NewsMusik

NewsMusik

Thursday, 18 January 2018 10:36

Roadshow Pucuk Cool Jam 2018

Semarak Lewat Tampilan RamenGvrl

Teh Pucuk Harum sebagai produk RTD Tea nomor satu di kategori non-cup Jasmine berdasarkan riset AC Nielsen pada tahun 2017, terus berupaya mengapresiasi passion dan talenta anak muda Indonesia melalui program Pucuk Cool Jam yang digelar untuk ketiga kalinya pada tahun ini.

Setelah memenuhi tantangan pada digital audition serta proses validasi sekolah agar dapat dikunjungi oleh Pucuk Cool Truck, terpilih 40 sekolah di wilayah Jabodetabek, Bandung dan Cirebon yang akan dikunjungi Roadshow Pucuk Cool Jam 2018, yang dimulai pada 16 Januari hingga 17 Maret 2018.

Brand Manager Teh Pucuk Harum, Juanita, mengatakan, pihaknya mengapresiasi seluruh sekolah yang telah berpartisipasi pada digital audition Pucuk Cool Jam 2018. "Meskipun wilayah jangkauan program Pucuk Cool Jam 2018 di Jabodetabek, Bandung dan Cirebon, namun kami mendapatkan partisipasi di luar dari wilayah tersebut. Hal ini membuat kami percaya bahwa ajang kreativitas seni bagi anak muda sangat dinantikan," ujar Juanita, di Jakarta, Selasa (16/1).

SMA Sumbangsih Jakarta Selatan, merupakan sekolah pertama yang akan dikunjungi Roadshow Pucuk Cool Jam 2018 untuk wilayah DKI Jakarta. Selain band sekolah dan ekstrakurikuler, Roadshow Pucuk Cool Jam 2018 di SMA Sumbangsih, diramaikan dengan penampilan RamenGvrl, rapper yang memulai karir bermusiknya pada tahun 2013 dan telah berhasil memikat khalayak luas melalui rilis single ‘I'm Da Man’ pada penghujung 2016 lalu.

02 RamenGvrl Istimewa

RamenGvrl (Foto: Istimewa)

Menurut Program Roadshow Pucuk Cool Jam 2018, Juanita mereka tidak hanya menampilkan band sekolah dan ekstrakurikuler tetapi juga melibatkan seluruh siswa untuk mengikuti berbagai aktivitas seru lainnya.

"Melalui Roadshow Pucuk Cool Jam 2018 ini, kami berharap dapat ikut menjadi wadah penyemangat bagi anak muda Indonesia dalam menghadapi tantangan masa depan untuk terus berpikir kreatif, tidak mudah menyerah, selalu berusaha untuk mencari hal baru dan tidak pernah berhenti untuk berkarya dan meraih kesuksesan," tutup Juanita./ Rizal

Thursday, 18 January 2018 10:11

Mytha Lestari

Kesan Mistis Isi Soundtrack Film Horor

Paramitha Lestari Mulyarto atau lebih beken disebut Mytha Lestari lahir di Biak pada 29 Juni 1991, adalah jebolan salah satu ajang pencari bakat Mama Mia 2007 silam. Pada saat itu dewi fortuna seolah menaunginya sehingga dirinya bersama sang mama berhak menyandang gelar juara pertama. Sejak itu, Mytha tidak pernah berhenti dan terus mendalami olah vokal.

Tak sia-sia, sampai akhirnya ia memiliki album solo yang tidak pernah dia prediksi sebelumnya, dan menjadikan lagu yang berjudul ‘Tentang Mimpiku’ sebagai tunggalan perdananya.
 
Sadar dirinya telah memilih karir dan terjun di dunia seni, Mytha tidak berhenti pada bidang menyanyi saja. Ia juga pernah mencoba kemampuan di bidang seni peran lewat drama musikal “Gita Cinta The Musical”. Seolah berjodoh, drama ini banyak menuai tanggapan positif dari banyak kalangan. Lalu ia melanjutkan petualangannya dengan melakoni beberapa judul FTV yang ditayangkan di televisi swasta.

Keseharian Mytha tentu tak lepas dari menyanyi dan mendalami teknik vokal. Bahkan terkadang secara iseng ia juga membuat lagu. Begitulah, hidupnyapun terus berlanjut, dan sesuatu yang terbesar dalam hidupnya dirasakannya pada saat mengakhiri masa lajangnya. Ia resmi menikah dengan Barry Maheswara pada Minggu 5/11/2017 lalu.

Baru-baru ini juga Mytha, mengambil sebuah tantangan lain, yakni menjadi pengisi soundtrack untuk film bergenre horor Nini Thowok. Lewat judul lagu 'Takkan Pernah Mati', ini merupakan pengalaman pertamanya dalam mengisi soundtrack film bergenre ini.

02 Mytha Lestari Ibonk

Mytha Lestari (Foto: Ibonk)

"Aku sudah lama kenal sama Mas Ronny, salah satu produser film ini. Udah lama banget pengen kerjasama tapi karena birokrasi label waktu itu jadi harus dilupakan. Kesempatan datang ketika kontrak sudah habis, dan mas Ronny memberikan tawaran.

“Ini memang serem, karena aku tipe penyanyi kalau punya lagu harus dirasain dulu, dan bayangin kalau film horor harus dihororin dulu, agar nyawa lagunya muncul. Tapi nggak apa-apa, ini sebuah tantangan," ungkap Mitha.

