Achmad Albar

Bukan hanya promotor aja sih tapi juga teknisi-teknisi, operator, semuanya berangkatnya dari God Bless

Tulisan di bawah ini adalah hasil wawancara dari Odang D dan Maman HS, pada tahun 2007. Dan diserahkan kepada NewsMusik oleh Achmad Rizal Buyunk. Beserta tulisan lain yang diambil dari majalah Aktuil, edisi terbitan 1976. Setelah melalui edit-minimal oleh Gideon Momongan, kami memuatnya. Selamat membaca…

Berkisah tentang majalah AKTUL sama dengan bernostalgia. Teringat akan masa kanak-kanak. Teringat akan masa remaja. Teringat akan masa indah ketika semua khayalan rasanya akan dengan mudah diraih   begitu saja. Nama Achmad Albar di masa itu tentu saja sudah terkenal. Dia adalah pemimpin kelompok anak-anak yang berhasil menggagalkan usaha seorang penjahat. Memang bukan dalam alam nyata. Iyek adalah tokoh seorang pemimpin dalam film “Jendral Kancil”. Waktu itu, ih idola banget deh.\

Menghilang entah ke mana dalam tenggang waktu yang sangat lama membuat namanya tak diperhatikan orang lagi. Namun tiba-tiba, muncul foto band Belanda Clover Leaf di dalam majalah AKTUIL. Ini bukan hal aneh kalau sebuah foto band dimuat. Yang membuat para pembaca agak kaget – terutama yang pernah hapal Iyek – ialah bahwa yang berambut kribo ganteng di tengah lima anggota band itu ternyata Achmad Albar.

Sisa ceritanya sudah kita ketahui bersama. Dia melejit dengan God Bless. Di alam kehidupan nyata dia memimpin sebuah band musik rock. Sekarang di usianya yang sudah di atas 60 tahun, Iyek masih Nampak energik. Ketika latihan menjelang pertunjukannya di Jakarta Fair bulan Juni lalu, dia masih tetap Iyek yang lama. Cuman mungkin nada tinggi dalam suaranya sudah tak bisa dia capai lagi. Wajar.

Pada tahun 1975, bandnya terpilih untuk mendampingi Deep Purple dalam konsernya di Senayan Jakarta. Dalam hubungan itulah, dia diwawancara.

GODBLESS1


God Bless

SELAIN dari stage act dan sound system, apalagi yang bisa dipelajari dari kedatangan Deep Purple?

Ya. Banyak. Dari bagaimana mereka tampil ya, dengan opening, terus equipment itu sendiri, terus apa, semuanya. Cara kerja mereka bagaimana, lalu bagaimana mereka bawa beberapa manajer; ada stage manager, ada road manager, ya semua. Masing-masing punya fungsi dan terus ada krunya, ada chiefnya, ada kepalanya, kepala engineernya ada. Wah gila, banyak, ada berapa orang mereka bawa itu. Mereka itu sudah hapal banget gitu. Mereka udah ngga perlu cek sound lagi pemain itu. Paling satu dua, yang Jon Lord sebentar aja, sama David Coverdale. Pemain yang lain di hotel semua.

Kenapa tuh?

Karena teknisinya itu semua udah paham seluk beluk penyetelan.

Sekolah untuk itu disini belum ada ya?

Di sini belum ada. Cuman sekarang sudah banyak perkembangan, artinya udah banyak teknisi kita juga yang menguasai alat musik. Dan juga tahu artinya nyetem drum itu apa, semuanya. Ngga perlu apa drummernya harus nyetem juga. Banyak yang udah ke arah situ. Dan system, cara kerjanya juga kru-kru kita sekarang udah beda ya. Operator juga udah lebih paham lagi, lebih belajar lagi akan perkembangan-perkembangan teknologi yang dipake dan sound efek-efek semuanya, mereka udah paham.

Semua peralatan itu apa di kita sudah ada?

