NewsMusik

NewsMusik

Thursday, 10 August 2017 11:41

Prambanan Jazz

Kombinasikan Seni, Musik dan Budaya

Tak lama lagi, hanya tinggal menghitung hari Prambanan Jazz 2017 akan segera dilangsungkan. Pesta musik berbalut nuansa jazz ini, dilangsungkan untuk ketiga kalinya dan akan diisi oleh sederetan penyanyi dan musisi ternama. Tahun ini, nama Sarah Brightman, musisi penyanyi peraih nominasi Grammy Award dan berbagai macam penghargaan tingkat dunia menjadi sorotan utama pada event kali ini.

Selama 3 hari penuh, dari tanggal 18, 19 dan 20 Agustus 2017 mendatang, pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai hal berbeda dan lebih istimewa dari tahun lalu. Pihak penyelenggara sengaja memberi beberapa kejutan seperti yang disuguhkan pada hari pertama. Pada hari ini, Prambanan Jazz menampilkan konsep “90’s Moment”, yakni semua penampil adalah artis dan musisi yang populer dan hits pada tahun 90-an.

Bayangkan saja sederetan nama tenar masa itu seperti Andre Hehanusa, Katon Bagaskara, T-Five, Base Jam, Emerald, Lingua, Ada Band, The Groove, Ipang, Shakey, Rif/ dan lainnya akan unjuk kebolehan di atas panggung masing-masing.

Tak hanya itu, beberapa line up juga merupakan nama-nama yang cukup fenomenal salah satunya adalah Shakatak. Band pengusung jazz fusion, funk asal Inggris Raya yang memulai karir mereka sejak tahun 1980 ini dan telah mengeluarkan lebih dari 35 album sepanjang karir bermusiknya, akan siap memberikan penampilan terbaiknya.

02 Sarah Brightman IstimewaSarah Brightman (Istimewa)

Sederetan artis-artis negeri ini juga sudah melakukan konfirmasi untuk menjadi penampil, diantaranya Kahitna, KLA Project, Tompi, Yovie Nuno, Syaharani, Sandy Sondoro, Saxx in the City, Yura Yunita, Shaggydog, Marcell, Rio Febrian, Kunto Aji, ataupun Payung Teduh.

Lewat tagline “Art, Music & Culture”, Prambanan Jazz sengaja mengusung salah satu deferensiasi dari konsep utama gelaran ini yakni menggabungkan 2 mahakarya, yakni Mahakarya Candi Prambanan dan Mahakarya Musik.

Tahun ini juga tetap menggunakan dua panggung utama, yaitu panggung Hanoman sebagai panggung special show yang berada di area Lapangan Brahma dan panggung Rorojonggrang sebagai panggung festival show yang berada di area Lapangan Wisnu.

Menurut Anas Syahrul Alimi, penggagas Prambanan Jazz sekaligus CEO Rajawali Indonesia Communication selaku promotor, Prambanan Jazz akan selalu menjadi sebuah suguhan alternatif konser bagi penggemar musik Indonesia dan luar negeri yang memiliki muatan lokal dan global.

Sementara itu, Bakkar Wibowo, Project Director Prambanan Jazz menyampaikan bahwa tahun ini untuk penggarapan artwork media promo Prambanan Jazz terutama untuk artis internasional kita akan menggandeng perupa Dipo Andy. Ia juga seorang perupa pop art papan atas Indonesia yang sudah beberapa kali berpameran di dalam negeri ataupun di luar negeri./ Ibonk

 

Thursday, 10 August 2017 11:16

Michael Learn To Rock

Gelar Tur Perdana di Palembang

Grup band pop Rock asal Denmark, Michael Learns to Rock (MLTR), sepertina memang tidak pernah bisa lagi untuk melepaskan diri mereka dari Indonesia. Band yang sangat identik dengan lagu-lagu cinta ini kembali akan menyambangi tanah air tepatnya di kota Palembang. Trio yang beranggotakan Jascha Richter (vokal/keyboard), Mikkel Lentz (gitar) dan Kare Wanscher (drum), akan menggelar konser perdananya di Palembang, Sumatera Selatan,  Jumat, 06 Oktober 2017 mendatang.

Mengusung tema “Romantic Love Concert”, yang bertempat di Palembang Sport & Convention Centre (PSCC). Acara ini dipersembahkan khusus untuk masyarakat Palembang dan sekitarnya ini termasuk dalam rangkaian tur “Eternal Asia Tour 2017”, yang sekaligus merupakan tur promo album terbaru MLTR bertajuk “Eternal”.

MLTR adalah grup band yang dibentuk tahun 1988 dan telah menjual lebih dari 11 juta kopi album sepanjang kiprahnya di dunia musik. Tingginya angka penjualan album mereka, MLTR pun pernah meraih penghargaan Gold Preis Award dari RSH, Jerman dan The Best Performing Act of the Year di South East Asia Grammy Awards di Singapura. Lagu mereka yang bertajuk ‘Take Me To Your Heart’ dianugerahi penghargaan “lagu yang paling banyak diunduh pada tahun 2006”, karena telah diunduh sebanyak lebih dari 6 juta unduhan berbayar.

