NewsMusik

NewsMusik

Monday, 23 April 2018 03:46

The Adams

Luncurkan Single Baru di Record Store Day 2018

Record Store Day (RSD) 2018 atau yang lebih dikenal sebagai ajang perayaan rekaman musik tahunan ini baru saja silam dari hadapan kita. Namun ternyata keberadaan event yang berlangsung pada pada 21 dan 22 April berlangsung cukup meriah di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Seperti sebelumnya, banyak band yang melepas rilisan khusus di acara itu, dan di tanah air sendiri termasuk salah satunya adalah The Adams. Dalam RSD kemarin, grup alternatif asal ibu kota itu merilis CD single mereka dengan tajuk ‘Pelantur’ secara eksklusif.

Di rilisan yang berjumlah terbatas itu juga memuat lagu dari album pertama mereka, ‘Just’ versi akustik dan ternyata penjualan CD single itu laku keras. The Adams juga tampil langsung pada hari Minggu (22/4) dan menjadi ajang bagi fans nya untuk minta tanda tangan sekaligus menyaksikan lagu barunya dibawakan.

02 Pelantur Istimewa

Single Pelantur - The Adams (Istimewa)

‘Pelantur’ sendiri merupakan nomor catchy khas The Adams yang dinyanyikan oleh sang gitaris, Saleh Husein (Ale). Lalu ditingkahi lewat vocal Ario Hendarwan di bagian reffrain. Sedangkan ‘Just’ yang dimunculkan lewat versi akustik menambah suasana lagu makin lirih dari versi aslinya yang memang sudah sendu itu.

Nah, bagi yang berhalangan hadir pada RSD kemarin, single “Pelantur” itu juga telah tersedia di berbagai layanan streaming musik seperti Spotify dan Apple Music. “Selamat menikmati, dan nantikan karya-karya baru lagi dari The Adams dalam waktu dekat,” ungkap mereka menjanjikan./ Dek

Sunday, 22 April 2018 02:55

Film Koki-koki Cilik

Lahir Atas Keprihatian Terhadap Film Anak Nasional

Kurangnya film anak-anak saat ini membuat banyak pihak akhirnya tergerak untuk membuat film dengan segmen dunia anak-anak. Seperti sebuah film yang bertajuk “Koki-Koki Cilik” yang direncanakan akan tayang pada tanggal 28 Juni 2018. Film ini akan menjadi film pertama MNC Picture sebagai dukungannya terhadap film anak nasional yang masih sangat kurang saat ini.

“Kami melihat disini ada celah dan mencoba untuk mengambil segmen tersebut. Kami berharap bisa memberikan pesan yang cukup positif buat pendidikan anak-anak. Ini salah satu dukungan kami terhadap film anak – anak, pokoknya film ini ada unsur edukasinya, unsur funny, unsur belajarnya, unsur pertemanannya, dan lain sebagainya. Semoga film ini bisa ditonton banyak orang,” ujar Muhammad Soufan EVP Operation Production MNC Pictures di peluncuran Poster dan Official Trailer Koki-Koki Cilik, di Jakarta, Jumat (20/4).

Di awal film yang oleh disutradarai Ifa Isfansyah dan dibintangi oleh Morgan Oey, Ringgo Agus Rahman, Adi Kurdi, Aura Kasih, Fanny Fabiana, Farras Fatik, Chloe Xaviera, Alifa Lubis, Marcello, Ali Fikry, Patrick, Cole Gribble, Clay Gribble dan Romaria ini berjudul “Cooking Camp”, namun setelah adanya perubahan disana sini akhirnya disepakati judulnya dirubah menjadi “Koki-Koki Cilik”

Menurut Toha Essa selaku Eksekutif Produser, bahwa tim produksi saat itu memang belum menetapkan kepastian judul film ini. Waktu diproduksi sebetulnya memang belum fixed judulnya. Dikarenakan tema di dalam filmnya adalah Cooking Camp, jadi saat itu kita namain dulu Cooking Camp. Nah judul Koki- koki Cilik akhirnya kita pakai sebagai judul film produksi kita,” ungkap Toha Essa.

02 Chloe Xaviera Nad

Chloe Xaviera (Nad)

Film yang melakukan syuting sejak tahun lalu di Bandung, Jawa Barat ini dominasi oleh kehadiran anak – anak yang memiliki bakat akting yang luar biasa. Tapi ada yang spesial, salah satu pemain ciliknya Chloe Xaviera adalah ponakan dari penyanyi international Agnezmo. Bagi Chloe Xaviera yang berperan sebagai Audrey, ini adalah film pertamanya, ia sangat seneng dan menjadi sebuah tantangan baru bisa bermain film diperjalanan karir entertainnya didunia akting.

“Pengalaman mengesankan tentang kebersamaan. Kebersamaan antara saya dan teman, seneng banget rasanya bisa bermain film. Ini film pertama dan pengalaman baru buat aku, ini soal pertemanan yang seru pokoknya, ” kata Chloe.

