Exclusive Story
NewsMusik

NewsMusik

Tuesday, 06 March 2018 02:53

RAIYA

Sentuh Penggemarnya Lewat British Sound

Kalau kita teliti dengan seksama, ada rasa masygul yang tersirat melihat geliat band di industri musik dalam negeri saat ini. Perkembangan band tampak lesu, tanpa ada perkembangan yang berarti. Apalagi dalam setahun belakangan ini, banyak yang menyebut bahwa perkembangan band sudah mati suri. Benarkah??

Namun keberadaan ini ternyata tidak menyurutkan semangat yang tetap dipelihara oleh empat pemuda yang tergabung dalam RAIYA. Mereka tidak apatis, atau patah semangat lantas berdiam diri saja. Walaupun sebenarnya Santos (vokal, gitar), Andre (gitar), Indra (bas), dan Novi (drum), pernah tertatih-tatih menghadapi kerasnya persaingan di jagad musik tanah air.

Mengusung semangat baru, Raiya hadirkan single terbaru mereka berjudul ‘Dan Bila’ untuk menunjukkan kalau mereka masih eksis dan bersemangat. Tetap tidak mau gegabah, Raiya sengaja mendaulat produser pengalaman Rummy Aziez untuk mensupervisi mereka. “Banyak masukan berharga dari pak Rummy yang membuka mata kami, tentang bagaimana membidik pasar musik tanah air,” ungkap Santos.

Apalagi pada saat pelepasan single tersebut disajikan dengan agak berbeda lewat konser mini dan diskusi santai dengan media dan penggiat musik tanah air lainnya di sebuah cafe dibilangan Kemang, Jakarta Selatan akhir pekan lalu. Tujuannya adalah sebagai bahan perbandingan dan amunisi untuk langkah mereka selanjutnya.

02 RAIYA Ibonk

Mini Showcase pada saat peluncuran single 'Dan Bila' (Ibonk)

Kalau kita flashback pada tahun 2014 silam, Raiya sebenarnya terpilih menjadi 10 band terbaik lewat ajang pencarian bakat talenta baru Project Alfa “Naga Mencari Bintang”. Acara tersebut diprakarsai oleh Alfiansyah (Alfa Records) selaku produser serta Naga (Lyla) sebagai salah satu juri. Sebagai ganjaran keberhasilan mereka, single ‘Lagu Rindu’ masuk ke dalam track list album kompilasi ‘Project Alfa’ dan dirilis tahun 2016.

Saat ini mereka lebih pede dengan memasukkan unsur british sound dalam musik yang mereka mainkan. Keempatnya juga tidak menampik jika mereka banyak terpengaruh band-band papan atas dunia seperti U2, Coldplay, Keane ataupun yang lainnya. “Kami menyukai unsur musik british ini. Musik bagi kami berempat adalah sebuah media untuk menyalurkan ekspresi kami terhadap rasa dan seni,”jelas Santos lagi.

Pada tanggal 22 Desember 2017 lalu single ‘Dan Bila’ telah dilepas kepasar digital. Lagu ini bercerita tentang keadaan patah hati yang dibungkus tempo medium. Single ini juga tidak lepas dari peran seorang Rummy yang berada di belakang layar produksi lagu ini. “Single ini cukup  easy listening baik secara lirik maupun musik. Saya berharap Raiya akan semakin eksis, dan  karyanya akan semakin didengar oleh masyarakat Indonesia,” urai Rummy Aziez.

Sementara masukan lain yang tak kalah penting bagi Raiya adalah ulasan yang disampaikan produser dan penggiat musik, Seno M. Hardjo. Dalam uraiannya Seno mengungkapkan bahwa sudah seharusnya Raiya mencoba berkolaborasi dengan musisi EDM seperti yang dilakukan oleh Coldplay dan The Chainsmokers.

03 RAIYA Ibonk

Suasana diskusi musik RAIYA yang diiuti juga oleh Rummy Aziez dan Seno M. Hardjo (Ibonk)

“Selanjutnya Raiya juga harus disiplin dan jangan malas untuk mengeluarkan single. Minimal 2 single dalam setahun, dan kalau bisa sih lebih. Itu penting untuk menjaga eksistensi band ini,” ungkapnya lagi.

NewsMusik juga menangkap ada kemonotonan ide yang dihasilkan dari karya-karya Raiya sebelumnya. Semua tersirat lewat single-single yang dihasilkan seperti ‘Lagu Rindu’, ‘Maafkanlah’, ‘Kamu Harus Tahu’ dan ‘Yang Kuinginkan’ yang terkesan tidak berbeda jauh. Sudah seharusnya mereka menghasilkan musik yang lebih dinamis dan variatif tanpa harus kehilangan jati diri, karena Raiya mampu untuk itu.

Dalam tanggapan akhir mereka, semua personil Raiya berharap di tengah lesunya pergerakan group band ditanah air, kehadiran mereka dapat diterima masyarakat luas. “Kami yakin masyarakat menunggu hadirnya band baru yang mengusung tema pop rock seperti kami,” tutup Andre optimis./ Ibonk

Tembang Nostalgia Nan Enerjik

Celebrate Jazz in Diversity adalah tagline yang diangkat Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2018 tahun ini. Sudah menjadi rahasia umum jika musik jazz adalah salah satu ikon musik abad ke-20 yang lahir di Amerika Serikat. Lewat proses akulturasi unsur budaya Afrika dengan unsur musik Eropa. Jazz sendiri adalah musik yang kaya dan sangat beragam.

