, ‘How Does A Moment Last Forever (Montmartre)’, ‘Beauty and the Beast’, ‘Evermore’, ‘To Be Our Guest’ yang dinyanyikan sendiri oleh masing-masing karakternya. Dari awal kemunculan film ini memang menampilkan adegan musikal, visual efek yang memukau ditambah dengan mere-mark lagu-lagu nostalgia membuat film ini lebih modern dari film klasik Disney lainnya. / YDhew

 


Wednesday, 22 March 2017 16:09

Film Kartini

Melly Goeslaw & Hanung Bramantyo
Berhati-Hati Kala Menulis Lirik dan Cerita

Ada yang lain ketika menyaksikan peluncuran resmi Official Trailer, Soundtrack dan Website film Kartini di XXI Club Djakarta Theater 21/3/17 kemarin. Salah satunya adalah single soundtrack yang diberi judul ‘Memang Kenapa Bila Aku Perempuan?’. Lagu dengan judul yang lugas dan memiliki banyak arti ini diciptakan oleh Anto Hoed, dan seperti biasa liriknya ditulis serta dibawakan oleh sang istri, si "ratu soundtrack" Melly Goeslaw.

Untuk project single-nya kali ini Melly memang mempersiapkan diri secara matang. Selain memang sengaja menunjuk Gita Gutawa sebagai teman duetnya, lagu yang sudah diluncurkan pada pertangahan bulan Maret lalu ini diakui Melly memiliki treatment yang berbeda. Ia mengakui bahwa ini merupakan tantangan tersendiri., apalagi ini untuk sebuah film besar, tentang seorang pejuang wanita Indonesia.

"Tokohnya real dan sangat dicintai lndonesia bahkan dikenal dunia. Saya jadi sangat berhati-hati sekali dalam menulis liriknya. Biasanya saya bisa cukup dengan menghayal saja. Tapi untuk film ini terpaksa banyak tukar pikiran sama semua yang terlibat di penggarapan film," tutur Melly.

Film Kartini ini merupakan karya terbaru dari sutradara kenamaan Indonesia, Hanung Bramantyo. Untuk film ini, sama dengan Melly, Hanung mencoba melakukan pendekatan berbeda dengan film-film lain yang dibuatnya. Meskipun sebenarnya ia telah beberapa kali menyutradarai film berlatar belakang sejarah/ film periodik, serta film biografi.

02 Hanung Bramantyo IstimewaHanung Bramantyo (Istimewa)

“Ini adalah film pertama saya yang bertema tentang pahlawan perempuan. Kenapa saya tertarik untuk membuat film ini? Karena saya juga melihat bahwa secara pasar, penonton film Indonesia, dan juga di belahan dunia lainnya, lebih banyak didominasi oleh perempuan. Maka tentunya cerita perempuan juga selayaknya dikedepankan. Saya orang yang banyak hutang budi kepada perempuan, terutama orang-orang yang dekat di kehidupan saya.”

Sebagai sutradara, ia juga mau tak mau menyelami kehidupan Kartini lewat banyaknya referensi pustaka dan memutuskan untuk membuat film ini dari sudut pandang yang mungkin banyak belum diketahui orang banyak.

Mengalirkan cerita agar penonton belajar dari film ini bukan karena petuah-petuahnya, tetapi dari bagaimana sikap dan aksi Kartini lewat penafsiran kembali tokoh tersebut. Film ini sendiri akan hadir di bioskop-bioskop di seluruh indonesia, mulai 19 April 2017, tepat di minggu perayaan Hari Kartini. / Ibonk

Wednesday, 22 March 2017 17:05

Tribute to The Rollies

 ... dan The Rollies pun Bangkit Kembali

Siapa yang tak paham dengan The Rollies? Band terkemuka yang mengusung jazz, rock, pop, soul funk asal Indonesia yang dibentuk di Bandung pada tahun 1967 silam. Walau dihiasi dengan naik turunnya performa, namun secara menyeluruh, mereka cukup lama menikmati masa kejayaan dari era 60-an sampai dengan akhir 90-an. Lewat para personelnya antara lain Bangun Sugito (vokal), Delly Joko Arifin (keyboards/vokal), Teungku Zulian Iskandar (saxophone), Benny Likumahuwa (trombon), Bonny Nurdaya (gitar), Oetje F Tekol (bass), Jimmy Manoppo (drum), Didit Maruto (Trumpet) dan juga pendiri dan mantan personelnya almarhum Deddy Stanzah ataupun Iwan Krisnawan.