Kehadiran film Koki Koki Cilik juga diharapkan bisa membangkitkan film anak di Indonesia hingga bisa melahirkan banyak film untuk anak. " Semoga ada ratusan film anak lain dirilis oleh MNC Pictures dan rumah produksi lainnya. Karena sedih banget, ada anak yang menonton film horor dan nyanyi atau dengerin lagu dewasa. Film anak-anak saat ini pasarnya sangat besar dan harapannya hal itu bisa dilaksanakan dan film anak segera banyak dibuat," tutup Toha.

03 Para pemeran film Koki Koki Cilik Nad

Para bintang Koki-Koki Cilik (Nad)

Film Koki – Koki Cilik menceritakan tentang Bima (Farras Fatik), anak dari keluarga tak mampu yang berhasil ikut dalam acara Cooking Camp, acara kemping memasak yang sangat bergengsi dan mahal. Dengan segala kekurangannya, Bima harus menghadapi tantangan memasak dari Chef Grant (Ringgo Agus Rahman) dan bersaing dengan Audrey (Chloe), sang juara masak tiga kali berturut-turut di Cooking Camp serta Oliver (Patrick Milligan), anak pemilik restoran ternama yang mendapat dukungan penuh dari kedua sahabatnya, Ben (Cole Gribble) dan Jody (Clay Gribble).

Beruntung, Bima memiliki teman-teman yang memberinya semangat, seperti Niki (Clarice Cutie), Melly (Alifa Lubis), Key (Romaria Simbolon), Kevin (Marcello), dan Alva (Ali Fikry). Di tengah perjuangannya, Bima bertemu dengan Rama (Morgan Oey), mantan chef terkenal yang mengasingkan diri. Meski awalnya merasa terganggu dengan kehadiran Bima, Rama lambat laun menjadi baik dan bersedia mengajarkan Bima memasak./ Nad

Sunday, 22 April 2018 12:52

Pucuk Cool Jam Festival 2018

Mau Menang Harus Cerdas dan Berkarakter

Akhirnya event Pucuk Cool Jam Festival 2018 sukses digelar pada Sabtu (21/4) kemarin. Puncak ajang pencarian bakat anak muda tersebut yang juga diselingi dengan penampilan musisi idola anak muda, akhirnya mengumumkan pemenang.

Para pemenang dalam ajang kompetisi ini adalah Synthetic asal SMA Negeri 4 Tangerang Selatan dari kategori band, serta New Kabisa asal SMA 1 BPI 1 Bandung yang keluar sebagai pemenang dari kategori ekstrakurikuler. Kedua grup ini dipilih langsung oleh juri sebagai pemenang pertama Pucuk Cool Jam 2018.

Salah satu perwakilan juri dari kategori band, M. Adri Prakarsa (Adri Nidji/ Nev) mengaku bangga melihat seluruh penampilan finali, terutama finalis yang terpilih sebagai pemenang. Menurutnya band yang sukses menjadi pemenang ini punya kualitas dan karakter yang cukup kuat. "Energi musik yang disampaikan luar biasa dilengkapi dengan penguasaan materi yang cerdas. Saya dan Satrio juga Iman sangat sulit menentukan siapa yang terbaik sejujurnya”.

Dia melanjutkan “Kami sepakat pemenang yang kami pilih ini adalah best of the best bukan berarti yang lain tidak bagus. Semua yang tampil hari ini berhasil mencuri hati kami,” kata Adri di Taman Menteng, Jakarta, Sabtu (21/4) malam.

04 Tari Saman Ibonk

Penampilan Tari Saman yang juga mendapat sambutan meriah (Ibonk)

Pada dasarnya seluruh finalis Pucuk Cool Jam 2018 hampir dipastikan tampil memukau. Mereka cukup sukses menghibur para pengunjung yang hadir di ajang ini. Evelinn Kurniadi menyebutkan bahwa pemenang kategori ekstrakurikuler memiliki nilai outstanding di semua kriteria penjurian. Para pemenang yang kini siap menorehkan prestasi seni musik di ranah industri kreatif Indonesia,

Momen ini tentu menjadi sebuah tonggak yang tidak terlupakan bagi para pemenang. Salah satu pemenang pun berharap ajang yang menjadi wadah bagi bakat-bakat kreatif ini bakal terus ada. "Ini akan terus menjadi bagian dari proses pembelajaran yang nggak akan pernah terlupakan karena bisa bertemu dengan teman dan juri yang hebat. Semoga perjalanan ini menjadi pemicu untuk kami melangkah lebih jauh lagi,” ujar Arrafiu keyboardist Synthetic yang menjadi pemenang dari SMA Negeri 4 Tangerang Selatan.

Tak hanya menyaksikan penampilan para finalis, seharian penuh keramaian pesta seni kreativitas tersebut juga diramaikan oleh penampilan sederet musisi. Beberapa bintang tamu yang ikut tampil semalam adalah HIVI!, Yura, Diskopantera, Ramengvrl, ataupun juga Maliq & D'Essentials menjadikan acara ini cukup layak untuk diapresiasi.

