NewsMusik

NewsMusik

Sunday, 07 January 2018 17:58

Yon Koeswoyo

The Last Real Koes Plus

Ia yang terlahir dengan nama Koesyono di Tuban, Jawa Timur pada  27 September 1940 adalah salah seorang pionir dan legenda musik Indonesia. Kepergian Yon Koeswoyo di usia 77 tahun pada hari Jumat (5/1) kemarin, merupakan kehilangan besar untuk musik Indonesia khususnya jutaan penggemar Koes Plus maupun Koes Bersaudara di seluruh pelosok nusantara.

Ia telah menjadi vokalis Koes Bersaudara dan Koes Plus yang sangat tenar pada dekade 60 dan 70an, dan ikut memiliki peran besar pada band legendaris ini. Bersama saudara-saudaranya, Yon menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya, dan pindah ke Jakarta pada tahun 1952 mengikuti mutasi ayahanda yang berkarier di Kementerian Dalam Negeri.

Yon aktif bermusik sejak awal dibentuknya grup musik bersama saudara-saudara kandungnya. Di tahun 1958 mereka menamakan grup ini dengan sebutan Kus Brothers, yang terdiri atas Jon, Tonny, Nomo serta Yon dan Yok Koeswoyo ditambah seorang dari luar keluarga Koeswoyo bernama Jan Mintaraga. Mencoba membentuk ciri khas dengan 2 vokalis utama bukannya tanpa sebab. Inspirasi datang lewat band Kalin Twin, dua penyanyi Amerika bersaudara yang kembar. Namun dalam perkembangannya grup ini lebih condong meniru Everly Brothers.

Band ini pertama kali rekaman pada tahu 1962 di bawah payung Irama Record, dan merubah nama menjadi Koes Bersaudara pada tahun 1963 setelah Jan Mintaraga keluar, dan tal lama kemudian Jon. Sampai tahun 1964 secara produktif mereka merekam banyak single. Akhirnya lagu-lagu tersebut dirangkum dan lahirlah album pertama pada tahun 1964.

02 Koes Plus Istimewa

Koes Plus (Foto: Istimewa)

Band ini cukup sukses lewat beberapa album sampai akhirnya pada 1965 mereka sempat diangkut dan mendekam di penjara Glodok selama tiga bulan. Pemenjaraan ini dipicu oleh penampilan mereka di sebuah pesta di Tanah Abang yang membawakan lagu Beatles, yang saat itu disebut sebagai agen Neo-kolonialisme a dan itu dilarang oleh pemerintahan orde lama pada saat itu.

Penamngkapan mereka sebenarnya menjadi trigger tersendiri bagi band ini untuk semakin populer.  Pada 1967, selepas keluar dari penjara, Yon dan saudara-saudaranya mengeluarkan album To The So Called The Guilties. Ini merupakan album protes pertama di Indonesia, dan terdapat sebuah tunggalan berbahasa Inggris yang bercerita tentang Soekarno berjudul ‘Poor Clown’.

Berlanjut ke tahun 1969, Koes Bersaudara berubah menjadi Koes Plus, karena Nomo Koeswoyo memutuskan keluar dan posisinya sebagai penabuh drum digantikan oleh Kasmuri atau Murry.

Seterusnya, seakan tak terbendung, Koes Plus menjadi band paling penting di negeri ini. Keberhasilan mereka tidak hanya diakui dari jumlah penjualan, namun juga kreatifitas mereka. Mereka merilis ratusan album dari berbagai macam genre musik, ada pop, kasidah, rock n roll, keroncong ataupun reliji. Bayangkan lagi, setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin Eugene Timothy. Mereka menjadi mesin hits, tercatat pada tahun 1974 Koes Plus berhasil merilis sekitar 24 album yang berarti setiap sebulan sekali Koes Plus menghasilkan 2 album.

Meski lagu-lagunya kebanyakan pop namun mudah melekat di telinga penggemarnya. Walaupun sempat menyuarakan protes politik lewat albumnya, namun mereka tidak berusaha menjadi politis. Mereka konsisten menyuarakan pesan-pesan perdamaian, cinta kasih dan keluarga.

Sejarah juga mencatat, semua anggota Koes Plus adalah entertainer sejati, termasuk juga seorang Yon Koeswoyo. Tidak cuma piawai bernyanyi, tapi juga berkomunikasi di atas panggung.

03 Koes Plus Istimewa

Koes Plus (Foto: Istimewa)

Naik turun secara popularitas juga masa vakum telah mereka rasakan, kehilangan Nomo yang akhirnya bersolo karier dan mengurus bisnisnya serta yang paling telak ketika sang kakak Tonny meninggal. Sejak itu Koes Plus banyak mengalami gonta ganti personil. Pada 2004, Murry keluar menyusul Yok untuk hengkang dari group karena alasan kesehatan, otomatis menjadikan Yon menjadi satu-satunya keluarga Koeswoyo yang masih tersisa di Koes Plus.

Begitu legendarisnya Koes Plus, banyak orang yang menyandingkannya dengan band The Beatles dan Yon dianggap menjadi John Lennon. Semua karya-karya mereka hampir bisa dinyanyikan oleh anak muda, sampai generasi sebelumnya.

Yon merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara putera pasangan Raden Koeswoyo dan Rr. Atmini dan meninggalkan empat orang anak yakni, Gerry Koeswoyo, David Koeswoyo (dari pernikahan dengan Damiana Susi), Kenas Koeswoyo dan Bela Aron Koeswoyo dari pernikahan dengan Bonita Angela).