Nah, kejayaan super group inilah yang kembali dihadirkan di Hard Rock Cafe Jakarta, Senin (20/3) malam kemarin oleh para penyanyi dan pemusik yang tergabung dalam Indonesia Kita (IKi). Lewat acara regular I Like Monday, ruangan cafe yang cukup luas tersebut akhirnya terasa sesak oleh tamu-tamu yang datang. Tak hanya itu, nuansa tahun 70-90an seperti benar-benar bisa dihadirkan lewat sajian musik The Rollies.

Baik penyanyi maupun para pemusik berusaha tampil total baik dalam vokal maupun aksi panggung, Sontak membuat penonton yang rata-rata berusia 50-an tahun ikut larut dalam suasana riang. Contohnya saja, siapa sangka jika tidak menyaksikan sendiri politikus Ali Mochtar Ngabalin, mantan model Ratih Sanggarwati yang kini berhijab, ataupun Dekan Fakultas Komunikasi UI yang juga dikenal sebagai pengamat Effendy Gazali ikut terbawa suasana yang ada.

Seperti yang dikutip dari penjelasan Ali Mochtar yang mengatakan bahwa dirinya sangat mengpresiasi IKi dengan program regularnya ini. “Musik itu dinamis dan menjadi inspirasi bagi yang hidup. Musik juga bebas dari nilai, netral dari semua kepentingan-kepentingan apapun. Karena musik itu mengukir nurani, mengukir jiwa, sehingga setiap orang melihat musik itu sebagai bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan,” ungkapnya.

 02 Ariyo Wahab IstimewaAriyo Wahab (Foto: Istimewa)

Effendy Gazali juga mengaku pertama kali datang ke Hard Rock Cafe, setelah tiga kali diajak tetapi tidak pernah mau. “Ada tiga hal yang membuat saya enjoy. Ini pertama kali saya datang setelah tiga kali diajak. Kedua, benar-benar lebih dari apa yang saya harapkan. Terutama karena begitu banyak living legend berkumpul, terus merayakan keindonesiaan dengan berbagai cara, terutama dengan musik kita. Yang ketiga saya bayangkan IKi ini tiba-tiba akan muncul di New York, di Tokyo, di Melbourne, lalu ada orang-orang menyanyi dan mengatakan kami juga IKi. Itu baru gerakan yang luar biasa,” kata Effendy.

Tidak seperti acara yang sama pada waktu lalu, acara malam ini menjadi penampilan IKi yang terbaik. Seluruh meja di Hard Rock Café terisi penuh. Flow dan ritme acara mampu membangun suasana. Lewat trik dengan menghadirkan beberapa penyanyi yang  membawakan lagu-lagu The Rollies yang sudah dikenal penggemarnya, tetapi tidak tergolong hit. Juga beberapa lagu dalam tempo cepat terus dibawakan oleh bebarapa penyanyi secara bergantian, diantaranya lagu berjudul ‘Problemaku’ oleh Fierza Tuffa. Lalu Ariyo Wahab yang tampil lewat gerakan-gerakan ala Gito Rollies ketika membawakan lagu ‘Nona’.

Panggung juga diisi lewat 2 sesi yang berbeda. Pertama panggung diisi oleh darah muda seperti Damon Koeswoyo (gitar) dan Rama Moektio (drum) dengan penyanyi Tommy Eksentrik, dan dua nama sebelumnya diatas. Pada sesi kedua deretan pemusik 2 generasi seperti  Donny Suhendra (gitar), Krisna Parmeswara (keyboard), Rival Pallo Himran (bass) dan Budhy Haryono (drum) tampil mengiringi Renny Djajoesman, Memes, Ermy Kullit, Bangkit Sanjaya dan Jelly Tobing.

Alunan vokal Renny lewat ‘Burung Kecil’ ataupun tampilan penyanyi jazz senior Ermy Kullit dengan lagu ‘Bimbi’ benar-benar membius. Klimaksnya ketika Jelly Tobing lewat karakter suara yang mirip vocal Delly Rollies. Jelly Tobing benar-benar mampu “menghadirkan” The Rollies di Hard Rock Café.