02 Yura Yunita Ibonk

Yura (Ibonk)

Pengunjung juga dapat melihat kreativitas dengan menggandeng komunitas dan talenta seni kreatif seperti Lapantigatiga, Popomangun, The Broy, Doodle Art, Depok Letters, Enigami Papers, I Light This, So.toy, dan UVisual yang menciptakan sajian visual dari dekorasi hingga aktivitas seni kreatif.

Teh Pucuk Harum sebagai penyelenggara merasa sangat bangga bisa menjadi saksi perkembangan musisi muda berbakat dari tahun ke tahun. Mereka berharap semakin banyak bakat-bakat yang terus bermunculan. "Semoga ini menjadi awal yang baik bagi para pemenang sekaligus Pucuk Momen yang tidak akan terlupakan,” harap Erick Harijanto yang juga menjabat sebagai Marketing Manager PT Mayora Indah./ Ibonk

Thursday, 19 April 2018 02:28

Pucuk Cool Jam Festival 2018

Perayaan Kreativitas Anak Muda Indonesia

Panggung musik tanah air memang tidak akan pernah kehabisan talenta muda. Tak hanya mengandalkan keberuntungan saja, tapi sepenuhnya mereka berbakat, kreatif dan mengerti dengan segmen yang mereka pilih.  tapi juga  yang kian tumbuh dan patut diapresiasi. Kemampuan ini tidak tumbuh begitu saja, tapi lewat kerja keras dan juga kesempatan yang diberikan oleh pihak yang cukup peduli dengan talenta generasi muda ini.

Seperti yang ditawarkan lewat ajang Pucuk Cool Jam, yang sudah memasuki tahun kedua ini akan hadir dengan konsep spesial. Seperti yang dikatakan oleh Erick Harijanto selaku Marketing Manager RTD Tea & Juice PT Mayora Indah Tbk, bahwa selain menampilkan 10 finalis band dan ekstrakurikuler Pucuk Cool Jam 2018, pihaknya juga mengolaborasikannya dengan musisi papan atas seperti HIVI!, Yura, Diskopantera, RamenGvrl, hingga Maliq & D'Essentials.

Tak hanya mereka, disini juga akan ditampilkan komunitas kreatif seperti Lapantigatiga, Popomangun, The Broy, Doodle Art, Depok Letters, Enigami Papers, I Light This, So.toy, dan UVisual yang akan berkolaborasi menyulap Taman Menteng menjadi gemerlap dengan aneka sajian seni visual.

Erick melanjutkan bahwa tujuan diadakannya festival ini adalah untuk mengapresiasi finalis terpilih dari seleksi digital audition hingga roadshow yang digelar di 40 sekolah beberapa waktu sebelumnya. “Kami juga berkolaborasi dengan musisi papan atas dan komunitas kreatif untuk menghadirkan sebuah konsep festival yang tidak hanya menghibur namun juga menginspirasi," ujar Erick pada temu media di Jakarta, Rabu (18/4/2018).

02 Yudha Ramengvrl Erick Harijanto Adri Nidji NEV Evelin Kurniadi dan Jamal M.Aziz selepas temu media Pucuk Cool Jam Festival 2018 1 Istimewa

Yudha, Ramengvrl, Erick Harijanto, Adri Nidji-NEV, Evelin Kurniadi dan Jamal M.Aziz selepas temu media PCJ Festival 2018 (Istimewa)

Selain bisa menikmati pertunjukkan musik, pesta musik dan kreativitas yang diadakan pada 21 April 2018 di Taman Menteng ini juga menghadirkan berbagai aktivitasseperti mempelajari ilmu typografi, belajar menggambar mural, hingga membuat doodle art dari komunitas kreatif yang diikutsertakan.

Nantinya di akhir sesi perhelatan ini akan diumumkan pemenang utama. Ada sebuah kesempatan besar bagi pemenang pertama kompetisi band Pucuk Cool Jam 2018, yakni akan dibuatkan sebuah lagu yang diaransemen oleh Abenk Alter, serta sebuah video klip. Sementara untuk pemenang kompetisi Ekstrakurikuler Pucuk Cool Jam 2018 akan turut dilibatkan dalam pembuatan video klip yang akan disutradarai oleh Aji Yudistira.

"Kami berharap ajang Pucuk Cool Jam Jam 2018 dan gelaran Pucuk Cool Jam Festival ini tidak hanya dijadikan sebagai ajang mengembangkan kreativitas bagi seluruh peserta, namun semua audiens yang hadir juga dapat menjadikan festival ini sebagai wadah untuk menjalin kekompakan, dan membangun pertemanan, ” tutup Erick.

Acara yang digelar dari pukul 10 pagi sampai 10 malam ini terbuka untuk semua masyarakat dengan mahar sebesar Rp. 50 ribu per tiket. Tak hanya itu saja, bagi penggemar beragam dapat menumukan aneka kuliner hits diajang ini. Jadi tunggu apalagi?/ Ibonk

Tuesday, 17 April 2018 02:59

Mariah Carey

Bakal Konser Berlatarbelakang Candi Borobudur

Siap yang tak kenal dengan Mariah Carey yang tersohor dengan sebagai diva dunia dan memenangi lima Grammy Awards ini. Nah, seperti kabar yang tersiar belakangan ini, bahwa Mariah Carey sudah dipastikan akan menggelar konsernya di Indonesia. Ini akan menjadi perhelatan kedua dirinya ke tanah air setelah tahun 2004 silam menggelar rangkaian tur dunianya “Charmbracelet World Tour” di Jakarta Convention Center.