Saat menggelar konser di Jakarta tahun lalupun, Jascha Ritcher, sang vokalis, sempat mengungkapkan bahwa Indonesia punya tempat khusus di hati MLTR. “Kami selalu bangga datang ke Indonesia. Karena Indonesia sangat berpengaruh terhadap karir kami,” imbuhnya.

02 MLTR Konser Temu Media IstimewaMLTR Konser Temu Media (Istimewa)

Tiket konser tersebut sudah dapat dibeli di ticket box lobby Hotel Aryaduta, Palembang dibuka hingga tanggal 30 September 2017 mendatang, dan dibagi beberapa kategori harga. Ticket Presale hingga 15 Agustus 2017 di bandrol mulai dari harga Rp. 350.000,- untuk kelas Festival,  Rp. 490.000,- kelas Bronze, Rp. 750.000,- kelas Silver dan Gold Rp. 990.000,-.

Sedangkan harga normal dimulai tanggal 16 Agustus 2017 dengan harga Rp. 490.000,- (festival), Rp. 750.000,- (Bronze), Rp. 990.000,- (Silver), dan Gold Rp. 1.250.000,-. Nah, tunggu apa lagi? Siapkan diri anda untuk bernostalgia dengan lagu-lagu hits mereka seperti ‘The Actor’, ‘You Took My Heart Away’, ‘25 Minutes’, ‘Paint My Love’ ataupun ‘That’s Why (You Go Away)’? Segera beli tiketnya di Book My Show dan seluruh gerai Indomaret di Indonesia./ YDhew

03 MLTR Seatplan IstimewaMLTR Seatplan (Istimewa)

 

Friday, 04 August 2017 16:25

Lola Amaria

Memperkenalkan Kembali Keindahan Labuan Bajo

Keindahan alam Labuan Bajo memang menjadi daya tarik tersendiri bagi Lola Amaria, kekagumannya terhadap Labuan Bajo membuat Lola memilih salah satu destinasi wisata tersebut sebagai lokasi syuting film “Labuhan Hati”. Labuan Bajo merupakan kawasan wisata yang terletak di Indonesia Bagian Timur yang sejak lama menjadi salah satu lokasi favorite pariwisata baik lokal maupun asing. Selain terkenal dengan hewan epidemiknya, Labuan Bajo juga terdiri dari Taman Nasional yang menawan, budaya masyarakatnya serta keindahan laut dan pantainya yang mempesona.

Kecintaannya akan traveling membuat wanita yang berusia 40 tahun ini bermaksud memperkenalkan kembali kepada masyarakat luas baik lokal maupun asing agar Labuan Bajo menjadi salah satu alternatif lokasi wisata Indonesia. Terletak di Nusa Tenggara Timur, Lola sebagai produser dan juga sutradara telah berhasil mendokumentasikan keindahan alam Labuan Bajo melalui hasil karya dari film Labuhan Hati yang berlatar belakang pemandangan Labuan Bajo.

Belum move on dari pesona Labuan Bajo, Lola juga ingin berbuat sesuatu bagi masyarakatnya yang sama sekali belum tersentuh dengan sarana hiburan seperti bioskop. Bersama Lola Amaria Production, ia akan mengadakan sebuah acara yang bertema “Labuan Bajo, Pesta Indonesia Merdeka” tanggal 18-19 Agustus 2017.

“Kami melihat masyarakat Labuan Bajo haus akan hiburan, bahkan mereka belum pernah menonton film kami yang justru syutingnya seratus persen mengambil lokasi disini. Hal inilah yang membuat kami ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat Labuan Bajo”, ujar Lola Amaria di kawasan Kemang (3/8) lalu.

02 Labuan Bajo YDhewLabuan Bajo (foto: YDhew)

“Sekaligus merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, acara ini juga akan memberikan pengalaman unik dan berkesan bagi para wisata lokal dan asing dalam menikmati keindahan alam maupun budaya di Labuan Bajo”, tambah Lola.

Acara yang diadakan dua hari ini nantinya akan menayangkan film Labuhan Hati dengan konsep layar tancap di bibir pantai. Selain menonton film acara ini juga akan menyuguhkan atraksi menarik lainnya seperti Festival Kebudayaan, Kesenian Daerah yang melibatkan UMKM, Jajanan Kuliner Lokal, Lomba Layang-Layang dan Lomba Mewarnai Sampan serta aksi penyelam dalam rangka membersihkan sampah dan atraksi dengan mengibarkan bendera merah putih di dalam laut.

Untuk memeriahkan acara, “Labuan Bajo, Pesta Indonesia Merdeka” juga akan menghadirkan para pemain Labuhan Hati, seperti Nadine Chandrawinata, Kelly Tandiono, Ully Triani, Ramon Y. Tungka sebagai host dan DJ Kana sebagai bintang tamu.