Lagu yang dilantunkannya tersebut merupakan hasil ciptaan Raguel Lewi. Liriknya sendiri berkisah mengenai Nadine yang diperankan Natasha Wilona yang rindu sosok neneknya, yang kemudian memanggil arwah sang nenek dengan media Nini Thowok. "Ini menceritakan tentang nini thowok, sejenis jalangkung. Jadi perspektif lagu ini diambil dari pada saat Wilona yang kangen banget sama neneknya. Ia memanggil arwah neneknya lewat media nini thowok”, jelas Mytha.

Secara nyata, lagu tersebut dirasa sangat cocok dengan karakternya selama ini. "Ita, jadi memang lagunya dibikin sesuai karakter aku. Alur lagu tetap ada unsur seremnya, tapi tidak menghilangkan karakter aku yang galau. Ada beberapa masukanku dalam lagu ini seperti twisting melodi atau kasih masukan musiknya," jelasnya.

03 Mytha Lestari Ibonk

Mytha Lestari (Foto: Ibonk)

Bahkan dalam menjiwai lagu tersebut, Mytha harus berhadapan dengan kejadian mistis. Sesuatu yang emang adalah karya yang ingin aku sampaikan harus aku rasakan banget. Jadi ketika aku nyanyiin banyak banget kejadian-kejadian aneh. Aku sama lagu ini udah ada relation sendiri,” tambahnya lagi.

Begitulah, inilah pengalaman baru bagi dirinya . Lagu tersebut menjadi sebuah karya terbarunya yang muncul di awal 2018 ini. Bagaimana dengan keberhasilan film dan soundtrack film tersebut masih harus dibuktikan seiring waktu berjalan. Tinggal kita tunggu saja, begitu juga dengan sepak terjang Mytha Lestari kedepannya./ Ibonk

Tuesday, 16 January 2018 10:35

Dolores O'Riordan

Vokalis The Cranberries Itupun Berpulang

Vokalis The Cranberries, Dolores O'Riordan meninggal dunia dalam usia 46 tahun. Pernyataan itu disampaikan manajemennya pada Selasa 16 Januari 2018 dini hari kemarin. Wanita asal Limerick, Irlandia tersebut semasa hidupnya berhasil mengantarkan The Cranberries mencapai kesuksesan internasional pada dekade 1990-an dengan sejumlah lagu hits mereka.

Terkait hal tersebut, manajemen Dolores O'Riordan memberikan pernyataan, ”Vokalis utama band Irlandia The Cranberries tengah berada di London untuk sesi rekaman singkat. Tidak ada kabar lebih rinci saat ini.” Pihaknya juga mengatakan, anggota keluarga sangat terpukul mendengar kabar itu dan meminta privasi untuk saat-saat sulit seperti sekarang ini.

Pada 2017 lalu, The Cranberries mengumumkan jadwal tur ke sejumlah negara di Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat. Akan tetapi, pada Mei 2017, saat menjalani tur di Eropa, band ini mendadak membatalkan sisa agendanya sehubungan dengan persoalan kondisi kesehatan Dolores O'Riordan.

Situs resmi The Cranberries menyebut adanya alasan medis yang berhubungan dengan keluhan di punggung yang membuat Dolores O'Riordan tidak bisa naik panggung. Akan tetapi, sesaat sebelum Natal, Dolores O'Riordan mengunggah pernyataan via akun facebooknya yang mengatakan bahwa dia merasa baik-baik saja dan baru menyelesaikan satu konsernya setelah berbulan-bulan.

02 The Cranberries Istimewa

The Cranberries pada tahun 2012 (Foto: Istimewa)

Pernyataan itu sempat membuat penggemarnya yakin dia akan kembali naik pentas. “Hai semuanya. Dolores di sini. Saya merasa baikan! Saya baru menyelesaikan konser setelah berbulan-bulan saat akhir pekan, membawakan sejumlah lagu,” terangnya.

Dalam kehidupannya, Dolares bercerai dari suaminya, Don Burton yang merupakan mantan manajer tur Duran Duran pada 2014 silam. Pernikahan pasangan ini telah mencapai usia 20 tahun, dan keduanya dikarunia 3 orang anak.

Dolores O'Riordan lahir pada tahun 1971 dan mengikuti audisi sebagai vokalis The Cranberries pada tahun 1990. Selanjutnya ia kemudian meraih kesuksesan global bersama band ini. The Cranberries menikmati ketenaran internasionalnya lewat debut album mereka tahun 1993 silam yang bertajuk “Everybody Else Is Doing It, So Why Can't We?” Album itu terjual lebih dari 40 juta kopi di seluruh dunia dan hits lewat single 'Linger' dan 'Zombie'.

Pada 23 Juli 2011, Ia dan The Cranberries sempat manggung di Indonesia dalam ajang Java Rockin'Land di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta dan memuaskan ribuan penggemarnya disana. Selamat jalan Dolares./ Ismed

Sunday, 14 January 2018 09:00

Konser Pagelaran Sang Bahaduri

Sejumlah Musisi Dukung Konser Amal Untuk Yockie Prayogo

Sebuah pentas bertajuk “Pagelaran Sang Bahaduri” akan digelar untuk mengumpulkan dana pengobatan musisi legendaris Indonesia, Yockie Suryo Prayogo yang sudah lama sakit. Konser dalam balutan amal ini amal ini rencananya akan digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada hari Rabu, 24 Januari 2018 mendatang, yang juga merupakan gagasan beberapa sahabat dekat Yockie Surya Prayogo.