Sebenarnya kalau untuk daya belinya sih kita ngga kalah deh sama orang luar. Orang Indonesia nih berani buang duit sih. Artinya ya, kalau orang barat kan disesuaikan menurut ukuran mereka. Alat-alat serupa itu dipakai oleh supergroup. Tapi kaya yang baru, band-band pemula kalau yang di luar negeri itu kan mereka pakai yang biasa-biasa saja. Mereka ngga akan keluarkan uang untuk beli alat yang wah gitu deh.

Tapi di Indonesia ini anak-anak muda, anak-anak band baru nih, pokoknya begitu denger ada alat-alat yang mahal, ada yang bagus keluar gitu, gitar kek, apa gitu, yang wireless, mereka beli. Dan juga seperti rental-rental, kayak sound system apa gitu, sekolah juga, sekarang pake mixer-mixer professional semua. Dipake di studio recording dan mereka bawa tour juga.

Berarti mereka berani beli gitu. Invest. Terus contohnya kaya ‘Mata Elang’. Di bidang Lighting. Dia lebih berani daripada yang dipakai oleh orang Hongkong, Singapura dan seluruh Asia, sampai akhirnya dia ditunjuk untuk jadi distributor merk-merk lighting yang buatan Amerika, Eropa apa gitu semua, untuk Indonesia. Mata Elang itu di Bandung, Surabaya, Bali, ada itu. Hebat si Akuang itu. Dulu dia bekas manajer kita. Itu yang saya salut.

Dari jatuh bangun, terus mulai gerak di lighting itu dengan bikin sendiri, istilahnya pake kaleng kerupuk dengan lampu mobil di Pasar Seni (Ancol) itu. Itu, sampai-sampai Olympiade di Australia pake lighting Mata Elang kan. Tahun 2000.

Sekarang yang paling canggih siapa, masih Mata Elang?

Masih. Bukan disini saja, se – Asia. Ngalahin Singapura, Hongkong. Cuma di Jepang aja mungkin ya saingan, yang lebih lengkap. Dulu kan kita kalau mau beli alat pasti di Singapura. Beli alat band, beli lampu kek, mau beli apa saja kita larinya ke Singapura. Dan kita merasa Singapura itu wah. Kalau show itu wah, lebih lengkap hebat-lah. Tapi sekarang Indonesia ngga kalah untuk ukuran panggung/stage, terus sound system, lighting. Lighting mah jangan ditanya lagi-lah, gede. Mata Elang punya.

Apa Mata Elang punya sound system?

Mata Elang punya sound system juga. God Bless pake itu juga. Cuma dia belum sempurna. Belum dikatakan terbaik di Indonesia untuk sound system mah. Tapi kalau lighting, bolehlah di Asia Tenggara ini dia yang pegang, terbaik.

Sound system anda berarti masih pake Lasika?

Kalau sound system, pakai yang ada di Jakarta. Ada beberapa yang bagus termasuk Sumber Ria. Dan yang terakhir-terakhir ini yang punya Log Zhelebour, dia baru masukin kan sound system. Paling besar dan paling rapi, paling bagus hasilnya, ya yang dipake Rock Festival kemarin juga. Semuanya itu, powernya itu, apa semuanya built up gitu, bukan……rakitan.

Banyakan disini suka speakernya, petinya bikin sendiri. Biar gimana juga built up mah beda. Jangan lagi sound system, mobil aja kita berasa mana yang built up ama yang assembling kan. Apalagi sound. Kalau sound kan biar dia tahu konstruksi petinya kayak apa tapi beda press-pressan pabrik ama paku mah. Dia lama-lama dipake beberapa kali, dia udah ngegeter lagi….beda. Disini banyak kan, mereka mau beli speaker-speaker. Mau speaker JBL, mau beli apa gitu tapi petinya banyak diassembling disini. Jarang yang built up. Tapi yang terakhir-akhir ini udah mulai, kayak Balai Sidang udah punya walaupun belum besar ya watt-nya. Tapi mereka pake yang built up.

legend[7]

Yang aku tahu sih terakhir yang masukin alat-alat yang built up yang paling banyak watt-nya, sampai 100 ribu lebih itu , Log punya. Sekalian dengan mixer-nya dan powernya. Dan sistemnya. Merknya apa sih, aku lupa, Perancis punya. Disini sudah banyak sih, tapi yang ini type terbaru. Powernya juga. Yang waktu Rock Concert itu yang semifinal dan final mereka pake.

