NewsMusik

NewsMusik

Thursday, 18 May 2017 12:51

100 Hari Al Jarreau, Reinterpretasi

Tawarkan Suguhan Berbeda

Siapa yang tak mengenal Alwin Lopez Jarreau, yang dapat disebut salah satu penyanyi yang paling berpengaruh ke semua penyanyi di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, tentunya. Nama Al Jarreau, adalah sosok penyanyi yang mungkin paling menginspirasi banyak penyanyi di sini. Boleh dikata, Al meraja dengan karyanya terisitimewa di era 1980 hingga 1990an.

Keperkasaan Al Jarreau sepeninggalannya pada 12 Februari 2017 silam, menginspirasi sebagian kecil penggemarnya di Jakarta untuk membuat sebuah event musik khusus. Lewat dukungan para penyanyi dan musisi yang sama-sama memberi respek dan apresiasi yang tinggi kepada mendiang Al Jarreau.

Tak pelak sebuah “komunitas” yang belum resmi bernama Al is for Lover pun bertekad untuk membuat sebuah event sebagai bentuk penghormatan kepada Al. Komunitas ini sebenarnya dibentuk oleh para pendukung acara ini dan juga sebagai penyelenggara. Dipimpin seorang jazz-lover, penggemar fanatik Al Jarreau, Hendra Sinadia beserta seorang penyanyi yang juga guru vokal, Restu Fortuna.

Acara ini diberi tajuk 100 Hari Al Jarreau, Reinterpretasi, akan diselenggarakan pada malam ini  Kamis, 18 Mei 2017 di Lefty’s Suites, Foodism Kemang. Tanggal yang dipilih hanya beberapa hari saja sebelum pas 100 hari kepergian sang maestro tersebut. Menurut Gideon Momongan, yang merupakan salah satu pribadi yang paling sibuk menggaungkan acara ini mengatakan bahwa, sepanjang perjalanan hidup Al Jarreau adalah penyanyi dalam berbagai aliran musik. Maka pendukung acara nanti, memang berasal dari berbagai aliran musik.

02 100 Hari Al Jarreau Reinterpretasi Poster Istimewa100 Hari Al Jarreau, Reinterpretasi Poster (foto: Istimewa)

Mereka masing-masing, para penyanyi didukung para musisi, akan melakukan upaya reinterpretasi atas karya-karya lagu yang dipopulerkan Al Jarreau. Tentu saja, hal itu memberi tawaran suguhan musik yang unik dan berbeda.

Terlihat dari komposisi para vokalis seperti Restu Fortuna, Doddy Katamsi, Hans Marcus Bartels, Ivan Nestorman, Dika Aleandra, Kadri Mohamad dan cewek satu-satunya, Netta Kusuma Dewi. Lalu didukung para musisi berpengalaman seperti Canga Anton (drummer), Djoko “SOG” Sirat (bass), Dandy Lasahido (kibor), Andy Gomez Setiawan (piano/ kibor), Zulkarnain Joel (bass), Devian Zikri (saxophone) dan Diddi Agephe (kibor/synthesizer/soundscaping).

Mengenang Al Jarreau, semasa hidupnya telah menyinggahi Jakarta untuk melakukan konser sekitar tahun 1992. Hadir lagi sepuluh tahun kemudian di Balai Sidang Senayan dan selepas album duetnya dengan George Benson, Givin’ It Up, Al dan George Benson menggelar konser di Jakarta pada tahun 2008. Terakhir, dirinya sempat tampil bersama George Duke di  Java Jazz Festival di tahun 2012.

Lewat perhelatan ini diharapkan para penggemar Al Jarreau, akan dapat terpuaskan kerinduannya terhadap lagu-lagu hits Al Jarreau. 100 Hari Al Jarreau, Reinterprteasi, akan disemarakkan oleh tata lampu yang didukung LemmonID dan ditutup oleh penampilan disc-jockey yang khusus memainkan lagu-lagu hits Al Jarreau dan lagu-lagu hits lain di era 1980-an, dalam bentuk dance remix.

So... tunggu apalagi? Lets go scatting together!!!/ Ibonk

 

Tuesday, 16 May 2017 15:40

Mondo Gascaro

Video Klip Untuk Jakarta

Pada hari Minggu (14/5) lalu, bertempat di RPTRA Kalijodo, Jakarta Utara diadakan satu acara yang bertajuk Music For Public Vol.1. Acara musik yang digagas oleh Ivy League Music yang merupakan satu bentuk apresiasi untuk ruang publik terbuka di kota-kota besar dengan melakukan kegiatan bermusik yang menghibur, mendidik serta ramah lingkungan.

Tanpa memungut biaya dan open for "public", acara ini memang bertujuan hanya ingin berbagi dan berinteraksi secara musikal dengan semua kalangan dari berbagai usia. Sebagai edisi pertama Musik for Public menampilkan salah satu artistnya, Mondo Gascaro.

Mondo yang bermain dengan set akustik, tidak tampil sendiri, tapi diselingi juga dengan penampilan dari DJ Davkillz dan DJ Udasjam. Acara yang berlangsung meriah dan natural ini juga dinikmati oleh puluhan orang yang sengaja datang untuk menonton dan para pengunjung lain yang kebetulan sedang mengunjungi Kalijodo.