Seperti sedikit diantaranya ada Smooth Jazz yaitu percampuran dengan R&B yang berkembang sebagai bagian dari bentuk jazz fusion, jazz mainstream yang didalamnya ada rock dan funk. Lalu ada Acid Jazz yang menggabungkan elemen-elemen musik soul, funk, dan disco, dan banyak lagi lainnya yang akan memakan waktu lama untuk menjabarkannya.

Musik jazz yang merupakan akar dari berbagai jenis musik menjadikan Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2018 sebagai sebuah wadah bagi semua pecinta musik maupun artis-artis penampilnya dalam menikmati keragaman musik di meriahnya festival yang akan diselenggarakan selama 3 hari.

Nah salah satunya yang menjadi warna di hari pertama keberadaan Java Jazz Festival 2018 adalah The Commodores Experience feat. Thomas McClary. Mereka tampil cukup memikat dan menjadi salah satu penampil yang menghibur penikmat musik di malam pertama. Gaya kompak enerjik dari The Commodores Experience menjadi lebih kuat dengan diiringi permainan apik gitar, Thomas McClary,

02 Thomas McClary

Thomas McClary (Ibonk)

Thomas McClary sendiri lebih dikenal sebagai gitaris, penulis lagu, produser rekaman dan dalam waktu dekat juga menabalkan dirinya sebagai penulis. Lahir di Eustis, Florida pada 6 Oktober 1949, ia dikenal juga sebagai founder dan lead gitaris dari super grup The Commodores. Dirinya memulai memainkan instrumen music di usia yang sangat muda yang dimulai dari Ukulele kemudian berlanjut dengan gitar akustik dan akhirnya gitar elektrik.

Nah, lewat tampilan mereka ini, panggung BNI di malam pertama Java Jazz Festival kemarin dipenuhi dengan lagu-lagu terbaik dari hits The Commodores yang akrab ditelinga pecinta musik tanah air./ Ibonk

Saturday, 03 March 2018 07:50

Dionne Warwick

Membangun Nostalgia di Hari Pertama Java Jazz Festival 2018

Usianya sudah menyentuh angka 77 tahun, tetapi Dionne Warwick tetap memiliki pesona di panggung musik yang dilakoninya. Seperti di hari pertama gelaran Java Jazz Festival (JJF) pada, Jumat (2/3/2018) kemarin di JIExpo Kemayoran Jakarta. Semua penonton dapat menyaksikan pesona yang tak pupus dari sepupu mendiang Whitney Houston tersebut.

Walau tubuh tampak luar menyiratkan kematangan usianya, namun Dionne Warwick tampil prima menunjukkan kualitas diri sebenarnya, saat membawakan lagu-lagunya di hadapan penonton Java jazz Festival. Sederet lagu-lagu hits legendaris miliknya dilantunkannya kembali dengan apik. Para pengunjung dapat menikmati beberapa nomor diantaranya seperti ‘Walk on By’, ‘Heart’, ‘Love Is Still The Answer’, ‘That’s What Friends Are’ For ataupun  ‘Never Fall in Love Again’.

Dionne tampak tak ragu mengajak penonton untuk ikut bersamanya melantunkan lagi ‘Girl’ dan ‘Alfie’. Ia yang juga didaulat menjadi Duta Global PBB untuk Organisasi Pangan dan Pertanian ini. “Sekali lagi saya bertemu dengan Anda, mau kah kalian bernyanyi dengan saya? Ini adalah waktu yang baik, mari bernyanyi bersama,” ajak Dionne. Tak jarang pula ia selalu melontarkan candaan kepada penonton disetiap pergantian lagu.

Seperti diketahui, sepanjang karirnya bermusik, Dionne Warwick meraih banyak prestasi kelas dunia. Ia masuk dalam 40 pencetak hit terbesar sepanjang masa menurut versi Billboard Hot 100 Pop Single Charts. Dionne Warwick juga menjadi vokalis wanita kedua yang paling banyak masuk peringkat sepanjang masa setelah Aretha Franklin.

02 Dionne Warwick Ibonk

Dionne Warwick tampil piawai di Java Jazz Festival 2018 (Ibonk)

Ia pun bisa mempertahankan posisinya yang selalu duduk di Billboard Hot 100 antara tahun 1962 sampai 1998 di semua peringkat gabungan Billboard melalui single-singlenya. Album terakhirnya berjudul Now yang dirilis tahun 2012 dalam rangka merayakan 50 tahun tahun usianya berhasil masuk dalam daftar nominasi Grammy Awards tahun 2014 lalu.

Boleh dikata, jam terbang dan prestasinya dalam bermusik memang terbukti mampu menghapus kerinduan penonton akan penampilannya di panggung. Rasa puas penonton terbukti dengan adanya tepuk tangan yang meriah dan sorakan penuhi ruangan saat Dionne meninggalkan panggung./ Ibonk

Saturday, 03 March 2018 07:43

Lee Ritenour

Kembali Hadir di JJF 2018

Ada sedikit kehebohan di depan pintu masuk Tebs Hall, JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Jumat (2/3/2018). Antrian panjang sudah berdesakan sejak pukul 21.20 WIB dan setelah diteliti dengan seksama ternyata antrian yang didominasi oleh kaum muda tersebut ingin menyaksikan penampilan gitaris dan komposer jazz, Lee Ritenour.

Dan begitu pintu panggung dibuka, penontonpun berhamburan seperti anak panah yang melesat memenuhi kursi yang tersedia. Area langsung padat, dan bagi penonton yang tidak mendapat jatah kursi harus pula rela berdiri atau duduk lesehan di seputar panggung.