Yang paling menarik adalah mengenai harga tiket konser Mariah Carey yang tergolong lebih murah apalagi jika dibandingkan dengan Celine Dion yang sama-sama akan menggelar konser di Indonesia pada tahun ini. Ini akan mendatangkan banyak benefit baik bagi penonton dan juga penetrasi kehadiran wisatawan ke Candi Borobudur.

Seperti yang dituturkan oleh Direktur Utama PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Edy Setijono yang mengatakan konser diva internasional tersebut akan dilaksanakan pada 6 November 2018 mengusung tajuk "Borobudur Symphony". “Konser bertaraf internasional ini akan menjadi ajang promosi yang efektif dalam menarik minat dan perhatian dunia pada salah satu bangunan keajaiban dunia ini sehingga tingkat kunjungan wisman semakin meningkat,” ungkapnya pada awal pekan ini.

Sementara Project Director Borobudur Symphony, Palwoto menyebutkan konser Mariah Carey tersebut ditargetkan mampu mendatangkan 7.000 penonton. Konser tersebut rencananya digelar di Taman Lumbini, yang merupakan area pelataran Candi Borobudur.

02 Mariah Carey Istimewa

Mariah Carey_Istimewa

“Konser ini nantinya akan menggabungkan antara penampilan atraktif dari Mariah Carey dengan latar belakang Candi Borobudur yang megah. Sehingga dalam pertunjukan tersebut penonton akan mendapatkan sajian yang komplet,” ungkapnya.

Di sisi lain, CEO Rajawali Indonesia Communications, Anas Syahrul Alimi mengatakan informasi mengenai konser Mariah Carey di Candi Borobudur tersebut telah menarik perhatian penggemar diva tersebut dari berbagai belahan dunia. “Banyak penggemarnya yang mulai menanyakan lokasi Candi Borobudur ini. Dari situ, mulai kelihatan bagaimana konser ini  menunjukkan posisinya sebagai media diplomasi ke masyarakat dunia,” ucapnya.

Tiket konser ini dibagi menjadi lima kelas. Tiket kelas super VVIP masih berstatus On Call. Sementara, kelas Diamond dibanderol dengan harga Rp. 7 juta, Platinum Rp. 3,5 juta, Gold Rp. 2 juta dan Festival Rp. 1 juta. Sedangkan tiket presale sudah mulai di jual pada 18 April 2018./ Dek

Tuesday, 17 April 2018 02:14

Lomba Cipta Lagu Anak 2018

Menggairahkan Kembali Produksi Lagu Anak

Dalam rangka menggairahkan kembali produksi lagu anak-anak Indonesia, Miles Films bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang turut didukung International Design School mengadakan Lomba Cipta Lagu Anak (LCLA) 2018.

Dalam keterangannya kepada pihak media di bilangan  Jakarta Pusat (16/4/2018), Ketua Bekraf Triawan Munaf mengatakan diadakannya acara ini dilatarbelakangi oleh pertanyaan dan keprihatinan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Jadi pekerjaan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan tersebut, Triawan bersama Mira Lesmana, produser sekaligus pendiri Miles Films memutuskan untuk berkolaborasi mengadakan LCLA 2018.

Sebelumnya, Mira bersama Riri Riza sebagai sutradara telah lebih dahulu menggarap film untuk anak-anak bertajuk Kulari ke Pantai yang direncanakan tayang mulai 28 Juni 2018. Keduanya juga dikenal sebagai orang dibelakang film yang cukup bombastis bertema anak-anak sebelumnya yakni “Petualangan Sherina” (2000) dan “Laskar Pelangi” (2008).

Keduanya juga menilai lagu-lagu anak pada masa sekarang terbilang cukup langka untuk menemani tumbuh kembang anak-anak dalam usia emas mereka. Sangat berbeda dengan kondisi era 90an. Ketika itu ada banyak lagu-lagu anak yang dirilis, juga masih cukup banyak program musik anak di televisi dan radio.

"Lomba ini bukan terbatas untuk musisi saja, tapi juga bisa diikuti oleh kalangan lain. Karena tujuannya untuk memfasilitasi pelaku kreatif berkontribusi dalam membangun ekonomi kreatif, khususnya film dan musik Indonesia," tambah Triawan.

02 Maisha Kanna dan Lilli Latisha dua pemeran utama film Kulari ke Pantai Istimewa

Maisha Kanna dan Lil'li Latisha, dua pemeran utama film Kulari ke Pantai (Istimewa)

Lewat ajang ini pula Mira berharap agar anak-anak Indonesia lebih mencintai bahasa Indonesia. Dengan kata lain, dirinya ingin agar generasi bangsa ini bangga jika bercakap-cakap atau menyanyikan lagu yang berbahasa Indonesia. Kalau sekarang banyak dari mereka lebih sering  berkomunikasi menggunakan bahasa asing.
 