 03 Ermy Kullit IstimewaErmy Kullit (Foto: Istimewa)

 Membuka penampilannya, Jelly lebih memilih membawakan penggalan lagu ‘Kebyar Kebyar’ ciptaan almarhum Gombloh. Ketika membawakan lagu ‘Dansa Yo Dansa’, ia mengajak pengunjung untuk berjoget. Ajakan Jelly Tobing mendapat sambutan antusias, sehingga hampir semua pengunjung Hard Rock Cafe malam itu bangun dari kursinya, dan berdansa mengikuti lagu yang dibawakan Jelly. Pukul 23.00 pertunjukkan berakhir, tanpa seorang pun pengunjung yang meninggalkan tempat sebelumnya.

Lagu-lagu yang telah melalui proses aransemen ulang itu ternyata tidak berpengaruh bagi telinga pengunjung. Dalam hal tertentu, justru membuat lagu terasa lebih dinamis dan cocok untuk pertunjukan langsung. Semua yang hadir terasa sangat menikmati betul setiap syair yang terlantun. dan hantaran melodi yang indah. Everyone are happy.. The Rollies is never die...../ Ibonk

 

 

 

 

 

Friday, 17 March 2017 06:44

OM PMR

Tak Pernah Gengsi Mengusung Musik Parodi

Nyleneh, mudah diingat, dan sering bikin cengar cengir sendiri dengar lirik lagunya, simak saja lirik lagu “Neng.. ayok neng.. kita main pacar-pacaran” atau “Yang hujaan turun lagi, angkatin jemuran yang engkau cuci…”. Itulah sekelumit lirik lagu dari ‘Judul-judulan’ dan ‘Antara Cinta Dan Dusta’ ini sampai sekarang fasih  dinyanyikan anak muda beda zaman dari mereka.

Pada Rabu (15/3) NewsMusik berkesempatan mendatangi acara peluncuran single yang terbarunya ‘Too Long To Be Alone’ yang merupakan plesetan dari lagu Kunto Aji ‘Terlalu Lama Sendiri’ di bilangan  Jakarta Selatan. Tiba di acara, band yang dari penampilan terkesan garang namun bergenre orkes komedi ini di gawangi oleh Johnny Madu Mati Kutu (vokal), Boedi Padoekone (gitar), Yuri Mahippai (mandolin), Imma Maranaan (bass), Ajie Ceti Bahadur Syah (perkusi) dan Harri Muke Kapur (kendang) tampak berbaur dengan pengunjung yang datang. Sesekali terdengar canda dan tawa dari mereka, seakan tak ada jarak dengan penggemarnya.

Aksi panggung mereka yang kocak tidak mudah dilupakan begitu saja. Lihat saja Jhony, yang sampai sekarang tetap setia dengan senjatanya alat musik berupa sisir berlapis plastik seperti harmonika yang diberi nama harmonisir.  Lalu Harry Muka Kaphour sering belingsatan di antara penonton, dan aksinya memukul kendang yang terkadang membuat orang tertawa.

Hampir 40 tahun perjalanan karir mereka di dunia musik tanah air, lagu yang mereka bawakan tak lekang oleh waktu. Perjalanan karir band ini tak lepas dari ikut andilnya almarhum Kasino, yang kala itu mencari band pengiring untuk group band mereka. Almarhum Kasino, jugalah yang memberi nama Pengantar Minum Racun (PMR), dan sekaligus memberi nama masing-masing personilnya dengan nama yang berbau India dan terus digunakan sampai sekarang. Sejak saat itu nama mereka mulai dikenal, hampir satu tahun OM PMR jalan bareng bersama Warkop Prambors dan melakukan pertunjukan keliling Indonesia.