Mengenakan kemeja hitam bergaris, Lee muncul dari sisi kiri panggung, ia langsung mendapat tepuk tangan penonton. Lee juga mungungkapkan rasa syukurnya bisa hadir kembali ke JJF. Ia memang menjadi daya pikat lain, sudah cukup lama dirinya absen dari line up musisi di event jazz terbesar ini. Sejak petikan gitar pertamanya hingga pertengahan pertunjukkan, Lee tak banyak bicara. Dia hanya tersenyum sesekali dan tampak sangat fokus pada permainan gitarnya sendiri.

Komposisi yang dibawakannya cukup beragam dalam balutan jazz kontemporer dalam ritme yang bervariasi. Ditemani sang anak yang duduk sebagai drummer, Wesley Ritenour, Lee terlihat cukup menikmati permainannya. "Saya sudah sering tampil di sini. Saya selalu merasa spesial berada di sini, di Jakarta, di Java Jazz malam ini. Terima kasih sudah datang," ungkapnya hangat kepada penonton sebelum membawakan karyanya berjudul ‘Westbound’.

02 Lee Ritenour Ibonk

Lee Ritenour di Java Jazz Festival 2018 (Ibonk)

Lee adalah musisi yang lahir dan tumbuh di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Dirinya sangat piawai memainkan komposisi musik jazz, folk, dan rock. Dalam karirnya bermusik, ia pernah ditabalkan sebagai pemenang Grammy Awards pada tahun 1986 lewat album Harlequin yang merupakan kolaborasinya bersama Dave Grusin.

Walau terbilang senior, Lee tetap bias menjaga kedekatannya kepada penonton yang menyaksikannya. Seperti dengan tulus, ia menuruti keinginan penonton untuk membawakan komposisi lagu ‘P.A.L.S’ dan ‘A Little Bumpin’.

Sesuai pengamatan NewsMusik bahwa Lee cukup  berhasil menghipnosis penonton dengan kepiawaiannya bermain gitar. Memainkan komposisi jazz dinamis, Lee tampak saling berkomunikasi dengan perpaduan permainan bas Hadrien Feraud, dan entakkan drum Wesley Ritenour./ Fik

Saturday, 03 March 2018 07:36

Elek Yo Band

Unik dan Menghibur

Java Jazz Festival 2018 hari pertama, Jumat (2/3) resmi dimulai. Ribuan orang mulai memadati area JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat sebagai lokasi. Sejumlah panggung Java Jazz Festival 2018 hari pertama mulai digeber. Salah satu nama yang  penampilan Papana Jazz Ensemble yang memanaskan panggung outdoor.

Para pemain band ini sepenuhnya merupakan anggota angkatan udara Amerika Serikat. Tampil dengan seragam kebanggaan mereka, Papana Jazz Ensemble menampilkan beberapa lagu jazz popular dengan formasi berbeda. Salah satunya adalah lagu ‘Cheek to Cheek’ yang dinyanyikan oleh Frank Sinatra.

Hari ini, yang menjadi daya tarik lainnya adalah penampilan perdana Elek Yo Band yang beranggotakan menteri kabinet Jokowi-JK. Band yang melibatkan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi (Gitar/ Vokal), Triawan Munaf (Keyboard), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimulyono (Drum), Menteri Keuangan, Sri Mulyani (Vokal), Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi (Vokal), Kepala Staf Khusus Presiden, Teten Masduki (Vokal), dan Agus Marsudi (Bass).

Ketujuh orang penting Tanah Air di Hall B1 tersebut, kompak mengenakan kemeja polos putih. Memasuki panggung, bak musisi beken mereka menyapa ratusan penonton yang penasaran akan aksi mereka, lewat lantunan lagu ‘Dia’ karya Anji. Tepuk tangan pun langsung menyambut penampilan langka tersebut.

02 Elek Yo Band Ibonk

Panggung Elek Yo Band yang dipadati penonton (Ibonk)

"Elek Yo Band dibentuk 30 tahun lalu tapi baru manggung dua kali," canda Teten Masduki  penuh canda. Musik adalah bagian hidup kami untuk bersenang-senang. Soalnya sehari-hari kami sudah kerja, kerja, kerja," kata Teten.

Usai memperkenalkan seluruh personil, Elek Yo Band kemudian melanjutkan aksinya dengan lagu ‘Ku Tak Bisa’ yang dipopulerkan oleh Slank.  Dan sebagai penutup mereka menghadirkan lagu ‘Juwita Malam’. Namun siapa nyana jika penonton meminta tambahan lagu lagi karena provokasi Endah. Akhirnya keluar lagu ‘Bento’ yang langsung diikuti oleh seluruh penonton.

Syukurlah, Elek Yo Band banyak dibantu oleh kehadiran Endah N Resha yang menjadi penampil pembuka. Endah cukup piawai menjaga ritme dan sebagai individu yang menjaga lirik, jika para menteri-menteri tersebut lupa syairnya.

Endah N’ Rhesa sebelumnya hadir mengisi pentas lewat lagu-lagu ‘Limpang Limpandang’ lagu yang berasal dari daerah Lampung, ‘Tanah Air’, ‘Sirih Kuning’, ‘Yamko Rambe Yamko’, ‘Bungong Jeumpa’, dan ‘Untuk Dikenang’./ Ibonk

Friday, 02 March 2018 03:18

Bluebell

Rilis Trailer Movie Sebelum Tayang    

Production house pendatang baru, Ratson Pictures pada Kamis, 1/3/18 kemarin resmi melepas trailer film layar lebar yang baru saja mereka produksi dengan judul "Bluebell". Peluncuran trailer film ini juga menyusul pelepasan sebelumnya seperti poster dan juga novel dengan judul yang sama dengan menggandeng penulis Elvira Natali dan telah diluncurkan pada 14 Februari silam.