Dalam perannya di kancah musik nasional selain bersolo karier, Yockie tercatat pernah bergabung di God Bless, Kantata Takwa, Swami dan melahirkan album Badai Pasti Berlalu bersama Chrisye dan Eros Djarot. 

Seperti yang disebutkan oleh vokalis yang cukup dikenal sebagai Singing Lawyer, Kadri Mohamad mengungkapkan rasa iba terhadap situasi yang tengah dialami Yockie. "Sebagai orang yang pernah ikut menyanyi dan bantu mengurus konser LCLR PLUS dan Badai Pasti Berlalu beliau (kurang lebih 7 Konser Jakarta dan beberapa kota di Jawa), tentu merasa iba melihat keadaan yang menimpa Yockie.

“Ini pasti membutuhkan biaya besar meski perawatannya sekarang di rumah. Seluruh artis pendukung Konser LCLR PLUS dan Badai Pasti Berlalu mendukung secara total. Akan membawakan karya-karya sang Bahaduri atau lagu-lagu dimana beliau pernah menata musik nya", ungkap Kadri yang juga menjadi salah seorang penggagas gelaran ini.

02 Yockie Suryo Prayogo Ibonk

Yockie Suryo Prayogo (Foto: Ibonk)

Mereka yang dijadwalkan akan tampil dalam konser diantaranya Andy /rif, Ariyo Wahab, Aning Katamsi, Benny Soebardja, Berlian Hutauruk, Bonita, Che (Cupumanik/Konspirasi), D’Masiv, Debby Nasution, Dhenok Wahyudi, Dira Sugandi, Fadly (Padi), Fariz RM, Fryda Lucyana, Gilang Samsoe, Ingrid Widjanarko, Kadri Mohamad, Keenan Nasution, Louise Hutauruk, Mondo Gascaro, Nicky Astria, Once, Tika Bisono serta Eros Djarot dan Sys NS.

Musik akan di bawahi oleh Indro Hardjodikoro, serta tata suara dan lampu oleh DSS Sound dan Lemmon ID. Selain itu Anto Hoed, yang duduk sebagai Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta mendukung dengan membantu menyiapkan venue konser di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki yang berkapasitas 1200 orang.

Harga tiket terbagi dalam beberapa kelas. Reguler lantai 3: Rp 200,000,-. Reguler Lantai 2: Rp 300,000,- Reguler Lantai 1: Rp 400,000,- dan VIP Rp 500,000,-. Ada juga kelas VVIP: Rp 750,000,- dan Super VVIP Rp 2 juta. Untuk lebih jelasnya bisa kontak Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. atau lewat website https://www.kiostix.com/malamgembira./ Ibonk

Sunday, 14 January 2018 08:11

Teaser Terbang, Menembus Langit

Ketika Kemiskinan Menjadi Inti Cerita

Hidup memang sumber cerita yang tak pernah habis. Lewat film “Terbang, Menembus Langit” yang ditulis dan disutradarai oleh Fajar Nugros, ia mencoba menggambarkan kalau hidup adalah perjuangan. Lewat teaser berdurasi satu menit yang dirilis secara digital 2 hari lalu, kita disuguhkan potongan perjuangan tokoh utama yang diperankan oleh Dion Wiyoko dan Laura Basuki.

Intinya adalah semua orang pasti pernah mengalami berbagai kesulitan hidup, tak terkecuali tokoh Onggy yang diperankan oleh Dion Wiyoko. Berbagai masalah menimpa seolah tak henti yang menjatuhkannya sejak masa kanak-kanak hingga menikah dengan Candra yang diperankan Laura Basuki.

Namun di tengah berbagai cobaan itu, mereka selalu bangkit, menjalani hidup yang juga selalu memberikan harapan. Namun seberapa kuat mereka menerima berbagai masalah, menjalaninya, hingga mengatasinya?

Film ini juga  di dukung oleh banyak bintang seperti Baim Wong, Delon Thamrin, Chew Kin Wah, Aline Adita, Melisa Karim, Dinda Hauw, Marcel Darwin, Dayu Wijanto,Indra Jegel, Fajar Nugra, Mamat Alkatiri, dan Erick Estrada.

02 Film Terbang Menembus Langit Istimewa

Dalam film Terbang, Menembus Langit kita dapat melihat akting dari Dion Wiyoko dan Laura Basuki (Foto: Istimewa)

“Teaser ini kami rilis agar masyarakat luas bisa melihat bagaimana film ini nantinya dan kira-kira ceritanya seperti apa. Dan kalau diperhatikan, ada tiga periode kehidupan tokoh Onggy disini. Sangat menarik dan menantang bagi saya untuk bisa menterjemahkan kisah hidup seseorang yang sangat menarik ke layar lebar,” ungkap Fajar Nugros selaku sutradara dan penulis.

“Cerita ini kami temukan dalam perjalanan saya dan Fajar di Kalimantan. Kami merasa bahwa ini adalah kisah dimana banyak orang bisa relate. Ketika kemiskinan dan sebagai minoritas seolah adalah tembok besar yang mengungkung dan membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa dan seolah masa depan suram,” jelas Susanti Dewi selaku produser.

