Exclusive Story
NewsMusik

NewsMusik

Sunday, 27 November 2016 16:20

Festival Budaya 31

Keriaan Tahunan FIB UI

Ini merupakan annual event ke 31 yang rutin digelar dipelataran Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Untuk tahun ini festival seni tahunan terbesar dari Fakultas Ilmu Budaya itu mengambil tajuk “Hidupkan Dongengmu“. Diselenggarakan selama 2 hari, melalui rangkaian Karnaval Budaya, Battle Dangdut, Gelar Sastra, dan Festival Musik.

Festival ini dibuka dengan karnaval Budaya, yang tidak lain menghadirkan beberapa jurusan di UI. Tampak beberapa mahasiswa dari berbagai jurusan yang berbeda, menaiki mobil pick up, lalu pawai melintasi kampus sembari mengenakan pakaian adat yang ada di Indonesia. Battle Dangdut pun melengkapi hari pertama, banyak dari mahasiswa internal mengambil peran serta ikut berkontribusi untuk memeriahkan acara ini. Hari pertama pun berakhir dengan antusiasme cukup tinggi, Karena pagelaran ini telah mencapai angka ke 31 yang juga sudah menyentuh rasa nyaman terhadap penikmatnya.

Gelaran Sastra pun membuka hari kedua dengan menghadirkan beberapa stand yang telah dihias sedemikian rupa lewat tema berbagai adat Indonesia. Beragam suku, budaya, ras disusun dengan menggunakan unsur kreatifitas khas anak muda untuk membuat kesan stand menjadi meriah.

Yang tidak mungkin terlupa adalah peran musik yang mengambil bagian dari pagelaran tersebut. Lewat  line up beberapa band internal dan bintang tamu seperti The Upstairs dan Tiga Pagi memastikan peran musik jadi obat kuat menambah antusiasme masyarakat untuk turut hadir. Tidak hanya mahasiswa UI, tetapi pagelaran tersebut disesaki berbagai mahasiswa dari kampus lain.

02 Festival Budaya 31 IstimewaFestival Budaya 31 (Istimewa)

Seperti yang NewsMusik rasakan sendiri ketika menyaksikan band Tiga Pagi. Lewat nuansa folk etnik, band ini menemani malam dengan syahdu. Lewat single andalan ‘Batu Tua’, Tiga Pagi mampu membuat festival musik terasa damai juga tentram. Penonton pun dengan tekun menyaksikan penampilan Tigapagi, sembari menikmati malam penuh ketenangan.

Mengamini ucapan salah seorang penyelenggara, bahwa banyak harap agar acara ini dapat terus terselenggara bahkan membudaya untuk tahun-tahun berikutnya, Karena dengan mengingat budaya yang kita miliki, sebuah bangsa akan bertahan dari berbagai ancaman. Benerkan?? / Fikar

03 Festival Budaya 31 FikarFestival Budaya 31 (foto: Fikar)

Thursday, 24 November 2016 13:33

Jakarta City Philharmonic

Memperkenalkan Musik Klasik

Musik klasik merupakan musik yang berakar dari tradisi kesenian Barat, termasuk orkestra mulai dikenal dan digunakan sekitar abad ke 16. Musik bisa menjadi sebuah alat diplomasi karena bersifat universal.  Tidak mudah memang bagi orang awam untuk menerjemahkan musik klasik yang identik dimainkan secara orkestra. Dalam pengertian sebenarnya, musik ini adalah komposisi yang lahir dari budaya Eropa sekitar tahun 1750-1825. Biasanya digolongkan melalui periodisasi tertentu, mulai dari periode klasik, diikuti oleh Baroque, Rococo, dan Romantic. Pada era inilah nama-nama besar seperti Bach, Mozart, atau Haydn melahirkan karya-karyanya yang berupa sonata, simfoni, konserto solo, string kuartet, hingga opera.

Ada pula pengertian lain dari musik klasik (walaupun yang ini jarang dipakai), yaitu semua musik dengan keindahan intelektual yang tinggi dari semua jaman, baik itu berupa simfoni Mozart, kantata Bach atau karya-karya abad 20. Musik dari era modern seperti Kitaro, Richard Clayderman, Yanni, atau bahkan Enya, juga bisa digolongkan sebagai musik klasik, tergantung dari sisi mana kita menikmatinya. Kalau kita lebih banyak menikmati elemen intelektual dalam pengertian melodi, harmoni, atau aspek komposisi lainnya, maka jadilah ia musik klasik.

Sejak zaman Soekarno dahulu, musik klasik tidak dipandang sebagai musik Nekolim atau musik karya penjajah. Menariknya musik klasik kala itu terhindar dari segala situasi politik. Dimana sejak zaman dahulu kesenian  dimanfaatkan oleh golongan politik sebagai identitas bangsa dan sebagainya tetapi tidak halnya dengan musik klasik.  

Lewat latar belakang tersebut, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) ingin kembali memperkenalkan sebuah program musik yang berkualitas Jakarta City Philharmonic (JCP). Mereka adalah sebuah kelompok simfoni orkestra yang bertujuan membangun ekosistem musik klasik di Jakarta.