“Ini merupakan ide spontan yang akhirnya di tanggapi dengan serius. Kami berharap kedepannya tidak menutup kemungkinan akan berkembang ke daerah lain. Selain itu acara ini juga diharapkan dapat menjadi destinasi wisata bagi para wisatawan di waktu yang akan datang,” ungkap Lola.

Dengan melibatkan komunitas yang ada di Labuan Bajo, selain juga koordinasi dengan kesenian lokal, acara ini ingin memberikan kontribusi kepada masyarakat Labuan Bajo sekaligus juga salah satu wujud kontribusinya terhadap film Indonesia agar bisa dinikmati di seluruh pelosok tanah air./ YDhew

03 Ully Triani YDhewUlly Triani (foto: YDhew)

 

Sunday, 06 August 2017 17:24

Ibanez Flying Fingers Indonesia 2017

Kompetisi Gitar untuk Menangguk Muka Baru

PT. Mahkota Musik Indonesia (MMI) selaku distributor Ibanez di Indonesia untuk keempat kalinya  berhasil mengadakan perhelatan kompetisi gitar terpopuler di tanah air yaitu Ibanez Flying Fingers Indonesia (IFFI) 2017. Periode kompetisi yang dimulai dari tanggal 15 Mei – 30 Juni 2017 itu berhasil mengumpulkan Challengers (sebutan untuk peserta IFF) lebih dari 250 orang dari seluruh pelosok nusantara.

Kompetisi ini sebetulnya cikal bakalnya berawal dari Indonesia. “Pada awalnya bernama Flying With Ibanez yang diadakan di Indonesia pada tahun 2014. Karena sukses, akhirnya pihak Hoshino Gakki Japan berminat untuk menyelenggarakan acara serupa di beberapa distributor dari berbagai belahan negara di dunia dan mengubah namanya menjadi Ibanez Flying Fingers”, ungkap Ade Himernio, selaku Marcomm Manager PT MMI.

Dengan iringan backing track hasil komposisi dari Al Joseph seorang gitaris asal Amerika Serikat yang juga salah satu produk artis Ibanez, para challengers asal Indonesia berhasil menghasilkan entry yang tidak kalah dengan gitaris – gitaris mancanegara. Hal itu diakui juga oleh gitaris kaliber dunia yang juga merupakan member dari band legendaris Mr. Big yaitu Paul Gilbert, dimana Paul ditunjuk untuk menjadi juri utama dalam kompetisi tahun ini.

Paul akhirnya menunjuk top 3 yang kali ini jatuh kepada, Suhermanto Harsono asal Surabaya sebagai juara ketiga, Ivan Mahya Deva asal Padang sebagai juara kedua dan Akbar Ajie asal Mataram sebagai juara pertama. Paul memberikan penilaian dan alasan kenapa dia memilih para challenger’s tersebut, dan yang menarik Paul mengulik sebagian lick dari entry para peserta sambil beberapa kali melontarkan pujian kepada mereka.

Kontes tahun ini berbarengan dengan periode yang diadakan oleh Amerika Serikat, sehingga challengers asal Indonesia diberi keuntungan dengan sedikit mendapatkan perhatian dari gitaris – gitaris yang ikut berpartispasi di negara tersebut. Para pemenang umumnya tidak menyangka dirinya bisa terpilih dari ratusan yang ikut dalam acara ini.

02 Akbar Ajie IstimewaAkbar Ajie (Istimewa)

“Sejujurnya  saya sangat terkejut ketika mendengar pengumuman pemenang yang diumumkan langsung oleh Mr. Paul Gilbert. Benar-benar tidak menyangka sama sekali akan menjadi salah satu pemenang di event bergengsi IFF ini karena terus terang saya  tidak memiliki ekspektasi terlalu berlebihan mengingat dari tahun ke tahun peserta yang berpartisipasi di dalam event ini kuantitas maupun kualitasnya semakin meningkat” kata Ivan Mahya Deva sang juara kedua.

Para pemenang sendiri akan mendapatkan hadiah diantaranya, Ibanez Prestige RG652 AHM-NGB untuk juara pertama, Ibanez Iron Label RGDIX6MRW-CBF untuk juara kedua dan Ibanez RG 370 AHMZ-BMT untuk juara ketiga. Para pemenang akan segera diundang ke Jakarta untuk seremonial penyerahan hadiah sekaligus performed pada bulan September mendatang.