Menurut Mira, kebiasaan tersebut adalah hal yang bagus dan tak terhindarkan karena zaman telah menuntut demikian. Hanya saja kebiasaan menggunakan bahasa Indonesia tetap diutamakan dalam obrolan sehari-hari agar tak membuat anak-anak semakin berjarak dengan bahasa persatuan.

Untuk mengakomodir keinginan tersebut, dewan juri yang terdiri dari Mira, Triawan, Riri, Aksan Sjuman, dan kelompok RAN mengutamakan lagu peserta lomba yang menggunakan lirik Bahasa Indonesia. "Lagu tetap boleh disisipkan lirik bahasa daerah dan asing, tapi yang utama menggunakan lirik berbahasa Indonesia," imbuh Rayi Putra Rahardjo, personel RAN.

Perihal tema, dewan juri menetapkan lima tema besar yang bisa dijadikan lagu yakni: Keindahan Alam, Petualangan, Persahabatan, Keluarga, dan Liburan. Tema tersebut sengaja dibuat agar tema lagu tidak melebar kemana-mana.

Semua karya peserta nantinya akan diseleksi dan di pilih lima terbaik. Satu lagu pemenang utama pilihan dewan juri  akan mendapatkan hadiah uang tunai senilai Rp. 75 juta, plus dibuatkan video klip musik. Sementara pemenang pilihan publik berdasarkan voting akan mendapatkan  Rp. 25 juta. Bersama tiga lagu lain dari RAN, kelima lagu tadi dimasukkan dalam album kompilasi soundtrack film Kulari ke Pantai. Soundtrack tersebut nantinya akan diedarkan secara gratis lewat dua medium yakni digital dan fisik dalam bentuk CD yang jumlahnya sekitar 10 ribu keping.

Bagi yang berminat untuk mengikuti lomba ini dapat mencari Informasi dan pendaftaran dapat mengunjungi situs web kularikepantai.com. Batas pengumpulan lagu hingga 15 Mei 2018./ Dek

Sunday, 15 April 2018 02:05

Anggun

Cetak Sejarah Baru Melalui Single 'What We Remember'

Juara World Music Award, Goodwill Ambassador United Nations, Juri Internasional Asia’s Got Talent kembali mencetak tonggak sejarah menjadi artis kelahiran Indonesia pertama yang berhasil bertengger di charts Billboard selama lebih dari 15 minggu berturut-turut. Versi remix khusus US tersebut secara luas telah diputar di dance club dan dance radio di seluruh Amerika.

Lagu ‘What We Remember’ mendapat respon yang luar biasa sejak pertama kali di rilis, bahkan bertengger di Top 10 Billboard selama 3 minggu berturut-turut.  “Saya sangat gembira melihat single ‘What We Remember’ menjadi hit untuk lagu dance di Amerika Serikat. Saya merasa terhormat dapat melihat bahwa 20 tahun sejak posisi charts pertama di Amerika dengan lagu ‘Snow on the Sahara’, musik saya masih diputar dan dinikmati disana. Dan dengan cara yang baru, pada audiens yang baru,” sumringah Anggun.

Saat ini memiliki jadwal Anggun yang padat, sehingga tidak memungkinkan untuknya melakukan perjalanan ke Amerika dari beberapa bulan belakangan. Namun ia memang telah merencanakan  untuk terbang ke Los Angeles, Amerika Serikat segera untuk menjadi juri terhormat untuk Sony Picture. Ia akan hadir pada festival film bersama dengan aktris Megan Boone dari TV series Blacklist pada musim panas ini.

02 Anggun Istimewa

Anggun (Istimewa)

Anggun senderi saat ini tengah sibuk di Eropa, dimana  dirinya baru saja melakukan rekaman duet bersama Shane Filan dari grup Westlife. Dalam beberapa bulan ke depan ia tampil dalam dua acara TV di Perancis, konser di Italia, ataupun sesi foto kover depan di majalah Perancis terkenal. Untuk itu, dengan nada yang menyesal, Anggun meminta maaf belum dapat meluangkan waktu untuk para penggemarnya di luar Eropa.

“Tetapi untuk penggemar tercinta saya di Indonesia dan Malaysia, saya akan merilis single terbaru ‘The Good is Back’ pada tanggal 20 April 2018 mendatang yang diambil dari album terbaru “8” dengan dua talenta artis yang berbeda. “Ini akan menjadi hadiah saya bagi para penggemar Indonesia dan Malaysia disana yang paling mendukung dan mencintai saya selama beberapa tahun ini”, tutupnya./ Tez

Thursday, 12 April 2018 08:59

Nagaswara Momentum 2018

Unjuk Gigi 3 Bintang Nagaswara Lewat 3 Single Anyar

Menjelang pertengahan April 2018 ini, Nagaswara kembali merilis 3 single terbaru para bintang andalannya, yakni Firman Siagian, Delon dan Black Champagne. Perilisan ketiga single tersebut di rangkum dalam tajuk Momentum 2018.  Tak hanya sekedar me-launching ketiga single tersebut, acara juga dirangkai dengan agenda khusus yakni penyerahan penghargaan kepada Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombespol, Harry Kurniawan beserta jajarannya.