02 Irawan Karseno Ketua Umum DKJ & Anto Hoed Ketua Komite Musik DKJ YDhewIrawan Karseno Ketua Umum DKJ & Anto Hoed Ketua Komite Musik DKJ (foto: YDhew)

Mengambil tempat di Gedung Kesenian Jakarta (23/11), pertunjukan JCP yang bertema “Lanskap Skandinavia” digelar pertama kali sebagai perkenalan kepada pecinta musik di Ibukota. Kelompok musik ini berfokus menampilkan repertoar-repertoar periode tahun 1850 sampai sekarang, yang bisa dibilang sejak era neoklasik hingga klasik kontemporer.

Anto Hoed selaku Ketua Komite Musik DKJ, menjelaskan bahwa dipilihnya musik klasik karena kurangnya gawean sejenis ini. Sehingga banyak pemain atau musisi yang bagus malah berkiprah di luar negeri. Dengan adanya event ini selain dapat mengedukasi pemain yang baru dan juga sebagai ajang menemukan pemain dengan kualitas musik yang bagus.

“Kami mempunyai perencanaan besar dengan pemerintah daerah sebagai mitra strategis Gubernur DKI Jakarta untuk membuat DKI Jakarta menjadi kota terbaik untuk kesenian. Paling tidak di Asia Pacific dan salah satunya ini bisa dijadikan sebagai icon. Dua atau tiga tahun lagi saya tidak mau kalah dengan orkestra Berlin, baik dari segi jumlah, dan kualitas. Jakarta sudah sepatutnya memiliki ekosistem musik klasik atau Orchestra”, jelas Irawan Karseno Ketua Umum DKJ kepada NewsMusik sebelum acara.

Acara yang diisi oleh kurang lebih 54 orang musisi yang sebagian besar adalah pemain baru namun cukup bagus secara implementasi dan permainan. Mereka datang dari Jakarta dan daerah lain di Indonesia ini, memainkan tema geografi yang bersumber dari berbagai negara atau wilayah tertentu. Menghindari top forty musik klasik. Pilihan-pilihan repertoar-nya sulit dibawakan bahkan lebih complicated dan jarang dibawakan oleh group orkestra manapun. Sehingga secara psikologis, penonton akan disuguhkan dengan berbagai jenis tingkat kesulitan agar tidak monoton untuk ditonton.

Acara yang dimulai pada pukul 19.00 WIB ini, dibuka dengan karya dari Matius Shan-Boone yang berasal dari Indonesia dengan karyanya yang berjudul ‘Thrilling Point’. Karya Matius yang dibuat tahun 2010 ini menceritakan tentang suasana hati dengan ketegangan yang berbeda-beda, moment-nya berbeda, naik turun dimana disesuaikan dengan kondisi dan situasi saat ini. Kadang tenang atau bisa tiba-tiba agresif.

03 GR Jakarta City Philharmonic Lanskap Skandinavia YDhewGR Jakarta City Philharmonic - Lanskap Skandinavia (foto: YDhew)

Oleh Eric Awuy, selaku senior trompetis, menjelaskan satu persatu repertoar dari acara Lanskap Skandinavia ini, seperti dipilihnya karya komponis asal Denmark, Carl Nielsen  yang di Indonesia justru jarang sekali dimainkan karena sulit dipahami dan didengarkan. Karya dari Carl Nielsen ini dipilih menjadi pertunjukan ke-dua dalam musik Simfoni no. 1 dalam G Minor Opus 7 (1892) yang berjudul ‘Allegro Argoglioso, Andante, Allegro Comodo-Andendante Sostenute-Tempo 1, dan Finale, Alegro con fuoco’.

Dipertunjukan ketiga ditampilkan karya Jean Sibelius yang merupakan salah satu tokoh dari Skandinavia.  Ia juga seorang komponis yang karyanya sukar sekali dimainkan, seperti ‘Allegro moderato’, ‘Adagio di Molto’, dan ‘Allegro, ma non tanto’. Simfoninya naik turun kadang orang yang mendengarnya kehilangan jejak karena sifatnya yang sakartik, suka humor dan jail.

Selanjutnya karya dari Edvard Grieg musisi dari Norwegia menjadi penutup dari pertunjukan ini. Karyanya yang berjudul ‘Morning Mood’, ‘Death of Ase’, ‘Anitra’s Dance’ dan ‘In The Hall of The Mountain King’. Lewat intensitas yang lembut dan makin lama makin keras, cocok bagi pemula untuk mendengarkan musik klasik.

“Wadah ini diharapkan menjadi ancaman bagi negara lain, seperti Beijing yang memiliki kelompok orkestra yang bagus meski sudah tua umurnya. Tujuan utamanya adalah edukasi selain memberikan identitas buat yang moderat. Kita mau mengembangkan ini, menjadi tempat yang membanggakan dan ada rangkingnya. Juga musisi yang terlibat, terutama yang muda-muda dapat menjadikan ini sebagai wadah untuk belajar musik klasik. Ini bisa jadi mata pencaharian baru untuk mereka,” jelas Anto Hoed lagi.