Pendidikan terakhir yang sempat ditempuh oleh Yon adalah Universitas Res Publica (Universitas Trisakti) Jakarta, jurusan Arsitektur pada tahun 1965, walau tidak selesai, meski sudah tingkat terakhir. Diantara saudara-saudaranya, Yon memang termasuk yang telat menikah. Hal itu pernah ia tuangkan dalam lagu ciptaannya berjudul ‘Hidup Yang Sepi’. Lagu yang lahir ketika Yon benar-benar sepi sebagai pria lajang tanpa kekasih. Bahkan ia pernah menyanyikan lagu itu sampai matanya berlinang.

04 Yon Koeswoyo Rizal

Yon Koeswoyo (Foto: Rizal)

Pada masa remaja Yon mengaku sempat merasakan cinta platonik yang dahsyat, namun cinta itu tak berkelanjutan. Dalam pengakuannya, terkuak bahwa cinta sejatinya dahulu pernah hinggap pada pemain drum band wanita Dara Puspita bernama Susy Nander. Kisah cinta Yon tersebut diabadikan oleh Tonny Koeswoyo dalam lagu ‘Andaikan Kau Datang’ yang dilantunkan Yon.

Pada masa-masa tuanya, Yon mulai mengisi hari-harinya dengan berkebun dan melukis. Ia juga tetap aktif mencipta lagu dan menyiapkan album baru Koes Plus formasi terakhir yang terus diusungnya sampai akhir hayatnya./ Rachmat

Thursday, 04 January 2018 13:38

Jumpa Kawan Lama

Mesin Waktu Itu Bernama JKL

Bicara musik tahun 60 dan 70-an adalah membicarakan masa penting perkembangan musik popular tanah air. Tak bisa juga dipungkiri, ini merupakan benang merah dari munculnya band – band pesta yang menjamur sampai menjadi super group sekelas Gipsy, Koes Plus, Panbers, D’lloyd, Rollies dan lain-lainnya.

Bagaimana dengan musik rock sendiri? Rock bergerak lewat jalannya sendiri. Sejarah juga membuktikan kalau rock cukup memberikan pengaruh nyata bagi perkembangan musik Indonesia di masa-masa sesudahnya, bahkan sampai saat ini.

Mengingat dan mengabarkan masa-masa tersebut, sengaja saya dan kawan-kawan  menciptakan sebuah event bertajuk “Jumpa Kawan Lama” atau lebih pop dengan sebutan “JKL”. Ini adalah sebuah acara kumpul-kumpul musisi era 60 & 70an, dan pertama kali diselenggarakan pada tahun 1993, 1994 dan 1995. Sayangnya kegiatan ini terhenti dan baru digulirkan lagi 21 tahun kemudian pada tahun 2016 diadakanlah JKL ke 4 kalinya.

JKL sendiri adalah reuni dan pesta musik era generasi bunga. Pesta musik yang selalu digadang-gadang menjadi sebuah acara yang cukup meriah. Hal ini dibuktikan pada gelaran JKL 2016 yang diselenggarakan di Kemang Village silam, yang sempat menjadi pembicaraan khalayak ramai. Bayangkan saja, pesta ini berhasil mengumpulkan seribuan penonton yang didominasi oleh para generasi bunga dan larut  satu sama lainnya.

Untuk penampilnya? Jangan pernah tanyakan semangat dari para singa panggung seperti Freedom Of Oyeck, Flower Poetmen, Noor Bersaudara, De Hips, The Minstrels, Fancy Jr, Gipsy, ataupun Bigman Robinson. Kami semua lebur jadi satu dan berusaha menunjukkan musikalitas terbaik di atas panggung. Ibarat mesin waktu, pesta JKL 2016 silam telah melemparkan kami ke masa lalu di saat jiwa masih menggelora.

Begitulah, kesuksesan acara tersebut, mau tak mau akhirnya mengusik jiwa kami sebagai individu yang terlibat langsung dalam era tersebut untuk terus menggelar acara ini. JKL sebagai big event akan terus bergulir menjadi acara tahunan rutin, yang akan merangkul semua band-band lawas dan menampilkannya di atas panggung. Dalam skala kecil, JKL tetap diadakan per periode dalam setahun.

Disini, dalam kemeriahan JKL, sebenarnya kami hanya menjaga semangat, persahabatan dan kenangan masa lalu, sambil mencoba tetap bergembira dalam balutan musik yang menyatukan...

 

Salam JKL,

 

Maxi Gunawan
Founder Jumpa Kawan Lama

Friday, 29 December 2017 15:23

The Minstrels

Siap Bakar Panggung JKL dengan Vokalis Baru

Inilah band paling lasak dari kota Medan, The Minstrels. Saat ini hampir seluruh sisa personil band ini menetap di Jakarta. Hanya Fadil Usman yang kerap pulang balik Jakarta - Medan. Beberapa waktu lalu, NewsMusik sengaja menemui mereka dibilangan Cilandak, Jakarta untuk mengetahui kesiapan mereka yang akan manggung di JKL 2018 mendatang.

“Kebangkitan Minstrels ke panggung musik sebenarnya diracuni dengan keberadaan JKL 2016 silam. Atas undangan dan kompor Maxi Gunawan, makanya The Minstrels bergabung lagi,” ungkap Jelly Tobing isi suara.

Merujuk kebelakang di tahun 2016 silam, panggung JKL pada saat itu langsung digebrak oleh anak - anak Medan ini. Mereka yang terlihat paling siap untuk menaklukkan panggung JKL 2016, lewat tenaga yang powerfull. Karena kerap latihan rutin, para rocker gaek seperti Jelly Tobing, Fadil Usman, Mamad, Jimmy Sorongan, Radja Muda Nasution masih penuh percaya diri.