Selain mendapatkan kesempatan untuk jadi pemenang, sebenarnya event ini juga banyak menyatukan para gitaris di seluruh Indonesia khususnya yang ada di forum dunia maya. Terbukti dengan semakin banyaknya relasi para gitaris di dunia maya antara satu orang dengan yang lainnya lintas suku maupun daerah. Dan juga memunculkan talenta berbakat yang ada di pelosok Indonesia sehingga bisa terlihat oleh masyarakat luas baik di dalam maupun luar negeri. / Ibonk

 

Friday, 04 August 2017 17:15

Ayu Weda

Kegelisahan yang Membawanya Pulang

Bali, negeri para dewa kembali menjadi saksi kembalinya seorang Ayu Weda ke dalam dunia seni. Dunia yang sangat diakrabinya dan akhirnya terputus selama puluhan tahun tanpa tahu  kapan ia kembali. Kini, setelah 25 tahun berlalu, tiba-tiba saja dirinya tersadar dan merindukan untuk menyuarakan galau hatinya lewat nada. Bukan tanpa tarik ulur waktu,  bukan pula sebuah hal yang gampang untuk menetapkan hatinya untuk menggeluti dunia tarik suara tersebut.

Jalan awal yang ditempuhnya adalah dengan melahirkan sebuah buku. Sekumpulan cerpen yang bersandar dari apa yang dialaminya selama puluhan tahun dirangkumnya lewat judul ”Badriyah” pada tahun lalu. Bisa jadi ini mulai mengejutkan para pemerhati seni di Bali. Karena si anak hilang itu sudah mengayunkan langkah kecilnya untuk “kembali”. Lalu, Ayu Weda melanjutkan rancangan pembuatan albumnya bersama bersama Sawung Jabo yang dirintisnya sejak awal tahun 2016.

Seperti yang dituturkannya kepada NewsMusik dan pada saat temu media di sebuah kedai kopi dibilangan Sanur, Bali bahwa ia butuh sebuah media untuk meledakkan perasaan, rasa gelisah, kekecewaan atau cintanya terhadap perjalanan hidupnya, rasa kebangsaan serta  kemanusiaan.

Ia sangat akrab dengan karya-karya Sawung Jabo dan Sirkus Barock yang dirasakannya sangat pas dengan gejolak rasanya dan sangat mewakili deru hatinya. Maka dengan sadar, ia meminta kepada Jabo untuk menyanyikan ulang karya sang maestro tersebut lewat gubahan aransemen agar sesuai dengan karakternya.

Akhirnya iapun memilih langsung sepuluh lagu yang dirasakannya cocok dengan keinginannya. Seperti pemilihan lagu ‘Hella Hella Hella’ dan ’Bocah Pelangi’, tak lain adalah refleksi dari keprihatinannya akan sempitnya lahan bermain untuk anak-anak, Juga rasa jengahnya terhadap anak-anak yang mengemis di jalanan dan dunia imajinasi yang tergantikan oleh teknologi.

Pada lagu ‘Sudah Merenungkah Kau, Tuan?’ dan ‘Kesaksian Jalanan’, adalah ungkapan kegelisahan Ayu Weda terhadap dunia politik bangsa yang dianggapnya jauh melenceng dan hanya memikirkan kepentingan kelompok/ individu, penyelewengan kekuasaan dan lainnya.

”Saya benar-benar tidak mengintervensi pilihan lagu Weda yang pernah masuk dalam album Sirkus Barock maupun album rekaman saya lainnya. Terpenting adalah, Weda merasa pesan sosial kemanusiaan yang ingin diungkapkannya sampai sasaran,” ungkap Sawung Jabo.

02 Sawung Jabo & Ayu Weda IbonkSawung Jabo & Ayu Weda (foto: Ibonk)

Enam lagu lainnya seperti ‘Duniaku’, ‘Melangkah Adalah ke Depan’, ‘Mencari dan Bertanya’, ‘Ada Suara Tanpa Bentuk’, ‘Perjalanan Masih Jauh’ dan ‘Di Hatimu Aku Berlindung’ merefleksikan perjalanan batin manusia dari keadaan terpuruk hingga mampu bangkit menemukan jati dirinya serta bermuara pada kedamaian hati.

Proses rekaman, mixing dan mastering dilakukan pada Maret hingga April 2017 di Yogyakarta. Pada album ini, Sawung Jabo bertindak sebagai music director dan lagu-lagu tersebut direaransemen bersama personel Sirkus Barock lainnya seperti Joel Tumpeng, Bagus Mazasupa, Endy Barqah, Ucok Hutabarat, Denny Dumbo, Jecco Cello serta Afrina Pakpahan dan Savini Savin sebagai backing vocal.

Mengenai pemilihan musik balada dengan gaya bertutur menjadi pilihan baru Ayu Weda. Ia sengaja meninggalkan nafas rock yang puluhan tahun silam digelutinya. Saat ini, ia begitu nyaman dapat mengekspresikan semua lewat  nafas musik balada.

“Kehadiran kembali saya di dunia nyanyi memang tidak sekedar ingin tampil sebagai entertainer. Lebih dari itu, saya ingin menyampaikan pesan sosial, moral, dan membuat kesaksian. Itu sebabnya saya pilih lagu-lagu dalam genre balada, lagu bertutur,” jujur Weda.