Jadi waktu itu ada dua panggung gede kan, connecting, bukan sendiri-sendiri loh. Jadi dengan dua panggung itu, kita bisa jalan juga di connect itu. Juga dengan sound systemnya itu. Kayak Jamrud kemarin main, bisa satu lagu terus dia langsung nyambung satu lagu ini. Terus kadang-kadang main berdua. Apa gitu, soundnya itu, stage-mixernya, aduh, gede-gede. Lengkap deh pokoknya, bagus.

Ya, cuma kalau dipegang ama yang…. orang bule gitu sih, yang lebih ngerti gitu, hasilnya pasti lebih maksimal. Disini juga udah bagus, artinya operatornya, soundnya.

Usaha Log itu kapan mulainya?

Sejak tahun 70-an dia udah mulai kecil-kecilan. Dia ngga di AKA sih, tapi promotor di Surabaya. Kecil-kecilan. Terus mulai tahun 80 dia bikin tour God Bless 10 kota, tour di Pulau Jawa bereng Jarum. Dari situ dia mulai sukses. Emang pegang God Bless terus. Dari Jarum ke Gudang Garam juga. Mulai dipercaya. Tapi ya berangkatnya dari kita juga. Sebelum God Bless itu malah skopnya kecil-kecilan, tapi dengan God Bless ini dia bisa berkembang. Ada kepercayaan dari sponsor. Jadi dia, ya kretif-lah, bagus. Bukannya kita bilang kalau dia itu jadi karena kita. Tapi memang dulu dia awalnya itu berangkatnya dari kita.

Ada lagi yang berangkatnya dari God Bless?

Bukan hanya promotor aja sih tapi juga teknisi-teknisi, operator, semuanya berangkatnya dari God Bless. Coba sebutkan. Semuanya tuh, teknisi-teknisi, terus Sofyan Ali pun, yang Lord banyak gitu yang jadi. Terus RAM, Mata Elang. RAM itu kan dulu Yanen dari pabrik anggur, ngga pernah terjun ke musik dan dia sedikit pun ngga tahu tentang alat musik, sound system. Nah, awalnya pegang God Bless. Manajer…. Bukan manajer, salah kaprah ya kita kalau bilang manajer di Indonesia. Salah ya kalau bilang manajer, padahal itu kan cukong, yang nyukongin. Bos-lah.

Sebab sistemnya manajer kalau di luar negeri kan lain. Produser juga beda, yang memproduksi. Anak bandnya sendiri jadi produser juga kalau di luar negeri. Kalau disini bukan produser tapi company. Kayak Musica, ya kan. Mau Sony, mau apa, itu bukan produser, itu perusahaannya produser yang memproduksi hasil rekaman itu. Yang menghasilkan. Perusahaannya.

legend[11]

Di situ juga…. Kaya Ndol pun berangkat dari…. Dia dulu belajar pertama lewat tour yang kita main ala Deep Purple-an tuh. Ya kita tunjuk Ndol sebagai kordinator kita, ya manajer kita, gini gini gini. Dari situ dia belajar jadi promotor. Akuang ya, pertama pegang God Bless juga, terus abis situ terus mulai juga ke lighting apa gitu, jadi ke musik. Si Hendra kek apa si Oni apa semua-lah. Berangkatnya banyak gitu ya, artinya ya sama-sama, kita juga ditunjang sama mereka. Tapi mereka juga berangkat bareng ama kita-lah. Kayak Log juga dari mulai Surabaya tuh ya, dari awal gitu berangkatnya. Seru tapi….