“Ternyata semua bisa berubah kalau seseorang mempunyai tekad yang kuat. Saya rasa hal-hal itu banyak orang bisa relate tapi sekaligus bisa menjadi inspirasi. Oleh karenanya kami memutuskan untuk mengangkat kisah ini dalam film,” tambahnya lagi.

Film Terbang, Menmbus Langit ini sendiri tengah menyelesaikan tahap paska produksi dan rencananya akan mulai tayang pada April 2018 mendatang./ Ismed

Friday, 12 January 2018 13:54

Nini Thowok

Siap Mengejar Reputasi Jalangkung

Sepertinya film dengan genre horor masih bakal menghiasi perfilman nasional tahun ini. Salah satu yang bakal tayang adalah film Nini Thowok, hasil produksi TBS Films, yang disutradarai Erwin Arnada. Rencananya film ini akan tayang di bioskop mulai 1 Maret 2018. Sebelum resmi ditayangkan, TBS Films terlebih dahulu merilis official trailer, poster dan original soundtrack (OST) di bilangan Senopati pada Kamis (11/01/2018) kemarin.

"Insya Allah bisa menghibur dan mewarnai film nasional. Ini sebuah film urban legend yang ada di negeri ini dan kita angkat lagi," ungkap Erwin Arnada yang menjadi sutradara dalam film ini.

Nama Erwin Arnada sendiri dipastikan sudah tidak asing lagi di dunia perfilman horor nasional. Jelangkung (2002), Tusuk Jelangkung, dan Bangsal 13, adalah sebagian dari film bergenre horor yang cukup sukses. Erwin Arnada sempat vakum bertahun-tahun sejak hijrah ke pulau Bali, sehingga film Nini Thowok ini menjadi penanda dirinya untuk kembali ke dunia perfilman nasional.

Sebagai seorang sutradara Erwin juga diperkuat dengan hadirnya sejumlah aktor dan aktris top Tanah Air. Natasha Wilona, salah satu aktris muda berbakat yang ambil bagian dalam film itu. Selain Natasha, turut mendukung sederet aktor dan aktris senior seperti Ingrid Widjanarko, Jajang C. Noer, Gesata Stella, dan Slamet Ambari yang bermain cemerlang dalam Film Turah. Ada pula pemain anak-anak Nicole Rossi dan Rasyid Al Buqhory yang akan ambil bagian dalam film tersebut.

03 Natasha Wilona Istimewa

Natasha Wilona berperan sebagai Nadine dalam film Nini Thowok (Foto: Ibonk)

Natasha Wilona, sebagai salah satu pemain mengaku senang bisa terlibat dalam film itu. Meskipun bukan pengalaman pertamanya bermain di film horor, tapi Nini Thowok dinilai jauh lebih berkesan dibanding film sebelumnya. "Sebenarnya ini film horor ke dua aku. Kebetulan saat aku break sebentar dari sinetron dan dapat tawaran ini. Aku excited banget dan memaksa untuk terlibat disini. Secara pribadi suka film horor." kata Natasha.



"Aku berperan sebagai Nadine, yang hidup sebantangkara dan harus merawat adik satu-satunya. Cerita makin menarik saat ia mendapat surat dari neneknya yang meninggal, dan baru tahu ada sejarah yang baru terungkap," lanjut dia.

Sebuah film juga terasa hambar jika tak melibatkan soundtrack yang bagus. TBS Films akhirnya menggaet Mytha Lestari, penyanyi yang sebelumnya menelurkan hits lewat lagu ‘Aku Cuma Punya Hati’. Dalam film Ninik Thowok, Mytha membawakan lagu ‘Takkan Pernah Mati’, ciptaan Raguel Lewi, yang memang diciptakan khusus untuk film ini.

Dari aransemen dan lirik,  lagu ini jelas memiliki keterikatan yang cukup dalam dengan cerita dan nuansa film. Ornamen gending jawa yang mengiringi lagu, membuat alur cerita film ini semakin sempurna. Selain Mytha, TBS Films iuga mempercayakan lagu soundtrack lainnya kepada band indie, Belang Benar. Band ini beranggotakan Fere, Amee Aris, dan Diren yang membawakan lagu berjudul ‘Na Na Na Na ciptaan Fere.

02 Erwin Arnada Ibonk

Sutradara film Nini Thowok, Erwin Arnada (Foto: Ibonk)


Bagi masyarakat Jawa, Nini Thowok sudah menjadi sebuah hikayat sejak dulu. Nini Thowok adalah boneka yang terbuat dari siwur (batok kelapa). Bentuknya menyerupai jelangkung namun berpakaian seperti layaknya perempuan. Nini Thowok berfungsi sebagai media untuk memanggil arwah atau roh.  Walhasil, Nini Thowok disebut juga sebagai jelangkung perempuan.

Seberapa seram dan sukses film ini mengungguli film-film sejenis nantinya? Kita nantikan saja penayangannya. Saat ini cukup kita pantengin trailer dan posternya saja. Siap-siap bergidik.../ Ibonk

Tuesday, 09 January 2018 16:55

Gipsy

Band Anak-Anak Menteng  

Gipsy Band dibentuk pada tahun 1966 awalnya adalah band pesta yang muncul dari sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Barat no. 12 Menteng, Jakarta. Rumah milik keluarga Nasution yang merupakan warisan dari ayah Saidi Hasjim Nasution ini senantiasa mendapat kunjungan dari kerabat penghuninya. ”Rumah ini selalu ramai, karena teman-teman Bapak sering bertandang. Juga para sahabat ke enam anak-anaknya. Setiap anak dikunjungi oleh sahabatnya masing masing. Jadi bisa dibayangkan betapa ramai dan riuhnya rumah kami” kenang Gauri Nasution.

