NewsMusik

NewsMusik

Thursday, 14 December 2017 15:45

OM Pengantar Minum Racun

Menatap Segar Lewat Manajemen Modern

Siapa yang tak kenal kumpulan pemusik satu ini, Orkes Moral Pengantar Minum Racun yang sudah berdiri sejak tahun 1977 silam. Siapa sangka orkes humor yang diisi oleh Jhonny Iskandar (Johnny Madu Mati Kutu), Boedi Padukone, Yuri Mahippal, Imma Maranaan, Ajie Cetti Bahadur Syah, dan Harri Muke Kapur masih terus tetap eksis sampai saat ini.

Orkes yang menolak tua tersebut, dipenghujung tahun 2017 ini mengadakan syukuran 40 tahun eksistensi mereka di dunia hiburan tanah air, tepatnya pada  28 Oktober 2017 silam. Walaupun tidak muda lagi, OM PMR memiliki niat untuk kembali berkarya di tahun depan dengan mengeluarkan beberapa single dan mengisi tournya di beberapa kota. Terlebih lagi mereka mengusung tema kampanye anti hoak dan lingkungan hidup.

Disamping itu, selain memang mengabarkan keinginan mereka untuk kembali berkarya secara serius, OM PMR juga mengabarkan bahwa mereka sudah beralih manajemen. Apa pasal? Diakui oleh Johhny Iskandar bahwa selama 4 tahun belakangan mereka hampir dipastikan tidak dikelola dengan baik. Baik dalam hal pengaturan acara maupun keuangan yang tidak transparan.

Awalnya mereka tidak memikirkan hal tersebut, apalagi kalau ditilik lagi kebelakang, background mereka yang murni musisi/ seniman. Masih berkesempatan menghibur dan berkarya saja sudah menjadi obat mujarab untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun belakangan kisruh tersebut makin menjadi, dan memicu mereka hengkang mencari manajemen lain.

02 Johnny Madu Mati Kutu Ibonk

Jhonny Iskandar alias Johnny Madu Mati Kutu (Foto: Ibonk)

Akhirnya, seperti jodoh, OM PMR berlabuh ke dalam sebuah manajemen asuhan Glenn Fredly. "Kami hanya ingin lebih baik lagi ke depannya dan juga mencari suasana baru, " ungkap Boedi Padukoene di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Kamis (14/12).

Glenn sendiri tertarik untuk mengambil alih manajemen mereka karena menganggap bahwa PMR masih sangat berpotensi. Di usianya saat ini orkes ini masih mampu berkarya dan lagu-lagunya  masih mampu memikat hati anak muda zaman sekarang. Bolehlah diperhatikan, tak ada gigs mereka yang pernah sepi. Selalu ramai dipadati oleh anak-anak generasi sekarang dari berbagai macam genre, dari melayu, dangdut sampai anak rock semua berkumpul.

Lagu-lagu humor mereka seakan tak termakan oleh zaman. Semua cukup hapal single-single mereka seperti ‘Judul-judulan’, ‘Bintangku Bintangmu’, ataupun ‘Antara Cinta dan Dusta’ dan lain-lain. Belum lagi lagu-lagu terbaru ketika mereka kembali lagi setelah berhibernasi cukup lama dengan meng-cover lagu ‘Posesif’ milik Naif, ‘Topan’ dan selanjutnya lagu milik Kunto Aji ‘Terlalu Lama Sendiri’ yang diganti judul ‘Too Long To Be Alone’.
 
"Saya ingin membantu mereka dalam hal manajemennya yang dikemas secara modern dan terbuka dari sisi finance sehingga dapat terkelola dengan baik," papar Glenn. Sejumlah rencana sudah disiapkan Glenn untuk OM PMR. Mulai dari album, tur hingga buku tentang perjalanan OM PMR. / Ibonk

Sunday, 10 December 2017 15:31

Imaculata Autism Boarding School

Pentas Seni dan Pertunjukan Musik Anak Berkebutuhan Khusus

Imaculata Autism Boarding School bekerjasama dengan Tata Production menggelar acara Seminar, Pentas Seni dan Teater Kisah Nyata Keluarga Penyandang Autis dengan tema "Kirim Aku Malaikat-Mu Tuhan...". Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk mendidik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) supaya hidup mandiri di masa depan sesuai dengan kelebihan yang di milikinya dan mengajak para pendidik dan orang tua untuk menterapkan program tepat guna dan tepat sasaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Pentas seni yang diadakan di Aruba Room, The Kasablanka - Mall Kota Kasablanka ini di selenggarakan hari Sabtu (9/12) lalu. Acara ini dimeriahkan oleh penampilan musik kolaborasi antara orang tua dan murid, tarian, theatrikal dan fashion show yang pesertanya adalah anak-anak berkebutuhan khusus. “Melalui pentas seni ini kami akan ‘tular’ kan pola didik yang bisa di adopsi oleh semua keluarga yang di anugerahi anak berkebutuhan khusus,” ujar Pimpinan Imaculata Autism Boarding School Dr. Imaculata Umiyati, S.Pd, M.Si.

Stigma negatif yang berkembang di masyarakat mengenai anak autis tidak sepenuhnya benar. Dr. Imaculata yang akrab dipanggil dengan bunda Ima ini mengatakan bahwa dengan pola pendidikan yang benar dan orang tua mengerti apa yang dibutuhkannya, anak berkebutuhan khusus ini mempunyai kemampuan yang tak kalah dengan anak lainnya.