Zaman waktu itu yang bisa dibilang sama berperannya seperti God Bless dalam hal membawa orang menjadi professional, menjadi promotor ada ngga?

Kalau dulu ngga ada. Pada saat dulu ngga ada.

Kalau dibilang God Bless sebagai band yang ikut mengangkat profesionalisme dari berbagai hal….

Berbagai bidang … artinya ya dari dunia lighting, dunia sound, ya, terus teknik, operator-operator yang lahir dari God Bless tuh, bisa dibilang sampai ke siapa … siapa yang bos TV tuh siapa …….?

Alex Kumara … dia operator kan?

Alex Kumara dulu bukan hanya operator, tapi sampai ke nyolder-nyolder di panggung segala. Alex berangkat dari God Bless juga. Dari studio-studio sampai dia dipercaya oleh Gelora Seni kan. Diberi kepercayaan bikin apa gitu, bikin studio, dia yang ini, dia yang semuanya, ya sampai…. Dia memang orang yang saya salut banget, artinya dia memang lulusan teknik ya, kalau ngga salah dia dari ITB. Jadi dia itu belajar terus, mau belajar.

Yang lain-lain ini kadang-kadang otodidak semuanya. Kayak operator, hobi yah hobi tapi ngga mau buka buku lagi, jadi perkembangannya itu ya udah ngga berkembang. Kalau Alex Kumara itu dia memang sekolah juga. Dan pada dasarnya itu kan dia teknik. Gini, gini, gini samapai akhirnya ikut tuh Alex, tour ke daerah-daerah. Ikut tidur di kolong apa segala.

Terus akhirnya dia kita tunjuk sebagai chief of crew-lah. Jadi semua teknisi kalau ada masalah, sound apa gitu, ngga beres atau gitu, jadi dia kasih tahu, oh ini terbalik kabelnya, ada yang kebalik, feed back atau apa, atau ada sesuatu dengan mixer apa, jadi dia kepala. Itu, bayangin dari zamannya dia terjun, nyolder di panggung. Tapi ya, semuanya itu mereka merasa asyik aja. Kita deket semuanya sih. Walaupun mau yang kru yang dari awal belum ngerti apa-apa.

Si Ian itu ngelahirin banyak sekali teknisi yang sekarang kualifaid, ada yang ikut ke Dewa dengan honor yang bagus gitu. Semuanya belajarnya dari God Bless. Fender sekarang jadi operator di sebuah studio. Dulu boro-boro, bisa nyolder aja ngga, ngerti kabel aja ngga, sama sekali buta. Tapi dengan ikut God Bless, dengan punya kemauan belajar, terus ya dia jadi asisten Danes, mulai dari situ sampai jadi operator….


Achmad Albar dan Donny Fattah

Achmad Albar dan Donny Fattah

God Bless itu ibarat sekolah juga ya?

Ya praktek-lah. Artinya mereka langsung di lapangan. Dan yang punya kemauan, ya akan berkembang. Bukan kita yang jadiin aja….mereka yang akan jalan lebih lanjut seperti si….siapa…. ada dua apa tiga teknisi God Bless yang sekarang nih ikut tour Dewa terus. Tapi kalau denger God Bless tampil, tetap ngebantu, fanatiknya apa kita mungkin. Kayak Akuang tuh, terus Log, Rudi RAM gitu, teknisi-teknisi, pokoknya kita kalau butuh pertolongan mereka, hey ayo ayo … jadi masih deket ama kita sampai sekarang …

Pengalaman dengan Kemarau 75 Open Air Concert di Gedung Sate Bandung itu gimana?

Dengan 100ribu penonton, padahal kan seadanya kan, juga alat, panggung aja masih … kita mana punya panggung dulu, panggung-panggung permanen gitu, belum ada system knock down. Dulu pakai tong aja dibawah. Kayak di Bandung Kemarau 75 itu panggung sudah goyang loh, karena semua penonton pada naik, ada di panggung, orang keamanan, wartawan, dan lainnya. Kita sempet ngerasain tuh goyang. Tapi kita seru aja. Box-boxnya asli tuh. Bukan rakitan sendiri. Sumber Ria besar tapi lumayan dia bangsa 40.000-an watt masih bisa. Sekarang tuntutannya udah diatas 100 ribu watt, kalau main di open air gitu.