Sebagai tanggapan, bahwa acara sperti ini di dukung oleh pemerintah secara penuh dan terus menerus, Sehingga menjadi wadah bagi para musisi klasik dan menciptakan even-even musik klasik yang tidak mudah dilupakan. Seperti yang dimiliki oleh Malaysia ataupun Singapore, yang sudah punya acara seperti ini meskipun baru  di dukung oleh swasta. Sedangkan Jakarta, meski dulu pernah punya group seperti ini tapi akhirnya tidak berjalan dengan baik. Event kedua rencananya akan diselenggarakan  tanggal 8 Desember 2016 dan akan diadakan secara regular mulai tahun depan./ YDhew

 

Thursday, 24 November 2016 14:50

The 90’s Soul Ace

Menghadirkan Boyz II Men dan Brian McKnight

Seperti yang kita ketahui, bahwa keberadaan musik di era 90 an menjadi era yang memiliki kenangan tersendiri bagi semua yang mengalami periode waktu tersebut. Periode yang berbeda dari era-era sebelumnya seperti 60, 70 atau 80 an. Era 90 an ini dianggap lebih modern dengan dominasi MTV yang menjadi media booster paling berpengaruh pada saat itu. Belum lagi kemunculan program-progam video tangga lagu di TV swasta nasional yang juga menjadi tren lainnya.

Mengangkat masa keemasan tersebut, MyWILL Entertainment mempersembahkan sebuah konser bertajuk The 90’s Soul Ace, featuring Boyz II Men and Brian McKnight, pada tanggal 8 Desember 2016 di The Kasablanka Hall, Mall Kota Kasablanka, Jakarta. Ini merupakan perayaan kebebasan musik di tahun 90 an, sebagai wadah untuk mengulang kembali memori yang telah lewat melalui lagu-lagu hits yang dilantunkan oleh dua musisi handal dunia, Boyz II Men dan Brian McKnight.

Boyz II Men sendiri cukup dikenal sebagai salah satu symbol R&B dalam sejarah musik dunia. Selama lebih dari 20 tahun mereka berkiprah di dunia musik. Terangkum dalam 11 album dan terjual sebanyak 60 juta kopi mereka mampu menghasilkan hits diantaranya ‘End of the Road’, ‘I’ll Make Love to You’, ‘One Sweet Day’, ‘Motownphilly’, ‘On Bended Knees’, ataupun ‘Four Seasons of Loneliness’. Berbagai penghargaan juga mampu diraih seperti 4 Grammy Awards, 9 American Music Awards, 9 Soul Train Awards, 3 Billboard Awards dan MOBO Awards untuk Outstanding Contribution to Music di tahun 2011.

Berikutnya adalah Brian McKnight, yang dikenal dengan singlenya ‘One Last Cry’ yang dirilis  tahun 1992 silam. Tidak hanya sebagai seorang penyanyi, Brian juga seorang komposer yang mahir memainkan banyak alat musik. Sepanjang karyanya selama dua dekade, Brian McKnight mendapatkan 16 Nominasi Grammy Awards, Nominasi untuk MTV Video Music Awards, BET Awards, American Music Awards, dan memenangkan Image Awards.

02 Brian McKnight IstimewaBrian McKnight (Istimewa)

Brian tidak hanya memiliki kemampuan luar biasa melalui suara khasnya, dia juga berkarir sebagai penulis lagu, komposer dan produser dan banyak bekerjasama dengan musisi dunia lainnya seperti, Mase, Sean ‘Puffy’ Combs, Mary J. Blige, Justin Timberlake, Nelly, Vanessa Williams dan musisi besar lainnya.

Kejutan sebenarnya dari kedua nama besar tersebut adalah mereka tidak hanya membawakan lagu hits masing-masing namun juga akan berbagi panggung. Penonton akan disuguhkan saat keduanya saling berbagi lagu. Boyz II Men membawakan beberapa hits milik Brian McKnight dan sebaliknya, juga saat keduanya berduet bersama melantunkan nada-nada soul dan R&B dengan karakteristiknya masing masing. Belum lagi Brown Sugar sebagai band pembuka dan Raisa yang akan berduet dan berkolaborasi.

Tiket bisa di dapat di 3 ticket box seperti:  Ibu Dibjo (www.ibudibjo.com), Raja Karcis (www.rajakarcis.com) dan Loket.com (www.loket.com). Tiket kelas Platinum dipatok dengan harga Rp. 2,885 ribu, Diamond Rp 1,735 ribu & Festival Rp 930 ribu. Sementara untuk tiket VVIP yang harganya Rp 5,760 ribu bisa didapatkan di website MyWILL Entertainment./ Ibonk

 

Wednesday, 23 November 2016 17:50

MusikBagus Day

Ajang Komunikasi Musisi dan Penikmat Musik

Satu lagi sebuah kemeriahan sebuah pesta musik akan dihadirkan pada 1 Desember 2016 di Town Square Cilandak, Jakarta. Berngaran “MusikBagus Day”, yang sedianya akan  selalu digulirkan pada setiap bulan. Perhelatan musik reguler yang di gagas oleh Glenn Fredly ini, berkeinginan akan menjadi sesuatu yang berbeda. Seperti yang dikutip dari keterangannya bahwa acara adalah sebuah langkah kecil untuk pemikiran besar kedepan yang berangkat dari sebuah kesadaran kolektif antara musisi & eksebitor yang mau memberi wadah serta ruang bagi para pelaku
 
MusikBagus Day merupakan wadah berkreasi, berkarya, mencipta, menikmati, berbagi ilmu, berkomunikasi secara lebih dekat khususnya antara para musisi dan para penikmat musik dan umumnya seluruh pihak yang menjadi pondasi ekosistem musik Indonesia. Merupakan langkah baru untuk semakin mempererat dan mengajak seluruh lapisan masyarakat agar lebih peduli dalam melestarikan musik Indonesia sebagai bagian penting dari seni. Karena Seni adalah salah satu bagian terpenting yang mempersatukan Indonesia dalam segala keragamannya.