02 Mondo Gascaro IstimewaMondo Gascaro (Istimewa)

Music For Public Vol. 1 tersebut sekaligus merayakan perilisan single dan video clip terbaru Mondo Gascaro yang berjudul ‘Dan Bila...’. Pemilihan RPTRA Kalijodo sebagai venue karena video clip yang digarap oleh Aco Tenriyagelli ini mengambil lokasi syuting di beberapa tempat di Jakarta seperti Tugu Tani, Taman Ismail Marzuki, Kalijodo, dan banyak ruang publik lain. Video clip ini juga merupakan tribute untuk Jakarta dengan segala dinamikanya.

Untuk edisi-edisi selanjut nya Music for Public akan diadakan di Taman Kota, RPTRA dan ruang publik lain dengan menampilkan musisi-musisi bertalenta negeri ini. Siap-siap rekreasi ke Kalijodo yaa, sekaligus bisa dengar musik yang asyik punya.. / YDhew

 

Sunday, 14 May 2017 16:52

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Siap Bersaing di Cannes

Satu lagi film karya anak bangsa akan unjuk gigi di Festival Film Cannes tahun ini. Film Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak (MPDEB) karya sutradara Mouly Surya akan mengikuti jejak film “Prenjak“ yang sempat mengharumkan nama Indonesia pada tahun 2016 lalu.

MPDEB rencananya akan diputar pada tanggal 24 Mei 2107 perdana di Quinzaine des realisateurs (Director Fortnight), yang paralel dengan Cannes Film Festival 2017. “Ini suatu kehormatan besar bagi saya bisa berada di Directors Fortnight yang telah banyak menemukan Ateurs dunia dan terkenal dengan karya-karya yang lebih edgy (memiliki kepribadian kuat),” ungkap Maouly dalam jumpa pers yang berlangsung di Plaza Indonesia Jakarta, Jum’at (12/5/2017) siang.

Sebelumnya film ini juga ikut terseleksi pada Asian Project Market di Busan International Film Festival 2015, dan Cinefondation L’Atelier Cannes Film Festival 2016. Film ini menerima dukungan pembiayaan Talent Tokyo Next Masters Support Programme dan subsidi Cineas du Monde dari Kementerian Luar Negeri Perancis.

Patut diketahui juga bahwa MPDEB merupakan film produksi bersama Cinesurya dengan Kaninga Pictures, Sasha & Co Production (Perancis), Astro Shaw (Malaysia), HOOQ Originals (Singapuara), dan Purin Pictures (Thailand).

Film ini sendiri menceritakan tentang seorang janda yang tengah mencari keadilan, setelah rumahnya diserang oleh segerombolan perampok. Ceritanya sendiri ditulis oleh Mouly Surya dan Rama Adi, berdasarkan cerita dari Garin Nugroho. Mouly sendiri mempercayakan ceritanya tersebut kepada  Marsha Timothy yang berperan menjadi Marlina, lalu ada Dea Panendra, Yoga Pratama dan Egy Fadly.

02 Mouly Surya IbonkMouly Surya (foto: Ibonk)

Mengambil setting di Sumba (NTT), sedikit banyak mengingatkan tentang film karya Garin Nugroho terdahulu yang berjudul “Surat Untuk Bidadari”.  Ketika ditanyakan tentang kemiripan tersebut, Mouly tidak menyangkal, apalagi ide cerita film ini juga berasal dari Garin. “Waktu itu Mas Garin memberikan semacam treatment, lima lembar dan menyerahkan kepada saya untuk dibuat film-nya. Padahal saya sendiri waktu itu tidak kebayang Sumba seperti apa. Saya ini orang yang tidak suka travelling, jadi tidak tahu kalau itu banyak kemiripan,” elak Mouly.

Mengenai judulnya sendiri, karena kurang sreg dengan judul yang diberikan Garin untuk film ini, Mouly pun coba mencari-cari di Google mengenai nama perempuan di Sumba. “Nama Marlina itu muncul setelah saya browsing tentang Sumba. Lalu ada di YouTube rekaman seorang guru yang diprotes karena menari-nari di sekolah. Guru itu sendiri melawan karena dia merasa tidak merugikan siapa-siapa, karena di luar jam pelajaran. Nama guru tersebut Marlina, saya tertarik, lalu memakainya untuk judul film saya ini,” tutur Mouly.

Tentang kata Empat Babak, Mouly sengaja mengambil dari treatmen yang diberikan Garin Nugroho kepadanya. Semuanya ada empat babak, dan akhirnya dipakai menjadi judul film secara keseluruhan. Dalam sejarahnya, “Marlina” merupakan film panjang keempat Indonesia yang terseleksi dalam rangkaian Festival Film Cannes. Sebelumnya ada  “Tjoet Nya’ Dhien” (1988) di Semaine de La Critique, “Daun di Atas Bantal” (1998), di Un Certain Regard dan “Serambi” (2006) di Un Certain Regard./ Ibonk

03 Marsha Timothy IbonkMarsha Timothy(foto: Ibonk)

Monday, 15 May 2017 13:44

Heavy Metal

Sejarah dan Perkembangannya di Tanah Air

Ajang festival metal terbesar di tanah air, Hammersonic Festival 2017 usai sudah. Festival ini setiap tahunnya selalu sukses untuk menjaring penonton lewat musik cadas, kostum serba hitam terlihat memadati hampir seluruh area panggung. Sangar dan garang, meski terkesan warna hitam adalah warna negatif tetapi hampir seluruh penyanyi yang beraliran rock, metal, underground menggunakannya.