Memang dulu soal besaran watt ini sama saja?

Dulu mah kalau mau main di gedung atau open air sama saja. Sound segitu, lighting-nya begitu. Dulu ngga ada. Masih main dimana aja, dibawah alam, tapi kita enjoy aja gitu. Dan semua di daerah, di pelosok dimanapun band-band di seluruh Indonesia, AKTUIL-lah yang ngegerakin, majalah musik yang membantu banget perkembangan musik di Indonesia. Tapi sekarang ada Rolling Stone.

Mereka suka juga memberitakan laporan konser-konser?

Mereka ngga ada reportase. Mereka punya berita lebih condong ke Barat. Terus AKTUIL kita rasa udah bagus banget gitu….kalau dihidupkan lagi majalah AKTUIL bagus… sebenarnya kalau majalah musik ngga perlu bagus gitu….asal terbeli aja***

Achmad Albar : ”Donny benar cabut!”

God Bless tahun ini benar memasuki masa yang paling memelas dalam perkembangannya, setelah Donny Gideon Gagolla sang pendiri GB di samping Albar – Ludwig Le Mans – Deddy Dores dan Fuad Hassan almarhum, menyatakan cabut diri secara benar. “Saya kini benar keluar dari God Bless, dan saya harap GB tetap ada walaupun tanpa saya. Saya sama sekali tidak bermaksud membentuk grup baru, kecuali rekaman kecil-kecilan macam ini!”, pengakuan Donny di Tri Angkasa.

Bassist baru asal Jatim?

Achmad Albar segera dihubungi. “Saya sendiri belum mendapat keterangan yang pasti tentang keluarnya Donny, tapi dari pernyataan di kanan kiri, agaknya ia memang telah keluar dari GB saat ini juga!”, keterangan Yik di rumah-nya. Ditanya tentang adanya kasak-kusuk bahwa Donny bakal bentuk grup baru bersama Jelly Tobing. Yik cuma tersenyum.

Lantas macam mana evaluasi GB sendiri?. “Kita sedang mencari bassist baru, setelah Donny benar-benar tak bisa diharapkan sekarang ini.Bagi saya sendiri alas an Donny sibuk menyiapkan rekaman solo karirnya hingga ia tak datang rekaman buat Si Doel, bisa diterima. Karena saya tahu, sampai saat inipun Donny masih bimbang, apakah ia akan cabut benar dari GB atau gimana. Yang jelas ia amat mencintai grup yang kita dirikan bersama ini. Mau tak mau GB juga harus menyiapkan bassist baru sewaktu-waktu diperlukan pengganti Donny!”, kata Yik. Siapa kira-kira?. “Saya tak berani katakan dari sekarang, yang jelas ada anak Surabaya bernama Bambang, ia teman dekat Yan!”. Mamad Brotherhood gimana?. “Saya pikir tidak!”. Saya pernah dengar, bassist Ogle Eyes si Lexy yang kidal itu juga dahsyat. Macam mana pendapat Yik?. “ Yan pernah sebut juga nama Lexy, tapi yang terpenting saya mencari orang yang benar cocok buat segala macamnya di GB!”. Segala macam gimana?. “Bassist sebuah grup rock berkepentingan dengan stage act, dentuman yang dahsyat dan garang, serta yang lebih penting lagi ia harus sekompak kami dulu dalam persaudaraan!”. Point terakhir itu yang susah ditemui?. “Ya, barangkali ada pemain bass, yang bagus, tapi ia belum tentu bersama Ucok dalam Duo Kribo!”