Ini dibuktikan dengan adanya acara ini membuka mata kita semua bahwa sebenarnya mereka mampu mengerjakan apa yang bisa dikerjakan anak normal lainnya. Seperti kemunculan Senior Band Imaculata yang digawangi oleh anak penyandang autis, Adhit (Gitar), Alan (Drum), Mario (Keyboard) dan Ozzy (Vokalis), mereka membawakan tiga buah lagu yang dibawakan dengan cukup baik.

02 Pentas Seni

Penampilan dalam acara Pentas Seni dan Pertunjukan Musik Anak Berkebutuhan Khusus (Foto: Nad)

Lagu pertama ‘Bangun Pemudi Pemuda’, ‘Oh Tak Mungkin’, dan ‘Hidup Adalah Kesempatan’ (Kolaborasi antara Senior Band dan para orang tua murid) disambut dengan tepukan tangan penonton yang ikut bernyanyi bersama-sama.

Selain pentas seni acara ini juga diadakan pemberian penghargaan kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, DIP. APLING, MA., atas dedikasi serta perhatiannya terhadap Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Penghargaan juga diberikan kepada Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, atas dedikasi serta kepeduliannya terhadap anak-anak.

Selain kepada mereka, penghargaan juga diberikan kepada aktris senior Christine Hakim sebagai pemerhati anak-anak berkebutuhan khusus serta kepada Sarwendah, artis yang juga mantan personel Cherrybelle. Istri Ruben Onsu itu dianugerahi penghargaan sebagai sosok Ibu Sejati./ Nad

Friday, 08 December 2017 07:46

Java Jive

Rilis  Lagu Lawas ‘Dansa Yo Dansa’

Di usianya yang menginjak 25 tahun, Java Jive, band asal kota Bandung kembali berkarya dengan merilis single terbaru yang bertajuk ‘Dansa Yo Dansa’. Band yang digawangi oleh Capung (gitar), Dany Spreet (Vocal), Edwin Saleh (Drums), Faturachman (Vocal), Noey Jeje (Bass) & Tonny Ellyson (Keyboards) ini telah merilis 8 album dan beberapa single selama berkiprah di industri musik Indonesia.

Lagu Dansa Yo Dansa merupakan ciptaan legenda musik Indonesia Titiek Puspa yang saat ini sudah berusia 80 tahun. Lagu yang dipopulerkan oleh The Rollies kemudian di cover ulang  dan dinyanyikan kembali oleh Java Jive dan menjadi single terbarunya saat ini.

Ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (4/12) lalu, Java Jive menceritakan alasan mereka menyanyikan ulang lagu tersebut. “Kami selama ini selalu menulis lagu yang bertema percintaan atau sejenisnya, belum punya hits yang upbeat, jujur kita merasa kesulitan membuat lagu seperti itu. Sekaligus juga kita ingin mengapresiasi dan mengabadikan lagu tersebut selama 30 tahun ke depan untuk generasi berikutnya,” tutur Dany Spreet.

Lagu karangan Titiek Puspa ini sudah dinikmati hampir 30 tahun lalu, namun sampai sekarang masih enak untuk didengar. Tak hanya mengaransemen ulang lagu ini, Java Jive pun mengajak seorang musisis kondang tanah air yang baru-baru ini mendapat penghargaan “Lifetime Achievement AMI Award 2017”, Fariz RM.

02 Titiek Puspa Fatur Nad

Titiek Puspa & Fatur (Foto: Nad)

Fariz RM yang sekaligus juga merupakan musisi yang merupakan idola Java Jive dan juga musisi yang menginspirasi karya-karya dari group band ini. Ditemui di tempat yang sama, Fariz RM mengatakan  bahwa dirinya sangat mendukung hal ini, menurutnya semangat seperti ini yang mungkin sangat di perlukan di industri musik Indonesia saat ini.

“Coba lihat WR. Supratman, dulu beliau merupakan pejuang anti ras dan anti kolonialisme dengan lagu-lagunya dan band yang dibentuknya, sejauh itu sudah ada yang seperti itu. Tapi mungkin yang perlu dikedepankan adalah bahwa seniman belum diakui di bidang negara dan mungkin perjuangan-perjuangan seperti inilah yang bisa lebih berarti saat ini. Dalam kolaborasi seperti ini, lintas generasi merupakan suatu pembuktian yang bagus untuk mendorong dalam merubah keadaaan bahwa seniman merupakan salah satu bagian dari negara,“  tutur Fariz panjang lebar.

Ia juga berkomentar terhadap kolaborasi seperti ini, yang menunjukkan pemusik bukan hanya memikirkan karyanya sendiri tetapi juga melihat hubungan dimana musisi berada dan berperan. “Saya selalu percaya regenerasi, saya selalu percaya dengan lintas generasi, Pemusik menyuarakan pikiran dan hatinya. Makin berarti ketika pikiran dan lintas antar generaai bisa bersatu dalam karya.  Itu luar biasa, bersyukur saya masih ada di tengah2,” ujarnya sambil tertawa.