Beberapa segmen dalam MusikBagus Day edisi perdana ini adalah music performance yang menampilkan Aboda, Rontak, Richard Hutapea feat. Renata Tobing dan Nadafiksi. Tidak hanya melulu menampilkan live music, MusikBagus Day juga mecoba mengadakan workshop lewat seniman profesional dibidangnya seperti Barry Likumahuwa, Rayendra Sunito, Harry Anggoman, Gerald Situmorang, Hari Prast, Yoga Adhitrisna feat, Institut Musik Jalanan, Udet NEO dan Igor SAYKOJI.

Lebih jauh Glenn mengungkapkan “Bagi saya bicara perkembangan musik di Indonesia ini selalu menarik. Karena sebagai pelaku, saya mendambakan perkembangan musik industri yang berkelanjutan dan terhubung serta kolaboratif dari semua pihak baik penikmat, musisinya, label, pembuat kebijakan dan pihak swasta, yang disebut sebagai ekosistem musik”.

02 Gerald Situmorang YoseGerald Situmorang (foto: Yose)

Pihak penyelenggara berharap lewat acara ini nantinya akan muncul sebuah kesadaran. Dengan pertemuan para penikmat musik dan pelakunya sendiri, akhirnya dapat membangun ekosistem yang terhubung, agar mampu membangun apresiasi, informasi & market place yang sehat bagi insan musik tanah air.

Bagaimana greget acara ini nantinya, tinggal datang dan hadir pada waktu yang telah ditentukan. Agar dapat kita saksikan, geliat optimis dari para pelaku musik yang didominasi kaum muda sebagai tulang punggung penyangga keberadaan musik tanah air di masa depan./ Ibonk

 

Sunday, 20 November 2016 16:07

Sanmig Light

Kemeriahan di Final Party

Ratusan party goers terlihat cukup larut dalam hentakan musik bertajuk Sanmig Light Summerfling Festival yang diadakan di Deus, Temple of Enthusiasm, Bali pada minggu pertama November 2016 lalu. Pesta musik ini merupakan pesta penutup dari sejumlah roadshow party di beberapa tempat terpilih.

Sanmig Light yang berlangsung dalam cuaca bagus tersebut menghadirkan sejumlah DJ seperti Dinka, Gowik, Lucky & Anto. Kolaborasi musik bagus yang ditampilkan akhirnya mampu menghantar kegembiraan dalam festival yang di mulai pada akhir Oktober silam. Belum lagi penampilan The Hidrant, yang menjadi pembeda dari penampil-penampil sebelumnya.

02 Sanmig Light Summerfling Festival IstimewaSanmig Light Summerfling Festival (Istimewa)

Acara yang sengaja dibuat secara cuma-cuma ini di mulai pada pukul 23:00  hingga pukul 04:00 WITA dini hari. Makin keujung acara makin meriah, lewat gemerlap lampu dan dentuman musik  para DJ, banyak party goers seakan-akan enggan meninggalkan venue. Dari para penikmat yang hadir, tampak beberapa selebriti ikut larut dalam kemeriahan, diantaranya Febi Febiola dan Denada yang datang dengan dandan casual.

Sebelumnya Sanmig Light Summerfling Festival sudah digelar pada 21 Oktober di Immigrant, Jakarta. Lalu esoknya pada 22 Oktober di O2 Jakarta. Selanjutnya, Sanmig Light roadshow beranjak ke Bali. Dimulai pada 28 Oktober yang mengambil tempat di Track 9, Bali. Kemudian dilanjutkan pada 30 Oktober di Skai Beach Club, Bali. sebelum di tutup di Deus./ Ibonk

03 Sanmig Light Summerfling Festival IstimewaSanmig Light Summerfling Festival (Istimewa)

 

Monday, 21 November 2016 17:24

Dhira Bongs

Explorasi di Album ‘Head Over Heels’

Musisi perempuan kelahiran Jakarta yang tinggal menetap di Kota Kembang Bandung bernama lengkap Nadhira Soraya Nasution dikenal dengan nama Dhira Bongs. Dara manis yang mempunyai suara yang halus juga cukup pandai memainkan instrument gitar ini mulai memperkenalkan musik bernuansa Explorative Pop Jazz sejak album pertamanya yang dirilis tahun 2013 “My Precious”.