Tidak diketahui, kenapa para metalheads tampil dengan berbaju hitam? Itu biasa dan agak aneh kalau menonton pertunjukan metal menggunakan baju yang berwarna warni. Musik cadas yang dianggap marginal terkadang melambangkan minoritas kaum mereka yang ingin menunjukkan perlawanan, juga cara mereka bertahan dan tentu saja melambangkan kelompok tertentu.

Bicara band rock dan band beraliran metal, sebut saja Megadeth, Black Sabbath, Deep Purple, Metalica atau bahkan God Bless, dalam setiap aksi panggungnya hampir dipastikan selalu menggunakan warna hitam. Memang musik cadas yang anti-mainstream ini memang cocok menggunakan warna hitam walau terkadang ada juga yang menggunakan warna selain hitam, tetapi tetap saja terdapat unsur warna hitam ada di setiap aksi panggungnya. Sudahlah, apapun yang mereka gunakan untuk kostum memberi kesan garang sesuai dengan musiknya yang garang, kita bicarakan mengenai musiknya saja.

Heavy Metal mulai berkembang di tahun 1970-an yaitu sebuah aliran musik rock dengan akar blues rock yang pertama kali dipopulerkan di Amerika. Dengan akar dari psychedelic rock yang merupakan salah satu jenis rock yang mencoba menggambarkan orang yang sedang kecanduan. Aliran musik ini ditandai lewat raungan distorsi gitar yang sangat kuat, ketukan cepat dan solo gitar panjang, baik di semua instrument alat musiknya.  Liriknya pun terkadang menggambarkan dan selalu berkaitan dengan kejantanan dan maskulinitas. Nah disini terjawab kenapa kostum yang mereka gunakan selalu ada nuansa hitam.

Perkembangan musik metal dan nama heavy metal itu sendiri sebetulnya di gagas oleh band hard rock di tahun 1960-an. Kala itu Steppenwolf menyanyikan lagu mereka yang berjudul Born To Be Wild (terdapat di baris kedua bait kedua). "I like smoke and lightning heavy metal thunder racin' with the wind and the feelin' that I'm under". Nah di baris kedua itulah terdapat kata heavy metal, namun istilah tersebut belum di gunakan secara tepat sampai pada tahun 70-an heavy metal di pelopori oleh Black Sabbath, Led Zepplin dan Deep Purple. Pada masa itu era tersebut masih dipengaruhi oleh elemen blues yang kental. Judas Priest kemudian mengembangkannya dengan lebih mengandalkan unsur distori dan menghilangkan unsur blues.

02 Heavy Metal Bands IstimewaHeavy Metal Bands (foto: Istimewa)

Waktupun berlalu sangat cepat, dan heavy metal akhirnya dikembangkan lagi. Lewat tempo lagu sangat cepat yang di usung oleh gitaris yang memainkan gitar rhytm downstroke muncullah turunan baru yang disebut Thrash Metal. Dimainkan oleh band-band  yang dijuluki Big Four Of Trash seperti Metallica, Megadeth, Slayer dan Anthrax.

Band sejenis yang memainkan aliran ini di daerah San Fransisco diantaranya adalah Testament dan Exodus. Di New Jersey terdapat band bernama Overkill, dan dari Brasil terdapat Sepultura. Sedangkan Speed Metal dimainkan dengan lebih cepat dan bertenaga seperti Motorhead, Iron Angel, dan Anthrax. Band yang berasal dari Eropa dan beraliran Thrash Metal seperti Kreator dan Destruction yang berasal dari Jerman.

Di Indonesia pun juga demam dengan jenis musik evolusi dari Heavy Metal ini. Kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, Jogja, Bali, dan lainnya mulai bermunculan scene underground dari jenis musik tersebut. Berkembang lewat hasil evolusi dari para rocker pioneer era tahun 70-an, diantaranya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy, Giant Step, Super Kid, Rawe Rontek, Terncem, AKA/ SAS dan lain-lain. Pada masa itu musik metal di pakai dengan menggunakan istilah Underground yang dibuat untuk menggambarkan pentas yang liar dan ekstrem di jamannya.

Lagu yang mereka mainkan pun sebenarnya bukan lagu hasil dari karya mereka sendiri, band-band dari luar negeri seperti Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP kerap mereka bawakan. Sebut saja ada beberapa band seperti El Pamas, Grass Rock, Roxx, Val Halla, Power Metal, Kaisar, dan lain-lain yang tumbuh antara tahun 70 – 80an.

Log Zhelebour kemudian muncul menjadi sosok yang berusaha menaungi dan memberikan wadah terhadap musik rock kala itu. Dengan kenekatannya, kemudian membuat terobosan baru yang membuat musik rock di Indonesia mulai mengarah ke arah industri dan rekaman. Log Zhelebour menggebrak musik genre ini dengan membuat festival rock terbesar di Surabaya.

Semenjak itu Surabaya menjadi barometer musik rock di Indonesia. Dari sinilah kemudian muncul band rock Indonesia Elpamas, Power Metal, dan lainnya. Log kemudian membuat label bernama Logiss Record dan ini membuatkan album ketiga God Bless “Semut Hitam” di tahun 1998. Album ini ludes dipasaran,dan menjadi produk pertama dari label tersebut.

03 Metallica IstimewaMetallica (foto: Istimewa)

Di awal tahun 80-an di Indonesia demam jenis musik evolusi dan heavy metal ini, yang dipengaruhi oleh band-band seperti Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Bukan hanya di Indonesia band-band ini sempat membat dunia terguncang karena kemunculannya.