Di lagu ini Fariz RM mengisi beberapa part vocal dan keyboard sehingga lagu ‘Dansa Yo Dansa’ menjadi lebih berwarna dan menjadi lagu yang danceable namun tidak merubah ciri khas musik Java Jive. “Kita tidak menghilangkan warna Java Jive, dan tetap mengakomodir musik-musik yang menjadi musik awal tumbuh kita di tahun 80an. Terasa sekali singkup-singkupnya. Kalau yang musikal pasti tahu, musik ini era kapan dan musik ini Java Jive atau bukan,” ujar Fatur.

03 Titiek Puspa Nad

Titiek Puspa (Foto: Nad)

Titiek Puspa sebagai pencipta lagu merasa sangat bahagia lagunya menjadi single terbaru darri band yang di gandrungi di era tahun 80-an ini. “Jadi saya tidak tahu belakangan ini diberi kebahagiaan yang luar biasa. Saya melihat musisi di Indonesia itu sangat luar biasa dari yang paling kecil sampai anak-anak, saya bangga sekali bahwa Tuhan memberikan karunianya sence of art untuk anak-anak bangsa Indonesia. Itu sangat luar biasa, saya sangat hormat dan saya sangat bangga”, ungkapnya
   
Java jive menuturkan bahwa lagu ini diluar ekspektasi mereka, dimana lintas generasi dan kolaborasi bisa dilakukani. Pernah mengalami  naik turun sebagai band yang digadrungi anak muda kala itu dan sempat mengalami star syndrome. Momen ini menjadi saat yang tepat buat mereka untuk menikmati kembali masa-masa mereka dahulu sekaligus.

Selain peluncuran kali ini Java Jive juga akan menyelenggarakan konser 9 Desember 2017 nanti yang bertajuk “An Intimate Night With Java Jive”. Acara yang diselenggarakan di Titan Center, Bintaro ini sekaligus merilis sigle terbarunya ‘Dansa Yo Dansa’./ Nad

Thursday, 07 December 2017 01:50

Tiket Band

Come Back dengan Album Istimewa

Muncul pada tahun 1999 dengan mengusung genre pop dan rock dan telah menghasilkan beberapa  album. Tiket yang awalnya dimotori oleh Aqi Singgih (Vocal), Arden Wiebowo (Guitar), Teguh Diswanto (Guitar), Opet Alatas (Bass) dan Brian Kresna Putro (Drum) pada tahun 2001 melepas debut album mereka bertajuk “Tiket” dan memunculkan hits ‘Abadilah’,  ‘Hai Bintang’ dan ‘Cinta Yang Lain’. Band yang kerap gonta ganti anggota ini tercatat melepas 6 album sampai tahun 2010. Lepas merilis single ‘Kamu Pilihanku’  di tahun 2015, band ini hilang, seakan tenggelam ditelan bumi.

Namun, di penghujung November 2017, Tiket band mencoba kembali mewarnai musik tanah air dengan mengeluarkan album terbaru mereka yang bertajuk “Istimewa”. Sebuah album yang dirasa begitu khusus baik bagi Tiket maupun penggemarnya.

Mereka menghadirkan beberapa lagu baru dan lama yang telah di aransemen ulang. Dari dua belas track tercatat lagu-lagu terdahulu seperti ‘Hanya Kamu Yang Bisa’, ‘Abadilah’, ‘Biar Cinta Menyatukan Kita’ coba mereka sejajarkan dengan karya terbaru lewat judul ‘Tak Sempurna’, ‘Cinta Tak Pernah Terlambat’,  ‘Tertusuk Hatiku’, ‘Tak Penting Lagi’, ‘Mati Rasa’, ‘Hilang’, ‘Masih Ada Aku’, dan ‘Istimewa’.

Tiket saat ini digawangi oleh Opet Alatas (bass), Zidni Hakim (vocal), Egie Riyadi (guitar) dan Kiki Akbar (keyboard). Adalah Opet Alatas yang menjadi satu-satunya pendiri band ini yang masih bertahan. Zidni Hakim merupakan vokalis anyar multi talenta yang direkrut sekitar 2 tahun lalu melalui proses audisi,  sedangkan Egie Riyadi dan Kiki Akbar bergabung beberapa tahun lalu.    

02 Tiket Nad

Tiket (Foto: Nad)

Dalam album anyarnya ini, mereka melakukan mastering di Abbey Road Studios. Disini mereka dibantu oleh mastering engineer, Andy Walter yang juga pernah menangani langsung album-album band dunia seperti U2, Blur, The Cure, dan lain-lain.

Sebagai lagu pilihan yang dijagokan, Tiket menempatkan lagu ‘Tak Sempurna’ menjadi single pertamanya. Lagu yang bercerita tentang ketidaksempurnaan seorang pria yang dinilai oleh wanitanya. Tapi si pria ini selalu meyakinkan kepada wanitanya bahwa dia adalah yang terbaik. Video klip lagu ini dibuat di Singapura saat Tiket menjalani tour dinegara tersebut beberapa waktu yang lalu. Terasa istimewa karena video klip ini disutradarai oleh Egie Riyadi dan Kiki Akbar.

Ini adalah rangkuman perjalanan Tiket selama ini, melewati tantangan yang akhirnya menumbuhkan kedewasaaan dan kematangan band ini yang pernah duduk di posisi terbaik. Album ini juga diharapkan dapat menjadi obat rindu para Fanatiket, penggemar Tiket dan mengisi khazanah blantika musik Indonesia./ Nad

Wednesday, 06 December 2017 01:36

Direct Action

Gandeng Brianna Simorangkir

Beberapa waktu lalu, Duo Math Rock, Direct Action yang beranggotakan Joseph  Saryuf dan Tyo Nugros kembali merilis single terbarunya di bawah naungan Sinjitos Records. Singlenya kali ini, duo tersebut berkolaborasi dengan Brianna Simorangkir,  penyanyi perempuan, penulis lagu, artis dan aktivis berdarah blasteran Batak – Australia.