Berbeda dengan album pertamanya yang berisi materi lagu lucu dan kekanak-kanakan. Di tahun 2016 ini Dhira kembali mengeluarkan album “Head Over Heels” yang lebih dewasa dari album sebelumnya. Warna putih untuk cover album dipilihnya untuk memberi kesan bersih dan murni, Dominasi album berwarna putih bukan berarti tidak memiliki noda, justru terkadang noda itu pemanisnya, jelas Dhira.

Head Over Heels merupakan sebuah idiom yang berarti jatuh cinta terlalu dalam. Dianggap sangat mewakilkan seluruh lagu-lagu dalam album ini yang bercerita tentang kecintaan Dhira terhadap kehidupannya, kota asalnya, gitar kesayangannya, dan berbagai bentuk cerita cinta lainnya.

Masih dengan nuansa pop jazz di album ini, bukan hanya gitar yang ditampilkan disini, bersama teman-temannya dilengkapi dengan flute, violin, trumpet, trombone, saxophone, percussion, keyboard, bass, dan drum.

02 Dhira Bongs YDhewDhira Bongs (foto: YDhew)

Pada track 1 ‘Head’ di album ini hadir dengan instrument tradisional yang dilanjutkan dengan ‘Puncak Pohon Bandung’ yang dikemas secara tradisional oleh Dhira Bongs, kental dengan nuansa folk Indonesia, serta permainan bonang dan saron musik khas tradisional Indonesia ditingkahi alunan sinden yang merdu. Dilagu ini Dhira menceritakan tentang rasa cintanya dan rasa terima kasihnya terhadap kota Bandung, harapannya untuk bisa mengantarkan bunga prestasi dan puncak kesuksesannya kelak.

Di track ke tiga agak sedikit ngebeat dan riang namun masih dikemas secara manis, ‘Make Me Fall In Love’ yang bercerita tentang kegundahannya mengenai rasa cintanya terhadap seseorang. Di lagu ini Dhira menambahkan alat musik seperti terompet dan perkusi dengan segala keceriaanya.

Senada dengan lagu sebelumnya, simak juga dua lagu lainnya dengan tempo upbeat yang sama dan bernada dominan mayor. Lagu ‘Memo’ yang menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari. Dilanjutkan dengan lagu ’Time to Time’ dan ‘Really Do’ yang sarat dengan tema cerita cinta.

Berbeda dengan lagu ‘Bara’ yang didominasi dengan suara minor, dengan beat yang pelan. Di lagu ini Dhira menceritakan tentang suasana hatinya yang membara dengan emosi yang sudah tidak terkendali. Beat yang berbeda dengan yang lain membuat ‘Bara’ adalah lagu yang dianggap mewakili album Head Over Heels karena mengisahkan sisi yang tidak menyenangkan dari cinta. Memiliki keinginan tetapi untuk mencapai nya pun tidak ada kemampuan sama sekali. Intinya kita yang mempunyai kehidupan normal harus banyak-banyak bersyukur.

03 Dhira Bongs YDhewDhira Bongs (foto: YDhew)

Album yang berisi 10 lagu ini ada satu judul lagu yang sama ‘Make Me Fall in Love’, dikemas secara accapela yang menutup manis dan dua lagu  ‘Head dan ‘Heels’ yang merupakan instrument perpaduan antara suara violin dan piano.

Mengaku tidak mempunyai influence apapun dalam menciptakan musik Dhira yang menciptakan dan mengaransemen semua lagu di albumnya ini ingin mengeksplore semua kemampuannya dalam bermusik. Dan dibuktikan dengan isi dari album ini yang berisi dari berbagai macam instrument musik didalamnya. Gadis berusia 23 tahun yang mengidolakan Bob Marley dan Bryan May ini berharap namanya nanti bisa dikenal dan karyanya dapat menginspirasi./ YDhew

 

Friday, 18 November 2016 08:45

Irma June

Kembali Dengan Semangat Baru

Setelah 18 tahun menghilang dari blantika musik tanah air, tiba-tiba saja Irma June kembali lagi ke dunia yang telah membesarkan namanya tersebut. Comeback-nya seorang Irma lewat single ‘Its Me’ sedikit banyak akan melebarkan senyum para penggemarnya dari era 90 an lalu. “Saya masih nyanyi sebenarnya. Tapi khusus lagu rohani dan untuk audience terbatas,” akunya menanggapi pertanyaan NewsMusik yang menanggapi kemunculannya kembali.

Irma June saat ini tentu saja terlihat lebih mature dibandingkan saat dirinya menarik diri dari dunia hiburan. Perempuan bernama lengkap Irma Ivonne June Kairupan ini mengaku sangat excited untuk kembali menekuni dunia tarik suara. “Single ini sebenarnya nggak sengaja, tapi akhirnya jadi juga. Lagunya baru dibuat kira-kira tiga bulan yang lalu,” sebutnya kepada NewsMusik, di kawasan Senayan, Jakarta pada (16/11) kemarin.

Dalam single ini Irma, sendiri yang menciptakan liriknya, untuk urusan aransemen musik ia serahkan kepada Roedyanto Wasito yang juga merupakan salah satu personil Emerald-BEX. “Isi dari lagu ini awalnya menceritakan mengenai perjuanganku dalam mengejar impian dan harapan saya lagu ini juga bisa menginspirasi banyak orang untuk tidak takut dan ragu dalam mengejar impian mereka, tidak peduli berapa pun usia mereka”, ungkapnya lagi.