Dari kacamata pengamat musik Bens Leo, kembalinya Ayu Weda ke dunia entertainment adalah sebagai penggalian ulang bakat dirinya sebagai pekerja seni yang berprestasi, bahkan melintasi pilihan bidang seni yang terlihat ekstrem perbedaannya.

Begitulah, untuk menunjukkan rasa sukacitanya terhadap selesainya dan diluncurkannya album baladanya tersebut. Mengambil tempat di Bentara Budaya Bali pada akhir Juli 2018 lalu, Ayu Weda mengadakan pertunjukkan diruang terbuka yang juga menghadirkan beberapa teman-teman seniman Bali.

Pertunjukkan dibuka oleh sang adik, Ayu Laksmi yang tampil memainkan sejenis alat musik petik tradisional dari Bali Utara, dan menyampaikan testimoni terhadap Weda. Lalu hadir Trio Flowers, 3 perempuan belia pelajar SMA asal Tabanan, menyanyikan kembali nomor lagu ‘Rindu Teman Sehati’ karya Adriadi, yang pernah direkam Ayu Weda pada albumnya di tahun 1981. Lalu dilanjutkan dengan penampilan seorang vokalis berdarah Filipina-Amerika, tapi besar di Bali, Sandrayati Fay yang melantunkan tunggalan secara akustik ‘Korban Terpaksa (Ibu Kecil)’.

Tak kalah seru adalah penampilan Cok Sawitri, perempuan Bali yang mengaku ikut menjadi provokator kembalinya Ayu Weda kedunia showbiz. Dengan latar belakang sastra dan teaternya, Cok memberi testimoni tentang jalan hidup berkesenian Ayu Weda, lengkap dan panjang, tanpa teks, tanpa jeda bernafas.

03 Ayu Weda Performed IbonkAyu Weda Performed (foto: Ibonk)

Akhirnya, Weda tampil menyanyikan ‘Hela Hela Hella’ karya dan arasemen Sawung Jabo, dengan iringan Sirkus Barock secara full band lewat harmoni lembut tapi bertenaga. Weda melanjutkan pengembaraannya pada lagu bertendensi politik, ‘Sudah Merenungkah Kau, Tuan?’ dan ‘Kesaksian Jalanan’, serta dua lagu lain yang bertema perenungan personal, ‘Mencari dan Bertanya’ dan ‘Di Hatimu Aku Berlindung’.

Tampak dengan jelas kalau Ayu Weda sangat nyaman dikawal Sirkus Barock. Ia bebas berkomunikasi dengan audiens dan mengajak mereka untuk larut didepan panggung dengan menari dan ikut menyayi. Suasana semakin pecah, tatkala Weda undur diri dan kemeriahan dilanjutkan oleh Sirkus Barock dengan Sawung Jabo sebagai pentolan utama group ini.

Ayu Weda yang lahir pada 1 September di Singaraja, Bali, seusai menamatkan pendidikannya di bangku Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Singaraja Bali akhirnya melanjutkan studinya ke Universitas Airlangga dengan mengambil fokus Ilmu Sosial dan Politik. Sejak tahun 1979. Ia membangun kelomppk vokal trio Ayu Sisters bersama 2 adiknya, Ayu Partiwi dan Ayu Laksmi dan mereka mampu memenangi penghargaan kelompok vokal terbaik kejuaraan Bintang Radio & TV se-Bali. Lalu meraih Juara 3 dan Penampil Terbaik ditingkat Nasional pada tahun 1982.

Sebelumnya, Ayu Weda pernah menjadi Finalis Puteri Remaja 1981 yang digelar oleh sebuah majalah remaja. Pada saat kuliah ia tiba tiba saja memutuskan untuk terjun ke musik rock dan gelar lady rocker pun langsung disandangkan dipundaknya. Di era tersebut ia  telah menelurkan album dan tenar dengan tunggalan “Rindu Teman Sehati" yang diciptakan oleh Adriadi serta ‘Memetik Bintang’ karya Deddy Dores.

Selamat datang kembali di dunia seni Ayu Weda... Semoga hadir lagi karya terbaik, tajam dan  memukau hati/ Ibonk

 

Sunday, 30 July 2017 11:58

Road To Soundadrenaline 2017

Melepas Dahaga Paramuda Bogor

Pada 29 Juli kemarin Cibinong, Bogor disuguhi gelaran Road To Soundrenaline 2017 yang merupakan sebuah festival musik dan seni tahunan. Ini juga merupakan rangkaian acara menuju main event yaitu Soundrenaline di Bali, pada September ini. Sebagai salah satu rangkaian, event ini cukup dapat menghadirkan penampil yang cukup fresh dan apik.

Tak hanya line up musisi, layout panggung, dan booth juga menampakkan sebuah penyegaran dari apa yang dilakukan sebelumnya. Terlihat begitu menawan karena untuk alasan tertentu, saat ini Bogor memang sangat jarang diselenggarakan perhelatan bertemakan seni maupun musik.