Gipsy juga merupakan letupan adrenalin sekumpulan remaja Jakarta yang tengah mencari pengakuan. Band yang digawangi oleh paramuda yang ngumpul dan nongkrong di rumah ini dan membentuk band yang digawangi oleh Pontjo Sutowo (organ), Joe Am Nasution (gitar), Gauri Nasution (gitar), Edi Odek (bas),dan Edit (drum). Lalu band inipun diberi nama Sabda Nada.

Nama yang diberikan oleh I Wayan Suparta yang juga merupakan seniman tari Bali, yang kala itu mengontrak pavilliun rumah keluarga Nasution. Selanjutnya Sabda Nada bermain bersama sekelompok pemain gamelan Bali yang diasuh I Wayan Suparta sendiri.

Formasi band Sabda Nada kemudian mengalami perubahan setelah bassist band ini, Edi Odek jatuh sakit dan digantikan oleh Chrisye yang merupakan sahabat karib Gauri. Chrisye adalah tetangga keluarga Nasution. Keenan Nasution pun mulai diajak mengisi posisi drummer. ”Saat itu Sabda Nada memiliki 3 drummer yaitu Edit, Ronald Boyo dan Keenan,” jelas Gauri Nasution.

Sabda Nada lalu mulai tampil di berbagai tempat seperti di Kantor Pusat Gedung Bank Indonesia, Istora Senayan ataupun Djakarta Fair. Keinginan untuk bermain band memang tumbuh dengan kuat. Tumbangnya rezim Orde Lama membuat semangat bermain band pun kian menjadi-jadi. Seolah sebuah euphoria yang tertunda selama bertahun-tahun. Begitu juga dengan Sabda Nada yang mulai menyanyikan lagu-lagu The Beatles hingga The Rolling Stones tapi lewat gaya mereka sendiri.

03 Gipsy Istimewa

Gipsy (Foto: Istimewa)

Sabda Nada tak lama berselang juga mengganti nama. Ada anggapan mereka bahwa nama Sabda Nada seperti ketinggalan zaman. Oleh Pontjo Sutowo, diusulkan untuk diganti menjadi Gipsy. Itulah kontribusi Pontjo Sutowo saat itu karena setelahnya ia berniat mundur dari band dan memutuskan pindah ke Semarang pada tahun 1968.”Permainan organ saya pun biasa biasa aja.Musik bagi saya hanyalah hobi saja,” ujarnya.

Selepas itu beberapa wajah baru terlihat memperkuat Gipsy Band. Posisi Pontjo Sutowo digantikan oleh Onan Soesilo. ”Saat itu kami keliling mencari pengganti Pontjo, dan kebetulan melihat seorang anak muda bertubuh kurus dan gondrong tengah bermain organ di Ria Sari yang berada di Gedung Sarinah Thamrin Jakarta.

Bandnya yang bernama Fingers dan tengah membawakan lagu Bee Gees. Onan setuju bergabung dengan Gipsy, meninggalkan sahabatnya Aidit dan Johnny. Onan ini menurut saya memiliki bakat musik, dan rasanya memang pas untuk bermain dalam Gipsy,” kata Gauri Nasution.

Personil Gipsy lainnya adalah Tammy Daudsyah, tetangga seberang rumah yang baru saja membubarkan bandnya The Lords yang dibentuknya bersama Firman Ichsan, drummer yang kelak lebih dikenal sebagai fotografer. The Lords sendiri terdiri atas Tammy Daudsyah (vokal, keyboards, flute dan saxophone), Donny Johannes (vokal, gitar), Sri Sardono (bass), Adi Ichsan (gitar, vokal) dan Firman Ichsan (drums). Formasi Gipsy makin lengkap ketika Nasrul “Atut” Harahap, sepupu Gauri yang baru saja pulang dari Belanda menyatakan bersedia bergabung.

04 Gipsy Istimewa

Gipsy (Foto: Istimewa)

Atut Harahap  banyak memperkenalkan band band mancanegara yang pernah ditontonnya sewaktu bermukim  di Belanda. Banyak juga referensi musik berupa piringan hitam. Sejak itu Gipsy yang terdiri atas Gauri Nasution (gitar), Chrisye (bas), Keenan Nasution (drum), Onan Soesilo (organ), dan Tammy Daudsyah (saxophone, flute) mulai memainkan berbagai repertoar asing. Umumnya mereka memainkan musik  bercorak blues, soul dan rock seperti Wilson Pickett, The Equals, John Mayall & The Heartbreakers, Sam and Dave, Jimi Hendrix & The Experience, Blond, Chicago, Blood Sweat and Tears, The Moody Blues, King Crimson ataupun Keef Hartley.

Cara mereka menyajikan lagu-lagu karya artis mancanegara tersebut masih dengan kiat yang sama. Yakni dengan mengaransir ulang lagu tersebut dan juga memainkan lagu yang tak dikenal banyak orang. Ini sebuah bentuk kreatifitas yang pada saat itu belum ada yang melakukan. Semua materi lagu diolah lagi. Filosofi bermusik seperti inilah  menjadi modal utama dalam meniti karir dalam industri musik Indonesia.