Penghargaan tersebut sebagai bentuk kepedulian Nagaswara terhadap keberhasilan Kombes Harry Kurniawan dan jajarannya yang telah berhasil membongkar pabrik penggandaan keping CD, VCD, DVD bajakan di wilayahnya. Tindakan yang dilakukan tersebut dinilai telah sedikit banyak sebagai upaya pemberantasan produksi dan peredaran DVD, CD dan VCD bajakan.

Dalam kata-kata sambutannya produser Nagaswara, Rahayu Kertawiguna menyebutkan bahwa dirinya yang sengaja mewakili artis, produser dan penyanyi sepeuhnya mendukung upaya Polri melakukan pemberantasan pembajakan hak cipta karya musik dan lagu.

02 PhotoNagas

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombespol, Harry Kurniawan saat membalas memberikan plakat kepada produser Nagaswara, Rahayu Kertawiguna (Ibonk)  

Balik lagi ke inti acara ini, ketiga musisi papan atas Nagaswara tersebut baik Black Champagne, Delon ataupun Firman Siagian mengaku cukup senang dengan karya yang mereka tawarkan kepada para pencinta musik tanah air ini.

Seperti yang disampaikan oleh Black Champagne yang di motori Mita (The Virgin) dan DJ Citra bahwa saat ini mereka melepas tunggalan ‘Move On Dong’ yang menjadi single kedua setelah sebelumnya menghadirkan single pertama ‘Jangan Gitu Dong’. Masih tetap mengusung konsep musik Electronic Pop, duo ini dari sejak awal memang dibentuk untuk format musik LivePA yang menggabungkan konsep DJ dan kemampuan permainan gitar Mita.

“Alhamdulillah, sebenarnya nggak nyangka juga jika Bapak Rahayu masih percaya untuk rilis single kedua. Karena menurut Mita sih, single pertama sebelumnya terasa biasa-biasa saja. Saat ini Black Champagne telah memiliki total 9 lagu dan akan bertambah karena kita lagi produktif. Ini memang sebuah tantangan baru,” ujar Mita yang diamini oleh DJ Citra saat temu media di bilangan Semanggi, Rabu (11/4/2018).

Sementara Delon, yang menjadi musisi senior diantara rekannya tersebut menempatkan single berjudul ‘Terluka Mencintaimu’ yang merupakan  ciptaan Pay ”Caramel”. Lagu manis bertempo sedang tersebut dipastikan mampu menjaga kualitas Delon di skena musik dalam negeri. Dalam setiap penampilannya Delon kerap menunjukkan kepiawaian dalam berolah vokal yang prima, termasuk bekerjasama dengan sejumlah musisi dan pencipta lagu.

03 PhotoNagas

Black Champagne yang dimotori oleh DJ Citra dan Mita  (Ibonk)

Lain lagi dengan Firman Siagian, yang sempat digoda sebagai anak hilang yang kembali pulang ke kandangnya. Lewat tunggalan ciptaan Endy Irvan dengan judul ‘Bukan Kamu Tapi Kamu’, Firman ingin menunjukkan keberadaannya. Lagu ini juga merupakan nomor pamungkas Firman yang lain setelah lagu ‘Kehilangan’.

”Project kali ini sebenarnya adalah pekerjaan yang tertunda saya dengan Nagaswara. Kita memang sempat putus sebentar lalu di teruskan lagi projectnya, Rencananya akan merilis album berisi 10 single,” ungkap Firman.

Acara perilisan ketiga single tersebut diakhiri dengan penampilan ketiganya menghibur penggemarnya yang hadir pada malam tersebut./ Ibonk

Tuesday, 10 April 2018 05:49

Starwick

Kisah Panjang Dalam Enam Track

Starwick bukanlah nama baru di skena musik independen Jakarta. Terbentuk sejak 2004, band yang pada 2011 solid dengan formasi Dindin (gitar vokal), Arvi (bass), Arman (gitar), dan Anto (drum, vokal) di kenal sebagai salah satu kompatriot pengusung geek rock. Setelah lama tidak terdengar kiprahnya, kuartet ini  kembali dengan sebuah karya terbarunya yang di kemas dalam debut mini album.

Masih dalam benang merah karya yang mereka tunjukkan, EP ini menyuguhkan distorsi rapat dengan ketukan catchy. Ada enam track karya yang bisa dibilang menjadi rangkuman dari perjalanan Starwick yang tidak bisa dibilang pendek.

"Sebenarnya sejak 2011 sampai 2013 itu kami terus melakukan proses recording, tapi memang belum waktunya aja kali yah. Sehingga hanya lagu 'Just Fair' yang bisa diselamatkan dan kemudian menjadi rilisan Bah! Records (A Typical Moment You Would be Happy to Put on Repeat Compilation, 2012)," ulas Dindin.

Sejak tahun 2004 sampai 2012, mereka cukup sering menyebar materi di beberapa kompilasi bahkan situs-situs media social. Nah beberapa materi lawas tersebut mereka pertemukan dengan sejumlah materi baru dalam sebuah judul “Picture of Tomorrow”.