Bertempat di halaman parkir Cibinong City Mall, para pengunjung yang didominasi anak muda cukup dimanjakan berbagai produk lokal kreator, merchandise, kuliner, workshop stage photography, hingga live mural. Stage yang di design dengan penataan tata visual panggung yang apik tersebut telah terisi sempurna oleh beberapa line up lintas genre, seperti Pee We Gaskins, Stars and Rabbit, dan Payung Teduh.

02 Pee Wee Gaskins FikarPee Wee Gaskins (foto: Fikar)

Dibuka oleh penampilan Pee Wee Gaskins, suasana menjadi intim dan meriah meskipun hujan turun. Berikutnya dilanjutkan oleh Payung Teduh. Band yang mengusung musik bergenre folk ini langsung membekap suasana kian menjadi syahdu. Penonton langsung tersihir oleh aroma keromantisan nada nada Payung Teduh. Sebagai penutup, grup duo asal Yogyakarta, Stars and Rabbit melengkapi kehausan anak muda Bogor selama ini akan gelaran sejenis.

“Ini serius orang semua? Banyak banget!!!,” ucap Elda Suryani, frontwoman dari Stars and Rabbit.

Semakin terasa kalau Bogor memang untuk saat ini sangat kering untuk dapat merasakan atmosfir acara bertemakan musik maupun seni. Semoga pemerintahan Bogor dapat merasakan atmosfir dari hausnya dahaga anak muda Bogor. Soundrenaline 2017 sebagai ujung dari event Road To... ini, akan dilaksanakan pada 9-10 September di Garuda Wisnu Kencana, Bali.

Mari nantikan serta ramaikan!/ Fikar

 

Saturday, 29 July 2017 11:40

Huru Hara Volume 4

Masih Didominasi Geliat Rock N’ Roll

Sebuah label rekaman independen asal Jakarta, Berita Angkasa kembali menggelar acara rutin lanjutan yang bertajuk Huru Hara. Setelah berhasil dalam Huru Hara sebelumnya, kali ini sajian ke 4 digelar di sebuah bar dibilangan Kemang Jakarta, Eastern Promise pada penutupan bulan lalu.

Line up yang dihadirkan di Volume 4 ini bisa dibilang penuh kejutan. Edisi silam hunian penampil diisi dengan full band berdistorsi tinggi. Namun kehadiran seorang Disk Jockey (DJ) cukup menjadi pembeda dari gelaran sebelumnya . Selain itu, ada sebuah band yang juga cukup jauh berasal dari Bali, Jangar. Band yang sukses melejit lewat tunggalannya yang menjadi soundtrack film dokumenter “Jagal” (2012) dan “Senyap” (2014).

Yang juga tak kalah uniknya adalah lewat konsep “featuring“, mengetengahkan Kelompok Penerbang Roket (KPR) dan Mooner untuk saling membawakan lagu-lagu mereka secara bersama. Sebuah project panggung berkesinambungan selepas melakukan tour bersama yang lama di Australia.

Lewat tempo drum yang mengandung unsur pure punk dan sound gitar rock Indonesia masa lalu, sedikit gambaran mengenai KPR. Lalu Mooner yang mengusung musik bernuansa Stoner Rock Eropa Timur. Semua rasa itu digabungkan dan bisa dibayangkan aura dan energi dari gelaran tersebut.

02 Huru Hara Vol. 4 FikarHuru Hara Vol. 4 (foto: Fikar)

Mooner band yang berasal dari Bandung adalah sebuah project antara Rekti (The Sigit), Absar (The Slave), Tama (Sigmun), dan Sela (Sarasvati). Band yang masih dibilang masih cukup baru ini telah menelurkan sebuah album bertajuk “Tabi’at” yang sudah tersedia di dunia musik digital dan toko-toko musik di Indonesia

Suasana kian memanas ketika kolaborasi itu tersaji. Penonton yang didominasi oleh anak muda ini pun membentuk mosphit area ketika lagu pertama dibawakan dan terus berlangsung hingga acara selesai. Lalu tembang ‘Mati Muda’ yang tak lain menjadi pendobrak kesuksesan KPR pun menjadi pelengkap kehausan akan geliat rock and roll pada acara malam itu./ Fikar

 

Sunday, 30 July 2017 11:23

Armada

Pentingnya Album Fisik Di Era Digital

Armada yang dibentuk di tahun 2007 merupakan salah satu band yang masih konsisten sampai sekarang. Melayari blantika musik nasional lewat genre Pop Melayu, Armada memberikan sentuhan nuansa ballada pada karyanya sehingga  sukses meluluhkan hati penggemarnya. Beranggotakan lima orang yaitu Rizal (vokal), Radha & Mai (Gitar), Andit (Drum) dan Endra (Bass), akhirnya memasuki usia 10 tahun keberadaan mereka diindustri musik tanah air dan hingga saat ini mereka sudah menghasilkan karya sebanyak 5 album.