Secara perlahan keberadaan Gipsy sebagai salah satu band yang bercokol di Menteng Jakarta mulai menjadi buah bibir. Selain cara mereka membawakan repertoar yang ditampilkan, juga karena disokong oleh perangkat band yang up to date untuk ukuran saat itu.

Gipsy pernah diajak Ibnu Sutowo untuk manggung di Manhattan, New York pada tahun 1972. Mereka mengisi acara hiburan di restoran Ramayana yang merupakan milik Pertamina, meskipun vokalis utama mereka, Atut Harahap telah meninggal dunia. Gipsy berubah formasi menjadi Chrisye (bas), Keenan Nasution (drum), Gauri Nasution (gitar), Adjie Bandi (biola), Rully Djohan (keyboards) dan Lulu Soemaryo (saxophone).

02 Gipsy Istimewa

Gipsy (Foto: Istimewa)

Disana, mereka mengiringi penyanyi pop kala itu, Bob Tutupoly. Pada saat senggang, Keenan menyempatkan diri berburu piringan hitam dan nonton konser.”Saya mulai mengenal album Genesis di Amerika dan nonton konser Blood Sweat & Tears serta grup art rock Inggris Yes,” jelas Keenan Nasution. Dari menyimak dan menonton konser musik, semakin memperkaya  referensi musik Keenan Nasution. Kelak referensi musik yang dicernanya di Amerika yang menjadi inspirasi utamanya dalam bermusik.

Sepulang dari Amerika pada tahun 1973, Keenan dan Chrisye mulai mengepakan sayap menjadi penyanyi. Hingga akhirnya Guruh Soekarnoputra mengajak Gipsy untuk berkolaborasi dan berhasil menghasilkan album rekaman dengan judul Guruh Gipsy pada tahun 1976. Kolaborasi ini dianggap unik, karena Guruh dikenal dengan kemahirannya menguasai budaya Bali dan Gipsy sebagai sebuah grup ber-genre rock./ NM (dari berbagai sumber)

Sunday, 07 January 2018 17:58

Yon Koeswoyo

The Last Real Koes Plus

Ia yang terlahir dengan nama Koesyono di Tuban, Jawa Timur pada  27 September 1940 adalah salah seorang pionir dan legenda musik Indonesia. Kepergian Yon Koeswoyo di usia 77 tahun pada hari Jumat (5/1) kemarin, merupakan kehilangan besar untuk musik Indonesia khususnya jutaan penggemar Koes Plus maupun Koes Bersaudara di seluruh pelosok nusantara.

Ia telah menjadi vokalis Koes Bersaudara dan Koes Plus yang sangat tenar pada dekade 60 dan 70an, dan ikut memiliki peran besar pada band legendaris ini. Bersama saudara-saudaranya, Yon menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya, dan pindah ke Jakarta pada tahun 1952 mengikuti mutasi ayahanda yang berkarier di Kementerian Dalam Negeri.

Yon aktif bermusik sejak awal dibentuknya grup musik bersama saudara-saudara kandungnya. Di tahun 1958 mereka menamakan grup ini dengan sebutan Kus Brothers, yang terdiri atas Jon, Tonny, Nomo serta Yon dan Yok Koeswoyo ditambah seorang dari luar keluarga Koeswoyo bernama Jan Mintaraga. Mencoba membentuk ciri khas dengan 2 vokalis utama bukannya tanpa sebab. Inspirasi datang lewat band Kalin Twin, dua penyanyi Amerika bersaudara yang kembar. Namun dalam perkembangannya grup ini lebih condong meniru Everly Brothers.

Band ini pertama kali rekaman pada tahu 1962 di bawah payung Irama Record, dan merubah nama menjadi Koes Bersaudara pada tahun 1963 setelah Jan Mintaraga keluar, dan tal lama kemudian Jon. Sampai tahun 1964 secara produktif mereka merekam banyak single. Akhirnya lagu-lagu tersebut dirangkum dan lahirlah album pertama pada tahun 1964.

02 Koes Plus Istimewa

Koes Plus (Foto: Istimewa)

Band ini cukup sukses lewat beberapa album sampai akhirnya pada 1965 mereka sempat diangkut dan mendekam di penjara Glodok selama tiga bulan. Pemenjaraan ini dipicu oleh penampilan mereka di sebuah pesta di Tanah Abang yang membawakan lagu Beatles, yang saat itu disebut sebagai agen Neo-kolonialisme a dan itu dilarang oleh pemerintahan orde lama pada saat itu.

Penamngkapan mereka sebenarnya menjadi trigger tersendiri bagi band ini untuk semakin populer.  Pada 1967, selepas keluar dari penjara, Yon dan saudara-saudaranya mengeluarkan album To The So Called The Guilties. Ini merupakan album protes pertama di Indonesia, dan terdapat sebuah tunggalan berbahasa Inggris yang bercerita tentang Soekarno berjudul ‘Poor Clown’.

Berlanjut ke tahun 1969, Koes Bersaudara berubah menjadi Koes Plus, karena Nomo Koeswoyo memutuskan keluar dan posisinya sebagai penabuh drum digantikan oleh Kasmuri atau Murry.

Seterusnya, seakan tak terbendung, Koes Plus menjadi band paling penting di negeri ini. Keberhasilan mereka tidak hanya diakui dari jumlah penjualan, namun juga kreatifitas mereka. Mereka merilis ratusan album dari berbagai macam genre musik, ada pop, kasidah, rock n roll, keroncong ataupun reliji. Bayangkan lagi, setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin Eugene Timothy. Mereka menjadi mesin hits, tercatat pada tahun 1974 Koes Plus berhasil merilis sekitar 24 album yang berarti setiap sebulan sekali Koes Plus menghasilkan 2 album.