Pertemuan mereka terjadi pada dipertengahan tahun ini sekitar bulan Juli 2017. Kelanjutan dari hasil pertemuan tersebut terciptalah satu lagu berjudul ‘(i)’. Sebuah lagu yang menceritakan seorang perempuan yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok laki-laki yang ternyata adalah Fallen Angel.
 
Sekedar flashback, Direct Action pertama kali terbentuk dalam format DJ set pada 2009 silam oleh Joseph "Iyub" Saryuf (Santamonica, Sugarstar) dan Sulung Koesuma (C"mon Lennon, Sugarstar). Mereka memainkan versi remix dari lagu-lagu kepunyaan Bayu Risa, The Brandals, dan lain-lain.

02 Direct Action Istimewa

Direct Action (Foto: Istimewa)

Empat tahun berjalan, Iyub mengubah jalur musik Direct Action menjadi lebih rock. Mereka sempat merilis lagu bebas unduh berjudul “ The Chills” lewat halaman Soundcloud. Atas persamaan visi dan misi dalam bermusik, Iyub mengajak Tyo Nugros (eks drummer Dewa19) pada 2016 untuk mengisi posisi drum sedangkan Sulung menjabat sebagai Art Director.

Pemilihan untuk berkolaborasi dengan Brianna karena memiliki karakter suara yang unik. Penampilan Brianna sendiri pun disulap menjadi lebih edgy pada video musik lagu ‘(i)’ lewat style serba hitam dan model rambut bob berwarna silver . Video musik ini merupakan hasil besutan sutradara M. Rizki Aditya.
 
Mengambil konsep Industrial bernuansa monokromatik, Direct Action dan M Rizki Aditya berusaha  secara visual menggunakan berbagai efek visual glitch dan potongan gambar superimposed yang menggambarkan lapisan musik kompleks dari grup musik Math-Rock ini. Kolaborasi perdana ini, menjadi sebuah langkah awal dari Direct Action yang berencana akan terus berkolaborasi dengan berbagai pemusik dari tanah air maupun mancanegara./ Nad

Wednesday, 06 December 2017 07:03

Satu Hari Nanti

Menyasar Segmen 21 Tahun Keatas

Ada yang menarik ketika menyaksikan film “Satu Hari Nanti” yang menjadi garapan Salman Aristo, Dienan Silmy selaku produser dari Evergreen Pictures, yang bekerjasama dengan Rumah Film. Bagaimana tidak? Film ini cukup jumawa mengambil latar belakang dan syuting di negara Swiss selama puluhan hari, serta cerita dan adegan yang tak lazim ditampilkan di layar bioskop tanah air.

Mengangkat kisah kehidupan, kegelisahan anak-anak muda Indonesia yang hidup di luar negeri dan tengah membangun komitmen di Swiss, baik dalam cinta, keluarga, maupun pekerjaan. Merangkum cerita perjalanan hidup Deva Mahendra (Bima) seorang musisi dan pencipta lagu. Adinia Wirasti (Alya) seorang siswa yang cerdas. Kemudian ada Ringgo Agus (Din) sebagai seorang pemandu wisata dan Ayushita (Chorina) sebagai seorang manajer hotel.

Rasa takut dan waspada berada di negeri orang lain menjadi modal Bima dan Alya untuk mengandalkan dan bertahan satu sama lain. Namun, tepat pada perayaan hari jadi Bima dan Alya jalan cerita mereka berubah, ketika sepasang kekasih yang tidak lain adalah sahabat mereka yaitu Din dan Chorina datang.

Jauh di luar alam sadar mereka, ada sesuatu yang menarik bagi Bima atas kehadiran Chorina, Begitu juga dengan Alya yang merasakan perbedaan ketika Din datang dan menjadi penyemangat dalam hidupnya yang selama ini ia tak pernah rasakan bersama Bima. Sampai pada akhirnya mereka saling selingkuh, saling berusaha bahagia, dan saling menyakiti. Hingga mereka dihadapkan dengan pilihan yang mengharuskan mereka melewati proses belajar, berani, dan menjadi lebih dewasa.

02 Satu Hari Nanti Istimewa

Adegan Film Satu Hari Nanti (Foto: Istimewa)

Begitulah cerita yang sebenarnya cukup sederhana, tapi menjadi berat karena dibumbui efek kekecewaan akan runtuhnya komitmen satu dengan lainnya. Belum lagi adegan intim yang kerap kita jumpai di scene film-film produksi Hollywood, yang cukuplah membawa kita larut dalam cerita.

Film yang proses produksinya, 99 persen dikerjakan di Swiss ini menampilkan kota-kota yang memanjakan mata penonton. Bisa kita lihat kota-kota cantik  seperti Thun, sebuah kota kecil yang memiliki danau yang indah dengan kastil tua dan sungai kecil yang bisa menjawab sejarah kota ini. Lalu ada Interlaken berada di antara dua danau besar, yakni danau Brienz dan Danau Thun.