Donny Fattah a.k.a  Donny Gagolla  Foto Gideon MomonganDonny Fattah a.k.a  Donny Gagolla  Foto Gideon Momongan

Solo Karir

“Yan yang paling kasihan pada saat GB mengalami masa vacuum macam sekarang!”, cerita Achmad. Kenapa?. “Ia kan imigran dari Malang, pada saat itu ia belum terbiasa komersilan!”. Saya dengar dia gabung dalam Eternals-nya Abadi Soesman di Metropolitan. “Ya, tapi sebagai guest star dua lagu saja!”. Eh iya, kapan realisasi rekaman duo kribo?.

“Mestinya tanggal 2 oktober ini, tapi kemarin ini saya cari Ucok di rumah Ratno Timoer, selalu tak ketemu. Ia sibuk nganterin istrinya shooting film! ”Konsep musik apalagi yang akan dipakai?. “Biasa rock yang keras dan cukup menarik macam rekaman GB dulu!”.

Kenapa Melky Goeslaw batal gabung dalam trio kribo?. “Oleh pihak Irama Tara yang mensponsori rekaman ini, Melky dianggap tidak sealiran dengan kami!”. Lagu-lagu milik siapa?. “Saya sama Ucok!”. Lantas kalau sebelum ini anda selalu bersitegang di majalah melawan mulut Ucok, apa itu termasuk publikasi buat duo kribo?. Achmad cuma ketawa. “Publikasi atau tidak, yang jelas semula saya dan Utjok memang ada perbedaan prinsip dalam musik. Baru dalam rekaman ide kami bisa menyatu, tak dikebiri salah satunya!”

Didukung Anggota God Bless

Sejatinya individu GB tetap kompak. Walau selalu ada yang melempar kasak-kusuk bahwa Donny benar telah cabut dari GB. Toh kenyataannya. masih kumpul dengan kawan-kawannya kok. Entah main ke rumah Jockie atau Yan Antono. Untuk kepentingan rekaman solo karir Yik di Musica Studios itu, Achmad telah menentukan pilihan, teman-temannya dari GB sendiri bisa mendukungnya.

“Kalau masih mungkin, siapa tahu Donny bakal ikut?!”, begitu optimisme Achmad. Yik menghargai kekompakan Donny dengan eks pemain GB, yakni Keenan Nasution dari Guruh Gipsy. Sementara itu, dari Donny diperoleh kabar bahwa, kemungkinan besar ia jadi berangkat ke LN. “Yang pasti, saya tak akan bentuk grup baru. Publik udah bosan dengan tampang saya!”. Diduga, gambaran tentang kebimbangan Donny ini dikarenakan ia telah memiliki beban seorang puteri mungil Revita Leona Cindy dari pernikahannya dengan Rini Noor, puteri Dubes RI di Denmark / OdangD

GOD BLESS

Dalam Indo Rock

Ini merupakan nomor lagu pertama God Bless, dalam konsepsi musik rock protesnya:

Pahlawan berkata dengan

air mata’

perjuanganku terbuang percuma

judi narkorik merajalela

segala derita dimana-mana

ibu tertawa bagaikan orang gila

anak dijual sangat murahnya

harga diri dibuang asalkan

harta

kapitalis gembira

wahai bapak pemimpin

yang bijaksana

ajak rakyatmu untuk berkarya

perhatikan generasi kaum muda

semangat 45 kami percaya

mereka lupa Tuhan ada

setan tertawa berpesta pora

membawa lagu ia berkata

tambah kawan masuk neraka

Lagu di atas sengaja dipakai tema terujung dari rekaman perdana God Bless yang telah berawal sejak tgl. 11 April yang lalu. Yakni lagu protes dalam konsepsi musik Indonesia rock! Ini merupakan tema awal yang amat menarik bagi perkembangan grup rock negeri ini, mengingat konsepsi yang dipakai God Bless sendiri memang nyata sama dengan semua konsepsi musikus rock se-jagad. Sebab pada dasarnya, musik rock memang merupakan cermin dan pemberontakan terhadap kesenian musik yang telah mapan.

