Berkreasi untuk Jati Diri Arthur Kaunang Keyboard

Berkreasi untuk Jati Diri

Sebuah tulisan dari bassis kawakan, Arthur Kaunang. Yang dikirimkan pada Ahmad Rizal Buyunk. Dan tulisan inipun dikirimkan kepada NewsmUsik. Selamat membaca!

Sejak saya hijrah dari Surabaya ke Jakarta diawal tahun 80-an, saya sudah memutuskan untuk merintis solo karir. Di luar dugaan, kegiatan saya ternyata semakin banyak. Tidak sekedar hanya bermain musik saja, juga sebagai penata musik, ikut session bersama musisi lain di rekaman maupun di atas panggung. Kadang kala bermain solo di kafe, tapi juga sebagai juri pada kompetisi band.

Bagi saya pribadi, kompetisi band merupakan bagian penting dari sebuah proses generasi ke generasi. Musisi yang terpilih tidak cuma sekedar permainan instrumental-nya. Atau pun vokalis, tapi yang terpenting adalah munculnya lagu ciptaan tersendiri dari band tersebut. Ini yang jarang muncul dari band–band yang meramaikan panggung hiburan di era 70-an.

Sejak berkomplot dengan AKA yang dibangun bersama Ucok Harahap, Syech Abidin dan Sonata Tanjung pada akhir dekade 60-an, hingga berubah menjadi SAS di tahun 1975, saya sudah menyadari bahwa sebuah band atau penyanyi akan kurang afdol jika tidak memiliki album rekaman hasil karya sendiri.

Contohnya seperti kelompok Rif/. Jika tidak segera sadar bahwa mereka perlu menulis lagu sendiri meski tiap minggu mereka menghibur pengunjung di sebuah pub di Bandung dengan repertoir lagu–lagu barat, maka belum tentu penggemarnya bakal menikmati beberapa hits-nya seperti ‘Radja’ hingga ‘Lo Toe Ye’.

Atau orang–orang tidak mungkin tahu siapa itu Kahitna, Java Jive, Peterpan, Radja, Samsons, Nidji, Ungu, dan lainnya, kalau mereka tidak bikin lagu sendiri.Bahkan sejumlah band–band indie yang musiknya kian beragam, kalau masih asyik bermimpi niscaya mereka bakal tenggelam punah.

Kesimpulannya, mencipta lagu sendiri dengan jaminan orisinal adalah mutlak harus dibuat oleh band–band pemula yang kian hari bermunculan. Jika penyanyi solo, maka yang harus dicari adalah lagu–lagu yang cocok untuk vokalnya. Kemudian bekerjasama dengan penata musik seperti yang terjadi pada Achmad Dani dengan Ratu, Sania dengan Quest Music maupun Elfa Seciora dengan Sherina.

Di samping itu harus ada yang namanya talent scout, seperti almarhum Denny Sabri, wartawan Aktuil yang menjadi sang penemu bintang. Dengan keuletannya ia berhasil mengorbitkan Niky Astria, Nike Ardila dan beberapa artis lainnya.

Untuk pencari bibit baru macam itu dilanjutkan oleh Log Zelebour dengan kompetisi musik rock yang dibangun sejak tahun 1984. Ia banyak melahirkan musisi–musisi rock baru. Kompetisi band ini memang mewajibkan pesertanya membawakan lagu –lagu hasil karyanya sendiri.

Namun sayangnya kompetisi yang memunculkan band–band tangguh itu tidak ada gaungnya lagi. Entah apa alasannya, apa karena band–band orbitannya Boomerang dan Jamrud sudah menjadi mesin uang untuk dirinya yang bertindak sebagai eksekutif produser.

Di lain pihak ada juga kompetisi band lainnya. Seperti Yamaha Light Music ontest yang namanya selalu gonta– ganti sampai menjadi Music Quest akhirnya pun kandas tanpa sebab. Padahal dari kompetisi banyak sekali band kreatif yang punya “warna” di dunia rekaman serta panggung, seperti Krakatau, Emerald, Kahitna, Indonesia 6, dll.

Pihak TV swasta juga tak mau ketinggalan menggelar kompetisi band. Mulai dari RCTI, Indosiar, Trans-7, di samping promotor–promotor baru yang menggandeng perusahaan rock dengan menggelar berbagai festival rock, yang tujuannya mencari bibit band baru.

Jika semua upaya tersebut dilaksanakan dengan berkesinambungan, maka kita bisa berharap berbagai lomba dalam skala kecil yang digelar panitia lokal yang kadang cuma berangkat dari idealisme semangat kerja tanpa dana, bisa menemukan ujungnya. Karena lewat institusi resmi seperti itulah kita bisa mengajak para musisi generasi muda untuk terus berkreasi menciptakan lagu–lagu, serta memperbanyak jam terbang melakukan aksi panggung di depan khalayak ramai yang beragam.

Di pertengahan 80-an, Buyunk yang saat itu mengelola majalah Vista sempat menggelar pertunjukan musik “Rock Action” yang banyak menampilkan band dari generasi tua dan muda. Waktu itu saya pun ikut manggung bersama SAS. Pertunjukan yang digelar di pulau di tengah–tengah danau Taman Ria Senayan itu membangkitkan semangat saya untuk tetap berkiprah di blantika dunia musik.

Saya pun salut atas partisipasi banyak radio swasta yang dengan inisiatif sendiri rela menyediakan jam siaran hanya untuk mengudarakan karya–karya para musisi yang belum diedarkan secara resmi lewat label tertentu.

Yang paling aktif adalah radio Prambors. Lewat lomba Cipta Lagu Remaja banyak mencetak lagu–lagu hits, seperti “Lilin–lilin Kecil” karya James F. Sundah yang dinyanyikan almarhum Chrisye. Majalah–majalah musik seperti Hai, Trax, Rolling Stone dan NewsMusik yang tinggal kenangan itu, secara berkala memuat aktivitas band–band generasi baru. Kini dengan rencana Aktuil untuk kembali lagi ke blantika musik tanah air, tentunya merupakan sebuah kejutan luar biasa. Saya harus mengakui bahwa peran majalah Aktuil di tahun 70-an sangatlah penting bagi semua pemain band, penyanyi kala itu.

Nama besar AKA, SAS, Rollies, Jaguar, Gipsy, Panbers, Yeah–Yeah Boys, Rhapsodia, Giant Step, Superkid dan banyak lagi, itu merupakan produk majalah Aktuil sebagai satu–satunya majalah pop Indonesia.

Kini dengan dibukanya label–label baru untuk menampung band indie, seperti yang dilakukan Aquarius, Warner, Universal, Musika, Avante, EMI, dll. membuat kemudahan berkarya semakin terbuka.

Sebagai musisi senior saya menghimbau para penyelenggara kegiatan kompetisi band, hendaknya mewajibkan para peserta untuk membawakan lagu–lagu ciptaannya sendiri. Zaman sudah berubah, para musisi muda harus lebih punya keyakinan dalam berkreasi untuk meraih identitas sendiri.*** oleh Arthur Kaunang.

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.

People in this conversation

  • Bibit

    Bermain musik adalah seni seperti halnya berkebun yang membutuhkan passion untuk memulai menanam tanaman hias

    Like 0