Meski lagu-lagunya kebanyakan pop namun mudah melekat di telinga penggemarnya. Walaupun sempat menyuarakan protes politik lewat albumnya, namun mereka tidak berusaha menjadi politis. Mereka konsisten menyuarakan pesan-pesan perdamaian, cinta kasih dan keluarga.

Sejarah juga mencatat, semua anggota Koes Plus adalah entertainer sejati, termasuk juga seorang Yon Koeswoyo. Tidak cuma piawai bernyanyi, tapi juga berkomunikasi di atas panggung.

03 Koes Plus Istimewa

Koes Plus (Foto: Istimewa)

Naik turun secara popularitas juga masa vakum telah mereka rasakan, kehilangan Nomo yang akhirnya bersolo karier dan mengurus bisnisnya serta yang paling telak ketika sang kakak Tonny meninggal. Sejak itu Koes Plus banyak mengalami gonta ganti personil. Pada 2004, Murry keluar menyusul Yok untuk hengkang dari group karena alasan kesehatan, otomatis menjadikan Yon menjadi satu-satunya keluarga Koeswoyo yang masih tersisa di Koes Plus.

Begitu legendarisnya Koes Plus, banyak orang yang menyandingkannya dengan band The Beatles dan Yon dianggap menjadi John Lennon. Semua karya-karya mereka hampir bisa dinyanyikan oleh anak muda, sampai generasi sebelumnya.

Yon merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara putera pasangan Raden Koeswoyo dan Rr. Atmini dan meninggalkan empat orang anak yakni, Gerry Koeswoyo, David Koeswoyo (dari pernikahan dengan Damiana Susi), Kenas Koeswoyo dan Bela Aron Koeswoyo dari pernikahan dengan Bonita Angela).

Pendidikan terakhir yang sempat ditempuh oleh Yon adalah Universitas Res Publica (Universitas Trisakti) Jakarta, jurusan Arsitektur pada tahun 1965, walau tidak selesai, meski sudah tingkat terakhir. Diantara saudara-saudaranya, Yon memang termasuk yang telat menikah. Hal itu pernah ia tuangkan dalam lagu ciptaannya berjudul ‘Hidup Yang Sepi’. Lagu yang lahir ketika Yon benar-benar sepi sebagai pria lajang tanpa kekasih. Bahkan ia pernah menyanyikan lagu itu sampai matanya berlinang.

04 Yon Koeswoyo Rizal

Yon Koeswoyo (Foto: Rizal)

Pada masa remaja Yon mengaku sempat merasakan cinta platonik yang dahsyat, namun cinta itu tak berkelanjutan. Dalam pengakuannya, terkuak bahwa cinta sejatinya dahulu pernah hinggap pada pemain drum band wanita Dara Puspita bernama Susy Nander. Kisah cinta Yon tersebut diabadikan oleh Tonny Koeswoyo dalam lagu ‘Andaikan Kau Datang’ yang dilantunkan Yon.

Pada masa-masa tuanya, Yon mulai mengisi hari-harinya dengan berkebun dan melukis. Ia juga tetap aktif mencipta lagu dan menyiapkan album baru Koes Plus formasi terakhir yang terus diusungnya sampai akhir hayatnya./ Rachmat

Thursday, 04 January 2018 13:38

Jumpa Kawan Lama

Mesin Waktu Itu Bernama JKL

Bicara musik tahun 60 dan 70-an adalah membicarakan masa penting perkembangan musik popular tanah air. Tak bisa juga dipungkiri, ini merupakan benang merah dari munculnya band – band pesta yang menjamur sampai menjadi super group sekelas Gipsy, Koes Plus, Panbers, D’lloyd, Rollies dan lain-lainnya.

Bagaimana dengan musik rock sendiri? Rock bergerak lewat jalannya sendiri. Sejarah juga membuktikan kalau rock cukup memberikan pengaruh nyata bagi perkembangan musik Indonesia di masa-masa sesudahnya, bahkan sampai saat ini.

Mengingat dan mengabarkan masa-masa tersebut, sengaja saya dan kawan-kawan  menciptakan sebuah event bertajuk “Jumpa Kawan Lama” atau lebih pop dengan sebutan “JKL”. Ini adalah sebuah acara kumpul-kumpul musisi era 60 & 70an, dan pertama kali diselenggarakan pada tahun 1993, 1994 dan 1995. Sayangnya kegiatan ini terhenti dan baru digulirkan lagi 21 tahun kemudian pada tahun 2016 diadakanlah JKL ke 4 kalinya.

JKL sendiri adalah reuni dan pesta musik era generasi bunga. Pesta musik yang selalu digadang-gadang menjadi sebuah acara yang cukup meriah. Hal ini dibuktikan pada gelaran JKL 2016 yang diselenggarakan di Kemang Village silam, yang sempat menjadi pembicaraan khalayak ramai. Bayangkan saja, pesta ini berhasil mengumpulkan seribuan penonton yang didominasi oleh para generasi bunga dan larut  satu sama lainnya.