02 Starwick Pictures Of Tomorrow Istimewa

Starwick-Pictures Of Tomorrow (Istimewa)

Tak mau patah arang, utang rekaman yang sempat terbengkalai pun dilanjut dua tahun setelahnya Masih menjumpai kendala, proses rekaman pun dimulai kembali pada 2017. Semangat dan tanggung jawab jadi alasan mereka kenapa EP ini harus selesai.

"Sejak pertengahan 2015 kami selalu komit untuk workshop dan menyusun demo di rumah Anto, hampir setiap Sabtu pagi sampai siang. Karena ngeband harus ada pertanggungjawabannya. Nah karya dalam bentuk EP pertama ini, adalah bentuk tanggung jawab atas waktu, pemikiran dan alat-alat musik selama band ini berdiri," tandas Dindin lagi.

Dalam penggarapan EP ini, mereka melibatkan juga Ario Hendarwan (The Adams) yang menjadi mixerman merangkap produser mendampingi empat personel Starwick. Tentunya dibantu juga Rully Pratama Putra, Gigih Suryoprayogo (The Adams), dan Pandu Fathoni (The Adams, Morfem) yang menjadi sound engineer selama proses rekaman berlangsung di Studio Ario Bekasi and Studio Teras Belakang Tangerang.

Adapun proses mastering dikerjakan oleh Steve Corrao di Sage Audio, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat. "Kami memang enggak punya time table rekaman. Tetapi setiap ada waktu luang dari pekerjaan dan keluarga pasti kita selalu 'setor' ke Ario, jadi secara standar dan estetika semua terjaga melalui satu pintu. Ario sebagai produser pun bisa menempatkan potensi personil untuk memaksimalkan sebuah karya.

Tema yang diangkat dalam "Picture of Tomorrow" lebih dari separuhnya adalah tema sosial ketimbang personal. Seperti pada lagu ‘Just Fair’, yang menyelipkan pesan kalau korupsi tidak melulu hal besar. Malah kerap terjadi dalam keseharian dan dianggap sepele seperti mencontek atau buang sampah sembarangan. Ada pula cerita tentang sudut pandang mereka atas kasus yang menjerat politisi Demokrat, Muhammad Nazaruddin lewat lagu ‘How The Story Ends’.

03 Starwick Istimewa

Starwick (Istimewa)

Sedangkan track ‘Picture of Tomorrow’ yang jadi nama untuk EP ini diambil dari momen letihnya pulang kerja yang kemudian sirna karena keceriaan anak di rumah. Lewat lagu ini mereka hendak berpesan kalau masa depan harus lebih baik.

Mini album ini kemudian jadi penegas kalau kuartet yang senang disebut sebagai kelompok rock senangsenang ini masih ada dan terus berkarya. Tak cukup di debut "Picture of Tomorrow", karya mereka pun akan dihadirkan lagi lewat EP sequel yang akan digarap kemudian.

"Konsepnya memang double EP dengan lagu-lagu lama di EP pertama dan lagu baru di EP kedua. Jadi target jangka pendeknya adalah perekaman lagu-lagu baru untuk materi EP kedua. Tapi tanggung jawab utama sebagai orang tua tetap harus dijaga. Maklum kita band bapak-bapak," ucap Dindin sambil tertawa.

Ekspektasi besar pun disematkan dengan keinginan tur Indonesia bareng band idola mereka. Album yang covernya digarap oleh Ridwan Rau-Rau dan lay out oleh Eko Siswanto ini pun akan dirilis pada 21 April 2018 mendatang dalam format cakram padat.

Berikut keenam lagu yang disemat dalam Picture of Tomorrow EP:
1. Intro-Domestic Violence
2. One with Harmony
3. Just Fair
4. Star
5. Picture of Tomorrow
6. How the Story Ends/ Dek

Thursday, 05 April 2018 07:00

Chrisye

Nama Yang Terus Hidup Dalam Nafas Generasi

…. ‘Sejak jumpa kita pertama kulangsung jatuh cinta. Walau ku tahu kau ada pemiliknya. Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani. Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini’…. Lantunan bait-bait yang cukup akrab ditelinga lamat-lamat sampai juga ke telinga penulis. Terkesan menarik karena lagu tersebut ditingkahi sisipan irama gondang batak nan rancak dalam sebuah pesta pernikahan. Seperti sebuah mesin waktu, mendengar lagu tersebut sesaat saja langsung melemparkan ingatan akan sebuah nama, Chrisye.

Mengenang seorang Chrismansyah Rahadi atau Chrisye yang telah pergi meninggalkan kita sejak 11 tahun lalu, tepatnya pada 30 Maret 2007. Tetap saja kepergian abadinya tersebut, tak lantas mematikan karya-karyanya dari ruang dengar generasi bangsa ini. Mari kita tajamkan telinga, perhatikan dengam seksama, masih terus kita bisa mendengarkan lagu-lagu karyanya dinyanyikan oleh siapapun, dimanapun. Tak peduli oleh pengamen jalanan, di pesta-pesta, panggung musikal, dalam album rekaman, di kota ataupun jauh di pelosok ujung negeri ini.  