Film dengan latar belakang Bali ini oleh Claudia Stefanus, selaku Executive Producer adalah memang sengaja dilakukan. Secara umum Ratson Pictures ingin mengajak penonton untuk menikmati cerita di film ini sekaligus memanjakan mata dengan keindahan alam di Indonesia khususnya Bali.  

Nah, sebagai pendatang baru di industri perfilman tanah air, Ratson Pictures bersama Triple A Fllms mengajak seorang sutradara ternama di dunia film horror, Muhammad Yusuf. Kepiawaian menangani film bergenre horror selama Inl seolah menjadi tantangan tersendiri baginya, bahwa ia  mampu mengadirkan drama percintaan di layar lebar.

Sepertinya cukup berhasil, begitu kita simak trailer film ini banyak disuguhkan frame dengan warna dan shot yang megah, pemandangan alam yang indah, cerita yang menjanjikan serta soundtrack yang tak kalah bagus yang sengaja diproduksi untuk film Bluebell ini.

Menurut Claudia Stefanus bahwa tema percintaan masih menjadi magnet tayangan sebuah film yang diminati masyarakat, terutama remaja. “Lewat Bluebell, Ratson Pictures lngln memberi  gambaran kepada kaum muda bahwa mencari jati dlri itu adalah sebuah proses yang panjang,” ungkapnya.

02 Regina Rengganis Claudia Stefanus dan Qausar Harta Yudana

Regina Rengganis, Claudia Stefanus dan Qausar Harta Yudana (Foto: Ibonk)

Film ini juga menghadirkan muka-muka fresh di dunia akting tanah air seperti Qausar Hana Yudana (Mario) dan Reglna Rengganis (Bluebell) sebagai pemeran utama serta Steffi Zamora, Rafael Tan, Gibran Marten, dan artis senior Roy Marten.

Secara garis besar film ini bercerita tentang perempuan bernama Bluebell, seorang penyanyi dan penyuka surfing. Uraian cerita dimulai tatkala ketika tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang singgah di Bali bernama Mario. Secara tak sadar, Bluebell merasakan getaran cinta dari lelaki yang baru ditemuinya. Sayangnya, ada sebuah sandungan di dalam perjalanan kisah mereka tersebut.

Intinya film ini ingin mengajak penontonnya memahami leblh jauh lagi tentang ketulusan dan keberanian menentukan pilihan. Bagaimana dukungan sahabat yang selalu hadir pada masa-masa sulit menjadi sebuah kekuatan yang cukup besar untuk menerima kenyataan.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa sisi lain yang cukup berbeda adalah sisipan original soundtrack (OST) dalam film ini. Di produseri oleh Izzal Peterson & Steve Respati, terdapat enam lagu yang ditawarkan. Dua tunggalan ‘Bias’ dan ‘I Can’t Dream On’ dilantunkan lewat vokal merdu Franda, yang leblh dikenal sebagal presenter dan VJ. Disini pendengar bisa menikmati penampilan perdana Franda sebagal penyanyi.

“Menyanyi bukanlah hal baru buatku, tapi dilakukan secara professional yaa baru ini. Awalnya kurang begitu pede, tapi setelah dilakoni hasilnya cukup baik. Dan semoga semua suka, serta lagu-lagu yang ada di soundtrack ini bias mengangkat film bluebell menjadi sukses,” ungkap Franda ditempat yang sama.

Sementara lagu-lagu lainnya menghadirkan single dari Steven Jam lewat ‘How Can I Dance’ yang melukiskan suasana pantai dalam film Bluebell. Dua lagu berikutnya dinyanyikan oleh band Indie, yakni Tatlo ‘Walk Me Home’ dan Pagi Hati lewat single ‘Harapan Kedua’. Lagu terakhir berjudul ‘Bunga Abadi’ dinyanyikan beramai-ramai oleh para pemain film Bluebell. OST lnl luga tersedia di semua digital store seperti iTunes, Spotlfy, Joox, dll. Bahkan seluruh lagu dalam album Soundtrack Bluebell akan ada video-nya di YouTube.

“Bluebell merupakan film yang menarik dari sisi cerita maupun produksi. Senang rasanya mewujudkan Bluebell menjadi sebuah karya audio visual yang sangat memanjakan rasa yang terwakili dari novel, soundtrack, hingga  filmnya,” tutup Claudia Stefanus.

Bluebell akan mulai tayang pada 5 April 2018 diseluruh bioskop di tanah air. Seperti apa kekuatan film ini, jaga saja tanggal mainnya tersebut./ Ibonk

Thursday, 01 March 2018 14:18

Java Jazz Festival 2018

Pesta Kolaborasi

Dalam jumpa pers kedua Java Jazz Festival tahun 2018 ini, Chairman of Chairman Java Jazz Festival (JJF), Peter F. Gontha mengatakan bahwa penyelenggaraan tahun ini akan menjadi pagelaran yang paling ramai selama JJF diadakan. "Anda harus datang dan buktikan. Peremajaan artis di Java Jazz akan membawa sesuatu yang berbeda, terutama penontonnya. Insya Allah tahun ini adalah pagelaran Java Jazz tahun ini akan menjadi yang teramai," urai Peter F Gontha pada Rabu 28 Februari 2018 kemarin

Dalam tiga hari gelaran BNI JJF 2018 ini banyak dihadirkan kolaborasi antara para musisi. Tak hanya musisi dalam negeri ataupun asing saja, namun ada yang lebih special lagi. Seperti yang dikatakan oleh Nikita Dompas bahwa akan ada kolaborasi musisi Indonesia dan Barat. “Salah satunya gitaris muda yang cukup viral di media online, yakni Mateus Asato yang akan berkolaborasi dengan Rafi Muhammad Trio," sebutnya.