Dan musik pekak telinga ini ternyata telah di gempa kembali oleh grup rock Jakarta, setelah Bandung muncul via nama Giant Step dan Jakarta diwakili oleh grup Barongs, yang punya kandang di Jerman.Yik menganggap hal macam ini merupakan gelagat awal bahwa musik rock bakal semakin membahana di Indonesia!

legend[12]

Ada sebelas lagu yang direkam God Bless buat pertama kali. Sebenarnyalah hal ini bukan merupakan kejutan besar, andaikata anda mau mengikuti perkembangan God Bless dalam peta per-film-an maupun pemanggungan grup pekak telinga Jakarta itu. Sebab dari sebelas lagu yang direkamnya, cuma ada tujuh lagu yang baru.

Harus diakui dalam hal ini God Bless memang jarang membawakan lagu-lagunya sendiri yang ditulis dalam teks Indonesia. Terkecuali waktu mereka manggung di Padang dan Palembang tahun lalu. Dan lagu itu pun ternyata telah terjadi penambahan satu koplet pada liriknya. Jadi kalau tadinya ada dua koplet plus reff, maka ditambah satu koplet lagi di depan. Tema tetap berujud protes ringan yang mengasikkan. Lagu ini diangkat kembali oleh GB dari film Semalam Di Malaysia dimana GB turut main sakejap di layar putih sana.

GB juga mengkedepankan ‘Lagu Huma di Atas Bukit’ (film Laila Majenun), serta sebuah nomor lagu berteks Inggris yang lebih dulu dikenal khalayak sebagai nomor karya Donnv Gagolla. Ia berkepala: ‘She Passed Away’. Sebenarnyalah lagu ini dikarang spesial untuk kekasihnya, Rini Noor yang kini telah punya baby satu dengan Donny itu. Yik dan Donny mengerjakan lagu ini secara teliti pada konsepsi musik soft rock yang apik sekali. Apalagi apabila rencana memakai backing string dari lima violinis jadi dilakukan untuk She Passed Away, maka pada saat itu, akan syahdulah hasilnya.

Kita tidak akan menganggap GB ditimpa malapetaka seandainya mereka masih juga muncul dengan beberapa lagu ciptaan orang. Yakni mereka mengambil lagu punya Beatles segala macam, yang aransemennya telah diubah sedemikian rupa hingga menyerupai cap GB. Dan hendaknya tetaplah berbangga dengan GB. Sebab walaupun mereka mencomot beberapa lagu orang, namun kenyataannya mereka bersiap menulis lagu siapakah sebenarnya yang direkamnya itu.

Tak ada kamus pencontekan secara mutlak pada diri GB, selama mereka masih mampu berdiri dengan segala macam kemampuan musisinya sebagai pengaransir lagu. Jadi andaikata Giant Step berujar: Kalau mau nonton GS bersiaplah melihat kami membawakan lagu sendiri dan jangan harap bisa mendengar lagu Deep Purple, maka prinsip GB adalah begini: Boleh dengar hasil aransemen music GB yang apik, selain bias menilai konsepsi music protes Indorock GB dalam rekaman!”

Tatacara Rekaman

AKTUIL dikasih kesempatan mengikuti gerak gerik lima musisi GB selama mereka rekaman di Tri Angkasa. Mereka menggarap lagunya dengan memakai lima track buat musik dasar, tiga track buat dubbing vocal dan delapan lainnya buat dubbling lainnya macam gitar melodi, string, keyboard atau gitar akustik sekalipun.

Sudah tentu kepentingan begitu njelimet buat kemanisan rekamannya ini membutuhkan tempo yang amat panjang. Dan GB telah dikasih kesempatan tiga minggu pol untuk merekam lagu-lagu ini sampai usai. Ini merupakan waktu yang cukup panjang buat rekaman grup rock di Indonesia, setelah Guruh-Gipsy juga merekam lagu experimennya sepanjang tiga perempat tahun! (Itu pun belum baik benar).