Seperti sebuah sihir, lagu-lagu almarhum Chrisye cenderung abadi, mengikuti gerak zaman tanpa terdengar seperti sebuah lagu klasik. Dari dekade 1967 sampai 2004, Chrisye telah membukukan sebanyak 20 album studio dan terlibat dalam 2 original soundtrack. Ditambah lagi dengan berbagai penghargaan mulai dari BASF Awards hingga Anugerah Musik Indonesia sering didapatkannya. Ini semua adalah sebuah produktivitas spartan seorang musisi yang berkarya selama 40 tahun masa dirinya berkarir.

02 Chrisye Istimewa

Chrisye (Istimewa)

Chrisye memiliki timbre vokal yang terkesan malu-malu namun menjadi cirinya yang paling kuat, sama seperti gaya panggungnya yang kaku. Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Jockie Suryoprayogo bahwa suara khas Chrisye menjadi sangat cocok ketika disandingkan dengan lagu ‘Lilin-Lilin Kecil’. Sementara Erwin Gutawa mengibaratkan suara Chrisye layaknya sehelai kertas kosong, yang dapat diterapkan untuk apa saja.

Berpulangnya Chrisye keharibaan sang Khalik, kesuksesan album-album yang dihasilkan serta  keberadaan dirinya di skena musik tanah air membuat karya-karya Chrisye kerap dikreasikan ulang oleh banyak musisi Indonesia masa kini. Terlepas dari tujuan masing-masing mereka, apakah menyanyikan dan mengaransir ulang karya Chrisye tersebut hanya sebagai pendongkrak karier atau memang murni sebagai bentuk apresiasi terhadap sang maestro. Yang jelas lagu-lagu tersebut cukup nyata diterima oleh pendengarnya.

Seperti yang dihadirkan oleh grup band akustik D’Cinnamons pada sekitar 2008 lalu yang  mengangkat sebuah single melegenda ‘Galih dan Ratna’ dalam versi akustik. Disini mereka cukup berhasil untuk tidak terjebak akan nama besar Chrisye, walaupun tak banyak nada yang dirubah oleh mereka.  Pada tahun 2017 juga lagu dengan judul yang sama ini malah di turunkan ke layar film dan juga merupakan remake dari film “Gita Cinta dari SMA” yang dirilis pada tahun 1979 silam. Original soundtrack lagu ini dinyanyikan oleh Sheryl Sheinafia yang juga sebagai pemeran utama.

Ada juga Afgan yang meletakkan sebuah lagu dari Chrisye yang berjudul 'Panah Asmara' di album keduanya. Lagu dan album yang dirilis pada tahun 2010 tersebut terdengar cukup modern di kemas lewat sentuhan yang cukup rancak. Lainnya mungkin seperti yang ditampilkan. D'Masiv lewat single 'Pergilah Kasih', Sandhy Sondoro yang menyanyikan lagu 'Anak Jalanan', yang dirangkum dalam album 'Akustichrisye' lewat versi lebih nge-blues, atau yang lainnya seperti yang dihadirkan Fatin Shidqia dengan judul ‘Ketika Tangan dan Kaki Berkata’.

05 Chrisye Istimewa

Chrisye (Istimewa)

Seperti yang pernah disampaikan oleh Abdul dari Abdul & The Coffee Theory dalam sebuah kutipannya ketika mengerjakan album kompilasi “Melody Chrisye” untuk mengenang 9 Tahun kepergian sang legenda bahwa semua lagu Chrisye enak didengar dan banyak orang yang hafal. “Lagu yang jarang didengar pun enak . Bahkan orang yang bukan penggemar lagu Chrisye pasti mengenal dan bisa mengikuti lagu hanya mendengar sambil lalu,” ungkap Abdul.

Tidak hanya mengaransir lagu-lagu Chrisye dalam bentuk album ataupun single, nama Chrisye kerap dihidupkan di panggung-panggung musik negeri ini baik dalam bentuk rekaman ataupun live. Walau lewat format yang berbeda-beda, tapi tetap saja membawakan satu benang merah yang nyata, yakni betapa nama dan karya Chrisye tak pernah mati.   

Perjalanan karir musik Chrisye yang terentang panjang lewat pencapaian prestasinya menjadi lebih tajam di ujung kehidupnya. Siapa sangka, kalau keterbukaan hati dan pemikirannya untuk bekerjasama dengan banyak musisi, budayawan dari berbagai genre dan usia akhirnya menjaga keberadaan posisinya secara terus menerus.

Walau telah 11 tahun kepergiannya, nama dan karyanya tetap saja terus terpelihara dalam ingatan generasi bangsa. Seperti langkah besar yang paling baru diakhir tahun silam, lewat sebuah film biopic tentang dirinya yang diproduksi oleh MNC Pictures menggambarkan hal tersebut. Betapa Chrisye dan karya-karyanya tetap hidup dalam nafas generasi bangsa ini./ Ibonk

Page 1 of 134