Selain nama di atas, ada ratusan nama lain yakni, Indro Hardjodikoro dengan Soukma, Soulful dengan Amelia Ong dan Imela Kai, Dwiki Dharmawan dengan Trisouls dan Rahmania Astrini, Danish Radio Big Band berkolaborasi dengan New York Voices dan Ivan Lins.

Kolaborasi lainnya yakni Java Jive bersama Fariz RM, Yura Yunita dengan Ron King Horn Sections, musisi jazz senior Oele Patilesano bersama Tony Monaco dan Cendy Luntungan, Candra Darusman akan tampil bersama Monita Tahalea, Teddy Adhitya, Adikara Fardy, Nina Tamam serta Chaseiro dan Karimata Trio.

02 Nikita Dompas Pieter F. Gontha Lee Ritenour Ibonk

Nikita Dompas, Pieter F. Gontha & Lee Ritenour (Foto: Ibonk)

Selanjutnya yang paling mungkin ditunggu juga adalah kolaborasi Elek Yo Band dengan Endah N Rhesa. Elek Yo Band, sendiri adalah grup musik yang beranggotakan para menteri kabinet Jokowi-JK. Kabarnya mereka akan membawakan 2 sampai 3 buah lagu. Elek Yo Band dan Endah N Rhesa akan tampil di festival jazz yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (2/3/2018) pukul 20.30 WIB.

Band ini beranggotakan Kepala Badan Ekonomi Kreatif yang juga pemain keyboard, Triawan Munaf, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (gitar/ vokal), Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono (drum), Menteri Keuangan Sri Mulyani (vokal), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (vokal), serta Koordinator Staf Khusus Presiden, Teten Masduki (vokal).
    
Yang tak kalah menarik juga kehadiran kembali Incognito. Tahun ini mereka hadir dengan project yang belum pernah mereka mainkan sebelumnya. Mereka akan melakukan kolaborasi dengan Java All Stars.

Dikesempatan yang sama, Peter F Gontha secara khusus memanggil gitaris jazz terkemuka Amerika yang hadir dalam temu media hari itu, yakni Lee Ritenour. Lewat sambutan singkatnya Lee menyampaikan bahwa dirinya sudah kenal Peterjauh sebelum Java Jazz lahir. “20 tahun lalu, Peter telah membawa saya ke sini. Ia bukan hanya memperkenalkan saya pada komunitas musik disini, tapi juga membantu saya untuk memahami dan mempelajari tentang musik yang berkembang di sini. Tidak hanya Jakarta tapi juga beberapa kota di Indonesia!” ujar Lee.

Bagi yang belum sempat melihat penampilan Lee Ritenour, anda bisa menjaga jadwal dirinya manggung yakni hanya pada hari Jum’at saja. Ia hanya bermain satu kali, dan selepas itu ia sudah harus meninggalkan Indonesia untuk mengikuti kegiatan dirinya yang sudah terjadwal./ Rz

Thursday, 01 March 2018 09:51

Album "Dekade" Afgan

Explorasi Jati Diri

Satu dekade sudah Afgansyah Reza bertahan di industri musik Indonesia. Mengawali karir bermusiknya sejak tahun 2008, Afgan meringkas perjalanan karirnya selama 10 tahun ke dalam sebuah album manis yang bertajuk "Dekade". Sebuah album yang mengusung lagu-lagu yang sebagian diaransemen ulang dan dikemas secara kekinian serta dipengaruhi dengan beat-beat R&B 90-an yang disukainya sejak lama.

Adakah perubahan dari diri Afgan setelah 10 tahun berkarya? Hal ini bisa terlihat dari lirik dan aransemen lagu yang beberapa diciptakan Afgan sendiri. Begitupun dalam hal musikalitas, Afgan terlihat beberapa kali berkolaborasi dengan beberapa artis seperti Isyana Sarasvati, Rossa dan juga seorang penyanyi kenamaan dari Malaysia, SonaOne. Dari sini pula Afgan mendapat penghargaan dari Anugerah Planet Muzik 2017, sebuah ajang penghargaan musik yang di helat oleh negeri jiran, Malaysia.

"Enggak ada yang berubah. Saya masih menjadi diri saya sendiri. Saya memiliki insekuritas yang tinggi, masih gak percaya diri, masih takut. Semua masih ada pada diri saya. Tapi saya sendiri merasa banyak berkembang dari segi musikalitas, performance, dan taste music. Bisa dibilang, kalau Afgan yang dulu masih mencari-cari gaya apa yang pas, akhirnya coba tiru sana sini. Setelah 10 tahun ini saya merasa sudah ada di tahap yang saya mau, dan lebih nyaman untuk menjadi diri sendiri. Dan lebih yakin dengan karya yang saya kerjakan, tutur Afgan sewaktu ditemui NewsMusik di KFC Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (28/2).