Untuk penampilnya? Jangan pernah tanyakan semangat dari para singa panggung seperti Freedom Of Oyeck, Flower Poetmen, Noor Bersaudara, De Hips, The Minstrels, Fancy Jr, Gipsy, ataupun Bigman Robinson. Kami semua lebur jadi satu dan berusaha menunjukkan musikalitas terbaik di atas panggung. Ibarat mesin waktu, pesta JKL 2016 silam telah melemparkan kami ke masa lalu di saat jiwa masih menggelora.

Begitulah, kesuksesan acara tersebut, mau tak mau akhirnya mengusik jiwa kami sebagai individu yang terlibat langsung dalam era tersebut untuk terus menggelar acara ini. JKL sebagai big event akan terus bergulir menjadi acara tahunan rutin, yang akan merangkul semua band-band lawas dan menampilkannya di atas panggung. Dalam skala kecil, JKL tetap diadakan per periode dalam setahun.

Disini, dalam kemeriahan JKL, sebenarnya kami hanya menjaga semangat, persahabatan dan kenangan masa lalu, sambil mencoba tetap bergembira dalam balutan musik yang menyatukan...

 

Salam JKL,

 

Maxi Gunawan
Founder Jumpa Kawan Lama

Friday, 29 December 2017 15:23

The Minstrels

Siap Bakar Panggung JKL dengan Vokalis Baru

Inilah band paling lasak dari kota Medan, The Minstrels. Saat ini hampir seluruh sisa personil band ini menetap di Jakarta. Hanya Fadil Usman yang kerap pulang balik Jakarta - Medan. Beberapa waktu lalu, NewsMusik sengaja menemui mereka dibilangan Cilandak, Jakarta untuk mengetahui kesiapan mereka yang akan manggung di JKL 2018 mendatang.

“Kebangkitan Minstrels ke panggung musik sebenarnya diracuni dengan keberadaan JKL 2016 silam. Atas undangan dan kompor Maxi Gunawan, makanya The Minstrels bergabung lagi,” ungkap Jelly Tobing isi suara.

Merujuk kebelakang di tahun 2016 silam, panggung JKL pada saat itu langsung digebrak oleh anak - anak Medan ini. Mereka yang terlihat paling siap untuk menaklukkan panggung JKL 2016, lewat tenaga yang powerfull. Karena kerap latihan rutin, para rocker gaek seperti Jelly Tobing, Fadil Usman, Mamad, Jimmy Sorongan, Radja Muda Nasution masih penuh percaya diri.

Sederetan lagu lawas layaknya ‘Only One Woman’ dari The Marbles, ‘Sunshine of Your Love’ ataupun ‘Stone Free’ digasak habis oleh mereka. Belum lagi Jimmy Sorongan lewat raungan gitarnya semakin merangsang penonton untuk bergoyang, mengakibatkan sekelompok fans dari Medan maju kesamping panggung memberikan sambutan.

Begitulah, buah manis keberhasilan tampilan mereka membuat group ini makin erat. Formasi The Minstrels pada 2016 secara paripurna digawangi oleh Jelly Tobing, Fadil Usman, Jimmy Sorongan, Mamad, dan Nyong Anggoman. Namun karena kebutuhan mendesak, band harus segera bereformasi.

02 The Minstrels RizalThe Minstrels (foto: Rizal)

“Harus ada seorang vokalis. Nggak mungkin terus-terusan Jelly yang nyanyi dibelakang”, urai Mamad.  “Akhirnya kita ambil vokalis yang tidak terlalu jauh usianya, yakni Eddy Endoh”.

Dengan adanya personil baru, The Minstrels pede untuk terus mengusung musik rock 70an.  Menurut Jelly, Eddy cocok hadir di The Minstrels karena punya range vokal yang tinggi. Dengan begini kami juga bisa mempertahankan sound 70an dengan menghadirkan Nyong Anggoman yang dikenal dengan Hammond soundnya.

Minstrels nantinya akan menyuguhkan rock dengan drum yang keras. Untuk ini juga saya memaksa Mamad untuk kembali memainkan bass dan meninggalkan gitarnya. “Karena saya cukup merasakan pentingnya harmoni antara drum dan bass”, urai Jelly lagi

Pokoknya untuk JKL 2018 nanti, kami memiliki konsep akan membawakan lagu yang orang banyak tau. Karena tujuan kita sebenarnya untuk bikin senang orang. Bukan buat kita sendiri. Istilahnya... enak di gua nggak enak di lu. Karena kitakan sifatnya menghibur. Pokoknya lagu-lagu hits hingga semuanya bisa sing a long. Sudah lewat masanya kita tunjukkan kalau kita jago main band”, tutup Jelly.

Hadirnya Eddy Endoh di rasa NewsMusik memang membawa angin segar untuk band ini. Eddy yang sempat hits dengan lagu ‘Dengar Dengarlah, Jawab Jawablah’ di era 80-an lalu memang memiliki karakter suara yang jantan. “Saya pertama kali kenal mereka secara dekat yaa... pada JKL 2016 lalu. Pertama diajak ke The Minstrels sejak lepas nampil di JKL 2016. Diajak oleh Mamad”, ujar Eddy Endoh menerangkan kiprah awalnya di group ini.

Kami sudah latihan, walaupun belum terlalu intensif. Pokoknya kami akan menggasak panggung lewat lagu – lagu sekelas Uriah Heep, The Cream dan yang terbaru ada  Audioslave. “Pokoknya tunggu saja penampilan kita nanti”, ungkap Jimmy Sorongan./ Ibonk

 

Page 1 of 127