Ada pula resort Jungfraujoch yang terletak di antara Puncak Jungfrau dan Puncak Monch yang masih merupakan bagian dari pegunungan Alpen. Rumah-rumah khas di Brienz juga menjadi latar belakang sempurna. Arsitektur rumahnya memang khas karena merupakan warisan budaya tradisional Swiss.

Film yang menyasar penonton 21 tahun ke atas ini terasa sekali memperlihatkan adegan-adegan yang cukup intim. Hubungan bebas Alya dan Bima serta Chorina dan Din benar-benar dieksplor habis dan oleh sang sutradara, Salman Aristo. Menurutnya ini adalah sebuah bingkai jujur melihat keadaan sebenarnya di alam nyata. Namun apakah sanggup untuk menafikan anggapan bahwa film ini seperti jauh dari ajaran agama dan adab ketimuran?

03 Satu Hari Nanti Istimewa

Adegan Film Satu Hari Nanti (Foto: Istimewa)

Film yang juga didukung oleh aktor kawakan Donny Damara yang berperan sebagai ayah Alya ini sebelum juga telah melakukan riset yang dalam. Diyakini oleh Salman, bahwa pasar penonton film di 16 kota besar di nusantara ada di range usia 21-35, berada di posisi kedua setelah usia 18-25. Perbedaan yang hanya 2% tersebut dianggap memiliki pasar yang sangat besar sekali.

Ada anggapan tidak harus takut kehilangan penonton dengan batasan usia yang cukup tinggi tersebut. “Kalau kita membuat agar bisa disasar segmen remaja, filmnya jadi nanggung. Makanya kita garap pasar dewasa ini, bicara betul-betul tentang mereka, jangan terpancing untuk meleset,” tutur Salman.

Jadi tinggal kita tunggu animo penonton terhadap film ini, dan akankah tren film nasional akan berubah kembali ke segmen dewasa? Biarlah penonton yang atur./ Ibonk

Tuesday, 05 December 2017 02:52

5 Cowok Jagoan

Jagoan Konyol dan Serangan Zombie

Romantisme masa lalu, bisa menjadi sebuah semangat baru bagi generasi penerus sebuah dinasti. Seperti yang terjadi dan melatarbelakangi penciptaan sebuah film “5 Cowok Jagoan” memiliki semangat dua generasi antara Danu-Anggy Umbara dan Raam-Amrit Punjabi. Produksi dua generasi ini menambah sejarah panjang dalam penciptaan film ini.

Kalau kita toleh kebelakang pada era 1980 silam, ayah Anggy Umbara yakni Danu Umbara adalah seorang sutradara kenamaan, di masanya sudah bekerja sama dengan Raam Punjabi di 8 film. Mulai film mereka pertama kali yakni “Senggol-Senggolan” yang menampilkan Elvy Sukaesih, berlanjut terus ke “5 Cewek Jagoan”, “5 Cewek Jagoan Beraksi Kembali”, sampai “Perhitungan Terakhir”. “Saat itu pembuatannya dari PT Parkit Film dan di masa itu film-film Mas Danu sangat booming sekali serta menguntungkan," ulas Raam Punjabi, Produser film 5 Cowok Jagoan.

Maka untuk mengenang kerjasama dan warisan sang ayah, Anggy pun meneruskan prequel dari “5 Cewek Jagoan” yang dulunya diperankan oleh Yati Octavia, Lydia Kadou, Eva Arnaz, Dana Christina dan Debby Cynthia Dewi lewat film ini.

"Saya ingin menghidupkan film superhero yang pernah dibuat Papa saya. Film ini juga tidak hanya cara saya untuk mengapresiasi fllm-film terdahulu. Film-film kita saat ini cukup baik, namun saya ingin juga melestarikan yang lama. Saya ingin memajukan film indonesia ke depannya dengan cara belajar dari para pendahulu, belajar dari warisan-warisan papa saya," tutur Anggy.

02 5 Cowok Jagoan Istimewa

5 Cowok Jagoan (Foto: Istimewa)

Tak berbeda jauh dengan yang disampaikan Raam Punjabi, bahwa 5 Cowok Jagoan diharapkan bisa menjadi salah satu hiburan komedi dengan nuansa baru bagi penonton film indonesia. "Sebagai produser saya ingin memiliki dan menyuguhkan film yang bisa diapresiasi oleh masyarakat. Saya juga menghargai ide-ide baru yang kreatif dalam perfilman, seperti film ini, karena temanya baru acuannya bagus, komedinya cukup menghibur," ujar Raam Punjabi.


Jadi begitulah, film bergenre zombie-action-comedy merupakan kerjasama MVP Pictures dan Umbara Brothers Films dan FAM Pictures akan dilepas pada 14 Desember 2017 mendatang. Menampilkan wajah-wajah yang taka sing di jagat perfilman nasional seperti Dedi (Dwi Sasono), Yanto (Ario Bayu), Lilo (Muhakdly Acho), Danu (Arifin Putra) dan Reva (Cornello Sunny).

Ditilik dari ceritanya sebenarnya cukup sederhana sekali, dimulai dari usaha Yanto yang berprofesi sebagai cleaning service untuk menyelamatkan gebetannya seorang ilmuwan cantik bernama Dewi (Tika Bravani). Dewi diculik oleh segerombolan penjahat karena penemuan yang menghebohkan dunia.