Dalam  album ini bisa terlihat perkembangan dan pendewasaannya dalam bermusim selama 10 tahun terakhir. Simak saja 14 track yang terdiri dari 7 lagu lama, 3  lagu remake, dan 4 lagu baru ini. Tiga lagu remake yang dipilih Afgan dalam album ini 'Sadis', 'Bukan Cinta Biasa", dan 'Bawalah Cintaku'. Lewat tiga lagu inilah Afgan dikenal oleh publik.

Tidak hanya sendirian dalam album kelimanya ini Afgan dibantu oleh beberapa arranger pilihan, salah satinya adalah Simhala Avadana.  Ada rasa nostalgia dalam album Dekade ini, Afgan sangat berperan besar dalam penulisan lagu, pemilihan notasi sampai pemiliham mastering di Inggris.

02 Afgan dalam peluncuran Dekade Album Nad

Afgan dalam peluncuran Dekade Album (Nad)

Berikut rangkuman track demi track dalam album ini :

Love Again
Lagu ini dipilih sebagai pembuka album Dekade, sebuah lagu yang diaransemen oleh Tatsuro Miller dengan beat pop R&B khas tahun 90-an menyatu dengan vikal Afgan yang khas. Dengan menggunakan lirik berbahasa Inggris dan Indonesia, lagu ini mampu menjadi anthem bagi mereka yang masih menanti cinta lama.

Sudah
Dalam lagu ini Afgan berhasil memperlihatkan sisi lainnya dalam bermusik, dengan lagu power ballad kembali dibawakannya menjadi ciri khasnya dalam track ke dua.
Nuansa musik yang sedikit kelam sangat terasa dalam intro pianonya. Lirik lagu yang dramatis, lagu ini menceritakan tentang perasaan seorang kekasih yang menyadari kalau pasangannya tidak akan bisa mencintainya seutuhnya.

Heaven
Lagu ini merupalan project kolaborasi Rendy Pandugo dan Afgan yang berawal dari suatu kebetulan. Dimana keduanya mereka merasa buntu pada sisi workshop penulisan lagu yang sedang mereka, lalu diajaklah Isyana untuk bergabung.  Hanya dalam tempo setengah jam, lagu ini berhasil dibuat ketiganya dengan konsep simpel, ringan, easy listening dengan nuansa yang menebar kebahagiaan. Lagu ini menceritakan tentang sosok orang yang kita cintai dan setiap kita ada didekat mereka ada perasaan bahagia. Lagu ini merupakan perumpamaan perasaan saat berada didekat orang terkasih.

Take Me Back
Dengan aransemen R&B dan didominasi beat-beat hip hop yang kental, lagu ini sangat pas dibawakan oleh Afgan. Karakter suaranya seakan menyatu di lagu ini. Dilengkapi dengan rap lincah dari uprising Indonesian rapper, Ramengvrl. Lagu hasil dari workshop di Malaysia bersama dengan SonaOne ini tidak hanya sarat makna cinta tapi juga cocok untuk menjadi teman saat jalan pagi yang pas.

Sadis
Hadir dengan aransemen yang berbeda, lagu ini memiliko historis cukup tinggi bagi karier bermusik Afgan. Dengan aransemen yang cukup unik ditelinga, tanpa meninggalkan alunan piano yang menjadi ciri khasnya lagu 'Sadis' mendapatkan sentuhan rock blues 80-an di bagian refrain-nya. Bahkan Marco Steffiano selaku arranger menyisipkan sisi rock and roll dari Afgan yang selama ini tidak pernah ditampilkan

Bukan Cinta Biasa
Suara petikan gitar akustik dan aluman biola yang cukup dominan, memberikan aransemen musik yang berbeda didalamnya. Afgan sendiri banyak memberikan nada falseto nya untuk memaksimalkan kebaruan dari lagu ini.

Bawalah Cintaku
Mengaransemen lagu yang sudah disukai banyak orang bukanlah perkara yang mudah. Lagu yang diracik ulang oleh Andi Rianto ini sangat ikonik dengan gaya bermusiknya yang khas. Alunan nadanya terasa megah memggunakan aransemen sederhana dari piano, strings, woodwinds, tanpa rhythm section. Ada suara khas Sheila Majid dalam lagu ini, lagu lama Bebi Romeo pun terdengar seperti sebuah lagu baru.

Knock Me Out
Dengan nuansa pop R&B dan sound yang fresh dan fun lagu ini sangat terasa cerianya. Menggabungkan lirik berbahasa Inggris dan Indonesia lagu yang populer di tahun 2015 mengekspresikan rasa bahagia saat menemukan cinta sejati.

Kunci Hati
Lagu yang dituliskan Afgan bersama sahabatnya Inu Numata, bernada sedrrhana namun melodius. Berlirik indah dan meaningful, dengan olahan musik yang menghenyakan. Lagu ini terasa istimewa dengan terlibatnya olahan aransemen string dari Ari Renaldi yang dieksekusi oleh Bydapest Scoring Strings, Hongaria. Kesederhanaan pesan dari lagu ini terasa lebih bermakna.

Percayalah
Sebuah kejutan manis dari Afgan dan penyanyi pop wanita, Raisa memghasilkan lagu super romantis dengan aransemen yang indah karya dari Ari 'Aru' membuat lagu kolaborasi ini terasa syahdu untuk di dengar.

Setia Menunggu
Nada lirih sarat kegelisahan menjadi nadi utama lagu karya Badai Kerispatih yang lantas dimatangkan olahan musiknya oleh gitaris dan produser Tohpati ini. Hanya dihidupkan oleh dialog gesekan cello bernada murung dengan petikan gitar akustik yang seolah menegarkan. Dengan bernada pelan Afgan tampil menonjol di lagu ini.