Sederetan lagu lawas layaknya ‘Only One Woman’ dari The Marbles, ‘Sunshine of Your Love’ ataupun ‘Stone Free’ digasak habis oleh mereka. Belum lagi Jimmy Sorongan lewat raungan gitarnya semakin merangsang penonton untuk bergoyang, mengakibatkan sekelompok fans dari Medan maju kesamping panggung memberikan sambutan.

Begitulah, buah manis keberhasilan tampilan mereka membuat group ini makin erat. Formasi The Minstrels pada 2016 secara paripurna digawangi oleh Jelly Tobing, Fadil Usman, Jimmy Sorongan, Mamad, dan Nyong Anggoman. Namun karena kebutuhan mendesak, band harus segera bereformasi.

02 The Minstrels RizalThe Minstrels (foto: Rizal)

“Harus ada seorang vokalis. Nggak mungkin terus-terusan Jelly yang nyanyi dibelakang”, urai Mamad.  “Akhirnya kita ambil vokalis yang tidak terlalu jauh usianya, yakni Eddy Endoh”.

Dengan adanya personil baru, The Minstrels pede untuk terus mengusung musik rock 70an.  Menurut Jelly, Eddy cocok hadir di The Minstrels karena punya range vokal yang tinggi. Dengan begini kami juga bisa mempertahankan sound 70an dengan menghadirkan Nyong Anggoman yang dikenal dengan Hammond soundnya.

Minstrels nantinya akan menyuguhkan rock dengan drum yang keras. Untuk ini juga saya memaksa Mamad untuk kembali memainkan bass dan meninggalkan gitarnya. “Karena saya cukup merasakan pentingnya harmoni antara drum dan bass”, urai Jelly lagi

Pokoknya untuk JKL 2018 nanti, kami memiliki konsep akan membawakan lagu yang orang banyak tau. Karena tujuan kita sebenarnya untuk bikin senang orang. Bukan buat kita sendiri. Istilahnya... enak di gua nggak enak di lu. Karena kitakan sifatnya menghibur. Pokoknya lagu-lagu hits hingga semuanya bisa sing a long. Sudah lewat masanya kita tunjukkan kalau kita jago main band”, tutup Jelly.

Hadirnya Eddy Endoh di rasa NewsMusik memang membawa angin segar untuk band ini. Eddy yang sempat hits dengan lagu ‘Dengar Dengarlah, Jawab Jawablah’ di era 80-an lalu memang memiliki karakter suara yang jantan. “Saya pertama kali kenal mereka secara dekat yaa... pada JKL 2016 lalu. Pertama diajak ke The Minstrels sejak lepas nampil di JKL 2016. Diajak oleh Mamad”, ujar Eddy Endoh menerangkan kiprah awalnya di group ini.

Kami sudah latihan, walaupun belum terlalu intensif. Pokoknya kami akan menggasak panggung lewat lagu – lagu sekelas Uriah Heep, The Cream dan yang terbaru ada  Audioslave. “Pokoknya tunggu saja penampilan kita nanti”, ungkap Jimmy Sorongan./ Ibonk

 

Friday, 29 December 2017 15:18

C’Blues

Persiapan Matang Demi JKL 2018

Ditemui di sebuah tempat dibilangan Jakarta Selatan, C’Blues adalah sebuah super group yang berasal dari Bandung akhir tahun 60an. Setelah melalui bongkar pasang personil dan akhirnya menetap di Jakarta, group ini langsung mengalami masa keemasan di skena musik tanah air pada era 1971 – 1973.

Digawangi oleh Adjie Bandy, Achmad “Mamad” Luther, Idang, Nono dan Bambang Tedjo pada tahun 1971 mereka mengeluarkan album Volume 1 yang mencetak hits ‘Aryati’. Setahun berikutnya lewat personil Adjie Bandy, Achmad “Mamad” Luther, Noengkie Sardjan, Idang, Bambang Tedjo, dan Yoyong, mereka mengeluarkan album Volume 2 dan mencetak hits  ‘Ikhlas’ yang melegenda.

Begitulah, band yang sempat berkibar dibawah bendera Remaco ini seperti kembali tersengat setelah vakum sekian lama. “Kami siap untuk manggung lagi”, ungkap Nono yang menjadi juru bicara group ini. “C’Blues sudah rutin latihan lagi. Terus terang kami sangat termotivasi atas undangan acara Jumpa Kawan Lama di tahun depan nanti”.

“Ini sebuah moment terbaik, disaat sudah umur begini, bisa main bareng lagi. Apalagi di tahun 2016 silam kami tidak ikut terlibat karena belum siap”, sumringah Nono yang diamini oleh Bambang Tedjo.

02 CBlues RizalC'Blues (foto: Rizal)

Dalam keterangannya lebih lanjut, Nono mengatakan bahwa mereka telah menyiapkan materi lagu. Tinggal menentukan lagu-lagu apa saja yang akan disuguhkan. “Beberapa lagu ada kami rubah sedikit liriknya, yaaa... untuk mempermanis saja”’ ungkap Jelly Tobing yang nantinya akan bertindak sebagai vokalis utama.

Sebagai musisi lawas, mereka juga sangat antusias melihat perkembangan musik era sekarang. “Band-band sekarang sudah seharusnya sangat bersyukur. Perkembangan teknologi dan informasi sudah sangat membantu. Mengasah skill dan menjadi pemicu ketenaran. Juga menjadi musisi sudah dapat menopang hidup. Tidak seperti kami dahulu, semua dalam keadaan terbatas”, ungkap Nono.