Petualanganpun dimulai dengan mengumpulkan teman-teman masa kecilnya. Usaha mereka yang telah separuh jalan menuju ke markas penjahat akhirnya mempertemukan mereka dengan seorang cewek jagoan bernama Debby (Nirina Zubir). Petualangan aksi konyol gila yang penuh dengan baku hantam dan desingan pelurupun mereka hadapi. Belum lagi kemunculan zombie yang memang menjadi menu utama film ini semakin memperpanjang jalannya cerita.

03 Nirina Zubir sebagai Debby Istimewa

Nirina Zubir sebagai Debby (Foto: Istimewa)

Secara keseluruhan adegan-adegan kocak dan aksi menegangkan dalam film berdurasi 110 menit ini cukuplah membawa kita sedikit tergelak. Patut diacungi jempol make up total yang dilakukan kepada pemain dan juga kepada zombie-zombie yang berkeliaran. Namun terasa kurang maksimal di efek-efek CGI dan detail yang disuguhkan. Masih jauh seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Sementara untuk adegan perkelahian yang menampilkan Nirina Zubir dan Tika Brivani bolehlah diberi pujian. Yang patut diapresiasi lagi adalah keberanian mengambil lagu ‘Poco-Poco’ yang telah diaransir ulang dengan menampilkan Saykoji sebagai pelantun soundtrack film ini./ Ibonk

Monday, 04 December 2017 05:57

Chrisye

Untold Story sang Legenda

Lengkap sudah pertanyaan di dalam hati apa dan bagaimana isi cerita dari film biopik tentang penyanyi legendaris Indonesia, Chrismansyah Rahadi atau yang lebih dikenal dengan nama Chrisye. Keberadaannya sebagai salah satu musisi legendaris Tanah Air memang tak lekang dimakan zaman, bahkan sejak ia harus berpulang pada 30 Maret 2007 lalu.

Sosok Chrisye yang diperankan oleh aktor Vino G. Bastian memang seakan membuka kisah yang terjadi semasa mendiang hidup. Vino yang mengaku bahwa film ini memiliki kesulitan tersendiri, terutama karena film ini ingin mengangkat sosok Chrisye yang tak banyak diketahui publik. Ya, karena film ini sendiri bersandar dari sudut pandang seorang Damayanti Noor yang diperankan oleh Velove Vexia.

Seperti yang diakui Yanti, Chrisye adalah sosok musisi yang didampinginya selama 25 tahun masa pernikahan. Cerita ini diambil dari sudut pandangnya sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anak Chrisye. Jadi karena sudut pandang itulah, cerita ini tidak terlalu banyak menyentuh dunia karir seorang Chrisye “Jadi saya memang bercerita tentang kesehariannya, Chrisye yang berproses secara spiritualnya, Chrisye yang berproses karena lagunya berpengaruh,” ungkap Yanti .

Karena itulah harus dimaklumi, banyak hal dari film ini masih terkesan tidak lengkap. Apalagi banyak sekali sosok ataupun kelompok-kelompok yang notabene sangat kuat menopang dan mempengaruhi perjalanan karir seorang Chrisye tidak tampak dalam film ini, bahkan disebutkanpun tidak. Tapi sudahlah, tak perlu dipertanyakan lagi karena memang film ini sudah mulai tayang di bioskop tanah air sejak medio Desember  2017.
    
02 Ferry Mursyidan Baldan dan Pemain pada saat Nobar Film Chrisye bersama K2C IbonkFerry Mursyidan Baldan & Pemain pada saat Nobar Film Chrisye bersama K2C (foto: Ibonk)

Diluar film ini, ada sebuah pendapat menarik yang dilontarkan seorang Ferry Mursyidan Baldan yang benar-benar adalah fans fanatik Chrisye. Ia menyarankan fans untuk menonton, karena banyak hal yang tidak terungkap ditunjukkan di film ini sisi lain dari sosok seorang Chrisye. Ia sangat kagum bagaimana saat Chrisye memutuskan untuk berkarir di musik tapi tidak disetujui sang ayah yang ingin anaknya meneruskan kuliah. Namun Chrisye punya cara yang santun untuk menunjukan pilihan hidupnya.

Begitu juga ketika sudah berkeluarga. Meskipun sudah menjadi bintang, Chrisye tetap bertindak sebagai seorang kepala keluarga, tak gengsi untuk menggantikan popok anaknya dan tetap ikut membersihkan rumah dan kamar mandi. “ Juga kegelisahannya ketika anak-anak ternyata tidak begitu paham dengan pekerjaan ayahnya sebagai musisi,” papar Ferry.

 “Termasuk bagaimana kegelisahan seorang Chrisye ingin lagunya bermanfaat buat orang banyak dan itu ditemukan lewat lagu yang syairnya begitu menyentuh hati kita, yang ditulis penyair Taufik Ismail, berjudul ‘Ketika Tangan dan Kaki Bicara’,” ucap Ferry.

Secara keseluruhan film ini bagus dan Vino G. Bastian cocok menokohkan sosok Chrisye. “Cuma lagu yang ditampilkan di film Chrisye saya merasa kurang banyak ya. Maklumlah nama fans Chrisye maunya di film ini banyak lagu-lagunya,” ungkap Ferry.