Kamu Yang Ditunggu
Dengan alunan nada dari piano yang mendominasi lagu ini terasa semakin romantis. Lagu yang menceritakan tentang sebuah mimpi dan kepercayaan akan cinta yang membuat penantian terbayar dengan sempurna. Sehingga lagu ini merupakan lagu yang tepat dinyanyikan pada saat momen-momen romantis seperti hari pernikahan.

Jodoh Pasti Bertemu
Lagu yang sudah beredar di tahun 2012 ini masih banyak dicintai oleh penggemar musik di Indonesia hingga akhir ini. Lagu ini berhasil memperoleh beragam nominasi penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri./ Nad

Wednesday, 28 February 2018 05:29

Joan Baez

Umumkan Tur Perpisahan

Mulai bulan depan penyanyi folk, Joan Baez mengumumkan akan melakukan tur formal perpisahan. Tur dunia terakhirnya tersebut tak lain untuk mendukung album anyarnya yang akan dirilis 2 Maret 2018 ini. Album setelah satu dekade ini berngaran ”Whistle Down the Wind”. Tur ini menjadi sebuah penanda bagi penggemarnya bahwa, penyanyi dan penulis lagu veteran ini akan berhenti melakukan tur panjangnya  

Tur ini termasuk perjalanan keliling Amerika Utara yang dimulai pada tanggal 11 September di Ithaca, New York dan mencakup beberapa malam di Beacon Theatre di New York City dan Teater Wang di Boston. Tur tersebut terus terbentang ke wilyah barat sampai pertengahan November.

"Ini sebuah tur dengan album baru yang indah, dimana saya benar-benar merasa bangga," kata Baez dalam sebuah pernyataan ketika mengumumkan tur tersebut. "Saya menyambut baik kesempatan untuk berbagi musik kepada penggemar saya di seluruh dunia."

Direkam selama sepuluh hari di Los Angeles, album Whistle Down The Wind ditangani sepenuhnya oleh pemenang Grammy Award tiga kali Joe Henry (Bonnie Raitt, Allen Toussaint dan lainnya). Album ini juga menampilkan karya-karya dari Tom Waits, Anohni, Mary Chapin Carpenter, Josh Ritter, Eliza Gilkyson, dan banyak lagi.

02 Joan Baez Isimewa

Joan Baez (Istimewa)

Berikut jadwal Tur Joan Baez di 2018:
03/02 – Stockholm, SE @ Stockholm Waterfront
03/03 – Malmo, SE @ Malmo Live
03/05 – Oslo, NO @ Konserthus
03/07 – Copenhagen, DK @ DR Koncerthuset
03/10 – Gothenburg, SE @ Koncerthuset
03/13 – York, UK @ Barbican Centre
03/14 – Birmingham, UK @ Symphony Hall
03/16 – Glasgow, UK @ Royal Concert Hall
03/17 – Edinburgh, UK @ Usher Hall
03/19 – Belfast, IE @ Waterfront Hall
03/21 – Dublin, IE @ Bord Gais Energy Theatre
03/22 – Dublin, IE @ Bord Gais Energy Theatre
03/25 – Frankfurt, DE @ Alte Oper
03/26 – Munich, DE @ Philharmonie
03/28 – Prague, CZ @ Kongresove Centrum
03/30 – Bratislava, SL @ Market Hall
03/31 – Sarajevo, BA @ Bosnian Culture Center
05/21 – Brussels, BE @ Henry Lebouef Hall
05/23 – Bristol, UK @ Colston Hall
05/24 – Manchester, UK @ Bridgewater Hall
05/25 – Gateshead, UK @ The Sage
05/28 – London, UK @ Royal Albert Hall
05/29 – London, UK @ Royal Albert Hall
05/31 – Hamburg, DE @ Mehr Theater
06/01 – Amsterdam, NL @ Koninklijk Theater
06/04 – Paris, FR @ L’Olympia
06/05 – Paris, FR @ L’Olympia
06/07 – Paris, FR @ L’Olympia
06/08 – Paris, FR @ L’Olympia
06/10 – Paris, FR @ L’Olympia
06/11 – Paris, FR @ L’Olympia
06/13 – Paris, FR @ L’Olympia
06/14 – Paris, FR @ L’Olympia
06/16 – Paris, FR @ L’Olympia
06/17 – Paris, FR @ L’Olympia
07/25 – Vienna, AT @ Konzerthaus
07/26 – Vienna, AT @ Konzerthaus
07/29 – Berlin, DE @ Zitadelle Spandau
07/31 – Ludwigsburg, DE @ Residenzschloss
08/01 – Schwetzingen, DE @ Schlosspark
08/03 – Cologne, DE @ Roncalliplatz
08/05 – Verona, IT @ Teatro Romano
08/06 – Rome, IT @ Terme di Carcacalla
08/08 – Udine, IT @ Castello di Udine
08/09 – Cuneo, IT @ Cortile dell’Agenzia di Pollenzo
08/12 – Marciac, FR @ Jazz in Marciac
09/11 – Ithaca, NY @ State Theatre
09/12 – New Haven, CT @ Shubert Theater
09/14 — Boston, MA @ The Wang Theatre
09/15 – Boston, MA @ The Wang Theatre
09/17 – Montreal, QC @ Place Des Arts Maison Symphonique
09/18 – Toronto, ON @ Roy Thomson Hall
09/21 – New York, NY @ Beacon Theatre
09/22 – New York, NY @ Beacon Theatre
09/25 – Red Bank, NJ @ Count Basie Theatre
09/26 – Philadelphia, PA @ Verizon Hall @ Kimmel Center for the Performing
09/28 – Washington, DC @ Warner Theatre
09/29 – Durham, NC @ Durham Performing Arts Center
09/30 – Nashville, TN @ Ryman Auditorium
10/02 — Ann Arbor, MI @ Michigan Theater
10/03 — Cleveland, OH @ State Theatre
10/05 – Chicago, IL @ Chicago Theatre
10/06 — Minneapolis, MN @ State Theatre
10/24 — Denver, CO @ Paramount Theatre
10/25 – Santa Fe, NM @ The Lensic Performing Arts Center
10/27 – Phoenix, AZ @ Celebrity Theatre
10/28 — Tucson, AZ @ Fox Tucson Theatre
10/30 – San Diego, CA @ Humphreys Concerts
11/04 – Seattle, WA @ Benaroya Hall
11/05 — Portland, OR @ Revolution Hall
11/08 – Eureka, CA @ Arkely Center for the Performing Arts
11/10 — Los Angeles, CA @ Royce Hall
11/15 – San Francisco, CA @ The Masonic
11/17 – Oakland, CA @ Fox Theater Oakland/ Fik

