Nomo Koeswoyo Nomo Koeswoyo 1978 (Istimewa)

Nomo Koeswoyo

Ini Perang Antar Klan Koeswoyo

“Aku ingin meninggalkan kenang-kenangan berupa lagu untuk pecinta musik pop Indonesia," begitu kata Nomo Koeswoyo. Oleh karena itu dia angkat kaki dari Koes Bersaudara untuk membentuk grup sendiri No Koes. "Aku pergi dari Koes Bersaudara demi harga diri, karena mas Tony Koeswoyo sebagai kakak tertua tidak pernah memberikan kesempatan untuk berkarya membuat lagu. Dia pikir aku cuma bisa jadi pemain drums,” ungkap Nomo.

Suatu saat Nomo bilang ke Tony mau bikin grup sendiri, hal tersebut ditanggapi Tony dengan sinis. "Mana bisa sampeyan bikin lagu". Merasa disepelekan, Nomo langsung hengkang meninggalkan saudara-saudaranya. Ia bertekad untuk membuktikan kemampuannya membuat lagu. Hal ini semakin terkuak bahwa dalam tubuh Koes Bersaudara ada persaingan antara kakak dan adik yang disebut kemudian sebagai Koeswoyo Yudha.

Koeswoyo Yudha alias perang saudara klan Koeswoyo pun dimulai saat Nomo memproklamirkan No Koes, Ia berusaha untuk menembus dominasi sang kakak yang memegang kendali Koes Bersaudara. Semua orang pun tahu bahwa Tony punya peranan yang jauh lebih besar terhadap Yok & Yon yang juga menulis lagu. Namun selalu ditolak dengan berbagai alasan, padahal lagu-lagu ciptaan mereka berdua cukup bagus dan ada nilai komersilnya.

Sejak peristiwa Koes Bersaudara masuk bui di tahun 1965, Nomo mengaku sempat kehilangan kepercayaan dirinya terhadap musik. "Mana mungkin aku bisa hidup kalau mengandalkan musik saja. Aku harus cari sesuatu yang bisa menjamin kehidupan selanjutnya". Namun Tony punya prinsip “makan tak makan kumpul”. "Dia memilih gaya hidup kaya tidak kaya tetap main musik, dia lebih suka lihat kita jadi gembel," keluh Nomo.

02 Koes Bersaudara IstimewaKoes Bersaudara (Istimewa)

Karena dinilai sering mbalelo akhirnya Nomo digusur dari kedudukannya sebagai drummer. Ia diganti oleh Murry eks band Patas, Koes Bersaudara pun berubah menjadi Koes Plus. Sedangkan Nomo dikasih job sebagai Manager. "Tadinya aku pikir enak juga jadi manager, nggak perlu main tapi dapat duit," kata Nomo. Tapi lama kelamaan ia merasa gerah dan ia bicara dengan Tony. Karena merasa diremehkan tanpa berpikir dua kali Nomo langsung angkat kaki.

Nomo sebagai manager bukan tanpa prestasi. Ia berhasil mendapatkan kontrak rekaman Koes Plus sebanyak 4 album dengan pihak Remaco. "Itupun tidak dihargai oleh Tony. Dari pada aku makan hati terus, bisa mati berdiri. Aku bulatkan tekad untuk cabut dari segala urusan Koes Plus."

Mass media heboh memberitakan Koeswoyo Yudha. Apa lagi Nomo tak berlama-lama bengong. Ia langsung membentuk No Koes dan berkat kelihaiannya berdagang Nomo langsung mendapat kontrak dari Yukawi, Hal ini membuat pihak Remaco seperti kebakaran jenggot menuduh Nomo sebagai pengkhianat karena Nomo angkat kaki sebagai Manager Koes Plus tanpa sepengetahuan Eugene Timothy bos Remaco. "Edan apa, aku cabut jadi manager harus lapor dia dulu?" ketus Nomo.

Akibatnya kedua perusahaan rekaman itu terseret dalam kancah peperangan atau persaingan klan Koeswoyo. Ditambah keikutsertaan fans Koes Bersaudara yang terpecah menjadi dua kubu. Buat Nomo keberpihakan penggemar setia sangat dibutuhkannya. "Karena mereka bisa menilai sendiri apa sebenarnya yang terjadi dakam tubuh Koes Bersaudara, Aku tidak perlu berteriak-teriak kesana kemari, Cukup dengan berkarya membuat album. Itu sudah bukti nyata bahwa aku bisa bikin lagu."/ Buyunk

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found