02 OM PMR YDhewOM PMR (foto: YDew)

Mengusung tema komedi, band yang awalnya dibentuk tahun 1977 dari sekelompok anak muda yang berasal dari sekolah yang sama mulai memisahkan diri dari Warkop. Di Tahun 1987 band ini selain menampilkan lagu “Judul-Judulan”, dalam album debut OM PMR yang dirilis MSC Record ini juga memparodikan banyak lagu-lagu hits baik pop maupun dangdut seperti ‘Antara Cinta dan Dusta’, ‘Bintangku Bintangmu’, ‘Istilah Cinta’ hingga ‘Gubuk Derita’ serta ‘Pergi Tanpa Pesan’ yang sempat dipopulerkan oleh  Ellya Khadam. Sejak saat itu mereka berhasil dan meraup sukses besar.

Sejak tahun 1987 dan sampai era tahun 90-an, OM PMR tercatat sudah menelurkan 15 album yang rata-rata memparodikan lagu-lagu yang tengah hits kala itu. Sampai sekarang mereka tetap konsisten dengan genre yang mereka bawakan.  “Saya selalu ingat akan pesan almarhum agar tidak usah neko-neko untuk tetap mempertahankan dan tetap berdiri diatas genre komedi seperti ini. Tidak perlu gengsi” jelas Harri kepada NewsMusik.

Ditanya mengenai resep rahasia mereka hingga langgeng dan tetap konsisten dengan tidak ada pergantian personil dari awal, Harri menjelaskan bahwa tidak adanya kecemburuan sosial diantara mereka. Juga selalu bertindak dibawah bendera PMR. Dalam menciptakan lagupun mereka selalu berembuk dan mendiskusikan bersama-sama.

Selain aksi panggung yang membius penonton dengan aksi kocaknya, dan lagu yang dibawakan diambil dari lagu orang lain, namun lirik yang mereka ciptakan bukan sembarangan mereka buat. Terkadang ide muncul dari kejadian yang terjadi saat itu, misalnya saja lagu ‘Antara Cinta dan Dusta’ dan ‘Malam Jumat Kliwon’ yang terinspirasi dari tragedi kereta api Bintaro pada waktu itu.

Cara mereka menciptakan suatu lirik cukup unik, berawal membaca syair aslinya baru kemudian mencari lirik/ syair yang pantas untuk lagu tersebut, baru kemudian musiknya. “Kebiasaan PMR sebelum merekam lagu, kita bawakan lagu tersebut untuk ngamen kira-kira suka atau tidak orang mendengarnya,” jelas Johnny

Band yang sebelumnya bernama Orkes Melayu Kurang Gizi ini sempat vakum merilis lagu, karena memang tidak mudah memplesetkan atau menemukan lirik lagu yang pas. Usia mereka yang tidak muda lagi, namun aksi panggung dan musikalitas mereka sampai saat ini masih energik. Celetukan dan kegilaan mereka di atas panggung hampir tidak berubah.

03 OM PMR YDhewOM PMR (foto: YDew)

Di era tahun 80-an sempat muncul beberapa kelompok musik Orkes Moral yang mengikuti jejak mereka, namun tidak ada yang bertahan lama dan tidak terdengar gaungnya sampai sekarang.  Rasanya terlalu panjang kalau membahas debut band yang dijuluki “Raja Lagu Parodi” ini, hibernasi mereka yang cukup lama dari mulai lintas generasi sampai lintas genre mereka lakukan. Sebut saja lagu ‘Orkeslah Kalau Bergitar’ sampai memplesetkan lagu dari group rock Seringai ‘Mengadili Persepsi’ semuanya diubah dengan lirik yang bernuansa humor dan jenaka.

Bisa dibilang bahwa merekalah yang menyatukan musik dangdut dengan genre lainnya, sehingga orang yang awalnya anti dengan musik dangdut mulai melirik dan bahkan menjadi fans terberat mereka yang sampai sekarang mendapat selalu mendapat sambutan yang hangat.

Disinggung mengenai penjualan single mereka yang baru saja dirilis dengan kondisi musik tanah air saat ini mereka menjawab “Bodo amat mau laku atau ngganya, yang penting karya kita bisa menghibur pencita musik tanah air. Itu aja”, tutup Johnny. Orkeslah kalau begitu om, kita tunggu karya selanjutnya berupa album baru./ YDhew

 

Friday, 17 March 2017 06:36

Giring

Politik Dan Musik

Saat ini dirinya cukup tertarik dengan dunia politik dan akhirnya membuat Giring Ganesha yang awalnya kuliah dibidang studi politik berencana melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda 12 tahun. “Saya sudah masuk, cuma mau lanjutin. Udah 12 tahun cuti,” katanya saat ditemui di acara Asus ZenCreator di kawasan Gunawarman, Jakarta Selatan, Rabu 15 Maret 2017.