Tuesday, 27 February 2018 02:46

Pesta Musik Rock 'N' Blues 70

Pesta Rock Para Singa Tua

Sempat ketar ketir.... itulah yang dirasakan oleh JKL Enterprises selaku penyelenggara Pesta Musik Rock 'N' Blues 70 yang digelar di Foodism Jum'at pekan lalu. Bagaimana tidak? Event yang lama dipersiapkan itu sepertinya tidak mengundang minat penonton. Pasalnya sampai menjelanghari H yang memesan tiket hanya dalam hitungan jari saja.

Namun seperti yang kerap terjadi di tanah air, sehari sebelum acara berlangsung pesanan tiket seolah tanpa henti terus berdatangan. Ada yang pesan 2 hingga 15 tiket, samapi akhirnya pada sore hari seluruh tempat duduk terjual habis. Sold Out! Yang datang pada saat pertunjukanpun akhirnya harus gigit jari, kecewa karena mereka terpaksa menonton sambil berdiri.

Seperti yang sudah dijadwalkan, tepat pukul 9 malam, BeatStones membuka acara dengan menghidangkan lagu-lagu keras milik Deep Purple & Led Zeppelin. Freddy Kambey, sang pendiri dan gitaris band yang berdiri sejak tahun 1966 ini masih terlihat garang. Ditingkahi oleh Herman sang vokalis, terus berusaha sekuat tenaga untuk menyanyikan semua list lagu yang dipersiapkan secara nonstop. Hasilnya adalah, tepuk tangan meriah menyambut pembukaan pesta musik malam itu lewat nomor-nomor cadas.

Pesta musik 70 an tersebut makin semarak lewat panduan Ifeb dengan guyonan khasnya. Celetukan “Sontoloyo”pun terdengar mengiringi The Minstrel's ketika naik panggung. Masih dengan energi yang sama dengan penampil sebelumnya, mereka menyuguhkan lagu-lagu pop rock yang akrab ditelinga penonton. Sayangnya Foot Stomppin’nya tidak seheboh Superkid.

02 The Minstrels BigMan Robinson Blues Breakers Istimewa

The Minstrel's & BigMan Robinson Blues Breakers (Foto: Buyunk)

Sementara Gipsy tampil seadanya, dikarenakan beberapa personelnya seperti Gauri Nasution, Tammy Daud dan Odink Nasution berhalangan hadir. Gipsy melepas dahaga mereka lewat Harry Sabar & Keenan Nasution yang menyumbangkan suara khasnya.

Nah, sementara Ida Royani yang semula mau berdendang ala Kate Bush & Peter Gabriel batal naik ke pentas. “Gara-gara honornya nggak jelas. Memet sih omongnya gampang diatur melulu," kata Ida sambil tertawa.

Kehadiran BigMan Robinson Blues Breakers seperti band yang ditunggu-tunggu. Lagu-lagu blues dari John Mayall & Fleetwood Mac seperti ‘Broken Wing’, ‘Without You’, ‘Walking On The Sunset’, ‘Pretty Woman’, dan ditutup dengan ‘Shake You Money Maker’ mengundang penonton untuk ikut bergoyang.

Maxi Gunawan yang bertindak sebagai vokalis tampak stabil melantunkan lagu-lagu yang dihadirkan sembari diiringi permainan gitar rancak dari Atauw, Roy dan Haykal. Sedangkan Memet Soekasah dengan santai membedol bass mengikuti irama gebukan beduk Inggris yang dimainkan Noldy dan Raja pada keyboard.

Tony Wenas pun tak mau ketinggalan ambil bagian dengan penampilan solo memainkan keyboard melantukan ‘Love of My Life’ milik Freddy Mercury dan ‘Changes’ Ozzy Osbourne. Tepuk tangan berkepanjangan menyambut vokalis band Solid 80 tersebut.

Pesta Musik Rock 'N' Blues 70 akhirnya disudahi oleh gerombolan GPro. Mereka juga menghadirkan vokalis tamu Nanan, lewat 2 lantunan lagu milik Janis Joplin. Baiklah, sampai jumpa digelaran selanjutnya/ Buyunk

Page 4 of 134