Pada penggarapan musik dasar, GB punya system merekam lagu secara sama-sama. Yakni Jockie bermain organ walaupun yang dipencetnya cuma merk Yamaha yang kurang memiliki variasi suara apik itu, Yan Antono pada rhythm, Donny Gagolla pada bass dan Teddy Sujaya di jurusan bedug. Pada saat macam itu, biasanya Yik memberi aba-aba di kamar operator. Tiga teknisi Tri Angkasa yang bernama Alek dan Yongky biasanya turut serta mengatur balance rekaman GB.

Sementara Teten yang barusan di-bon dari Celebrity nampaknya ikut andil besar buat sukses rekaman GB yang disponsori Pramaqua. “Dalam hal ini saya tetap anggap sukses GB merupakan kepentingan ke satu. Kita percuma dibebaskan rekaman, kalau lagu rekaman kita tak laku lantaran kurang baiknya teknis rekaman!” kata Yoyong – road manager GB.

Setelah usai mengerjakan musik dasar, biasanya organ Jackie lantas digosok bersih-bersih dari pita. Kemudian kesempatan kedua dikasih pada Ian untuk mengisi melodi serta Jockie mengisi organ benar-benar lewat batang pencet bermerk Acetone. Begitu selanjutnya sampai musik full dan tinggal diisi oleh suara Achmad Albar serta backing koor dari Yan-Donny.

Kalau mau dihitung, maka berarti ada sekitar delapan buah dubbing yang diperlukan untuk sebuah lagu. Tiga mewakili benda keyboard yang berujud piano listrik, moog organ. Satu lead guitar beberapa string. Ditambah lagi dengan beberapa dubbing vocal. Untuk kepentingan ini, maka sepantasnyalah Tri Angkasa dipakai sebagai tempat rekaman lantaran 16 tracks-nya itu.

Coba bayangkan, berapa kali dubbing kalau GB harus masuk studio yang cuma pakai sistim rekam 4 tracks saja. Capeknya bukan main. Macam yang diceritakan Achmad Albar: “Kita menggarap ilustrasi film Laila Majenun dulu kan hanya pakai Nada Sound yang dua track. Jadi dubbing berkali-kali sampai pagi. Kerja keras macam itu ternyata bisa kita selesaikan dalam waktu empat hari saja!”

Dengan penjelasannya ini seolah-olah Yik mau bercerita, kalau dengan system 16 track macam sekarang GB disuruh merekam sebelas lagu saja dalam tempo 3 minggu. Maka kalau GB tidak menghasilkan musik rekaman yang molek, pada saat itu kita boleh mencak-mencak pada GB; God Bless geblek! Bukankah begitu maksudnya?

Cerita Tentang Groupies

GB mencoba bercerita pada lagu-lagu Indo-rocknya, segala macam pengalaman yang dilihatnya selama bermusik. Antara lain yang dikerjakannya ialah menulis lirik tentang kehidupan groupies. Judul lagu sengaja dipakai ‘Gadis Binal’. Lagu dikarang oleh Yan, sementara lirik ditulis oleh Yik. Beberapa koplet tergores lirik begini

bagaikan seekor kuda yang liar

kau lepaskan pelana

bebas tiada beban kau

usaha

mencari mangsa

apakah yang kau cari

sekedar laki-laki

untuk nafsu birahi …….dll

Sebenarnyalah Yik tidak bermaksud mengejek kaum cewek. Dalam hal ini ia mencoba menceritakan kejadian yang terlihat dalam dunia pop sekarang. Groupies ternyata bukan saja mendatangi anak band, tapi bisa juga ia mencari mangsa pada tokoh-tokoh teater bahkan mungkin wartawan pop?

Pada saat itu memang bisa diusulkan, munculnya lagu spesial menceritakan kehidupan seniman lain di luar musik. Ternyata Achmad juga telah melakukannya dengan menulis lirik model protes macam ‘Setan Tertawa’ tadi. “Di situ saya mencoba bercerita tentang setan kapitalis!” katanya / OdangD

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found