Giring mengatakan kalau dirinya bukan mengejar gelar doang, Ia ingin mendapat pengalaman yang hanya bisa didapat jika kembali ke kampus sebagai mahasiswa. “Mungkin beberapa tahun lalu saya bilang bahwa pendidikan, gelar enggak pentinglah. Tapi ternyata begitu sampai sini, bukan masalah gelarnya, tapi pengalaman. Semakin kita belajar semakin tahu hal baru. Gelar mah, santailah,” ujar Giring.

Giring yang saat ini, rajin dan gemar memperhatikan perkembangan politik di Tanah Air. “Saya lagi hobi menganalisa politik, menganalisa strategi ini itu”, ucapnya. Lantas apa tanggapan teman-teman Nidji? Mungkikah Giring meninggalkan band yang telah membesarkan namanya? “Enggak lah, (kemungkinan vakum) enggak tau deh. Cuma mereka juga sudah mengerti kok,” katanya.

Meski belum yakin terhadap keputusannya nanti, Giring tetap mendorong para personil lain yakni Rama, Randy, Adri, Ariel dan Adro terus total dalam menggarap album terbaru Nidji. “Makanya ini adalah salah satu album terbaik yang kita buat, karena dari mulai aransemen, sound, pendewasaan, tema dan keberanian kita dalam mencoba hal-hal baru. Terus kita juga beruntung banget dapat berkolaborasi dengan musisi-musisi hebat seperti. Guruh Soekarno Putra, Tulus, Petra Sihombing, Ryan D’Masiv, dan Pongky,” ucap Giring

02 Giring Ganesha RizalGiring Ganesha (Foto: Rizal)

“Album ini cukup lama digarap, sampai lima tahun dan produsernya ada banyak seperti. drummer Barasuara, Markol, Opung Simanjuntak dan produsernya Tulus,”kata Giring. “Proses pembuatan album ini memang agak beda dari album yang sudah-sudah”.

Proses untuk pembuatan satu lagu bisa dikulik sampai satu hingga dua tahun dari mulai tambah layer merubah lirik. Terus ada satu lagu malah kita bikin dengan waktu singkat, karena request untuk soundtrack filmnya Raditya Dika. Jadi bisa didenger tuh mana yang kerjanya buru-buru sama yang kerjanya benar-benar detail. Total lagu dalam album ini ada sebelas lagu,” kata Giring.

Giring yang hadir dalam acara ZenCreator Notebook Produk Asus sempat berkometar mengenai kelebihan-kelebihan Zenbook. Ia mengatakan udeh punya dua Asus untuk menemaninya berkarya dan berinpirasi dalam bidang musik dan kreatif lainnya”, ujar Giring./Rizal

 

Wednesday, 15 March 2017 15:14

Beady Belle

Perpaduan Acid, Funk, Soul dan Disco

Tampil sederhana dengan kaos oblong warna hitam di Festival Java Jazz 2017 lalu, band yang berasal dari Oslo, Norwegia ini digawangi oleh Beate S. Lech (vokal dan composer), Marius Reksjø (Bass) dan Erik Holm (drum). Dibentuk tahun 1999, Beate yang bersama-sama dengan Marius belajar musik di kampus yang sama, University of Oslo. Kerap bermain musik dan tampil bersama. Beate dan Marius yang menjadi sepasang kekasih akhirnya menikah setelah beberapa tahun bermain musik bersama.

Dari awal kemunculannya musik yang mereka mainkan kerap memanfaatkan ketukan upbeat dan downbeat akar elektronik dengan sentuhan denting piano, susunan string yang manis serta harmonisasi vokal. Tak jarang mereka juga menonjolkan beberapa elemen-elemen dari genre berbeda yang mereka tampilkan. Mengusung jazz dan acid-jazz, band ini kerap memadukan elemen-elemen musik soul, funk dan disco, terkadang sedih, murung, menggoda atau bisa tiba-tiba riang.