“Keuntungannya era kami adalah tidak banyak terdapat komunitas satu band. Dahulu sangat biasa jika  fans Panbers juga merupakan fans nya God Bless. Juga sering diadakan duel meet antara dua band sejenis untuk menunjukkan siapa yang paling bertaji”, ungkap Jelly Tobing. “... dan itu adalah masa-masa terbaik saya kira”.

C’Blues saat ini digawangi oleh Achmad “Mamad” Luther (Vocal/ Gitar), Jelly Tobing (Vocal/ Gitar), Nono (Bass), Bambang Tedjo (Trompet/ Vocal) dan Noengkie Sardjan (Drum). Kelimanya tengah mempersiapkan diri mereka untuk kembali meramaikan panggung JKL yang sedianya akan dihadirkan pada bulan Maret 2018. Kita akan kembali mendengar tembang hits C’Blues akan berkumandang kembali dari band aslinya. Usia boleh saja bertambah, namun semangat tetap tinggi. / Ibonk

 

Friday, 29 December 2017 15:14

The Minstrels

Band Rock Paling Lasak dari Medan

Pada masanya, The Minstrels adalah salah satu band rock terpanas di Medan, Sumatera Utara pada awal era 70an. Ketenaran band ini saat itu di dukung penuh oleh dana kuat dan fasilitas dari perusahaan yang berkecimpung di dunia promotor dan event organizer yang dipimpin Ny. Sjahniar Sjahbudin itu.

Pada tahun 19723, perkembangan band ini semakin mentereng saja. Menurut pengakuan Jelly Tobing, The Minstrels yang saat memang sdh ada, tapi belum bisa berbicara banyak di Medan. Sejak kehadiran Jelly Tobing dan Achmad “Mamad” Matius yang menuruti ajakan Fadil Usman untuk bergabung di band merubah keadaan.

Sejak The Minstrels digawangi oleh Fadil Usman, Jelly Tobing, Achmad “Mamad” Matius Christ Hutabarat, Iqbal Thahir Mustafa dan Adi “Sibolangit” Haryadi peta musik Medanpun berubah.

“Nah... sejak kami berdua datang pada tahun 1973, kami benar-benar latihan secara spartan. Tujuannya hanya satu, untuk menjadikan The Minstrels menjadi band papan atas. Dalam waktu tak lama, akhirnya kami bisa mengangkat band ini menjadi 3 besar band papan atas di Medan, bersanding bersama Great Season, Rhythm King, dan The Minstrels sendiri”, ungkap Jelly Tobing.

02 The Minstrels IstimewaThe Minstrels (Istimewa)

Band ini dengan sekejap mendapat perhatian dari publik Medan. Mereka manggung dari panggung ke panggung lewat aksi yang dinamis. Secara personil, mereka juga menampakkan kepiawaian yang cukup baik. Selain Jelly, Mamad dan Fadil ada personil lain yang kerap disebut-sebut memiliki talenta luar biasa.

Menduduki posisi sebagai bassis, Adi Haryadi adalah pria yang berasal dari kawasan Sibolangit, Sumatera Utara. Hingga akhirnya, panggilan Adi Sibolangit melekat pada lelaki ini. Kiprahnya cukup mendapat sorotan, terlebih lagi ketika Adi hijrah ke Bandung dan bergabung dengan band Giant Step yang dikomandani Benny Soebardja.

Prestasi lainnya yang sempat di kecap oleh band ini adalah terpilihnya Jelly Tobing sebagai drummer terbaik versi majalah Aktuil. “Saat itu majalah Aktuil tengah bikin polling musisi terbaik dan terpopuler di Indonesia. Banyak yang terpilih dan hampir semuanya adalah pemain top dari Jakarta, seperti Donny Gagola. Namun, syukurnya yang menjadi drummer terbaik adalah saya, justru saya terpilih dari Medan (The Minstrels),” kenang Jelly lagi.

Begitulah, band yang hanya sempat merilis satu album saja yaitu sebuah album pop pada label Remaco Jakarta, lewat album bertajuk The Minstrels. Band yang memiliki banyak penggemar ini tanpa dinyana akhirnya harus tutup buku pada tahun 1975. Semuanya dipicu oleh kepergian Mamad dan Jelly kembali ke Jakarta.

Jelly Tobing bergabung dengan Superkid bersama Deddy Stanzah dan Deddy Dorres. Sedangkan beberapa personil yang tertinggal seperti Fadil Usman, Iqbal Mustafa tetap berkarier di Medan./ Ibonk

03 The Minstrels IstimewaThe Minstrels (Istimewa)

 

Friday, 29 December 2017 15:06

C’Blues

Supergroup dari Bandung

C’Blues ternyata bukan band yang memainkan blues. C’Blues sendiri bermuasal dari bahasa sunda seblu yang berarti lecek atau kumal, lalu diplesetkan seolah berbahasa Inggris. Pada dasarnya, cikal bakal C’Blues berlangsung pada paruh dasawarsa 60-an di Bandung. Dibangun oleh Soleh Soegiarto dan Uthe Tahir, namun keduanya mundur dan bergabung dalam Rhapsodia di awal 70-an.

Selanjutnya, band ini di bawah komando Sakti Siahaan, dan telah berkali-kali bongkar pasang formasi. Syukurnya ketika memasuki formasi yang ke-6 di Jakarta sekitar tahun 1971 C’Blues mengalami perubahan nasib. Digawangi oleh Adjie Bandy (Vokal, Biola, Saxophone, Piano dan Vibraphone), Achmad “Mamad” Luther  (Keyboards), Idang (Drums, Vokal), Nono (Bass, Vokal) dan Bambang (Gitar, Vokal), nama C’Blues mulai di kenal khalayak luas.