02 Irma June IbonkIrma June (foto: Ibonk)

Menunjukkan semangatnya tersebut, video musiknya pun juga benar-benar menceritakan dengan jelas, pesan positif yang disampaikan dari lagu tersebut. Video musiknya sendiri dibuat cukup simple dengan melibatkan orang-orang terdekatnya termasuk anak-anaknya sendiri.

Irma sepertinya menaruh sebuah motivasi besar dalam single ‘It’s Me’ ini. Ia menyebutkan bahwa ini menjadi titik awal dirinya untuk memulai lagi karir menyanyi secara profesional, sambil menyiapkan album. Menurut Roedy sendiri seperti yang tertera di dalam rilisnya bahwa single ini sengaja di buat dengan musik up beat. Sebenarnya dilakukan lebih kepada mengubah image Irma June yang di masa lalu memang di kenal membawakan lagu slow.

Penyanyi yang pernah terkenal lewat lagu-lagunya ‘Bila’, ‘Datanglah’, ‘Kristal-kristal Cinta’, ataupun ‘Alkisah Cinta’, yang meramaikan album soundtrack Catatan Si Boy 2 itu mengatakan tidak akan lagi berhenti berkarya dan bermusik. Bahkan, saat ini dirinya tengah menggantung harapan yang lebih tinggi lagi, yakni memulai karir bernyanyi di Amerika.

“Saya tengah persiapan terakhir, sudah mendapat tawaran dari produser di sana untuk karir rekaman di Amerika,” ungkapnya. Peluang ini tanpa rencana di dapat dari rekan bisinis mereka di Amerika. “Saya kaget juga ketika mereka menyukai suara saya ketika melihat saya bernyanyi di acara kantor. Kemudian mereka meminta video saya, dan akhirnya mereka malah meminta saya untuk segera rekaman. Sudah ada single yang saya tulis sendiri dan disetujui oleh pihak disana,” jelasnya kembali.

03 Irma June IbonkIrma June (foto: Ibonk)

Ini merupakan kesempatan langka dan peluang rekaman itu seperti hadiah dari Tuhan. Irma mengakui bahwa benar kalau dalam hatinya yang terdalam, ia berkeinginan untuk go international. Ia tetap memiliki semangat itu, meskipun dulu pernah meninggalkan dunia tarik suara. Namun kini jalan sudah terbuka lebar. Tinggal lagi usaha dan kesungguhannya untuk mewujudkan impiannya tersebut. “Saya akan total menyambut kesempatan ini, saya dan keluarga akan tinggal disana untuk mewujudkan semuanya,”  

Wish you luck Sista..../ Ibonk

 

Friday, 18 November 2016 16:04

Djakarta City Sound Volume 2

Pesta Distorsi Dari Lima Band Indie

Setelah sukses dengan pagelaran perdana, Djakarta City Sound kembali digelar lewat tajuk Djakarta City Sound Vol. 2 pada Rabu 16 November 2016 lalu . Masih di helat ditempat yang tidak berbeda pada sebelumnya yaitu di Aula Hotel Bumi Wiyata dibilangan Margonda Depok. Pesta distorsi ini di mulai pada pukul 19.00 WIB tersebut sejak awal memang sedikit ditingkahi oleh gemercik hujan yang membasahi jalanan kota, namun tidak menghilangkan animo pengunjung untuk tetap menyaksikan acara tersebut.

Pesta musik yang digagas oleh Berita Angkasa Record, yang juga merupakan label rekaman independent milik Kelompok Penerbang Roket. Lima band full distorsi didaulat untuk unjuk kebolehan selain Kelompok Penerbang Roket sendiri, juga ada Black Teeth, Pijar, Rollfast, dan The Stocker.

The Stocker membuka acara dengan gemuruh sound penuh distorsi jalanan. Menghadirkan selain lirik yang cukup khas menghentak, mereka juga tampil cerdas melalui raungan gitar juga bass untuk menambah daya kritis mereka di atas panggung. Kemeriahan dilanjutkan dengan kehadiran band asal kota Medan, Pijar. Mengusung genre Pop Electronic yang di bungkus dengan lirik cukup syahdu masih terasa cocok untuk menghangatkan kota Depok yang terus saja di guyur hujan.

02 Djakarta City Sound Istimewa(foto: Istimewa)

Djakarta City Sound Vol.2 ini sengaja menjadikan Black Teeth sebagai headliners dan juga menggunakan ajang ini untuk peluncuran album terbaru mereka. Band yang diperkuat oleh Christopher ‘Coki’ Bollemeyer, Said Satriyo, Jerremia L Gaol, dan Eno ini juga memberikan harga khusus bagi para pengunjung yang membeli  album mereka saat acara ini berlangsung.