Vokal yang dimiliki oleh Beate yang unik kerap membuat decak kagum para pendengar dan penikmat musiknya. Satu hal dalam penampilan, ada salah satu unsur yang selalu ada dan total ditampilkan, yaitu penjiwaannya dalam setiap membawakan lagu-lagunya. Perpaduan acoustic antara bass, drum dan sentuhan electronik ditambah vokal yang sensual menjadi lebih mudah dicerna baik harmoni dan liriknya. Terkadang sentuhan folk lebih terasa di dengar.

Tampil di Java Jazz kemarin NewsMusik melihat bahwa mereka menampilkan kualitas suara yang konsisten dan disiplin dalam penampilan serta pemilihan musiknya. Hal ini dilihat dari begitu lamanya mereka setting sound agar benar-benar prima pada saat mereka tampil. Dan memang benar, sewaktu tampil harmonisasi ketiganya dalam memainkan sebuah lagu terdengar sempurna, ditambah dengan penampilan yang penuh penjiwaan dan juga terkadang sang vokalis sampai meliuk-liukan badannya mengikuti irama.

02 Beady Belle Band YDhewBeady Belle Band (foto: YDhew)

Dalam perjalanannya, bernaung di label Jazzland Recording dari awal karier sudah menelurkan sebanyak 7 album, diantaranya: “Home”, “Cewbeagappic”, “Closer”, “Belvedere”, “At Welding Bridge”, “Cricklewood Broadway”, dan “Songs From a Decade” . Diantara album yang mereka keluarkan selalu mendapat respon bagus dari para kritikus musik jazz.

“Home” yang dirilis tahun 2001 dikeluarkan di seluruh Eropa dan juga di Jepang, Korea dan Kanada. Kemudian juga di Australia. Sejak saat itu Beady Belle diberikan penghargaan oleh Universal International sebagai band European Priority dan dari situ Beady Belle melakukan perjalanan ke seluruh dunia  untuk pertunjukan musik mereka.

Album “Cewbeagappic” dirilis tahun 2002, album ini muncul sebagai upaya untuk mendeskripsikan musik Beady Belle yang komplit tapi mudah, hitam dan putih, dengan sentuhan acoustic dan groovy dengan improvisasi yang lebih teratur.

Di album yang ke-3, “Closer” dirilis tahun 2005, Beate dan Marius semakin menyempurnakan kreatifitas mereka. Suara bass yang lebih tajam dan lebih jelas dan mencoba untuk membuat sebuah album yang lebih mudah lagi dipahami sehingga lebih dekat dengan penggemarnya. Selain dalam hal musik para anggota band juga  mengalami sejumlah perubahan, hal ini disebabkan karena Beate menjadi seorang ibu  yang sedikit banyak mempengaruhi album terbarunya. Perubahan besar lainnya adalah bertambahnya anggota band baru, dengan masuknya  Erik Holm sebagai drummer.


03 Beady Belle Band YDhewBeady Belle Band (foto: YDhew)

Karier internasionalnya berawal sejak menjadi band pembuka pada tour Jammie Cullum di tahun 2005 yang pada waktu itu mengadakan tur di Eropa. Pertemuan itu akhirnya membawa band Beady Belle muncul di beberapa konser di Jerman, Prancis, Norwegia, Swedia dan Denmark.

Ditengah menikmati dukungan dan dorongan dari beberapa musisi dan seniman internasional, pada tahun 2006 mereka berkolaborasi dengan India Arie dan berduet funky dengan single ‘Self-Fulfilling’ yang ada di album keempat Beady Belle “Belvedere”. Single pertamanya menampilkan Jammie Cullum dengan judul ‘ Intermission Music’

Di album ke-lima “At Welding Bridge” yang dirilis tahun 2010 bulan September, merupakan perpaduan atau penjelasan antara tiga album pertama, dan sisi lain pada album ke empat. Di album ini musik yang ditampilkan kebanyakan memasukan unsure musik country dengan melihat dari negara asalnya, dengan menambahkan gaya jazz murni terkini dengan getaran yang lebih smooth dan keren.