Hal ini bisa jadi karena mereka baru saja merilis album perdana di Remaco dengan sebuah hits keroncong bertajuk ‘Aryati’. Sebenarnya album pertama C’Blues ini tidak direncanakan sama sekali, muncul secara tak sengaja karena mengamini ajakan Yoyok yang juga manajernya Rollies pada saat itu.  

Saat itu, C’Blues menggagas untuk lebih memaksimalkan unsur brass section dalam arransemen musiknya. Lebih banyak memainkan musik pop, namun terkadang secara tak terduga menyelusup pula elemen rock, misalnya pada lagu “Nenek Jang Tua”, riffing gitar rock mencuat disini.

Tak lama berselang, C’Blues lalu meluncurkan album kedua dengan sampul album yang mengingatkan kita pada gerakan psychedelic. Di album ini mencuat sebuah hit yang dinyanyikan Adjie Bandy bertajuk ‘Ikhlas’. Lagu ini juga menjadi tonggak ketenaran perjalanan musik C’Blues di blantika musik nusantara.

02 CBlues IstimewaC'Blues (Istimewa)

Secara garis besar, C’Blues sebagai band cukup bersinar. Tak hanya menjadi macan panggung, tapi mereka cukup jumawa dengan 2 Volume album rekaman yang menghantarkan beberapa hits abadi.

Kenyataan lain, di akhir tahun 1972, sebenarnya mereka telah memiliki materi untuk album ketiga. Sayangnya sebelum masuk ke ruang rekaman oleh pihak Ramaco, C’Blues diminta untuk mempersiapkan album full lagu keroncong. Permintaan ini muncul karena pihak label melihat kesuksesan lagu ‘Keroncong Harapan’ di album sebelumnya. Hampir seluruh personil menolak rencana album keroncong tersebut,  hingga akhirnya band ini mandeg melanjutkan rekaman.

Pada tahun 1973, perlahan C’Blues mulai mengalami masa-masa akhir era keemasan. Sempat berkibar, tatkala mereka diminta untuk menjadi band pembuka show dunia Bee Gees yang tampil di Surabaya. Tampil mengesankan lewat lagu-lagu hits mereka yang dipadu dengan lagu-lagu lain yang tengah hits.

Pada tahun ini juga Jelly Tobing yang sempat bergabung, hengkang ke Medan dan bergabung bersama Minstrels. Kehilangan 2 personil yang cukup memberi warna bagus dalam tubuh band, akhirnya membuat C’Blues vakum. Satu demi satu para personilnyapun mencari jalan masing-masing./ Ibonk

 

Tuesday, 26 December 2017 14:23

Jazz on the Bridge - Bangka

Festival Jazz Penutup Tahun

Bangka Belitung lewat panorama pantai yang dihiasi bebatuan granitnya yang indah, keramahan penduduk, dan sajian kuliner menjadi alasan wisatawan untuk bertandang ke daerah ini. Namun itu saja ternyata tidak cukup. Daerah dengan sebutan Negeri Serumpun Sebalai ini bertekad untuk menjadi titik tujuan wisata event. diantaranya ingin menjadikan Bangka Belitung salah satu kiblat pagelaran musik jazz berkelas dunia.

Menabalkan nama Jazz on the Bridge - Bangka (JoBB), event musik jazz dengan penampil para maestro jazz nasional, menjadi titik awal menuju cita-cita tersebut. Event ini akan berlangsung pada 29-30 Desember 2017 di Pantai Koala, kawasan Jembatan Emas, Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Di tahap awal penyelenggaraan, JOBB akan menghadirkan para maestro musik jazz papan atas tanah air. Menampilkan Idang Rasjidi Syndicates yang akan mengiringi para bintang tamu lainnya, diantaranya Fariz RM, Tompi, ataupun Mus Mujiono. Para bintang utama ini akan tampil di hari kedua, tanggal 30 Desember 2017, meneruskan kemeriahan hari pertama, panggung JOBB yang menghadirkan tujuh kelompok musik terseleksi dari lokal Bangka Belitung.

Sajian jazz unik dipastikan akan menyuguhkan tontonan menarik. Apa sebab? Karena menggabungkan antara suasana pantai dan pemandangan jembatan Emas yang menjadi latar belakang panggungnya. Semakin unik dengan terlihatnya lalu lintas kapal nelayan yang hilir mudik melewati bawah Jembatan Emas.

02 Idang Rasjidi Istimewa

Idang Rasjidi (Foto: Istimewa)

Nico Alpiandy selaku Ketua Panitia Pelaksana JoBB 2017, mengatakan untuk mengakomodasi keinginan penonton luar daerah yang ingin menonton jazz secara unik, panitia mengerahkan puluhan kapal nelayan yang akan melempar sauh di perairan. "Jadi, penonton bisa menyaksikan juga dari perahu-perahu nelayan. Nelayan juga menyediakan paket makanan yang bisa dinikmati penonton dari atas perahu mereka," kata Nico.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan menyambut antusias hadirnya JoBB 2017 ini. Terutama, event ini akan menjadi salah satu pendorong dan pemicu bagi Bangka Belitung untuk lebih terkenal. "Musik jazz ini adalah musik yang berkelas. Segmennya juga berbeda dengan musik-musik lainnya. Harapan kita dengan adanya event ini di Bangka Belitung, akan lebih menambah semarak dan menjadi salah satu strategi bagi kita untuk mengembangkan pariwisata Bangka Belitung ke depan," ujarnya.