Acara yang judulnya terinspirasi dari salah satu lagu Panbers tersebut dibuat dengan selalu menampilkan band-band berdistorsi kencang, yang dapat merepresentasikan musik rock khas Jakarta. Rencana kedepannya event ini akan digelar diberbagai kota di Indonesia./ Fikar

03 Djakarta City Sound FikarDjakarta City Sound (foto: Fikar)

 

Thursday, 17 November 2016 10:59

Koes Plus

Andaikan Koes Plus Datang Kembali

Tak bisa dipungkiri kalau band yang satu ini adalah legenda musik Indonesia. Koes Plus merupakan aset musik nasional yang sampai kini menjadi tonggak sejarah musik dalam negeri. Lagu-lagunya yang abadi dan tak terhitung sudah cukup sering dinyanyikan ulang oleh penyanyi dan band lainnya. Kiprah mereka pada masa jayanya, cukup banyak menjadi inspirasi lewat lagu dan lirik yang sangat membumi.  

Keabadian karya Koes Plus ini, sedikit banyak mengusik JR Production untuk kembali menampilkan legenda hidup musik Indonesia itu dalam sebuah konser yang diberi nama Andaikan Koes Plus Kembali. Konser tersebut rencananya akan di gelar pada tanggal 9 Desember 2016, di Balai Sarbini, Jakarta Pusat.

JR Production menangkap kerinduan pengemar Koes Plus yang dahaga akan penampilan sang legenda hidup Koeswoyo bersaudara. “Rupanya banyak  pengemar Koes Plus yang ingin melihat idolanya manggung secara live dalam sebuah konser. Lalu rencana ini kami tawarkan kepada mas Yon dan Yok. Rupanya mereka juga punya kerinduan yang sama untuk manggung lagi. Kami sepakat buat menggelar konser ini pada  9 Desember nanti,” kata Ari, CEO dari JR Production.

Konser ini akan memanggungkan 15 lagu lebih dengan repertoar lagu-lagu yang di jamin bakal membuat penonton akan nyanyi bareng alias karaoke massal. “Kurang lebih sekitar 15 lagu akan kami bawakan,  termasuk lagu-lagu hit kami. Setidaknya lagu-lagu yang sudah sangat akrab ditelinga pengemar kami semua. Dijamin bakal nyanyi bareng,” kata Yon Koeswoyo semangat.

Selain menampilkan Koes Plus, konser nantinya akan menampilkan band pembuka The Rain. Dimana nantinya selain menyanyikan lagu sendiri, mereka juga akan menyanyikan beberapa karya Koes Plus sebagai pemanasan sebelum Koes Plus tampil.

02 Yon Koeswoyo RizalYon Koeswoyo (foto: Rizal)

Kesempatan besar ini tentu menjadi pengalaman berharga bagi grup band asal Yogyakarta tersebut. Ipul Bahri, bassis The Rain bahkan mengaku ingin menangis saat ditawari main sebagai band pembuka. ”Sewaktu dihubungi untuk main di konser ini, saya ingin nangis. Ini salah satu impian besar The Rain main sama Koes Plus. Mereka band paling konsisten dan selalu mengeluarkan karya,” ujar Ipul.

The Rain pun berjanji akan memberikan penampilan terbaik di konser ini. Sebagai buktinya, mereka sudah menyiapkan lagu-lagu yang berbeda dan pastinya dibawakan dengan karakter The Rain. “Untuk konser besok kita akan lakukan yang terbaik. Lagu-lagu yang kita bawakan juga akan berbeda. Ini bukan main-main,  ini misi besar. Mudah-mudahan konser nanti bisa berjalan dengan lancar,” tandas Ipul.

03 Yon Koeswoyo, Ari Ceo JR Production & The Rain RizalYon Koeswoyo (foto: Rizal)

Vokalis Koes Plus Yon Koeswoyo sempat juga memberikan wejangan dan sangat berharga kepada para band baru agar melegenda seperti Koes Plus. “Yang saya dengar, mereka (band baru) suka bubar. Enggak boleh itu, harus jadi satu, jangan bubar-bubar,” pesannya yang ditangkap NewsMusik, disela-sela temu media tersebut. Musisi berusia 76 tahun itu juga mengatakan bahwa para anggota grup band juga tidak boleh ada yang merasa lebih baik dari yang lain./ Rizal

04 Foto Bersama RizalFoto Bersama (foto: Rizal)

 

Thursday, 17 November 2016 15:34

Eva Celia

Pembuktian Musikalitas Lewat Debut Album

Lahir dan tumbuh di lingkungan seni, Eva Celia yang merupakan anak dari musisi Indra Lesmana dan aktris Sophia Latjuba ini selain terjun ke dunia akting dan model juga merambah dunia musik. Mengecap dunia akting saat masih berumur 8 tahun, Eva yang kala itu bermain pertama kali sebagai bintang tamu dalam sebuah FTV bersama ibunya mampu berakting dengan bagus. Di layar lebar, kurang lebih 4 judul film pernah dilakoninya, sebelum akhirnya di tahun 2008 Eva memilih pindah bersama keluarganya ke Los Angeles, Amerika Serikat dan vakum dari dunia hiburan tanah air.

Namun rupanya bakatnya dalam dunia musik cukup kuat memanggilnya. Sosok sang ayah mampu memberikan pengaruh besar dalam musik. Termasuk kala Eva menghadapi masalah atau apapun itu, selalu terkoneksi dengan musik. Walau sukses merambah dunia film dan akting, namun musik selalu menjadi pilihan utamanya.