Hampir di seluruh dunia waktu itu, anak-anak mudanya sedang mengalami demam musik Thrash Metal. Sebuah style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan Heavy Metal. Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan yang memang diisi oleh band-band beraliran rock dan metal.

Perkembangan band-band metal di Indonesia di era tahun 90-an kebanyakan dipengaruhi oleh kedatangan band Sepultura dan Metallica di Indonesia. Konser Sepultura di tahun 1992 di Jakarta dan Surabaya, telah sukses membakar semangat penikmat musik metal di kedua kota tersebut. Di tahun berikutnya 1993, Metallica yang selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Jakarta menjadikan group band ini salah satu konser band yang paling fenomenal kala itu.

Ini juga berdampak pada group band metal gaek Rotor yang kala itu sebagai band pembuka di konser Metallica. Dua kali membuka konser, Rotor merilis album Thrash Metal dengan Aquarius Musikindo  sebagai labelnya lewat album “Behind The 8th Ball” yang pertama di Indonesia.

Di awal tahun 1995, muncul band bernama Sucker Head yang sebetulnya seangkatan dengan Rotor. Namun karena lambat dalam membuat dan merilis album pertamanya, melalui label Aquarius Musikindo dengan judul “The Sucker Head”. Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.

Komunitas metal/ underground mulai berkembang terutama di Jakarta, Blok M yang menjadi pusat komunitas tersebut menjadi tempat hang out sekaligus menjadi tempat saling bertukar informasi, jual-beli t-shirt metal, sampai merencanakan konser. Beberapa band yang muncul di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghh, Tengkorak, Adaptor, Godzilla dan masih banyak lagi. Jenis musik metal yang di bawakan dan digrandrungi mereka adalah subgenre yang semakin ekstream seperti,  death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/ doom metal.

Perkembangan musik metal di Indonesia mencetak sejarah baru pada tanggal 29 September 1996, dimana muncul pagelaran musik Indie untuk pertama kalinya di Poster Cafe. Acara ini dinamakan “Underground Session” yang digelar setiap dua minggu sekali. Cafe legendaris sendiri merupakan milik rocker gaek Achmad Albar dan banyak melahirkan scene musik indie baru yang bermain dengan genre musik berbeda dan lebih variatif.

Di tempat ini Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang manggung di sana.

10 Maret 1999 adalah hari scene Poster Cafe tutup untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik, “Subnormal Revolution” yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Namun, bubarnya Poster Cafe diluar dugaan malah banyak melahirkan venue-venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie.

Cafe Kupu-Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik Ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 Cafe dan Cafe Gueni di Cikini untuk scene Brit / indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk / hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super sempit di Menteng sering disewa untuk acara Garage Rock-New Wave-Mellow Punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut,Devotion dan banyak lagi.

04 Koil IstimewaKoil (foto: Istimewa)

Selain di Jakarta, Bandung juga menjadi tempat untuk perkembangan musik ekstrem ini dan juga menjadi barometer rock underground di tanah air. Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air.

Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum manggung di sini belum afdhol rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.

Band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T, yang berasal dari Bandung. Salah satu band hardcore Indonesia Burger Kill juga  dibesarkan di kota ini.

Isu agama dan rasisme di kancah metal Indonesia sempat terdengar dan masuk ke ranah metal di Indonesia di awal tahun 2010. Saat itu ada gerakan yang disebut Metal 1 Jari, alias One Finger Movement. Metal 1 jari adalah sebutan untuk musik metal yang membawa isu agama dan tauhid dalam musiknya. Salah satu pelopornya adalah Hariadi Nasution, alias Ombat, vokalis Tengkorak. Satu jari merujuk pada salam satu jari telunjuk, yang menunjukkan ke Esaan Allah SWT. Mereka enggan memakai meloik, salam universal metal yang dianggap sebagai simbol setan.

Hal ini muncul disebabkan kondisi politik di tanah air kala itu. Penyebaran kampanye rasisme dan juga radikalisme amat sangat mungkin dilakukan di kancah musik dan dunia populer. Penyebarnya berupaya mencari medium yang dekat dengan dunia anak muda. Tujuannya tentu untuk mencari basis massa anak-anak muda.

Alangkah baiknya hal seperti itu tidak terjadi lagi di tanah air, musik apapun genrenya sebaiknya tidak membawa isu radikal dan rasis. Musik itu universal, bisa dinikmati oleh kalangan manapun juga. Jadi,  bagi para penikmat musik apapun jaga persatuan dengan melek dari hal-hal rasis dan radikalisme.  Salam Metal./ YDhew

 

Saturday, 13 May 2017 22:16

Lyodra Ginting

Juara Internasional di Italia

Anak Medan yang masih berusia 13 tahun ini bernama lengkap Lyodra Margaretha Ginting atau biasa di panggil Lyodra. Gadis cantik berperawakan kecil yang baru beranjak remaja ini namanya memang masih asing ditelinga penikmat musik tanah air. Namun bagi yang pernah mengikuti project “Di Atas Rata-Rata generasi ke 2 (DARR 2), pasti nama ini tak asing lagi di dengar. DARR adalah sebuah project pencarian berbakat bagi anak Indonesia di bidang musik, acara ini di gawangi oleh Gita Gutawa dan Erwin Gutawa.

Lyodra merupakan salah satu anggota DARR generasi ke 2, yang merupakan salah satu anak berbakat yang terpilih dari seluruh Indonesia. Lyodra yang kala itu menyanyikan lagu ‘Stop Bully’ dan ‘Janji Untuk Mimpi’ mencuri perhatian lewat aksi panggungnya dan juga suaranya. Berdasarkan hal tersebut Gita Gutawa dan sang ayah membawa Lyodra ke ajang internasional, untuk menunjukkan anak-anak Indonesia secara general terutama di bidang musik dan seni.