Band ini masih menganggap bahwa rilisan album dalam bentuk kemasan fisik masih perlu di era digital saat ini. Alasan mereka mengenai hal tersebut karena kemasan rilis dalam bentuk fisik mempunyai nilai historis dalam setiap albumnya. Di album terbarunya yang bertajuk “Maju Terus Pantang Mundur”, menandakan perjalanan karir mereka yang tak mungkin mundur kebelakang, tetapi kami harus tetap maju untuk berkarya sampai tua nanti.

“Buat kami yang hidup di era tahun 90-an, karya fisik berbeda dengan digital, meskipun sekarang era digital. Fisik  juga lebih berbeda dibandingkan rilis dengan digital saja. Album dalam format fisik masih perlu buat kami”, ujar Rizal yang ditemui di KFC Kemang (28/7) lalu.

Namun Armada juga tak menampik bahwa karya dalam bentuk digital juga sama pentingnya. Pentingnya digital bagi mereka dibuktikan dengan kesuksesan single mereka yang berjudul ‘Asal Kau Bahagia’ yang dirilis dalam bentuk format digital dikanal You Tube. Sejak dirilis, video single-nya tersebut Armada berhasil meraih jumlah penonton sebanyak 127 juta viewers dalam waktu 4 bulan.

02 Rizal Armada YDhewRizal Armada (YDhew)

Band yang pada  awalnya bernama Kertas ini, memulai kiprahnya lewat album perdana “Kekasih Yang Tak Dianggap”, namun kurang sukses dipasaran. Kemudian di tahun 2008 nama Kertas pun dirubah menjadi Armada, dan merilis album pertama bertajuk “Balas Dendam” yang meluncurkan tunggalan jagoan   ‘Gagal Bercinta’. Dari single tersebut akhirnya band ini mulai terdengar kiprahnya  di industri musik tanah air.

Sukses dengan abum pertamanya, Armada merilis album keduanya “Hal Terbesar” di tahun 2009. Lewat singlenya ‘Mau DIbawa Kemana’ dan ‘Buka Hatimu’ yang berhasil membawa Armada kepuncak sukses dan  pantas disejajarkan dengan band-band yang ada kala itu. Lagu pop dibalut melayu dengan komposisi ballada ternyata sangat cocok di telinga orang  Indonesia.

Dua dari empat album mereka “Satu Hati Sejuta Cinta” (2012) dan “Pagi Pulang Pagi” (2014) mendapat predikat multi platinum karena penjualan CD-nya melebihi 100.000 keping per albumnya. Pencapaian ini memerlukan waktu yang tidak sebentar. Sebagai band yang memulai semuanya dari bawah, pengalaman suka dukapun mereka alami. Hasil kerja keras dan cucuran peluh dan air matapun akhirnya bisa berbuah manis.

03 Armada YDhewArmada (YDhew)

Isi syair dan lagu dari Armada banyak bersifat personal. Hampir semuanya merupakan pengalaman pribadi masing-masing personilnya ataupun pengalaman orang disekelilingnya. Setiap judul yang ada di albumya merupakan sisipan dari berbagai pengalaman yang pernah mereka hadapi. “Semuanya itu bisa dituangkan dalam bentuk fisik album. Karena musisi tetap harus punya bukti karya mereka dalam bentuk fisik”, tutup mereka./ YDhew

04 Rizal Armada YDhewRizal Armada (YDhew)

Wednesday, 02 August 2017 11:15

Heru K Wibawa

Membangun Prilaku Dengan "Transformasi Diri"

Kematian bintang film komedi Robin William dan juga penyanyi tersohor seperti Whitney Houston serta  Chester Bennington seorang musisi rock dari band kenamaan Linkin Park,  tentu mengejutkan banyak pihak. Bagaimana tidak mereka yang tampaknya memiliki kehidupan dengan memiliki segalanya, glamour, kemewahan, kekayaan serta prestasi yang dikagumi dan diimpikan banyak orang ternyata mempunyai kehidupan yang rapuh. Mereka merupakan contoh manusia yang kosong dan penuh keputusasaan di balik gemerlap kemewahan dan keberhasilan duniawinya.

Banyak sekali kejadian mengejutkan saat kita melihat drama kehidupan seseorang. Ketika manusia hanya hidup  dengan mengikuti kefanaan jati dirinya, maka dengan mudah terjatuh dan hancur. Demikian antara lain cuplikan dari buku “Transformasi Diri” karya dari Heru K. Wibawa.

Heru begitu biasa dipanggil merupakan seorang pensiunan Polri yang kini menjadi seorang entrepreneur ditemui Sabtu (29/7) dalam peluncuran bukunya yang kelima yang bertajuk “Transformasi Diri” ia melihat bahwa generasi muda saat ini adalah generasi yang sangat self center, yaitu dirinya menjadi pusat pertimbangan dari apapun yang dia lakukan, kalau senang dilakukan, dan sebaliknya. Itu yang menjadi filosofi hidup generasi sekarang. Transformasi diri memberi filosofi yang baru bahwa hidup itu memiliki tanggung jawab bahwa apa yang dia lakukan  akan di pertanggung jawabkan nanti dikemudian hari.