Lagu dari band ini cukup dikenal juga di Indonesia seperti ‘Marbels’, ‘Almost’, ‘Incompatible’, ‘Ghosts’, ‘Castle’, ‘Closer’ dan ‘One and Only’, seperti yang dibawakan di Java Jazz lalu. Dalam perjalanannya bermusik, band ini selalu menghasilkan musik yang berbeda, berevolusi dengan menambah elemen dan unsur baru, dan perlahan menciptakan sebuah karya musik yang semakin solid dan percaya diri namun tetap konsisten sampai sekarang./ YDhew

 

Wednesday, 15 March 2017 14:50

Aprofi

Upaya Mengatasi Pembajakan Film

Fenomena pembajakan dengan tujuan untuk mengejar popularitas saat ini sudan cukup meresahkan, apalagi muncul beberapa media sosial seperti bigolive, instagram story, snapchat, dan sejenisnya yang tanpa sengaja terkadang mengupdate film atau karya lainnya di media sosial tersebut.

Meski pembajakan bukan lagi menjadi hal baru di Indonesia, seiring dengan perkembangan zaman dan juga era digital yang semakin bertransformasi, terkadang sangat sulit untuk  memantau hal tersebut.

Pada tanggal 13 Maret 2017, Direktorat Penyidikan dan Penyelesaian sengketa telah melakukan rekomendasi penutupan situs sebanyak 324 situs baik lagu maupun film. Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) yang peduli terhadap hal tersebut, pada tahun ini sudah kali keempat melakukan pelaporan 176  situs website yang melanggar hak cipta kepada Kementrian Hukum dan Ham, untuk melakukan pemblokiran dan penutupan akses 85 situs illegal. APROVI juga memantau beberapa situs yang masih menggunakan hak cipta orang lain.

“Tujuannya adalah agar bisa memberikan kesempatan kepada situs-situs yang legal yang saat ini bermunculan untuk tumbuh secara bisnis, jelas Fauzan Zidni, Ketua Umum Aprofi  dalam jumpa pers di Kota Kasablanka, Selasa (14/3).

Aprovi bekerjasama dengan Motion Pictures Association (MPA), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Cinema XXI, CGV dan Cinemaxx membuat iklan anti pembajakan film sebagai bentuk sosialisasi pentingnya menghargai hak kekayaan intelektual yang akan diputar dibioskop-bioskop dan di sosial media.

02 Chico Jerricho YDhewChico Jerricho (foto: YDhew)

“Iklan ini akan menjadi program tahunan kami dengan menggunakan IP milik produser anggota Aprovi. Untuk pertama kali, kami menggunakan tema dari film Filosofi Kopi dengan bintang Chicco Jerikho, Bebeto dan Tyo Pakusadewo. Semoga inisiatif ini bisa memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembajakan.“ jelas Angga Sasongko sutradara muda yang juga sebagai salah satu pengurus.

"Konten yang disebar lewat jalur medsos mungkin penyebar tidak akan mengurangi komersil, tapi nilai film. Kami ingin memberikan informasi ke penonton itu juga salah," tambahnya lagi.

Populernya situs-situs penyedia konten bajakan perlu diwaspadai oleh pengguna internet. Hasil riset Massey University menujukan situs ilegal meraup keuntungan besar lewat pemasangan iklan beresiko tinggi, yaitu 84% dari total iklan. Perinciannya adalah 75% berasal dari iklan judi, 5,6% iklan aplikasi komputer berbahaya, 8,87% iklan penipuan, dan sisanya iklan pornografi.

Beberapa waktu lalu Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya menangkap Merlina Adiah yang menyiarkan film Me vs Mami milik MNC Pictures lewat akun bigolive-nya. Merlina dijerat dengan pasal 32 dan 48 UU ITE dan pasal 113 UU Hak Cipta dengan ancaman hukuman sembilan tahun.

Semoga saja upaya ini sudah benar-benar terlaksana bukan hanya sekedar angin lalu saja, mengingat lesunya pasar musik Indonesia juga dipengaruhi oleh pembajakan yang dari dahulu sampai sekarangpun masih bisa kita lihat.