Hal tersebut diwujudkan dengan berangkatnya Lyodra pada tanggal 1-7 Mei ke ajang internasional untuk mengikuti Festival Sanremo Junior di Italia. Ajang ini merupakan sebuah ajang kompetisi menyanyi solois berskala internasional untuk kategori 13 – 15 tahun dan Lyodra keluar sebagai juara pertama dengan gelar “Prix of Sanremo Junior’s Committee” mengalahkan 18 negara yang terdiri dari 23 peserta. Kota Sanremo merupakan kota yang terkenal sebagai pusat festival musik dan budaya di Itali.

Festival tersebut memang bukan festival sembarangan, dimana festival tersebut dipilih berdasarkan penilaian dari juri secara langsung bukan seperti festival yang dinilai dengan hasil pooling seperti yang banyak terjadi sekarang ini.

02 Lyodra YDhewLyodra (foto: YDhew)

Membawakan lagu yang diadaptasi ulang dalam bahasa Inggris gubahan Ria Leimena ‘Dear Dream’ yang merupakan lagu dari “Janji Untuk Mimpi” ciptaan Gita Gutawa dan Erwin Gutawa. Lyodra tampil sempurna dengan diiringi musik orchestra dari sana. Walaupun sempat mengalami  lupa lirik pada waktu akan tampil, namun Gita yang pernah mempunyai pengalaman menjuarai festival serupa di Mesir mampu menenangkan Lyodra kala itu.

Pemilihan lagu pun bukan tanpa resiko, dimana hampir semua peserta disana yang ikut membawakan lagu yang sudah populer, hanya Lyodra sendiri yang membawakan lagu original, ungkap Gita sang mentor yang ditemui di Studio Erwin Gutawa, Jumat (12/5).

“Tujuan utamanya dari ikut sertanya Lyodra sebetulnya adalah ingin berbagi pengalaman untuk Lyodra. Bahwa pengalaman itu menurut saya menyanyi bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk membawa nama bangsa. Dan itu merupakan sebuah kebanggaan dan tantangan yang luar biasa sekali”, tambah Gita.

Lyodra yang baru pertama kali mengikuti kejuaraan internasional seperti ini mengaku merasa senang dan memang keinginan sendiri untuk maju sebagai wakil dari DARR 2 yang diambil berdasarkan audisi. “Sangat bersyukur, apalagi saingan yang berada disana bukan sembarangan keren-keren semuanya, dari mereka aku banyak belajar, banyak bertanya dan juga mempunyai pengalaman baru serta teman baru, jelas Lyodra.

Kedepannya Erwin Gutawa sedang mempersiapkan single yang dinyanyikan Lyodra di festival tersebut dan akan segera dirilis dalam waktu dekat. Selamat datang di industri musik tanah air Lyodra. Good job!/ YDhew

Walau Sepi Tetap Gayeng

Era musik 80 dan 90-an seperti susah untuk dilepas dari ingatan siapapun manusia dimuka bumi ini. Entah kenapa pada era tersebut, sepertinya taka da yang bisa membendung gejolak kreativitas para penggiat musik. Tak hanya mancanegara, keberadaan yang sama juga terjadi di dalam negeri. Hitung sendiri lagu-lagu yang  menjadi legenda sampai sekarang dengan berbagai macam genre.

Nah, bisa jadi terkait dengan hal tersebut, Indonesia Kita (I-Ki) yang dikomandani oleh  Renny Djajoesman bersama Hard Rock Cafe Jakarta mencoba menggelitik kembali kejayaan lagu-lagu tersebut dengan menggelar “A Tribute Night For 80’s & 90’s Indonesian Hits”.

Kolaborasi keduanya sengaja dikemas di acara regular I Like Monday, Senin (8/5) malam. Menampilkan para musisi yang sudah sangat siap untuk unjuk kebolehan seperti; Amiroez, Boym ‘Seurieus’, Riffy Putri, Che “Cupumanik”, Trison, dan Ita Purnamasari. Masing-masing membawakan sekitar 3-4 nomor lagu populer di era 80 dan 90.

Walaupun terlihat banyak kursi kosong, tapi semangat para musisi yang tergolong cukup punya nama diblantika musik tanah air itu seperti tak surut. Maka mengalunlah lagu-lagu indah penuh memory yang pernah dibawakan Utha Likumahuwa, Ermy Kullit, Ahmad Albar, Fariz RM, Nugie, Plastik Band lewat tunggalan seperti ‘Sesaat Kau Hadir’, ‘Barcelona’, ‘Kasoh’, ‘Tertipu’, ‘Lenggang Puspita’, ‘Kisah Cintaku’, ‘Cintaku Padamu’, ‘Rock Bergema’ dan lain sebagainya.

02 Ophie Danzo IbonkOphie Danzo (foto: Ibonk)

Semangat para vokalis yang diiringi oleh Yoel Pay (gitar), Harry Toledo (bass), Krisna Prameswara (keyboard), dan Seffrino Ompy (drum) tampaknya sedikit demi sedikit menular ke penonton yang sedikit demi sedikit mulai hadir. Tak ada lagu yang tak diikuti oleh koor panjang para pengunjung.