“Jujur, dari kecil pingin banget fokus di musik, tapi tidak semudah itu. Musik untuk saya sangat personal dan butuh sesi pendewasaan sebelum saya menekuninya. Saya tidak mau hanya membuat musik tapi nggak ada pesannya dimana hal itu butuh proses dan pengalaman”, ujar Eva sewaktu ditemui di kawasan Kemang, Jakarta.

Di tahun 2015 menjadi awal mula Eva menunjukan potensinya di dunia musik. Sebuah single yang diberi judul ‘Reason’ yang kental dengan sentuhan pop jazz, sukses diterima oleh  pedengar musik Indonesia. Dari situ Eva semakin bersemangat dalam mengumpulkan materi-materi lainnya.

“Saya dibesarkan untuk menjadi seorang yang menghargai musik apapun. R&B, Soul, Pop seperti Michael Jackson atau The Beach Boys, Jazz seperti Joni Mitchell, atau rock sekalipun seperti Mr. Big sampai Pink Floyd. Saya mengambil esensi di setiap genre yang menjadikan musik saya sendiri. Makanya saya pun sulit memberikan label atau genre tersendiri untuk musik yang saya mainkan ini,” tambah Eva.

02 Eva Celia YDhewEva Celia (foto: YDhew)

Sempat terjebak dalam situasi yang menekan, ketika sang ayah yang selalu bertanya untuk membuat album. Juga adanya komentar-komentar dimana banyak orang yang menuntutnya bagaimana harus bermusik dan menunggu karyanya dengan ekspektasi tinggi membuat Eva pribadi sempat kebingungan.

Akhirnya Eva pun tersadar bahwa semua itu dikembalikannya untuk memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya. Dua tahun lamanya bergelut dalam proses produksi, diusianya yang ke 23, Eva pun merilis albumnya yang bertajuk And So It Begins.

Album ini tidak merupakan sebuah karya musik semata tetapi sekaligus pembuktian dari seorang Eva Celia menunjukan dirinya yang memiliki cara menyampaikan sesuatu melalui musik dan lirik. Totalitasnya dalam  berkarya dan meramu musiknya yang dilakukannya sejak 2013 album Eva turun tangan langsung dalam hal menulis lirik dan meramu musiknya.

Hadir dibawah bayang-bayang nama besar ayahnya, sempat membuat Eva kurang pede dan ragu akan kemampuannya. Ada juga rasa khawatirnya untuk mengeluarkan album ini. Namun karena keinginannya yang cukup kuat, akhirnya mampu mengalahkan semuanya sehingga lahirlah album pertamanya ini.

Album “And So It Begins” ini, Eva banyak menceritakan tentang perjalanan hidupnya. Secara keseluruhan album ini memberikan gambaran tentang hal yang positif. “Dari sekian banyak cerita atau kejadian tentang kekecewaan dan kekerasan, saya ingin mengembalikan ke benang merah dimana kita seharusnya ada di sana, yaitu cinta. Sikap menerima, sabar dan kebaikan. Bagaimana kita bisa melatih unsur-unsur tersebut di tengah kehidupan yang kita jalani sehari-hari,” ungkap Eva.

03 Eva Celia YDhewEva Celia (foto: YDhew)

Selain di dukung oleh sang ayah, album ini juga menempatkan sederet musisi yang turut dilibatkan dalam prosesnya sebut saja Tendra Leonard (GRUVI), Aldhan Prasatya, Demas Narawangsa. Tidak hanya mereka, Eva Celia patut berbangga hati karena dalam debut albumnya ini, ia juga berkolaborasi dengan Justin Stanton dan Mark Letteri. Mereka berdua adalah personel dari salah satu grup musik favoritnya, Snarky Puppy yang tidak lain adalah grup musik instrumental kenamaan asal New York, Amerika Serikat.

“Bekerja sama dengan Justin dan Mark adalah salah satu highlight dari proses yang aku jalani untuk album ini. Aku pribadi adalah penggemar mereka, dengerin mereka juga juga sudah lama banget, dan tiba-tiba bisa kerja bareng. Aku di Indonesia dan mereka di New York, tapi tanpa arahan yang detail, mereka tahu harus membuat dan mengarahkan musik aku seperti apa. Sangat nggak terlupakan pastinya. Semua berkat sosial media” ujar Eva Celia.

Album ini berisi 8 lagu diantaranya ‘And So It Begins’, ‘Reason’, ‘Romans’, ‘A Stranger Kind of Longing’, ‘Another You’, ‘Mother Wound’, ‘Against Time’, dan ‘Let Love Grow’ yang semuanya kental unsur pop jazznya.

“Saya ingin apa yang saya kerjakan ini bisa menginspirasi banyak orang termasuk teman-teman musisi. Karena semua ini bagian dari apa yang saya alami. Ada harapan agar pesan yang ada di setiap materi di album ini bisa menjadi suatu bekal dari segi hidup ataupun spiritual,” tutupnya./ YDhew

04 Eva Celia Press Conference YDhewEva Celia - Press Conference (foto: YDhew)

 

Page 17 of 110