Menurut Heru, ciri manusia yang jatuh dalam jebakan kehidupan adalah ketika keputusan-keputusan hidupnya tidak lagi menggunakan akal sehat, perasaan dan kebijaksanaan. Tetapi oleh pola keputusan yang nir rasa dan nir logika yang dipaksakan. Membangun prilaku yang tidak sesuai dengan kebijaksanaan dan nilai-nilai peradaban membuat kerdil dan matinya potensi diri. Kerugian besar terjadi karena banyak yang membawa potensi besar ke dalam liang kubur.

02 Transformasi Diri IstimewaTransformasi Diri (Istimewa)

Pria yang berusia 50 tahun dan penyuka travelling ini telah melihat dan mengamati kehidupan dari berbagai kalangan dan menemukan banyak rahasia kehidupan serta menemukan sebuah pola yang bisa kita ikuti. Terlalu banyak contoh keberhasilan yang dicapai dan diceritakan dengan jelas, tetapi tetap saja banyak orang yang tidak bisa mengikutinya. Demikian juga cerita tentang kegagalan yang sudah sangat sering terjadi namun masih juga diulang-ulang, ujarnya.

Saat ini tantangan untuk mentransformasi diri bisa semakin rumit dalam kehidupan masyarakat perkotaan. Manusia Indonesia lebih banyak yang masuk dalam jebakan-jebakan kehidupan, yang mematikan potensi dalam dirinya. Sebuah ironi yang akan terus mewarnai kehidupan manusia.

Di dalam buku setebal 213 halaman ini, Heru menyimpulkan bahwa jalan keluar dari jebakan kehidupan yakni, manusia harus mengalami transformasi diri jika ingin mendapatkan peluang dan berkat yang telah disediakan Tuhan. “Harapannya manusia bisa hidup di potensi maksimalnya. Jadi bangsa ini juga maksimal. Melalui transformasi diri, orang menjalani prosesnya sehingga rela menghidupi hidupnya dengan potensi maksimal, sehingga tidak terjebak dengan pola kehidupan yang salah” jelasnya.

Dengan merefleksikan kehidupan yang telah dijalani dengan merencanakan kehidupan baru yang lebih baik dan sejalan dengan kehendak Tuhan, sejatinya kita agar dapat memandang dan memaknai hidup dengan cara baru agar tidak masuk dalam jebakan kehidupan yang merugikan./ YDhew

 

Wednesday, 02 August 2017 11:09

Indische Party

Single Ketiga Sebagai Penyejuk

Pada akhir tahun 2016 lalu, Indische Party resmi melepas album mereka yang bertajuk “Analog”. Album yang sedikit banyak memberikan kabar baik untuk kiprah mereka ini, dikuatkan dengan tunggalan jagoan ‘Serigala’ dan ‘Khilaf’ sebagai single pertama dan keduanya. Nah, dipertengahan 2017 ini Indische Party akhirnya kembali meluncurkan single terbaru berjudul ‘Ingin Dekatmu’.

Tak hanya melepas single tersebut, mereka juga sekaligus merilis video musiknya yang dapat ditonton di kanal YouTube. Lagu ini juga dapat didengar lewat layanan streaming musik Spotify dan bisa diunduh melalui iTunes yang didistribusikan melalui label rekaman demajors.

Single ‘Ingin Dekatmu’ ini juga merupakan satu-satunya lagu yang dinyanyikan oleh Tika Pramesti, drummer Indische Party. Bernuansa dream pop, lagu ini juga didukung oleh Delicacy String Quartet dan Indra Perkasa (Tomorrow People Ensemble) pada aransemennya.

Band yang terbentuk di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini beranggotakan Japra Shadiq (vokal/ harmonika), Kubil Idris (gitar), Jacobus Dimas (bass), dan Tika Pramesti (drum). Sebelum merilis Analog, Indische Party telah lebih dulu melepas album penuh perdana mereka lewat tajuk “Indische Party” (2013) dan album mini “On Vacation” (2016) yang direkam di studio legendaris Abbey Road, London, Inggris.

02 Indische Party IstimewaIndische Party (Istimewa)

Penayangan pertama sekali video musik “Ingin Dekatmu” ini telah dilakukan pada hari ulang tahun mereka yang ke enam (21/7) bulan lalu. Video ini diproduksi oleh Narkobus Records dan Rita Yossy serta dibantu oleh Lola Amaria, disutradarai oleh Rita Yossy, dan Fraulein Amalia sebagai Director of Photography.

"Lagu ini adalah penyejuk bagi pria-pria liar yang berseluncur ria di depan panggung Indische Party. Lucunya, ketika kami membawakan lagu ini di panggung, mereka seketika koor massal dan berubah menjadi anak-anak yang manis. Hahaha," ungkap Japs Shadiq, sang vokalis sekaligus pencipta lagu ini./ Ibonk

Page 5 of 119