Semakin menghibur tatkala Ophie Danzo pentolan group heavy metal era 90an Voodoo di daulat kepanggung membawakan  hitsnya ‘Salamku Untuk Dia’. Tak lupa juga musisi gaek Jelly Tobing yang didaulat untuk menemani Trison Roxx lewat ‘Aku Cemburu’. Selanjutnya, seperti biasa panggung ditutup dengan beramai-ramai menyanyikan lagu yang malam tersebut dipilih lagu ‘Madu & Racun’ yang dipopulerkan Bill & Brod.

Sedikit banyak NewsMusik dapat menanggapi pentas musik I Like Monday ‘A Tribute Night For 80’s & 90’s Indonesian Hits’ awal pekan ini. Secara musikalitas boleh dikatakan cukup keren, namun sepinya pengunjung sedikit menjadi tanda tanya. Tidak seperti gelaran I-Ki sebelumnya, yang membludak dengan kehadiran penonton, saat ini malah tak tampak.

Saat berbincang dengan Renny, sedikit berdiplomasi, lady rocker tersebut mengungkapkan bahwa dirinya untuk event kali ini memang sengaja tidak ikut terlibat dari sisi produksi, atau menjual tiket. Ia tengah disibukkan dengan jadwal lainnya yang cukup padat. “Urusan teknis dan produksi saya serahkan kepada Amiroez. Nantinya bisa siapa saja, agar terlihat dinamis. Soal penjualan tiket, I-Ki mempercayakan sepenuhnya kepada manajemen Hard Rock Cafe sebagai partner, namun hasilnya seperti malam ini,” ungkap Renny dengan nada masygul.

03 Ita Purnamasari IbonkIta Purnamasari (foto: Ibonk)

Sedikit banyak ada keinginan dari pihak I-Ki untuk mengevaluasi kembali kerjasama yang telah terjalin ini. Selama ini, ada anggapan bahwa pengunjung rata-rata datang karena usaha keras dari I-Ki lewat media sosial ataupun hal lainnya. Selain itu, Renny dan kawan-kawan juga menggandeng DSS sebagai penyedia tata suara terkemuka di negeri ini untuk menutup kekurangan yang ditemukan di venue selama ini.

Yaa.. apapun yang terjadi kita harapkan agar semuanya dapat kembali berjalan normal, dan sebgai bocoran untuk perhelatan selanjutnya akan mengangkat tema legenda Betawi “Benyamin Sueb”. Nah, kita lihat saja nanti, bagaimana kreativitas para tokoh-tokoh musik di I-Ki yang sebahagian besar adalah rocker untuk meramu lagu-lagu kocak Benyamin menjadi sebuah suguhan berbeda.  Tunggu tanggal mainnya/ Ibonk

 

Wednesday, 10 May 2017 11:57

Burgerkill

Membakar Sore di Hammersonic 2017

Event festival musik metal terbesar tanah air, Hammersonic 2017 kemarin semakin hingar bingar dan panas dikarenakan dedengkot band metal dari kota kembang bandung, Burgerkill turut serta menjadi salah satu pengisi acara di festival ini. Sejak awal penampilan mereka, para metal heads, langsung merapat ke bibir panggung. Membuka penampilannya dengan menyuguhkan lagu ‘Darah Hitam Kebencian’, Burgerkill cukup berhasil membuat para penonton menjadi semakin membara dibawah terik matahari sore itu.

“Selamat sore Hammersonic!” sapa Vicky, sang vokalis. Sapaan itu langsung disambut teriakan gemuruh penonton yang hadir. “Mari kita bersenang-senang begundal. Saya ingin lihat circle pit terbesar hari ini. Kita buat lingkaran yang paling besar di Hammersonic 2017!”, ajaknya dari atas panggung.

Sepanjang penampilannya tak henti-hentinya, Burgerkill mengajak penonton mengangkat tangan dan menggoyangkan kepala mereka. Ibadah headbanging, moshing dan lain-lainnya tak luput dipertontonkan oleh metal head yang bersemangat. Semakin sore, Burgerkill juga makin sukses membakar semangat para penonton dengan memainkan lagu ‘Penjara Batin’ dan lagu-lagu andalan lainnya.

02 Burgerkill RizalBurgerkill (foto: Rizal)

Ini merupakan Hammersonic pertama Burgerkill tampil tanpa diperkuat oleh Abah Andris. Seperti diketahui, drummer yang sudah bersama-sama dengan Burgerkill selama 16 tahun ini sudah resmi mengundurkan diri, lewat beberapa alasan yang tak disebutkan secara detil. Sebagai pengantinya, dipilihlah eks drummer Killing Me Inside, Putra Pra Ramadhan.

Meski disekitar Jakarta hujan, namun venue Ecopark Ancol tampak cerah hingga sore hari. Sayangnya penampilan Burgerkill terbilang singkat, hanya sekitar 35 menit.  Burgerkill yang digawangi oleh Eben, Vicky, Agung, Ramadhan.sukses  menutup penampilannya dengan memainkan lagu cover Iwan fals ‘Air Mata Api‘./ Rizal

 

Monday, 08 May 2017 09:21

Raisa Andriana

Tampil Anggun dengan Kebaya Betawi

Siapa yang tak mengenal penyanyi cantik Raisa, yang selalu terlihat menarik di setiap penampilannya. Ia juga merupakan salah seorang ikon penyanyi muda papan atas di tanah air. Jangan tanya sudah berapa banyak single-single nya yang menjadi hits dan merajai anak tangga lagu terbaik di radio-radio tanah air.