Erzaldi juga berharap JoBB dapat berjalan lancar, sehingga cita-cita untuk menjadikannya sebagai agenda event reguler dan terus berkembang sebagai panggung jazz dunia, dapat tercapai. "Kita targetkan penampilan jazz di Bangka Belitung ini bisa kita laksanakan dalam satu tahun bisa dua kali," ujarnya.

Idang Rasjidi, yang juga seorang maestro jazz kelahiran Bangka, menyatakan dirinya sudah siap untuk turut memajukan pariwisata Bangka Belitung dengan musik jazz. “Cara memerdukan Bangka itu, memakai musik. Event JoBB tahun ini menjadi trigger dulu sebelum nantinya menjadi festival rutin, semacam Java Jazz Festival yang digelar tiap tahun,” tuturnya./ Ismed

Monday, 18 December 2017 17:42

Masqa

Topeng dan Album Perdana

Tampil beda atau malah nyentrik bisa saja dilakukan oleh setiap individu ataupun kelompok untuk mencuri perhatian. Apalagi di ranah industri musik, cukup terbilang nama-nama kelompok band/ musik yang menyembunyikan identitas mereka baik lewat topeng ataupun masker. Sebutlah supergroup rock dunia Kiss, atau yang lebih kekinian seperti Daft Punk, Marsmello, Slipknot, Deadmau5, ataupun dari dalam negeri seperti Kuburan dan lainnya.

Semuanya beramai-ramai menyembunyikan identitasnya, namun tidak dengan karyanya. Mereka terkenal moncer dan sebagian besar merupakan penampil yang memiliki banyak hits. Nah hal tersebutlah yang sedikit banyak menginspirasi sebuah pendatang baru yang beranggotakan 4 personil ini.

Band yang wajib mengenakan topeng ini, menyebut diri mereka dengan Masqa. Digawangi oleh Ebiet A. Prawira (Keyboard), Arluna (Vokal), Mimut (Vokal) dan Lukman (Drum). "Sesuai nama band, Masqa kami ambil dari kata Mask atau Topeng. Ini ibarat identitas dan fashion untuk keberadaan kami," ungkap Ebiet sekaligus pentolan band menjelaskan.

Dari segi jam terbang, sebenarnya band ini secara personil tidak bisa digolongkan sebagai pendatang baru. Masing-masing mereka memiliki latar belakang sebagai musisi yang sudah malang melintang di skena musik tanah air. “Tapi atas dasar kerahasiaan, kami tidak mau menbocorkan siapa kami di luar Masqa,” ungkap Luna menambahkan.

02 Mimut dan Luna Ibonk

Duo vokalis Masqa, Mimut & Arluna (Foto: Ibonk)

Grup yang terbentuk dari persamaan hobby ini, bermula dari Ebiet yang cukup gape bermain keyboard dan banyak menciptakan lagu-lagu bagus. Sayang jika tidak dipublikasikan, akhirnya ia menemukan anggota lainnya yang memiliki visi yang sam. Selanjutnya Masqa terbentuk pada awal tahun 2017.

NewsMusik yang ikut hadir pada pelepasan album perdana mereka pada Sabtu (16/12/2017) lalu dibilangan Blok M, Jakarta Selatan menangkap ritme 90-an di musik yang mereka usung. “Ini sebuah keuntungan,“ ungkap Oppie Andaresta yang ikut memberikan testimoni dalam peluncuran album ini. “Era digital saat ini, tanpa disadari kembali ke sound 90-an. Cukup familiar, apalagi bagi kita yang merasakan betul era tersebut,” tambah Oppie.

Menurut Ebiet lagi bahwa lagu-lagu yang terdapat dalam album “Persembahan Untuk Cinta” ini dibuat untuk membidik pasar dari beragam genre. Ada 7 buah single yang di kemas dalam balutan berbeda, untuk menjaring pendengar yang beragam.

Masqa menawarkan 3 lagu andalan yakni ‘Kenangan Abadi’, ‘Cewek I Love You’ dan ‘Asa’.  "Sejauh ini lagu ‘Asa’ kami anggap paling punya tingkat kesulitan, karena progressi chord-nya sedikit rumit dengan perpindahan mayor ke minor. Sedangkan pada lagu ‘Cewek, I Love You’ kami pilih sebagai wakil dari musik yang ringan,” sebutnya lagi

Tak jauh berbeda dengan Oppie Andaresta, Posan Tobing yang hadir juga memberikan testimoni menyebutkan bahwa dirinya sangat mendukung kehadiran Masqa di kancah musik nasional. Ia malah tanpa sungkan menyebutkan lagu ‘Cewek, I Love You’ sebagai single pilihannya.

03 Oppie Andaresta Posan Tobing diantara personil Masqa Ibonk

Oppie Andaresta & Posan Tobing diantara personil Masqa (Foto: Ibonk)

"Saya siap membantu distribusi digital Masqa. Menurut saya materi albumnya cukup beragam membidik segmen musik. Dalam waktu dekat saya akan mempromosikan Masqa ke Malaysia, negara penyerap pasar lagu-lagu pop karya musisi Indonesia," ungkap Posan Tobing pemilik bendera Aksen Record sebagai payung besar untuk band tersebut.

Mendapat dukungan dan nada optimis dari para seniornya di industri musik tanah air, keempat personil Masqa tersebut  semakin optimis untuk segera berkiprah. Tercatat, dalam beberapa minggu kedepan ini mereka akan disibukkan untuk mengadakan perjalanan promo album di beberapa kota besar di tanah air. Tahun 2018, sudah dipastikan mereka akan bertandang ke Malaysia dan kota-kota lainnya di luar Jawa.