Film Chrisye sendiri dibuka dengan setting di sebuah pesta ulang tahun dan berlanjut ketika ia mendapatkan tawaran untuk bermain di New York tahun 1973 selama setahun. Keputusan yang tidak mudah, karena selain tidak disetujui orangtua, juga harus meninggalkan bangku kuliah. Lalu bergulir lagi momen-momen terpenting dalam hidupnya, yakni kala sang adik dikabarkan meninggal dunia, dan sekembalinya dari New York.

03 Adegan Film Chrisye IstimewaAdegan Film Chrisye (Istimewa)

Secara sadar ia menemukan minat dan bakatnya lebih menggebu-gebu lagi dalam dunia musik. Ia sangat ingin tampil berkarya secara orisinil dan berjuang membuktikan bahwa bermusik memang pilihan hidupnya.

Pencarian jati diri Chrisye terus berlanjut. Dekat secara khusus dengan Damayanti Noor, menjadi Mualaf dan akhirnya menikah. Setelah berkeluarga membuka cakrawala baru Chrisye dalam memandang hidup, tapi juga menambah kegelisahan baru. Meskipun Chrisye sudah menjadi penyanyi hebat, dia merasa khawatir tidak bisa menafkahi keluarganya hanya dengan kemampuan bernyanyi hingga Chrisye sempat memutuskan untuk berhenti menyanyi.

Kegelisahan demi kegelisahan membawa Chrisye ke dalam perjalanan spiritual yang panjang. Pencarian tentang makna hidup inilah yang mendasari Chrisye dalam menciptakan lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” yang liriknya ditulis oleh Taufik Ismail. Saat itulah, Chrisye benar-benar menemukan titik balik dalam kehidupan dan karir musiknya.

Judul film: Chrisye, Jenis Film : Drama, Durasi : 110 menit, Produser : Rissa Putri, Pasha Chrismansyah, Setioro S, Rini Noor,Sutradara : Rizal Mantovani, Penulis : Alim Sudio, Produksi : MNC Pictures, Pemain: Vino G. Bastian, Velove Vexia, Ray Sahetapy, Andi Arsyil, Dwi Sasono, Fendy Chow, Ayu Dyah./ Ibonk

 

Friday, 01 December 2017 03:10

Djakarta Warehouse Project 2017

Segera Hadir di Pertengahan Desember

Festival musik dance Djakarta Warehouse Project (DWP) 2017 merilis lineup harian musisi-musisi internasionalnya melalui Konferensi Pers yang digelar pada hari Rabu, 29 November 2017 di Blowfish, Jakarta. Festival musik gelaran Ismaya Live tersebut akan digelar pada tanggal 15 & 16 Desember di JIEXPO Kemayoran, Jakarta.

DWP 2017 tetap mengajak para partygoers untuk lebih berani dalam membuat keputusan melalui kampanye #gueDECIDE. Sebagai pesta akbar di penghujung tahun, Newland.id sebagai penyelenggara mengajak para partygoers untuk bersenang-senang bersama serta menjadi lebih berani untuk mengambil keputusan di tahun yang akan datang.

Sebagai informasi, pada hari pertama, Jumat tanggal 15 Desember, DWP 2017 akan menampilkan Cesqeaux, David Gravell, Flume (DJ set), Ilan Bluestone, Marshmello, NWYR, Ookay, Purple Haze, R3HAB, Robin Schulz, Slander, Tiesto, Vini Vici, Zatox, dan Zeds Dead. Esoknya di hari kedua akan menghadirkan Bassjackers, Desiigner, DVBBS, Flosstradamus, Galantis, Hardwell, Loco Dice, Richie Hawtin, dan Steve Aoki.

Hari kedua ini DWP 2017 akan dibuat lebih meriah dengan kehadiran special stage dari touring concept asal Barcelona bernama Elrow. Dengan konsep khasnya, Elrow akan membawa tema ‘Psychedelic Trip’ lengkap dengan dekorasi dan tata produksi spektakuler yang telah berhasil ditampilkan di TomorrowLand bulan Juli lalu. Kehadiran Elrow di DWP 2017 akan menjadi kali pertama Elrow membawa konsepnya ke benua Asia.

02 DWP2017 Istimewa

Djakarta Warehouse Project 2017 (Foto: Istimewa)

Tahun ini, DWP untuk pertama kalinya juga akan menampilkan genre hip hop dengan dibawanya rapper asal Amerika Serikat Desiigner dan rapper-rapper Asia dari kolektif 88rising yaitu Rich Chigga, Higher Brothers, Keith Ape, dan Joji.

Selain musisi-musisi internasional, sederet musisi-musisi regional dan Indonesia juga akan memeriahkan DWP 2017. Musisi-musisi regional dan Indonesia yang akan tampil di DWP 2017 adalah Andre Dunant, Chelina Manuhutu, Devarra, DJ L, Yaksa, Jade Rasif, Junior Kyle, Kingchain, March Maya, Moe, Ray Ray, Toni Varga, Tony Romera, w.W, Fun On A Weekend, Hizkia, Iyal Noor, Patricia Schuldtz, Stan, Yesterday Afternoon Boys, MC Bam, MC Drwe, Flicker Screen, Isha Hening, dan RPTV.

“Panggung utama DWP yaitu Garudha Land juga akan bertransformasi menjadi lebih futuristik dan lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Experience DWP tahun ini akan lebih meriah dan refreshing,” kata Sarah Deshita selaku Assistant Brand Manager Ismaya Live.