Ternyata tidak hanya itu, sebagai seorang wanita Indonesia, Raisa yang memiliki banyak penggemar ini ternyata juga sangat bangga pada budaya tradisional. Salah satunya adalah kebaya. Baru-baru ini, NewsMusik sempat berbincang kecil dengan mengenai kebaya Betawi yang dikenakannya, saat didaulat untuk mengisi acara di pesta mantu desainer Anna Mariana.

"Ini penampilan aku yang pertama di pesta pernikahan seperti ini," ucap Raisa ketika menyempatkan diri menjawab pertanyaan tersebut di Jakarta Convention Center, Sabtu (6/5/2017) lalu.

"Aku merasa sangat perempuan kalau pakai kebaya seperti ini. Soalnya baru sekarang aku bisa pakai busana tradisional dan kebaya dengan motif corak seperti ini. Ia adalah kebaya Betawi modern rancangan Iwan Tirta," lanjutnya lagi.

02 Raisa IbonkRaisa (foto: Ibonk)

Ada perasaan bangga dalam dirinya bisa terlibat dalam acara yang menampilkan ragam budaya Nusantara. Tidak hanya pesta resepsi pernikahan, tapi disini dipadankan juga dengan banyaknya unsur budaya Jawa, Bali dan Betawi yang ditampilkan.

"Salah satu hal yang kita banggakan dari Indonesia adalah budayanya yang begitu banyak. Malam ini, aku speechless banget lihat beraneka budaya Indonesia ada di pernikahan megah ini," akunya seraya mengakhiri pertemuan ini karena harus tampil.

Dalam acara tersebut, tidak hanya seorang Raisa saja yang tampil cantik dan anggun dalam balutan kebaya nasional. Keanggunan juga terpancar dari penampilan Hetty Koes Endang, Iis Sugianto dan Titi DJ yang sama mengenakan songket dan kebaya rancangan Anna Mariana./ Ibonk

 

Thursday, 11 May 2017 11:39

Rafathar Movie

Film Perdana dengan Teknik Motion Capture

Tak banyak film yang bertema keluarga di tanah air, setelah “Petualangan Sherina” di tahun 2000 dan tahun 2008 “Laskar Pelangi” rasanya tidak ada lagi yang sepopuler mereka. Minimnya film yang bisa ditonton anak-anak membuat Raffi Ahmad yang mempunyai cita-cita dan keinginan menjadi produser film mewujudkan sebagian keinginan masyarakat Indonesia yang saat ini kehilangan tontonan berkualitas dan bisa ditonton untuk seluruh keluarga.

Bersama dengan Anggy Umbara selaku produser, Raffi yang juga mempunyai keinginan membuat suatu film dengan pemeran utamanya adalah Rafathar anaknya sendiri. Film keluarga ini sudah sampai pada tahap 70% pengerjaannya. Dilihat dari trailernya, film ini bergenre komedi dengan dibumbui sedikit action, dan dibuat dengan versi berbeda.

“Aku pingin bikin film yang bisa bikin kenangan waktu Rafathar masih kecil, ujar Raffi. Aku juga gak nyangka pas lihat editingnya. Rafatar dulu pertama kali syuting masih belajar jalan, sekarang sudah bisa lari, baru bisa ngomong. Film ini akan berarti sekali nanti buat keluarga kita pada waktu papa mamanya sudah gak ada” ujar Raffi ditemui di Grand Indonesia Mall, Jakarta (10/5).

Film garapan sutradara Bounty Umbara yang telah sukses dengan film “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos Part 1” ini dibuat tidak main-main. Tidak hanya menerapkan teknologi CGI (Computer Generated Imagery), film ini juga menggunakan teknologi yang belum pernah digunakan di film Indonesia sebelumnya yaitu Motion Capture. Dimana sejak 10-15 tahun lalu sudah digunakan film Hollywood.

02 Raffi Nagita YDhewRaffi & Nagita (Foto: YDhew)

Motion Capture itu sendiri adalah teknologi digital yang memproses rekaman gerakan dari sebuah object atau manusia. Dengan kombinasi penggunaan sensor camera, LED marker dan software yang canggih, teknologi ini menciptakan hasil gambar digital yang merangkai berbagai adegan action pada film “Rafathar”.

Anggy mengaku tertarik dengan ide awal dari Raffi kemudian mengeksplore film ini seperti film tahun 90-an, dimana pada zaman itu banyak film-film yang bertema superhero tetapi juga update dengan situasi yang terjadi pada saat ini.

“Saya tertarik untuk mengeksplore dan mengangkat film ini menjadi standard baru film keluarga. Tantangannya lebih exsplore lagi dalam hal teknologinya, punya misi menaikan production value untuk film Indonesia. Juga mengangkat film-film yang mempunyai standar lebih lagi untuk film Indonesia. Makanya kita disini menggunakan banyak teknologi”, ungkap Anggy.

Soundtrack film inipun hasil garapan Melly Goeslaw, jadi hampir dipastikan film ini memang dibuat dengan tangan orang-orang yang professional di bidangnya. “Aku sama teh Melly sudah beberapa kali kerja sama dan cocok. Melly juga sudah tau apa yang diinginkan. Anggy Umbarapun juga happy bisa kerjasama sama Melly.”, jelas Raffi.