Begitulah, kita tunggu saja kiprah keempatnya yang sudah berkomitmen untuk terus berkreasi dan tetap memakai topeng. “Supaya orang hanya mengenal kita dari musik, bukan penampilan saja. Kita tidak ingin terkenal secara pribadi, tapi kita ingin dikenal sebagai Masqa”, ungkap Ebiet yang diamini oleh ketiga personil lainnya.

Ok, bagi yang penasaran silakan cermati satu persatu foto yang ada, kira-kira ketebak nggak siapa mereka??/ Ibonk

Tuesday, 19 December 2017 14:33

Amelia Ong

Jazz dan Lagu untuk Ibunda

Dipenghujung tahun 2015 silam, dengan langkah tegap seorang Amelia Ong akhirnya mengikuti keinginan terbesarnya untuk mengisi skena musik jazz tanah air. Lewat album yang sama dengan namanya musisi jazz muda tersebut pede menceburkan dirinya dengan mengusung jazz sebagai sebuah benang merah karya-karya yang disuguhkannya.

Seperti informasi yang kerap dijumpai, bahwa padusi bernama asli R. Rr. Amelia Tri Wardani lahir di Purwekerto. Tumbuh besar dari keluarga pencinta musik. Kecintaan keluarga terhadap musik menjadi pemicu dirinya menyukai jazz, dan ayahnya pula pertama kali mengajarkannya bermain saxophone. Sedangkan guru piano di rumah adalah kakaknya sendiri. Semua dilakukannya pada usia 4 tahun., maka tak heran di usia dini Amel kecil sudah sering tampil di panggung-panggung lokal di kotanya.

Usia 11 tahun, Amelia pindah ke Jakarta dan tinggal bersama Bertha, penyanyi dan guru vokal. Selain menimba banyak ilmu olah vokal diakui oleh Amelia kalau sosok Bertha ini lebih mengarahkannya untuk tetap di jalur jazz. Selain guru, Bertha juga memperkenalkan Amelia dengan musisi-musisi jazz kenamaan seperti Idang Rasjidi dan Yance Manusama. Perkenalan itu membawa Amelia kepada kesempatan untuk tampil bersama musisi jazz di Jakarta pada beberapa festival jazz bergengsi antara lain Jazz Goes to Campus (JGTC) 2003 dan Java Jazz Festival pada tahun 2003 dan 2004.

Tahun 2006, Amelia pindah ke Perth, Australia dan menamatkan pendidikan SMA-nya disana. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Western Australian Academy of Performing Arts (WAAPA) dan menamatkan pendidikannya pada level Bachelor of Music, mayor pada Jazz Performance, pada tahun 2009. Direntang periode 2007 – 2009, selain kuliah, Amel juga tergabung dengan kelompok orkestra West Australian Youth Jazz Orchestra (WAYJO).

02 Amelia Ong Ibonk

Amelia Ong (Foto: Ibonk)

Bermukim selama 8 tahun di Australia, penyuka warna hijau ini telah ia membangun karir musik disana, tampil pada berbagai penampilan bersama musisi jazz Australia seperti Joe Chindamo, Daryl Somers, James Morrison, termasuk tampil pada festival jazz di negeri kangguru ini seperti Wangaratta Jazz Festival pada tahun 2009.

Ditemui oleh NewsMusik pada saat pelepasan single terbarunya ‘Ibu’ akhir pekan silam di sebuah café dibilangan Jakarta Selatan, Amelia membuka cerita “Saya kembali ke tanah air karena melihat perkembangan musik jazz disini begitu pesat. Saya punya banyak stock lagu hasil ciptaan sendiri. Semuanya memiliki benang merah yang kuat terhadap musik jazz. Karena jazz adalah jiwa saya”, ungkapnya.

“Namun saat ini penyajiannya sedikit berbeda, tidak seperti ketika melepas album perdana. Album tersebut purely jazz, dan melibatkan beberapa musisi jazz tanah air, seperti Sri Hanuraga – keyboards, Kevin Yosua – akustik bass, Rafi – drums dan Dennis Juno – tenor sax. Untuk saat ini disajikan lebih light dan berwujud single. Hasil kerjasama saya dengan Andre Dinuth. Lagunya sendiri bernuansa folk country, tapi tanpa menghilangkan karakter dan warna vokal saya. Masih tetap ada jazz nya tentu”, terangnya

Lagu ini menceritakan tentang kasih ibu dan janji seorang anak atas cinta yang telah diberikan oleh sang ibu. Paduan vokal merdu Amelia dengan petikan gitar Andre Dinuth membuat lagu ini penuh warna. Apalagi ditambah dengan alunan alat musik flute dan accordion.

Proses pembuatan lagunya terbilang cukup singkat, hanya sekitar 10 menit. “Lagu ini terinspirasi dari ibu saya, dimana seorang ibu cintanya teramat besar sampai dia rela mencurahkan cinta terbesarnya untuk anaknya. Lagu yang juga saya persembahkan untuk ibu dimanapun berada,” tambahnya.

03 Amelia Ong diantara Moses dan Glenn Fredly dari Bumi Entertainment Ibonk

Amelia Ong diantara Moses dan Glenn Fredly dari Bumi Entertainment (Foto: Ibonk)

Pendapat sejenis juga disampaikan oleh Glenn Fredly selaku perwakilan dari Bumi Entertainment yang menaungi Amelia saat ini. Glenn mengatakan bahwa Amelia Ong adalah seorang yang sangat berbakat. Karakter yang kuat, kualitas dan pilihan musiknya adalah sebuah paduan yang tepat. “Apalagi jazz, menurut saya jazz itu bukan genre dalam musik, tapi lebih dari itu. Sehingga jazz bisa dimasukkan ke jenis musik apapun, seperti yang dilakukan Amel dalam single ini,” ujar Glenn.