Untuk yang berminat dan ingin mendapatkan informasi secara detail dapat berkunjung ke situs resmi www.djakartawarehouse.com dan ticket box partner resmi DWP 2017 yang terdaftar di www.djakartawarehouse.com/ticket. Tahun lalu, DWP berhasil menjadi festival musik dance dua hari terbesar di benua Asia dengan angka penonton sebanyak 90,000 orang selama 2 hari dari 37 negara di seluruh dunia./ Ibonk

Saturday, 02 December 2017 02:17

Ita Purnamasari

Buku & Konser Penanda 3 Dekade Berkarir

Waktu terus saja berlari tanpa pernah menoleh sedikitpun kebelakang. Tanpa terasa, banyak sudah yang terjadi dan semuanya hanya bisa dihadirkan dalam ingatan. Semua manusia merasakan itu dan tak terkecuali seorang Ita Purnamasari. Namun ia tidak mau semua rekam jejaknya selama perjalanan karirnya hanya diingat oleh segelintir orang atau malah hilang begitu saja tanpa bekas.

Untuk itulah, menandai perjalanannya selama 30 tahun berkarya di ranah musik Indonesia, Ita akhirnya dapat menuntas satu keinginannya yakni merilis buku biografi berjudul “Satu Ita 3 Cinta”. Dalam buku ini, Ita menceritakan secara detail perjalanan karirnya sebagai penyanyi profesional.

Lewat buku ini, penyanyi asal Surabaya itu ingin berbagi pengalaman kepada anak-anak muda, khususnya, mereka yang terjun di industri musik Indonesia. "Saya sengaja menuliskan semua hal dibuku ini mulai dari awal karir saya. Saya mau bagi kisah ini dan tentunya bertepatan dengan hari spesial bagi saya. Dan saya mau berbagi ke anak-anak muda juga," kata Ita Purnamasari di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Kamis (30/11).

Hal yang sama juga dilontarkan oleh Dwiki Dharmawan, suami Ita Purnamasari, bahwa buku yang dituliskan oleh istrinya tersebut sangatlah menarik untuk dibaca. Pasalnya, perjalanan karir istrinya itu dinilai bisa menginspirasi masyarakat luas. "Buku yang jujur, cukup memberikan inspirasi dalam kehidupan lain dan terutama bagi Ita Purnamasari sebagai istri, ibu dan penyanyi. Paling menarik ya ini curhatan yang jujur, positif dan semoga jadi inspirasi bagi khalayak ramai," ungkapnya.

02 Jumpa Pers Peluncuran Buku & Konser 3 Dekade Ita Purnamasari IbonkJumpa Pers Peluncuran Buku & Konser 3 Dekade Ita Purnamasari (foto: Ibonk)

NewsMusik juga coba menyelami apa yang tertera dibuku karya Ita Purnamasari ini dirasa cukup lengkap. Apalagi sebagai awam dalam hal penulisan, Ita mampu menumpahkan apa yang terjadi pada dirinya pada masa-masa awalnya berkarir sampai saat ini, juga tak luput perhatiannya terhadap keluarganya, ataupun karir lainnya. Pola bertutur yang disampaikannya seakan-akan Ita menceritakan langsung kepada kita yang membacanya. Apalagi disertai dengan foto-foto sebagai penanda yang makin melengkapi buku ini.

Ibu dari Muhammad Fernanda Dharmawan ini memang banyak sekali menuliskan pengalaman menariknya, terutama ketika dia membangun karir di industri musik Tanah Air. Ini merupakan bentuk dedikasi, eksistensi dan rasa syukurnya karena telah diberikan karir yang baik, keluarga dan orang-orang disekelilingnya yang mendukung setiap langkahnya.

Bentuk lain penanda 30 tahun perjalanan karirnya di industri musik Indonesia, Ita juga akan menggelar konser bertajuk “3 Dekade Ita Purnamasari” pada tanggal 8 Desember 2017 mendatang di Balai Sarbini, Jakarta.

Rencananya panggung konsernya nanti akan digarap dengan sentuhan era 80-90an, dan melibatkan penari latar dari Studio 26 pimpinan Atiek Ganda di beberapa lagu. Lewat sentuhan Dwiki Dharmawan yang bertindak sebagai music director, lagu-lagu yang disajikan akan menjadi Iagu-Iagu berkemasan baru yang bakal memperkaya konser ini nantinya.

03 Ikang Fawzi IbonkIkang Fawzi (foto: Ibonk)

Sebagai senior dan juga sahabat, Ikang Fawzi yang juga hadir di acara peluncuran buku tersebut  mengaku sangat senang melihat Ita bisa merilis buku dan akan mengadakan konser penanda 3 dekade Ita berada di industri musik tanah air. Bagi Ikang, Ita merupakan penyanyi wanita yang tak pernah putus asa, sudah mengalami jatuh bangun di industri musik Indonesia.

"Berkarya selama 30 tahun itu sudah kehendak Tuhan. Ita sudah jatuh bangun, butuh perjuangan. Saya berharap dengan adanya konser ini bisa membangkitkan musik Indonesia," tutup Ikang

Rencananya, dalam konser nanti selain Ikang Fawzi juga akan dimeriahkan oleh sejumlah nama lain seperti Yana Julio, Agus Wisman, Dewi Gita, Husein Alatas, Berry Manoch 'Saint Locco', dan Ikmal Tobing./ Ibonk

04 Ita Purnamasari IbonkIta Purnamasari (foto: Ibonk)

 

Page 10 of 134