Nantinya akan dibuat album soundtrack Rafathar yang dibuat unik, dan akan dirilis sekitar Agustus. Ada tiga atau empat lagu yang khusus, sisa lainnya adalah surprise dari orang-orang keluarga yang sayang Rafathar dan untuk Rafathar. “Lagu ini tentang orang-orang yang mempersembahkan lagu itu untuk Rafathar, dari mamanya, papanya, tantenya yang diiciptakan oleh Charly, Melly, dan Govinda. Kalau saya mah tidak bisa menciptakan lagu”, lanjut Raffi sambil tertawa.

03 Nagita Rafathar YDhewNagita & Rafathar Foto: YDhew)

Nagita yang didampuk sebagai eksekutif produser pun turut senang dengan adanya film ini, main film bareng bersama dengan anak dan suami. “Serunya hampir tiap hari ketemu di lokasi syuting. Jadi memang pintar-pintarnya kita atur jadwal untuk Rafathar. Apalagi Rafathar agak kesulitan kalau lihat saya di lokasi syuting, jadi harus ngumpet-ngumpet baru dia mau syuting, seru juga”, ujar Nagita yang akrab dipanggil Gigi ini.

Digambarkan di dalam film ini Rafathar seorang bayi super yang punya kekuatan istimewa merepotkan penjahat bernama Johnny Gold yang diperankan Raffi Ahmad dan Popo Palupi (Babe Chabita). Terlihat juga aksi seru dari Nagita Slavina yang berperan sebagai Detektif Julie dan Ence Bagus (opsir polisi) dalam usaha mereka menyelidiki dan menggagalkan aksi Johnny Gold dan Popo Palupi.

Film ini ingin mengangkat tentang story oriented dimana yang akan diangkat adalah sisi cerita dari film tersebut, bukan hanya CGInya saja. Dengan total 150 layar, hampir dipastikan film ini akan jadi film terlaris di tahun 2017, dan akan tayang mulai tanggal 10 Agustus 2017. Jangan lupa nonton ya guys.. / YDhew

04 Rafathar The Movie YDhewRafathar The Movie (Foto: YDhew)

Wednesday, 10 May 2017 11:08

Raffi Ahmad

Bisnis Tanpa Henti

Aktor yang juga presenter, Raffi Ahmad yang membangun karirnya dari nol saat ini hampir mendulang sukses dimana-mana. Mulai dari iklan sejumlah produk, presenter di berbagai stasiun tv, sampai mencoba bisnis sendiri dengan memproduksi produk fashion, kuliner, furniture, bahkan kosmetik. Bisnis yang digelutinyapun tidak sendirian. Bersama  sang istri Nagita Slavina yang memang sudah terjun di bidang bisnis dengan  memiliki production house sendiri ini selalu sukses di pasaran. Entah sudah berapa banyak pundi-pundi yang dikumpulkan selain profesinya sebagai selebriti tanah air.

Perjalanan karir Raffi dimulai sejak menjadi pemeran pendukung di sinetron pertamanya, “Tunjuk Satu Bintang”, dan baru melejit dalam “Senandung Masa Puber” sebagai pemeran utama bersama Bunga Citra Lestari. Setelah itu, Raffi terus-menerus muncul di sinetron-sinetron dan FTV remaja bahkan film layar lebar.

Karir bernyanyinya diawali oleh Bukan Bintang Biasa (BBB) yang di bentuk oleh Melly Goeslaw di akhir tahun 2006, dari sini jalan makin terbuka untuk Raffi baik karir dan  di bidang aktingpun makin bersinar. Namanya kian melambung setelah masuk menjadi presenter musik tetap Dahsyat bersama almarhum Olga Syahputra.

Eksistensi dan produktifitas Raffi dalam menghasilkan karya baik dari program TV, Sinetron, FTV, Film layar lebar, iklan dan beberapa bisnis yang dikelola Raffi, salah satunya rumah produksi Barometer Lite, membuat salah satu tabloid ternama di Indonesia menempatkan nama Raffi pada posisi ke 4 dari 9 artis Indonesia terkaya 2011.

02 Panaya.ID YDhewPanaya.ID (foto: YDhew)

Rasanya kalau bicara mengenai aktifitas Raffi terutama di bidang bisnis, Raffi hampir tak pernah puas. Selalu ada saja aktivitasnya di dunia bisnis dan juga selalu membuat inovasi baru. Baru-baru ini kembali Raffi melebarkan kembali eksistensinya di dunia bisnis. Bersama dengan rekannya sesama selebriti seperti Kartika Putri, Gilang Dirga, Ruben Onsu, Sarwendah, Nissya Ahmad, Syahnaz Ahmad, Mama Ami Qanita dan Aura Nabilla berbisnis bersama dengan sarana media informasi berbasis internet.

Lewat PANAYA.ID Raffi bersama Nagita Slavina juga mencoba peruntungannya berbisnis di media digital. Bukan hanya itu saja, para selebritis yang mempunyai jutaan follower ini mengajak follower mereka untuk memiliki peluang berbisnis.

“Kita membuat suatu inovasi yang berbeda, follower artis-artis digabungkan semuanya, dan yang memang akan diajak semua follower untuk berjualan dengan kita. Dari pada mereka comment gak jelas, jadi kita mengajak mereka untuk melakukan hal yang positif. Kita cari duit bareng-bareng, ada faedahnya”, ujar Raffi di acara launching PANAYA.ID di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Selasa (9/5).

Produk yang akan dijualpun beragam, seperti  busana, aksesoris, pernak-pernik rumah, dan barang-barang pecah belah terbaik buatan dalam negeri. Jadi, untuk penggemar media sosial yang ingin menambah income silahkan daftar dan bergabung. / YDhew

 

Page 2 of 110