Perjalanan karir Amelia Ong sebagai musisi jazz telah dibuktikannya  dengan masuk nominasi AMI Award untuk Album Jazz Terbaik dan Nominasi AMI Award untuk kategori Artis Jazz Vokal Terbaik. Bahkan di tahun 2017 lalu ia berhasil mendapatkan penghargaan AMI Award untuk Karya Produksi Lagu Berlirik Spriritual Nasrani Terbaik, sebuah katagori yang baru diadakan pada tahun ini.

Kini, selain bermusik, setahun belakangan ini ia tengah mendalami seni bela diri campuran Mix Martial Arts (MMA). “Ini tak sekedar beladiri saja, tapi juga menjadikan saya lebih bugar dan bagus untuk pernafasan. Cuma porsinya sedikit dikurangi kalau misalnya saya harus tampil. Namanya juga beladiri dan ada fight-nya. Takut kalau tiba-tiba ada lebam dan terlihat”, ujarnya sambil tertawa./ Ibonk

Tuesday, 12 December 2017 10:56

Go Ahead Challenge

Munculkan Penggiat Seni Berbakat

Go Ahead Challenge 2017 kembali hadir tahun ini untuk memilih insan kreatif di ranah seni visual dan musik. Dari 16.315 orang yang mendaftar ke kompetisi sejak Februari 2017, Go Ahead Challenge (GAC) telah menetapkan 12 finalis pilihan untuk bersaing menjadi pemenang. Kesemuanya  berhasil terseleksi dari empat kota yakni Samarinda, Yogyakarta, Bandung, dan Lampung.

Sore hari sebelum diumumkannya pemenang GAC ini, NewsMusik sempat berbincang hangat dengan Saleh ‘Ale’ Husein, musisi maupun visual artist yang juga merupakan finalis GAC 2013 menyampaikan, “Ini semua berkat dukungan dari Sampoerna A, GAC Artwarding Night kali ini menjadi lebih menantang untuk para finalis yang bersaing,” ungkap Ale.

Ditambahkannya lagi bahwa para finalis dipacu untuk dapat mengeksplorasi perkembangan karya mereka dengan beragam medium untuk dapat dipresentasikan secara visual. Karya tersebut harus berfokus pada diri dan ide mereka sendiri.

“Yang melegakan lainnya adalah tidak terdapat gap antara karya anak Jakarta ataupun di daerah. Semuanya sama, memunculkan ide yang setara. Kami hanya tinggal memberikan masukan dan memaksa mereka untuk lebih bisa keluar dari keterbatasan ide,” ungkap salah satu personil The Adams tersebut di venue acara di Gudang Sarinah Ekosistem (GSE), Jakarta Selatan 10/12/17.

02 Saleh Ale Husein musisi dan visual artist Ibonk

Saleh ‘Ale’ Husein, musisi dan visual artist (Foto: Ibonk)

 

Usaha yang dilakukan untuk menginspirasi para emerging artist maupun pengunjung yang hadir di GAC Artwarding Night tersebut.  Sengaja di dalam A Space di pajang ragam karya tidak hanya seni visual namun juga seni fotografi, style, dan musik. Ragam karya yang bertemakan “Major Scale”, mengambil salah satu istilah dalam seni musik, merupakan karya dari Ade Darmawan, Anton Ismael, Ajeng Svastiari, dan Iga Massardi.

Para alumni GAC terdahulu juga turut dilibatkan seperti Rony Rahardian ‘Rebellionik’, finalis GAC 2014 bidang visual art menghadirkan “Interactive Space”, ruang untuk para pengunjung mengekspresikan ide atau semangat mereka menikmati GAC Artwarding Night. Lalu Yogi Kusuma, pemenang GAC 2015 bidang fotografi, mengisi ruang arsip di dalam A Space dengan dokumentasi perjalanan GAC mulai tahun 2013 hingga 2016.
 
Pada malam penganugerahan, pengunjung selain disuguhkan pameran karya seni dari 12 finalis, juga dimanjakan dengan tampilan seperti Nick, Makmur Sejahtera, Yuka Tamada, Sisitipsi, The Adams dan Stars and Rabbit. Lepas itu Ade Darmawan selaku juri akhirnya menyampaikan 4 pemenang terpilih dari kategori musik dan visual art.

03 Sisitipsi Ibonk

Sisitipsi (Foto: Ibonk)

Terpilih empat nama sebagai pemenang GAC tahun 2017 ini antara lain: Gilang Anom Manapu Manik asal Bandung di bidang Visual Art, Vania Marisca Wibisono asal Malang di bidang Musik, Yahya Dwi Kurniawan asal Yogyakarta dalam bidang Visual Art, dan Riri Ferdiansyah asal Jambi di bidang Musik.

"Keempat emerging artist yang terpilih benar-benar suara dari industri kreatif kita. Tahun ini yang mengirim pendaftaran mediumnya semakin kreatif. Kedepannya, saya cuma berharap di luar ini mereka bisa bikin showcasing yang nantinya jadi pengalaman penting. Dan mereka akan terus berlatih dan berkreasi," pungkasnya," ungkap Ade Darmawan menunjukkan harapannya./ Ibonk

Page 2 of 127