"Dengan adanya pasal pelanggaran, semoga pembajak makin sadar dan bisa beralih mengapresiasi karya yang orisinil," tutup Chicco./ YDhew

 


Friday, 10 March 2017 17:27

Ungu

Kembalinya Pasha

Dua dekade sudah Ungu berkarya di dunia musik Indonesia, band yang digawangi Pasha, Enda, Rowman, Makki dan Onci ini sempat dilanda kabar miring akan kepergian Pasha. Seperti di ketahui, sejak Pasha memilih terjun ke bidang politik sebagai Wakil Walikota Palu, band ini sempat vakum selama satu tahun. Ketiadaan sang vokalis Pasha sangat memberi dampak bagi  band yang mengusung genre pop, pop rock dan slow rock walaupun mereka berdalih vakumnya sebagai istirahat mereka.

Menjawab semua pertanyaan yang diajukan padanya, Pasha menuturkan bahwa sebelumnya sudah menjadi kesepakatan mereka untuk istirahat dari hiruk pikuknya dunia musik tanah air. Sempat timbul masalah secara internal, namun pada akhirnya mereka sepakat untuk terus berkarya.

Sejak didirikan tahun 1996 band ini telah melahirkan 12 album yang lagu-lagunya pernah menjadi hits dan bisa diterima penikmat musik Indonesia, diantaranya seperti ‘Bayang Semu’, ‘Demi Waktu’, ‘Tercipta Untukmu’, ‘Kekasih Gelap’, ‘Hampa’, ‘Sejauh Mungkin’, ‘Andai Ku Tahu’, ‘Tanpa Hadirmu’ dan banyak lagi.

Sampai saat ini band ini masih mampu menunjukkan eksistensinya bermusik, hingga ke negara tetangga. Popularitas Ungu pun sudah sangat dikenal seperti di Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Berbagai penghargaanpun  kerap diterima dan membawa mereka sebagai salah satu band papan atas tanah air.

Diakui oleh Pasha bahwa ada kekesalan yang melanda dirinya karena di cap sebagai orang yang terjun ke dunia politik hanya bermodalkan background-nya sebagai seorang penyanyi dan artis. Hal ini membuatnya  berfikir untuk berhenti bernyanyi, bahkan diminta sebagai bintang tamu di acara apapun tetap tidak mau bernyanyi.

02 Pasha YDhewPasha (foto: YDew)

Saat isi bubar mendera, band ini membuktikan bahwa mereka tetap bertahan dan tak berhenti berkarya. Lewat sebuah rilisan album yang berjudul “Mozaik” di tahun 2014, Enda sebagai gitaris sekaligus pencipta lagu sempat mengeluarkan single baru yang berjudul ‘Tanpa Hadirmu’, tanpa kehadiran Pasha sebagai vokalis

“Kalau mungkin  ada single yang kita keluarkan tanpa Pasha, itu menjaga agar band ini sebetulnya ada kerjaan aja. Kan nggak enak kalau kita nganggur-nganggur gitu. Tapi Intinya Ungu ya tetap berlima”, ungkap Enda.

Kembalinya Ungu dengan formasi lengkap ini, bertepatan dengan Hari Musik Nasional yang dirayakan tanggal 9 Maret kemarin, Ungu pertama kalinya membuka tahun 2017 ini dengan merilis single terbaru yang berjudul  ‘Setengah Gila’ dengan nuansa pop balada.

“Setelah hampir 1 tahun Ungu mencoba mecari sesuatu yang lain dari yang biasa kami lakukan. Akhirnya kami memutuskan untuk memulai kembali debut dari Ungu versi 2017 dengan new song dan new album”, tutur Pasha.

Single terbaru inipun terasa special dikarenakan video klipnya dilakukan di Palu, Pasha yang tidak pernah terpikir akan mengambil lokasi di Palu, sangat berterima kasih sekali lagu ini mengambil lokasi shooting di sana dan menjadi  suatu penghargaan bagi masyarakat kota Palu.

Terkait dengan hari Musik Nasional, dengan banyaknya aksi pembajakan yang terjadi saat ini Pasha berharap sebagai musisi memberi himbauan kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan musik dan karya musisi Indonesia. "Buat kita musisi ini sangat penting. Siapapun yang duduk di Kementrian terkait harus bertindak. Jangan sampai negara Indonesia tidak perhatian terhadap musik Indonesia sendiri. Musik Indonesia selayaknya bahasa juga harus dipertahankan dari gerusan budaya asing,” tutup Pasha./ YDhew

 


Page 10 of 114